Monthly Archives: February 2015

Satu Semester Yang Berlalu

Senja mulai datang. Awan sore ini sempurna tertutup awan gelap. Tanda akan turun hujan. Sore ini pula hari Ujian Akhir Semester satu berakhir. Lima bulan berlalu. Cepat sekali. Saat ini yang aku pikirkan adalah mengevaluasi pola belajarku selama satu semester ini. Apa yang perlu diperbaiki dari pola belajar selama semester satu ini? Di sisi lain hatiku puas ada kelegaan bisa mengikuti dan menyelesaikan  ujian dengan baik. Bisa mengikuti perkuliahan dengan lancar. Hambatan pasti ada. Namun aku tetap mampu melewati hambatan itu. Melewati hari-hari yang terkadang melelahkan. Pusing, pikiran penat, lelah bercampur aduk ketika mengawali hari-hari pertama perkuliahan pada malam hari. Memanfaatkan sisa – sisa tenaga selepas pulang kerja untuk menuntut ilmu. Dengan bekal semangat dalam diri, semangat dari orang-orang terdekat, dan teman-teman dekat, serta doa kepada Allah  yang terus aku mohonkan,  aku bisa melewati perjalanan satu semester ini. Kepada Ibu Yayah, saya ucapkan terimakasih memberikan motivasi saya untuk terus kuliah, kepada para dosen S1G yang telah mendidik kami dengan penuh kesabaran dan Bapak Denny (Dosen Penasihat Akademik S1G) terimakasih banyak atas bimbingan dan semangatnya yang diberikan buatku, juga teman-teman S1G terimakasih banyak mendukung, berbagi semangat sudah menemani aku dalam melewati semester ini. Kalian adalah keluargaku di kelas. Aku senang bertemu dan mengenal kalian.

Dalam banyak hal aku bersyukur masih bisa melanjutkan belajar di perguruan tinggi ini. Di usiaku yang sudah menginjak dua puluh dua tahun aku masih memiliki semangat belajar. Ketika melalui proses belajar ini kadang aku jenuh juga. Semangat belajar menurun. Rasa malas yang mendominasi diri. Tetapi ketika melihat teman-teman di kelas, aku menjadi optimis lagi. Kok mereka bisa semangat belajar sedangkan aku tidak? Kok mereka bisa mendapat nilai baik sedang aku tidak? Padahal kan aku dan mereka memiliki kesempatan yang sama. Pertanyaan itu yang memicu aku untuk terus menyemangati diri ketika aku jenuh. Dalam hal ini aku memahami masalah belajar bukanlah masalah cerdas atau tidaknya seseorang, rajin atau tidaknya seseorang, tetapi masalahnya adalah ada kemauan apa tidak untuk belajar. Kemauan itu yang kemudian menggerakkan seseorang mencintai setiap proses dalam perkuliahan. Tidak peduli betapa banyaknya hambatan yang dilalui dalam belajar. Selama seseorang memiliki niat yang tulus dan mencintai setiap prosesnya pasti yang didapat adalah kemaslahatan (kebaikan). Kemauan juga yang menumbuhkan pengertian bahwa apapun bentuk kegiatan belajar yang sekarang sedang dilalui di bangku perkuliahan adalah bagian dari ikhtiar mendewasakan diri dan mengembangkan potensi yang ada dalam diri. Tidak ada yang sia-sia selama masih memiliki niat yang baik dan kemauan yang kuat untuk berubah ke arah yang baik. Kini satu semester telah berlalu. Ia memang tidak bisa diulang kembali. Tidak bisa dirubah kembali. Tidak akan bisa. Tetapi aku akan melepaskan satu semester ini dengan ikhlas dan hati yang lapang. Merelakannya pergi dengan menyisakan banyak bahan yang harus di muhasabahi (instropeksi diri). Menjadikannya pemicu agar semester selanjutnya yang akan aku lalui harus lebih baik dari semester sebelumnya. Mengenangnya kembali bersama teman-teman di kemudian hari.

Terimakasih ya Allah untuk kesempatan satu semester yang telah aku lalui ini. Maafkan hamba ketika melaluinya kadang hamba sering mengeluh lelah, tidak sabar dalam setiap prosesnya. Di satu sisi hamba senang sekali masih bisa melanjutkan belajar di jenjang perguruan tinggi. Disisi yang lain aku malu dan sedih ketikasemangat belajarku menurun padahal diluar sana masih banyak anak-anak muda yang lebih cerdas dariku, lebih rajin dariku, yang lebih semangat belajar dariku yang belum memiliki kesempatan belajar sepertiku.

Jakarta, 9 Februari 2015

Pukul 22:58

Kampus Universitas Indraprasta

Kampus Universitas Indraprasta

 

Advertisements

Taqwa

Jumat, 30 Januari 2015

Malam ini saya ingin menuliskan kembali isi khutbah jumat, 30 Januari 2015 di Masjid Al-Ikhlas Komplek Depkes Pasar Minggu. Diawali dengan sebuah kisah, seseorang bertanya kepada khalifah Umar bin Khaththab ra,

“Apa itu taqwa?”

 Umar bertanya, “Apakah engkau pernah melewati jalan yang dipenuhi duri?”

“Pernah”, jawab orang tersebut

Umar kembali bertanya, “Apa yang engkau lakukan ketika melewati jalan yang  penuh dengan duri?”

Orang tersebut menjawab, “Aku akan hati-hati ketika melewati jalan yang berduri itu”

Umar berkata, “Itulah taqwa”

Dari kisah ini dapat dipahami bahwa pengertian taqwa menurut Umar bin Khaththab adalah kehati-hatian. Kehati-hatian agar tidak terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Kehati-hatian dalam bersikap dan berucap. Jangan sampai perbuatan yang kita lakukan mengundang murka Allah. Jangan sampai perkataan yang kita ucapkan menyakiti orang yang mendengarnya. Kehati-hatian inilah yang membuat seorang muslim berupaya dari apa yang dia lakukan dan apa yang  dia ucapkan sesuai dengan nilai-nilai keislaman.

Lalu Ali bin Abi Thalib mendefinisikan taqwa itu meliputi empat hal yaitu,

Pertama, rasa takut kepada Allah. Rasa takut yang melahirkan ketaatan kepada Allah dan rasa takut yang melahirkan usaha untuk menjauhi segala larangan-larangan Allah. Takutnya seorang mukmin menjadikan dirinya akan selalu melakukan kebaikan-kebaikan yang akan mengundang ridha Allah. Kebaikan-kebaikan yang dilandasi oleh keikhlasan dan dilandasi dengan keteladanan (‘ittiba) kepada Rasulullah saw.

Kedua, beramal sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunah.  Dalam Islam amal yang diterima oleh Allah swt harus memenuhi dua kriteria, yaitu ikhlas, memurnikan niat hanya kepada Allah dan mengikuti (ittiba’) contoh Rasullah saw. Inilah yang merupakan konsep amal shaleh dalam Islam. Beramal sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunah, seorang muslim dituntut belajar untuk memahami dan mempelajari Islam lebih mendalam. Dengan belajar akan mengetahui apakah ibadah yang dilakukan sudah sesuai apa belum dengan tuntunan Rasulullah saw.

Ketiga, merasa cukup (qona’ah) dengan apa yang Allah berikan. Sikap qona’ah ini akan tumbuh menjadi rasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Dan bentuk dari rasa syukur itu akan melahirkan ketaatan – ketaatan atas apa yang telah Allah perintahkan kepada kita. Orang yang qona’ah akan selalu puas dan ridha dengan takdir Allah. Tidak sering berkeluh kesah. Tidak membanding-bandingkan dengan kelebihan-kelebihan yang dimiliki orang lain. Dan juga tidak iri dengan takdir kehidupan orang lain.

Keempat, bersiap-siap untuk hari kemudian. Bersiap-siap disini diartikan agar seorang muslim menyiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya untuk kehidupan di negeri akhirat. Al-Qur’an telah menerangkan bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Dari definisi taqwa menurut Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib dapat dibuat empat kesimpulan :

Pertama, luruskan niat seluruh aktivitas yang kita lakukan dari mulai kita bangun tidur sampai kita tertidur kembali niatkan hanya karena Allah. Termasuk tidur kita niatkan karena Allah. Karena dengan tidurnya kita berharap hari esok tubuh kita sehat dan dengan tubuh yang sehat kita bisa melakukan amal shaleh.

Kedua, semangat menuntut ilmu. Mempelajari Islam dengan cara menghadiri kajian di Masjid-Masjid. Banyak membaca buku tentang islam, seperti tauhid, fiqih sunah, sirah nabawiyah dan lainnya. Dengan belajar akan menghindarkan kita dari taklid buta. Beramal hanya dilandasi keinginan ikut-ikutan. Tanpa mengetahui dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunah.

Ketiga, meningkatkan amal shaleh. Memperbanyak amal shaleh dengan shalat sunah rawatib, shalat malam, shalat witir, membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, memperbanyak istighfar (minta ampun kepada Allah), puasa sunah senin –kamis dan lainnya. Dengan memperbanyak amal shaleh sama saja kita sedang menyiapkan bekal untu negeri akhirat.

(Catatan ini dibuat dengan sedikit perubahan)