Monthly Archives: September 2017

Mengayunkan Langkah, Menyempurnakan Ikhtiar

Tujuh bulan terakhir ini (Maret – September 2017) menghantarkan saya pada pengalaman baru. Saya berhasil mengikuti dua program pendidikan dan latihan (diklat). Di sana saya memulai perjalanan untuk mengembangkan potensi diri. Terasa sekali saat-saat di mana semangat untuk belajar itu tumbuh kuat di awal namun seiring berjalannya waktu tubuh dan jiwaku seakan mengerti tentang kelelahan dan kejenuhan. Saya sadar dua hal ini adalah hambatan dalam belajar. Saya sempat bingung mencari solusi dari dua hambatan ini. Saya juga memahami ada saat-saat di mana pikiran dan hati perlu di refresh melalui aktivitas-aktivitas baru seperti melakukan perjalanan ke tempat yang baru yang menghadirkan suasana yang baru.

Motivasi belajar saya seiring berjalannya waktu sempat meredup apabila saya tidak membujuk hati saya agar lebih keras untuk bergerak mengayunkan langkah kaki menuju kampus untuk mengikuti pelatihan hingga tuntas. Satu motivasi yang hinggap di dalam diri saya kala itu adalah saya ingin berhasil maka dari itu saya harus melebihkan usaha di atas rata-rata usaha orang lain.

Apakah nyaman dengan pilihan itu? Apakah cukup sekedar keingian kuat? Jawabannya, tidak. There are no growth ini comfort zone and no comfort in growth zone. Saya setuju dengan ungkapan itu. Tidak ada perkembangan di lingkungan yang kamu anggap nyaman dan tidak ada kenyamanan di dalam zona di saat kamu sedang berkembang. Karena melalui itu saya melawan intuisi untuk merehatkan pikiran di akhir pekan. Karena akhir pekan adalah saat yang tepat untuk merehatkan jiwa dari kesibukan yang membuat penat. Bahwa akhir pekan adalah saat di mana orang-orang mengisinya dengan jalan-jalan, belanja ke Mall, nonton bioskop dengan orang-orang tercinta, dan aktivitas lainnya yang memiliki kesamaan tujuannya yaitu me-refresh diri menghilangkan kelelahan dan kepenatan selepas bekerja saat weekdays.

Memanggil kembali motivasi awal itu yang saya lakukan. Saya memilih jalan ini dan saya menerimanya dengan satu paket risiko di dalamnya. Risiko lelahnya berfikir, risiko uang tabungan yang berkurang, dan risiko ketemu dengan orang tua dan saudara yang berkurang Oleh karena itu dengan tingkat risiko yang harus saya pikul, maka saya berusaha mengikuti pelatihan dengan kesungguhan. Dengan kata lain, saya berani memulai memilih jalan ini, maka sudah menjadi kewajiban saya berupaya konsisten mengikuti pelatihan ini hingga selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh penyelenggara pelatihan.

Ada ungkapan juga, setiap individu adalah hasil dari pengaruh individu-individu yang ada di sekitarnya. Meski begitu, sejatinya dalam diri manusia memiliki filter untuk memilih jalan sesuai kehendak yang ada di hatinya. Ia berhak menolak dan menerima pengaruh dari orang lain. Karena ia sadar bahwa ia memiliki tujuan yang spesifik. Maka ia memutuskan untuk memulai langkah menuju tujuan itu. Tak mengapa, apa yang lakukan kebaikan masih terbilang  kecil namun konsisten. Karena dengan begitu ia sedang membangun ‘batu bata’ yang kelak akan menopang keberhasilan untuk dirinya.

Saya pun salah satu dari individu itu. Saya ingin mengembangkan potensi dan meningkatkan keterampilan dengan belajar sebagai medianya. Karena menurut saya, mengisi akhir pekan untuk aktivitas belajar pun adalah langkah nyata untuk menghargai waktu dan mendekatkan diri menuju cita-cita yang diharapkan. Saya percaya orang-orang yang tak pernah lelah untuk belajar, untuk berbuat kebaikan, Allah akan memberi jalan kemudahan kepadanya untuk menjalani prosesnya hingga tuntas.

2 Pendidikan dan Pelatihan (diklat) yang saya ikuti adalah yang pertama, Pajak Terpadu brevet A & B selama kurang lebih enam bulan (Maret – Agustus 2017) setiap hari Minggu pukul 08.00 – 12.00. Yang kedua, Public Speaking yang diadakan selama 4 kali pertemuan tiap hari Minggu (September 2017) pukul 08.30 – 15.00. Kedua diklat tersebut di selenggarakan oleh Divisi Pendidikan dan Pelatihan Universitas Indraprasta PGRI.

Ada nasihat lama, “ Nak, ketahuilah waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Saat kamu menanam pohon pada 20 tahun yang lalu. Maka hari ini kamu akan menikmati hasilnya. Pohon itu tumbuh besar. Daun-daunnya rimbun membuat teduh orang-orang yang berada dibawahnya. Ranting-ranting yang sudah cukup tua dengan alami berguguran menjadi kayu bakar yang bisa digunakan untuk memasak. Pada musim tertentu pohon itu menghasilkan buah-buah yang segar yang dapat di makan olehmu dan orang-orang disekitarmu.”

“Tetapi saya baru mendengar nasihat itu hari ini. Masih adakah waktu terbaik untuk menanam kebaikan itu?” “Jawabannya, waktu terbaik kedua adalah hari ini. Nak, ingatlah tanamlah kebaikan dan kebiasaan yang baik mulai hari ini. Kembangkan potensi yang ada dalam dirimu mulai hari ini. Lakukan aktivitas yang nyata untuk mewujudkan keberhasilanmu mulai hari ini. Karena kalau kamu lalai lagi, maka waktu akan melesat sangat cepat bagai panah yang melesat kencang dari busurnya.”

Begitulah perumpamaan menanam benih-benih keberhasilan. Di dalamnya terdapat kegigihan, semangat yang kokoh, kemauan yang kuat, disiplin, kesabaran, dan doa.

Rabbi zidnii ‘ilman war zuqnii fahman (Ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku pemahaman atas ilmu tersebut)

 

Jakarta, 25 September 2017

 

 

Advertisements

Senyum yang Mengembang

Aku memulai tulisan ini dengan senyum mengembang…

Hari-hari melelahkan sudah selesai aku lalui. Satu dua dari hari-hari tersebut menyisakan kehangatan di hati. Kehangatan yang dibalut oleh kebersamaan yang penuh warna. Kebersamaan yang selalu dipenuhi keceriaan dan senyum yang mengembang. Semua prosesnya berjalan seadanya mengalir tulus membasuh relung hati ini. Mengeratkan hati yang satu dengan hati yang lain dalam bingkai pertemanan. Menumbuhkan harapan-harapan baru dan menyirami cita-cita yang sudah tersemai sejak lama.

Mereka hadir menemaniku belajar mengembangkan potensi diri. Mendampingiku melalui satu tahapan menuju tahapan berikutnya. Memberi arah agar langkah berikutnya lebih baik dari langkah sebelumnya. Menyisipkan dorongan yang tersirat bahwa semua proses harus dilalui dengan sebaik-baiknya. Membangunkan jiwa agar ia mau bergerak dan berlatih dengan penuh kesungguhan. Aku menemui wajah-wajah yang terpancar dari kebeningan hati. Pancaran wajah yang memberikan keteduhan dan ketenangan.
Saat asa dalam jiwaku bertumbuh, mereka mendampingiku dan mengulurkan tangan membantuku dengan di dasari bahwa bersinergi selalu lebih baik dari pada sendiri. Nyala api dalam jiwaku yang semula kecil kini menyala setidaknya lebih besar di bandingkan sebelumnya. Nyala api ini menerangi hidupku saat ini dan aku selalu berharap nyala api itu terjaga hingga akhir hayat. Nyala api itu menggemakan suara, tidak alasan untuk berhenti belajar dan tidak alasan pula untuk merasa lelah untuk belajar. Setiap kita adalah pembelajar yang memiliki tugas menuntaskan ujian kehidupan yang sudah merupakan sebuah keniscayaan.

Aku merasa perjalanan baru nan panjang sudah menanti di depan mata. Aku menata hati dan aku membuka pikiran untuk membuka gerbang baru di hari yang baru. Membujuk jiwa kembali mengayuh menelusuri perjalanan baru. Ruang untuk bertemu mereka seiring waktu akan berkurang intensitasnya. Namun ku yakin aku akan bertemu dengan teman-teman baru yang akan mengiringi perjalananku berikutnya.

Akan ada hari dimana hatiku dipenuhi oleh kerinduan kepada teman-teman yang pernah berjuang belajar bersama di ruang yang sama. Aku tak tahu cara untuk menangkal rindu yang kian memuncak itu. aku hanya bisa menyebut nama-nama mereka dengan suara yang lirih di suasana yang sunyi melalui doa-doa yang di selimuti kerinduan yang sangat untuk bersua. Hanya dengan itu hatiku bisa merasakan kembali kehangatan dan kebersamaan yang pernah ada dan hinggap di sudut hatiku. Dengan cara seperti itu aku bisa menyapa kembali mereka. Dengan cara seperti itu juga aku bisa melihat bayangan wajah-wajah temanku dengan ekpresi yang beragam dan aku bisa menjejaki setiap jengkal, setiap tapak-tapak yang membekas di waktu yang sudah terlewat. Setiap untaian doa yang terajut indah aku hadirkan untuk teman-temanku semoga pertemuan yang singkat ini menitipkan makna yang terangkum utuh dalam bingkai silaturahmi yang kokoh.

Aku percaya kisah ini akan kokoh dan akan tetap kokoh. Masa lalu bisa pergi meninggalkan kita, tetapi itu tidak berlaku pada kenangan. Kenangan akan selalu ada. Sampai kapan pun. Karena ia sudah menjadi bagian dari hidup yang di jalani seseorang. Pada masa lalu, kita berterima kasih untuk setiap perjumpaan, untuk setiap pertemuan, dan untuk setiap perpisahan. Hadiah dari itu semua adalah sikap yang semakin mendewasa dan kearifan menaruh persepsi mengenai hidup dan kehidupan dari berbagai sisi.

Kawan, perjalanan kita masih panjang. Masih banyak lembaran-lembaran baru yang harus kita isi dengan amal kebaikan, karya, dan prestasi. Maka tugas kita menyelesaikan lembaran-lembaran itu dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 24 September 2017