Monthly Archives: May 2016

Pancaran Semangat yang Menyala

sumber : annida-online.com

sumber : annida-online.com

Setiap orang punya tujuan hidupnya. Tujuan itu yang menjadi mesin yang menggerakkan langkah. Kecermatan dan ketelitian dalam merumuskan goal itu merupakan bukti orang tersebut punya visi yang jelas untuk masa depannya. Karena waktu selalu bergerak, maka proses pencapaian dari hari ke hari menjadi bahan evaluasi agar hari selanjutnya lebih baik dari sebelumnya. Waktu yang berlalu itu mestilah menjadi tolak ukur sudahkah usaha itu benar-benar sesuai dengan alur visi yang telah ditetapkan.

Tidak ada orang yang ingin kegagalan yang sama dua kali apalagi berkali-kali. Hanya orang-orang yang abai dan apatis akan masa depannya yang tidak pernah bangkit dari kegagalan. Orang-orang yang terlalu asyik terpesona oleh kehidupan yang fana ini hingga lupa bahwa ada kehidupan selanjutnya yang menanti. Menjadi teramat bodoh bila saja kegagalan itu tidak pernah dijadikan mutiara hikmah, peneguh jiwa, sarana muhasabah diri, dan kekuatan mental diri dalam mengarungi derasnya ombak kehidupan.

Saat datang kegagalan setiap orang punya respon dalam menyikapi. Ada yang menyalahkan keadaan , berlarut-larut dalam kesedihan, murung yang tak berkesudahan. Karena itu banyak orang yang sulit bangkit dari itu disebabkan diri mereka belum mengantisipasi datangnya kegagalan (dengan membuat plan lain), motivasi yang kuat untuk berubah dan konsisten berbuat kebaikan. Bahkan tidak sedikit dari mereka merasa nyaman dengan sikap pasrah dan patah semangat yang berulang kali sehingga keputus-asaan mendera diri mereka. Mereka apatis, inferior, dan tidak peduli masa depannya. Padahal di luar sana begitu, kalau saja mereka mau melihat dunia begitu luas,  begitu banyak sumber inspirasi yang dapat membuat mereka tersenyum kembali, optimis kembali, semangat kembali, dan hidup menjadi bergairah kembali.

Kegagalan memang mengundang kekecewaan. Itu hal yang wajar selama kekecewaan itu sebatas tidak merusak diri dengan perilaku yang menyimpang.  Salah satu cara menyikapi kegagalan adalah cobalah amati alam dan lakukakan perjalanan ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Lihat perilaku dan budaya masyarakat di sana. Hirup udara segar di pegunungan dan amati hamparan pohon-pohon hijau yang begitu luas. Lupakan masa pahit itu sejenak.

sumber : annida-online.com

sumber : annida-online.com

Pelajari betapa kebahagian itu dengan mudahnya orang lain itu rasakan dari hal-hal sederhana. Dari kehidupan anak-anak yang mengamen di jalanan demi menyambung hidup, kita bisa belajar arti kerja keras dari mereka. Di saat musim penghujan dengan mudahnya kita menyaksikan anak-anak kecil dengan kepolosan mereka menawarkan, “Kak mau dipayungi sampai sana?”. Lalu mereka melayani kita dengan berjalan tanpa alas kaki di tengah hujan yang kian menderas. Tak peduli mereka terkena air hujan, basah-basahan dengan pakaian yang sudah berubah warnanya. Yang penting mereka bisa bekerja dan mendapatkan hasil yang setimpal. Saat kita memberi uang atas jasa payungnya, anak kecil itu tersenyum lebar dengan mata yang berbinar-binar dan mengucapkan terima kasih. Raut wajah anak kecil itu menampakkan kebahagian di hatinya. Anak seusia mereka sudah mengerti cara menghargai orang lain dengan kata terima kasih.  Kita bisa belajar dari orang lain tanpa mempersoalkan usia. Mereka mengajari kita bahwa bahagia itu sederhana, di saat kita berusaha sekuat tenaga, apapun hasil yang di dapat mesti di syukuri.

Belajarlah dari lingkungan sekitar. Keluarlah dari zona nyaman yang selama ini menjanjikan ketenangan sekaligus membuat lumpuh sikap kreatif. Inspirasi itu bisa datang dari orang lain yang kita temui di tempat dan suasana yang berbeda. Lupakan kesedihan dengan membuka mata lebih lebar melihat dunia yang selalu menampakkan keseimbangan. Ada siang dan ada malam. Ada saat kita bekerja dan belajar dan ada waktu kita beristirahat. Ada musim hujan dan ada musim kemarau. Ada dataran tinggi dan ada dataran rendah. Yang keduany memiliki budaya masyarakat yang berbeda. Inspirasi yang hadir itu membuat hidup ini lebih berwarna. Semakin beraneka ragam warna itu memperkaya pengalaman dan membuat kita bijak menyikapi kehidupan.

Dari tempat yang baru itu membuat kita jeli melihat fenomena yang terjadi. Rasa jenuh, rasa penat, dan rasa sedih dengan sendirinya terkikis. Walaupun bersifat sementara, tetapi ada poin-poin pembelajaran yan di dapat dari pengamatan lingkungan sekitar. Wawasan bertambah dan relasi teman bertambah. Dari sana kita belajar menumbuhkan rasa empati dan kepedulian. Kepekaan sosial yang tinggi itu bisa di dapat dari seringnya kita berinteraksi dengan banyak orang dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda.

Hidup itu menjelaskan kehidupan itu sendiri. Berbagai pengalaman yang dilalui, ada satu dua yang berkesan dan sulit dilupakan. Seperti bertemu dengan seseorang yang sebaya dengan kita, tetapi dia memiliki kemampuan public speaking yang lebih baik dari kita. kita bisa belajar dengan dia yang baru kita kenal. Atau tanpa sengaja kita menghadiri sebuah seminar dimana pembicaranya memberikan pengalaman yang mereka tempuh yang pada akhirnya dia dinyatakan lulus seleksi dan ditetapkan sebagai penerima beasiswa perguruan tinggi di luar negeri. Bisa jadi inspirasi itu kita peroleh dari pengalaman orang lain. Dari pengalaman orang lain itu menumbuhkan semangat kita supaya mengikuti usaha dan kerja keras mereka dalam meraih beasiswa itu.

Kita hidup sebagai makhluk sosial yang tidak luput dari opini dan tanggapan orang lain kepada kita. tidak semua opini dan tanggapan itu kita dengar. Karena kita harus menyaring mana tanggapan yang membuat kita lebih maju dan mana tanggapan yang membuat kita patah semangat. Karena sebetulnya opini dan tanggapan orang lain itu banyak yang subjektif. Yang perlu kita lakukan adalah kita bercermin kepada diri sendiri atas pencapaian yang diperoleh dan memilih menerima kritik orang lain yang sifatnya konstruktif menjadi dasar perubahan sikap dan langkah selanjutnya yang ditempuh.

Cintai proses menjalankan amanah kehidupan sambil pegang erat prinsip-prinsip kebaikan. Karena dengan itu kita bisa memaafkan diri sendiri atas kegagalan di masa lalu, mensyukuri anugerah kehidupan ini, berterima kasih kepada orang-orang yang berjasa membesarkan dan mendidik kita dan tidak pernah melupakan jasa mereka. Apalah arti kesuksesan yang kita dapat hari ini, kalau saja kita tidak mau menghargai dan menyayangi orang-orang yang berjasa besar bagi kesuksesan yang kini dirasai.

Jalan orang-orang yang berbuat baik terbentang luas. Pintu untuk melangkah menuai pundi-pundi kebaikan selalu terbuka lebar.

 

Jakarta, 23 Mei 2106

 

 

Advertisements

Rumah Yang bernama Kasih Sayang

Sebuah tempat selalu punya cerita. Tahun 2001 saya datang dan menetap di sebuah rumah baru di Bekasi. Rumah tersebut menyimpan banyak mutiara kebaikan.

Rumah itu berdiri kokoh dengan tiga lantai. Masing-masing lantai mempunyai fungsi masing-masing. Warna hijau muda mendominasi warna bangunan itu. mulai dari dinding bangunan, pintu gerbang, lantai keramik, hingga atap genteng. Di atapnya bertuliskan sebuah kata Marhamah. Di depannya ada pohon nangka setinggi bangunan itu. DI samping pintu gerbang berdiri pohon jambu yang cukup lebat di dan di sekeliling pohon itu ada tumbuhan-tumbuhan kecil di dalam pot yang terawat rapi. Suara air kolam ikan di samping kiri gerbang rumah itu seolah menarik perhatian siapa pun tamu yang berkunjung ke sana.

Sejak pagi hari rumah itu diwarnai kesibukan anggota keluarga yang sedang piket berbenah membersihkan lingkungan rumah. Suara sapu lidi dan suara air yang dipancurkan dari selang untuk menyiram pepohanan berpadu dengan kicauan burung-burung membuat suasana pagi ini bergema dengan riangnya. Ada yang menyapu lantai, ada yang mengepel, ada yang membersihkan jendela, ada yang mencuci piring, dan sebagainy sesuai pembagian piket yang diberikan. Penampakan pagi yang selalu sama dari hari ke hari kecuali hari minggu dan hari libur nasional. Karena saat hari libur, waktu pagi diisi dengan olahraga bersama. Di atas sana matahari perlahan menunjukkan dirinya dengan cahayanya yang mulai merata menyapa bumi. Semakin siang suara bising kendaraan yang berlalu lalang semakin ramai.

Semua santri memulai hari dengan simpul wajah yang optimis. Hari ini menjadi bagian dari hari-hari yang akan datang. Karena itu, motivasi belajar mesti di pupuk setiap hari. Satu kebiasaan kami sebelum berangkat sekolah yaitu berbaris apel dan berdoa bersama. Saat apel kami memeriksa kerapian pakaian seragam dan penampilan kami.  Setelah itu kami mendengar evaluasi kebersihan rumah dari pembimbing  dan bersalaman dengannya.

Kebersamaan di rumah ini begitu erat  saya rasakan. Di sini saya selalu menemui ruang untuk berekspresi. Berekspresi lewat interaksi yang mewarnai setiap hari. Di sini   ada para pembimbing yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami. Walaupun sebenarnya mereka tidak ada ikatan darah dengan kami, tetapi mereka memberikan kasih sayang yang tulus dengan sepenuh hati. Mereka menemani kami selama kami tumbuh dari masa kecil hingga kami beranjak di usia remaja. Kehadiran mereka adalah cahaya bagi hati dan mata kami. Karena mereka mengasuh, merawat, dan mendidik kami dalam kurun waktu yang panjang supaya kami menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas dalam intelektual, tetapi kami dituntut memiliki kelembutan akhlak.

Mereka  selalu memberi bimbingan agar kami berkembang dari hari ke hari. Dengan tutur kata yang lembut dan akhlak yang baik mereka memberi teladan kepada kami. Bertemu dengan mereka mengajarkan saya hidup harus terus bergerak melalui satu fase menuju fase selanjutnya. Apa pun yang terjadi kehidupan tetap mesti di lanjutkan. Biarkan waktu menjadi obat atas pengalaman yang di rasai. Semua orang mempunyai hak untuk meraih keberhasilan dalam hidupnya. Karena Keberhasilan adalah kombinasi dari energi usaha yang maksimal, hati yang membaja tidak mudah menyerah, dan doa-doa panjang yang lahir dari kejujuran hati.

Kehidupan selalu adil. Bagi orang-orang yang mau belajar dan semangat memperbaiki diri. maka baginya tercapai apa yang menjadi harapan hidupnya.  Begitu pun sebaliknya, orang-orang yang malas belajar, lebih suka menonton televisi dan bermain di warnet dibanding membaca buku, maka mereka akan menanggung resiko dari itu semuai.  Ada ungkapan, siapa yang menanam, maka dia yang memanen.

Titik Untuk Berubah

Seiring berjalannya waktu, ada titik untuk mengawali sebuah proses. Motivasi dalam diri itu yang menggerakkan seberapa besar upaya seseorang mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Seberapa kuatnya daya dorongan motivasi dari orang lain dan lingkungan sekitar (motivasi ekstrinsik), apabila motivasi dari luar diri itu tidak menyalakan motivasi yang bersumber dalam diri (motivasi intrinsik) seseorang, maka motivasi dari luar itu menjadi sia-sia.

Begitu pun yang saya alami di rumah itu. Ada saja orang-orang yang tidak kuat menjalani proses di rumah itu sehingga mereka memilih jalan lain seperti keluar dari rumah dan memilih hidup sesukanya di luar sana. Seleksi alam selalu berlaku. Orang-orang yang punya kesadaran tinggi bahwa untuk menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya menuntut kedisiplinan,  kesabaran, kejujuran, dan pantang menyerah.

Lingkungan di rumah itu berpengaruh besar dalam pembentukan karakter saya. Dari sana saya belajar bagaimana etika bertutur kata, etika berbicara dengan orang yang lebih tua usianya dari saya, tanggung jawab diri terhadap lingkungan, etika meminta tolong dan berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik. Di sini saya menemukan alasan mengapa saya memilih tetap berada di sini. Saya memilih jalan ini karena saya yakin di tempat ini saya akan menemukan apa yang ingin saya raih. Inilah sebuah rumah tempat hati berteduh. Sejauh-jauhnya kita pergi, kita akan selalu merinduinya. Karena hanya di rumah  kerinduan itu akan terobati.

Rumah itu yang tidak hanya sekedar bangunan fisik. Tetapi di sana adalah tempat kami menempa diri untuk menjadi pribadi  yang memiliki pemahaman yang baru dan pribadi yang memiliki kehalusan budi. Tempat dimana kami menemukan passion yang ada dalam diri kami. Tempa dimana cita-cita baru itu hadir menempati ruang di hati kami. Tempat dimana kami melepaskan rasa jenuh dan kebosanan dari rutinitas yang dijalani. Tempat dimana kami tampil apa adanya tanpa topeng keegoisan yang sering membelenggu. Tempat yang mengajarkan kami bahwa hidup harus dinamis.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 13 Mei 2016

 

 

 

 

 

 

Creative Writing for Young (Bagian 2)

feature-writing

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Creative Writing for Young (Bagian Satu).

Materi II : Menulis Feature

Ruangan mulai terasa dingin. Saya meneguk air putih yang ada di depan saya. Kemudian saya mengenakan sweeter berwarna merah marun. Lumayan agar dingin yang di hembuskan AC terhalang dengan pakaian ini. Suara sejumlah peserta yang saling bercengkerama berpadu silih berganti. Tanda bahwa ada jeda beberapa menit sebelum pergantian materi. Cahaya lampu proyektor masih tetap menyala memantulkan seberkas cahaya di mata orang yang memandangnya.

Sekilas ruangan ini seperti ruang pertemuan atau rapat pada umumnya. Ruangannya cukup luas dan di lengkapi dengan meja rapat berbentuk persegi panjang. Di tiap sisi meja bisa di isi dengan kursi-kursi yang mengitari setiap sudut meja. Lampu-lampu ruangan yang berjejer dengan cahaya putihnya membuat orang betah berlama-lama berada di dalamnya. Tapi ruangan ini terasa kurang sempurna, karena di sini saya tidak melihat jam dinding. Dari dalam sini cahaya matahari nyaris tidak terlihat karena mungkin gedung ini terhalangi dengan gedung di sekitanya yang lebih tinggi.

Ucapan salam dari Pak Arif Firmansyah (jurnalis senior dan founder gregetan.com) menjadi tanda bahwa materi menulis feature dimulai. Kami kembali fokus memperhatikan dan mendengarkan penjelasan yang beliau sampaikan. Materi ini diawali dengan definisi singkat feature adalah tulisan opini seseorang terhadap fakta yang terjadi dan di dalamnya mengandung unsur human interest. Tulisan feature menggunakan gaya bahasa seperti halnya tulisan cerpen (fiksi). Bedanya kisah yang dituliskan adalah fakta (non fiksi). Feature termasuk salah satu tulisan berita (soft news) karena di dalamnya terkandung unsur-unsur jurnalistik yaitu 5 W 1H.

Setelah mendengar mengenai pengertian menulis feature, saya baru mengerti bahwa tulisan-tulisan yang saya buat mengenai catatan perjalanan (traveling) ke suatu tempat mendekati jenis tulisan feature – lebih tepatnya tulisan saya buat condong ke arah tulisan catatan harian-. Karena tulisan yang saya itu berkaitan dengan opini saya mengenai perjalanan yang saya lakukan. Hanya saja saya kurang mengeksplorasi dari sisi 5W 1H dan topik yang saya pilih masih umum belum terfokus menjelaskan topik apa yang ingin ditulis lebih detail.

Padahal menurut Pak Arif, “Banyak tulisan feature mengenai traveling yang masih kurang tepat. Karena banyak diantara mereka masih menuliskan topik yang umum yang sebenarnya seperti jadwal perjalanan yang mereka lakukan. Seharusnya dari tulisan traveling itu memuat satu topik besar yang ingin ceritakan secara rinci. Misalnya dari aspek budaya masyarakatnya, wisata kulinernya, keunikan yang dimiliki oleh destinasi wisata yang menarik orang-orang untuk berkunjung dan masih banyak yang lain.”

Dari pemaparan beliau, minimal ada tiga cara merumuskan tulisan feature :

Pertama, tentukan topik. Tujuannya agar tulisan menjadi terfokus. Topik yang baik adalah topik yang mewakili isi tulisan.

Kedua, tentukan lead (kata pembuka). Lead harus menarik. Lead ibarat pembuka jalan. Lead ini sangat berpengaruh karena dari bagian lead ini pembaca akan memutuskan apakah pembaca akan membaca bagian pembuka saja atau pembaca akan membaca tulisan hingga akhir. Sederhananya, lead merupaka gerbang awal yang dilihat oleh pembaca. Lead yang baik adalah lead yang berhasil membangkitkan rasa ingin tahu dan penasaran pembaca karena dengan itu pembaca sejak bagian awal sudah terikat membacanya hingga akhir. Lead terdiri bermacam-macam diantaranya, lead ringkasan, lead deskriptif, lead narasi, dan lainnya.

Ketiga, riset. Karena yang menjadi tulisan adalah fakta, maka riset sangat dibutuhkan. Hal itu diperlukan untuk memperkuat argumentasi tulisan kita terhadap opini yang kita sampaikan. Riset bisa diperoleh melalui wawancara, interaksi sosial dengan lingkungan yang menjadi topik tulisan, melalui buku-buku yang memuat informasi yang berkaitan. Dalam riset ini seorang penulis dilatih rasa kepekaannya melihat lingkungan dan fenomena yang terjadi. Hal-hal detail yang ditemukan dalam riset itu membuat tulisan semakin informatif.

Keempat, hindari pengulangan kata. Usahakan cari padanan kata yang sama di saat kita ingin menuliskan maksud yang sama dengan kata sebelumnya. Perbanyak buka kamus besar bahasa Indonesia atau membaca buku untuk memperkaya kosa kata.

Setelah materi selesai, kami diberi tugas individu menulis feature dalam waktu yang sudah ditentukan. Pak Arif memilih tiga tulisan (karena waktu terbatas) yang akan dibahas bersama-sama. Tulisan saya termasuk tulisan yang pertama di bedah.  Saya menulis mengenai pengalaman saya saat observasi budaya suku Baduy di provinsi Banten bulan Desember 2015. Tulisan yang di bedah ditampilkan di layar proyektor dan dapat di baca seluruh peserta. Saat tulisan saya ditampilkan ada rasa cemas dan kurang percaya diri, karena tulisan saya masih sangat sederhana dan belum tuntas sampai akhir.

Hal menarik dari bedah tulisan ini adalah secara demokratis Pak Arif memberi kesempatan kepada semua peserta untuk menyampaikan ide bagian kata mana yang harus diganti dan bagian mana yang perlu di tambahi pada tulisan yang sedang di bedah. Pada bagian ini kami berfikir bersama dan berani memberikan ide agar menjadi tulisan feature yang menarik. Semua dibahas per kata, per kalimat dan per paragraf. Dari bedah tulisan ini saya sangat merasa kosakata yang saya miliki masih sangat sedikit. terbukti saat menyebutkan padanan kata yang sejenis untuk melengkapi kalimat, saya lebih banyak diam karena benar-benar tidak tahu.

Selesai bedah tulisan, kami membaca tulisan kembali dan kami sepakat sebenarnya tidak ada yang berubah dari makna paragraf setelah bedah tulisan, hanya perbaikan kata per kata menjadi padat. Kata demi kata yang tidak berhubungan dengan tulisan di pangkas. Dan pengulangan kata sangat dihindari. Sebaik mungkin mencari padanan kata yang sejenis untuk menceritakan objek yang sama.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 07 Mei 2016