Monthly Archives: January 2018

Ruang Penantian

Setiap kita pernah merasakan proses penantian. Apapun jenis penantian itu namun tetap efek dari menanti itu menimbulkan harapan sekaligus kekhawatiran. Ada yang menanti pengumuman beasiswa setelah mengikuti berbagai jenis tes, ada yang menanti pengumumuan tes seleksi kerja, ada yang menanti nilai hasil ujian dalam bentuk kartu hasil studi (KHS) dan masih banyak lagi jenis penantian yang lain.

Tidak ada sisi negatif dari penantian itu sendiri selama kita mampu me-manage diri untuk akhirnya tahu sikap apa yang semestinya diambil. Karena waktu terus bergulir menuntut kita untuk terus bergerak dinamis. Bergerak maju ke depan menjemput pintu-pintu kebaikan. Karena waktu terus berjalan menuntut kita untuk tidak berdiam diri. Ada langkah nyata untuk mengisi penantian. Ada kerja keras untuk menunggu hasil yang dinanti selepas ikhtiar yang sudah digenapi.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah ayat 7, “Apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. Segera bergegas dan beranjak menyongsong harapan dengan cara dan ikhtiar yang baik. Perlu tekad dan kemauan yang keras untuk membujuk diri ini menyelami arti perjuangan dalam hidup. Menunjukkan bahwa jika sudah punya mimpi, maka harus diraih mimpi itu.

Mewujudkan mimpi tidak pernah mudah. Karena saat kita berjuang, kita akan merasakan proses yang panjang yang di dalamnya kelelahan, kejenuhan dan penderitaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berjuang. Tetapi tidak mengapa, karena di saat lelah dirasakan, saat bertemu dengan penderitaan, di saat itulah kamu sedang berjalan menapaki tangga keberhasilan. Berat. Berat sekali saat menanjak menuju puncak keberhasilan. Tetapi di situlah letak komitmen dalam dirimu untuk meraih keberhasilan.

Masa penantian akan memiliki makna selama kita mampu menyerap hikmah di dalamnya. Ada kebaikan-kebaikan yang sudah menanti untuk kita kerjakan. Ada kesabaran yang harus ditempa di setiap keadaan. Ada keikhlasan yang harus di dekapi. Ada harapan yang harus di jaga agar tetap kokoh.  Ada ikhtiar yang harus disempurnakan. Semua itu menuntut tindakan nyata dibarengi dengan ketulusan hati.

Merehatkan jiwa yang mulai kelelahan akibat rutinitas yang menyisakan kejenuhan dengan bertukar pikiran melalui diskusi dengan rekan kerja, perbincangan hangat dengan kawan lama, berbagi cerita dengan teman-teman, melakukan perjalanan melihat keindahan panorama alam- semua itu mampu merefresh diri dari kejenuhan panjang yang mendera. Semua itu mampu membuat kita mampu meresapi sudut-sudut jejak yang sudah kita goreskan dalam putaran waktu yang sudah terlewat. Membuat kita merenung dalam untuk akhirnya tahu sikap yang mana yang harus dibenahi dan kebaikan mana yang harus ditingkatkan lebih  baik lagi.

Pada setiap ukiran senyum yang kita bagi kepada orang lain terdapat kebaikan. Pada setiap langkah kaki untuk pergi mencari nafkah adalah kebaikan. Pada setiap keringat yang keluar untuk menuntut ilmu adalah kebaikan. Maka iringilah hidup ini dengan menebar kebaikan. Karena saat kita tutup usia di dunia ini, kita berharap kebaikan yang sedang kita lakukan akan mendampingi kita untuk perjalanan panjang selanjutnya.

 

 

Jakarta, 30 Januari 2017

Advertisements

Mutiara di dalam Nasihat

Hari Jumat kemarin 12/1, memiliki memori sendiri untuk saya. Yaitu materi khutbah Jumat di masjid komplek Depkes Pasar Minggu yang cukup berkesan.  Saya dari awal hingga akhir khutbah mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang di sampaikan Khotib.

Khotib mengawali materi khutbah dengan menyampaikan, “Hidup ini ibarat sebuah wadah yang di dalamnya berisi perjuangan. Perjuangan antara kebaikan melawan keburukan. Ketaatan melawan kemaksiatan. Nilai dari perjuangan itu terletak pada hasil menang atau kalah.”

Beliau melanjutnya, “Mungkin kita sudah mendirikan shalat lima waktu. Tetapi selama shalat tersebut dikerjakan, rasa khusyu’ tak kunjung mampu kita hadirkan dan kita tidak berusaha menghadirkan rasa khusyu’ itu. Mungkin selama ini sudah banyak sedekah yang kita berikan. Tetapi sedekah yang kita keluarkan tanpa rasa ikhlas sepenuhnya.”

Terus terang pada bagian ini begitu menyentuh hati saya, terutama pada bagian sedekah. Tak terasa satu butir bening mengalir jatuh dari mata membahasi pipi saya. Ada hentakan yang menggetarkan hati saya bercampur keharuan. Saya tidak tahu apa namanya. Tapi ini yang saya rasakan. Saya teringat diri saya yang kadang belum sepenuhnya ikhlas dalam berbagi. Meskipun disebutkan alasan untuk membenarkan apa yang saya lakukan, tetap saja saya berada dalam posisi yang tidak benar. Tidak pernah mudah berbuat kebaikan pada orang yang pernah menyakiti hati kita. Tetapi itu bukan juga menjadi alasan untuk memutus untuk tidak berbuat baik pada orang tersebut.  Itu hikmah yang saya dapat. Perlu waktu untuk memulihkan rasa sakit yang pernah tergores. Perlu belajar lagi memaknai kebaikan dan keikhlasan.

Beliau melanjutkan, “Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha yang artinya maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. (Q.S. Asy-Syams : 8). Kalau ketaatan dalam diri kita selalu menang melawan kemaksiatan, maka pertahankanlah. Dan kalau kemaksiatan lebih banyak menang melawan ketaatan dalam diri kita, maka segeralah kembali ke pada Allah. Sesungguhnya kematian orang yang di sekitar kita adalah nasihat. Nasihat bagi kita yang masih hidup. Kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un adalah nasihat untuk kita yang masih hidup untuk tetap istiqomah dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Karena waktu yang telah diberikan kepada kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawabnnya di hadapan Allah.”

Jika di ambil kesimpulannya, hidup ini adalah perjuangan yang berisi pertarungan antara kebaikan melawan keburukan, ketaatan melawan maksiat, ucapan yang baik melawan ucapan yang buruk, tauhid melawan kekufuran. Setiap muslim dihadapkan pada salah satu pilihan. Di mana setiap pilihan tersebut memiliki konsekuensi bagi pelakunya.

Menjadi penting dengan adanya penjelasan ini kita diingatkan bahwa dalam diri manusia ada dua potensi keburukan atau ketakwaan. Di mana pada saat keburukan mendominasi hati dan perbuatan maka ketaqwaan menurun. Pun sebaliknya, saat ketaqwaan meningkat dan mendominasi hati dan perbuatan maka kemaksiatan menurun dan berhasil diminimalisir. Tidak bisa keduanya berjalan pada posisi seimbang.

Materi khutbah ini menjadi ibroh (pelajaran) bagi saya untuk memaknai hidup lebih jernih. Untuk lebih menjaga diri dari hal yang sia-sia. Untuk memperbanyak amal sholeh dan menebar kebaikan sebanyak-banyaknya. Terutama untuk saya agar lebih mampu menata waktu untuk aktivitas yang bernilai dan tak terbuang sia-sia. Karena waktu adalah modal utama untuk memperbaiki diri, membenahi akhlak yang kurang baik, dan muhasabah dari satu waktu ke waktu yang lain.

 

Jakarta, 13 Januari 2018

New Story Pada Lembaran Baru

The new story akan hadir saat anda bangkit kembali dari keterpurukan.

Itu kutipan yang membuat saya tersadar semestinya hidup ini dijalani dengan semangat dan optimis. Hidup ini sangat singkat. Tetapi yang singkat itu jika tidak di-manage akan membuat hidup ini seperti berjalan di tempat. Tidak ada kemajuan sama sekali. Perlu target. Perlu tujuan. Karena itu membuat hidup ini memiliki harapan. Dan membuat hidup ini menjadi lebih bernilai dan bermakna.

Karena dengan memiliki goals dalam hidup akan membuat kita mengukur diri dari hari ke hari sejauh mana progres usaha yang kita sudah dan akan dilakukan. Seserius apa kita berbuat dan bertindak demi mendekatkan diri pada goals tersebut. Di situ kamu akan mengerti arti perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk memperbaharui niat yang baik. Membujuk diri untuk terbuka mendengar perspektif dari orang-orang sekitar dengan sudut pandang yang beragam. Menahan diri untuk tidak cepat menyerah dari sekian hambatan yang menerjang. Membuka diri menerima saran dan nasihat yang sayang dan peduli sama diri kita. Karena ada kalanya kita butuh nasihat dari orang lain untuk menguatkan kesabaran kita dalam menempuh kehidupan ini. Nasihat itu tidak selalu berupa kalimat verbal yang diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang nasihat itu bisa datang melalui akhlak yang baik dan tindakan nyata orang lain yang menginspirasi kita untuk mengikuti kebaikan yang sudah diperbuat oleh orang tersebut. Nasihat ini bisa jadi menjadi nasihat yang begitu membekas dan sulit untuk dilupakan dalam waktu yang lama.

Karena akhlak yang baik itu adalah cermin hati yang baik. Dan hati setiap orang mudah sekali tersentuh karena kebaikan yang di dasari pada hati yang tulus.

Belajar menerima diri apa adanya dan tak perlu membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Apalagi membandingkan dari sisi materi kebendaan. Hal itu akan mengikis rasa bersyukur dalam diri kita. kita berhak bahagia dan bahagia itu mesti diperjuangkan, diusahakan. Tidak serta merta ia hinggap dan datang begitu saja. ada yang namanya proses pencarian atas kebahagian itu sendiri. Kebahagian itu letaknya di hati. Dekat sekali. tak perlu memamerkan kebahagian kita kepada orang banyak. karena yang demikian akan memaksamu untuk berpura-pura bahagia. Biarlah dirimu sendiri yang tahu arti kebahagian dan kamu sendiri yang paling tahu atas usahamu menjemput kebahagian itu sendiri.

Aku percaya hidup itu sendiri yang akan membuat diri ini dewasa. Dengan segala kerumitannya, tetap saja hidup inilah yang menginspirasi kita untuk berkembang dari waktu ke waktu. Hidup inilah yang membuat kita bercermin lebih dalam. bercermin dalam pencarian jati diri memaknai peran dan tugas kita dalam hidup ini. setiap peran dan tugas yang dipikul itu akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. So, lebih berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata karena setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula. Dan keburukan akan dibalas dengan hal yang setimpal dengan itu.

Terutama menjaga hati. Sering kali rasa resah, sedih, dan mengeluh hadir dalam relung hati yang membuat rasa syukur dalam diri ini menipis. Padahal aku percaya, setiap kebaikan akan diberi ganjaran yang setimpal. Mungkin diri ini mulai silau dari materi kebendaan sehingga keyakinan tentang konsep rezeki tak kunjung menambah rasa bersyukur. mungkin diri ini terlalu lama menatap ke atas tentang kehidupan orang-orang yang lebih memiliki harta benda yang berlimpah sehingga membuat rasa bahagia itu lenyap dan berganti dengan kegelisahan yang berkepanjangan.

Cukup menjadi diri sendiri. Diri sendiri yang mau belajar dari kekeliruan diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri yang berfokus pada rencana untuk merealisasikan goals dalam hidup ini. diri sendiri yang optimis meneruskan kehidupan hingga menuju tujuan. Diri sendir yang disibukkan untuk memperbaiki diri sendiri dan tidak memberi kesempatan untuk kepada diri ini untuk menilai keburukan lain karena ia tahu bahwa dalam dirinya masih terlalu banyak yang perlu diperbaiki.

Setiap doa yang terucap semoga menjadi pendorong agar terkabulnya harapan. Setiap doa yang pernah hadir membenak dalam hati dan belum sempat terucapkan, semoga menjadi penguat diri ini dalam menempa perjalanan hidup yang panjang ini yang di dalamnya penuh ujian dan cobaan. Setiap doa yang diiringi tangan yang menengadah seraya memohon, semoga menjadi cermin diri ini untuk berbuat baik lebih banyak lagi dan memaknai keikhlasan sepenuh hati.

 

Jakarta, 11 Januari 2018