Monthly Archives: November 2016

Kerinduan yang Memanggil

kerinduanku

Sebagai seorang yang pernah tinggal di Pondok, sering kali kerinduan akan suasana pondok itu memanggil dan datang dengan memenuhi memori ingatan. Bukan hal mudah bagi saya untuk memulai kehidupan baru selepas lulus dari Pondok. Bayangan kehidupan asrama dengan teman-teman, dengan para pengasuh, dengan para pembimbing, lekuk ruang kamar asrama berulang-ulang kali hinggap dalam ingatan dan menorehkan rasa kehilangan sekaligus kerinduan. Rasa itu mendorong saya ingin rasanya kembali ke pondok dan menjalani kehidupan seperti biasanya di lingkungan pondok bersama orang-orang yang sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri.

Bagian-bagian tertentu membuat saya merasa sedih bercampur haru. Apalagi tiga hari sampai satu minggu selepas meninggalkan pondok saya seperti merangkak pelan menjalani hari-hari baru dan hari-hari itu seolah-olah berjalan lambat. Saya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakang. Perlahan saya memahami hakikat kehidupan baru ini yang sedang saya tempuh ini penuh dengan tantangan dan butuh keberanian.

April 2011. Tahun dimana saat saya lulus dari pondok dan tersemat sebutan alumni.  Bapak pimpindan pondok mengantarkan saya dan dua teman saya (santri pondok satu angkatan) dengan mobil Toyota Kijang miliknya ke lembaga yang bernama Rumah Gemilang Indonesia (RGI) di kota Depok. Saat itu kami mendapat beasiswa pendidikan dan pelatihan dari lembaga tersebut. Selama perjalanan dari Bekasi hingga tiba Depok, kami lebih banyak diam. Kami asyik merangkum semua kenangan yang sudah sekian lama terajut rapi. walaupun sebenarnya masing-masing kami memiliki perasaan yang tidak enak dirasakan. Perpisahan…

Hari itu persis saat dimana beliau mengantarkan saya dengan mobil sedan berwarna hijau lumut di hari pertama saya tiba pondok asrama putra sepuluh tahun yang lalu. Saat mengingatnya ada rasa haru memenuhi ruang hati saya. Rasanya cepat sekali waktu terlewat. Saya sadar perjalanan hari ini tidak mudah. Dan tidak akan pernah mudah. Bisa dibayangkan sepuluh tahun saya diasuh oleh Bapak Pimpinan Pondok beserta para guru di sana, diberi pendidikan ilmu agama, di ajarkan membaca Al-Qur’an dengan ilmu tajwidnya, diberikan pelatihan kepemimpinan, dan ditanamkan akhlak dan etika semenjak saya masih duduk di kelas empat sekolah dasar hingga saya menyelesaikan sekolah menengah atas. Sejatinya setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan perpisahan selalu saja menyisakan perasaan akan  kehilangan.

Saya belajar banyak dari kehidupan di Pondok. Saya belajar menghargai orang lain, saya belajar menjadi pendengar yang baik di setiap kajian dan kuliah tujuh menit. Saya belajar bagaimana cara berkasih sayang, saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling merangkul bila salah satu ada yang jatuh dan perlu dikuatkan. Saya belajar banyak dari cara mereka yang mengajak kepada kebaikan dengan bahasa yang lembut penuh kesabaran. Cara mereka menatap, tersenyum, memberi nasihat, dan merangkul saya adalah bukti bahwa persaudaraan yang di dasari keimanan adalah ikatan yang sangat kokoh. Saya teringat sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Melewati hari bersama teman-teman di asrama semakin lama semakin menambah kedekatan emosional diantara kami. Susah dan senang kami lalui bersama. Hari demi hari dilalui dengan penuh warna dan menyebarkan energi positif. Layaknya sebuah satu keluarga, bila salah satu anggota keluarga memiliki semangat belajar yang tinggi, maka energi semangat belajar yang tinggi itu menyebar kepada anggota-anggota yang lainnya. Bila salah satu di antara kami mendapat prestasi berupa memenangkan sebuah lomba, membuat seluruh santri ikut merasa bahagia. Sebaliknya bila ada santri yang sedang sakit, kami ikut berempati terhadap apa yang sedang di deritanya. Pondok ini milik bersama dan semua santri terlibat menjaga dan merawatnya.

Saya juga belajar hidup dengan sederhana. Pakaian kami adalah pakaian yang sederhana, yang bisa dikatakan sopan dan menutupi aurat. Handphone adalah barang yang dilarang berada dalam kehidupan pondok. Kami selalu menggunakan wartel (warung telepon) untuk menghubungi orang tua kami di rumah. Pesan dari kebiasaan hidup pondok yang sederhana ini adalah jangan bermegah-megahan dalam dunia. hakikatnya sesuatu yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah mati adalah amal soleh dan hati yang bersih.

Saat ini tepat lima tahun saya lulus dari Pondok. Kerinduan itu masih tetap terasa. Kerinduan itu mengajak saya melalui lamunan panjang untuk berkeliling ke setiap lekuk dinding-dinding ruangan asrama dulu. Menapaki kembali melalui memori jejak-jejak langkah yang pernah terekam oleh waktu. Mengingat kembali masa-masa saya tumbuh remaja dan mulai mengerti makna cinta. Memutar kembali dan merasai kembali kasih sayang yang tersebar melalui perjumpaan demi perjumpaan, melalui pertemuan demi pertemuan.

Kerinduan akan masa-masa bersama dengan para santri lainnya yang memiliki cita-cita dan mimpi besar, yang tidak pernah berkecil hati namun memiliki semangat untuk membangkitkan martabat diri dengan belajar yang tekun dan membiasakan diri dengan akhlak yang baik.

Kerinduan ini biarlah tetap berada dalam relung hati saya. Waktu terus berjalan dan kenangan tidak akan pernah hilang. Selamanya kenangan selalu ada dan melekat di dalam hati ini. Biarlah saya menitipkan kerinduan melalui tulisan pendek ini dan menitipkan doa-doa untuk sahabat-sahabatku dan adik-adikku yang sedang menuntut ilmu di Pondok. Saya berharap kerinduan ini semakin bersemai dan membuat kita bisa berkumpul kembali di suatu tempat yang sama-sama kita rindukan.

 

Jakarta, 22 Nopember 2016

 

 

 

 

 

 

Cerdas Mengelola Keuangan untuk Mewujudkan Kemandirian Finansial

Dalam era globalisasi dimana teknologi berkembang sangat pesat ini membuat masyarakat mudah mengakses informasi. Salah satu informasi yang banyak mendapat perhatian di kalangan masyarakat dewasa muda adalah informasi harga produk berupa fashion, gadget, aksesoris, kamera dan sejenisnya yang mempengaruhi tingkat konsumsi atas produk tersebut. Di tambah lagi mulai menjamurnya belanja sistem online (online shop) yang membuat sebagian masyarakat dewasa muda di kota-kota besar tergiur dan tertarik membeli produk tersebut. Karena saat ini hanya dengan gadget yang terkoneksi dengan internet siapa pun sudah bisa bertransaksi jual beli secara online. Tanpa kita sadari kita melupakan prioritas dalam mengelola keuangan. Kita sudah tidak bisa lagi membedakan mana kebutuhan yang harus di utamakan dan mana yang sekedar keinginan yang bisa ditunda beberapa bulan ke depan. Bahkan dorongan membeli suatu barang para muda-mudi saat ini hanya sekedar dari dorongan ingin mengikuti style yang sedang trend saat ini.

Dampak dari hal itu membuat sebagian dari kita lalai dalam mengelola keuangan yang baik dan benar. Bahkan cenderung membuat hidup kita menjadi konsumtif. Kita abai memikirkan masa depan diri kita sendiri. Karena hakikatnya waktu terus berjalan dan usia bertambah tua, secara otomatis kebutuhan hidup bertambah. Bila Anda seorang laki-laki, lalu Anda akan menikah, lalu mempunyai anak dan anak butuh sekolah. Ketika Anda sudah menikah secara bersamaan Anda dituntut untuk mempunyai penghasilan untuk menghidupi keluarga anda. Dari mulai menikah hingga membiayai anak sekolah itu membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Kita sadari uang yang kita miliki jumlahnya terbatas. Namun realitanya sebagian dari kita belum memahami bagaimana mengelola keuangan yang benar. Kita sering terfokus pada kehidupan saat ini dan lupa rencana masa depan yang semakin dewasa usia seseorang maka semakin besar kebutuhan hidupnya dan tentu hal tersebut membutuhkan uang yang memadai.

Kita sering luput dari memikirkan resiko terhadap kejadian di luar dugaan menimpa diri kita atau keluarga kita seperti kecelakaan, sakit yang butuh perawatan khusus, dan bahkan meninggal dunia. Karena memang hakikatnya manusia tidak ada yang tahu apa yang terjadi di hari esok. Belum lagi usia kita perlahan bertambah tua dan membuat produktivitas kita berkurang –ruang untuk bekerja semakin menurun- seiring berjalannya waktu. Bertambah tua usia adalah suatu keniscayaan namun yang menjadi pertanyaan bagaimana keuangan yang kita hasilkan masa kini dapat dikelola hingga menjadi bekal yang cukup di masa tua kita.

Sumber gambar : finansialku.com

Sumber gambar : finansialku.com

Solusi dari permasalahan yang sudah disebutkan diatas adalah dengan membuat perencanaan keuangan yang baik. apa yang dimaksud perencanaan keuangan? Menurut Mike Rini Sutikno, CFP. CEO dan Founder Mitra Rencana Edukasi, “Perencanaan keuangan adalah kemampuan mengelola dana untuk kehidupan hari ini dan kehidupan di masa yang akan datang. Untuk mewujudukan perencanaan keuangan tersebut ada tiga aktivitas yang harus dipenuhi yaitu menabung, berinvestasi, dan berasuransi. Ketiganya ini mesti berjalan secara in line (bersamaan). Tidak bisa hanya berjalan satu sisi saja.” di sampaikan dalam seminar Edukasi Keuangan dengan tema “Yuk, Atur Uangmu” di Jakarta 15/10/2016. Seminar ini di selenggarakan oleh Sinarmas MSIG Life bekerja sama dengan komunitas Warung Blogger.

Dari pengertian itu dapat ditarik menjadi tiga poin yaitu :

Pertama, menabung. Hampir seluruh masyarakat kita memahami aktivitas menabung ini. Secara garis besar alasan kita menabung minimal ada tiga alasan yaitu,  (1) untuk memudahkan transaksi sehari-hari karena uang tabungan sangat mudah diambil dan dicairkan, (2) karena ada kejadian yang emergency (mendesak) yang menimpa diri kita atau keluarga kita sehingga menuntut dana darurat dicairkan segera, dan (3) untuk kebutuhan jangka pendek seperti merencanakan liburan tahunan ke luar negeri dan sebagainya.

Miliki motivasi yang kuat mengapa kita mesti menabung di usia muda. Motivasi untuk menabung secara konsisten itu akan terasa bila kita sudah memiliki  tujuan spesifik dari menabung. Motivasi menabung sangat beragam dan tiap orang punya tujuan yang berbeda-beda. Ada yang menabung untuk membeli rumah baru, ada yang menabung untuk keperluan liburan ke luar negeri, ada yang menabung untun membeli mobil baru dan lain-lain. Merumuskan tujuan yang spesifik itu penting dan secara tidak langsung memberikan dorongan pada diri kita sendiri untuk menabung secara rutin. Dengan kata lain semakin spesifik tujuan menabung maka akan semakin membuat kita termotivasi untuk menabung secara konsisten.

Kedua, berinvestasi. Tujuan investasi adalah meningkatkan pendapatan. Dari peningkatan pendapatan itu kita bisa menambah aset (harta) yang kita miliki. Saat ini investasi dapat melalui stock market dan komoditas. Stock market itu berupa saham, obligasi, dan reksadana.  Komoditas (hard assets) berupa properti, emas, barang koleksi, dan mata uang asing. Namun yang perlu dipahami dari investasi adalah semakin tinggi resiko dalam berinvestasi maka semakin besar income (pendapatan) yang dihasilkan.

Ketiga, berasuransi. Inti dari asuransi adalah melindungi seseorang secara keuangan dari resiko yang sifatnya tidak terduga. Literasi mengenai keuangan masyarakat kita masih sangat minim sehingga sedikit dari masyarakat kita yang mengenal dan memahami asuransi. Padahal hakikatnya asuransi adalah meminimalkan terjadinya resiko yang menimpa diri kita dan juga keluarga kita.

Sumber gambar : finansial.bisnis.com

Sumber gambar : finansial.bisnis.com

Dikutip dari bisiniskeuagan.kompas.com  : Salah satu fungsi primer asuransi selain sebagai pengendalian risiko, juga berfungsi sebagai pengalihan kemungkinan risiko. Sehingga kemungkinan terhadap ketidakpastian akan terjadinya kerugian, yang diakibatkan oleh peristiwa yang tidak terduga, bisa dipastikan atau dirubah menjadi yang berupa ganti rugi atau santunan klaim dari premi asuransi yang telah dibayarkan.Pengalihan risiko bukan berarti menghilangkan kemungkinan kerugian dari tertanggung atau nasabah asuransi, akan tetapi pengalihan risiko tersebut dimaksudkan untuk memberikan rasa tenang bagi nasabah terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya peristiwa yang merugikan.

Dengan berasuransi kita memiliki ketenangan hati dan pikiran karena ada pihak yang bertanggung jawab mengendalikan resiko dalam hal ini perusahaan asuransi atas suatu kejadian yang menimpa diri kita dan keluarga kita sesuai ketentuan yang sudah di sepakati bersama.

Salah satu perusahaan asuransi yang memiliki banyak pilihan jenis asuransi adalah asuransi Sinarmas MSIG Life. Perusahaan tersebut telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dalam asuransi Sinarmas MSIG Life menyediakan produk asuransi diantaranya, solusi produk tahapan kehidupan mulai dari masa lajang, baru menikah, menikah memiliki anak, dan masa pensiun. Dan yang paling penting pilihlah produk asuransi yang sesuai kebutuhan Anda saat ini.

Semakin muda Anda ikut berasuransi, maka semakin ringan premi yang dibayarkan karena target tahun tujuan masih panjang –masa produktivitas masih tinggi- dan kondisi tubuh anda masih sehat. Pahami dengan baik bahwa dengan Anda ikut berasuransi secara langsung Anda sedang membangun keluarga yang mapan dan memiliki ketahanan dalam hal finansial.

webannerr-blogger