Monthly Archives: January 2016

Rindu di Penghujung Senja

Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper). Temanya STORY BLOG TOUR PART 2.
Setiap  member yang sudah diberi urutan menulis melanjutkan cerita sebelumnya .
Saya Imron Prayogi mendapatkan giliran untuk membuat episode tujuh dalam serial STORY BLOG TOUR PART 2 ini.

 

 

Hari semakin sore. Terik matahari perlahan menghilang. Berganti cahaya kemerahan-merahan berpadu warna emas langit sore ini. Gumpalan awan sudah tidak nampak lagi. Angin sore itu menerpa dua orang yang sedang duduk di depan teras surau itu.

“Ini Pak, foto ibu saya Pak. Sebelum Ibu saya wafat, beliau berpesan,  “Pergilah ke dusun ini dan temuilah orang yang selama ini kamu cari. Orang itu adalah ayahmu. Sampaikan permintaan maaf dari Ibu kepada Bapakmu selama ini ibu belum bisa berbakti kepada suaminya.”

“Aku ingin menemui orang itu sebagai bukti baktiku kepada ibuku. Pesan itu menjadi wasia bagi saya. Bahwa wasiat itu adalah amanah bagi saya yang mesti saya tunaikan. Aku sangat merindui ayah. Sejak dulu, saat saya masa kanak-kanak, saat saya tumbuh remaja… rasa rindu itu masih tetap sama. Tidak pernah berkurang sedikitpun. Bantu aku Pak, mencari dan menemui orang itu. aku mohon…” ucap Karman dengan wajah penuh harap.

Kardi menerima foto dari anak muda tersebut dengan tangan bergetar. Itu adalah foto pernikahan dirinya dengan Marni. Matanya menghangat.

Marni… ucapnya lirih.

Sempurna sudah rasa rindu dan sedih menyatu dalam diri Kardi. Luka lama yang sudah dibalutnya dengan rapi sekarang menyeruak berubah menjadi rindu yang sangat mendalam. Cepat sekali. Orang yang selama ini dicintainya telah berpulang untuk selama-lamanya.

“Marni…. ibumu…. “ suara Kardi tertahan. Nafasnya menjadi tidak beraturan.

“Dia adalah ….. istriku. Foto yang kamu tunjukkan ini adalah foto pernikahan bapak dengan ibumu.” Tubuhnya langsung memeluk anak muda yang ada dihadapannya berucap lirih,

“Nak, akulah orang yang selama ini kamu cari. Akulah ayahmu. Maafkan ayah selama ini membiarkan kamu dan ibumu menderita. Maafkan aku tidak mendampingimu dan mendidikmu sejak kamu masih kecil.”

Karman pun memeluk erat tubuh orang tua yang baru ia tahu bahwa orang tua itu adalah ayahnya. Air mata Karman kian menderas. Ada rasa bahagia dan haru yang kini hadir di hatinya. Rindu bertemu ayahnya sore itu menjadi kenyataan.  Rasa lelah yang menderanya membuahkan hasil sesuai dengan harapannya.

***************

Dua puluh tahun yang lalu.

Kejadian ini bermula dari kecelakaan yang menimpanya saat ia sedang mengendarai mobil. Kecelakaan yang membuatnya harus dirawat berbulan-bulan bahkan hampir genap satu tahun. Saat itu hari-harinya dilalui dengan resah. Bukan hal mudah menerima kenyataan pahit seperti itu. Ia yang sebelumnya bisa beraktivitas dengan penuh enerjik dan cekatan berubah menjadi seseorang yang terbaring lemah dengan luka-luka di rumah sakit dengan waktu yang lama.

Pada bulan kesebelas, Kardi diperbolehkan rawat jalan. Ia sudah diberikan izin untuk pulang oleh dokter. Hatinya berbunga-bunga mendengar kabar baik itu. bibirnya seketika tersenyum lebar. Begitu pun dengan Marni. Marni jadi lebih semangat merawat Kardi di rumah. Kardi dan Marni saling menatap dan tersenyum lebar.

Tiba di rumah. Kardi mengingat seseorang yang telah banyak membantunya saat dirinya dirawat di rumah sakit. Pak Ilham namanya. Segera dirinya mengetik dan mengirim sms kepada Pak Ilham memberi kabar ia saat ini sudah memberi diberi izin oleh dokter untuk rawat jalan. Ia sudah kembali ke rumah.

Pak Ilham adalah orang yang pertama menolong dan membawa dirinya ke rumah sakit saat kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Dari Pak Ilham dia mendapat nasehat untuk terus sabar, untuk terus optimis, untuk terus berdoa. Usia pak Ilham empat puluh lima tahun. Dia adalah seorang guru agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri. Dia yang mengajari tata cara shalat dalam kondisi sakit. Sesekali dia dan istrinya menjenguk Kardi sekaligus membawakan buku-buku Islami seperti Qishatul Anbiya (Kisah Para Nabi) Karya Imam Ibnu Katsir dan  Laa Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni.

“Pak Kardi, sirami jiwamu dengam memprioritaskan perintah Allah kapan pun dan dimana pun. Dengan begitu Allah akan menjaga dan merahmatimu. Diriwiyatkan Imam Tirmidzi  dan Imam Ahmad dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah sawa bersabda : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.”   Dengan begitu Allah akan membimbingmu menuju jalan-jalan kebaikan, serta mencegahmu dari segala keburukan.” Pesan Pak Ilham saat menjenguk Kardi di rumah sakit.

Pagi hari Kardi bangun dengan wajah semangat. Ia merasa lebih baik setelah rawat jalan ini. Emosinya juga lebih stabil. Energi positif hadir di rumahnya dan membuat ia juga lebih optimis. Mentalnya untuk sembuh kian menguat. Kaki dan tangannya sudah bisa digerakkan walaupun masih sangat kaku.

Ternyata bahagia yang dirasakan Kardi hanya sebentar. Pagi itu strinya meninggalkannya sendirian. Ia sekuat tenaga menahan Marni agar tidak pergi. Tetapi semua itu percuma. Marni tetap bertekad pergi entah kemana .Tanpa memberi kabar mau kemana dan kapan akan kembali. Hatinya tidak kuat menerima kenyatan ini. dan dia merasa tidak akan pernah kuat ditinggalkan istrinya yang sangat dicintainya. Mentalnya menjadi lemah dan jatuh.

Pagi itu sinar matahari menerpa wajah Kardi yang sendu. Raut sedih di wajahnya mengisyaratkan betapa dalam luka yang menggores hatinya. Saat itu juga jatuh terduduk untuk ke sekian kali. Semangat hidupnya hancur luluh lantak menerima kenyataan pahit. Berkali-kali mengusap wajah dengan kedua tanganya dengan isak tangis yang kian sesak. Goresan lukanya menyisakan murung dan tak ada gairah semangat hidup lagi di wajah Kardi.

Sore hari saat Kardi  duduk di sofa ruang tengah terdengar seseorang mengetuk pintu. Apakah itu kau Marni?

Bukan. Tamu itu bukan Marni. Tamu itu adalah Pak Ilham. Pak Ilham sendiri datang mengunjungi Kardi. Kardi mempersilahkan Pak Ilham masuk ke rumahnya. Kardi berusaha tersenyum dan menyembunyikan wajahnya yang sedih seolah-olah semua baik-baik saja. keduanya saling berbincang-bincang membahas kesehatan Pak Kardi.

“Bila Pak Kardi butuh biaya untuk biaya chek up berkala dan obat-obatan, Bapak bisa hubungi saya. Pak Kardi tidak perlu sungkan. Pak Karman tidak pernah saya anggap orang lain dalam kehidupan saya. Pak Kardi sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri. Bila Pak Karman butuh cerita, maka ceritalah, saya siap mendengarkan semuanya.”

Hati Kardi terenyuh mendengar kalimat itu. Ia tahu Pak Ilham adalah orang yang membuatnya mengenal Allah lebih dekat. Dia adalah orang yang saleh dan tulus membantu siapa pun. Maka dengan suara bergetar,  Kardi menceritakan kesedihan yang melandanya pagi tadi. Satu-dua dia terdiam cukup lama saat menceritakan itu. Pak Ilham mendekat duduk disamping Pak Kardi mencoba menenangkan. Membiarkan Kardi meluapkan semua yang dirasakannya.

“Pak Kardi, bersabarlah dan jangan pernah berputus asa. Jadikan kesedihan hari ini menjadi cermin yang menasihati langkah. Hidup itu seperti kapal yang mengarungi di lautan. Kita tidak pernah tahu, kapan dan dimana gelombang laut itu membanting kita, membanting seluruh kehidupan kita. Membuat kita lumpuh akan mimpi-mimpi kita dan melenyapkan semangat hidup kita. Membuat kita jatuh terduduk.” Ucap Pak Ilham dengan wajah prihatin.

“Jadikan kesedihan, duka, luka hari ini sebagai modal untuk menjadi pribadi yang kuat di masa mendatang. Jadikan hal itu agar Pak Kardi kembali taat, tidak lemah sedikit pun. Tidak memilih jalan yang lain. Apa gunanya sedih dan luka tapi tidak membuat kita lebih tunduk kepada Allah Yang Maha Menghendaki. Tidak membuat kita kuat mengatasi rongrongan hawa nafsu. Tidak memmbuat kita tangguh dalam menghadapi lingkungan yang mendesak kita kepada jurang dosa. Yuk, mari sikapi masalah hari ini bersama-sama. Pak Kardi harus tetap semangat, harus tetap optimis, harus tetap ceria, dan harus melanjuti kehidupan ini dengan gagah.”  Pak Ilham dengan mencoba menenangkan.

Sejak hari itu Kardi pindah di sebuah rumah yang berdekatan dengan rumah Pak Ilham. Kardi menjual rumah lamanya. Uang dari hasil menjual rumah lama miliknya itu dipergunakan untuk membeli rumah yang sekarang di tempatinya. Dia tidak sampai hati melanjuti hidup di rumah lamanya. Karena di rumah lamanya itu seperti bayangan Marni selalu menghampirinya. Setiap sisi rumahnya membuatnya teringat dengan Marni. Membuatnya tidak bisa move on dari kesedihan dan luka lamanya. Dia bekerja di rumah Pak Ilham sebagai tukang rawat kebun. Malamnya dia belajar membaca Al-Qur’an dari Pak Ilham.

3 tahun kemudian. Pak Ilham dan keluarga pindah ke pulau seberang. Dia ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan untuk mengajar disana. Sebelum berangkat Pak Ilham berpesan kepada Kardi.

“Ini saya menintipkan uang untuk membangun surau. Tanah lapang yang ada di depan rumah saya adalah tanah milik saya. Saya minta tolong Pak Kardi yang saya tunjuk sebagai ketua panitia pembangunan Surau tersebut. Dan ini saya berikan surat perijinan dari Pak RW dan Pak Kepala Desa. Mereka sudah memberikan izin untuk pembangunan Surau.” Pak Ilham memberikan uang  senilai seratus juta rupiah dan berkas perizinan pembangunan Surau.

Baik Pak Ilham. Saya akan menjalankan amanah pekerjaan ini.” Kardi menerima uang tersebut. Wajahnya agak terkejut tapi dia berusaha bersikap tenang.

Enam bulan selesai pembangunan Surau itu. Kardi berusaha melaksanakan amanah dari Pak Ilham dengan penuh tanggung jawab.

***************

Dua orang di teras Surau itu memiliki perasaan yang sama. keduanya sedang berbahagia. Keduanya sudah menemukan orang yang dicintai sekaligus dirindui selama ini. Waktu yang menjawab doa dua orang itu menjadi kenyataan.

“Anakkku, maukah kau tinggal bersamaku. Menemani di sisa-sisa hari yang ku miliki. Mendampingi orang tua sepertiku ini?”

Dengan senang hati a…yahku. Ayah, hari ini aku pulang ke rumah ini, ke hati ayah.” ucap Karman sediki bergetar.

Keduanya kembali tersenyum. Benar sekali, sejauh-jauh diri kita pergi. Tetap kita rindu akan pulang. karena di sana letih terobati. Karena di sana tempat kita berteduh dari segala kepenatan dunia. karena di sana ada orang tua yang selalu memberikan rasa nyaman dan kita merasa terlindungi oleh mereka.

Selesai.

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 31 Januari 2016

Advertisements

Satu Hari di Kampung Baduy

Pemandangan rumah kampung Baduy

Pemandangan rumah kampung Baduy (dokumentasi : Imron)

Tulisan ini dibuat melanjuti dua cerita sebelumnya :

1.Dalam Perjalanan ke Baduy (Bagian 1)

2. Menyapa Bukit Gunung Baduy (Bagian 2)

Sampai di kampung Baduy dalam hari sudah siang. Kami disambut pemandangan warga penduduk baduy  dan rumah-rumah panggung yang berderet rapi sepanjang jalan.  Suara deras sungai juga mengiringi langkah kami memasuki kampung ini. Kami duduk di teras rumah penduduk sambil menyandar dan meluruskan kaki. Saya menghela nafas dalam. Lega sekali sudah sampai tempat yang menjadi tujuan kami. Mencoba menormalkan kembali helaan nafas. Siang itu diwarnai wajah-wajah lelah dari seluruh peserta.

Panitia segera membagi kelompok yang akan menempati rumah warga. Satu rumah diisi belasan peserta.  Disini kami akan bermalam. Ini kali pertama bagi saya memasuki rumah panggung dimana seluruh bahan bangunan ini terdiri dari bambu dan kayu. Di dalamnya tidak ada lampu listrik. di setiap ruangan ada botol-botol kaca yang berisi madu hutan. madu itu untuk dijual kepada pengunjung yang datang ke kampung ini. Hanya ada tumpukan kayu bakar dan sepasang batu berukuran setengah meter di atasnya ada panci untuk memasak. Pintu rumahnya berupa bambu-bambu yang saling berukiran. Disini kami berteduh dari panasnya matahari siang ini.

Sore hari datang.  Agenda sore ini adalah diskusi peserta dengan pimpinan suku Baduy. Diskusi ini dilaksanakan di sebuah lapangan. Semua peserta berdiri mendengarkan sambutan dari tokoh masyarakat suku Baduy. Beberapa tokoh masyarakat Baduy ini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan baik. Berbeda dengan sebagian besar masyarakat baduy yang kami temui masih belum bisa berkomunikasi dengan bahasa sunda. Mereka masih berkomunikasi dengan bahasa sunda. Ini yang menyebabkan komunikasi kami dengan mereka kurang lancar.

Setelah sambutan-sambutan dari tokoh masyarakat, dibuka forum tanya jawab. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan. Saat diskusi ini gerimis turun. Beberapa buku yang dibawa peserta untuk membuat catatan basah. Semakin lama gerimis berubah menjadi hujan ringan. Melihat kondisi seperti ini, Ibu Junita (dosen mata kuliah Antropologi) berinisiatif menutup forum diskusi ini setelah forum tanya jawab selesai tentunya. Walaupun bisa dibilang forum diskusi sore ini sangat singkat namun tetap kami mendapat informasi mengenai budaya masyarakat suku Baduy ini.

 

Sungai yang jernih mengelilingi kampung Baduy (dokumentasi : Imron)

Sungai yang jernih mengelilingi kampung Baduy (dokumentasi : Imron)

Pemandangan sore yang mengesankan. Gerimis yang membasuh kampung ini, udara sejuk yang sangat terasa, dan air hujan yang membentuk genangan disana sini membuat saya tertegun. Semua berjalan dengan penuh keseimbangan. Tidak ada suara bising kendaraan bermotor. Tidak ada suara musik. Matahari diatas sana sempurna tertutup awan kelabu. Kami tidak bisa menyaksikan matahari terbenam.

Hari sudah semakin sore. Saya berbincang-bincang dengan beberapa dosen mengenai perjalanan pagi hingga siang hari saat menuju tempat ini.

“Semestinya tadi pagi sebelum berangkat panitia mengadakan senam bersama dengan peserta sebagai proses pemanasan. Agar tubuh peserta tidak kaget merespon perjalanan sangat jauh ini. ini menjadi bahan masukan saat evaluasi panitia,” Ibu Deta memberikan ide.

Saya menggangguk. Menyetujui ide itu. senam pagi itu tetap dibutuhkan untuk memulai aktivitas yang berat yang menguras banyak energi.  Minimal setelah senam, otot kaki dan tangan lebih siap untuk menempuh jalan kaki sejauh kurang lebih 12 km seperti tadi pagi. Perjalanan yang tidak bisa dibilang ringan, mengingat trek/ jalan beragam. Sebagian besar trek yang kami lalui menanjak.

Sore itu saya dan sejumlah dosen duduk di depan teras rumah panggung ini. Kami menikmati sore ini dengan melihat gerimis yang membentuk titik-titik di atas tanah, kepulan asap dari rumah panggung tanda bahwa penghuni rumah tersebut sedang memasak, dan suara derap langkah pengunjung yang baru datang. Semakin sore pengunjung yang datang terus bertambah. Perbincangan sore ini membuat kami melupakan lelahnya perjanalan tadi pagi itu. Kami asyik mengobrol dengan berbagai topik (tentu topik-topik yang ringan), intermeso, dan mendengarkan cerita lucu yang membuat kami tersenyum dan tertawa. Yang menambah ramai sore ini adalah banyaknya pengunjung yang membeli makanan ringan di pedagang-pedangan dari  penduduk baduy yang berjualan di pinggir jalan.

“Coba deh lihat oleh kalian. Masyarakat disini benar-benar senang menyambut kedatangan kita. Buktinya mereka berjualan beraneka ragam makanan dan minuman juga menjual kerajinan tangan yang mereka buat. Menemani kehadiran kita disini,” Ibu Deta  (dosen kurikulum pendidikan) berseru dengan semangat.

Hari semakin gelap. Di luar sana masih gerimis. Membuat kami lebih berhati-hati dalam berjalan. Karena jalan hanya setapak dan berupa tanah bercampur batu-batuan. Beberapa diantara kami menyalakan senter dan headlamp sebagai penerang ruangan dan penerang bila ingin jalan ke luar rumah. Sejak awal kami sudah diberitahu panitia di masyarakat baduy dalam tidak tersedia listrik. Kehidupan disini benar-benar masih bergantung dengan alam.

Malam itu tidak banyak yang kami lakukan. Karena memang kondisi tubuh kami yang sudah mengeluarkan terlalu banyak energi dan juga suasana alam yang mendukung kami beristirahat untuk besok pagi bangun dengan keadaan yang lebih fit. Sehingga bisa meneruskan kembali perjalanan menuju pulang.

Bersiap kembali ke Jakarta (dokumentasi : Panitia Field Trip Universitas Indraprasta 2015)

Bersiap kembali ke Jakarta (dokumentasi : Panitia Field Trip Universitas Indraprasta 2015)

Hari ini saya melakukan sebuah perjalanan. Melihat alam dari dekat. Melihat masyarakat dan budaya mereka. Mencoba menghargai budaya dan adat mereka. Menambah teman dan jaringan sesama mahasiswa satu kampus. Menjalani satu hari bersama mereka menjadi pengalaman indah hari ini. Esok lusa perjalanan hari ini akan menjadi cerita buat saya, buat teman-teman saya, juga buat orang-orang di luar sana yang ingin berkunjung ke Indonesia, negeriku tercinta.

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 28 Januari 2015

 

 

 

Tahun Baru, Semangat Baru

goals 2016

Tahun 2015 telah berakhir. Tahun 2016 datang. Waktu terus berjalan. Menyisakan kesan tersendiri bagi setiap orang. Bagi saya pergantian tahun adalah momentum untuk mengevaluasi perjalanan yang telah saya  dilalui. Pada saat yang sama pergantian tahun juga membuat saya menyusun harapan dan rencana yang ingin saya capai di tahun ini. Karena bagi saya dengan membuat planning (rencana), hidup menjadi lebih terarah dan saya bisa menghargai waktu untuk maksimal mencapai rencana yang telah disusun.

Saya menutup tahun 2015 dengan mengucap alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. sampai hari ini saya masih diberikan nikmat untuk terus menunaikan amanah-amanah kehidupan. Saya masih diberi kesempatan untuk mengukir kata demi kata, menyambung kalimat demi kalimat melalui tulisan di blog ini. Saya percaya menulis itu tidak cukup hanya sekedar ingin. Menulis itu butuh ketekunan dan keteguhan. Awalnya butuh dipaksa.  Menulis itu adalah salah satu bentuk syukur saya atas karunia yang Allah swt. berikan kepada saya. Saya bisa menuliskan apa yang sedang saya rasakan dan saya bisa menuliskan informasi yang ingin saya berikan.

Ada beberapa resolusi 2016 yang hendak saya capai. Saya hanya membatasi tulisan resolusi di blog ini sebatas dalam pengembangan diri saya dalam menulis. resolusi mengenai bagian peningkatan ruhiyah, perencanaan keuangan, dan lainnya saya telah tulis dalam catatan pribadi saya secara terpisah. Saya percaya bila menulis dari hari ke hari tidak ada kemajuan berarti tulisan saya  tidak berkembang. Tahun 2015 lalu, saya menyebut tahun itu sebagai tahun pembuka gerbang saya menekuni hobi menulis. Tahun lalu saya sebagian besar dari tulisan saya hanya mengenai catatan harian (diary) dan catatan perjalanan (traveling). Maka di tahun 2016 ini saya akan tetap menulis dua tulisan tersebut dan akan  saya tambah tulisan mengenai:

Pertama, saya ingin meresensi buku. Mengapa? Karena hobi saya membaca buku. Hampir tiap bulan saya membeli buku di toko buku. Terutama di awal bulan. sampai saya punya perpustakaan pribadi yang berisi buku-buku yang saya beli dari semenjak saya lulus SMA. Alhamdulilah jumlahnya dari tahun ke tahun terus meningkat. Selama ini saya hanya sekedar membaca. Selesai membaca ya sudah buku itu ditaruh di atas tumpukan buku-buku lain yang sudah saya baca. Sedikit banyak saya mendapatkan informasi, wawasan, dan pemahaman baru dari buku yang saya baca. Tetapi seiring waktu berjalan, saya berfikir kalau hanya sekedar membaca, informasi penting dan pesan moral dari isi buku itu tidak akan bertahan lama di dalam ingatan. Dalam tempo waktu yang singkat akan cepat terlupa. Maka dari itu saya ingin meresensi buku. Selain isi buku lebih menempel di kepala, meresensi buku juga melatih saya untuk berfikir lebih kritis mengenai isi buku tersebut. Membaca lebih detail isi buku. Saya menargetkan dalam tahun 2016 ini saya meresensi minimal 6 buku. Ini paling minimal. Saya ingin meresensi buku lebih banyak dari itu. Tapi untuk tahap pemula meresensi 6 buku dalam setahun menurut saya ukuran segitu wajar.

Kedua, saya ingin menulis opini tentang pendidikan dan ekonomi. Tentu opini disini opini yang sederhana. Yang demikian ini mau tidak mau saya mesti banyak membaca buku-buku referensi mengenai ekonomi. Karena saat ini saya masih kuliah jurusan pendidikan ekonomi, jadi menulis dengan tema ini tidak akan terlalu berat. Selain dari buku, saya akan mencoba menuliskan tema ini dari hasil seminar-seminar masalah ekonomi kontemporer yang akan saya ikuti pada tahun ini. Nantinya saya membuat ringkasan dari seminar tersebut. Tahun ini saya berniat membuat 6 tulisan mengenai pendidikan dan ekonomi. Bisa saja bagian pendidikan semuanya. Atau bagian ekonomi semuanya. Atau bisa juga dua-duanya. Fleksibel aja.

Ketiga, menuliskan catatan perjalanan empat destinasi wisata. Tahun ini saya berencana mengunjungi empat destinasi wisata dalam negeri. Semoga tercapai ya. Aaminn. Catatan perjalanan ini saya akan buat secara utuh. Baik mulai sebelum berangkat, kegiatan selama di tempat wisata, dan kesan yang dirasakan dari berwisata di tempat tersebut.  Lalu ada pertanyaan, kan melakukan perjalanan butuh biaya yang besar? Itu benar sekali. saya mesti me-manage keuangan pribadi saya. Banyak cara mensiasatinya seperti menyisihkan gaji unruk ditabung untuk keperluan berwisata, mencari tiket promo, atau juga bisa ikut wisata yang open trip.

Keempat, mengikuti 3 sampai 5 event lomba menulis blog, lomba menulis karya ilmiah, lomba menulis cerpen yang diadakan oleh kantor kementerian (pemerintah) dan perguruan tinggi. Harapannya setelah mengikuti event lomba menulis ini dapat menambah pengalaman dan menjaga semangat menulis juga menambah teman (networking).

new-year-goals-and-resolutions-2

Saya yakin selama ada niat baik dan ikhtiar yang baik, maka mewujudkan cita-cita dan mimpi itu bukan hal sulit. Tugas kita berencana, memaksimalkan ikhtiar, memperbanyak doa, hasil jadi berangkat atau tidak itu masalah lain. Disini yang ingin saya capai, seberapa keras usaha saya mengejar itu. Saya tidak mengejar hasil.

Tulisan ini saya buat dengan niat agar semangat menulis saya terus meningkat. Agar saya menghargai waktu. Mengisi waktu dengan aktivitas yang positif. Agar saya lebih bersyukur bahwa nikmat yang diberikan saat ini dapat dimanfaatkan dengan kebaikan. Saat semangat menulis saya menurun dan malas melanda, saya berharap semangat menulis saya kembali datang setelah membaca tulisan ini suatu hari nanti. Atau mungkin ada pembaca blog ini yang tulus ingin mengingatkan saya mengenai resolusi saya di tahun ini.

Bagi saya, menulis itu adalah berbagi. Berbagi pengalaman yang dimiliki, berbagi semangat dan motivasi yang dimiliki, berbagi informasi dan wawasan yang dimiliki. Berbagi itu bukan soal ada atau tidak ada. Berbagi itu persoalan kemauan. Mau apa tidak diri kita berbagi. Karena kalau bukan diri kita yang mengembangkan passion kita, siapa lagi?

Imam Syafi’i berkata : “Apabila kalian mempunyai cita-cita dan mimpi, dan kalian memulai langkah kecilnya hari ini maka insya Allah, jika dilakukan dengan tekun dan teguh,  suatu saat kalian akan sampai pada ujung perjalanan.”

Saya mengucapkan terimakasih kepada pembaca blog ini, kepada pembaca yang sudah mem-follow blog ini, kepada teman-teman yang sudah memberikan komentar di blog ini. Apapun isi tulisan blog ini, inilah tulisan yang saya bisa sharing disini. Buat pembaca yang sudah mampir berkunjung di tulisan ini, saya minta doanya semoga resolusi tahun ini tercapai. Aaamin.

Berikut adalah 5 tulisan saya yang populer di tahun 2015 :

  1. Buku Fiksi yang Menghibur
  2. Guruku, Pembimbingku
  3. Bila Cinta Datang Menyapa (Cerpen)
  4. Indonesia Flight : Mini Workshop Travel Blogger 2015
  5. Sepotong Kisah Belajar dan Mengajar

Selamat membaca dan semoga bermanfaat ya.

 

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 19  Januari 2016

 

Story Blog Tour : Keributan di Malam Hari

“Ibu….” suara Ana tercekak.

“IBU JAHAT. MENGAPA IBU TEGA MELAKUKAN INI PADA AYAH?,” teriak Ana dengan wajah penuh kebencian.

“BERHENTI BICARA ANA. KURANG AJAR KAMU BERANI BICARA SEKERAS ITU,”? Ibu berteriak memerintah Ana dengan sorot mata yang tajam.

Dengan cahaya lampu yang sudah redup di ruangan itu Ana dan Ditya dapat melihat dengan jelas dua telapak tangan Ibunya berlumuran bercak darah.

Ana menangis makin terisak. Bentakan Ibunya  membuat dirinya tidak berani berkata lagi. Namun hatinya tidak bisa berbohong. Ia ingin mengeluarkan semua emosinya, semua kekecewaannya, semua kesedihan yang ada di hatinya.

Krieeet.

Terdengar suara pintu terbuka. Bayangan seseorang masuk terlihat jelas di dinding rumah tua itu. Ditya dan Ana sudah curiga sejak tadi. Saat dirinya mendengar seseorang telah keluar melalui pintu depan itu. Tetapi dugaan keduanya salah, Ibunya masih ada di dalam rumah. Lalu siapa yang tadi keluar?

Srek … srek… srek.

Seseorang dengan tubuh tegap dan tinggi mengenakan kaos hitam sudah berdiri di belakang ibunya. Pembunuh bayaran.

“Cepat bereskan anak muda itu dan tangkap Ana” perintah singkat Ibunya kepada pembunuh bayaran itu.

“Siap Nyonya.”

Ana tegang. Bingung. Sedih. Seakan masalah datang menimpanya secara bergelombang. Tidak menyisakan waktu sedikit pun baginya untuk bernafas lega.  Pikirannya tidak tenang. Dia sangat tidak siap dengan suasana seperti ini.

Ditya melangkah berdiri maju di depan Ana. Matanya semakin tajam. Kedua kakinya berubah membentuk kuda-kuda. Dia telah mengikuti Taekwondo semenjak SMP dan hingga saat ini di sekolahnya. Walaupun tubuhnya agak kurus. Tetapi kelincahannya dan keahlian bela diri yang dimilikinya diakui oleh teman-teman  di sekolahnya. Ditambah dengan prestasinya belum lama ini Ia meraih prestasi juara II lomba maraton lari jarak jauh tingkat provinsi.

Bagi orang-orang yang mendalami ilmu bela diri sudah sangat biasa menghadapi situasi yang mengancam seperti yang dirasakan Ditya sekarang. Hati mereka tidak gentar apalagi  takut. Mata, kedua tangan, dan kedua kaki sudah siap merespon setiap serangan kapan saja. Mereka terbiasa berlatih agar sigap kapan pun dan dimana pun. Mereka terbiasa berlatih hingga memiliki gerakan reflek yang cekatan dan sigap.

“Pergilah Ana dari rumah ini. Minta bantuan  tetangga yang paling depat dari rumahmu,”  Pinta Ditya tegas. belum pernah dia berkata setegas itu kepada Ana.

“Tapi kamu….. ?” jawab Ana khawatir.

“Jangan pedulikan aku. CEPAT PERGI,” Perintah Ditya dengan sorot mata yang tajam. Yang diperintah langsung berlari keluar melewati pintu belakang yang saat itu sudah terbuka.

********************

Ana berlari sekuat tenaganya menerobos kegelapan hutan. Sepanjang perjalanan air matanya mengalir semakin deras. Yang saat ini ada dalam pikirannya, bagaiman ia segera sampai ke rumah Pak RT kemudian minta bantuan kepada Pak RT dan beberapa warga untuk segera ke rumah Ana mendamaikan keributan yang terjadi. Berharap Ibunya dan Ditnya dalam kondisi baik-baik saja.

********************

Tap… tap… tap… tap. Pembunuh bayaran itu maju berlari mengejar Ana. Ditya menghalau. Berdiri tepat di depan  pembunuh bayaran itu dengan kedua tangan yang sudah terkepal dan bersiaga dari serangan apapun. Pembunuh bayaran itu melayangkan pukulan ke arah wajah Ditya.

DAAGH. Pukulan pembunuh bayaran itu berhasil ditahan oleh tangan Ditya.

Ditya melihat ada celah di bagian perut pembunuh bayaran  itu. Kaki kanannya dengan sangat cepat menendang perut pembunuh bayaran dua kali kena telak. Pembunuh bayaran itu terpental. Wajahnya menahan sakit. Tapi langsung berdiri waspada.

Pembunuh bayaran itu maju dengan berlari mengarahkan pukulan lebih keras dari sebelumnya ke arah wajah Ditya. Ditya berhasil menangkisnya dengan tangan kanannya. Tapi pembunuh bayaran terus memberi dorongan dan tekanan dari pukulan itu. Sehingga fokus mata Ditya teralih ke tangan kanannya yang sedang menahan pukulan keras pembunuh bayaran. Menahan sekuat tenaga biar tidak menerobos mengenai wajahnya. Saat menahan serangan itu kaki kirinya sampai mundur beberapa senti ke belakang. Power pukulan ini keras sekali.

Buuggh. Serangan tidak terduga pembunuh bayaran memukul dengan tangan kiri mengenai pipi sebelah kiri Ditya. Beruntung bisa ditahan dengan tangan kirinya meski sedikit. Serangan pukulan itu membuat pipinya lebam. Ditya mundur beberapa langkah. Posisi kakinya tidak berubah, masih tetap memasang kuda-kuda. Dia terus mengatur ritme nafasnya. Tanganya kembali mengepal di atas dada. Matanya membulat tajam.

Kini keduanya menyerang. Saling memukul, saling menghindar, saling mengintai celah-celah untuk melakukan serangan. Kelincahan dan kecepatan Ditya disini ditunjukkan. Berkali-kali pukulan dan tendangan keras pembunuh bayaran yang diarahkan kepadanya, berhasil dihindari dan ditangkisnya dengan sangat sempurna. Dia terus memancing  agar pembunuh bayaran terus memberikan serangan, agar energi pembunuh bayaran terkuras tanpa disadari.

Saat pembunuh bayaran fokus menyerang bagian wajah Ditya. Ditya menendang kaki kiri pembunuh bayaran. Tetapi sayang tendangan itu diketahui pembunuh bayaran. Kaki Ditya tertangkap oleh tangan kanan pembunuh bayaran itu. Bahaya. Tubuh Ditya menjadi tidak seimbang.  Ditya menarik nafas panjang, tangannya melayangkan pukulan ke arah wajah pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun menyadari mencoba menangkis dengan tangan kirinya. Bukan bagian itu. Pukulan keras Ditya mengenai  tepat  bagian dada sebelah kanan pembunuh bayaran itu. Serangan tipuan Ditya berhasil. Kakinya pun terlepas dari tangan pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun terpental.

Hampir saja. Ditya terus mengatur ritme nafasnya. Keringat deras membanjiri wajah dan tubuhnya. Dia tidak bisa bohong staminanya sudah sangat berkurang. Ini harus cepat diakhiri.

Ssssst. Prak. Satu buah kaleng melayang sangat kencang dan ditangkis oleh telapak tangan Ditya. Telapak tangannya mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka kaleng itu setajam ini. Aku lupa masih ada musuh satu lagi.

“CEPAT KAU BERESKAN BOCAH ITU. AKU SUDAH MUAK DENGAN PERMAINAN INI.” Teriak sang Ibu dengan sorot mata mengancam. Tangannya memegang batu bata. Kali ini dia akan ikut bertarung ‘menghabisi ‘ Ditya.

Pembunuh bayaran pun bangkit berdiri mengeluarkan pisau belati.

******************

Ana tiba di rumah Pak RT 10 menit kemudian. Matanya masih merah. Dengan nafasnya yang kiang tersenggal-senggal, dia mengetuk rumah Pak RT.

Tok tok tok.

“Tolong buka pintunya pak RT.” Ana memanggil dengan suara agak keras.

Pak RT yang masih terjaga langsung membuka pintu.

“Ada apa Ana?”

“Pak tolong pak. Di rumah Ana terjadi keributan besar. Cepat Pak kita kesana Ana butuh bantuan Bapak.”  Ana memohon. Tangisnya kembali mengaliri wajahnya.  Waktunya sudah sempit sekali.

Pak RT seketika percaya ada keributan di rumah Ana.

Pak RT mengeluarakan ponsel, menelpon petugas hansip yang sedang berjaga. Belum sampai dua menit, petugas hansip sudah tiba di depan rumah Pak RT. Letak pos jaga dengan rumah Pak RT hanya berjarak 50 meter. Pak RT menceritakan singkat peristiwa yang terjadi di rumah Ana kepada dua orang petugas hansip.

“Ayo Ana kita ke rumahmu sekarang.” Ajak Pak RT

Ana memimpin jalan dengan langkah setengah berlari. Pak RT dan dua orang hansip mengikuti dengan langkah kaki yang terburu-buru juga.

Bersambung …………..

 

Cerita selanjutnya dalam blog Enie Handyas (www.eniehandyas.wordpress.com)

 

CATATAN:
Tulisan ini bagian dari Story Blog Tour 2016 yang diadakan Komunitas One Week One Paper (www.oneweekonepaper.com). Member OWOP yang sudah mendaftar, sesuai urutannya membuat story di blog pribadi masing-masing. Kemudian member berikutnya melanjutkan cerita di blog pribadinya juga. Nah, kali ini saya dapat giliran di episode 10.

Episode 1 :  Senandung Malam – Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua – Rizka Zu Agustina 
Episode 3 : Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan – Cicilia Putri Ardila 
Episode 4 : Kunci yang Diputar Tengah Malam – Rizki Khotimah 
Episode 5 : Tamu Tak Diundang – Dini Riyani
Episode 6 : Pulang – Nurhikmah Taliasih
Episode 7 : Tamu Tak Diundang (Lagi) – Mister Izzy
Episode 8 : Jantung – Depi

Episode 9 : Orang yang Seharusnya Tiada – Nifa  

episode 10 : Keributan di Malam Hari – Imron Prayogi

Episode 11 : www.eniehandyas.wordpress.com (coming soon)

Meet & Greet Bersama Tere Liye

“Menulislah apa yang harus orang baca, bukan menulis apa yang orang ingin orang baca” (Tere Liye)

Sabtu, 19 Desember 2015

Saat mengendarai sepeda motor hari sudah sore. Namun hawa panas tadi siang masih saja terasa. Sore ini saya berangkat menuju Toko Buku Gramedia Depok menghadiri acara meet and greet bersama Tere Liye. Jalan raya Tanjung Barat hingga Jalan Margonda Depok cukup lancar. Sangat wajar hari ini adalah hari libur kerja. Saya tarik tuas gas motorku agar lebih cepat. Semoga hari ini saya mendapat ‘oleh-oleh’ dari pertemuan sore ini.

Tiba di Toko Buku Gramedia Depok. Saya menitipkan tas ransel di meja penitipan barang dilantai 1. Kemudian saya menuju lantai. Melangkah menaiki elevator. Sampai di lantai dua ku arahkan pandangan beberapa sisi ruangan ini. Mencari dimana ruang Meet and Greet bersama Tere Liye. Sambil terus melangkah, saya mendengar suara Bang Tere Liye dan saya melihat sekumpulan pengunjung toko buku ini berdiri mendengarkan materi kepenulisan dengan seksama. Bagi saya ini pertemuan kali kedua dengan bang Tere Liye. Yang pertama saya bertemu dengan beliau di Senayan Jakarta saat acara bedah novel Rindu dalam acara Islamic Book Fair Maret 2015 lalu.

Segera saya berdiri mendengarkan materi yang Bang Tere sampaikan. Padahal baru beberapa menit mulai, kursi pengunjung acara ini sudah penuh. Bahkan lebih banyak pengunjung yang berdiri daripada pengunjung yang duduk dalam acara meet and greet ini. Saya lihat sebagian besar yang hadir acara ini adalah remaja yang terdiri dari siswa SMA dan mahasiswa.  Bang Tere duduk disamping deretan rak-rak buku-buku Gramedia. Di sampingnya ada moderator Mbak Andriyati (Editor penerbit Republika). Ini menarik perhatian setiap pengunjung yang tiba di Toko Buku Gramedia Depok.  Saya pikir acara ini diadakan di ruangan khusus di Gramedia seperti yang ada di Toko Buku Gramedia Matraman Jakarta Timur. Di depan sofa ada satu meja kayu berukuran pendek yang membatasi pembicara dengan audience. Ada sejumlah audience yang saking semangatnya ingin mendengar materi Bang Tere sampai duduk bersila diatas lantai. Saya berdiri di samping pengeras suara (speaker). Saat itu terbesit ide untuk merekam materi kepenulisan ini dengan Xiaomi. Saya aktifkan aplikasi rekaman. Semakin sore toko buku ini semakin banyak pengunjung yang mendatanginya.

Lalu mengapa saya tertarik ikut acara ini? Satu alasan, saya ingin membangkitkan semangat menulis saya. Saya berniat menuliskan pengalaman dari acara hari ini. lalu apa lagi? Saat ini saya sedang menempuh kuliah di perguruan tinggi swasta di Jakarta semester tiga. Saat semester tiga ini saya dipertemukan dengan seorang dosen yang bernama Pak Imam Sibawaih. Beliau dosen mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar dan beliau adalah seorang penulis. Suatu hari saya dan beberapa teman di kelas bersilaturahmi ke rumah beliau yang berdekatan dengan kampus. Saat itu beliau berkata kepada saya dan beberap teman saya, “Sastra itu adalah rasa. Mengembangkan diri dalam bersastra, engkau mesti berteman dengan orang-orang yang pandai mengolah rasa (sastrawan).” Saat mendengar saya mengerti satu hal bahwa menulis itu butuh banyak  perjuangan. Kemauan berteman dan kesungguhan membaca buku-buku karya sastrawan adalah salah satu bagian untuk mencapai cita-cita sebagai seorang penulis. Pun saat ini, saat melangkahkan kaki dari rumah menghadiri acara sore ini, saya meneguhkan niat bahwa ini adalah salah satu ikhtiarku agar saya bisa belajar dan mendapatkan motivasi menulis dari Bang Tere Liye. Agar semangat menulis yang ada di dalam diri saya ini semakin bertambah. Agar saya bisa menemukan alasan saya untuk terus menulis.

Bang Tere Liye sedang menyampaikan materi kepenulisan (dokumentasi : Imron Prayogi)

Bang Tere Liye sedang menyampaikan materi kepenulisan (dokumentasi : Imron Prayogi)

Saya membaca karya bang Tere Liye pertama kali tahun 2010. Saat itu saya membaca novel Bidadari-Bidadari Surga. Sejak saat itu saya menjadikan beliau salah satu penulis favorit saya. Tulisan beliau sederhana namun pesan moralnya cukup mendalam. Selalu aja ada ide yang menarik, pemahaman baru tentang melihat kehidupan dan cerita yang unik dari karya yang beliau tulis. Apalagi ketika beliau menuliskan kisah hubungan anak-anak dengan orang tuanya. Menarik sekali. Bikin gemes. Kadang membuat terharu juga. Tetapi dibalik semua itu ada hikmah yang bertaburan didalamnya. Tahun berikutnya saya membeli novel karya beliau; Daun Yang  Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Sunset Bersama Rosie, Berjuta Rasanya (kumpulan cerpen), Rindu, dan Pulang. Bagi yang belum pernah membaca novel Tere Liye, silahkan meminjam atau membeli di toko buku Gremedia hehehe (promosi).

Meet and Greet ini sifatnya tanya jawab antara audience dengan Bang Tere Liye. Pertanyaan bebas masih dalam batasan kepenulisan. Tiap satu termin ada tiga orang yang bertanya.yang saya ingat sepanjang acara ini berlangsung ada tiga termin. Artinya ada sembilan orang yang bertanya. Saya berkesempatan bertanya pada termin ke-3 menjelang akhir acara hehehe. Tiap satu termin selesai diselingi dengan satu dua kuis. Yang bisa menjawab pertanyaan dari Bang Tere Liye seputar novel-novel yang beliau tulis, akan diberi hadiah berupa buku dan kaos pulang dari penerbit Republika.

 

Bang Tere Liye sedang Menyapa dengan salah satu pengunjung dalam sesi acara tanda tangan oleh bang Tere Liye (dokumentasi : Imron Prayogi)

Bang Tere Liye sedang berbincang dengan salah satu pengunjung dalam sesi acara tanda tangan oleh bang Tere Liye (dokumentasi : Imron Prayogi)

Berikut adalah summary (ringkasan)  yang saya buat dari materi kepenulisan yang disampaikan Bang Tere Liye dalam acara Meet and Greet di toko buku gramedia depok.

Pertama, miliki niat yang tulus untuk menulis. Niat yang tulus ini akan meneguhkan diri kita untuk terus menulis. tidak peduli tanggapan orang se-negatif apapun, dia selalu bisa membujuk hatinya untuk terus menulis. karena dia sangat tahu tujuan mengapa dirinya menulis. Bang Tere Liye bilang,
“Kalau kalian tidak memiliki niat yang baik dan tulus untuk menulis, jangankan tanggapan orang lain atas tulisan kalian, tanggapan dari diri kalian sendiri sudah cukup menghentikan kalian untuk menjadi seorang penulis. misalnya, oh aku sibuk sekali, ngapain juga aku jadi penulis. Game over. aduh aku udah nulis, tapi kok tulisanku jelek kayak gini, ngapain juga aku jadi penulis. Game over. Tidak akan pernah kalian menjadi penulis. ketika kalian mempunyai niat yang tulus untuk menulis. kalian akan bisa menaklukan bisikan-bisikan itu. kalian bisa membujuk hati kalian untuk terus menulis.”

Kedua, siapkan amunisi untuk tulisan. Amunisi terbesar menulis ada tiga, 1) membaca. Tanpa membaca tidak akan jalan resep menjadi penulis. Semakin  kamu mau menjadi seorang penulis, kamu mesti banyak membaca.  2) Lakukan perjalanan mengelilingi dunia. Seperti membawa ransel naik gunung, menyelam di suatu tempat, dan seterusnya. Hal ini menjadi menjadi sangat penting berharga bagi seorang penulis. bukan untuk selfi melainkan menjadi masukan (ide) dalam pikiran kita. 3) Mengamati lingkungan sekitar. Seperti mengamati kehidupan teman-teman sekitar, dan mengamati media sosial hari ini. mengamati disini bukan hanya sekedar hanya sekedar tahu sekilas. Mengamati disini bermaksud observasi. Mengamati untuk memahami suatu pemahaman secara utuh.

Ketiga, mendisiplinkan diri dalam menulis. disiplin disini diartikan konsistensi. Menulis pun perlu konsistensi. Semakin sering dilatih, maka tulisan semakin bagus. Itulah alasan mengapa menulis itu adalah keterampilan yang bisa dimiliki oleh semua orang. Bang Tere Liye bilang, “Setiap dari kalian bisa menjadi penulis. Ibu rumah tangga bisa menjadi penulis. PNS bisa menjadi penulis. Guru bisa menjadi penulis. dan sejujurnya orang yang  pandai menulis semestinya adalah karyawan Toko Buku  Gramedia (Spontan peserta  tertawa). Menulis itu bisa dilakukan dimana saja.  Tetapi ingat menulis itu mesti dilakukan dengan disiplin. Habit (kebiasaan) itu dibangun dari mulai, dipaksakan, didisiplinkan, dibiasakan, kemudian sampailah pada titik kebiasaaan. Pada saat kalian sudah sampai pada titik habit, kalian tidak akan pernah bertanya lagi bagaimana membagi waktu untuk menulis.  Imam Syafi’i berkata : “Apabila kalian mempunyai cita-cita dan mimpi, dan kalian memulai langkah kecilnya hari ini maka insya Allah, jika dilakukan dengan tekun dan teguh,  suatu saat kalian akan sampai pada ujung perjalanan. Dan apabila kalian mempunyai cita-cita dan mimpi, tetapi kalian tidak pernah memulai langkah kecilnya hari ini, hanya bisa bicara saja, maka jangankan akan sampai di ujung perjalanan, mencium wanginya saja kalian tidak akan pernah.” Kalau kalian bisa menaklukan mood jelek, kesibukan, maka kalian bisa menjadi penulis yang baik.”

Bang Tere dalam acara tanda tangan novel-novel karya beliau (dokumentasi : Yudi)

Bang Tere Liye dalam acara tanda tangan novel-novel karya beliau (dokumentasi : Yudi)

Pertemuan kali ini mengajarkan saya bahwa menulis itu butuh niat yang baik. Menulis itu butuh ketekunan dan keteguhan. Keteguhan untuk terus menulis. tidak mudah menyerah dan patah semangat apabila ada respon yang negatif dari pembaca. Terus menulis meskipun tidak ada yang like dan comment dari tulisan kita. Bagian ini paling berkesan untuk saya. Karena saya masih belum bisa membujuk hati untuk menulis. Saya masih sering kalah oleh mood jelek. Saya masih sering menunda-nunda untuk menulis. Padahal tahun ini saya sudah membuat resolusi tahun 2016 untuk membuat tulisan dengan waktu yang relatif padat. Saya berharap tulisan ini bisa menggerakkan diri saya untuk konsisten dalam menulis. Kepada pembaca blog saya, semoga pembaca juga dapat wawasan tentang kepenulisan dan ikut tergerak untuk memulai menulis. Karena setiap dari kita adalah pribadi yang unik. Dan setiap kita bisa menjadi penulis. Yukk kita memulai menulis ..

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 10 Januari 2016