Monthly Archives: March 2017

Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

chisvvaugam94oi

Hari berganti hari. Setiap manusia memiliki modal yang sama dalam mengarungi kehidupan yaitu waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah swt. adalah amanah agar setiap kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dengan aktivitas kebaikan dan amal soleh. Waktu terus berjalan dan tak akan pernah terulang kembali. Begitulah sifat waktu. Bagi mereka yang mengisi waktu dengan kebaikan dan amal soleh, maka baginya adalah keberuntungan yang besar. Bagi mereka yang lalai, tak mau sadar diri, tak mau memahami makna dan tujuan dari kehidupan itu sendiri, maka kerugian kelak di dapatkannya.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan yang sama yaitu berawal dari seorang bayi lalu anak kecil, remaja, lalu dewasa hingga menjadi orang tua. Kita pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Kita membangun dan mengembangkan potensi diri dari dasar. Sama-sama merasakan ujian kehidupan terutama di saat kita beranjak remaja, dewasa, dan kelak menjadi orang tua. Karena hakikatnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya. Selama proses ujian kehidupan berlangsung ini, setiap orang memiliki pilihan hidup yang ditempuh olehnya. Ada yang tetap tegar dan cepat bangkit di saat cobaan hidup menerpanya. Baginya manusia yang baik adalah manusia yang mau bangkit dari segala macam keterpurukan yang menimpanya. Saat dia jatuh, di memilih untuk bangkit. Saat dia jatuh lagi, dia bangkit lagi. Begitu seterusnya. Ada juga yang memilih untuk pasrah, patah semangat, berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, putus harapan, dan memelihara rasa kecewa yang pada akhirnya dia akan merasakan dampak dari sikap yang telah ia pilih. Karena sejatinya, kebaikan atau keburukan yang kita tanam, hasilnya kelak diri kita sendiri yang merasakan.

Kesempatan untuk menjemput masa depan yang cerah akan terus terbuka selama diri kita mau berjuang membela dan memperjuangkan cita-cita. Kesempatan itu datang dengan satu paket yang di dalamnya terdapat tantangan, kompetisi, pengorbanan, kesungguhan tekad, dan kerja keras. Kadang kita merasa lelah, kadang kita bersemangat, kadang kala kita bosan, kadang kala kita jenuh. Namun begitulah roda kehidupan. Semua berputar dan kita akan merasakan pada titik tertentu sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan titik kejenuhan dan titik kelelahan. Pada saat kondisi seperti itulah, motivasi diri kita di uji. Seberapa tulus kita melewati tahapan proses untuk memperjuangkan cita-cita kita. Seberapa besar kesungguhan kita untuk terus bergerak dan berupaya mewujudkan impian yang menjadi harapan kita. Apakah kita memilih terbuai dalam titik kejenuhan dan titik kelelahan itu sehingga kita lalai, putus asa, dan melupakan tujuan dari akhir perjalanan yang kita pilih? Apakah kita memiliki cadangan kesabaran yang cukup untuk memilih berhenti sejenak beristirahat sambil mengumpulkan energi-energi baru yang ada di sekitar kita dan setelah di rasa cukup, kita melanjutkan perjalanan pelan-pelan namun konsisten untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal perjalanan kita?

Masalah kehidupan yang kita hadapi saat ini kadang kala merupakan bagian masalah yang pernah kita alami di masa lampau namun masalah itu belum tuntas  kita selesaikan. Atau bisa juga masalah yang datang itu merupakan masalah yang baru dan berbeda namun intinya (poin pembelajarannya) sama dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. Karenanya, bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang lebih tua usianya dan memiliki prinsip hidup yang terarah adalah sebuah keharusan. Masalah yang pernah kita hadapi saat ini di usia muda, mereka pun pernah menghadapi dan mereka berhasil melewatinya. Ungkapan, orang yang lebih tua dari kita sudah ‘memakan asam garam’ kehidupan. Artinya orang tua yang lebih tua usianya dari kita, ia lebih berpengalaman melewati getir, pahit, dan manis dari kehidupan. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dan mereka menjadi tempat yang tepat untuk kita bertanya, berdiskusi, dan meminta nasihat.

Kita bertanya untuk mendapatkan pilihan-piliihan jalan mana yang terbaik dari sekian banyak pilihan-pilihan yang ada. Kita bertanya untuk menemukan pencerahan dan menyalakan api optimis hidup dalam diri kita. Kita meminta nasihat untuk mendapat arahan yang jelas termasuk konsekuensi yang harus kita tempuh pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

Perjalanan hidup yang sudah kita lalui hingga hari ini menjadi proses pendewasaan dan mental diri kita. cara berfikir kita berkembang semakin luas wawasannya, emosi kita lebih mudah kita kendalikan, cara bertutur kata kita perhatikan agar tidak menyakiti orang lain, sikap toleransi kita tumbuh dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan dari kita, dan kita semakin menghormati dari kemajemukan yang ada.

Dari jejak-jejak yang sudah kita lalui, kita mulai merasakan bagaimana kesabaran kita ditempa, bagaimana mensiasati suatu keterpurukan, bagaimana melewati masa-masa sulit di tengah himpitan kehidupan dari berbagai arah, bagaimana kita mencari dan menemukan pelita hati untuk kembali bersemangat dari orang-orang yang tulus mencintai kita, bagaimana cinta orang-orang yang menyayangi dan peduli pada kita sehingga energi positif tersebar dalam diri kita. Semua pengalaman hidup itu menjadikan iman terus bertumbuh dan semakin menyala. Semua pengalaman hidup itu menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama kita akhirnya tahu sahabat dan orang yang mencintai kita dengan sangat tulus selalu mengingingkan kita berhasil, mengingingkan kita bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Persahabatan itu akan tetap ada dan akan terus terpelihara dalam balutan senyum yang mengembang, ungkapan sapa yang menghangatkan, dialog yang mengundang tawa, serta nama-nama yang terangkai dalam doa-doa yang panjang. Pada akhirnya, pengalaman hidup yang telah kita lalui menjadi cerita tersendiri yang tersimpan rapi dalam hati dan ingatan kita. Kelak kita bisa membagikan cerita-cerita itu kepada anak dan cucu kita sebagai motivasi dan inspirasi.

Pada saat-saat tertentu, kita perlu melakukan perjalanan melihat kekayaan alam dan melihat realitas sosial. Kita perlu mengajak hati kita rehat sambil memandangi pohon-pohon yang menghijau dan rimbun di sepanjang jalan raya, melihat anak-anak kecil bermain, berlari dan tertawa dengan riangnya,  menatap wajah para pekerja yang sudah terlihat lelah selepas pulang kerja, berlumuran keringat di kening dan tubuhnya namun matanya masih menyala dan menyimpan mutiara harapan-harapan, atau menyaksikan seorang anak yang masih belia sudah memiliki rasa peduli bagi sesamanya, karena ia sadar dari harta yang ia miliki, sebagiannya ada hak orang lain yang harus ia berikan. Atau menyaksikan anak-anak remaja bermain musik sambil bernyanyi di sore hari di dalam angkot (angkutan umum) menghibur para penumpang yang hendak pulang bertemu keluarga tercinta. Mereka bernyanyi dengan niat menyambung hidup dan untuk meringankan beban orang tuanya dalam membiayai ia bersekolah. Ia tidak peduli tatapan sinis beberapa penumpang angkot kepadanya, ia tak ambil pusing persepsi orang yang menilai mengamen adalah pekerjaan yang di pandang sebelah mata. Ia tahu betul dan sadar sekali, ini bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal dan cara ia survive agar ia tetap bersekolah. Melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang membuat kita memiliki pemahaman yang utuh dan benih-benih kepekaan sosial tumbuh. Faktanya ketimpangan dan kesenjangan sosial di kota-kota besar sangat tinggi. Melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita, rasa empati kita dengan sesama akan semakin terasah. Rasa kepekaan semakin bertumbuh dan melunturkan sikap ego. Akal pikiran kita mencari solusi. Hati mendorong diri untuk memberi. Pemberian yang tulus bagi kita menjadi sangat berarti bagi mereka.

Kita dapat berkontribusi dan melakukan perubahan. Karena itu perubahan harus di mulai dari diri sendiri, dari yang ringan yang kita bisai, dan dimulai dari saat ini juga.

 

Jakarta, 05 Maret 2017

Advertisements