Monthly Archives: October 2015

Trip To Merbabu via Jalur Wekas 2

 

Pukul 05.52 tiba di stasiun Semarang Poncol.  Di atas sana mentari perlahan menampakkan dirinya. Cahayanya menyapa bumi dengan sangat ramah. Menerpa beragam wajah di pagi ini. Udara yang masih sejuk menyambut kedatangan kami di kota Semarang ini. Setelah turun dari kereta, kami duduk-duduk di di kursi tunggu penumpang. Ada yang merebahkan kaki, bercengkrama satu sama lain, minum kopi yang dibeli di pedagang yang berjualan di stasiun. Semarang, kota ketiga di Jawa Tengah yang saya kunjungi setelah Klaten dan Yogyakarta.

Di luar stasiun kami bertemu dengan dua orang pemuda yang akan menemani perjalanan kami mendaki gunung merbabu (guide), Bang Ali dan Bang Bayor. Keduanya berasal dari Garut. Kami sarapan di warung makan yang berada di seberang stasiun. Ketika makan, saya teringat sejak semalam saya belum makan nasi. Kemarin sore pulang kerja langsung ke meluncur ke rumah Pak Sutaryanto (rekan kerja) yang berada di lenteng Agung untuk meminjam tas carrier  lengkap dengan matras, dan sleeping Bag. Dari sana pulang ke rumah langsung packing ala kadarnya, sebisa nyusunnya di tas besar ini. maklum pendaki pemula hehehe, gak ngerti aturan packing perlenkapan ke dalam tas cariier. Pokoknya sarapan kali ini benar-benar nikmat. Tapi dalam hati saya masih ada keraguan. Bukan keraguan deh. Lebih tepatnya kegalauan dan kekhawatiran. Apa nanti saya bisa mengikut alur temen-temen dalam mendaki? Apa saya bisa nggak ngeberatin temen-temen yang lain dalam perjalanan kali ini? ahh, masih bener-bener pemula. Saya coba menepis kegalauan itu, disini saya tidak sendirian.

Perjalanan menuju Merbabu dimulai. Dengan menaiki tiga mobil taksi kami menuju Wekas, salah satu basecamp jalur pendakian menuju puncak Merbabu. Oh ya jangan salah kira ya Taksi di Semarang ini beda dengan Taksi di Jakarta. Taksi disini mobil penumpang seperti Toyota Avanza, Honda Mobilio, Daihatsu Xenia. Jadi satu mobil bisa muat 7 penumpang. Tapi kali ini, rombongan kami dengan tas-tas besar lagi berat menaiki taksi ini gak mengindahkan aturan mesti 7 penumpang. Di taksi yang saya naiki aja ada 8 orang penumpang. Kok bisa? Yah dipaksain. Untuk yang ini jangan ditiru ya hehehe.  Pegel luar biasa badan gak bisa gerak kemana-mana. Sampai saya kaget sendiri lihat di display speedometer mobil dengan simbol muatan “overload” kedap-kedip.

Taksi mulai berjalan. Dua jendela sebelah kiri dibuka. Angin pagi ini menemani perjalanan kami. Hari ini hari Jumat. Hari kerja. Tapi tidak ditemukan macet panjang di jalan yang kami lalui. Dari stasiun Semarang sampai pintu tol (aduh lupa nama tolnya) jalanan di dominasi oleh kendaraan roda empat. Dan kendaraan disini tidak sepadat di Jakarta. Jalan di Semarang ini bisa lebar-lebar. Di Jakarta mungkin sulit menemukan jalan dengan lebar seperti disini. Sepanjang jalan tol mata kami terkagum-kagum memandangi beberapa gunung yang berdiri kokoh dengan megah dan gagah. Maha suci Allah yang Maha Pencipta. Ada yang segera meng-capture pemandangan tersebut dengan gadget yang dimiliki. Sudah hampir satu jam di mobil, satu per satu diantara kami mulai tertidur. Termasuk saya. Rasa kenyang dan lelah bercampur mengirim sinyal ke mata untuk tidur.

Jam 10.30. Taksi yang kami naiki sudah sampai pertama di basecamp Wekas. Dua taksi yang dinaiki rombongan kami belum sampai. Kami turun dari taksi disambut udara sejuk dan pemandangan Semarang dari dataran tinggi ini. Matahari sudah berada hampir di tengah. Panasnya tetap terasa. Cerah sekali hari ini. Sinyal telepon selular sejauh ini masih lancar. Belum ada gangguan. Tidak lama kemudian, datang satu mobil taksi disusul satu taksi lainnya. Ternyata dua taksi itu rombongan kami. Di sini, saya sempatkan mengirim pesan singkat ke Pak Sahrudin, dosen mata kuliah manajemen keuangan. Memberi kabar kepadanya kami berempat (saya, Safira, Fatma, Devi) tidak bisa ikut kuliah hari ini, karena sedang ada kegiatan mendaki gunung Merbabu. Pesan terkirim. Beberapa menit, Handphone saya berbunyi. Ku buka pesan baru. “Iya, lanjutkan”, jawaban dari Pak Sahrudin. Di basecamp ini, persiapan terakhir sebelum pendakian dilakukan. Saya sendiri membeli sepasang sarung tangan dan dua botol aqua 1,5 liter di warung sebelah basecamp. Saya  juga dibantu Bang Ateng packing barang dan perlengkapan disusun ulang ke dalam tas carrier.

IMG_20150918_103628

Jam 13.30. Seluruh rombongan sudah berdiri di depan basecamp dengan tas carier di pundak masing-masing. Hampir semua memakai sepatu gungung. Semuanya wajah siang ini penuh semangat. Wajah yang penuh optimis. Jujur, di rombongan ini saya baru mengenal berapa nama baru, seperti Bang Alfan, Bang Wildan, Bang Dicki, Bang Ateng,  Bang Ali dan Bang Bayor. Semoga dengan waktu yang akan kami lewati, saya bisa mengenal dan berbaur dengan teman baru.

“Baik, mari kita sama-sama berdoa semoga perjalanan kita sampai tujuan dengan selamat dan turun kembali juga dengan selamat. Berdoa dimulai.” Bang Wildan memandu doa bersama sebelum pendakian. Semua menunduk. Berdoa khusyu’. Berharap semoga semua lancar-lancar saja. Ya Rabb, mudahkanlah perjalanan kami menuju tempat yang kami tuju.

IMG_20150921_102126_1443439017043

Pendakian dimulai. Derap-derap sepatu terdengar meski tak beraturan. Bang Dicki berjalan paling depan memimpin. Langkah demi langkah melaju. Beberapa memilih sambil ngobrol ringan. Sebagian memilih diam sambil terus melangkah. Saya sendiri mencoba mengatur irama langkah agar tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Menyesuaikan dengan irama langkah temen-temen yang lain. Saya juga mengatur nafas agar energi yang keluar terisi kembali. Agar tidak cepat lelah. 300 meter pertama kami melewati pemukiman warga. Disini kami masih melewati jalan warga yang agak lebar. Setelah itu yang tersisa hanya jalan setapak. Pemandangan selanjutnya adalah kebun sayur milik warga. Suara tarikan nafas kian terdengar bergantian. Ada yang memilih berhenti mengatur nafas dan merenggangkan kaki. Soalnya jalan yang dilalui semakin lama semakin menanjak. Ditambah lagi dengan beban di tas yang puluhan liter yang ada di punggung. Saya juga melakukan hal itu. berhenti sejenak, satu sampai dua menit. Menghirup nafas dalam-dalam kemudian mengeluarkan kembali. Berulang kali.

Perjalanan terus berlanjut. Keringat sudah membasahi pakaian kami. Siang semakin terik. Jalan setapak yang dilalui juga kian menanjak. Kami semua berharap menemukan pijakan jalan yang datar agar tidak menguras energi. Tetapi jalan yang seperti itu sulit sekali ditemui. Kalaupun ada paling hanya hitungan meter saja. Sebagian sudah mulai meminum air, memilih duduk, istirahat, meregangkan kaki, lalu bersandar di gundukan tanah atau pohon yang agak besar. luar biasa nikmatnya air yang masuk ke kerongkongan ini. Semua berusaha kompak, saling membantu, saling memberi air minum apabila ada yang kehausan, saling menunggu bila ada teman yang sedang istirahat sejenak. Persaudaraan yang begitu kuat sesama pendaki sangat saya rasa rasakan disini. Walaupun satu dengan yang lain belum saling mengenal. Rasa ego sepertinya sudah berhasil mereka taklukan oleh rasa peduli dan cinta pada sesama. Untuk hal yang satu ini saya belajar dari mereka. Suatu hari saya akan merindukan saat-saat seperti ini.

 

Jakarta, 20 Oktober 2015

 

 

 

Advertisements

Tips Menulis

Sudah enam bulan aku bekerja sebagai staff Accounting di perusahaan ini. aku merasakan ada hobi baru yang aku sukai, yaitu hobi membaca blog. awal mula hobi ini mungkin karena memang lima hari  dalam seminggu aku duduk di depan komputer selama delapan jam per hari. di sela-sela waktu itu, aku sering memanfaatkan untuk browsing. saat itu pula aku suka baca blog.

 

Aku suka blog yang berisi pengalaman penulis blog yang ditulis dengan bahasa sehari-hari. dari sana  saya menangkap, kok bisa ya mereka (penulis blog) menulis seperti itu? lalu timbul pertanyaan dalam hatiku, apa aku bisa menulis? apa nantinya tulisanku bisa sebaik blogger-blogger ini? untuk bagian ini aku ragu mengiyakan. sudahlah, yang penting aku suka dengan hobi membaca, itu juga sudah membuatku senang.

 

“Mas Imron, belum pulang?” pertanyaan seorang Office Boy membuyarkan lamunanku sore itu.

“Eh Mas rian. iya mas sebantar lagi. ini mau siap-siap pulang.” jawabku datar

 

Aku pulang. sore ini aku harus bertanya sama siapa atau lebih tepatnya saya mesti cerita sama siapa  tentang keinginanku untuk menulis. aku belum pernah ikut komunitas menulis dan belum pernah mendengar teori-teori dalam kepenulisan.

 

Satu minggu berlalu.

 

Hari ini hari Senin. Pak Denny, selaku General Manager, meminta seluruh karyawan berkumpul di aula pertemuan. “temen-temen semua, hari ini saya ingin memperkenalkan seorang karyawan baru di kantor kita namanya Ana Alfina. Disini dia akan membantu divisi Finance dan Accounting. Saya mengucapkan selamat bergabung di perusahaan kami.” Jelas pak Denny kepada kami. Setelah perkenalan itu, Ana diberitahu ruangan dan meja kerjanya. Dalam hati aku senang. Eh bukan hanya aku tetapi tim divisi Finance dan Accounting juga pasti senang. Karena dengan bertambahnya jumlah orang di divisi ini akan mengurangi beban kerja yang memang menurut kami sudah sangat terlalu padat.

 

“Ana, ini Imron, rekan kerjamu di divisi ini. Imron, tolong kamu beri arahan dasar dan mengenalkan job description di divisi ini ya. Termasuk dengan lingkungan kerja disini seperti apa. Bapak percaya kamu bisa membantu Ana untuk memahami tugas-tugas dan menyesuaikan di lingkungan kerja yang baru ini.” pinta Pak Denny dengan sorot mata yang meyakinkan.

 

“Baik Pak, saya akan membantu menemani Ana untuk menjelaskan tugas-tugas yang dikerjakan.” Jawabku mengiyakan sambil tersenyum.

 

Minggu pertama, saya mencoba memperkenalkan siklus kerja kepada Ana. Mulai dari pembuatan voucher Bank, pencatatan transaksi di aplikasi software akuntansi, sampai menyusun laporan keuangan. Dalam satu minggu ini, saya lebih banyak menerangkan berkas-berkas yang akan dicatat, lebih banyak share tentang kondisi karyawan disini yang sudah ku anggap seperti keluarga karena sudah saking akrabnya satu dengan yang lainnya.

 

“Disini Ana, tidak perlu malu dan sungkan untuk bertanya dan minta tolong. Disini kita saling bantu kok. Mungkin awalnya kaku, sedikit jaim, tapi lama-kelamaan juga bisa berbaur dan akrab dengan yang lain.”

 

“Iya Mas Imron. Saya coba untuk memahami lingkungan kerja disini dan rincian kerja yang diberikan kepada saya. Maaf juga ya Mas Im kalo saya sering ganggu waktu kerja Mas untuk bertanya pekerjaan yang belum saya ngerti.”

 

“santai aja Ana. Membantu Ana kan bagian dari tugas saya yang beberapa waktu lali disampaikan Pak Denny, masih ingat?.”

 

“Oh iya, iya saya ingat itu.”

Satu bulan berlalu.

 

“Mas Imron, ini saya ada brosur seminar kepenulisan di Univ. Negeri Jakarta hari minggu ini. barangkali Mas tertarik ikut, Mas bisa datang.” suara Ana membuatku menengok setengah kaget. Aku terdiam sejenak.

“Dilihat dulu brosurnya nih.” Pinta Ana sambil menyerahkan brosur kepadaku.

 

Aku membaca brosur tersebut. Mataku melihat nama pembicara seminar tersebut adalah Tere Liye, penulis novel yang kini banyak diminati remaja termasuk aku. Aku tidak bisa membohongi aku sedang bahagia. Ini mungkin jawaban dari kegalauanku untuk mulai menulis. Tapi aku heran kenapa Ana seperti seolah-olah tahu kalo aku memang sedang bingung untuk memulai menulis.

“Mas Imron kok diam.”

Gak apa-apa Ana. Kenapa Ana memberikan brosur ini kepada saya?

Emang gak boleh? Jawab Ana dengan raut wajah meledek.

“Boleh aja. Tapi kok seperti Ana ngerti hal yang sedang aku bingungi.”

“hehehe. Aku hanya nebak aja Mas Im. Sudah satu bulan saya kerja di kantor ini dan satu ruangan sama Mas Im, Mbak Rini, dan Pak Rifa’i. Dan meja yang paling dekat dengan aku kan, Mas Im. Ini hanya hasil amatanku aja, Mas Im suka baca blog yang isinya diary penulis blog, artikel-artikel, cerpen-cerpen di blog.  Dan sepertinya Mas Im juga tertarik dengan dunia menulis. Buktinya, satu minggu belakangan ini tiap setengah jam sebelum dimulai jam kerja, Mas Im selalu nulis dua atau tiga paragraf. Kadang juga Ana lihat Mas Im gak pede denga tulisan Mas Im. Seperti Mas Im sering mencorat-coret kata yang salah. Membuang kertas hasil tulisan yang menurut Mas Im gagal. Ana pikir nanti di dalam seminar kepenulisan ini Mas Im bisa lebih mengerti tentang tips menulis.” Ana menjelaskan.

“hm iya iya. Ana benar. Aku sedang bingung untuk menulis yang baik itu yang gimana? Aku menulis tiap pagi hanya niat coba-coba aja. Tetapi seringnya aku merasa tulisanku jelek. Terlalu kaku, datar aja gitu. Itu saja sudah membuat saya gak pede untuk mulai nulis lagi.”

 

Siang itu juga saya daftarkan diri ikut seminar tersebut dan kemudian saya transfer biaya seminar sejumlah biaya yang tertera di brosur di mesin ATM yang letaknya tidak jauh dari kantor. Aku mengusap wajahku, berharap semoga di seminar ini aku menemukan titik terang atas kegalauanku dalam menulis. Tak terasa keringat di dahiku mengucur. Semakin lama semakin menderas. Siang ini benar-benar panas. Ku naiki sepeda motor ku dan ke putar tuas gas. Aku kembali ke kantor.

 

Hari Minggu.

 

Satu jam sebelum acara dimulai aku sudah sampai lokasi seminar. Sudah agak ramai. Memang penulis yang mengisi seminar kali ini benar-benar dinantikan banyak orang terutama para mahasiswa. Tepat pukul 09.00 pagi acara dimulai. Suasana gedung aula Sertifikasi Guru Universitas Negeri Jakarta sangat ramai, bahkan tumpah keluar ruangang. Beberapa panitia terlihat sibuk menata kursi agar semua bisa menyaksikan seminar ini dengan posisi duduk.

 

Acara dibuka dengan sambutan dari penyelenggara seminar. Moderator mempersilahkan Bang Tere Liye menyampaikan materi kepenulisan. Saya menangkap tiga poin dari apa yang disampaikan Bang Tere, menulis memiliki sudut pandang yang spesial, menulis membutuhkan amunisi (banyak membaca buku), menulis butuh kebiasaan. Poin yang ketiga menulis butuh kebiasaan ini yang sangat menarik bagi saya.

 

Bang Tere bilang, “6 bulan kalian menulis 1000 kata sehari, kalian akan menjadi penulis yang baik. Dititik hari ke 181 kalian akan jadi penulis yang tak perlu panduan dalam menulis. Tapi bang tere, saya kalau di blog ingin banyak yang comment, banyak yang like? kalau kalian punya cita-cita seperti itu, maka kita sudah beda paham, saya datang mengajari kalian untuk jadi penulis yang baik, menulis bukan untuk perhitungan jumlah like atau jumlah comment  karena penulis yang baik tidak pernah peduli comment dan like orang, tak pernah peduli jadi buku atau tidak, ia hanya menulis. Seperti pohon kelapa, dia tidak pernah peduli kemana buah kelapanya jatuh dan memyebar. Tidak mungkin pohon kelapa mencatat kemana perginya buah kelapanya.”

 

Diakhir pertemuan bang Tere Liye memberikan pesannya, closing yang katanya sama disetiap workshop yaitu…

“Adik-adik sekalian, ada sebuah nasihat tua yang sangat indah.. apa itu nasihatnya? Waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, jika kalian tanam 20 tahun yang lalu, maka hari ini kalian akan mendapatkan pohon yang besar, buahnya banyak, daunnya rimbun, batang ranting yang sudah tua bisa dijadikan kayu bakar. ‘Bang Tere saya sudah terlambat, saya baru dengar nasihat ini sekarang, sedangkan saya sudah berusia 20 tahun.’ Maka camkan ini baik-baik… waktu terbaik kedua menanam pohon adalah hari ini, dan setelah itu .. tidak ada lagi waktu terbaik… tidak ada. Karena bila kalian menanam pohon hari ini, 20 tahun kemudian kalian akan menemui pohon kalian berbuah banyak, daunnya rimbun. Maka, jangan terlambat lagi ya adik-adik.. jangan terlambat. Karena 20 tahun yang akan datang akan cepat, karena waktu itu Kejam. Catat baik-baik nasihat saya ini.”

 

Hari ini berkesan sekali buatku. Seminar ini mengubah cara pandangku menulis. Kini, dalam hatiku hanya ingin menulis dan menulis. Tidak lebih.  Tanpa peduli banyaknya like dan comment. Karena menurutku menulis adalah berbagi cerita yang dirasai dan sarana me-muhasabahi diri untuk menjadi pribadi yang baik dari waktu ke waktu.

 

 

Imron Prayogi

Ditulis Pada : 09/10/2015

Jakarta

 

Aktualisasi Pelajar dalam Bermasyarakat

Tri Dharma Perguruan Tinggi

Tri Dharma perguruan tinggi terdiri dari 3 poin :

  1. Pendidikan dan pengajaran
  2. Penelitian dan pengembangan
  3. Pengabdian kepada masyarakat

Tri Dharma menjadi tanggung jawab seluruh dosen, mahasiswa, serta orang-orang yang terlibat dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi (civitas akademika).

  1. Pendidikan dan Pengajaran

Undang-undang tentang pendidikan tinggi menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan  terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.,

  1. Penelitian dan pengembangan
  2. Pengabdian kepada masyarakat

Undang-undang tentang pendidikan tinggi, pengabdian kepada masyarakat adalah kegiatan civitas akademika yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan kesejahteraan masyarakat dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

 

Aktualisasi Pelajar dalam kehidupan Sosial dan Masyarakat

Berangkat dari Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut, maka saya menuliskan beberapa poin mengenai aku dan peranku sebagai mahasiswa diantaranya :

 

  1. Belajar Dengan Sungguh-Sungguh

Niat awal saya melanjutkan kuliah di perguruan tinggi adalah ingin memperoleh ilmu pengetahuan, menambah wawasan, dan mengembangkan potensi minat terhadap jurusan yang saya pilih. Belajar menurutku adalah proses perubahan mental dari yang tadi belum tahu menjadi tahu, yang sebelumnya belum paham menjadi paham. Menghadiri perkuliahan tepat waktu, membeli buku yang dibutuhkan di perkuliahan kemudian membacanya, mengerjakan tugas kuliah yang diberikan dosen (tugas individu dan tugas kelompok) adalah caraku untuk mendapatkan ilmu.

Hal ini juga sebagai tanggung jawab saya sebagai mahasiswa untuk merealisasikan tri dharma perguruan tinggi yang salah satunya, pendidikan dan pengajaran. Belajar dengan rasa tanggung jawab menjadikan saya untuk pandai mengatur waktu, kapan waktu untuk belajar, kapan waktu berolahraga, kapan waktu bekerja. Itu semua membuat saya menjadi lebih menghargai waktu. Benar kata seorang guru menulisku Bapak Oleh Sholihin (penulis buku-buku remaja) dia pernah bilang, “kegagalan merencanakan suatu hal sama saja artinya merencanakan kegagalan.” Meskipun saat ini belum sepenuhnya saya mempunyai waktu belajar harian, saya akan membuat jadwal belajar harian itu dan berusaha berkomitmen atas jadwal yang saya buat. Belajar itu tidak mengenal kata sempat atau tidak sempat. Karena pelajar yang baik adalah dia yang selalu mau meluangkan dan mau menyempatkan sebagian waktunya untuk mau belajar.

  1. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Kedua orang tua adalah orang yang Tuhan takdirkan untuk merawat, mendidik, mengasuh dan membesarkan kita dengan rasa kasih sayang yang murni dan tulus. Mereka adalah orang yang mengajari kita mengenal dunia ini, mengenalkan bentuk-bentuk interaksi sosial dan budaya kepada kita. Mereka mengajari kita cara makan yang baik, mengajari cara tatakrama yang santun kepada sesama, dan mengajari kita mengenal Tuhan. Menurut Kang Tasaro GK (penulis novel Galaksi Kinanthi), “menjadi orang tua itu seperti meletakkan jiwa yang ada pada diri sendiri pada tubuh orang lain.” Saya memahami ini sebagai bentuk kasih sayang orang tua kepada anak yang tanpa syarat apapun dan selalu mau menerima kehadiran sang anak kapan pun.

Ikatan yang begitu kuat antara ayah dan ibu membuatku sadar, di sisa usia yang Tuhan berikan, saya berusaha untuk terus berbuat baik kepada keduanya dengan cara yang saya mampui. Saya akan berusaha menjaga ucapanku agar tidak menyinggung apalagi menyakiti perasaan keduanya.  Saya selalu menuruti pinta dan keinginan keduanya selama hal yang diingini itu adalah kebaikan. Tetesan keringat ketika ayah bekerja demi membiayai sekolahku dan saudara-saudaraku, bukti betapa teguhnya pendirian seorang ayahnya yang mengingkan kelak anak-anaknya ketika sudah besar mesti meneladani kerja keras sang ayah. Saya memaknai ini seakan-akan ayah ingin bilang kepadaku, “Nak, suatu hari engkau akan menjadi seorang ayah bagi istri dan anak mu, maka dari itu bekerja keraslah untuk menafkahi keluargamu. Jangan mengharap belas kasihan orang lain, menengadah tangan kepada orang lain. Walaupun ayah bukan orang kaya, tapi kita punya harga diri yang mesti dijaga dan dipertahankan. Jemput rahmat Tuhan dengan kerja kerasmu Nak.”

Ibu, kepadanya aku belajar mengerti apa kasih sayang itu. Dengannya, aku belajar bicara yang lembut, ramah, dan santun. Dengannya juga, aku mengerti arti belaianmu ketika aku sedang menghadapi masalah yang berat. Dia selalu menyediakan ruang untuk mendengarkan curahan hatiku. Aku mengerti air mukamu yang khawatir dan sedih, ketika aku sedang sakit bahkan aku sempat  dirawat di rumah sakit. Masih terekam jelas olehku di saat aku dirawat di salah satu Rumah Sakit swasta di Bekasi, aku terbangun dari tidurku dan aku melihat wanita disampingku duduk tertidur lelah, di saat itu aku sadar bahwa Ibu adalah orang yang pertama kali berjuang keras ketika melahirkan anaknya sekaligus orang yang pertama berjuang mati-matian mempertahankan hidup anaknya. Aku mencintai Ibu karena Allah. Allah Tuhanku, shalehkan diriku dan beri kekuatan untuk menjaga keshalehan itu. Karena hanya dengan itu Engkau mau mendengar dan mengabulkan doa-doa untuk ayah dan ibuku, amiin.

  1. Ikut Aktif dalam Komunitas di Masyarakat

Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. berorganisasi, bermasyarakat, berinteraksi merupakan hal yang pasti dijalani oleh tiap manusia. Keluarga adalah organisasi terkeci dalam sebuah masyarakat, secara tidak langsung kita telah merealisasikan proses dari berorganisasi.

Saat ini saya sedang aktif dalam dua komunitas yaitu, komunitas kepenulisan yang bernama OneWeekOnePaper dan komunitas yang bergerak di bidang sosial dan pendidikan Charity of Children Education (CCE) di Kebagusan, Jakarta Selatan. Pertama, yang mendasari ikut komunitas kepenulisan adalah aku ingin belajar dan berlatih menulis. Dengan bergabung di komunitas kepenulisan itu, semangat dan motivasi menulis saya bisa terjaga. Di dalamnya banyak agenda-agenda yang memacu anggota komunitas untuk mau menulis. Ada program malam narasi, program sharing bareng penulis, program malam keakraban (makrab). Memang kembali lagi pada motivasi tiap individu, kalau menulis hanya menunggu waktu luang, masih menunggu mood datang, masih takut salah, ya individu tersebut yang akan mendapatkan sejauh mana perkembangan menulisnya. Bagiku, menulis itu adalah sarana berbagi cerita, meluapkan perasaan dan emosi lewat kata demi kata, sekaligus sarana me-muhasabahi diri untuk berubah lebih baik dari waktu ke waktu. Keinginan terbesar setelah gabung dalam komunitas kepenulisan ini, ingin menulis buku fiksi (novel dan kumpulan cerita pendek) yang diterima di masyarakat.

First Gathering dengan kawan-kawan OneWeekOnePaper di Kalibata City Jakarta

Kedua, bergabung dengan komunitas CCE, awalnya saya ingin berlatih mengajar disana. Karena memang sejak SMA saya memiliki cita-cita menjadi seorang guru. Sampai saat ini, saya masih ingin menjadi seorang guru. Di komunitas ini saya belajar cara mengajar yang baik untuk materi yang dikuasai (saya diamanahi untuk mengajar cara membaca al-qur’an yang baik dan benar dan pengetahuan agama Islam), bermain bersama dengan kakak-kakak pengajar yang lain dan adik-adik belajar di komunitas ini. menurut saya dengan ikut komunitas yang baru berarti menambah teman baru dan menambah pengalaman baru. Dengan ikut komunitas yang sesuai minat, waktu saya menjadi lebih bermanfaat dengan aktivitas-aktivitas yang positif.

 

 

Ditullis pada 07 Oktober 2015 : Untuk memenuhi Tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar

 

Trip To Merbabu 1

 

Jam menunjukkan pukul 23.00.  Tanda jadwal keberangkatan kereta api dari stasiun Senen. Dengan langkah setengah dipaksakan. Bukan dipaksakan melainkan tas Carrier yang ku bawa memang berat sekali. mungkin belum terbiasa.  jadinya langkah kakiku tidak leluasa seperti biasanya. Malam ini stasiun ini cukup ramai. Sebagiannya terlihat anak-anak muda ber tas besar di punggungnya, tas yang biasa dipakai untuk pendaki gunung. Sebagian lagi orang tua yang hendak naik kereta menuju kampung halamannya. Ini pertama kali bagiku menginjakkan kaki di stasiun setelah lima tahun terakhir. Stasiun ini terlihat lebih bersih dan tempat parkirnya juga tertata rapi.

“Imron Prayogi. Suara anak muda yang kemudian hari saya mengenalnya. Namanya Wildan.

“Ya, saya Imron. Jawabku sambil mengangkat tangan.

“Ini tiket keretanya ya. Nanti ketika di loket pemeriksaan sekalian tunjukkan KTP asli.”

“Oke. Terimakasih Bang.

Saya berjalan menuju pintu loket pemeriksaan. Ku tunjukkan tiket dan KTP asli milikku. Dan dipersilahkan langsung menaiki kereta. Di tiket tertulis gerbong 5 kursi 17 D. Tidak lama saya menemukan gerbong tersebut kemudian langsung menaiki kereta dan duduk sesuai nomor kursi yang tertera di tiket. Nama kereta api ini Tawang Jaya tujuan stasiun Semarang Poncol.

IMG_20151012_223555

Perjalanan kali ini saya tidak sendiri. Saya bersama teman-teman dari Jakarta akan travelling bersama mendaki gunung Merbabu, Jawa Tengah. Jumlah kami dua puluh lima orang. Sebagian besar dari kami adalah mahasiswa. Ada yang dari Unindra, UIN Syarif Hidayatullah, Univ. Esa Unggul, Univ. Budi Luhur dan Uhamka. Saya dapat info mendaki gunung merbabu dari Safira, teman satu kelas di Pend. Ekonomi. Ini kali pertama saya mendaki gunung. Ada rasa khawatir awalnya. Apa fisikku kuat melakukan perjalanan panjang ini? apa nantinya diriku merepotkan yang lain? Dan yang paling penting apakah saya bisa memaknai arti perjalanan ini?

Priiiit. Bunyi pluit dari salah satu petugas stasiun menandakan kereta segera berangkat. Bismillahi tawakaltu ‘alallah, ucapku lirih. Selamat jalan Jakarta. Kereta yang kami naiki cukup ramai. Tetapi walaupun ramai tetap semuanya dapat kursi untuk duduk. Tidak ada penumpang yang berdiri. Semakin lama dingingnya AC semakin terasa. Saya mengenakan jaket. Malam semakin larut. Saya masih juga terjaga. Padahal tubuh ingin sekali tidur. Seharian kerja dan mempersiapkan perlengkapan untuk empat hari ke depan membuat energi terkuras. Yang tersisa hanya lelah. Mungkin tubuh saya merespon adanya perubahan dari posisi tidur saya dengan posisi duduk. Ditambah kereta yang sedang berjalan. Getarannya kian terasa dan suara mesinnya juga tidak bisa dibilang pelan. Ini yang menyebabkan saya sulit tertidur. Meski berulang kali saya memejamkan mata. Sesekali saya melihat ke pandangan di luar kereta. Yang terlihat hanya gelap dan kelap kelip lampu jalan raya di sekitaran pinggir rel.

Ada yang membuatku haru malam ini. saya menyaksikan satu keluarga dan anaknya di depan kursiku. Kursi mereka dengan kursi ku duduk berhadapan. Ibu tersebut tidur dengan memangku anaknya yang masih kecil. Dan si Bapak tidur dengan posisi duduk. Raut lelah di wajahnya bisa kulihat dengan jelas. keluarga yang kompak. Ketenangan itu sederhana sekali. disana ada bapak ibu yang melindungi anaknya. Meski tubuh mereka sendiri menjadi tumpuan, menjadi terbebani, tetapi terlihat sekali mereka tidak menganggapnya sebagai beban. Terlihat harmonis dan saling menghargai satu dengan yang lain. “ini bukan kebetulan kan Ron? Ini qadarallah. Allah menunjukkan bahwa dengan berkeluarga akan memberikan rasa ketenangan (sakinah). Niatkanlah menikah karena Allah. Rasa sepi dan sunyi di hatimu yang kian bertambah mestilah diramaikan dan diwarnai dengan kehidupan baru dengan berkeluarga.” Separuh hatiku membenarkan. Kini saatnya menanti dengan prasangka baik, berikhtiar yang maksimal, memperbaiki diri, dan berdoa agar dimudahkan.

Jakarta, 27 September 2015