Monthly Archives: October 2017

Hikmah Perjalanan

Kadang kita sering kali tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Anggap saja adanya pertengkaran dengan teman. Entah terjadi pada posisi yang tersudutkan (pihak yang disalahkan) atau berada di posisi yang melukai perasaan teman. Saya pernah berada di posisi pertama yaitu pihak yang tersudutkan. Dalam hati saya sadar this is my mistake but etika menegur di depan umum adalah hal yang tidak saya suka. Itu yang menyebabkan saya sempat memendam rasa marah dan berujung pada jarak pertemanan semakin longgar. Akhirnya beberapa bertemu dengan teman tersebut, saya lebih cuek dan diem-dieman. Namun sikap itu tak berlangsung lama. Pada titik tertentu saya termenung dan menemukan pemahaman bahwa, kadang dalam hidup kita sering kali kita tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Hanya karena kesalahan kecil orang lain, kita mudah melupakan kebaikan yang sudah dilakukan orang tersebut kepada kita. Kita mudah mengabaikan tali pertemanan yang sekian lama terajut secara singkat karena masalah ringan. Kita cepat sekali memberi penilaian buruk terhadap orang lain yang sudah menjadi teman kita sendiri.

Dari sana, saya mulai memperbaiki hubungan pertemanan lagi dengan mengawali permintaan maaf kepada teman saya itu. Saya kirim pesan via whatsapp yang berisi permintaan maaf saya karena kesalahan saya, tim ini mendapat hasil yang kurang memuaskan. Saya menghindari alasan-alasan mengapa sempat ‘menjaga jarak’ karena pertimbangan waktu yang masih belum tepat. Masing-masing masih menyimpan emosi. Dan upaya saya adalah bagaimana emosi itu tidak memicu konflik yang semakin besar. Harus ada sikap yang berusaha meneduhkan suasana dari pihak yang sedang bersitegang.

Seiring berjalannya waktu, saya juga mendapatkan pemahaman baru yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang saya alami di tempat saya bekerja dan di kampus saya kuliah. Saya memahami bahwa manusia punya sisi kelebihan dan sisi kekurangan. Oleh karena itu memiliki kemauan untuk belajar memperbaiki diri dari hari ke hari semestinya menjadi planning harian yang mendesak untuk dibuat dan di realisasikan. Hal itu bukan untuk orang lain. Namun untuk diri kita sendiri. Tujuannya adalah idealisme hidup kita selalu terjaga. Apa yang menjadi harapan, apa yang ingin di capai, perubahan apa yang ingin diraih semua itu bisa di definisikan melalui ‘azzam (tekad yang teguh) yang terus di pupuk secara konsisten.

Agar five years from now kita tidak lagi menyesali diri sendiri, kok lima tahun ini hidup saya begini-begini aja. Kok cita-cita yang tertuang dalam planning hidup jangka menengah dan jangka panjang tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Lalu akhirnya dengan mudah karena alasan usia semakin bertambah, kesibukan yang semakin padat, dan tanggung jawab hidup semakin besar, kita dengan mudah menurunkan dan merubah planning hidup yang kita sudah tetapkan sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Belakangan ini, saya menjadi lebih respect saat ada orang yang lebih tua dari saya baik dari rekan kerja atau teman kuliah memberi nasihat dan saran kebaikan kepada saya. Saya mengerti, bagaimana pun mereka hidup di dunia ini sudah lebih lama dari saya.  merekal sudah memakan ‘asam garam kehidupan’ lebih banyak ketimbang saya. Lalu niat baik mereka juga bertujuan agar saya lebih baik lagi dari sisi sikap, ibadah, dan menjaga relasi dengan sesama. Terkadang hatinya menghangat saat mendengar nasihat dari orang-orang yang baru di kenal. Entah bertemu mereka di warung makan, bertemu di instansi untuk mengurus dokumen yang sama, atau pun bertemu di seminar-seminar yang pernah saya ikuti. Nasihat itu tidak selalu dengan kalimat verbal. Banyak juga akhlak yang terhias dalam perilaku mereka yang menjadi sumber inspirasi untuk saya belajar.

Kadang saya juga iri dengan orang-orang yang memiliki strata pendidikan tinggi (akademisi) namun dengan tawadhu’ (rendah hati) dan ketulusan jiwa memberikan ilmu baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Melalui akhlak dan etika bertutur kata mereka membuat saya bercermin pada diri saya sendiri yang selama ini masih sering mengeluh, masih sering kurang ikhlas untuk belajar, masih sering terselip akhlak yang kurang baik, dan masih sering lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tanggal 08 Oktober 2017 lalu, saya  menerima sertifikat kelulusan pendidikan dan pelatihan (diklat) Pajak Terpadu Brevet A dan B dalam acara wisuda peserta diklat gelombang 2  yang di selenggarakan oleh divisi diklat Univ. Indraprasta PGRI. Dalam acara tersebut terdapat serangkaian sambutan. Sambutan yang cukup berkesan buat saya adalah sambutan dari Sekretaris Prodi. Pendidikan Ekonomi Bapak Zaenal Abidin. Beliau menyampaikan, “Anak-anakku sekalian, setelah acara ini wisuda ini selesai, temuilah orang-orang yang dengan tulus mendukung kalian selama proses pelatihan ini berlangsung. Temuilah ayah ibu kalian dan temuilah orang-orang telah memberikan ilmu para kalian selama pelatihan ini, para instruktur dan para panitia penyelenggara. Lalu sampaikan kepada mereka ungkapan terima kasih dari hati yang tulus. Sampaikan ungkapan itu sebagai ungkapan apresiasi karena melalui kerja keras, keikhlasan, dan doa mereka, kalian dapat berhasil mencapai titik kelulusan pada hari ini.”

Mendengar bagian sambutan ini, mata saya menghangat. Ucapan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita sering kali terlupakan. Terlihat seperti hal sepele. Namun memiliki makna yang mendalam. Ungkapan terima kasih kepada siapa pun orang yang telah berbuat baik dan membantu kita adalah bukti kita menghargai sekaligus bentuk apresiasi kita yang layak kita berikan kepada mereka.

 

Jakarta, 21 Oktober 2017

Advertisements