Monthly Archives: April 2016

Creative Writing for Young (Bagian 1)

Sabtu, 16 April 2016

Hari ini adalah jadwal saya mengikuti acara Creative Writing for Young yang diselenggarakan oleh media online Gregetan.com dan Fiksi Mini Magz. Acara bertempat di Setiabudi Building 2 lantai 3 Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Ada tiga pemateri dalam acara ini yaitu Bapak Arif Firmansyah (Jurnalis Senior dan founder Gregetan.com), Raditya Nugi (penulis novel Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa), dan Kang Oddi Frente (founder komunitas Fiksi Mini).

Dengan menaiki motor saya menuju tempat workshop menulis tersebut. Perjalanan menuju ke sana cukup lancar. Selama perjalanan saya nyaris tidak menemui hambatan yang berarti. Berbekal sumber dari Google Map saya mendapat informasi letak Setiabudi Building 2 berdekatan dengan flyover Kuningan. Apabila melakukan perjalanan dari arah jalan raya Gatot Subroto, Setiabudi Building 2 terletak setelah flyover tersebut. Melewati flyover ini, saya memilih jalan sebelah kiri jalan dengan mengurangi kecepatan motor. Sambil menekan tuas gas motor, saya mengamati nama-nama gedung yang menjulang tinggi.  Setelah saya bertanya dengan seorang pengendara ojek pangkalan yang sedang duduk di tepi kiri jalan, akhirnya saya mendapat titik terang. Gedung yang saya maksud sudah di terlihat dan hanya berjarak dua ratus meter dari tempat saat ini saya bertanya.

Tiba di parkir, saya melihat jam sudah pukul sembilan lewat. Padahal acara di jadwalkan mulai pukul sembilan tepat. Saya melangkah agak cepat menuju lantai 3. Saya berjalan memasuki gedung melalui pintu belakang yang berdekatan dengan tempat parkir. Saya menaiki lift kemudian menekan tombol lantai 3. Lift berbunyi lalu pintunya terbuka. Saya melangkah keluar lift. Berjalan lagi. Kiri dan kanan lantai ini dipenuhi ruang-ruang perkantoran. Nampak jelas sejumlah meja kerja yang diatasnya komputer yang tersusun rapi. Di setiap pintu ada bertuliskan nama perusahaan. Suasananya sepi sekali. Sesekali ada suara sepatu Pantofel yang saya dengar tanda ada orang yang berjalan di lantai ini.

Saya memasuki ruangan Workshop yang sudah ramai dengan sejumlah peserta. Saya bersyukur saat tiba di ruangan ternyata acara belum di mulai. Saya duduk di kursi yang telah di sediakan. Info dari akun Twitter GregetanDotCom peserta yang lolos mengikuti acara ini berjumlah dua puluh peserta. Saat ini yang hadir sembilan belas peserta. Saya melihat mereka yang sudah siap mengikuti acara ini. Di masing-masing meja mereka sudah ada laptop yang sudah menyala dan alat tulis. Walaupun masih baru tiba, saya segera menyesuaikan dengan peserta yang lain. Saya mengeluarkan laptop dan alat tulis. Perlahan-lahan pendingin ruangan ini membuat dingin suasana pagi ini.

Materi I : Menulis Fiksi

Workhshop menulis pagi ini di awali oleh materi Menulis Fiksi yang di sampaikan oleh Mas Raditya Nugi, penulis novel Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa. Beliau mengawali dengan motivasi menulis, “Menulis adalah kata kerja yang menuntut ketekunan dan target. Semakin kuat pesan yang ingin kalian sampaikan lewat tulisan, semakin kuat motivasi menulis kalian. Menulis itu bukan sekedar dibayangkan, tuliskan, kerjakan, dan selesaikan.”

Mas Raditya Nugi sedang meyampai materi Menulis Fiksi (sumber : @GregetanDotCom)

Mas Raditya Nugi sedang meyampai materi Menulis Fiksi (sumber : @GregetanDotCom)

Beliau menjelaskan cara membuat tulisan fiksi yang menarik diantaranya :

  • Ide cerita yang ironi. Ide yang menggambarkan di dalamnya ada kegelisan yang di sampaikan oleh penulis. Ide cerita yang memuat banyak kemungkinan yang terjadi sehingga pembaca tertarik membaca hingga akhir cerita. Ide cerita yang menarik dan narasi cerita yang mengalir dan imajinatif akan menghasilkan karya fiksi yang bagus.
  • Mencari ide. Ide tulisan dapat dari membaca. Menulis adalah pekerjaan orang yang rendah hati. Penulis yang baik adalah penulis yang banyak membaca. Semakin banyak membaca, dia semakin sadar bahwa ilmu yang saat ini dimilikinya masih sangat sedikit. Dari sana dia semangat untuk terus membaca dan membaca lagi. Dari banyak membaca itu, hasil karya yang dihasilkan akan mencerahkan dan bermanfaat bagi pembaca.
  • Membuat detail cerita melalui konsep 5 W + 1 H. What, tema apa yang ingin di ceritakan. Who, siapa saja tokoh di dalam cerita tersebut. Bangun karakter tokoh yang logis sehingga bisa dicerna oleh pembaca. Bangun latar belakang kehidupan tokoh yang detail agar pembaca memahami proses sebab-akibat di dalam alur cerita. Bangun karakter tokoh yang tidak sempurna kehidupannya (ada ego negatif dalam diri tokoh). Why, ada hubungan sebab-akibat di dalam cerita. When, tuliskan waktu yang setiap episode / bab cerita. Where, tuliskan tempat yang menjadi setting cerita. How, Bagaimana alur cerita dari awal, konflik, hingga problem solve dari konflik yang terjadi.
  • Narasi cerita. Narasi yang sugestif dimana emosi pembaca ikut terbawa di dalam cerita. Hindari menulis narasi dengan kata yang berulang-ulang. Buatlah narasi dengan kata yang pendek dan padat namun mewakili cerita agar pembaca tidak merasa kelelahan dalam membaca.
  • Latar yang detail. di dalam latar ada waktu, suasana yang sedang dibangun, dan tempat dimana tokoh berada. Latar yang deskriptif dan imajinatif membuat pembaca tidak bosan membaca dan pembaca akan semakin semangat membaca hingga akhir cerita.

Dari materi yang disampaikan Mas Raditya Nugi, kami dapat rekomendasi buku-buku bacaan agar menambah diksi dalam menulis. Beliau menyebutkan beberapa buku dan nama penulisnya seperti, novel Pulang karya Leila S. Chudori, The Fault in Our Stars karya John Green, dan kumpulan cerpen dan Essai karya Seno Gumira Ajidarma.

Pada materi ini Mas Nugi, kami diberi tugas menulis deskripsi sebuah latar cerita dalam satu paragraf. Dua latar cerita terbaik mendapat hadiah masing-masing satu novel. Menulis deskripsi latar cerita butuh diksi kata yang banyak dan memilih padanan kata yang tepat..

 

Bersambung ……

 

Selesai ditulis di Jakarta,

23 April 2016

 

 

Separuh Perjalanan

hope

Universitas Indraprasta PGRI tahun 2014. Di ufuk barat matahari masih memancarkan cahayanya menemani langit. Kali pertama memasuki gerbang kampus ini hati saya sudah tertanam niat di sini adalah tempat saya menimba ilmu. Tidak ada keraguan sama sekali tentang niat itu. Saya melangkahkan kaki menuju ruangan yang telah di tentukan oleh dosen Penasihat Akademik. Saat berjalan, saya melihat ada tiga gedung kampus ini berwarna coklat yang berdiri kokoh dan tinggi. Setiap gedung memiliki tinggi yang sama, yaitu terdiri dari lima lantai. Tiga gedung tersebut berdiri berbentuk letter U. Di tiap lantai dasarnya bertuliskan nama gedung dengan kode angka.

Saya menaiki anak tangga satu per satu dengan sorot mata penasaran dan rasa ingin tahu. Saya berusaha memperhatikan setiap lantai yang saya lewati. Seperti wajah orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di suatu tempat, sama seperti itu juga yang saya rasakan. Rasa penasaran akan letak ruang kelas memenuhi kepala saya. Belum ada satu pun orang yang saya kenal di sini. Saya hanya berjalan dan terus melangkah hingga saya tiba di depan ruang kelas yang sudah tertutup pintunya.

Di dalam ruangan itu yang sudah ramai mahasiswa baru. Sudah ada seorang yang memberi penjelasan di depan kelas dan saya yakin sekali dia adalah dosen Penasihat Akademik untuk kelas saya. Saya memang telat dari jadwal yang telah di tentukan karena saat datang ke sini bersamaan dengan jadwal pulang kerja saya. Keringat dingin meluncur sendirinya di pelipis kepala saya. Ada rasa sesal, kenapa tadi saya tidak ijin pulang kerja lebih cepat. Saya masih belum berani untuk masuk ruangan tersebut. Saya berdiri di depan pintu berharap ada mahasiswa baru yang sama telat dengan saya agar saya ada barengan untuk masuk kelas. Tapi ternyata setelah menunggu beberapa menit tidak ada sama sekali teman satu kelas yang datang telat. Saya memutuskan menunggu sampai semua selesai, setelah itu saya masuk ke ruangan tersebut untuk mengisi Kartu Rencana Studi semester satu.

mkunindra

Sumber : mkunindra.com

Dua bulan pertama, saya mengenal lingkungan kampus. Saya mulai tahu di mana letak ruang perpustakaan, ruang lab komputer, tempat parkir motor dan kantor koperasi Universitas Indraprasta PGRI –tempat mahasiswa membeli buku-buku perkuliahan. Untuk ruang Tata Usaha dan ruang bagian Kemahasiswaan pasti setiap mahasiswa baru sejak proses pendaftaran sudah diberi arahan letak dan posisinya dari bagian informasi kampus.  Saya mulai beradaptasi dengan kegiatan belajar di kampus, berkenalan dengan teman-teman di kelas, mengenal dosen-dosen yang mengajar di kelas, dan semua rasa penasaran saat menjadi mahasiswa baru mengenai lingkungan kampus ini saya temukan jawabannya dengan berjalannya waktu.

Bertambah teman berarti bertambah keseruan. Satu kelas bareng selama hampir dua tahun ini bukan berarti hanya sebatas mengenal nama. Saya mengenal lebih dekat beberapa karakter teman-teman di kelas dan saya berusaha menyesuaikan dan menghargai setiap perbedaan karakter yang ada. Di sini saya belajar banyak arti memahami pertemanan dan pentingnya saling menghargai satu dengan yang lainnya. Karena saya yakin sekali, selama kita mampu menghargai orang lain siapa pun itu, selama itu juga orang lain akan menghargai kita. Duduk bersama di kelas, belajar bareng ketika mengerjakan tugas kelompok, main futsal bersama, dan nongkrong di warung pinggir jalan (angkringan) dengan sendirinya menambah suasana semakin akrab. Atmosfer di kelas ini memang sudah sedemikian adanya. Sudah terkenal sebagai kelas yang ramai, anak-anaknya pada aktif saat forum presentasi mata kuliah tertentu, dan membawa enjoy aja saat tugas kuliah menumpuk. Karena kami sudah sama-sama menyadari, kami kuliah dengan tenaga seadanya, sisa-sisa tenaga selepas seharian bekerja. Mata yang kami gunakan kuliah juga mata yang sebentar lagi terlelap.

Unindra

Universitas Indraprasta PGRI

Menghadirkan hati di setiap pertemuan dan kebersamaan ini akan menguatkan langkah saya mencapai mimpi saya yang sudah ada dalam benak saya. Semangat berkarya hari ini sebagai modal keberhasilan di masa yang akan datang. Setiap proses usaha dan resiko di lewati saat ini membuat diri ini semakin dewasa dan tidak mudah menyerah.

Minggu sore, di saat istirahat selepas rapat di Unit Aktivitas Mahasiswa (UNITAS) Pend. Ekonomi, saya berjalan memasuki gedung 4 kampus Gedong. Saya berhenti kemudian saya melihat majalah dinding di lobby gedung tersebut. Mading tersebut di berbagai brosur informasi kegiatan kampus dari berbagai organisasi mahasiswa (ormawa) dan di sana juga terdapat hasil karya mahasiswa/i berupa cerita pendek, puisi, sajak dan karya sastra lainnya yang dikelola oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Media Kampus. Dari situ saya semakin tertarik untuk terus menulis dan berharap suatu hari nanti tulisan saya dapat di muat di mading tersebut.

 

Selesai di tulis,

Di Jakarta, 11 April 2016

 

 

 

Menata Langkah, Menata Diri

pejuang-quotes-2

Semangat kuliah untuk apa? Lalu setelah itu apa yang akan dilakukan?

Pertanyaan diatas merupakan salah satu pertanyaan yang diajukan oleh Pak Nur Jaman, M.Pd. (dosen prodi Pendidikan Ekonomi Univ. Indraprasta PGRI) dalam acara Latihan Kepemimpinan Mahasiswa 2016 Univ. Indraprasta PGRI. Beliau menyampaikan materi “Pemimpin sebagai administrator”. Menurut beliau, “Setiap kita sebenarnya secara tidak langsung sudah terbiasa menjalankan fungsi administrasi. Minimal administrasi pribadi. Di saat kita mencatat agenda harian, di saat kita meletakkan buku dan dokumen pribadi –kartu rencana studi, kartu hasil studi, slip pembayaran SPP dan semester  pada lemari atau map folder masing-masing. Itu bagian dari administrasi pribadi. Bagi sebagian orang yang terbiasa dengan menulis diary sejak kecil atau remaja, dia telah membiasakan diri menjadi administrator yang baik bagi dirinya. Sekarang saat kalian membuka diary kalian, kalian terkenang masa-masa remaja, masa-masa yang sedang puber, masa–masa di mana kalian asyik dengan dinamika kehidupan di sekolah dengan segala macam aktivitas di dalamnya. Kalian akan tersenyum dan tertawa sendiri  membaca diary yang kalian buat beberapa tahun lalu.”

Masih Menurut beliau, “Begitu pun dalam organisasi. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu membuat konsep dan program kerja yang spesifik dan detail. Konsep dan program kerja itu dapat di pahami seluruh anggota dalam organisasi. Selain itu, pemimpin tersebut mampu merealisasikan program kerja yang telah di susun. Bila konsep hanya sekedar dicatat tanpa mampu merealisasikan konsep tersebut, konsep tersebut  hanya berfungsi secara administrasi.”

Beliau bertanya ke peserta, “Semangat kalian kuliah apa? Lalu apa yang kalian lakukan? Salah seorang dari kami menjawab, “saya ingin menjadi orang yang bermanfaat.”  Beliau menjelaskan, “Jawaban itu masih umum. Saya contohkan, begini bila semangat kuliah saya ingin menuntut ilmu, maka langkah nyata yang saya akan lakukan adalah saya selalu membaca buku pukul 02.00 s.d 04.00 setiap hari. Itu baru jawaban yang nyata dan spesifik. Tuhan akan menjawab doa hamba-Nya yang spesifik. Kalau kalian ingin lulus kuliah berbeda dari kebanyakan orang, maka usaha kalian juga harus berbeda dari mereka. No Pain, no gain. Tidak ada pengorbanan, tidak ada keuntungan.”

Penjelasan beliau mengenai semangat kuliah untuk apa? Lalu setelah itu apa yang dilakukan?  membuat saya sadar bahwa saya belum maksimal mencapai apa yang saya harapkan. Betapa banyak harapan dan rencana yang saya buat, tapi sedikit yang terlaksana. Kadang kegagalan itu berujung pada kekecewaan dan penyesalan. Saya masih belum fokus dan gigih mencapai harapan itu. dan sering kali saya membiarkan yang gagal itu berlalu saja, tanpa dibarengi dengan evaluasi diri agar kekurangan hari ini menjadi pelajaran hari esok.

Saat sesi tanya-jawab, saya memberanikan diri bertanya, “Pak, bagaimana cara agar konsisten dengan rencana yang telah dibuat. Pak Nur Jaman menjawab, “miliki niat yang kuat, bahwa saya ingin mengerjakan rencana A. Lalu fokus mengejar rencana A tersebut. Saya kurang sependapat dengan orang yang punya Plan A dan Plan B dan seterusnya, karena menurut saya orang yang punya banyak rencana, kesungguhan merealisasikan rencana yang mereka buat menjadi kurang maksimal dan kurang fokus. Saat kita memiliki niat yang kuat dan fokus pada tujuan yang dicapai, maka dengan sendirinya mood jelek dan rasa malas bisa kita taklukan. Tugas kita adalah memaksimalkan ikhtiar sekuat tenaga kita. untuk hasil, Tuhan yang menentukan.”

Sejak saya memutuskan melanjutkan belajar di perguruan tinggi, saya hanya terpikir belajar di kelas, mendengar dan memahami materi yang disampaikan dosen, lalu pulang. Tapi dalam perjalanannya tidak demikian. Kuliah menuntut lebih dari itu. Kuliah menuntut seseorang untuk membaca buku lebih banyak dari sebelumnya. Kuliah menuntut seseorang mengatur waktu sebaik mungkin -kapan waktu untuk bekerja (karena saya seorang karyawan, yang bekerja sambil kuliah), kapan waktu untuk kuliah, kapan waktu duduk mengerjakan tugas dan sebagainya. Kuliah menuntut seseorang mengendalikan keuangan pribadi, menyisihkan uang dari penghasilan yang diterima untuk membayar SPP dan biaya semester, juga membeli buku-buku. Dan yang paling penting adalah kemauan kuat untuk berkembang, maju, dan menjalani dan menikmati proses perkuliahan dengan hati yang lapang dan penuh kebersyukuran, “Ya Allah hari ini Engkau memilih saya sebagai seorang yang menuntut ilmu di kampus ini dan hingga hari ini Engkau telah memudahkan segala macam proses yang saya lalui. Ya Rabb, teguhkan dan kokohkan langkah saya untuk mendapatkan ilmu.”

Perjalanan menuju kedewasaan. Itu yang saya ambil dari perjalanan yang sedang saya tapaki. Semakin banyak orang yang saya kenal. Beberapa dari mereka memberikan nasihat tulus sekali, saking tulusnya nasihat yang diberikan itu seperti nasihat dari seorang ayah kepada anaknya sendiri. Bahkan kadang rasa haru itu hadir begitu saja, saat saya dan seorang dosen shalat Maghrib berjamaah lalu memanjatkan doa. Lalu saling bertanya kabar dan berbincang sebentar. Momen kebersamaan itu yang membuat suasana semakin akrab. Beberapa dari mereka mengajarkan saya bagaimana mencapai mimpi dan mengembangkan passion. Beberapa dari mereka juga memberikan cara pandang yang bagi saya cara pandang yang baru. Dengan cara pandang baru itu saya juga bisa menimbang langkah dan meneruskan langkah mengejar mimpi itu. Beberapa dari mereka mengajarkan, orang yang berhasil adalah orang-orang yang banyak membaca buku dan banyak menulis dan orang yang menghormati para guru.

 

Selesai di tulis,

Di Jakarta, 09 April 2016

 

 

Menanti Senja di Akhir Pekan

Hari Sabtu

Hari sudah sore. Matahari dia atas sana semakin terang memancarkan cahayanya. Selepas saya pulang kerja, saya bergegas menuju stasiun Universitas Indonesia. Tujuan saya kesana untuk membeli buku-buku perkuliahan di toko buku yang ramai dikunjungi mahasiswa UI dan sekitarnya. Toko buku ini dikenal dengan toko buku kober. Letaknya persis di samping stasiun Universitas Indonesia. Cukup melewati jembatan penyeberangan orang (JPO) stasiun UI, kita sudah sampai persis di depan toko buku kober. Jembatan penyeberangan ini cukup tinggi dibanding dengan jembatan penyeberangan yang umumnya ada di Jakarta. Mungkin salah satu alasannya, standar tinggi jembatan penyeberangan yang ada di atas jalan raya berbeda dengan jembatan penyeberangan di atas rel kereta api. Saya mendapat rekomendasi dari seorang teman di kampus bahwa toko buku kober ini yang cukup lengkap untuk ukuran mahasiswa dan harga buku-bukunya juga terjangkau.

Sebelum sampai di toko kober ini, saya bertanya dimana alamat toko buku kober dengan dua orang remaja yang sedang  mengobrol di halte depan masjid Al-Ukhuwah UI. Dari mereka saya mendapat info letak toko buku kober di samping persis stasiun UI. Dari halte tersebut, saya berjalan kaki kurang lebih 200 meter ke stasiun UI dan dari sana saya menaiki jembatan penyeberangan.

Saat berjalan menuju stasiun UI saya melihat banyak remaja yang sedang joging sore di jalan utama kampus UI. Saya pernah dua kali joging di tempat ini. Saya mengakui kampus ini kampus yang sangat memelihara penghijauan (di kiri kana mudah ditemui pohon-pohon besar yang tertata rapi), bersih, lahan terbuka hijau ada di setiap gedung fakultas dan banyak fasilitas umum yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang ada di sekitar Universitas Indonesia. Jalan utama kampus ini sering dijadikan oleh masyarakat umum untuk trek joging pada akhir pekan. Tidak heran, hampir tiap akhir pekan jalan utama kampus UI ini dipadati oleh masyarakat yang ada di Jakarta, Depok, dan sekitarnya. Banyak diantara mereka yang datang ke tempat ini untuk berolahraga bersama keluarga dan mencicipi kuliner yang ada di sekitar kampus ini.

Saya tiba di toko buku Marwan (salah satu nama buku di sekitar jalan kober). Saya menyebutkan beberapa judul buku yang saya butuhkan kepada pedagang  toko buku ini. Pedagang tersebut dengan sigap mencarikan nama-nama buku yang saya sebutkan tadi. Sambil menunggu datangnya pesanan buku, saya mengamati toko buku ini. Seisi ruangan toko ini dipenuhi oleh beragam jenis buku dari berbagi bidang pengetahuan. Buku-buku tersebut disusun rapi diatas rak-rak buku yang tingginya sampai mengenai plafon atap ruangan tok ini. Dengan begitu, mudah bagi pembeli melihat dan mencari buku yang ingin mereka beli. Di luar toko juga masih berjejer padat dan bertumpuk-tumpuk buku yang di pajang.

Harga buku yang di tawarkan juga beragam di sesuaikan dengan kondisi buku yang ingin dibeli. Bila kondisi bukunya bagus, harganya juga menyesuaikan. Bila kondisi buku kurang bagus (cover tidak terbaca, buku lecak), harganya semakin murah. Selain itu, buku-buku yang ingin dibeli boleh di buka plastiknya agar pembaca bisa melihat menyeluruh isi buku agar pembeli yakin bahwa buku ini yang sedang mereka butuhkan. Karena letaknya sangat strategis di samping stasiun UI, maka secara otomatis jumlah pengunjung dan jumlah pembeli toko buku ini cukup banyak. Maka saran buat pengunjung yang akan datang ke toko buku ini mesti bersabar dan harap antri.

Dari toko Marwan itu, saya membeli empat buku penunjang perkuliahan dan satu buku kumpulan cerpen dan sajak karya Dee Lestari. Sebelum pulang, saya meminta kartu nama toko buku ini untuk keperluan suatu hari bila saya ingin membeli buku, saya bisa menelpon toko buku ini apa ada buku yang sedang saya butuhkan. Bila sudah begitu, saya tinggal memesan via WA atau telepon buku yang saya cari, dan saat saya datang ke toko buku ini saya tinggal membayar dan membawa buku yang sudah saya beli. Jadi tidak perlu menunggu buku dicarikan dulu.

Selesai dari toko buku tersebut, hari sudah gelap. Saya kembali berjalan menuju tempat parkit motor yang ada di depan masjid Al-Ukhuwah UI. Saya berjalan di sepanjang trotoar dengan membawa sejumlah buku dengan tangan kanan saya. Sempat bergantian dengan tangan kiri saya, saat tangan kanan saya mulai terasa pegal. Cahaya lampu di setiap sudut jalan utama kampus UI sudah rata menyala. Jalanan juga semakin sepi. Padahal belum lama matahari tenggelam di ufuk barat. Hanya satu dua orang yang berlalu lalang. Selebihnya lebih banyak orang yang duduk di halte dekat stasiun UI.

Saat membawa sejumlah buku yang saya baru beli ini saya teringat seorang dosen di kampus, “ Setelah kalian diberi kemudahan membeli buku, semoga kalian diberikan kemudahan untuk mau  membaca dan memahami isi buku yang sudah dibeli itu.” Saya tersenyum tipis mengingat pesan itu.

Hari Minggu

Untuk pertama kalianya setelah sekian lama, sore ini telapak kaki saya berjalan tanpa alas di sebuah komplek perumahan. Kaki saya kembali merasakan daun-daun yang masih basah seperti belum lama jatuh dari pohonnya. Daun-daun itu bercampur dengan aspal yang sudah membasah membuat telapak kaki saya dingin saat menginjaknya. Daun-daun itu ada yang masih berwarna hijau dan ada yang sudah menguning. Dibawah pohon-pohon besar yang cukup terawat ini kesejukan hadir begitu saja. saya mulai berjalan dan lari-lari kecil di bawah pohon-pohon itu. Sore itu tidak banyak warga yang joging di jalan komplek perumahan ini. Saya menikmati sore itu ditemani hembusan angin sore, sinaran matahari yang semakin berwarna merah keemasan menandakan sebentar lagi gelap akan datang, dan keramaian remaja yang asyik berbincang sambil berlari beriringan.

Saat matahari terbenam menyisakan gelap di atas sana, saya mengakhiri joging sore ini. Sudah waktunya pulang.

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 1 April  2016