Monthly Archives: July 2016

Tangkai bunga mawar

Hari ini adalah hari Sabtu. Senja sudah beranjak menjadi malam saat dimana saya sedang makan nasi goreng di pinggir jalan raya Margonda, Depok. Saat itu jalan ini cukup macet di dominasi kendaraan roda empat. Hawa panas yang dihembuskan dari kendaraan-kendaraan itu menyebar hingga dirasakan oleh para para pejalan kaki di trotoar jalan dan pedagang kaki lima di tepi jalan. Suara klakson mobil dan motor silih berganti membuat suasana jalan raya semakin padat sekaligus menambah kebisingan malam ini. 

Selesai makan 

Advertisements

Study at Rumah Gemilang Indonesia

apu rgi

Depok, West Java on April 2011

I am so glad to have opportunity to study at Rumah Gemilang Indonesia (RGI) as long five months. An opportunity which not everybody can have it to study in this place. Because the Rumah Gemilang administers do to the new student once for every 5 months. Here we really focus only for study appropriate course that we choose. We do not think of the costs to pay for this course. Because it is a resounding RGI provides full scholarships to participants who study at this place.

Rumah Gemilang Indonesia becomes a place where teenagers from youth can improve and develop their skills and build the attitude. There is no requires of a formal school diploma in the selection process of RGI. All they need is just a strong commitment of willingness to study from the potential participant and the capability of reading and writing.  It’s really simple once. This became the hallmark of Rumah Gemilang Indonesia different with other scholarship givers. When the other scholarship granting agencies require prospective scholarship recipients must have a senior high school (SMA) diploma or has completed the formal school with high scores. But not with Rumah Gemilang Indonesia. RGI would like the younger generation can enjoy the education though without removing the cost. Rumah Gemilang Indonesia would like to equip the younger generation with the skills and attitudes, so that upon graduation from this place the participants can become productive and self-sufficient.

Rumah Gemilang Indonesia has four study programs. There is computer engineering and networking, sewing and fashion, graphic design, and photography and videography. Every student choose one of program study. Each course has a single class. I choose a computer engineering and networking. It occurred to me that is currently the development of information and communication technology very rapidly.  Many companies require the employee that has the skills the field of computer skill. I think every skill is useful.

In the program of studies computer and network has five main subjects, namely microsoft office, assembling of computers, computer networking, web design, and creative writing.  Interesting courses at Rumah Gemilang Indonesia,  each student using a computer and the student are  responsible for the used during the course of this session.

Learning activities start at 8 a. m up to 4 p.m. Every monday up to friday. Here the spirit ofl study really feels. We try to learn by enterprising. I feel the atmosphere of  study in this place very conducive. Far from the noise of the vehicle. The air is also pretty fresh. The building Rumah Gemilang Indonesia in the shape of the letter U in the middle there is the garden,grasses and some trees. One student with other students who respect each other. There is nothing to feel who is more excellent. Here we are both learning.

The Graduation Ceremony Batch 5 on November 2011

The Graduation Ceremony Batch 5 on November 2011

In addition to learning skills, Rumah Gemilang Indonesia also held night of muhasabah course every one month. I think the night of muhasabah is very important, because in addition to fellow fraternity students, the night of muhasabah became a means of self-reflection. The night of muhasabah is filled with the prayer together, listen of speech, and sport together. It is a memorable experience. The most memorable was the night of muhasabah listen of speech by Mr. Sigit Iko Sugondo, Director of Rumah Gemilang Indonesia. Students are given a single sheet of paper and an envelope. We are asked to write a Proposal to God. It was the first time I heard the term proposal to God. And I think it is true that the proposal is another word from the word application. And the petition is part of the prayer. The Proposal contains a short target (over the course of five months) and long term targets (a few years future). I write what I wanted this in five months. One of them I want to be the best student in this course. Proposals that have been written are included in an envelope.

The Proposal was written by night and collected in the morning. After prayer shubuh, Mr. Sigit said, “you guys have written Proposal to God for what you aspire to. So, it’s now time you sought to achieve what you want. Accomplished desire later depending on effort and hard work you guys do at the moment. Don’t forget to prayer and ask to God to be facilitated to achieve what you aspire to. The Proposal that you collect at this time I am going to give it back to you after the course is over.”

 

Written in Jakarta on July 30, 2016

Mutiara dalam Silaturahmi

Ketika hati ini merasa tertinggal di suatu tempat. Rasa haru memenuhi hati seketika itu juga. Semua rekaman memori ingatan datang tanpa diminta. Ini tentang sebuah pertemuan dengan orang yang spesial. Bertemu bukan sekedar menyapa. Bertemu bukan untuk sekedar bercerita dan berbagi canda tawa. Lebih dari itu, bertemu dengan mereka selalu menyisakan pesan tersendiri. Bertemu dengan mereka lebih untuk mendengarkan, menemani, dan menghadirkan hati.

Menatap wajah mereka membuat saya terenyuh dalam. Ada sebuah penyesalan mengapa saya terlalu sibuk selama ini dengan mencari kebahagiaan di luar sana? Padahal sungguh di rumah mereka perasaan bahagia selalu memenuhi hati. Padahal menyambung silaturahmi adalah kebaikan. Dan perintah kebaikan dalam agama adalah untuk di segerakan.

Saya melihat wajah mereka berbinar terang melihat saya datang. Dengan senyuman dan canda tawa semua larut dalam keakraban. Menghargai lebih dari sekedar hadir di sebuah ruangan tetapi menghargai adalah menghadirkan hati bersama orang-orang yang kita sayangi.

tfm

Waktu bersama yang dilalui membuat pembicaraan semakin erat. Seperti seorang ayah dan ibu yang sedang menasihati anaknya yang masih remaja. Semua obrolan mengalir begitu saja. Seperti halnya orang tua kandung, mereka pun memberi nasihat dengan bahasa yang lembut. Mereka ingin saya lebih baik dari yang sebelum. Lebih maksimal ibadahnya. Lebih semangat dalam belajarnya.

Ketika mereka menanyai kabar dengan tatapan mata yang penuh simpati. Sorot mata mereka seolah menyapa, “Nak, rumah ini adalah tempat tinggalmu dulu. Kamu pernah tinggal disini untuk waktu yang lama. Saat kamu memutuskan pergi  untuk mencapai impianmu yang luas, kami merelakan itu. Tetapi kami tidak berbohong, ada yang rasa kehilangan dari jiwa kami. Ada rasa khawatir melepas kamu di tempat yang jauh dengan kondisi lingkungan yang berbeda.”

Ketika berbagi menjadi prinsip hidup yang ditebarkan kepada orang-orang sekitar. Karena berbagi tidak pernah merugi. Karena dengan berbagi bukan soal ada atau tidak ada. Tetapi berbagi itu soal mau atau tidak mau.

Selalu ada kesan tersendiri bertemu dengan mereka. mulai dari cerita pengalaman mereka yang unik, berbagi networking, dan motivasi untuk terus mengembangkan diri dan tidak cepat puas dengan apa yang saat ini sudah dicapai.

Pada akhirnya …

Mereka hanya ingin ditemani dan didengarkan oleh anak-anaknya di saat mereka sedang ingin bercerita. Bukan sekedar bercerita, tetapi mereka rindu dengan kehadiran kita. rindu dengan senyum dan tawa kita. Rindu mendengarkan suara kita. Mereka hanya ingin menasihati kita supaya menjadi pribadi yang sholeh yang kelak akan mendoakan mereka hingga kapan pun. Mereka hanya ingin kita sukses dengan proses perjuangan yang hebat. Mereka hanya ingin kita menemui mereka tanpa diminta untuk berbagi kisah yang membuat hubungan semakin erat meskipun  jarak tempat yang kini sudah berjauhan.

Mereka hanya ingin menatap sang anak dengan tatapan yang tulus, lembut, dan penuh kasih sayang.  Mereka hanya ingin berpesan, “Nak, teruslah berlaku jujur dimana pun dan kapan pun, jadilah anak yang memiliki kepedulian sosial, tebarkan manfaat bagi sesama dengan cara temukan cara agar dirimu bisa bermanfaat kepada orang-orang sekelilingmu. Setiap orang memiliki cara tersendiri bagaimana dirinya bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sekitarnya.”

Jakarta, 24 Juli 2016

Waktu dan Harapan

Dua istilah ini saling berkaitan. Waktu sebagai modal yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia untuk mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Harapan menjadi penyemangat jiwa untuk bergerak dan melangkah meraihnya. Ada ungkapan, keberhasilan pada diri seseorang yang diraihnya hari ini adalah hasil dari kumpulan kerja keras, ketekunan, kesabaran, doa seseorang di masa lalu. As you sow, so shall you reap. Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu petik.

50583-Francis-Bacon-Quote-Knowledge-is-power

Bermula dari sebuah beasiswa yang ditawarkan kepada saya saat  baru lulus SMP dari sebuah lembaga pendidikan. Beasiswa itu berupa pendidikan bahasa Inggris di BEC Kediri Jawa Timur. Beasiswa itu akan diberikan dengan dua syarat. Pertama, memiliki kemauan belajar dengan serius dengan catatan  menunda sekolah formal satu tahun (karena waktu belajar selama sembilan bulan). Kedua, dapat ijin dari orang tua. Untuk syarat pertama saya sudah bertekad untuk menerima beasiswa itu. Untuk syarat kedua, orang tua saya tidak memberi ijin karena pertimbangan tempat yang jauh dan usia saya yang saat itu masih lima belas tahun. saya yang masih polos menelpon ibu saya di Jakarta mengenai tawaran beasiswa ini.  Tetapi saya tidak berhasil meyakini beliau bahwa saya punya keinginan kuat belajar di BEC. Hasilnya saya tidak berhasil menerima beasiswa itu.

Saat itu semacam ada penyesalan dan kecewa dalam hati saya. Perlahan-lahan saya menerima kenyataan itu. Kemudian saya melanjutkan ke jenjang pendidikan  SMA. Dari sana saya belajar bahwa untuk kegiatan yang positif itu mesti di perjuangkan. Peluang beasiswa yang datang sekali untuk waktu tertentu. Saya memahami bahwa pendidikan akan mendatangkan banyak pilihan dan kesempatan yang lebih luas. Teringat pesan kakek saya, education is power. Pendidikan adalah kekuatan.

Tanggal 1 Juli 2016 ujian akhir semester (UAS) semester empat selesai menyisakan harapan akan nilai ujian yang memuaskan. Menjelang uas kali ini saya merasakan energi semangat belajar saya menurun. Saya seperti kehilangan motivasi dari dalam diri saya. Dimana motivasi dan semangat yang menyala-nyala itu saat saya mendaftar kuliah di universitas? Mengapa saya harus kuliah? Apa tujuan saya kuliah? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala saya persis menjelang uas tiba.  Semangat belajar saya turun. Saya merasa hampir di satu semester ini saya kurang memanfaatkan waktu. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget di banding membaca buku, berangkat kuliah sekedar rutinitas tanpa ada efek belajar mandiri di rumah –membaca dan memahami kembali di rumah-, ke toko buku hanya untuk membeli buku tanpa di barengi untuk membaca dan memahami isi buku tersebut. Label mahasiswa yang melekat dalam diri saya itu seperti nama tanpa makna. Benar ungkapan, penyesalan itu datangnya di akhir.

Uas semester empat sudah usai. Kembali teringat salah satu pernyataan seorang dosen pemasaran 2. Beliau mengawali perkuliahan pada pertemuan pertama dengan nasehat  sederhana, “Apakah arti kehidupan bagi kalian hanya sekedar untuk survive (bertahan)? Kalian kerja kemudian mendapat gaji kemudian gaji itu hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan kalian, sekedar survive membayar cicilan motor, kemudian membayar SPP kuliah, membeli gadget, membeli pulsa lalu habis begitu saja? Bulan selanjutnya begitu juga. Berulang kembali. Seakan hidup ini hanya sekedar rutinitas tanpa makna yang membekas? Tanpa ada perubahan sikap dari hari-hari yang terlewat? Tanpa ada wawasan yang baru terserap?

“Kalau memang benar demikian, maka pola berfikir kalian tidak berkembang. Begitu-begitu saja. Kalian tidak pernah mau memberi lebih menjemput makna belajar yang sesungguhnya. Memberi ruang untuk mengubah konstruksi berfikir bahwa memaknai hidup adalah dengan memberikan upaya yang terbaik dengan segenap energi yang di miliki untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Salah satu jalan untuk menjadi  manusia yang bermanfaat bagi orang lain adalah melalui belajar yang sungguh-sungguh. Dan salah satu pintu belajar adalah dengan memperbanyak membaca.”

Saya terenyuh mendengar nasehat beliau. Saya berkesimpulan salah satu cara untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain adalah dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu kita bisa berkarya melalui tulisan, melalui profesi yang berkompeten di bidangnya, dan melalui ide atau gagasan yang mencerahkan.

 

“Selalu mencari pengetahuan dan hanya setia pada kebenaran.”

Jakarta, 03 Juli 2016