Monthly Archives: August 2017

Pembelajar Sejati

Setiap kita adalah pembelajar. Ya, pembelajar dari pengalaman-pengalaman yang telah berlalu. Seiring berjalannya waktu,  kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman yang terlewat menjadi bagian dalam hidup di mana setiap kita mendambakan diri yang berkembang dan lebih bermakna. Oleh karena tidak cukup rasanya pengalaman hanya menyisakan jejak yang bernama kenangan. Ada poin-poin dimana hati nurani kita bersuara mengenai apa yang kita inginkan dan apa yang membuat kita bahagia. Suara hati itu hadir membuat kita berfikir dan mempengaruhi tindakan kita untuk bercermin mengevaluasi diri lebih jernih. Karena suara hati itu selalu mengungkapkan kejujuran yang murni lahir dari hati.

Jalani saja, lakukan saja, cobalah dulu, karena kedewasaan itu dibentuk dari proses pengalaman yang kadang rumit dan membuat kita ragu dan bimbang. Kedewasaan itu ditempa seiring banyaknya intisari dari pengalaman yang kita serap. Kita belajar untuk memilih, memutuskan, menerima risiko dari keputusan yang dipilih. Memilih adalah pilihan. Tidak memilih juga adalah pilihan. Masing-masing ada risikonya. Saat menjalani peran yang dipilih sejatinya kita sedang berlatih untuk lebih bertanggung jawab atas peran yang kita ambil.

Dalam berlatih terkadang kita mengalami kegagalan, kadang juga menuai pujian, bahkan ada yang memberi kritik atas hasil yang sudah kita kerjakan. Yang terpenting adalah selama apa yang kita lakukan adalah kebaikan dan tidak mengkhianati suara hati nurani, di situ kita telah menjadi diri kita sendiri. Orang lain mau berkomentar apa pun itu, memberi kritik pedas, itu hak mereka. Kita tidak punya kuasa mengendalikan fikiran dan ucapan mereka. Kita lakukan apa yang sudah menjadi bagian kita saja sambil diiringi dengan terus melakukan evaluasi sudah sejauh mana pencapaian yang sudah diraih.  Kesabaran menjadi pengendali jiwa untuk tidak meluapkan amarah, berkata yang kasar yang berujung pada rusaknya tali silaturahmi yang sudah dirajut rapi sekian lama. Kedewasaan itu akan bertumbuh seiring berjalannya waktu selama kita mau belajar dari kesalahan dan kekeliruan di masa lalu.

Dalam kisah tokoh penemu lampu di mana kita sudah sama-sama tahu bahwa Thomas Alfa Edison melakukan percobaan puluhan bahkan ratusan kali dalam menciptakan lampu. Namun satu metode percobaan dengan metode percobaan yang lain berbeda-beda. Ia pandai menganalisa dari satu metode percobaan yang sudah keliru tidak digunakan lagi metode percobaan yang sama pada metode percobaan yang lain. Di akhir keberhasilannya menciptakan lampu ia berkata, “aku tidak mengatakan proses percobaan pertama hingga terakhir adalah kegagalan. Tapi melalui percobaan sekian banyak jumlahnya itu aku belajar dari kekeliruan dan aku mencoba dengan metode-metode yang berbeda hingga akhirnya aku berhasil.”

Lesson learn dari kisah inspiratif tersebut adalah teruslah berusaha dan jangan menyerah sampai kita menemukan titik keberhasilan. Jangan pernah berharap mendapatkan sesuatu yang lebih baik selama kita tidak belajar dari kesalahan dan kekeliruan di masa lalu. Kalau mau berhasil, teruslah mencoba, teruslah berupaya. Saat mengalami kegagalan, maka bangkit lagi dan berupaya lagi dengan cara dan strategi yang berbeda. Dengan kata lain, jangan jatuh pada lubang kesalahan yang sama untuk kedua kali dengan cara yang sama.

Pembelajar sejati selalu melihat bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ia yakin kesulitan-kesulitan yang dilaluinya dalam rangka mendekatkan diri dengan keberhasilan yang akan dipetik di hari esok. Keberhasilan yang akan membawanya pada kemudahan kehidupannya di masa mendatang. Ia yakin bahwa keberhasilan harus diperoleh dengan kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan berdoa. Ia percaya apa yang tanam hari ini akan berbuah di masa depan. Maka ia hari ini ia ingin menanam benih-benih kebaikan sebanyak-banyaknya dan dengan benih-benih yang berkualitas, agar ia memperoleh hasil yang maksimal di hari esok. Oleh karena itu pancaran optimis itu akan terus menyala dalam jiwanya. Ia tak ragu mengambil langkah, memperjuangkan asa, menjemput mimpi dengan keyakinan yang terpatri dalam hati. Kesedihan dan kegagalan di alami adalah warna kehidupan yang harus dilalui dengan segara dan tidak perlu diratapi dalam waktu yang lama. Ia bersedih sewajarnya. Kemudian bergegas membuat strategi baru yang lebih matang untuk melanjutkan langkah berikutnya.

Masa muda ini hanya sekali dan begitu singkat. Maka gunakan untuk hal-hal yang bermakna. Maka isi waktu untuk menemukan pengalaman-pengalaman yang unik. Berkenalan dengan banyak teman untuk mengasah rasa empati dan simpati. Belajar berorganisasi dalam lingkungan komunitas yang sama untuk membangun jaringan dan menumbuhkan integritas. Meluangkan waktu untuk membaca buku, memahaminya, dan berdiskusi dengan guru atau teman sebaya tentang isi buku agar kita memiliki persepsi yang matang. Hal itu menambah wawasan pemikiran kita. Melakukan perjalanan ke suatu tempat-tempat yang baru, merasakan keramahan penduduknya, merasakan udara yang sejuk dengan pemandangan yang terhampar pohon-pohon yang berbaris, menyaksikan para wisatawan melepas penat dan meluapkan lelah dengan berlibur ke tempat-tempat yang sejuk dan tenang. Kita akan belajar tentang arti keberagaman manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Jalani dan nikmati hidup ini dengan aktivitas yang penuh warna dan penuh makna.

Teruslah memotivasi diri untuk terus berkembang dari sisi keilmuan, memperluas jaringan pertemanan (networking), dan  menghaluskan budi pekerti. Jangan cepat puas, sehingga timbul rasa tidak mau belajar lagi, tidak mau membaca lagi, dan merasa lelah untuk berbuat baik.

Banyak sekali ilmu kehidupan yang dapat kita pelajari dari kehidupan di sekeliling kita. Ilmu kehidupan tidak terbatas di dapat di bangku kuliah maupun sekolah formal. Selama kita mau belajar, kehidupan ini menyimpan hikmah-hikmah pembelajaran yang dapat dipetik sebagai bekal perjalanan kita dalam menempuh hidup ini. Ilmu kehidupan itu membentuk seseorang bersikap dan menilai sesuatu dengan sudut pandang yang utuh. Cara ia menjalin komunikasi dengan sesamanya, cara ia bersikap ramah dengan orang-orang sekelilingnya, cara ia berempati dengan lingkungan sosialnya yang berdampak pada reaksi dan tindakan nyata (social impact), menjadikan ia memiliki kepribadian yang berkarakter. Integritas dan tanggung jawab mereka tertanam dan bertumbuh seiring ia mau mengamati dan berpartisipasi pada lingkungan sosialnya.

Pada saat kita lahir ke dunia, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita bahagia dan tersenyum menyambut kehadiran kita ke alam dunia. Nanti pada saat kita meninggal dunia kita berharap, kita tersenyum dan orang-orang di sekitar kita menangis karena merasa kehilangan akan kebermanfaatan yang telah kita berikan untuk lingkungan.

Jakarta, 19 Agustus 2017

 

 

 

 

 

Advertisements

Membuka Jalan Keberhasilan

“Di jalan ini tidak ada jeda untuk berhenti. Mereka yang berjalan lamban akan tertinggal oleh mereka yang berjalan cepat. Mereka yang berjalan cepat juga akan berada di depan. Mereka yang berjalan dengan santai dan memilih diam akan tertinggal jauh di belakang.” (Ahmad A. Amri, Ph.D)

Roda kehidupan bergerak dengan pasti. Mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangan cita-cita akan tiba pada titik pencapaian. Orang yang sukses adalah orang memiliki drive motivation untuk maju dari hari ke hari. Maju dalam arti kualitas aktivitas hariannya meningkat. Karena kesuksesan itu dirintis melalui usaha kecil yang konsisten setiap hari. Tidak ada kesuksesan yang hadir secara instan tanpa dibarengi usaha yang nyata.

Pertama, menentukan tujuan. Menentukan tujuan menjadi awal untuk memulai setiap perjalanan. Ia menjadi lembaran baru memulai perjalanan. Sama seperti halnya kita ingin merencanakan travelling ke satu atau beberapa tempat wisata, kita perlu menentukan tujuan travelling kita kemana? Pun dalam hidup kita perlu membuat tujuan. Menentukan tujuan itu menjadi basic untuk kita bergerak dan berbuat. Tujuan yang kita sudah buat menjadi kompas kehidupan yang mengarahkan kita menuju tujuan itu. Mereka yang berhasil menentukan tujuan berada satu langkah lebih depan dibandingkan mereka yang tidak mampu menentukan tujuan.

Kedua, manajemen waktu. Tips jitu untuk bagian ini adalah dengan menulis agenda harian dan evaluasi berkala dari pencapaian agenda yang sudah terlaksana dan agenda yang tidak terlaksana. Kata menulis menjadi poin yang ditekankan di sini. Menuliskan rencana melalui agenda harian hari ini adalah bagian upaya menetukan target apa yang ingin dicapai hari esok. Kebiasaan menuliskan agenda harian melatih diri untuk menghargai waktu, mengisinya dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat. Evaluasi berkala dilakukan untuk menilai sejauh mana effort yang kita diberikan untuk merealisasikan rencana harian yang sudah dibuat sebelumnya.

Ketiga, kerja cepat (work fast) dan kerja efektif (work effective). Realisasiny adalah berfikir dahulu sebelum bekerja. Think-work. Satu waktu bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dalam hal ini perlu dibuat strategi yaitu menentukan pekerjaan sesuai skala prioritas.

Keempat, membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah pintu untuk membuka wawasan yang berkembang secara global. Membaca adalah simbol bagi para penuntutu ilmu yang tak pernah puas untuk terus belajar. Sekian banyak buku yang sudah ia baca, ia semakin merasa rendah hati karena ia sadar begitu luasnya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui.

Ibarat sebuah rumah yang besar, membaca adalah lampu yang menyalakan seisi rumah menjadi terang dan membuat penghuninya merasa betah dan nyaman berlama-lam di rumah. Semakin  banyak buku yang dibaca, maka semakin banyak lampu yang menyala. Artinya semakin banyak ruangan gelap yang berkurang. Tanpa lampu yang menyala, seisi rumah itu akan gelap gulita dan membuat penghuninya tidak betah berlama-lama berada di dalamnya.

Kelima, membangun jaringan (build networking). Ada pertanyaan apakah ada hubungan kesuksesan dengan kemampuan komunikasi yang baik? Saya menjawa tentu ada. Orang-orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik adalah orang-orang yang memiliki kemampuan beradaptasi. Ia  berusaha membangun deep relationship dengan orang-orang yang memiliki kesamaan ide, kesamaan sudut pandang, kesamaan passioan , dan kesaamaan minat. Dari sana akan lahir ide kreatif yang merupakan hasil kolaborasi dari berbagai ide yang sudah terkumpul. Ada istilah, siapa yang dapat beradaptasi, maka ia akan survive.

Persoalan di era digital ini sering kali membuat generasi muda lalai dan terbuai oleh hiruk pikuk komunikasi di media sosial yang tak terasa menghabiskan waktu dalam porsi yang besar. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah tanpa terasa tujuan dan rencana harian yang sudah dibuat hanya sekedar menjadi catatan belaka yang tidak membekas apa-apa. Waktu tanpa sadar terlewat dan terbuang. Usia muda adalah  usia di mana harus digunakan untuk menemukan jati diri, membangun networking, menumbuhkan idealisme dan mengembangkan intelektual,  secara perlahan terbias dan beralih oleh aktivitas berkomunikasi melalui media sosial yang digunakan secara tidak bijak.

Bukan tidak boleh menggunakan media sosial. Bahkan secara jujur diakui bahwa media sosial memudahkan untuk build networking dengan sesama dan berkenalan dengan orang-orang baru semakin efisien. Yang menjadi masalahnya adalah menggunakan media sosial hingga kita lupa bahwa kita hidup di dunia nyata -kita perlu berinteraksi melalu pertemuan secara fisik, kita butuh membangun interpersonal skills dengan orang-orang yang baru kita kenal, kita perlu berempati dengan saudara kita yang sedang ditimpa kesulitan, kita perlu memberi apresiasi kepada kenalan kita karena ia berhasil menyelasaikan pendidikan dan sebagainya.-

Sebagian kita merasa lebih asyik berkomunikasi dengan media sosial dengan merasa I have so many friends in social media dengan mengabaikan berkomunikasi dalam kehidupan nyata sehingga kamu merasa lebih mementingkan berkomunikasi dengan media sosial lalu tak peduli dengan orang-orang  yang berada di samping kanan dan kirimu, orang-orang yang berada dekat denganmu. Padahal bisa jadi orang-orang yang baru kita kenal they will be your future leader?  They will be somebody important in the future? Namun pertanyaannya, how many friends really do you have dalam kehidupan nyata? Apakah teman-teman di media sosial yang kamu maksud itu adalah orang-orang yang paling banyak dan paling sering like postingan di instagram dan di facebook atau like twit kamu?

Tapi bukan itu. Really your friends di sini bukan hanya teman yang asal sekedar kenal namun kamu sudah mengenal mereka hingga tahap deep relationship. Sehingga teman-teman kamu, menerima dirimu dengan apa adanya, dengan satu paket kelebihan dan kekurangan yang melekat dalam dirimu. Keberadaan dirimu melekat dalam ruang hati teman-temanmu. Di saat kamu memerlukan kehadiran sosok teman untuk bercerita, untuk meluapkan keluh kesah, mengungkapkan kegelisahan, ia selalu menyediakan ruang untuk menemanimu kapan pun itu.

Keenam, positif thinking (berbaik sangka). Berbaik sangka apapun hasil atas usaha yang kita sudah kerjakan. Make sure bahwa saat di mana kita jatuh, maka pastikan kita jatuh ke depan. Karena dengan begitu jatuhnya kita mendekatkan diri kita menuju tujuan yang sudah kita tentukan di awal. Saat kita gagal dalam berusaha, tidak apa-apa asalkan kita gagal sesudah melalui proses dalam effort. Justru apresiasi terbesar dari mencapai tujuan adalah keberhasilan kita melalui setiap tahap proses usaha yang kita lewati hingga akhirnya kita berada pada titik pencapaian yaitu tiba pada tujuan yang sudah kita kehendaki sejak memulai perjalanan.

Jakarta, 07 Agustus 2017