Monthly Archives: December 2015

Indonesia Flight : Mini Workshop Travel Blogger

Indonesia Flight : Mini Workshop Travel Blogger bersama Ariev Rahman

11 Desember 2015

Pagi itu saya baru saja sampai kantor. Melepas jaket motor, meletakkan kunci motor diatas meja, kemudian saya menyalakan komputer. Tidak berapa lama ada notifikasi email masuk ke akun gmail saya. Segera ku buka email tersebut. Subject Email : (UNDANGAN) #IndonesiaFlight travel Blogger Mini Workshop 13 Des 2015. Nama pengirim email Nuniek Tirta Sari. Ku baca isi pesan masuk. Lalu saya tersenyum. Alhamdulillah pagi ini saya  mendapat kabar baik. Isi emailnya, “Selamat! Kamu terpilih menjadi peserta #IndonesiaFlight Travel Blogger Mini Workshop yang akan dipandu oleh Indonesia’s Best Travel Blogger 2014 dan 2015 Ariev Rahman (backpackstory.me).” lanjutan emailnya berisi hari, pukul, dan tempat dimana diselenggarakan acara tersebut.

Langsung saya reply email tersebut. Berarti minggu ini saya meluangkan waktu untuk menghadiri acara Indonesia Flight ini. Oh ya info acara mini workshop ini saya dapat dari akun twitter Mas Ariev Rahman beberapa hari yang lalu. Saya salah satu pembaca blog Mas Ariev Rahman (www.backpackstory.me). Saat itu juga saya langsung mengisi form pendaftaran yang link-nya di share di akun twitter Mas Ariev. Niatnya ingin mendengar dan ingin tahu lebih jauh mengenai travel blogger. Dan yang utama yang ingin saya dapat dari acara ini adalah motivasi menjaga semangat menulis. Alhamdulillah, kabar baik itu saya terima. Pagi ini saya terpilih sebagai peserta Mini Workshop Travel Blogger yang diselenggarakan oleh Indonesia Flight.

Print

Minggu, 15 Desember 2015

Menjelang siang saya berangkat menaiki motor kesayanganku. Tidak banyak yang dibawa. Saya hanya membawa tas ransel yang berisi satu buku note dan alat tulis. Sebelum berangkat saya menyempatkan membuka google map mencari rute perjalanan menuju Mango Tree Kuningan. Mataku berbinar melihat garis hijau di peta google map sepanjang jalan Pasar minggu hingga Kuningan. Garis hijau itu menandakan jalur lalu lintas yang sangat lancar.

Siang itu saya tiba di Mango Tree Bistro Epiwalk Kuningan HR Rasuna Said Jakarta Selatan. Selesai parkir motor, saya berjalan memasuki area Epiwalk Kuningan. Melihat jam sudah hampir pukul 12.00. Sebentar lagi acaranya dimulai. Panasnya matahari diatas sana terasa sekali. Saya mempercepat langkah kaki menuju tempat yang sudah ditentukan. Sesekali mata saya melihat ke kanan dan kiri gedung Epiwalk mencari letak posisi Mango Tree Bistro. Sampai di pintu masuk seorang security memberhentikan langkah saya.

“Maaf Pak berhenti sebentar.” Ucapnya datar sambil menggerakkan papan detector di atas ransel yang saya bawa.

“Sudah Pak. Silahkan masuk pak.”

“Oh ya Pak, saya mau tanya Mango Tree yang ada acara Mini Workshop Travel Blogger itu sebelah mana ya Pak?”

“Ini lurus aja Pak. Di depan ada pintu sebelah kanan. Mas masuk ke pintu tersebut. Kemudian jalan sedikit. Mango Tree itu ada di sebelah kanan.” Jawab Pak Security sambil tangan kanannya menunjuki arah yang dimaksud.

“Baik Pak. Terimakasih ya Pak.”ucapku semangat.

Saya melangkah seperti intruksi dari Bapak Security tadi. Mataku menangkap spanduk kecil berwarna merah putih bertuliskan Indonesia Flight. Di sisi kiri spanduk ada panitia dan meja tamu. Sampai juga, saya menarik napas lega.

“Pak, apa benar disini tempat acara Mini Workshop Indonesia Flight?,” Tanyaku memastikan.

“Benar Pak. Silahkan dicari nama Bapak di daftar hadir ini kemudian ditandatangani. setelah itu tolong bapak berdiri disamping spanduk ini untuk di foto oleh salah satu tim kami.” Pinta Bapak penerima tamu dengan ramahnya.

Sebelum masuk ruangan utama Mango Tree, saya diberikan tanda pengenal untuk ditempel di sisi atas pakaian dan diberikan satu lembar form feedback. Saat masuk ruangan utama, saya melihat ruangan sudah ramai. Saya melihat wajah-wajah baru yang belum saya kenal. Sebagian diantara mereka sudah duduk rapi di kursi sambil melahap makan siang. Saya sempat bingung dan diam berdiri sejenak. Keringat yang keluar dan rasa lelah selama perjalanan tadi masih sangat saya rasakan. Kini, perlahan panas diluar sana berubah menjadi sejuk AC di ruangan. Seorang pramusaji mempersilahkan saya untuk ikut mengantri mengambil menu makan siang. Lengkap deh siang ini, baru sampai Mango Tree langsung disambut makan siang. Saya tidak mengira akan disambut hangat dalam acara seperti ini. saya mengambil menu makan siang kemudian duduk di kursi yang paling depan. Saatnya santap menu spesial ini.

Pukul 13.10 acara workshop dibuka. Master of Ceremony (MC) membacakan susunan acara. MC juga memberi informasi ada hadiah 2 tiket pesawat pulang pergi untuk satu kali perjalanan menuju destinasi wisata tanah air bagi pemenang live tweet acara ini. Sejak info tersebut sebagian peserta mengeluarkan gadget memulai perbanyak tweet tentang acara yang tengah berlangsung. Tweet nya disertakan @ticksolutions hastag Indonesia Flight. Saya pun ikut live tweet. Pemandangan seluruh peserta yang ikut live tweet udah seperti wartawan yang ikut konferensi pers. Semua pada sibuk mengambil gambar kemudian menuliskan tweet pada gadgetnya masing-masing.

Sambutan dari Mbak Nuniek dari Indonesia Flight. Dari sambutannya itu ada satu poin yang baru saya mengerti mengapa saya bisa ikut acara ini. Mbak Nuniek bilang dalam sambutannya, “Salah satu faktor yang mempertimbangkan kami dalam memilih calon peserta untuk ikut acara Mini Workshop Travel Blogger ini adalah keaktifan calon peserta dalam menulis di blog. Jadi tim kami mengamati satu per satu tulisan blog kalian. Nah kalian yang mai undang untuk hadir disini adalah blogger-blogger yang aktif yang lolos proses seleksi itu.” Saya tersenyum mendengar info itu.  Seperti gak percaya saya bisa terpilih untuk ikut acara. Padahal saya itu nulis masih sering terbawa mood. Saya menganggap ini sebagai hadiah di penghujung tahun 2015.

 

Sambutan selantunya Mbak Marcella, CEO Indonesia Flight menyampaikan,”Indonesia Flight adalah official partner dari tiket.com. Indonesia Flight berdiri sejak bulan Agustus 2012. April 2013, aplikasi Indonesia Flight @IndonesiaFlight selesai dibuat dan bisa di download pengguna Android dan IOS (Appstore). April 2015 Indonesia Flight sampai saat ini berubah menjadi bentuk perseroan PT. Globalnet. Di Indonesia Flight, kami mengadakan promo yang kami sebut flash sale discount. Flash sale discount itu potongan harga tiket dari harga normal. Promo ini disebut promo singkat karena promo ini hanya berlangsung dalam 2 jam. Dalam satu bulan, kami mengadakan flash sale discount ini satu sampai dua kali.”

Ibu Marcella CEO Indonesia Flight sedang menyampaikan sambutan dan Company Profile Indonesia Flight (Sumber : dokumentasi pribadi)

Ibu Marcella CEO Indonesia Flight sedang menyampaikan sambutan dan Company Profile Indonesia Flight (Sumber : dokumentasi pribadi)

Acara yang ditunggu-tunggu tiba. Mini Workshop Travel Blogger bersama Mas Ariev Rahman. Ini kali pertama saya bertemu dengan Mas Ariev. Berikut poin-poin materi yang disampaikan Mas Ariev yang sudah saya ringkas :

Pertama, secara sederhana travel blogger adalah tulisan yang mengenai pengalaman seseorang yang ditulis dalam sebuah media yang disebut blog. Sedangkan menurut Lonely Planet’s penulis buku Guide to Travel Writing menyebutkan travel writing is a good travel article is structured or shapes, like a good short story, with clear beginning, middle, and end. Ada 3 elemen travel blogger, yaitu :  blog, cerita, dan foto.

Kedua, tulisan yang kamu suka di travel blog, yang kayak gimana? Berdasarkan survei bentuk tulisan travel blog yang paling banyak diminati pembaca adalah bentuk tulisan yanh naratif (47%) dan deskriptif kayak yang dimuat di detik.com (22%).

Mas Ariev Rahman menyampaikan materi Travel Blogger (sumber : dokumentasi pribadi)

Mas Ariev Rahman menyampaikan materi Travel Blogger (sumber : dokumentasi pribadi)

Ketiga, langkah-langkah menulis travel blog. Ada bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Bagian pendahuluan; menentukan topik, rinci aktivitas yang dialami, tentukan bagian / aktivitas mana yang akan di eksplore.  Bagian isi : tuliskan cerita sesuai topik yang sudah ditentukan dari awal hingga akhir perjalanan. Awali cerita dengan dialog agar cerita lebih hidup. Atau bisa juga lewat pernyataan singkat. Sehingga pembaca sejak awal membaca blog tertarik membaca tulisan hingga bagian akhir tulisan. Bagian penutup, ingat bagian penutup ini adalah bagian terakhir saat kamu ‘berpisah’ dengan pembaca. Berikan kesan-kesan mu dari perjalanan ini. Bisa juga menuliskan saran mengenai destinasi yang telah dikunjungi.

Salah satu slide yang ditampilkan Mas Ariev mengenai konten travel blog (sumber : dokumentasi pribadi)

Salah satu slide yang ditampilkan Mas Ariev mengenai konten travel blog (sumber : dokumentasi pribadi)

Keempat, mengembangkan cerita lebih hidup; tambahkan dialog (semakin banyak dialog tokoh semakin hidup), buat karakter yang kuat, berikan informasi yang dapat dipercaya (misalnya harga tiket, hotel, biaya pengurusan visa), gunakan dan libatkan panca indra. Mas Ariev juga bilang, “Cerita perjalanan tidak akan pernah basi. Yang basi hanya informasinya karena seiring bertambah waktu informasi juga akan berubah.”

Slide cara mengembangkan Travel Blog (sumber : dokumentasi pribadi)

Slide cara mengembangkan Travel Blog (sumber : dokumentasi pribadi)

Mas Ariev Rahman menutup presentasi dengan ungkapan, “Traveling is to see, while travel blogging is to share.” Disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta. Di luar sana masih turun hujan. Suara air hujan yang mengenai dinding-dinding kaca gedung Epiwalk  terdengar hingga ke dalam ruangan ini.

Acara selanjutnya, pengumuman dua orang pemenang live tweet acara ini yang disampaikan Mbak Nuniek. Semua peserta berharap penuh penasaran. Ternyata pemenang live tweet adalah dari peserta perempuan, Mbak Nita Sellya (@nitasellya) dan Mbak Nindya (eanindya). Para Pemenang tersebut diminta maju dan diberikan hadiah tiket pulang pergi untuk satu kali perjalanan mengunjungi destinasi wisata di tanah air.

Acara Mini Workshop Travel Blogger ini ditutup dengan foto bersama. Setelah foto bersama ini, saya berkenalan dengan beberapa travel blogger seperti Mas Timothy W. Prawiro, Mas Bartian, Mas Salman, Mbak Sonya, dan Mas Wianwee. Kami saling follow twitter masing-masing. Terasa sekali manfaat acara hari ini. Menambah wawasan tentang travel blog dan menambah teman juga. Sebuah momen yang berharga. Berharap semoga kita saling menyemangati untuk terus menulis. Saya berharap bisa bertemu kembali dengan mereka di acara yang berbeda dan di waktu yang berbeda tentunya. Berharap langkah kecil hari ini bermanfaat di kemudian hari.

Foto Bersama dengan seluruh peserta Mini Workshop Travel Blogger (sumber : twitter @IndonesiaFlight)

Foto Bersama dengan seluruh peserta Mini Workshop Travel Blogger (sumber : twitter @IndonesiaFlight)

Sebelum beranjak pulang, peserta mengumpulkan form feedback yang sudah diisi dan menunjukkan aplikasi Indonesia Flight di gadget masing-masing pada panitia yang ada meja tamu sebagai syarat  mendapatkan merchandise berupa goodie bag dan buku note. Wah merchadisenya warnanya merah putih. Seperti warna bendera negara kita.

Terimakasih Indonesia Flight @IndonesiaFlight.

 

Selesai ditulis di Jakarta, 28 Desember 2015.

 

 

 

Menyapa Bukit Gunung Baduy part 2

Sabtu, 5 Desember 2015

Pukul 05.15. Truk berhenti di Terminal Ciboleger. “sudah sampai sudah sampai, ayo turun” terdengar suara panitia saling bergantian. Ku ucap, “Alhamdulillah, akhirnya sampai tempat yang dinanti-natikan.” Baru kali ini naik Truk TNI untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dua sampai tiga jam sebelum sampai terminal ini lambung saya seperti diaduk-aduk dan kepala mulai pusing gak karuan karena guncangan Truk yang berkali-kali. Banyak sisi jalan yang berlubang, berbatuan dihantam dan dilalui dengan kecepatan tinggi. Walaupun sudah menginjak rem, Truk yang melaju dengan kecepatan tinggi tetap membuat Truk ini bergoncang keras berkali-kali bahkan puluhan kali. Dari keadaan yang seperti ini banyak peserta memberi komentar yang beragam. Tapi rata-rata mereka mengeluhkan karena perjalanan menjadi tidak nyaman. Dan yang pasti gak bisa bikin tidur nyenyak merasakan keadaan Truk yang berjalan cukup cepat.  Saya ikut mengeluh, “Ini yang bawa Truk kok ngebut-ngebutan seperti ini. memang gak bisa lebih pelan sedikit. Kalau jalannya lancar, rata, gak ada lubang-lubang besar gak masalah ngebut kencang sekalipun.”

Hari masih gelap. Peserta menuruni tangga Truk dengan wajah bermacam-macam. Tapi sebagian besar apalagi saya yang baru ngerasa naik Truk TNI pasti wajahnya lega dan senang karena sudah ‘bebas’ dari guncangan Truk ini. Awalnya saya mengira tempat Truk kami berhenti ini adalah tempat parkir biasa pada umumnya tempat wisata. Saya amati sekelingnya, ada pertanyaan mengganjal, “Tapi kok banyak Bus-Bus berukuran besar dan sedang memadati tempat ini?.” Ternyata jawabannya saya tahu saat foto-foto bareng Yahya, Helmi, dan Rahmat di depan tugu patung orang baduy bertuliskan Terminal Ciboleger. “Ohh ini terminal. Pantas saja tempat ini dikerumuni banyak kendaraan seperti Truk, Bus, dan angkutan umum.” Saya mengangguk paham.

Para peserta bersiap menjelang dimulainya pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Para peserta bersiap menjelang dimulainya pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Udara yang segar dan keramaian pagi ini seolah menyambut kedatangan kami pagi ini. Setelah turun, saya menuju warung kopi ingin membeli minuman yang hangat. Awalnya ingin membeli air jahe (wedang jahe) tetapi air jahe gak ada. Saya pilih teh manis hangat. Saya menyeruput teh hangat ini pelan-pelan. Saya minum bersama Pak Ismail (dosen mata kuliah Manajemen Pemasaran), Rahmat, Helmi, dan Yahya. Di tempat yang berbeda bersama teman – teman baru membuat pagi ini lebih hangat.  Ada ide “kita foto-foto yuk”, si Helmi langsung mengeluarkan tongsisnya. Kami berfoto-foto di sekeliling terminal Ciboleger dan di depan tugu patung orang Baduy. Saking beberapa peserta pada sibuk foto-foto selfie tidak terasa hari mulai terang. Agenda  sampai jam 07.00 adalah istirahat. Matahari sudah menampakkan dirinya. Keramaian pagi ini di terminal ini menjadi awal dari perjalanan kami menuju kampung suku Baduy dalam.

Para Dosen bersama warga kampung Baduy yang menjadi guide kami (sumber : dokumentasi panitia field Trip to Baduy Unindra 2015)

Para Dosen bersama warga kampung Baduy yang menjadi guide kami (sumber : dokumentasi panitia field Trip to Baduy Unindra 2015)

Foto dulu sebelum melanjutkan perjalanan (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy 2015)

Foto dulu sebelum melanjutkan perjalanan (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy 2015)

07.30. perjalanan menuju kampung Baduy dalam dimulai. Semua peserta berjalan sesuai kelompok yang tertera di kartu peserta. Tiap kelompok ditemani satu guide dari orang Baduy langsung dan ditemani satu orang panitia. Kelompok 1 mulai berjalan diikuti kelompok 2, kelompok 3, dan kelompok 4. Pak Ismail sebelum melakukan perjalanan bilang, “Untuk menuju kampung Baduy Dalam perkiraan perjalanan ini memakan waktu 4-6 jam dengan jarak tempuh 12 s.d 13 Km.” Sebelum berangkat, saya memastikan kembali persediaan air minum yang saya bawa, makanan ringan yang saya bawa, dan merapikan posisi ransel agar seimbang, tidak berat sebelah. Prinsipnya gak mau merepotkan orang lain. Sebagian peserta sebelum berangkat membeli tongkat berukuran 1 meter lebih untuk penyanggah dan membantu keseimbangan kaki melewati jalan yang terjal. Ketika di dalam perjalanan ini saya juga melihat beberapa peserta yang memakai tas Carrier (tas yang dipakai para pendaki gunung). Suara derap sepatu terdengar bergantian. Jalan setapak yang kami lalui masih terlihat basah dan lembab. Sepertinya kemarin turun hujan disini.

Peserta berjalan mengikuti jalur setapak di suasana pagi hari (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Peserta berjalan mengikuti jalur setapak di suasana pagi hari (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Dua kilometer pertama jalan setapak yang kami lalui berupa bebatuan bertingkat-tingkat. Bentuk jalannya menanjak namun tidak tajam. Samping kiri dan kanannya berderet pohon-pohon besar dan tinggi. Disini kami melewati tiga perkampungan penduduk yang rumahnya semua sama bentuknya, yaitu rumah panggung. Seluruh tiang pondasi dan atapnya terdiri dari kayu dan bambu. Semua peserta melangkahkan kaki mengikuti alur jalan setapak yang kian memanjang. Keringat setetes demi setetes mengalir bersamaan dengan kaki yang melangkah. Semakin lama semakin deras. Bagi saya ini bagian yang seru dari proses pendakian. Semua tubuh bekerja seirama. Mata melihat ke atas lebih lama dari biasanya. Kaki yang terus melangkah lebih jauh dari biasanya. Pundak yang menanggung beban lebih berat dari biasanya. Lisan yang lebih banyak diam dari biasanya. Hati yang merendah karena betapa hebatnya kuasa Allah dalam menciptakan alam raya ini.

Pagi yang berbeda. Melewati pagi dengan langkah bersama menyusuri hutan dan bukit menjadi bagian dari perjalanan ini. Semua peserta merasakan hal yang sama. Rasa lelah yang mendera memaksa kaki untuk terus melangkah, rasa sabar dan saling pengertian dikala menunggu teman yang sedang beristirahat, padahal rasa ingin cepat sampai tujuan lebih cepat yang sudah menyelimuti ego diri terkalahkan dengan persepsi, “disini kami tidak mencari siapa yang tercepat sampai puncak atau tujuan yang kami tuju, disini yang kami cari adalah rasa kebersamaan, kepedulian, dan kerja sama tim.” Perjalanan mendaki gunung Baduy ini tidak bisa dibilang perjalanan santai. Perjalanan yang butuh kesiapan mental, menurunkan ego sementara untuk memilih mengerti kondisi satu dengan yang lainnya. Memilih berbagi tenaga juga berbagi semangat.

Peserta di dalam proses pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Peserta di dalam proses pendakian (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Peserta menyusuri jalur menanjak (sumber : dokumentasi pribadi)

Peserta menyusuri jalur menanjak (sumber : dokumentasi pribadi)

Menuju kampung Baduy Dalam kami tidak hanya melewati jalur yang menanjak. Bisa dibilang hampir seimbang antara jalur menanjak dan jalur menurun. Memang kenyaatannya kami melalu proses keduanya. Satu saat kami melalui jalur menanjak tinggi meskipun tidak curam. Pada saat yang berbeda kami melewati jalur menurun cukup jauh. Ada yang unik yang saya temui dibagian proses jalur menurun yaitu setiap jalur menurun pasti ada sungai kecil yang kamu lalui. Selalu begitu. Di saat inilah sepatu kami mau tidak mau basah. Dan basahnya sepatu itu membuat sepatu lebih licin. Kemungkinan terpeleset lebih besar. Ditambah lagi di sekitar sungai kecil itu dikelilingi lumut-lumut tebal. Jadi mesti ekstra hati-hati. Bagi saya bagian terberat dari pendakian ini adalah saat melalui jalur yang menurun. Karena memang benar kata kebanyakan pendaki bahwa menurun dari gunung adalah bagian yang akan membutuhkan energi lebih besar dibanding ketika menanjak. Yang saya pahami proses menuruni jalan setapak itu butuh kesiapan otot kaki yang kuat dan keseimbangan menahan beban berat dipundak. Disini saya jatuh satu sampai dua kali saat melalui jalur menurun ini. Tidak ada luka serius. Paling malu aja jadi bahan tertawaan teman-teman yang bareng mendaki.

Hari sudah siang. Matahari sudah memancarkan panasnya. Semuanya peserta sudah beristirahat berkali-kali. Istirahatnya juga sederhana seperti, duduk meluruskan kaki, menyenderkan pundak di gundukan tanah atau pohon besar, sambil meneguk air aqua, dan melepaskan ransel berat yang ada di pundak. Disinilah letaknya kebersamaan. Lelah bersama untuk mencapai tujuan yang diingini bersama. Semilir angin yang mengenai wajah juga tubuh dan pohon-pohon besar disekitar kami beristirahat membuat kami sejuk di tengah hari ini. dalam pendakian di gunung Baduy ada yang unik disini pedagang air minum mengikuti jalur kami berjalan. Setiap diantara kami beristirahat, pedagang tersebut ikut istirahat dan menawarkan air minum yang akan dijualnya. Si pedagang ini menjual minuman dingin seperti aqua botol, Mizone, Pocari Sweet. Dia mengangkut barang tersebut sendirian dari bawah (terminal Ciboleger) hingga naik ke puncak gunung Baduy dan berlanjut ke kampung Baduy dalam. barang yang dijualnya dimasukkan dalam dua ember ukuran besar dan diangkut dengan kayu dipundaknya. Kebayang gak lelahnya? Jadi siapapun yang akan mendaki gunung Baduy ini gak usah takut kehausan. Ada abang yang jualan air hehehe. Terus juga bukan cuman ada si abang yang jualan air minum. Tapi disini, sejak awal pendakian ada bapak-bapak, remaja, dan anak-anak yang tinggal di sekitar kampung Baduy yang menawarkan jasa angkut tas sampai tujuan kampung Baduy dalam. Biaya relatif murah Rp 25.000,- sampai dengan Rp 35.000,- dengan jarak tempuh 12 kilometer.  Saya menghirup nafas lega melihat kampung Baduy Dalam sudah di depan mata. Mata yang berbinar t tidak menyangka kami akhirnya sampai juga ke tempat ini. Senyuman yang merekah menghiasi wajah kami siang ini.

 

Selamat datang di Kampung Baduy Dalam.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 21 Desember 2015

 

Dalam Perjalanan ke Baduy Part 1

Jumat, 4 Desember 2015

Field Trip to Baduy 2015 Prodi Ekonomi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) dimulai.  Meeting Point di Loby kampus Unindra Rancho pukul 20.00. Malam ini saya mengenal teman baru yang akan menemani perjalanan ini. Ada Yahya, Rahmat, Helmi, Rika. Mereka semua adalah mahasiswa semester 5 reguler pagi. Kalau dengan Yahya, saya sudah mengenalnya ketika ada kegiatan abdimas Unitas Ekonomi di CCE (Charity Children Educatiaon) Community Kebagusan Jakarta Selatan. Dimana waktu itu saya masih aktif di komunitas CCE. Bersama mereka, kami menuju meja panitia untuk mengisi form registrasi dan diberikan kartu peserta observasi Antropologi. Di halaman depan kartu peserta berisi nama peserta dan nama kelompok. Di halaman belakangnya berisi rundown kegiatan observasi. Di meja panitia saya juga bertemu dengan Raihan, ketua panitia observasi ini. Dia memberitahu kami keberangkatan jam 22.00.

Pukul 21.30. Seluruh peserta, panitia, dan dosen berkumpul di halaman depan kampus. Semua berbaris memanjang ke belakang berdasarkan kelompoknya masing-masing yang sudah dibagi oleh panitia. Bapak Nandang (dosen mata kuliah Antropologi Unindra) membuka acara ini dengan memberi sambutan yang isinya harapan agar setiap peserta dapat mengikuti kegiatan observasi ini dengan baik, mematuhi tata tertib yang sudah diberikan, serta dapat kembali lagi dengan keadaan yang baik pula. Sambutan beliau ditutup dengan memandu seluruh peserta untuk berdoa sebelum keberangkatan. Kemudian panitia memanggil satu per satu peserta agar segera menaiki Truk. Peserta satu per satu dipanggil diberi arahan untuk menaiki Truk yang sudah ada di depan jalan raya Rancho.

Pukul 22.00. 2 Truk berjalan menuju Baduy, Kab Lebak Banten. peserta dari mahasiswa dan dosen berjumlah 100 orang. Lampu Sirene dinyalakan. Truk yang kami naiki adalah Truk TNI  yang kami sewa dari Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Perjalanan dengan Truk TNI menjadi pengalaman pertama bagi saya. Suasana di dalam Truk cukup ramai. Suara deruan mesin Truk ini seperti kalah dengan suara sebagian besar diantara kami yang pada asyik ngobrol. Malam ini cukup cerah. Jalan juga lancar. Saya duduk di paling pojok belakang kanan bangku Truk terpisah dari Yahya dkk.

Di depan mading kampus Unindra bersama Yahya, Rahmat, Helmi, dan Rika (sumber : dokumentasi pribadi)

Di depan mading kampus Unindra saya bersama Yahya, Rahmat, Helmi, dan Rika (sumber : dokumentasi pribadi)

Para Dosen berfoto sebelum keberangkatan ke Baduy (sumber : dokumentasi panitia field trip to Baduy 2015)

Para Dosen di loby kampus sebelum keberangkatan ke Baduy (sumber : dokumentasi panitia field trip to Baduy Unindra 2015)

Selama perjalanan, mata saya sulit untuk tidur. Padahal melihat malam ini sudah larut dan dini hari sudah menjelang. Seperti menjadi kebiasaan saya,  ketika melakukan perjalanan di malam hari dengan kendaaraan Truk maupun Kereta Api membuat sulit untuk tertidur. 3 bulan lalu juga begitu. Saat melakukan perjalanan ke Semarang dengan  Kereta Api saya mengalami hal yang sama seperti malam ini.  Data Internet di HP sengaja saya matikan. Menghemat battery 2 hari ke depan. Lagipula di Baduy dalam sana kemungkinan besar sinyal tidak ada. Yang saya lakukan malah melihat pemandangan pinggir jalan tol, melihat bulan sabit yang memancarkan cahaya, mengamati jalan raya kota Serang yang sudah terlihat lengang sekali, menikmati semilir angin malam dengan suasana yang hening. Di hari yang sama sebelum keberangkatan ada email masuk ke akun gmail saya yang membuat saya terdiam dan berpikir sejenak. Email tentang agenda di Jakarta pada hari minggu 6 Desember 2015. Berusaha membandingkan mana yang harus saya pilih. Sudah seharian lebih saya mempersiapkan perjalanan ini. Mulai dari meminjam tas ransel dan sepatu dari Pak Sutaryanto (rekan kerja di Kantor). Itu pun dilalui dengan hujan deras yang membuat kemeja saya bagian atasnya  basah saat ke rumah beliau. Ditambah lagi pembayaran perjalanan ini sudah saya lunasi. Saya memutuskan memilih melakukan perjalanan ini. Perjalanan yang membawaku pergi dan menemui teman-teman baruku. Perjalanan yang mungkin disini aku bisa meneduhkan hati, melihat dan mengamati keindahan pelosok bumi pertiwi, mengenal saudara se tanah air yang kemudian bisa saling mendoakan untuk kebaikan bersama.

Para peserta bersiap menaiki Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy 2015)

Para peserta bersiap menaiki Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

 

Dosen, panitia, dan peserta di belakang Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy)

Dosen, panitia, dan peserta di belakang Truk TNI (sumber : dokumentasi panitia Field Trip to Baduy Unindra 2015)

Lalu apa motivasi saya mengikuti kegiatan ini? Informasi kegiatan observasi ke baduy saya terima dari Pak Ismail (dosen Manajemen Pemasaran) 7 hari sebelum keberangkatan. Kesempatan kapan lagi mau ikut ke tempat yang baru, mengenal teman baru, mendapat pengalaman baru? Akhirnya saya memilih ikut perjalanan observasi ini. Kata Mas Ariev Rahman (seorang travel blog http://www.backpackstory.me), “Untuk pemula yang ingin jalan-jalan, rekreasi berlibur ke suatu tempat, maka saran saya mesti punya kemauan, punya waktu luang, dan punya uang.” Tujuan saya sederhana, ingin menambah teman baru, mengenal budaya adat dan masyarakat disana, melihat kebesaran Allah di belahan Bumi-Nya yang lain. Walaupun separuh hatiku tidak bisa berbohong, aku memilih perjalanan ini sendirian tanpa teman satu kelasku.  Karena mengingat itu, aku merasa sedikit sedih. Tetapi separuh hatiku yang lain menguatkan, “dimanapun kaki berpijak, tetap sama seluruhnya bumi Allah. Tidak perlu sedih, takut,  dan khawatir menjelajahi dan mengunjungi suatu daerah, karena hakikatnya langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya adalah milik Allah. Selama niat diri baik dan kita berprilaku baik, orang lain juga akan welcome, respect dan menghargai keberadaan kita.

Lewat dini hari. Sekitar pukul 01.30 Truk kami memasuki daerah Rangkas Bitung sebagian jalannya sedang ada proses perbaikan jalan. Diantar dua sisi jalan (kiri dan kanan), salah satunya ada pengecoran jalan. Jadinya diberlakukan buka tutup jalan. Sepanjang jalan Rangkas Bitung debu tebal dari aspal yang baru dilewati kendaraan mengepul. Cukup tebal debuya. Debunya dapat terlihat dari cahaya lampu kendaraan yang melintasi jalan raya ini. Saya juga kurang tahu apa benar di daerah ini ada tambang pasir? Oh ya Truk TNI kami juga berhenti hampir satu jam. Karena ada buka tutup jalan. Kendaraan yang ke arah Rangkas Bitung dan kota Serang mendapat giliran melintas. Kendaraan yang akan menuju daerah Ciboleger berhenti. Kendaraan yang lewat didominasi oleh Truk-Truk berukuran besar. Ketika Truk kami berhenti cukup lama ini, saya dan sebagian besar peserta tidur. “Akhirnya bisa tidur juga,” gumamku dalam hati. Bulan sabit diatas sana sempurna menemani tidur kami. Pancaran cahanya membuat siapapun yang memandangnya merasa sejuk dan teduh. Suara jangkrik terdengar berirama saling bersahutan.

 

Jakarta, 21 Desember 2015