Monthly Archives: August 2016

Hujan

rain

Hujan malam ini terasa panjang. Rintik-rintik bening yang jatuh membawa suasana teduh. Teduh sekaligus menenteramkan hati.  Setiap deraian airnya membasuh ke dalam rongga-rongga jiwa. Dalam setiap tetesannya mengandung doa lirih mewakili hati yang merindu. Dalam setiap genangan yang tertinggal membias bagaikan cermin yang membekas setiap orang yang melewati genangan air itu. Di dalamnya pantulan wajah begitu terlihat dengan pancaran lampu jalan yang membinar.

Hujan juga selalu membawa hawa sejuk sekaligus dingin. Ia datang lengkap dengan air jernih, gemuruh petir, dan angin yang bertiup kadang pelan dan kadang kencang. Ia juga datang membawa segenap kenangan yang sudah terlewatkan. Kenangan yang membangkitkan masa lalu yang membuat hati semakin meluruh dengan kisah-kisah bersama orang-orang tercinta. Menyejukkan sekaligus menambah rindu.

Dari lobi utama kampus ini saya bisa memandangi hujan yang kian melebat disertai angin cukup kencang. Satu dua gemuruh petir menghias di gelapnya langit. Sesekali air hujan terbawa angin menerobos mengenai para mahasiswa yang sedang berdiri di teras menanti hujan berhenti. Daun-daun tanaman yang tertata rapi di sekeliling halaman kampus menari-nari mengikuti tiupan angin seakan ia senang dan ceria menyambut datangnya hujan mengingat bulan ini sudah memasuki musim kemarau.

Hujan juga membawa wangi tanah yang khas yang menyegarkan saat kitabernafas. Wangi tanah yang mampu menggelitik syaraf hidung. Hujan selalu menyisakan pemandangan alam yang penuh warna. Ia membuat kita tersadar bahwa hujan yang turun selalu membawa rezeki bagi makhluk hidup yang ada di bumi.  Ia merupakan bagian dari siklus kehidupan yang harus disyukuri kehadirannya. Karena setiap tetesan yang membasuh bumi mengandung keberkahan dan kebermanfaatan yang sangat besar bagi semesta.

Hujan selalu hadir disertai tanda. Tanda yang memberi sinyal sebentar lagi akan turun hujan sehingga kita bisa bersiap dengan atribut jas hujan, payung, dan jaket penghangat. Biasanya tandanya berupa gumpalan-gumpalan awan yang berwarna gelap disertai angin yang bertiup kencang. Begitu pun pada saat hujan akan berhenti, ia akan memberi sinyal melalui langit yang cerah dan matahari yang memancarkan sinarya tanpa terhalang oleh gumpalan awan.

Meskipun sebagian orang masih saja beranggapan hujan selalu membuat suasana suram, alasan untuk bermalas-malasan, membuat rumit keadaan karena harus memakai atribut jas hujan dan sejenisnya. Anggapan itu bisa dibuktikan dari ucapan yang keluar dari orang-orang saat pertama kali hujan turun. Kebanyakan dari kita mengeluh akan turunnya hujan. Setiap ucapan yang keluar dari lisan kita merupakan cermin dari hati kita. Tetapi pada saat yang sama kita mesti sadar diri, kita hidup di Indonesia yang memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Keduanya bagian dari iklim yang ada di Indonesia. Keduanya mesti di sikapi dengan bersyukur bukan menggerutu dan berkeluh kesah.

Walaupun begitu, hujan selalu datang tepat pada waktunya. Ia hadir menyapa bumi dalam bentuk tetesan bening yang menghujam ke dalam tanah. Ia membawa hanyut semua yang terserak ke  sungai bahkan hingga ke laut. Ia membuat genangan air yang memantulkan apa yang yang diatas genangan itu. setiap tetesnya membuat lingkaran kecil pada genangan air itu. Ia membuat bunga-bunga bermekaran, tunas tanaman dan pohon-pohon bertumbuh yang kemudian dari setiap pohon itu menghasilkan oksigen untuk kebutuhan manusia. Dari hujan kita bisa belajar bahwa air jernih akan menghasilkan air yang jernih yang lainnya.

Dari hujan, ternyata kita menemukan makna bahwa kita mesti belajar bersyukur lagi, lagi, dan lagi.

Jakarta, 21 Agustus 2016

Mulailah dari Diri Sendiri

be your self

Mulailah dari diri sendiri. Ungkapan ini mengandung pesan bahwa perubahan itu di awali dari diri sendiri. Pesan pendek namun memiliki bobot yang mendalam. Setiap cita-cita, profesi yang diingini, mimpi yang diharapkan, semua itu dapat terwujud dengan kemauan dalam diri sendiri yang kemudian terpancar melalui semangat dan komitmen mewujudkan mimpi itu. Diri sendiri yang paling tahu potensi diri untuk berkembang pada bidang yang kita diminati. Pada akhirnya, diri sendiri yang akan melangkah, bereaksi, dan berproses melalui jalan panjang dengan segenap konsekuensi yang ada di dalamnya. Orang lain hanya bisa melihat, mendukung, menasihati, memfasilitasi, namun semua itu kembali kepada seberapa besar langkah nyata kita untuk terus bergerak, untuk terus berdiri kokoh menghadapi proses nan terjal lagi panjang dengan resiko yang beragam.

Dalam realita kita hidup bermasyarakat yang tidak lepas dari pandangan dan opini orang lain yang menilai tindakan yang kita lakukan. Ada yang mendukung dan ada juga yang meremehkan. Ada yang acuh tak acuh dan ada yang peduli. Begitu rotasi kehidupan. Setiap orang punya hak untuk menyampaikan pendapat. Kita cukup menjadi diri kita sendiri. Kita cukup mengenali potensi yang ada dalam diri sendiri kemudian kita terus asah melalui latihan-latihan. Kita cukup mengikuti apa yang menurut hati kita baik. Kita cukup mendengar nasehat orang-orang yang peduli dan sayang pada diri kita yang selalu memberi hikmah melalui lisan dan perilakunya. Selebihnya lupakan dan tidak perlu di pedulikan ucapan yang bermuatan negatif. Dengarkan nasehat yang membuat kita terdorong untuk berkembang. Biasanya nasehat itu bersumber dari orang-orang yang dekat dengan kita seperti, orang tua,  guru, kakak, adik, teman sebaya, teman akrab, dan kerabat dekat.

Orang-orang yang terdekat dengan kita lebih mengenal kepribadian kita. mereka tahu etika menyampaikan teguran bila ada perilaku kita yang mengarah pada hal-hal yang buruk dengan bahasa yang lembut dan menghindari kata-kata yang kasar. Jadikan teguran itu sebagai sarana muhasabah (introspeksi) diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Muhasabah diri itu sangat penting. Karena dengan itu kita melihat lebih jernih hati dan perilaku kita secara menyeluruh. Kita bisa menimbang apa yang harus ditingkatkan dan apa yang harus diperbaiki dengan perilaku dan tutur kata kita.  Dengan begit itu rasa ego dalam diri akan terkikis secara perlahan.

Tunjukkan bahwa kita punya prinsip yang kuat. Dari prinsip kita, orang lain yang ingin mengenal dan berteman dengan kita  akan berusaha memahami dan menghormati prinsip yang kita pegang. Diri kita menjadi warna yang khas di tengah keberagaman. Dengan begitu kita dapat menghargai perbedaan karakter orang-orang yang ada di sekeliling kita.

Waktu itu terus bergerak dan akan tetap terus berjalan. Diri kita sendiri yang akan merasakan hasil apa yang kita tanam selama ini. Bila kita memanfaatkan waktu dengan menggeluti passion di bidang yang kita sukai, yakinlah semua pasti ada hasilnya. Tidak ada yang sia-sia dari setiap jerih payah yang kita usahakan. Kenali potensi dalam diri kita. Kalau kita suka menulis, tekuni menulis itu. kalau kita suka bermain musik, giatkan latihan itu. Kalau kita suka memasak, jalani itu dengan penuh rasa ingin tahu dan mau mencoba. Potensi itu semakin dilatih akan semakin terasah.

Bila ada orang yang mencela hobi kita bahkan meremehkan hobi yang kita senangi, teruslah melakukan hobi yang di sukai, teruslah berlatih dan teruslah belajar. Jangan terpengaruh dengan hal negatif yang dapat merusak konsentrasi kita dan menghanguskan semangat dalam diri kita. Orang yang mencela hobi  kita adalah orang yang mencoba menghambat keberhasilan kita. Kalau kita patah semangat dari penilaian negatif orang lain berarti kita tidak sungguh-sungguh mewujudkan impian kita. Maka segera temukan motivasi terbaik mengapa kita terus mengembangkan passion kita.

 

 

Jakarta, 13 Agustus 2016

Merawat Cinta

ig tausyiahku

Menjaga lisan adalah salah satu dari akhlak dalam Islam. Karena lisan ada representasi dari hati yang bisa berdampak kebaikan dan bisa berdampak keburukan. Menjaga lisan memang sering kita dengar namun dalam praktik keseharian masih banyak orang yang hanya mendengar kata menjaga lisan tanpa memahami secara utuh bagaimana menjaga lisan yang sebenarnya. Dalam saat-saat tertentu boleh jadi hawa nafsu menguasai diri kita sehingga marah kian memuncak bahkan hingga akhirnya terucap dari lisan kita kata-kata yang kasar hingga membuat hati orang lain terlukai.

Melukai hati orang lain adalah salah satu bentuk kezaliman yang membuat hubungan antar sesama menjadi tidak harmonis. Karena di sana ada pihak yang merasa terlukai perasaannya apalagi ucapan yang keluar dari lisan orang yang sedang marah itu menyangkut masalah hak asasi atau kehormatan diri seseorang. Boleh jadi pelaku orang yang tidak bisa menjaga lisan adalah atasan kita, senior-senior kita di kampus, kakak kita sendiri bahkan teman kita sendiri. Perkataan buruk  yang mereka ucapkan keluar begitu saja merampas rasa nyaman orang-orang yang ada di sekitar kita.

Pada dasarnya setiap orang tidak suka dizalimi baik melalui lisan apalagi tangan. Karena itu setiap orang akan berusaha menghindar dari setiap bentuk kezaliman. Namun ada saat memang kezaliman itu sangat sulit dihindari yang pada akhirnya hanya rintihan doa yang tersisa. Doa orang yang terzalimi tidak akan ditolak oleh Allah.

Rasulullah saw bersabda: “tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang puasa sampai ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (H.r. At-Tirmidzi)

Dalam keseharian, setiap orang akan lebih nyaman berteman dengan orang-orang yang mampu mengendalikan lisan. Karena dengan begitu rasa tenang akan selalu hadir bersama mereka. Tidak ada rasa kekhawatiran akan ucapan-ucapan yang buruk yang tidak kita sukai. Karena dengan begitu kita bisa meluapkan setiap curahan hati dan bercerita tanpa takut akan dibocorkan atau disebarluakan ke orang lain. Karena yang ingin kita bicarakan adalah kehidupan tentang diri sendiri bukan kehidupan orang lain.

Yang paling utama dalam membangun hubungan antar sesama adalah rasa nyaman dan rasa percaya, entah itu hubungan antara adik dengan kakak, teman dengan teman, dan atasan dengan bawahan. Saat semua pihak dengan orang yang dekat dengan kita mampu menjaga lisan dan menjaga perasaan orang lain, makan hubungan itu akan semakin harmonis. Karena dari sana kita dipertemukan dengan orang-orang yang satu prinsip bahwa, kita sama-sama berkomitmen menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang buruk dan saling menghargai setiap perbedaan. Selama kita mampu menjaga prinsip itu tanpa ada pihak yang mencederai prinsip itu, maka selama itu hubungan sosial bertahan lama dan semakin erat.

Rapuh atau tidaknya sebuah hubungan antar sesama bisa dilihat dari kejujuran setiap orang dalam membangun kebersamaan. Di saat memang kejujuran itu memancar dari rangkaian percakapan, rentetan peristiwa hingga menyentuh dinding kepedulian dan simpati yang berawal dari hati maka di saat itu maka hubungan sangat layak dipertahankan. Dengan kejujuran itu ego dengan sendirinya akan mencair berganti dengan perasaan sama-sama saling menghargai dan saling mendukung kepada kebaikan.

Memang ada masa dimana perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai menjadi pilihan akhir karena adanya tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab membela cita-cita dan idealisme hidup seperti, belajar di daerah yang sangat jauh atau ditempatkan dinas bekerja di suatu daerah di provinsi yang berbeda. Namun percayalah, kita bisa merawat hubungan dengan orang-orang yang kita cintai melalui doa-doa panjang dengan penuh rasa harap. Kita bisa menitipkan rindu melalui tulisan-tulisan diary dan melalui lembaran surat yang berisi ungkapan rindu dan pengalaman hidup di tempat yang baru, lalu surat itu  dikirim melalui jasa pengiriman surat. Percayalah, pada akhirnya rindu kepada orang yang kita cintai menjadi penyemangat untuk menyelesaikan pendidikan atau pekerjaan sesegera mungkin dan secepat mungkin hingga pada akhirnya kita dapat pulang bertemu dengan orang-orang yang juga menanti dan merindui kehadiran kita.

Jakarta, 06 Agustus 2016