Monthly Archives: January 2017

Jejak Kerinduan

rumah-gemilang-indonesia

08 Januari 2017

Hari itu, saya mengunjungi adik saya di Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Depok. Adik saya diterima untuk belajar program Apikasi Perkantoran pada Angkatan 16 RGI. Selama mengikuti pendidikan (enam bulan) ia akan tinggal asrama. Tujuan saya datang untuk mengantarkan pakaian dan lauk kering untuk adik saya. Tiba di sana saat hari sudah sore. Hari itu cuaca cukup cerah dan sedikit berawan.

Ini kali pertama saya datang kembali ke RGI selama  tiga tahun terakhir. Saat menginjakkan kaki di tempat ini hati saya menghangat. Ingatan semasa saya tinggal dan belajar di tempat ini seketika memenuhi kepala saya. Saya menyadari saya pernah hidup dan menjadi bagian keluarga besar di rumah ini Angkatan 5 tahun 2011. Enam bulan tinggal di asrama ini membuat kenangan bersama teman-teman dan instruktur program begitu membekas di hati saya. Rumah ini bukan rumah biasa. Saya menempatkan rumah ini menjadi rumah saya sendiri. Rumah tempat saya merajut mimpi-mimpi masa depan, rumah tempat saya mendapat inspirasi untuk semangat dan tekun menulis, rumah tempat saya mengasah kreativitas, dan rumah untuk mengembangkan diri pada bidang komputer. Sesuai namanya Rumah Gemilang Indonesia, rumah ini menjadi pintu para murid-muridnya untuk menjemput masa depan yang gemilang.

Saat berkunjung kali ini saya bertemu dua teman satu angkatan dengan saya yang sudah bekerja menjadi asisten instruktur program dan salah satu tim Manajemen RGI. Ruslan dan Mas Uki.  Bersama mereka saya meluapkan kerinduan melalui cerita mengenang masa-masa saat kami belajar di sini. Kami saling bertanya mengenai aktivitas dan kesibukan saat ini, termasuk target dalam jangka pendek di tahun ini. Kami bercerita lepas sekali yang membuat kami tertawa dan tersenyum lebar.

Saya menyadari betapa pun lamanya saya pergi meninggalkan rumah ini, rumah ini selalu memiliki kenangan sendiri buat saya dan rumah ini  akan selalu menerima kehadiran para alumninya. Rumah ini mengajarkan saya untuk terus memelihara rasa ingin tahu yang lebih tinggi, untuk terus semangat mewujudkan mimpi, untuk terus berupaya dimana pun kamu berada pastikan kamu dapat memberikan kebaikan dengan lingkungan sekitar. “Kalian harus menjadi lilin yang cahaya selalu menyala menerangi orang-orang di sekitarmu,” pesan dari Bapak Sigit Iko Sugondo, Direktur Rumah Gemilang Indonesia. Kini, semangat itu masih terus menyala di hati saya.

“Mas Uki, saya sebenarnya kangen banget mau silaturahmi ke sini dari jauh-jauh hari. Tapi gimana ya saya aja yang belum menyempatkan datang ke sini.”

“Datang aja Mas Imron ke sini. Mas Imron nanti  bisa memberikan motivasi untuk adik-adik di sini. Biar saya yang atur forumnya. Saya akan bilang kepada mereka, ini lho ada kakak kelas kalian yang sudah bekerja dan kuliah dengan biaya sendiri yang akan berbagi cerita dan pengalamannya dari mulai dia belajar di RGI hingga bekerja. Sudah bekerja dan Kuliah dengan biaya sendiri kan suatu kebanggaan.”

Saya tersenyum mendengar tawaran itu dan saya menerima tawaran itu. Ada rasa bangga diberi tawaran ini. Mas Uki adalah teman satu angkatan dengan saya namun berbeda program dengan saya. Saya di program teknik komputer dan jaringan dan Mas Uki di program Fotografi dan Videografi. Saat ini dia menjadi asisten instruktur program fotografi dan videografi di RGI. RGI membuka program beasiswa untuk enam program yaitu teknik komputer dan jaringan,  aplikasi perkantoran, menjahit dan tata busana, design grafis, fotografi dan videografi, dan otomotif. Info selengkapnya bisa di lihat di rumahgemilang.com.

Setelah diskusi dengan Mas Uki, terngiang di telinga saya sebuah kalimat, sudah bekerja dan bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri itu adalah suatu kebanggaan. Saya mencoba memahami kalimat itu pelan-pelan hingga batin saya berkata , “Kamu perlu melihat orang-orang yang hidupnya lebih prihatin darimu, hingga kamu dapat lebih bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan untukmu.” Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari RGI ini. Karena dengan rasa bangga itu motivasi belajar saya selama menuntu ilmu di sini dapat stabil dari awal hingga saya mengikuti proses wisuda.

Selama kamu meninggalkan jejak dan kesan baik dimanapun kamu berada, kamu selalu bisa kembali menyapa tempat-tempat itu dengan hati yang dipenuhi rasa rindu. Satu jejak kebaikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain.

Masa depanmu bergantung apa yang kamu lakukan hari ini. Keberhasilan adalah milik orang-orang yang bersungguh-sunggguh.

Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya membuat ia semakin banyak menyerap pelajaran dari kehidupan.

 

 

Jakarta, 18 Januari 2017

Segenggam Asa

new-year

Tahun 2016 sudah berlalu. Namun tahun itu memiliki kesan tersendiri di bagi saya. Terutama mengenai idealisme dan komitmen atas resolusi tahun tersebut. Pada akhirnya saya melihat daya dan kesungguhan saya yang belum optimal merealisasikan seluruh rencana yang sudah saya susun sejak awal tahun tersebut. Tapi saya bersyukur meskipun demikian ada poin-poin pembelajaran yang saya petik dari rangkaian waktu yang sudah berlalu itu. Alangkah bijaknya jika setiap pribadi tidak jatuh dalam lubang kesalahan dan kelalaian yang sama dengan di masa lampau. Menjadi pembelajar sejati dibutuhkan untuk mengasah diri menjadi pribadi lebih dewasa dan mampu berfikir lebih matang.

Komitmen apa yang ingin dicapai tahun ini? Atau resolusi apa yang ingin diraih tahun ini? Pertanyaan itu selalu muncul dan seringa ditanyakan oleh banyak orang terutama saat awal tahun baru. Ada yang beranggapan resolusi itu tidak perlu dibuat. Jalani saja hidup ini seperti air. Biarkan hidup mengalir kemana arus membawanya. Ada yang beranggapan hidup ini butuh resoluso agar apa yang diharapannya menjadi jelas. Dua anggapan diatas sah-sah aja. Setiap orang berhak memilih anggapan apa yang cocok bagi dirinya. Saya sendiri adalah orang yang cenderung menjadikan resolusi sebagai target pencapaian. Karena menurut saya, dengan resolusi yang dibuat saya akan tahu perkembangan apa yang ingin saya capai.  Lebih pentingnya lagi, resolusi ditulis sebagai dasar pijakan arah dimana saya harus melangkah dan strategi apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Resolusi itu di susun untuk mengarahkan langkah kita kemana harus bergerak. Resolusi itu membuat seseorang lebih dinamis, kreatif, dan memiliki semangat yang tinggi dalam hidup. Resolusi di tulis sebagai bentuk komitmen diri untuk mengembangkan diri, mematangkan pemikiran, mendewasakan diri, dan menghargai waktu dalam kehidupan. Pada resolusi, komitmen seseorang diuji seberapa serius ia menapaki setiap tahapan proses untuk mendapakan goal. Pada resolusi, kesabaran dan keuletan seseorang di tantang apakah ia mempunyai motivasi yang stabil untuk menggerakkan jiwa dan fisik dalam mengejar target. Pada resolusi, rasa percaya diri seseorang di uji apakah ia yakin akan memperjuangkan resolusi itu meskipun hambatan (baik hambatan dari dalam maupun hambatan dari luar) datang menghadang.

Kita tidak pernah tahu impian kita yang mana yang akan menjadi pintu rezeki buat kita. Lima atau sepuluh tahun kemudian tidak menutup kemungkinan passion yang kita tekuni hari ini secara konsisten menjadi pembuka pintu rezeki untuk kita. Tugas kita adalah berusaha yang keras dan berdoa yang tulus. Yakini setiap langkah yang kita niatkan untuk memperbaiki diri, menjemput rezeki yang halal, mengembangkan potensi diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual adalah cara kita mensyukuri kehidupan ini. Karena hakikat syukur adalah berterima kasih kepada Allah swt.  melalui cara memanfaatkan segala pemberian dari-Nya dengan aktivitas-aktivitas kebaikan.

Buat target-target kecil untuk mewujudkan target yang besar. Realisasinya bisa bermacam-macam salah satunya, melalui planning (rencana) harian. Buat planning harian yang mendukung target besarmu terwujud. Misalnya, menulis satu novel dalam satu tahun. Maka untuk mencapai itu, mesti di cicil melalui rencana harian (punya agenda harian yang sudah ditulis pada malam hari sebelumnya) besok menulis target berapa lembar dan riset pustaka, buku-buku apa yang di butuhkan. Dan itu dilakukan secara rutin dengan penuh rasa tanggung jawab.

Planning harian itu sangat penting bagi tiap individu. Dari planning harian, kita membiasakan diri untuk berfikir visioner. Dari planning harian juga, kita punya pijakan arah hidup yang jelas dan terperinci. Dan yang paling penting planning harian dibuat agar sifat egois dalam diri kita terkikis pelan-pelan. Kita bisa lebih menahan diri dari hal-hal yang sifatnya semu dan cenderung destructive. Kita tidak mudah ikut-ikutan (tanpa mau tahu esensi sebenarnya) karena alasan gengsi atau takut dianggap kurang pergaulan oleh lingkungan sekitar kita. Kita punya confidence atas keputusan yang kita ambil. Kita punya reason mengapa jalan ini yang kita tempuh. Percayalah, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.

Kita hidup hari ini. Kita bukan hidup untuk hari-hari yang sudah berlalu. Maka jalani hari ini dengan sepenuh hati dan setulus jiwa. Kita boleh melihat masa lalu namun hanya sekadarnya saja, secukupnya. Untuk masa lalu yang menitikkan luka di hati dan memberatkan langkahmu hari ini, segeralah berpaling dan fokuskan untuk hiudp hari ini sambil ber-azzam (bertekad) hari ini saya harus lebih baik dari hari yang kemarin. Izinkan hatimu membuka lembaran baru di hari yang baru. Biarkan jiwamu berkarya dengan semangat yang baru. Biarkann fisikmu bergerak dengan harapan yang baru. Berdoalah kepada Allah agar diberikan kemantapan jiwa dan keteguhan hati untuk menyongsong hari yang baru dengan harapan yang baru.

Jakarta, 08 Januari 2017

 

Untukmu Sahabatku

 

Rentetan waktu yang kita lalui

Membuat pelangi harapan membenak

Ukiran senyumanmu bertabur kasih

Menyentuh hati yang kian teduh

 

Pada bola matamu yang memancar asa

Pandang arah luas membentang

Langit-langit jiwa yang terekat oleh kebersamaan

Menyatukan simpul-simpul  langkah

 

Kita sama-sama bertahan, sama-sama berjuang

Sama-sama memeluk mimpi-mimpi kehidupan

Hingga merekah menjadi bunga kenyataan

 

Kita punya segenggam harap

Yang tidak pernah luntur oleh waktu

Kita sama-sama merindukan saat bersua

Dalam kehangatan dan keceriaan

 

 

Jakarta, 07 Januari 2016