Rumah Yang bernama Kasih Sayang

Sebuah tempat selalu punya cerita. Tahun 2001 saya datang dan menetap di sebuah rumah baru di Bekasi. Rumah tersebut menyimpan banyak mutiara kebaikan.

Rumah itu berdiri kokoh dengan tiga lantai. Masing-masing lantai mempunyai fungsi masing-masing. Warna hijau muda mendominasi warna bangunan itu. mulai dari dinding bangunan, pintu gerbang, lantai keramik, hingga atap genteng. Di atapnya bertuliskan sebuah kata Marhamah. Di depannya ada pohon nangka setinggi bangunan itu. DI samping pintu gerbang berdiri pohon jambu yang cukup lebat di dan di sekeliling pohon itu ada tumbuhan-tumbuhan kecil di dalam pot yang terawat rapi. Suara air kolam ikan di samping kiri gerbang rumah itu seolah menarik perhatian siapa pun tamu yang berkunjung ke sana.

Sejak pagi hari rumah itu diwarnai kesibukan anggota keluarga yang sedang piket berbenah membersihkan lingkungan rumah. Suara sapu lidi dan suara air yang dipancurkan dari selang untuk menyiram pepohanan berpadu dengan kicauan burung-burung membuat suasana pagi ini bergema dengan riangnya. Ada yang menyapu lantai, ada yang mengepel, ada yang membersihkan jendela, ada yang mencuci piring, dan sebagainy sesuai pembagian piket yang diberikan. Penampakan pagi yang selalu sama dari hari ke hari kecuali hari minggu dan hari libur nasional. Karena saat hari libur, waktu pagi diisi dengan olahraga bersama. Di atas sana matahari perlahan menunjukkan dirinya dengan cahayanya yang mulai merata menyapa bumi. Semakin siang suara bising kendaraan yang berlalu lalang semakin ramai.

Semua santri memulai hari dengan simpul wajah yang optimis. Hari ini menjadi bagian dari hari-hari yang akan datang. Karena itu, motivasi belajar mesti di pupuk setiap hari. Satu kebiasaan kami sebelum berangkat sekolah yaitu berbaris apel dan berdoa bersama. Saat apel kami memeriksa kerapian pakaian seragam dan penampilan kami.  Setelah itu kami mendengar evaluasi kebersihan rumah dari pembimbing  dan bersalaman dengannya.

Kebersamaan di rumah ini begitu erat  saya rasakan. Di sini saya selalu menemui ruang untuk berekspresi. Berekspresi lewat interaksi yang mewarnai setiap hari. Di sini   ada para pembimbing yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami. Walaupun sebenarnya mereka tidak ada ikatan darah dengan kami, tetapi mereka memberikan kasih sayang yang tulus dengan sepenuh hati. Mereka menemani kami selama kami tumbuh dari masa kecil hingga kami beranjak di usia remaja. Kehadiran mereka adalah cahaya bagi hati dan mata kami. Karena mereka mengasuh, merawat, dan mendidik kami dalam kurun waktu yang panjang supaya kami menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas dalam intelektual, tetapi kami dituntut memiliki kelembutan akhlak.

Mereka  selalu memberi bimbingan agar kami berkembang dari hari ke hari. Dengan tutur kata yang lembut dan akhlak yang baik mereka memberi teladan kepada kami. Bertemu dengan mereka mengajarkan saya hidup harus terus bergerak melalui satu fase menuju fase selanjutnya. Apa pun yang terjadi kehidupan tetap mesti di lanjutkan. Biarkan waktu menjadi obat atas pengalaman yang di rasai. Semua orang mempunyai hak untuk meraih keberhasilan dalam hidupnya. Karena Keberhasilan adalah kombinasi dari energi usaha yang maksimal, hati yang membaja tidak mudah menyerah, dan doa-doa panjang yang lahir dari kejujuran hati.

Kehidupan selalu adil. Bagi orang-orang yang mau belajar dan semangat memperbaiki diri. maka baginya tercapai apa yang menjadi harapan hidupnya.  Begitu pun sebaliknya, orang-orang yang malas belajar, lebih suka menonton televisi dan bermain di warnet dibanding membaca buku, maka mereka akan menanggung resiko dari itu semuai.  Ada ungkapan, siapa yang menanam, maka dia yang memanen.

Titik Untuk Berubah

Seiring berjalannya waktu, ada titik untuk mengawali sebuah proses. Motivasi dalam diri itu yang menggerakkan seberapa besar upaya seseorang mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Seberapa kuatnya daya dorongan motivasi dari orang lain dan lingkungan sekitar (motivasi ekstrinsik), apabila motivasi dari luar diri itu tidak menyalakan motivasi yang bersumber dalam diri (motivasi intrinsik) seseorang, maka motivasi dari luar itu menjadi sia-sia.

Begitu pun yang saya alami di rumah itu. Ada saja orang-orang yang tidak kuat menjalani proses di rumah itu sehingga mereka memilih jalan lain seperti keluar dari rumah dan memilih hidup sesukanya di luar sana. Seleksi alam selalu berlaku. Orang-orang yang punya kesadaran tinggi bahwa untuk menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya menuntut kedisiplinan,  kesabaran, kejujuran, dan pantang menyerah.

Lingkungan di rumah itu berpengaruh besar dalam pembentukan karakter saya. Dari sana saya belajar bagaimana etika bertutur kata, etika berbicara dengan orang yang lebih tua usianya dari saya, tanggung jawab diri terhadap lingkungan, etika meminta tolong dan berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik. Di sini saya menemukan alasan mengapa saya memilih tetap berada di sini. Saya memilih jalan ini karena saya yakin di tempat ini saya akan menemukan apa yang ingin saya raih. Inilah sebuah rumah tempat hati berteduh. Sejauh-jauhnya kita pergi, kita akan selalu merinduinya. Karena hanya di rumah  kerinduan itu akan terobati.

Rumah itu yang tidak hanya sekedar bangunan fisik. Tetapi di sana adalah tempat kami menempa diri untuk menjadi pribadi  yang memiliki pemahaman yang baru dan pribadi yang memiliki kehalusan budi. Tempat dimana kami menemukan passion yang ada dalam diri kami. Tempa dimana cita-cita baru itu hadir menempati ruang di hati kami. Tempat dimana kami melepaskan rasa jenuh dan kebosanan dari rutinitas yang dijalani. Tempat dimana kami tampil apa adanya tanpa topeng keegoisan yang sering membelenggu. Tempat yang mengajarkan kami bahwa hidup harus dinamis.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 13 Mei 2016

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: