Monthly Archives: March 2015

Buku Fiksi Yang Menghibur

Buku adalah jendela informasi. Jendela yang ketika orang membaca akan bertambah wawasan. Wawasan apa saja. Bisa berupa pengetahuan, informasi, opini seseorang dalam menyikapi permasalahan, motivasi dan masih banyak yang lain. Saya sendiri sejak hobi membaca buku yang bergenre fiksi baik berupa novel maupun cerita pendek sejak duduk di bangku SMP. Di dalam cerita fiksi itu ada pesan – pesan moral yang disampaikan penulis kepada pembaca. Pesan – pesan moral itulah yang menjadi daya tarik saya hobi membaca cerita fiksi. Ketika membaca cerita fiksi terutama novel, saya seperti terhanyut ikut merasakan seperti apa yang dialami tokoh dalam novel itu. Bila tokoh sedang bahagia, seperti saya ikut merasa bahagia. Bila tokoh sedang sedih saya seperti ikut juga terbawa sedih. Bila membaca tentang deskripsi tempat yang menjadi setting cerita, seperti saya berada di tempat yang menjadi setting cerita. Benar apa yang tertulis dalam buku jurnalistik yang pernah saya baca ‘saya lupa judul dan pengarangnya’ isinya “Yang membedakan karya fiksi dan non fiksi adalah karya non fiksi hanya bersifat informatif.  Berbeda denga karya fiksi, karya fiksi memang cerita yang direkayasa oleh penulisnya. Karya fiksi seperti karya yang mempunyai ‘jiwa’ yang bisa mempengaruhi emosi pembaca.” Pembaca seakan-akan merasakan apa yang dirasakan oleh sang tokoh cerita tersebut. Di dalam karya fiksi ada tokohnya, setting tempatnya, sudut pandang (orang pertama atau orang kedua), dan yang menarik ada konflik dan problem solve dari konfik yang sedang dibangun. Emosi pembaca ikut terbawa dalam cerita.

Benarkah karya fiksi benar-benar hasil imajinasi dan rekaan semata tanpa adanya hubungan dengan kehidupan penulisnya? Menarik sekali pertanyaan ini untuk dijawab. Saya mengutip kalimat Mas Irwan Kelana dalam kata pengantar kumpulan cerpen karya beliau yang berjudul novelet Biarkan Cinta Menemukanmu, “Seorang penulis fiksi kerap ditanya orang, apakah puisi, cerpen, atau novel yang ditulisnya merupakan kisah nyata ataukah betul –betul rekaan? Sulit menjawab pertanyaan seperti itu. Karena pada dasarnya, hampir tidak ada cerita – entah itu puisi, cerpen, ataupun novel – yang betul-betul khayalan penulisnya. Bagaimanapun sebuah puisi, cerita pendek, maupun novel lahir dari pergulatan batin penulisnya maupun interaksinya dengan orang – orang di sekitarnya, orang – orang yang mempunyai keterkaitan dengannya maupun alam lingkungannya. Tapi sejauh mana kadar faktual dalam puisi, cerpen, atau novel itu, biarlah hanya penulisnya yang tahu. Mungkin ia hanya ingin menyimpannya sendiri di sudut hati.”

Buku adalah hasil karya penulis yang dalam pembuatannya melewati proses panjang. Tidak sedikit dari mereka yang rela meluangkan waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan demi menghasilkan karya tulisnya. Dengan membaca buku menambah semangat saya untuk semangat menulis. Menulis apa saja.  Dengan harapan tulisan yang ditulis ada sisipan pesan kebaikan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Teringat pesan Bang Tere Liye dalam akun FB nya yang tertulis, “Tidak ada tulisan yang buruk kecuali buruk isi tulisannya. Mengajak kepada perbuatan yang merusak. Dan tidak ada tulisan yang baik, kecuali isi tulisannya mengandung pesan-pesan kebaikan. Menghibur, menginspirasi untuk berbuat kebaikan.”

Membaca dapat melihat dan membayangkan tempat tertentu, walaupun belum pernah tempat itu secara langsung. Latar merupakan salah satu intrinsik dalam karya fiksi. Latar bisa berupa tempat, ruang, ataupun suasana yang sedang terjadi. Semakin detail penulis mendeskripsikan latar maka membuat pembaca memahami seolah-olah pembaca berada di tempat atau suasana di dalam cerita. Dan ini menjadi nilai plus sendiri dalam karya fiksi. Seperti kalimat dikutip dari novel Home karya Mbak Ifa Avianty halaman 7, “Pagi baru saja datang dan telah bergegas pergi lagi. Ia seperti biasa menyisakan kesibukan di jenak – jenak usia para penghuni bumi. Bergegas menuju kesibukan mengejar waktu dalam ruang, bagi yang masih aktif dan produktif. Sementara bagi kami yang telah berada di senja usia, pagi adalah ruang dan waktu di mana kami harus banyak mengucap syukur ketika Tuhan masih mengizinkan kami menatap dunia lagi. Saya juga demikian. Suami saya juga, meski ia melakukannya dari atas kursi rodanya. Pagi ini, Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk menyelesaikan lagi amanah-amanah yang masih ada ditangan kami. Saya tersenyum menyudahi kemesraan saya dengan sang pagi.” Latarnya pagi hari. Suasana yang dibangun adalah ungkapan rasa syukur seorang Ibu yang berusia lanjut atas nikmat diberikan usia yang panjang.

Bagi saya membaca buku adalah kegiatan yang banyak manfaatnya. Di sisa –sisa waktu luang ketika libur kerja, saya berusaha menyempatkan untuk membaca buku. Selain menambah wawasan, membaca buku juga dapat menambah kosa kata bahasa indonesia. Penggunaan kata-kata yang bervariasi banyak saya temukan. Membaca buku membuat seseorang mengetahui banyak hal tanpa dibatasi tempat. Dengan membaca saya bisa membayangkan suasana pagi hari di negeri kincir angin yang selalu ramai orang-orang bersepeda ke kantor atau ke kampus. Belanda negeri sejuta sepeda.  Bersepeda sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana. Dimana-mana akan terlihat parkir sepeda yang terlihat ramai.

Jakarta, 28 Maret 2015

Advertisements

Guruku, Pembimbingku

Malam ini saya menuliskan tentang salah satu guru yang menjadi inspirasiku. Guru yang selalu memberikan teladan berupa akhlak yang baik dalam kehidupan kesehariannya. Bapak Amroni namanya. Saya mengenalnya kali pertama di waktu saya duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Beliau tinggal dekat dari asrama dimana saya berada. Bisa dibilang beliau tetangga asrama. Beliau adalah seorang guru Bahasa Indonesia SMP Islam Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Sama seperti yang lain, saya juga awalnya hanya mengenalnya sekilas. Mengenal beliau adalah jamaah baru di mushallah Marhamah. Mushallah marhamah tidak hanya digunakan untuk ibadah oleh santri-santri yayasan marhamah. Tetapi sebagai tempat ibadah masyarakat disekitarnya juga. Namun seiring berjalannya waktu saya dan Pak Amroni semakin dekat. Walaupun kami para santri baru mengenalnya tapi dengan sikapnya yang rendah hati, ramah, mudah berbaur dengan orang-orang sekitarnya membuat beliau disegani dan dihormati oleh para kami. Belum lagi ketika beliau mendapat kesempatan untuk memberikan motivasi kepada kami, materi yang dibawakannya selalu membuat kami berdecak kagum sekaligus hanyut dengan apa yang beliau sampaikan. Cara penyampaiannya yang menarik perhatian pendengar. Dengan bahasa yang mudah dipahami, rangkaian kata demi kata yang diucapkan dengan jelas, ekspresi wajahnya yang meyakinkan, suara lantangnya yang terdengar jelas menjadi daya tarik kami untuk mendengarkan apa yang beliau sampaikan.

Belum tahu apa yang membuat saya dan Pak Amroni semakin dekat. Namun terkadang ketika ketidaktahuan saya atau ketidak mengertian saya terhadap pelajaran di sekolah terutama bahasa indonesia, membuat saya memberanikan diri untuk bertanya kepadanya tentang bahasan yang belum saya pahami. Seringnya waktu saya bertanya kepadanya setelah shalat isya. Sebelum beliau beranjak pulang ke rumah, saya berusaha meminta kesempatan untuk bertanya. Dan beliau  adalah orang yang selalu siap untuk memberi penjelasan. Selalu tersenyum hangat bila berjumpa dengan siapapun. Jika tidak ada acara atau agenda beliau segera menjawab dan menjelaskan bahasan yang sedang dipelajari.  Pernah suatu hari saya bertanya tentang format penulisan daftar pustaka.

“Pak, susunan penulisan daftar pustaka yang benar seperti apa ya?”

“Untuk memudahkan menghafal penulisan daftar pustaka disingkat menjadi natabukobitnabit.”

“Maaf Pak, Maksudnya apa ya pak? Saya baru dengar kalimat yang barusan bapak ucapkan.” Tanya saya polos.

“Natabukobitnabit adalah singkatan dari NAma Penulis, TAhun Terbit, judul BUku, KOta terBIT, NAma penerBIT.”

“Oh itu kepanjangannya ya. Iya Pak saya sudah paham natabukobitnabit nya. Terimakasih pak penjelasannya.”

Itu diskusi kecil yang kesekian kali yang selalu berakhir dengan bertambahnya wawasan saya. Disitu kadang saya merasa lega. Karena ketidaktahuan saya berganti menjadi paham. Tidak hanya tentang pelajaran, saya juga banyak bertanya tentang administrasi surat – menyurat OSIS. Biasanya saya menulis surat resmi dengan bahasa saya sendiri kemudian minta tolong Pak Amroni untuk memeriksa sekaligus memberikan koreksi pada bagian yang perlu diperbaiki. Apa beliau tidak keberatan dan merasa terganggu bila saya sering meminta waktunya untuk bertanya banyak hal?  Saya tidak tahu. Yang saya tahu beliau ketika dimintai tolong selalu tersenyum ramah, membuka percakapan dengan bahasa sederhana yang membuat semakin akrab, tidak ada rasa canggung antara guru dan murid. Itu saja sudah membuat saya menilai beliau adalah orang yang mau membantu dengan tulus. Tidak jarang saya bercerita banyak hal baik yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah maupun cerita tentang diri saya sendiri.

Selain sebagai tempat bertanya, tempat bercerita, beliau adalah seorang muslim yang shaleh. Beliau selalu berusaha shalat lima waktu di mushallah. Shalat sunnah rawatibnya selalu dijaga. Bacaan al-qur’annya yang tartil. Dzikir pagi dan petang selalu beliau bacakan. Selalu berbicara yang baik-baik. Beliau mengingatkan saya bahwa ibadah itu selain ikhlas karena Allah juga harus mengikuti tuntunan Rasulullah saw. Maka untuk memahami ibadah – ibadah yang sesuai tuntutan Rasulullah harus dengan ilmu. Salah satunya bisa dengan menghadiri kajian mingguan di masjid, membaca kitab-kitab para ulama. Mengenalnya membuat saya semakin memahami tentang Islam yang lebih luas. tentang sifat shalat Nabi saw, tentang dzikir pagi dan petang yang sesuai hadits, tentang fiqih ibadah. Sejak mengenal beliau membuat saya semangat belajar dan belajar lagi memahami Islam.

Mengingat kembali masa lalu yang saya lalui bersama Pak Amroni, membuat hati saya rindu. Rindu dengan suasana asrama yang selalu ramai. Sepuluh tahun menetap di asrama bukan waktu yang sebentar. Sepuluh tahun itu adalah masa dimana saya tumbuh dan berkembang ditemani oleh orang-orang yang mau menyayangiku dan mengingatkanku kepada kebaikan, mengingatkan maka apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Surat : Al-Insyirah : 7). Menyerukan  diri sendiri mari berubah ke arah yang lebih baik. Karena orang yang datang ke tempat ini adalah orang-orang yang ingin perubahan. Saat itu hatiku berkata, “Imron, Jangan membuat mereka kecewa, karena kemalasan dan keegoisan dirimu. Mereka sudah amat terlalu menyayangimu, mengasuhmu dengan kelembutan, dan mendampingimu di setiap jengkal kehidupanmmu. Jadi ayolah giat belajar, tingkatkan ibadah, dan berdoa untuk mereka, agar mereka kelak bangga setidaknya dalam fase-fase kehidupan mereka telah menanamkan benih-benih kebaikan, mendidik anak-anak agar kelak menjadi orang-orang yang beriman, berakhlak, berilmu pengetahuan dan bermanfaat dengan sesamanya.” Maka Ketika mengingat kisah Pak Amroni, maka beberapa kisah yang berkaitan dengan asrama menyeruak kembali. Kenangan itu datang dengan sendirinya. Kenangan yanng terkadang menyisakan banyak perasaan. Setiap episode kehidupan yang telah terlewati ada kenangannya sendiri. Kenangan itu menyadarkan bahwa beberapa tahun lalu saya pernah hidup bersama dengan teman-teman yang berasal dari beberapa daerah dalam satu yayasan, bahwa hidup saya pernah dibantu oleh banyak orang, bahwa ada saat-saat dimana kami bersama, belajar bersama, berangkat sekolah bersama, olahraga bersama, mengaji bersama dan ada pula saat-saat yang memang kami harus berpisah. Mengembangkan diri masing-masing, meraih cita-cita yang diimpikan setiap orang.

 

 

Jakarta, 18 Maret 2015

Belajar dan Berproses

Belajar, Berkembang, dan Berproses

Pekan pertama di semester dua. Banyak sekali pesan yang saya dapat di pekan ini. Semakin tinggi jenjang pendidikan semakin membuat saya sadar bahwa belajar adalah sebuah proses yang harus dilewati dengan ketekunan.  Proses yang menuntut kesungguhan. Proses yang menuntut kerja keras. Perlu kemauan kuat untuk meraih ilmu yang ingin didapatkan.

“Pendidikan siswa SMA berbeda dengan kalian yang sekarang sudah mahasiswa. Kalian dituntut lebih sadar untuk serius belajar. Keberhasilan belajar di kelas ini ditentukan oleh setiap anggota di kelas. Ada mahasiswa yang mau mengikuti setiap prosesnya dengan senang hati, dan dia akan meraih apa yang menjadi tujuannya belajar di perguruan tinggi ini. Ada juga mahasiswa yang tidak peduli dengan proses belajar, tidak mau mengikuti alur materi apa yang sedang dibahas di kelas, tidak mau menghargai dosen yang sedang mengajar di depan kelas. Dia belajar semuanya sendiri. Tidak peduli sikap dia mengganggu proses belajar anggota kelas yang lain. Jika dibiarkan seperti  ini terus menerus, orang seperti ini akan menjadi manusia yang egois.”

Kalimat Pak Nur Shodik, dosen mata kuliah filsafat ilmu membuat saya termenung. Benar sekali, memang dalam sebuah proses belajar di dalam kelas, setiap anggota kelas punya andil untuk mensukseskan jalannya roda proses pembelajaran. Dimulai dari diri sendiri. Ada kemauan untuk selalu hadir kuliah, kemauan untuk menghargai orang yang sedang berbicara di depan kelas (menjadi pendengar yang baik), kemauan untuk mengerjakan setiap tugas yang diberikan tepat pada waktunya. Mungkin sekarang belum terasa apa-apa karena baru pekan pertama kuliah. Belum ada tugas ini itu. Tapi minimal saat ini saya punya kemauan dan ‘azzam untuk berproses dalam belajar dan mencintai setiap prosesnya. Mengurangi kemalasan, mengurangi banyak mengeluh, melakukan yang bisa saya lakukan.

Belajar adalah sebuah proses

“Tidak ada istilah gampang atau sulit dalam belajar. Yang ada hanyalah proses selama belajar.” Kalimat yang diucapkan oleh Mas Faris,  senior saya di Pelajar Islam Indonesia (PII) kembali terngiang dalam pikiran saya. Sudah lama sekali kalimat itu saya dengar. Awalnya saya belum mengerti maksud kalimat itu. Seiring berjalannya waktu saya akhirnya mengerti dan sadar bahwa dalam belajar tidak mengenal kata gampang atau sulit. Maksudnya begini sesulit apapun pelajaran yang sedang kita pelajari, bila kita memiliki kemauan dan sungguh-sungguh pasti akan bisa dipahami pelajaran itu. Banyak membaca buku, banyak berlatih mengerjakan soal terutama ilmu eksak, banyak bertanya kepada dosen atau teman yang sudah paham niscaya kita mampu memahami materi kuliah yang kta anggap sulit. Itulah yang dinamakan berproses. Disana ada rasa lelah, jenuh, pusing, tertekan karena banyak tugas kuliah  itulah semuaa bagian dari proses belajar. Bukankah niat awal belajar di tempat ini adalah untuk merubah diri? Merubah dari ketidaktahuan menjadi pribadi yang berwawasan, pribadi yang berilmu. Mau kuliah berarti mau merubah diri dan berbenah diri. Sekarang saya  tanamkan dalam diri saya adalah kemauan kuat untuk belajar dan mencintai setiap proses belajar yang dilalui. Mengatur waktu yang belajar, mau membaca kembali, mencatat hal-hal yang dirasa belum dimengerti kemudian bertanya kepada yang sudah paham, membeli buku-buku referensi yang menunjang belajar. Ini yang disebut motivasi intrinsik, motivasi yang bersumber dari dalam diri sendiri. Dan motivasi ini yang pertama kali mesti tertanam dalam diri setiap penuntut ilmu. Kalau dalam diri saja tidak ada kemauan kuat untuk belajar, bagaimana nasehat orang lain akan berpengaruh pada diri.

“Bertemanlah dengan teman-teman yang prestatif. Karena sedikit banyak teman sangat berpengaruh tehadap semangat belajar kita.” Kalimat itu saya dengar di waktu saya duduk di bangku SMA dari Bapak Amroni, guru SMP Islam Al-Azhar Jaka Permai Bekasi. Berarti pilih-pilih teman dong? memilih teman yang rajin dan menjauhi teman yang malas? Saya tidak memahami seperti itu. Yang saya pahami jika diri saya berteman dengan orang-orang yang punya jiwa semangat belajar yang tinggi maka saya juga akan terlecut semangat belajarnya. lagian saya juga tidak akan menjauhi orang yang belum berpestasi atau orang yang belum memiliki kesadaran pentingnya kesungguhan dalam belajar. Bertemanlah dengan teman yang prestatif disini adalah teman yang ingin dijadikan teman dekat. Teman yang prestatif membuat lingkungan belajar yang kondusif. teman yang menasihati dikala semangat belajar menurun dan ketika diri kita mendapatkan prestasi yang baik, ada teman yang mengingatkan jangan berlebihan, jangan tinggi hati. Jangan mau terpengaruhi oleh lingkungan yang malas belajar. Benar sekali dengan saya kenal dekat dengan Pak Amroni, Mas Faris, Kak Ridhwan, Kak Zaki, mereka semua adalah seorang guru, maka waktu sejak SMA saya mempunyai cita-cita aku ingin menjadi seorang guru. Semakin dekatnya dengan mereka, baik ketika waktu saya silaturahmi ke rumahnya, bertanya meminta penjalasan dari pelajaran yang belum saya mengerti, komunikasi via SMS dan telepon, itu semua berdampak pada cara aku bersikap dan cara berbicara. Bahkan pernah seorang teman yang bilang kok cara dan gaya penyampaian materi Imron mirip dengan kak ridhwan (senior saya di PII) ya? Saya jawab masa iya. Ya ketika saya menyampaikan materi alami aja. Tidak ada niatan ingin ikut cara mengajar Pak A, Pak B dan seterusnya. Kalaupun memang ada kemiripan mungkin karena diri saya dekat dan sering berinteraksi dengan orang tersebut. Baik ruang interaksi dalam ta’lim, dalam ruang kelas, maupun interaksi sehari-hari.

Hidup sekali,belajar sepanjang hayat

Jakarta, 10 Maret 2015