Category Archives: Menulis-Kreatif

Pembelajar Sejati

Setiap kita adalah pembelajar. Ya, pembelajar dari pengalaman-pengalaman yang telah berlalu. Seiring berjalannya waktu,  kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman yang terlewat menjadi bagian dalam hidup di mana setiap kita mendambakan diri yang berkembang dan lebih bermakna. Oleh karena tidak cukup rasanya pengalaman hanya menyisakan jejak yang bernama kenangan. Ada poin-poin dimana hati nurani kita bersuara mengenai apa yang kita inginkan dan apa yang membuat kita bahagia. Suara hati itu hadir membuat kita berfikir dan mempengaruhi tindakan kita untuk bercermin mengevaluasi diri lebih jernih. Karena suara hati itu selalu mengungkapkan kejujuran yang murni lahir dari hati.

Jalani saja, lakukan saja, cobalah dulu, karena kedewasaan itu dibentuk dari proses pengalaman yang kadang rumit dan membuat kita ragu dan bimbang. Kedewasaan itu ditempa seiring banyaknya intisari dari pengalaman yang kita serap. Kita belajar untuk memilih, memutuskan, menerima risiko dari keputusan yang dipilih. Memilih adalah pilihan. Tidak memilih juga adalah pilihan. Masing-masing ada risikonya. Saat menjalani peran yang dipilih sejatinya kita sedang berlatih untuk lebih bertanggung jawab atas peran yang kita ambil.

Dalam berlatih terkadang kita mengalami kegagalan, kadang juga menuai pujian, bahkan ada yang memberi kritik atas hasil yang sudah kita kerjakan. Yang terpenting adalah selama apa yang kita lakukan adalah kebaikan dan tidak mengkhianati suara hati nurani, di situ kita telah menjadi diri kita sendiri. Orang lain mau berkomentar apa pun itu, memberi kritik pedas, itu hak mereka. Kita tidak punya kuasa mengendalikan fikiran dan ucapan mereka. Kita lakukan apa yang sudah menjadi bagian kita saja sambil diiringi dengan terus melakukan evaluasi sudah sejauh mana pencapaian yang sudah diraih.  Kesabaran menjadi pengendali jiwa untuk tidak meluapkan amarah, berkata yang kasar yang berujung pada rusaknya tali silaturahmi yang sudah dirajut rapi sekian lama. Kedewasaan itu akan bertumbuh seiring berjalannya waktu selama kita mau belajar dari kesalahan dan kekeliruan di masa lalu.

Dalam kisah tokoh penemu lampu di mana kita sudah sama-sama tahu bahwa Thomas Alfa Edison melakukan percobaan puluhan bahkan ratusan kali dalam menciptakan lampu. Namun satu metode percobaan dengan metode percobaan yang lain berbeda-beda. Ia pandai menganalisa dari satu metode percobaan yang sudah keliru tidak digunakan lagi metode percobaan yang sama pada metode percobaan yang lain. Di akhir keberhasilannya menciptakan lampu ia berkata, “aku tidak mengatakan proses percobaan pertama hingga terakhir adalah kegagalan. Tapi melalui percobaan sekian banyak jumlahnya itu aku belajar dari kekeliruan dan aku mencoba dengan metode-metode yang berbeda hingga akhirnya aku berhasil.”

Lesson learn dari kisah inspiratif tersebut adalah teruslah berusaha dan jangan menyerah sampai kita menemukan titik keberhasilan. Jangan pernah berharap mendapatkan sesuatu yang lebih baik selama kita tidak belajar dari kesalahan dan kekeliruan di masa lalu. Kalau mau berhasil, teruslah mencoba, teruslah berupaya. Saat mengalami kegagalan, maka bangkit lagi dan berupaya lagi dengan cara dan strategi yang berbeda. Dengan kata lain, jangan jatuh pada lubang kesalahan yang sama untuk kedua kali dengan cara yang sama.

Pembelajar sejati selalu melihat bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ia yakin kesulitan-kesulitan yang dilaluinya dalam rangka mendekatkan diri dengan keberhasilan yang akan dipetik di hari esok. Keberhasilan yang akan membawanya pada kemudahan kehidupannya di masa mendatang. Ia yakin bahwa keberhasilan harus diperoleh dengan kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan berdoa. Ia percaya apa yang tanam hari ini akan berbuah di masa depan. Maka ia hari ini ia ingin menanam benih-benih kebaikan sebanyak-banyaknya dan dengan benih-benih yang berkualitas, agar ia memperoleh hasil yang maksimal di hari esok. Oleh karena itu pancaran optimis itu akan terus menyala dalam jiwanya. Ia tak ragu mengambil langkah, memperjuangkan asa, menjemput mimpi dengan keyakinan yang terpatri dalam hati. Kesedihan dan kegagalan di alami adalah warna kehidupan yang harus dilalui dengan segara dan tidak perlu diratapi dalam waktu yang lama. Ia bersedih sewajarnya. Kemudian bergegas membuat strategi baru yang lebih matang untuk melanjutkan langkah berikutnya.

Masa muda ini hanya sekali dan begitu singkat. Maka gunakan untuk hal-hal yang bermakna. Maka isi waktu untuk menemukan pengalaman-pengalaman yang unik. Berkenalan dengan banyak teman untuk mengasah rasa empati dan simpati. Belajar berorganisasi dalam lingkungan komunitas yang sama untuk membangun jaringan dan menumbuhkan integritas. Meluangkan waktu untuk membaca buku, memahaminya, dan berdiskusi dengan guru atau teman sebaya tentang isi buku agar kita memiliki persepsi yang matang. Hal itu menambah wawasan pemikiran kita. Melakukan perjalanan ke suatu tempat-tempat yang baru, merasakan keramahan penduduknya, merasakan udara yang sejuk dengan pemandangan yang terhampar pohon-pohon yang berbaris, menyaksikan para wisatawan melepas penat dan meluapkan lelah dengan berlibur ke tempat-tempat yang sejuk dan tenang. Kita akan belajar tentang arti keberagaman manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Jalani dan nikmati hidup ini dengan aktivitas yang penuh warna dan penuh makna.

Teruslah memotivasi diri untuk terus berkembang dari sisi keilmuan, memperluas jaringan pertemanan (networking), dan  menghaluskan budi pekerti. Jangan cepat puas, sehingga timbul rasa tidak mau belajar lagi, tidak mau membaca lagi, dan merasa lelah untuk berbuat baik.

Banyak sekali ilmu kehidupan yang dapat kita pelajari dari kehidupan di sekeliling kita. Ilmu kehidupan tidak terbatas di dapat di bangku kuliah maupun sekolah formal. Selama kita mau belajar, kehidupan ini menyimpan hikmah-hikmah pembelajaran yang dapat dipetik sebagai bekal perjalanan kita dalam menempuh hidup ini. Ilmu kehidupan itu membentuk seseorang bersikap dan menilai sesuatu dengan sudut pandang yang utuh. Cara ia menjalin komunikasi dengan sesamanya, cara ia bersikap ramah dengan orang-orang sekelilingnya, cara ia berempati dengan lingkungan sosialnya yang berdampak pada reaksi dan tindakan nyata (social impact), menjadikan ia memiliki kepribadian yang berkarakter. Integritas dan tanggung jawab mereka tertanam dan bertumbuh seiring ia mau mengamati dan berpartisipasi pada lingkungan sosialnya.

Pada saat kita lahir ke dunia, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita bahagia dan tersenyum menyambut kehadiran kita ke alam dunia. Nanti pada saat kita meninggal dunia kita berharap, kita tersenyum dan orang-orang di sekitar kita menangis karena merasa kehilangan akan kebermanfaatan yang telah kita berikan untuk lingkungan.

Jakarta, 19 Agustus 2017

 

 

 

 

 

Advertisements

Membuka Jalan Keberhasilan

“Di jalan ini tidak ada jeda untuk berhenti. Mereka yang berjalan lamban akan tertinggal oleh mereka yang berjalan cepat. Mereka yang berjalan cepat juga akan berada di depan. Mereka yang berjalan dengan santai dan memilih diam akan tertinggal jauh di belakang.” (Ahmad A. Amri, Ph.D)

Roda kehidupan bergerak dengan pasti. Mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangan cita-cita akan tiba pada titik pencapaian. Orang yang sukses adalah orang memiliki drive motivation untuk maju dari hari ke hari. Maju dalam arti kualitas aktivitas hariannya meningkat. Karena kesuksesan itu dirintis melalui usaha kecil yang konsisten setiap hari. Tidak ada kesuksesan yang hadir secara instan tanpa dibarengi usaha yang nyata.

Pertama, menentukan tujuan. Menentukan tujuan menjadi awal untuk memulai setiap perjalanan. Ia menjadi lembaran baru memulai perjalanan. Sama seperti halnya kita ingin merencanakan travelling ke satu atau beberapa tempat wisata, kita perlu menentukan tujuan travelling kita kemana? Pun dalam hidup kita perlu membuat tujuan. Menentukan tujuan itu menjadi basic untuk kita bergerak dan berbuat. Tujuan yang kita sudah buat menjadi kompas kehidupan yang mengarahkan kita menuju tujuan itu. Mereka yang berhasil menentukan tujuan berada satu langkah lebih depan dibandingkan mereka yang tidak mampu menentukan tujuan.

Kedua, manajemen waktu. Tips jitu untuk bagian ini adalah dengan menulis agenda harian dan evaluasi berkala dari pencapaian agenda yang sudah terlaksana dan agenda yang tidak terlaksana. Kata menulis menjadi poin yang ditekankan di sini. Menuliskan rencana melalui agenda harian hari ini adalah bagian upaya menetukan target apa yang ingin dicapai hari esok. Kebiasaan menuliskan agenda harian melatih diri untuk menghargai waktu, mengisinya dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat. Evaluasi berkala dilakukan untuk menilai sejauh mana effort yang kita diberikan untuk merealisasikan rencana harian yang sudah dibuat sebelumnya.

Ketiga, kerja cepat (work fast) dan kerja efektif (work effective). Realisasiny adalah berfikir dahulu sebelum bekerja. Think-work. Satu waktu bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dalam hal ini perlu dibuat strategi yaitu menentukan pekerjaan sesuai skala prioritas.

Keempat, membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah pintu untuk membuka wawasan yang berkembang secara global. Membaca adalah simbol bagi para penuntutu ilmu yang tak pernah puas untuk terus belajar. Sekian banyak buku yang sudah ia baca, ia semakin merasa rendah hati karena ia sadar begitu luasnya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui.

Ibarat sebuah rumah yang besar, membaca adalah lampu yang menyalakan seisi rumah menjadi terang dan membuat penghuninya merasa betah dan nyaman berlama-lam di rumah. Semakin  banyak buku yang dibaca, maka semakin banyak lampu yang menyala. Artinya semakin banyak ruangan gelap yang berkurang. Tanpa lampu yang menyala, seisi rumah itu akan gelap gulita dan membuat penghuninya tidak betah berlama-lama berada di dalamnya.

Kelima, membangun jaringan (build networking). Ada pertanyaan apakah ada hubungan kesuksesan dengan kemampuan komunikasi yang baik? Saya menjawa tentu ada. Orang-orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik adalah orang-orang yang memiliki kemampuan beradaptasi. Ia  berusaha membangun deep relationship dengan orang-orang yang memiliki kesamaan ide, kesamaan sudut pandang, kesamaan passioan , dan kesaamaan minat. Dari sana akan lahir ide kreatif yang merupakan hasil kolaborasi dari berbagai ide yang sudah terkumpul. Ada istilah, siapa yang dapat beradaptasi, maka ia akan survive.

Persoalan di era digital ini sering kali membuat generasi muda lalai dan terbuai oleh hiruk pikuk komunikasi di media sosial yang tak terasa menghabiskan waktu dalam porsi yang besar. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah tanpa terasa tujuan dan rencana harian yang sudah dibuat hanya sekedar menjadi catatan belaka yang tidak membekas apa-apa. Waktu tanpa sadar terlewat dan terbuang. Usia muda adalah  usia di mana harus digunakan untuk menemukan jati diri, membangun networking, menumbuhkan idealisme dan mengembangkan intelektual,  secara perlahan terbias dan beralih oleh aktivitas berkomunikasi melalui media sosial yang digunakan secara tidak bijak.

Bukan tidak boleh menggunakan media sosial. Bahkan secara jujur diakui bahwa media sosial memudahkan untuk build networking dengan sesama dan berkenalan dengan orang-orang baru semakin efisien. Yang menjadi masalahnya adalah menggunakan media sosial hingga kita lupa bahwa kita hidup di dunia nyata -kita perlu berinteraksi melalu pertemuan secara fisik, kita butuh membangun interpersonal skills dengan orang-orang yang baru kita kenal, kita perlu berempati dengan saudara kita yang sedang ditimpa kesulitan, kita perlu memberi apresiasi kepada kenalan kita karena ia berhasil menyelasaikan pendidikan dan sebagainya.-

Sebagian kita merasa lebih asyik berkomunikasi dengan media sosial dengan merasa I have so many friends in social media dengan mengabaikan berkomunikasi dalam kehidupan nyata sehingga kamu merasa lebih mementingkan berkomunikasi dengan media sosial lalu tak peduli dengan orang-orang  yang berada di samping kanan dan kirimu, orang-orang yang berada dekat denganmu. Padahal bisa jadi orang-orang yang baru kita kenal they will be your future leader?  They will be somebody important in the future? Namun pertanyaannya, how many friends really do you have dalam kehidupan nyata? Apakah teman-teman di media sosial yang kamu maksud itu adalah orang-orang yang paling banyak dan paling sering like postingan di instagram dan di facebook atau like twit kamu?

Tapi bukan itu. Really your friends di sini bukan hanya teman yang asal sekedar kenal namun kamu sudah mengenal mereka hingga tahap deep relationship. Sehingga teman-teman kamu, menerima dirimu dengan apa adanya, dengan satu paket kelebihan dan kekurangan yang melekat dalam dirimu. Keberadaan dirimu melekat dalam ruang hati teman-temanmu. Di saat kamu memerlukan kehadiran sosok teman untuk bercerita, untuk meluapkan keluh kesah, mengungkapkan kegelisahan, ia selalu menyediakan ruang untuk menemanimu kapan pun itu.

Keenam, positif thinking (berbaik sangka). Berbaik sangka apapun hasil atas usaha yang kita sudah kerjakan. Make sure bahwa saat di mana kita jatuh, maka pastikan kita jatuh ke depan. Karena dengan begitu jatuhnya kita mendekatkan diri kita menuju tujuan yang sudah kita tentukan di awal. Saat kita gagal dalam berusaha, tidak apa-apa asalkan kita gagal sesudah melalui proses dalam effort. Justru apresiasi terbesar dari mencapai tujuan adalah keberhasilan kita melalui setiap tahap proses usaha yang kita lewati hingga akhirnya kita berada pada titik pencapaian yaitu tiba pada tujuan yang sudah kita kehendaki sejak memulai perjalanan.

Jakarta, 07 Agustus 2017

 

 

Perjalanan, Jejak, dan Pengalaman

Pengalaman berharga dari sebuah perjalanan bernama proses kehidupan yang menyisakan jejak. Jejak itu bernama kedewasaan, mental yang penuh percaya diri, persepsi, dan pola pikir. Kehidupan yang terus berkembang menuntut setiap individu harus siap meresponnya. Respon itu terbentuk dari nilai-nilai yang ada dalam jiwa seseorang. Nilai-nilai itu menyatu dalam jiwa dan memancar dalam perilaku nyata. Keyakinan yang kokoh terhadap nilai-nilai yang sudah ditanam sejak dini dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama membentuk kepribadian seseorang saat ini.

Ekspektasi untuk memiliki pribadi yang dewasa menjadi impian setiap orang. Dewasa secara mental dan pola pikir tentunya. Bukan  sebatas dewasa secara usia. Orang-orang yang mau dewasa dalam sikap, perilaku, dan pola pikir adalah orang-orang yang mau mengikuti rangkaian proses kehidupan yang menuntut kesabaran, ketekunan, jiwa yang memiliki prinsip yang kuat, diri yang ingin selalu memelihara semangat belajar, memperbaiki diri dari apa yang sudah terlewati, memetik hikmah dari peristiwa yang sudah terjadi, berdialog pada diri melalui suara hati yang jernih, mengevaluasi diri dari rencana dan target yang ingin dicapai, kemauan mendengar lebih banyak dari orang-orang yang memberi nasihat, dan memberikan effort lebih untuk mewujudkan harapan. Dalam hal ini yang terpenting adalah menikmati proses kehidupan dengan visi dan rencana yang jelas. Tanpa visi kehidupan menjadi tak terarah. Tanpa rencana yang jelas, kehidupan menjadi perjalanan yang tak memiliki tujuan.

Kita akan menjadi pribadi yang egois jika kita tak mau mengevaluasi diri kita atas apa yang sudah kita kerjakan. Bertanya pada diri sendiri (introspeksi diri ) menjadi penting dalam meniti kehidupan. Agar kita menjadi tahu diri bahwa setiap penglihatan adalah amanah, setiap pendengaran adalah amanah, setiap nikmat kehidupan adalah amanah. Kita diberi hidup karena kita siap menerima paket kehidupan. Paket kehidupan itu beragam namun subtansi satu, kehidupan selalu menjanjikan ujian atau cobaan. Paket satunya lagi, setiap cobaan selalu memiliki solusi atau pemecahan masalah (problem solving). Masalah yang datang dan menghampiri silih berganti itu secara sadar atau tidak sadar melatih kita untuk bersikap dan menentukan tindakan apa yang tepat untuk merespon atas masalah itu.  Masalah itu hakikatnya adalah sarana mengasah budi pekerti kita untuk semakin baik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, peran pendidikan menjadi penting untuk mempersiapkan strategi merespon setiap ujian kehidupan.

Hakikat pendidikan adalah perubahan pola pikir dan perilaku. Pendidikan menuntun kita untuk memiliki sudut pandang yang jernih dalam menentukan sikap. Pendidikan yang berhasil sejatinya membentuk individu menjadi insan yang bertakwa kepada Allah swt. Karena dengan pemahaman ini dunia adalah sarana untuk mengumpulkan kebaikan untuk kembali ke negeri akhirat. Dunia adalah persinggahan sementara dan tujuan akhir adalah negeri akhirat. Ilmu yang di peroleh dari proses pendidikan membuat hati semakin lembut, diri yang semakin rendah hati, akhlak baik yang semakin terpancar, tutur kata yang semakin halus, dan wawasan yang semakin luas. Ia melihat dirinya sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi yang ia sadar bahwa potensi itu harus terus di asah dan dikembangkan. Ia juga melihat dirinya sebagai makhluk sosial yang ia memahami dengan berinteraksi dengan sesama membuat hidup ini semakin utuh. Keberadaannya di lingkungan sosial selalu memberikan pengaruh kebaikan dan ia berusaha memberi kontribusi yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Merugilah orang-orang yang tak bijak menggunakan dan mengelola waktu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Merugilah orang-orang yang menikmati hidup dengan menuruti ego dan mengikuti selera lalu melupakan waktu yang diberikan kepadanya memilki batas. Merugilah orang-orang yang tak peka mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi di masa lampau dan selalu terjerumus pada lubang kesalahan yang sama. Merugilah orang-orang yang hadir di suatu majelis ilmu namun kehadiran tak memberikan bekas dan makna sedikit pun pada dirinya, lantaran ia hadir namun tak memiliki niat untuk belajar memahami ilmu yang disampaikan. Merugilah orang-orang yang sibuk mengomentari dan menilai orang lain, tapi tak pernah menyempatkan diri menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri.

Selama kita mau membuka diri meminta nasihat dari orang tua kita, guru-guru kita, dan sahabat-sahabat kit, maka hal itu membuat diri kita telah membuka untuk menerima motivasi, informasi, dan edukasi. Suara hati untuk berbenah diri menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Kadang kita lebih suka menasihati orang lain, namun lalai menasihati diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk menilai urusan orang lain, namun abai menilai dan mengavaluasi urusan diri sendiri. Kita sering kali menuntut orang lain melakukan kebaikan, tapi kita tak kunjung memberikan teladan yang baik kepada mereka.

Tak ada kata terlambat untuk berubah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Jadikan hidup bertambah umur, bertambah kebaikan.  Tak akan terjadi perubahan diri tanpa diberangi kesungguhan tekad dan usaha yang konsisten. Segera tinggalkan kebiasaan buruk di masa lalu. Bergegas menjemput hari-hari dengan amal kebaikan. Perubahan diri akan hanya menjadi angan-angan tanpa adanya komitmen dan usaha untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, waktu membuktikan apakah perubahan yang kamu niatkan sejak awal menjadi kenyataan sesuai dengan harapan  atau keinginan berubah hanya sekedar wacana yang tak pernah usai.

Jakarta, 19 Mei 2017

Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

chisvvaugam94oi

Hari berganti hari. Setiap manusia memiliki modal yang sama dalam mengarungi kehidupan yaitu waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah swt. adalah amanah agar setiap kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dengan aktivitas kebaikan dan amal soleh. Waktu terus berjalan dan tak akan pernah terulang kembali. Begitulah sifat waktu. Bagi mereka yang mengisi waktu dengan kebaikan dan amal soleh, maka baginya adalah keberuntungan yang besar. Bagi mereka yang lalai, tak mau sadar diri, tak mau memahami makna dan tujuan dari kehidupan itu sendiri, maka kerugian kelak di dapatkannya.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan yang sama yaitu berawal dari seorang bayi lalu anak kecil, remaja, lalu dewasa hingga menjadi orang tua. Kita pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Kita membangun dan mengembangkan potensi diri dari dasar. Sama-sama merasakan ujian kehidupan terutama di saat kita beranjak remaja, dewasa, dan kelak menjadi orang tua. Karena hakikatnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya. Selama proses ujian kehidupan berlangsung ini, setiap orang memiliki pilihan hidup yang ditempuh olehnya. Ada yang tetap tegar dan cepat bangkit di saat cobaan hidup menerpanya. Baginya manusia yang baik adalah manusia yang mau bangkit dari segala macam keterpurukan yang menimpanya. Saat dia jatuh, di memilih untuk bangkit. Saat dia jatuh lagi, dia bangkit lagi. Begitu seterusnya. Ada juga yang memilih untuk pasrah, patah semangat, berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, putus harapan, dan memelihara rasa kecewa yang pada akhirnya dia akan merasakan dampak dari sikap yang telah ia pilih. Karena sejatinya, kebaikan atau keburukan yang kita tanam, hasilnya kelak diri kita sendiri yang merasakan.

Kesempatan untuk menjemput masa depan yang cerah akan terus terbuka selama diri kita mau berjuang membela dan memperjuangkan cita-cita. Kesempatan itu datang dengan satu paket yang di dalamnya terdapat tantangan, kompetisi, pengorbanan, kesungguhan tekad, dan kerja keras. Kadang kita merasa lelah, kadang kita bersemangat, kadang kala kita bosan, kadang kala kita jenuh. Namun begitulah roda kehidupan. Semua berputar dan kita akan merasakan pada titik tertentu sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan titik kejenuhan dan titik kelelahan. Pada saat kondisi seperti itulah, motivasi diri kita di uji. Seberapa tulus kita melewati tahapan proses untuk memperjuangkan cita-cita kita. Seberapa besar kesungguhan kita untuk terus bergerak dan berupaya mewujudkan impian yang menjadi harapan kita. Apakah kita memilih terbuai dalam titik kejenuhan dan titik kelelahan itu sehingga kita lalai, putus asa, dan melupakan tujuan dari akhir perjalanan yang kita pilih? Apakah kita memiliki cadangan kesabaran yang cukup untuk memilih berhenti sejenak beristirahat sambil mengumpulkan energi-energi baru yang ada di sekitar kita dan setelah di rasa cukup, kita melanjutkan perjalanan pelan-pelan namun konsisten untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal perjalanan kita?

Masalah kehidupan yang kita hadapi saat ini kadang kala merupakan bagian masalah yang pernah kita alami di masa lampau namun masalah itu belum tuntas  kita selesaikan. Atau bisa juga masalah yang datang itu merupakan masalah yang baru dan berbeda namun intinya (poin pembelajarannya) sama dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. Karenanya, bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang lebih tua usianya dan memiliki prinsip hidup yang terarah adalah sebuah keharusan. Masalah yang pernah kita hadapi saat ini di usia muda, mereka pun pernah menghadapi dan mereka berhasil melewatinya. Ungkapan, orang yang lebih tua dari kita sudah ‘memakan asam garam’ kehidupan. Artinya orang tua yang lebih tua usianya dari kita, ia lebih berpengalaman melewati getir, pahit, dan manis dari kehidupan. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dan mereka menjadi tempat yang tepat untuk kita bertanya, berdiskusi, dan meminta nasihat.

Kita bertanya untuk mendapatkan pilihan-piliihan jalan mana yang terbaik dari sekian banyak pilihan-pilihan yang ada. Kita bertanya untuk menemukan pencerahan dan menyalakan api optimis hidup dalam diri kita. Kita meminta nasihat untuk mendapat arahan yang jelas termasuk konsekuensi yang harus kita tempuh pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

Perjalanan hidup yang sudah kita lalui hingga hari ini menjadi proses pendewasaan dan mental diri kita. cara berfikir kita berkembang semakin luas wawasannya, emosi kita lebih mudah kita kendalikan, cara bertutur kata kita perhatikan agar tidak menyakiti orang lain, sikap toleransi kita tumbuh dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan dari kita, dan kita semakin menghormati dari kemajemukan yang ada.

Dari jejak-jejak yang sudah kita lalui, kita mulai merasakan bagaimana kesabaran kita ditempa, bagaimana mensiasati suatu keterpurukan, bagaimana melewati masa-masa sulit di tengah himpitan kehidupan dari berbagai arah, bagaimana kita mencari dan menemukan pelita hati untuk kembali bersemangat dari orang-orang yang tulus mencintai kita, bagaimana cinta orang-orang yang menyayangi dan peduli pada kita sehingga energi positif tersebar dalam diri kita. Semua pengalaman hidup itu menjadikan iman terus bertumbuh dan semakin menyala. Semua pengalaman hidup itu menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama kita akhirnya tahu sahabat dan orang yang mencintai kita dengan sangat tulus selalu mengingingkan kita berhasil, mengingingkan kita bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Persahabatan itu akan tetap ada dan akan terus terpelihara dalam balutan senyum yang mengembang, ungkapan sapa yang menghangatkan, dialog yang mengundang tawa, serta nama-nama yang terangkai dalam doa-doa yang panjang. Pada akhirnya, pengalaman hidup yang telah kita lalui menjadi cerita tersendiri yang tersimpan rapi dalam hati dan ingatan kita. Kelak kita bisa membagikan cerita-cerita itu kepada anak dan cucu kita sebagai motivasi dan inspirasi.

Pada saat-saat tertentu, kita perlu melakukan perjalanan melihat kekayaan alam dan melihat realitas sosial. Kita perlu mengajak hati kita rehat sambil memandangi pohon-pohon yang menghijau dan rimbun di sepanjang jalan raya, melihat anak-anak kecil bermain, berlari dan tertawa dengan riangnya,  menatap wajah para pekerja yang sudah terlihat lelah selepas pulang kerja, berlumuran keringat di kening dan tubuhnya namun matanya masih menyala dan menyimpan mutiara harapan-harapan, atau menyaksikan seorang anak yang masih belia sudah memiliki rasa peduli bagi sesamanya, karena ia sadar dari harta yang ia miliki, sebagiannya ada hak orang lain yang harus ia berikan. Atau menyaksikan anak-anak remaja bermain musik sambil bernyanyi di sore hari di dalam angkot (angkutan umum) menghibur para penumpang yang hendak pulang bertemu keluarga tercinta. Mereka bernyanyi dengan niat menyambung hidup dan untuk meringankan beban orang tuanya dalam membiayai ia bersekolah. Ia tidak peduli tatapan sinis beberapa penumpang angkot kepadanya, ia tak ambil pusing persepsi orang yang menilai mengamen adalah pekerjaan yang di pandang sebelah mata. Ia tahu betul dan sadar sekali, ini bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal dan cara ia survive agar ia tetap bersekolah. Melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang membuat kita memiliki pemahaman yang utuh dan benih-benih kepekaan sosial tumbuh. Faktanya ketimpangan dan kesenjangan sosial di kota-kota besar sangat tinggi. Melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita, rasa empati kita dengan sesama akan semakin terasah. Rasa kepekaan semakin bertumbuh dan melunturkan sikap ego. Akal pikiran kita mencari solusi. Hati mendorong diri untuk memberi. Pemberian yang tulus bagi kita menjadi sangat berarti bagi mereka.

Kita dapat berkontribusi dan melakukan perubahan. Karena itu perubahan harus di mulai dari diri sendiri, dari yang ringan yang kita bisai, dan dimulai dari saat ini juga.

 

Jakarta, 05 Maret 2017

Luka yang Membawa Harapan

Tulisan ini adalan rangkaian cerita dari Story Blog Tour Oneweekonepaper (OWOP). saya ada di urutan ke lima. cerita sebelumnya bisa dinikmati di sini.

 


dandelion2

Udin masih berdiri di tempat parkir motor. Matanya memandang ke arah mobil mewah Steven yang pelan-pelan menjauh dan menghilang di belokan perempatan jalan . Hatinya terasa perih melihat kekasih hatinya pergi dengan laki-laki lain. Ada kesedihan yang merayap dalam rongga hatinya. Setelah terdiam beberapa saat, ia melihat jam tangan. Matanya membulat dan ia tersadar Emaknya di rumah sudah menunggu terlalu lama. Ia kembali bergegas ke dalam pasar membelikan pesanan belanjaan Emak.

Setelah memastikan tidak ada yang terlupa akan barang yang di beli –beras, cabai, dan bawang, ia segera berjalan keluar dengan ayunan langkah kaki yang lebih cepat. Ia melangkah dengan tegap dan seolah-olah tidak ada bedanya saat sebelum dan sesudah dari Pasar. Semuanya baik-baik saja, ia menguatkan hatinya. Namun dalam kepalanya, bayangan Lela terus hadir dalam ingatan selama dalam perjalanan menuju rumah. Hatinya ingin menjerit namun ia tahan. Sesekali bayangan Lela hilang berganti bayangan wajah Emak yang sedang marah-marah akan terlalu lama ia berada di Pasar.

Udin tiba di halaman rumah saat matahari sudah mulai terik. Jarak antara rumah Udin dengan pasar ditempuh dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Pintu rumahnya sejak tadi sudah terbuka. Setelah memberi salam, dia masuk ke dalam rumah dan bertemu Emak yang sejak tadi gelisah menunggu kedatangannya.

“Udin, Elo kemana aja? Lama banget ke pasarnya. Elo mampir dulu ke rumah Lela?” suara Emak terdengar setengah berteriak.

“Dari pasar Emak. Ini belanjaan yang Emak pesan buktinya,” Udin menjawab datar tangannya memberikan belanjaan ke Emak.

Udin langsung meninggalkan Emak di ruang tengah dan beranjak ke kamarnya dengan langkah patah-patah dan dengan rona wajah yang ditekuk. Emak bingung melihat sikap anaknya. Ada rasa khawatir sekaligus heran melihat tidak ada rona keceriaan di wajah anaknya.

Emak melangkah ke dapur dan mulai memasak. Selama memasak, ia memikirkan Udin. Ada apa dengan si Udin? Ah, paling juga masalah cinta anak abege. Ia merencanakan akan menasihati Udin setelah masakan selesai. Yang terpenting bagi anaknya saat ini adalah memberi motivasi untuk tetap bersemangat mencari bekerja. tadi pagi sambil menunggu Udin kembali dari pasar, ia sudah membeli koran yang memuat informasi lowongan kerja dan ia sudah memberi tanda bagian mana yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Dalam hati ia berharap, semoga ikhtiar ini menjadi jalan terbukanya rezeki bagi anaknya kelak.

Di dalam kamar Udin di dekat jendela menatap rumah Lela. hatinya dipenuhi api cemburu. hatinya berkecamuk tak menentu. Ada rasa kesal, sedih, dan kecewa yang bercampur. Sesekali hatinya membatin, ‘Gue harus membuat perhitungan sama Steven. Berani-beraninya dia deketin kekasih hatinya’. Sisi hatinya yang lain bergumam dengan berfikir agak logis, ‘Buat apa membuat perhitungan dengan Steven. Lagi pula sepenuhnya bukan salah dia juga. Lela juga punya andil membuat hatinya terluka.’ Tatapan Udin berpindah-pindah tak menentu. Sesekali ia memandang langit dan terdiam cukup lama merenung. Ia mencoba mencari solusi untuk menenangkan dirinya. Tetapi yang terjadi sebaliknya, semakin lama berfikir dan merenung mengenai hubungannya dengan Lela yang ada hatinya semakin terluka. Hatinya menahan perih seorang diri. Hatinya semakin penuh sesak.

Kini separuhnya hatinya membenarkan ucapan Emak, Lela itu buka tipe cewek yang setia. Ada sedikit penyesalan mengapa ia tidak sepenuhnya setuju ucapan  Emak itu. setidaknya kalau saja dia mendengarkan nasihat Emak, mungkin saat ini hatinya lebih siap menerima kejadian yang tadi siang di pasar. Mungkin juga hatinya sudah bersiap dan pelan-pelan berhenti mencintai Lela. pelan-pelan menutup hatinya untuk Lela. Separuh hatinya membatin, ia bersyukur memilki Emak yang mencintai anaknya sepenuh hati. Emak ingin anaknya kelak bahagia dengan wanita yang baik. Emak selalu menasihati anaknya dengan penuh kasih sayang.

Ia kembali merenung dan kini wajahnya mulai agak cerah. Seketika terbersit ide, daripada mikirin Lela yang membuat diri tidak move on. Lebih baik memikirkan tentang bagaimana cara agar masa depan cerah. Ia sepakat dengan satu kata, b-e-k-e-r-j-a. Iya, ia mesti bekerja. tapi ia bingung. Ia mesti memulai darimana? Ia mesti bekerja dimana?

 

Cerita selanjutnya bersambung di Blog Rizka Agustina

Perjalanan Yang Mendewasakan Diri

Cerita mengenai perjalanan selalu menarik untuk dituliskan. Karena disana terdapat mata air jernih yang menambah wawasan dan kedewasaan diri. Perjalanan bukan sekedar mencari kesenangan saja. Bukan juga karena motif untuk mengabadikan berpuluh-puluh bahkan ratusan foto. Bukan juga sekedar menghabiskan waktu dan menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.

Alasan-alasan tersebut sah-sah saja untuk menjadi motif seseorang melakukan perjalanan.  Namun bagi saya melakukan perjalanan adalah cara saya menikmati pemandangan alam yang baru dengan segenap hati yang menimbulkan getaran hati sebagai bentuk kekaguman atas kebesaran Allah. Melalui perjalanan saya membangun persepsi baru terhadap kehidupan, budaya, dan bahasa. Dari sana saya mendapat pengalaman yang dapat membuka wawasan dan memperhalus kebaikan budi pekerti serta untuk mendewasakan diri dalam menaruh sikap saling menghargai dalam menghadapi berbagai bentuk keragaman.

Agustus 2016,  saya melakukan perjalanan ke daerah yang baru di timur pulau Jawa tepatnya di Kediri untuk belajar bahasa Inggris. Dari Jakarta saya berangkat seorang diri dengan membawa perlengkapan secukupnya. Satu tekad saya saat itu, saya ingin menuntut ilmu di daerah yang menurut banyak orang sangat kondusif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Saya menikmati perjalanan dengan menatap jendela pesawat. Dari jendela pesawat saya melihat awan-awan yang bergumpal berbaris dengan megah yang tersinari cahaya keemasan sang mentari. Gumpalan-gumpalan awan itu sekilas menyerupai kapas putih raksasa yang melayang di udara. Saya duduk di tepat di sebelah sayap kanan yang sesekali saya melihat sayap itu bergerak-gerak diterpa angin.

Saat itu hati saya tertegun, perjalanan ini terjadi atas takdir Allah. Saya berikhtiar semampu saya. Kasih sayang Allah begitu terasa saat saya tersadar bahwa manusia adalah salah satu makhluk dari milyaran makhluk ciptaan Allah yang lain. Kepunyaan Allah segala yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya. Pada akhirnya saat ajal sudah tiba, hanyalah iman dan amal sholeh yang menemani kita menuju alam selanjutnya. Jabatan yang kita banggakan, keluarga yang kita cintai, harta yang kita punyai, semua itu akan meninggalkan kita.

Rasulullah saw. bersabda : “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang soleh yang mendoakan orang tuanya.”  (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i)

Hati yang baik melahirkan perilaku yang baik. Hati yang baik memancarkan perkataan yang baik. Hati yang baik menampakkan wajah yang sejuk dipandang. Maka milikilah hati yang baik itu. Selalu berusaha sekuat tenaga menjaga kebeningan hati dengan memperbanyak amal kebaikan. Kebaikan itu selalu menghadirkan ketenangan dan ketentraman hati. Mulailah dengan hal-hal kecil yang kita bisai. Berkata yang baik, menabar salam saat berjumpa, memberikan senyum kepada sesama, menyingkirkan duri di jalan,  menjadi orang yang pemaaf, rendah hati dan kebaikan-kebaikan lainnya. Niat yang baik, ikhtiar dengan cara yang baik, maka hasil yang baik akan kamu raih. Lakukan kebaikan dengan konsisten. Karena Allah mencintai amal kebaikan yang dikerjakan secara konsisten.

Sesungguhnya perjalanan hidup ini untuk mendewasakan iman, menstabilkan emosi, mematangkan pola pikir, dan mengembangkan budi pekerti.  Semakin bertambah usia manusia, semestinya semakin banyak pelajaran dan makna hidup yang mesti diserapnya. Melalui waktu manusia belajar mengolah waktu, menghadapi realita kehidupan, bersabar dengan sabar yang baik, dan menebar kebaikan serta meluaskan manfaat dengan sesamanya.

 

Jakarta, 03 Februari 2016

 

Segenggam Asa

new-year

Tahun 2016 sudah berlalu. Namun tahun itu memiliki kesan tersendiri di bagi saya. Terutama mengenai idealisme dan komitmen atas resolusi tahun tersebut. Pada akhirnya saya melihat daya dan kesungguhan saya yang belum optimal merealisasikan seluruh rencana yang sudah saya susun sejak awal tahun tersebut. Tapi saya bersyukur meskipun demikian ada poin-poin pembelajaran yang saya petik dari rangkaian waktu yang sudah berlalu itu. Alangkah bijaknya jika setiap pribadi tidak jatuh dalam lubang kesalahan dan kelalaian yang sama dengan di masa lampau. Menjadi pembelajar sejati dibutuhkan untuk mengasah diri menjadi pribadi lebih dewasa dan mampu berfikir lebih matang.

Komitmen apa yang ingin dicapai tahun ini? Atau resolusi apa yang ingin diraih tahun ini? Pertanyaan itu selalu muncul dan seringa ditanyakan oleh banyak orang terutama saat awal tahun baru. Ada yang beranggapan resolusi itu tidak perlu dibuat. Jalani saja hidup ini seperti air. Biarkan hidup mengalir kemana arus membawanya. Ada yang beranggapan hidup ini butuh resoluso agar apa yang diharapannya menjadi jelas. Dua anggapan diatas sah-sah aja. Setiap orang berhak memilih anggapan apa yang cocok bagi dirinya. Saya sendiri adalah orang yang cenderung menjadikan resolusi sebagai target pencapaian. Karena menurut saya, dengan resolusi yang dibuat saya akan tahu perkembangan apa yang ingin saya capai.  Lebih pentingnya lagi, resolusi ditulis sebagai dasar pijakan arah dimana saya harus melangkah dan strategi apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Resolusi itu di susun untuk mengarahkan langkah kita kemana harus bergerak. Resolusi itu membuat seseorang lebih dinamis, kreatif, dan memiliki semangat yang tinggi dalam hidup. Resolusi di tulis sebagai bentuk komitmen diri untuk mengembangkan diri, mematangkan pemikiran, mendewasakan diri, dan menghargai waktu dalam kehidupan. Pada resolusi, komitmen seseorang diuji seberapa serius ia menapaki setiap tahapan proses untuk mendapakan goal. Pada resolusi, kesabaran dan keuletan seseorang di tantang apakah ia mempunyai motivasi yang stabil untuk menggerakkan jiwa dan fisik dalam mengejar target. Pada resolusi, rasa percaya diri seseorang di uji apakah ia yakin akan memperjuangkan resolusi itu meskipun hambatan (baik hambatan dari dalam maupun hambatan dari luar) datang menghadang.

Kita tidak pernah tahu impian kita yang mana yang akan menjadi pintu rezeki buat kita. Lima atau sepuluh tahun kemudian tidak menutup kemungkinan passion yang kita tekuni hari ini secara konsisten menjadi pembuka pintu rezeki untuk kita. Tugas kita adalah berusaha yang keras dan berdoa yang tulus. Yakini setiap langkah yang kita niatkan untuk memperbaiki diri, menjemput rezeki yang halal, mengembangkan potensi diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual adalah cara kita mensyukuri kehidupan ini. Karena hakikat syukur adalah berterima kasih kepada Allah swt.  melalui cara memanfaatkan segala pemberian dari-Nya dengan aktivitas-aktivitas kebaikan.

Buat target-target kecil untuk mewujudkan target yang besar. Realisasinya bisa bermacam-macam salah satunya, melalui planning (rencana) harian. Buat planning harian yang mendukung target besarmu terwujud. Misalnya, menulis satu novel dalam satu tahun. Maka untuk mencapai itu, mesti di cicil melalui rencana harian (punya agenda harian yang sudah ditulis pada malam hari sebelumnya) besok menulis target berapa lembar dan riset pustaka, buku-buku apa yang di butuhkan. Dan itu dilakukan secara rutin dengan penuh rasa tanggung jawab.

Planning harian itu sangat penting bagi tiap individu. Dari planning harian, kita membiasakan diri untuk berfikir visioner. Dari planning harian juga, kita punya pijakan arah hidup yang jelas dan terperinci. Dan yang paling penting planning harian dibuat agar sifat egois dalam diri kita terkikis pelan-pelan. Kita bisa lebih menahan diri dari hal-hal yang sifatnya semu dan cenderung destructive. Kita tidak mudah ikut-ikutan (tanpa mau tahu esensi sebenarnya) karena alasan gengsi atau takut dianggap kurang pergaulan oleh lingkungan sekitar kita. Kita punya confidence atas keputusan yang kita ambil. Kita punya reason mengapa jalan ini yang kita tempuh. Percayalah, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.

Kita hidup hari ini. Kita bukan hidup untuk hari-hari yang sudah berlalu. Maka jalani hari ini dengan sepenuh hati dan setulus jiwa. Kita boleh melihat masa lalu namun hanya sekadarnya saja, secukupnya. Untuk masa lalu yang menitikkan luka di hati dan memberatkan langkahmu hari ini, segeralah berpaling dan fokuskan untuk hiudp hari ini sambil ber-azzam (bertekad) hari ini saya harus lebih baik dari hari yang kemarin. Izinkan hatimu membuka lembaran baru di hari yang baru. Biarkan jiwamu berkarya dengan semangat yang baru. Biarkann fisikmu bergerak dengan harapan yang baru. Berdoalah kepada Allah agar diberikan kemantapan jiwa dan keteguhan hati untuk menyongsong hari yang baru dengan harapan yang baru.

Jakarta, 08 Januari 2017