Monthly Archives: September 2016

Pare, I’M Coming

plant

Memulai Langkah Pertama

24 Agustus 2016. Hari ini hari Rabu. Hari dimana saya memulai perjalanan ke kampung Inggris, Pare, Kediri Jawa Timur. Malam hari sebelum keberangkatan, saya memeriksa kembali perlengkapan berupa pakaian, buku dan alat tulis. Saya juga mencetak kuitansi biaya pendidikan di kampung Inggris, e-ticket pesawat yang saya pesan dari Traveloka.com, dan e-ticket pulang kereta api.  Semua perlengkapan itu saya masukkan ke dalam satu koper dan tas ransel ukuran sedang yang biasa saya pakai untuk kuliah. Pagi harinya, dengan memantapkan niat dalam hati saya pamit dengan ayah dan ibu saya di rumah. Rute perjalanan hari ini ke bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Juanda Surabaya, kemudian menaiki mobil travel menuju Pare, Kediri.

Pukul 12.40. Tiba di bandara hari sudah sangat terik. Saya mempercepat langkah ke arah counter Citilink di terminal 1C untuk keperluan check-in. Saat itu antrian di counter Citilink tidak terlalu panjang. Antrian berkisar lima sampai enam orang dari sekian counter yang tersedia. Ketika tiba giliran saya proses check-in cukup cepat karena saya sudah check-in online via website. Saya diminta membayar biaya tambahan atas pilihan kursi dekat jendela sebesar Rp 30.000. Saya menitipkan koper ke bagaso dan tas ransel tetap saya bawa ke dalam pesawat. Setelah itu seorang staff counter memberikan kartu boarding pass dan mempersilahkan saya memasuki ruang tunggu (boarding lounge). Jadwal keberangkatan pukul 13.40.

Boarding lounge siang itu cukup ramai. Hal itu terlihat dari kursi tunggu yang hampir terisi penuh oleh penumpang. Di dalam ruangan itu terdapat dua orang staff pelayanan informasi berada tepat di depan pintu masuk ruangan. Setiap sudut sisi ruangan ini terdapat sound system yang berfungsi memberikan informasi pesawat yang akan berangkat menuju destinasi tertentu. Ruangan ini juga terbagi dua sisi, sisi kiri dan sisi kanan. Masing-masing sisi terdapat kursi tunggu yang berjajar memanjang ke belakang dan dilengkapi satu televisi. Ruangan ini juga ruangan bebas rokok. Penumpang yang ingin merokok mereka sudah sadar diri untuk  segera ke luar ruangan. Saya duduk dan meneguk air untuk ke sekian kalinya sambil sesekali melirik ke layar televisi. Saya juga melirih jam tangan berkali-kali dengan sedikit gelisah. Sound system kembali bergema. Kini giliran mengenai informasi bahwa penumpang tujuan Surabaya segera memasuki kabin pesawat. Kedatangan pesawat telat tiga puluh menit dari jadwal keberangkatan.

Berawal dari Kegelisahan

Rencana belajar ke kampung Inggris dimulai dari kegelisahan saya setelah mengikuti pameran pendidikan tinggi Uni-Eropa (Scholarship Info Day) dan LPDP beberapa bulan lalu di Jakarta (bisa dibaca : https://imron26.wordpress.com/2016/06/15/eu-indonesia-scholarship-info-day-2016/). Dimana saat itu para pembicara dari beberapa perwakilan negara Eropa menyampaikan presentasi  menggunakan bahasa Inggris. Saya hanya mendengar tanpa bisa memahami karena minim vocabulary. Sederhananya saya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh para pembicaraBisa dihitung jumlah kata yang mereka sampaikan yang bisa saya pahami. Itu pun masih menerka-nerka. Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa kemampuan bahasa Inggris saya mesti dikembangkan lagi, dilatih lagi, dan belajar lagi. Ditambah setelah mengikuti pameran pendidikan itu tumbuh niat dalam benak saya untuk melanjutkan pasca sarjana di luar negeri. Di mana untuk bisa mencapai itu harus didukung dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai.

Lalu tepat di tanggal 13 Juni 2016 saya mendaftar secara online program bahasa Inggirs  2 minggu di Pare dari sebuah website yang bernama eurekatour.com, jasa tour spesialis kampung Inggris. Saya memilih gelombang tanggal 25 Agustus sampai dengan 5 September 2016. Pertimbangan memilih gelombang tersebut karena bertepatan dengan libur kuliah semester genap. Bagi saya ini menjadi liburan kuliah yang berkesan karena dapat menambah keterampilan berbahasa Inggris dan menambah teman (networking).

Mengapa memilih kampung Inggris di Pare? Karena saya mempunyai beberapa guru bahasa Inggris dan kakak kelasa di SMA yang pernah menempuh pendidikan di Pare. Dari mereka, saya dapat informasi bahwa di Pare itu lingkungan untuk belajar bahasa Inggris itu sangat kondusif dan biaya pendidikan dan biaya hidup di sana sangat terjangkau. Hanya dibutuhkan niat yang kuat, kemauan keras, dan semangat untuk belajar dan berproses selama menempuh pendidikan di sana.

quotes-dari-film-20

Saya berusaha merealisasikan suatu keinginan bila keinginan itu mengandung manfaat untuk pengembangkan diri. Tentu itu pun setelah berfikir secara realistis. Dua bulan sebelum ikut program ini di mulai saya sudah mempersiapkan kebutuhan finansial dengan cara menyisihkan sejumlah uang dari gaji bulanan dan menghemat pengeluaran. Saya memahami bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Begitu pun saat saya memantapkah hati untuk belajar di kampung Inggris Pare, konsekuensinya saya mesti menghemat pengeluaran, merelakan untuk tidak pergi traveling ke suatu destinasi wisata, menahan diri untuk tidak membeli elektronik, aksesoris gadget dan lain-lain (kecuali buku, karena untuk buku saya sudah punya pengeluaran rutin tiap bulannya), memikirkan permohonan cuti kerja yang saat itu saya masih sangat ragu apa mendapat ijin atau tidak mengajukan cuti selama dua pekan untuk keperluan belajar, termasuk reaksi apa yang timbul dari teman satu tim di kantor, saya mesti mencari lebih jeli tiket pulang pergi yang murah untuk menekan jumalah pengeluaran. Kekhawatiran itu tetap ada dan saya rasakan. kebimbangan itu ada dan nyata bergejolak dalam hati yang akhirnya menimbulkan bibit-bibit keraguan apakah saya mesti mundur atau maju meneruskan rencana ini.

Satu hal yang membuat saya yakin untuk maju mengikuti program pendidikan ini adalah belajar bahasa Inggris ini adalah kemauan yang bersumber dari dalam diri saya sendiri, untuk kepentingan pengembangan potensi diri saya, dan hal ini juga akan mendukung rencana studi saya untuk masa akan datang. Kalau bukan diri saya sendiri yang mengembangkan diri, siapa lagi? Orang lain hanya bisa mendukung, berbicara, berkomentar ini itu. Lalu berlalu begitu saja. Tetapi proses belajar, proses menempuh pendidikan di lingkungan yang baru dan  jauh dari rumah, proses beradaptasi dengan sesama pelajar dari daerah yang berbeda, semua  itu saya yang mesti jalani melalui bertahap. Saya mau bergerak dari titik satu ke titik yang lain. Dari satu pencapaian ke pencapaian selanjutnya.

Saat ini yang saya butuhkan adalah kemauan kuat untuk mencoba mewujudkan semua rencana itu dan hati yang selalu berdoa memohon semoga jalan yang saya pilih diberi kemudahan oleh Allah swt. Doa yang selalu terucap mengalir lembut membasuh dinding-dinding hati menjadi penyemangat diri untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Allahumma inna nas’aluka rizqon thayyiban, wa ‘ilman nafi’an, wa ‘amalan mutaqobbalan.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu rizki yang baik, ilmu bermanfaat, serta amal-amal soleh yang diterima.”  aamin.

Jakarta, 24 September 2016

Teruslah Menjadi Pembelajar

img_1138_med_hr

Setiap cita-cita yang diucapkan berulang kali merupakan cerminan dari kesungguhan hati dalam  menyampaikan niat yang begitu tertanam kokoh di dalam jiwa. Melalui perkataan itu kita mencoba meneguhkan kembali akan  harapan apa yang ingin di capai dalam jangka pendek dan jangkan panjang.

Perkataan itu merupakan refleksi diri dalam merespon orang lain atau teman kita sendiri yang bertanya seperti, “apa rencana setelah selesai SMA? Apa rencana selelah lulus sarjana?” Pertanyaan itu wajar menjadi bahan pembicaraan antar teman dan kita bisa menjawab ringan tanpa perlu berfikir panjang, cukup jawaban yang pendek. Namun pertanyaan itu bila mau dipahami lebih lanjut saat orang yang bertanya pada kita adalah orang tua kita atau guru kita, maka secara tidak langsung mereka menginginkan kita memberi jawaban yang spesifik. Jawaban yang rasional dan fokus pada arah yang jelas. Apa yang menjadi passion kita? Potensi apa yang kita ingin kita kembangkan? Kompetensi ilmu apa (dalam hal ini jurusan apa) yang kita ingin pilih yang menjadi minat kita? Pertanyaan serupa kita mesti jawab dengan pertimbangan yang matang dan kembali lagi pada kesukaan minat kita mau fokus pada bidang apa.

Sebuah rencana yang baik yang sudah terhujam kuat dalam benak diri ketika itu diungkapkan melalui ucapan kepada orang tua kita, kepada guru kita, kepada teman-teman dekat kita, kepada orang-orang yang tulus mencintai kita, maka ada peningkatan kekuatan yang mendorong jiwa kita untuk semakin semangat dan optimis mewujudkan rencana itu. kekuatan  itu mengalir melalui konstruksi berfikir dan mental kita yang tidak mudah menyerah.

Jangan pernah menganggap remeh sebuah mimpi dan cita-cita. Mimpi di saat kita dalam kondisi sadar adalah doa. Setiap cita-cita yang kita tuliskan dalam bentuk diary atau kita ungkapkan pada orang terdekat dengan kita itu juga adalah doa. Supaya semangat dan optimis dalam diri kita stabil, kita perlu berteman dengan orang-orang yang membesarkan hati kita di saat jiwa kita memang butuh dikuatkan. Kita hanya butuh bersahabat dengan orang-orang yang mau mendukung, mau menguatkan, dan mau berbagi semangat untuk memupuk hati untuk terus berupaya semaksimal diri kita mampui.

teruslah-menuntut-ilmu

Ada ungkapan yang mengatakan, “sebenarnya yang membuat kita malas, pesimis, apatis, memiliki mental semangat belajar rendah dan etos kerja yang rendah adalah diri kita sendiri. Kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau lingkungan di sekitar kita. Kita hanya perlu mengalahkan sifat-sifat negatif  yang ada dalam diri kita, mengendalikan ego kita ke arah yang bermanfaat untuk diri kita sendiri dan orang-orang sekeliling kita. Untuk mengendalikan ego diri , kita butuh motivasi yang jernih dari dasar hati kalian. Ajukan pertanyaan ke dalam diri sendiri. Bila kita adalah seorang mahasiswa ajukan pertanyaan, “Mengapa kita kuliah? Apa yang ingin cari saat kuliah? Sejauh mana usaha kita mencapai sukses studi? Sudahkah kita membanggakan orang tua kita yang telah membiayai kita kuliah?”

Miliki jiwa yang mau belajar dari pengalaman. Jiwa yang mau belajar dari kegagalan masa lalu. Jiwa yang mau bercermin dari orang-orang shalih dan memiliki ilmu pengetahuan sangat mendalam pada bidang yang menjadi minatnya. Miliki jiwa yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Miliki lisan yang selalu terjaga dari hal-hal yang membuat orang lain terluka hatinya. Miliki kelembutan akhlak dalam berperilaku, meyayangi kepada orang yang lebih muda usianya dari kita dan menghormati orang yang lebih tua dari kita.

Yakini selalu, setiap langkah yang bergerak, setiap keringat yang keluar, setiap kepala yang lelah berfikir, setiap lembaran demi lembaran buku yang kita baca, setiap kata dan kalimat yang pernah kita tulis, setiap lisan yang mengeluh ‘lelah’, semua itu menjadi penghubung akan keberhasilan di masa mendatang. yakini selalu, semua itu selalu bernilai kebajikan yang menjadi amal shaleh kita di hari perhitungan amal (yaumul hisab).

Tulisan ini mencoba memupuk semangat baru di semester baru (semester lima).

Cileungsi, Kabupaten Bogor, 17 September 2016