Monthly Archives: January 2015

Terus Belajar dan Berkembang

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang menempuh perjalanan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Sudah empat bulan saya kuliah di Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Banyak yang saya dapat dari kuliah di tempat ini. Tentu yang pertama saya dapatkan adalah ilmu pengetahuan. Saya mengikuti kuliah tiap hari Senin sampai Jum’at. Selama itu pula saya mendapat wawasan baru terutama tentang pendidikan ekonomi. Ternyata ekonomi itu tidak sesederhana yang saya pikirkan. Sebelumnya saya hanya tahu bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang berhubungan dengan keuangan. Tetapi ilmu ekonomi itu mengatur perilaku ekonomi antar produsen dan konsumen (ekonomi mikro) dan perilaku ekonomi suatu masyarakat dan negara dalam menjaga kelangsungan hidup sebuah bangsa (ekonomi makro). Ada beberapa yang saya cermati sedikit tentang perubahan saya setelah kuliah di jurusan ini.

Pertama, saya lebih banyak mendengarkan. Mendengarkan dosen yang sedang menyampaikan materinya. Menurut saya mendengar merupakan salah satu pintu masuknya ilmu dan pemahaman. Dengan banyak mendengar materi, semakin banyak pula wawasan yang saya miliki. Mendengarkan dosen yang sedang menerangkan materi perkuliahan juga salah satu bentuk kesungguhan saya dalam menuntut ilmu dan menghargai dosen. Bagi saya siapapun dosennya tetap saya berusaha menghormatinya. Saya tidak mau mengecewakan dosen yang sudah berbagi ilmu dengan saya. Sebisa dan semampu saya akan tetap menghormatinya. Saya yakin setiap orang yang sedang berbicara di depan umum (Public Speaker) pasti ingin audience mendengarkannya dengan baik. Tidak nyaman sekali dan pastinya ada rasa sakit dihati ketika kita berbicara di depan umum sedangkan audience nya acuh tak peduli terhadap apa yang kita sampaikan. Seolah sebagian audience tidak mengaggap ada yang sedang berbicara di depan kelas. Saya hanya ingin menjadi pendengar yang baik, menghormati orang yang menyayangi saya dengan memberikan saya pengetahuan. Dan saya pun ingin ketika saat saya tampil di depan umum, minimal audience mau mendengarkan apa yang saya sampaikan. Bukankah ada ayat dalam Al-Qur’an : ““Jika kalian berbuat Baik (berarti) kalian berbuat Baik untuk dirimu sendiri,Dan jika kalian berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri”.. (QS. Al Isra : 7)

Kedua, saya jadi lebih banyak membaca. Tugas-tugas yang diberikan dosen secara tidak langsung memerintahkan para mahasiswa untuk mau membaca. Dan saya sepakat dengan hal ini. Dengan ada tugas memang mau tidak mau saya harus membaca dan memahami bacaan yang dibaca. Hal ini juga nilai positif bagi saya dan teman-teman mahasiswa yang lain untuk sering-sering membaca. Semakin banyak sesorang membaca semakin banyak juga pengetahuan yang diserapnya. Saya sendiri termasuk orang yang malas membaca kalau tidak ada tugas atau tidak ada jadwal ujian besoknya. Tapi saya selalu mau mendengarkan dan mencatat hal-hal penting ketika dosen sedang menerangkan banyak hal. Dengan membaca saya bisa belajar menganalisa masalah-masalah ekonomi yang sedang aktual terjadi. Banyak juga istilah baru yang saya dapat. Seperti kebijakan fiskal (kebijakan yang mengatur pendapatan dan pengeluaran belanja negara), kebijakan moneter (kebijakan yang mengatur mata uang yang beredar di masyarakat), moratorium (memberhentikan perjanjian atau kesepakatan), ratifikasi (perjanjian yang dijadikan undang-undang), dan masih banyak yang lain.

Ketiga, saya jadi mengenal banyak dosen dengan metode mengajarnya. Ada dosen yang mau menjelaskan dengan detail materi dengan bahasa yang mudah dipahami, ada juga dosen yang hanya menjelaskan poin pentingnya saja. Sehingga mahasiswa harus pandai menganalisanya dan memahaminya, ada juga dosen yang terlalu banyak menuntut agar mahasiswanya mengerjakan setiap tugas diberikan tanpa dibarengi dengan memberikan penjelasan dari materi yang dibahas dengan penuh pengertian bahwa sebagian besar mahasiswa yang kuliah ini baru pulang kerja, masih terasa sekali lelahnya, masih penat-penatnya merasakan macet, sehingga mahasiswa ingin dosen menyampaikan materi dengan beberapa pengulangan dan bahasa yang mudah dipahami. Yah, itu juga bahan pembelajaran buat saya ketika suatu hari nanti saya menjadi seorang dosen saya akan berusaha mengerti keadaan mahasiswanya. Menuntut ini itu kepada mahasiswa juga secara tidak langsung memberikan tekanan psikis mahasiswa. Proses belajar jadi tidak sehat. Karena ada faktor paksaan dalam diri. Tetapi saya akan berusaha menghormati setiap dosen yang mengajari saya.

 

Jakarta, 19 Desember 2014

Imron Prayogi

Advertisements

Motivasi Menulis

 

Sudah lama sekali tidak menulis. Terakhir aku menulis di bulan september atau oktober 2014. Pagi ini aku kembali mengikrarkan untuk kembali menulis. Dan sekarang aku ingin menulis tentang mengapa saya menulis?

  1. Menulis adalah sarana menuangkan isi hati dan segala penat yang mengganjal di hati. Sarana untuk terapi agar emosi kita stabil. Dengan menulis akan lahir kepuasan setelah tulisan selesai ditulis. apalagi menuliskan emosi negatif yang sedang dihadapi, entah tulisan itu berikan uneg-uneg, keluh kesah, bahkan harapan sekalipun. Berharap bahwa ketika saya sedang mengalami keterpurukan pun masih bisa menulis. masih bisa mengeluarkan ide lewat tulisan. Saya hanya ingin agar aku bisa menapaki hari ini dengan ikhlas, hari-hari selanjutnya dilalui dengan ringan, tulus, dan dengan hati yang bersyukur.
  2. Menulis adalah kemauan untuk berbagi pengalaman. Sebaik apapun rezeki yang saya terima, sebahagia apapun perasaan yang saya rasakan, sesedih apapun perasaan yang saya rasakan, saya harus mampu berbagi pengalaman. Minimal dengan menuliskannya. Atau bisa juga berbagi cerita kepada teman dekat saya. Dengan begitu saya bisa menjalin interaksi dengan teman akrab saya lebih dari sekedar mengenalnya. Tetapi lebih kepada rasa saling memahami dan menghargai.
  3. Menulis adalah keterampilan yang bisa saya pelajari. Saya yakin semakin sering seorang menuangkan ide dalam bentuk tulisan, semakin terampil orang tersebut dalam menulis. Kalau dalam buku Menulis Kreatif Bapak Oleh Sholihin tertulis bahwa menulis itu tidak cukup menunggu waktu luang. tetapi luangkanlah waktu untuk menulis. Luangkanlah dari dua puluh empat jam sehari, setengah jam sampai satu jam untuk menulis. Dengan begitu semakin hari demi hari akan terlihat kemajuan dalam menulis.
  4. Menulis adalah bagian dari semangat hidup. Dengan indikasi menulis itu bisa dikatakan orang itu memiliki semangat menulis yang tinggi. Tidak peduli tulisannya dimuat di surat kabar atau tidak, tidak peduli tulisannya diterbitkan atau ditolak oleh berbagai penerbit. Saya hanya ingin menggali dan mengembangkan potensi saya dalam bidang menulis. Dan saya percaya untuk menghasilkan karya tulis yang baik harus mempunyai semangat menulis kuat. Tidak rapuh dengan kritik tajam para pembaca. Misalnya, sekali dikritik sudah malas menulis lagi. Tulisan tidak jadi buku, kecewa yang berkepanjangan. Dari sekarang saya harus mulai banyak membaca para penulis yang memiliki semangat menulis yang kuat. Seperti para senior Forum Lingkar Pena, ada Mbak Helvy Tiana Rosa, ada Mbak Pipiet Senja, ada Kang Abik dan masih banyak lagi yang lain. Bagi saya mereka telah melewati proses panjang dalam menulis dan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Seperti kang Abik dalam buku Catatan Motivasi Seorang Santri, menurut saya cerpen yang dimuat di buku itu masih sangat sederhana. Kang Abik bilang dalam buku ini dilampirkan cerpen-cerpen yang Kang Abik tulis ketika awal karier Kang Abik menulis. Tetapi berapa tahun kemudian, Kang Abik menulis novel Ayat-Ayat Cinta yang mendapat respon luar biasa oleh pembaca di tanah air. Bahkan novel tersebut mendapat pujian dari berbagai tokoh penulis senior di tanah air. Artinya Kang Abik memiliki konsistensi dalam menulis. Memiliki semangat luar biasa dalam menulis. Dan tulisan yang ditulis dengan keikhlasan dan penuh kesungguhan. Saya ingin menjadi seperti Kang Abik yang memiliki semangat menulis yang tinggi. Saya ingin menulis yang bermanfaat bagi diri saya dan orang lain dan tulisan itu membawa pesan kebaikan pada pembacanya. Belum ada kata terlambat untuk memulai menulis. Selama detak kehidupan masih berbunyi, selagi keinginan kuat masih dimiliki, maka tetaplah menulis. Untuk hasilnya, saya bertawakal kepada Allah Yang Maha Pemberi Rahmat.