Category Archives: Uncategorized

Kerinduan yang Memanggil

kerinduanku

Sebagai seorang yang pernah tinggal di Pondok, sering kali kerinduan akan suasana pondok itu memanggil dan datang dengan memenuhi memori ingatan. Bukan hal mudah bagi saya untuk memulai kehidupan baru selepas lulus dari Pondok. Bayangan kehidupan asrama dengan teman-teman, dengan para pengasuh, dengan para pembimbing, lekuk ruang kamar asrama berulang-ulang kali hinggap dalam ingatan dan menorehkan rasa kehilangan sekaligus kerinduan. Rasa itu mendorong saya ingin rasanya kembali ke pondok dan menjalani kehidupan seperti biasanya di lingkungan pondok bersama orang-orang yang sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri.

Bagian-bagian tertentu membuat saya merasa sedih bercampur haru. Apalagi tiga hari sampai satu minggu selepas meninggalkan pondok saya seperti merangkak pelan menjalani hari-hari baru dan hari-hari itu seolah-olah berjalan lambat. Saya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakang. Perlahan saya memahami hakikat kehidupan baru ini yang sedang saya tempuh ini penuh dengan tantangan dan butuh keberanian.

April 2011. Tahun dimana saat saya lulus dari pondok dan tersemat sebutan alumni.  Bapak pimpindan pondok mengantarkan saya dan dua teman saya (santri pondok satu angkatan) dengan mobil Toyota Kijang miliknya ke lembaga yang bernama Rumah Gemilang Indonesia (RGI) di kota Depok. Saat itu kami mendapat beasiswa pendidikan dan pelatihan dari lembaga tersebut. Selama perjalanan dari Bekasi hingga tiba Depok, kami lebih banyak diam. Kami asyik merangkum semua kenangan yang sudah sekian lama terajut rapi. walaupun sebenarnya masing-masing kami memiliki perasaan yang tidak enak dirasakan. Perpisahan…

Hari itu persis saat dimana beliau mengantarkan saya dengan mobil sedan berwarna hijau lumut di hari pertama saya tiba pondok asrama putra sepuluh tahun yang lalu. Saat mengingatnya ada rasa haru memenuhi ruang hati saya. Rasanya cepat sekali waktu terlewat. Saya sadar perjalanan hari ini tidak mudah. Dan tidak akan pernah mudah. Bisa dibayangkan sepuluh tahun saya diasuh oleh Bapak Pimpinan Pondok beserta para guru di sana, diberi pendidikan ilmu agama, di ajarkan membaca Al-Qur’an dengan ilmu tajwidnya, diberikan pelatihan kepemimpinan, dan ditanamkan akhlak dan etika semenjak saya masih duduk di kelas empat sekolah dasar hingga saya menyelesaikan sekolah menengah atas. Sejatinya setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan perpisahan selalu saja menyisakan perasaan akan  kehilangan.

Saya belajar banyak dari kehidupan di Pondok. Saya belajar menghargai orang lain, saya belajar menjadi pendengar yang baik di setiap kajian dan kuliah tujuh menit. Saya belajar bagaimana cara berkasih sayang, saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling merangkul bila salah satu ada yang jatuh dan perlu dikuatkan. Saya belajar banyak dari cara mereka yang mengajak kepada kebaikan dengan bahasa yang lembut penuh kesabaran. Cara mereka menatap, tersenyum, memberi nasihat, dan merangkul saya adalah bukti bahwa persaudaraan yang di dasari keimanan adalah ikatan yang sangat kokoh. Saya teringat sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Melewati hari bersama teman-teman di asrama semakin lama semakin menambah kedekatan emosional diantara kami. Susah dan senang kami lalui bersama. Hari demi hari dilalui dengan penuh warna dan menyebarkan energi positif. Layaknya sebuah satu keluarga, bila salah satu anggota keluarga memiliki semangat belajar yang tinggi, maka energi semangat belajar yang tinggi itu menyebar kepada anggota-anggota yang lainnya. Bila salah satu di antara kami mendapat prestasi berupa memenangkan sebuah lomba, membuat seluruh santri ikut merasa bahagia. Sebaliknya bila ada santri yang sedang sakit, kami ikut berempati terhadap apa yang sedang di deritanya. Pondok ini milik bersama dan semua santri terlibat menjaga dan merawatnya.

Saya juga belajar hidup dengan sederhana. Pakaian kami adalah pakaian yang sederhana, yang bisa dikatakan sopan dan menutupi aurat. Handphone adalah barang yang dilarang berada dalam kehidupan pondok. Kami selalu menggunakan wartel (warung telepon) untuk menghubungi orang tua kami di rumah. Pesan dari kebiasaan hidup pondok yang sederhana ini adalah jangan bermegah-megahan dalam dunia. hakikatnya sesuatu yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah mati adalah amal soleh dan hati yang bersih.

Saat ini tepat lima tahun saya lulus dari Pondok. Kerinduan itu masih tetap terasa. Kerinduan itu mengajak saya melalui lamunan panjang untuk berkeliling ke setiap lekuk dinding-dinding ruangan asrama dulu. Menapaki kembali melalui memori jejak-jejak langkah yang pernah terekam oleh waktu. Mengingat kembali masa-masa saya tumbuh remaja dan mulai mengerti makna cinta. Memutar kembali dan merasai kembali kasih sayang yang tersebar melalui perjumpaan demi perjumpaan, melalui pertemuan demi pertemuan.

Kerinduan akan masa-masa bersama dengan para santri lainnya yang memiliki cita-cita dan mimpi besar, yang tidak pernah berkecil hati namun memiliki semangat untuk membangkitkan martabat diri dengan belajar yang tekun dan membiasakan diri dengan akhlak yang baik.

Kerinduan ini biarlah tetap berada dalam relung hati saya. Waktu terus berjalan dan kenangan tidak akan pernah hilang. Selamanya kenangan selalu ada dan melekat di dalam hati ini. Biarlah saya menitipkan kerinduan melalui tulisan pendek ini dan menitipkan doa-doa untuk sahabat-sahabatku dan adik-adikku yang sedang menuntut ilmu di Pondok. Saya berharap kerinduan ini semakin bersemai dan membuat kita bisa berkumpul kembali di suatu tempat yang sama-sama kita rindukan.

 

Jakarta, 22 Nopember 2016

 

 

 

 

 

 

Tangkai bunga mawar

Hari ini adalah hari Sabtu. Senja sudah beranjak menjadi malam saat dimana saya sedang makan nasi goreng di pinggir jalan raya Margonda, Depok. Saat itu jalan ini cukup macet di dominasi kendaraan roda empat. Hawa panas yang dihembuskan dari kendaraan-kendaraan itu menyebar hingga dirasakan oleh para para pejalan kaki di trotoar jalan dan pedagang kaki lima di tepi jalan. Suara klakson mobil dan motor silih berganti membuat suasana jalan raya semakin padat sekaligus menambah kebisingan malam ini. 

Selesai makan 

Story Blog Tour : Keributan di Malam Hari

“Ibu….” suara Ana tercekak.

“IBU JAHAT. MENGAPA IBU TEGA MELAKUKAN INI PADA AYAH?,” teriak Ana dengan wajah penuh kebencian.

“BERHENTI BICARA ANA. KURANG AJAR KAMU BERANI BICARA SEKERAS ITU,”? Ibu berteriak memerintah Ana dengan sorot mata yang tajam.

Dengan cahaya lampu yang sudah redup di ruangan itu Ana dan Ditya dapat melihat dengan jelas dua telapak tangan Ibunya berlumuran bercak darah.

Ana menangis makin terisak. Bentakan Ibunya  membuat dirinya tidak berani berkata lagi. Namun hatinya tidak bisa berbohong. Ia ingin mengeluarkan semua emosinya, semua kekecewaannya, semua kesedihan yang ada di hatinya.

Krieeet.

Terdengar suara pintu terbuka. Bayangan seseorang masuk terlihat jelas di dinding rumah tua itu. Ditya dan Ana sudah curiga sejak tadi. Saat dirinya mendengar seseorang telah keluar melalui pintu depan itu. Tetapi dugaan keduanya salah, Ibunya masih ada di dalam rumah. Lalu siapa yang tadi keluar?

Srek … srek… srek.

Seseorang dengan tubuh tegap dan tinggi mengenakan kaos hitam sudah berdiri di belakang ibunya. Pembunuh bayaran.

“Cepat bereskan anak muda itu dan tangkap Ana” perintah singkat Ibunya kepada pembunuh bayaran itu.

“Siap Nyonya.”

Ana tegang. Bingung. Sedih. Seakan masalah datang menimpanya secara bergelombang. Tidak menyisakan waktu sedikit pun baginya untuk bernafas lega.  Pikirannya tidak tenang. Dia sangat tidak siap dengan suasana seperti ini.

Ditya melangkah berdiri maju di depan Ana. Matanya semakin tajam. Kedua kakinya berubah membentuk kuda-kuda. Dia telah mengikuti Taekwondo semenjak SMP dan hingga saat ini di sekolahnya. Walaupun tubuhnya agak kurus. Tetapi kelincahannya dan keahlian bela diri yang dimilikinya diakui oleh teman-teman  di sekolahnya. Ditambah dengan prestasinya belum lama ini Ia meraih prestasi juara II lomba maraton lari jarak jauh tingkat provinsi.

Bagi orang-orang yang mendalami ilmu bela diri sudah sangat biasa menghadapi situasi yang mengancam seperti yang dirasakan Ditya sekarang. Hati mereka tidak gentar apalagi  takut. Mata, kedua tangan, dan kedua kaki sudah siap merespon setiap serangan kapan saja. Mereka terbiasa berlatih agar sigap kapan pun dan dimana pun. Mereka terbiasa berlatih hingga memiliki gerakan reflek yang cekatan dan sigap.

“Pergilah Ana dari rumah ini. Minta bantuan  tetangga yang paling depat dari rumahmu,”  Pinta Ditya tegas. belum pernah dia berkata setegas itu kepada Ana.

“Tapi kamu….. ?” jawab Ana khawatir.

“Jangan pedulikan aku. CEPAT PERGI,” Perintah Ditya dengan sorot mata yang tajam. Yang diperintah langsung berlari keluar melewati pintu belakang yang saat itu sudah terbuka.

********************

Ana berlari sekuat tenaganya menerobos kegelapan hutan. Sepanjang perjalanan air matanya mengalir semakin deras. Yang saat ini ada dalam pikirannya, bagaiman ia segera sampai ke rumah Pak RT kemudian minta bantuan kepada Pak RT dan beberapa warga untuk segera ke rumah Ana mendamaikan keributan yang terjadi. Berharap Ibunya dan Ditnya dalam kondisi baik-baik saja.

********************

Tap… tap… tap… tap. Pembunuh bayaran itu maju berlari mengejar Ana. Ditya menghalau. Berdiri tepat di depan  pembunuh bayaran itu dengan kedua tangan yang sudah terkepal dan bersiaga dari serangan apapun. Pembunuh bayaran itu melayangkan pukulan ke arah wajah Ditya.

DAAGH. Pukulan pembunuh bayaran itu berhasil ditahan oleh tangan Ditya.

Ditya melihat ada celah di bagian perut pembunuh bayaran  itu. Kaki kanannya dengan sangat cepat menendang perut pembunuh bayaran dua kali kena telak. Pembunuh bayaran itu terpental. Wajahnya menahan sakit. Tapi langsung berdiri waspada.

Pembunuh bayaran itu maju dengan berlari mengarahkan pukulan lebih keras dari sebelumnya ke arah wajah Ditya. Ditya berhasil menangkisnya dengan tangan kanannya. Tapi pembunuh bayaran terus memberi dorongan dan tekanan dari pukulan itu. Sehingga fokus mata Ditya teralih ke tangan kanannya yang sedang menahan pukulan keras pembunuh bayaran. Menahan sekuat tenaga biar tidak menerobos mengenai wajahnya. Saat menahan serangan itu kaki kirinya sampai mundur beberapa senti ke belakang. Power pukulan ini keras sekali.

Buuggh. Serangan tidak terduga pembunuh bayaran memukul dengan tangan kiri mengenai pipi sebelah kiri Ditya. Beruntung bisa ditahan dengan tangan kirinya meski sedikit. Serangan pukulan itu membuat pipinya lebam. Ditya mundur beberapa langkah. Posisi kakinya tidak berubah, masih tetap memasang kuda-kuda. Dia terus mengatur ritme nafasnya. Tanganya kembali mengepal di atas dada. Matanya membulat tajam.

Kini keduanya menyerang. Saling memukul, saling menghindar, saling mengintai celah-celah untuk melakukan serangan. Kelincahan dan kecepatan Ditya disini ditunjukkan. Berkali-kali pukulan dan tendangan keras pembunuh bayaran yang diarahkan kepadanya, berhasil dihindari dan ditangkisnya dengan sangat sempurna. Dia terus memancing  agar pembunuh bayaran terus memberikan serangan, agar energi pembunuh bayaran terkuras tanpa disadari.

Saat pembunuh bayaran fokus menyerang bagian wajah Ditya. Ditya menendang kaki kiri pembunuh bayaran. Tetapi sayang tendangan itu diketahui pembunuh bayaran. Kaki Ditya tertangkap oleh tangan kanan pembunuh bayaran itu. Bahaya. Tubuh Ditya menjadi tidak seimbang.  Ditya menarik nafas panjang, tangannya melayangkan pukulan ke arah wajah pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun menyadari mencoba menangkis dengan tangan kirinya. Bukan bagian itu. Pukulan keras Ditya mengenai  tepat  bagian dada sebelah kanan pembunuh bayaran itu. Serangan tipuan Ditya berhasil. Kakinya pun terlepas dari tangan pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun terpental.

Hampir saja. Ditya terus mengatur ritme nafasnya. Keringat deras membanjiri wajah dan tubuhnya. Dia tidak bisa bohong staminanya sudah sangat berkurang. Ini harus cepat diakhiri.

Ssssst. Prak. Satu buah kaleng melayang sangat kencang dan ditangkis oleh telapak tangan Ditya. Telapak tangannya mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka kaleng itu setajam ini. Aku lupa masih ada musuh satu lagi.

“CEPAT KAU BERESKAN BOCAH ITU. AKU SUDAH MUAK DENGAN PERMAINAN INI.” Teriak sang Ibu dengan sorot mata mengancam. Tangannya memegang batu bata. Kali ini dia akan ikut bertarung ‘menghabisi ‘ Ditya.

Pembunuh bayaran pun bangkit berdiri mengeluarkan pisau belati.

******************

Ana tiba di rumah Pak RT 10 menit kemudian. Matanya masih merah. Dengan nafasnya yang kiang tersenggal-senggal, dia mengetuk rumah Pak RT.

Tok tok tok.

“Tolong buka pintunya pak RT.” Ana memanggil dengan suara agak keras.

Pak RT yang masih terjaga langsung membuka pintu.

“Ada apa Ana?”

“Pak tolong pak. Di rumah Ana terjadi keributan besar. Cepat Pak kita kesana Ana butuh bantuan Bapak.”  Ana memohon. Tangisnya kembali mengaliri wajahnya.  Waktunya sudah sempit sekali.

Pak RT seketika percaya ada keributan di rumah Ana.

Pak RT mengeluarakan ponsel, menelpon petugas hansip yang sedang berjaga. Belum sampai dua menit, petugas hansip sudah tiba di depan rumah Pak RT. Letak pos jaga dengan rumah Pak RT hanya berjarak 50 meter. Pak RT menceritakan singkat peristiwa yang terjadi di rumah Ana kepada dua orang petugas hansip.

“Ayo Ana kita ke rumahmu sekarang.” Ajak Pak RT

Ana memimpin jalan dengan langkah setengah berlari. Pak RT dan dua orang hansip mengikuti dengan langkah kaki yang terburu-buru juga.

Bersambung …………..

 

Cerita selanjutnya dalam blog Enie Handyas (www.eniehandyas.wordpress.com)

 

CATATAN:
Tulisan ini bagian dari Story Blog Tour 2016 yang diadakan Komunitas One Week One Paper (www.oneweekonepaper.com). Member OWOP yang sudah mendaftar, sesuai urutannya membuat story di blog pribadi masing-masing. Kemudian member berikutnya melanjutkan cerita di blog pribadinya juga. Nah, kali ini saya dapat giliran di episode 10.

Episode 1 :  Senandung Malam – Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua – Rizka Zu Agustina 
Episode 3 : Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan – Cicilia Putri Ardila 
Episode 4 : Kunci yang Diputar Tengah Malam – Rizki Khotimah 
Episode 5 : Tamu Tak Diundang – Dini Riyani
Episode 6 : Pulang – Nurhikmah Taliasih
Episode 7 : Tamu Tak Diundang (Lagi) – Mister Izzy
Episode 8 : Jantung – Depi

Episode 9 : Orang yang Seharusnya Tiada – Nifa  

episode 10 : Keributan di Malam Hari – Imron Prayogi

Episode 11 : www.eniehandyas.wordpress.com (coming soon)

Trip To Merbabu 1

 

Jam menunjukkan pukul 23.00.  Tanda jadwal keberangkatan kereta api dari stasiun Senen. Dengan langkah setengah dipaksakan. Bukan dipaksakan melainkan tas Carrier yang ku bawa memang berat sekali. mungkin belum terbiasa.  jadinya langkah kakiku tidak leluasa seperti biasanya. Malam ini stasiun ini cukup ramai. Sebagiannya terlihat anak-anak muda ber tas besar di punggungnya, tas yang biasa dipakai untuk pendaki gunung. Sebagian lagi orang tua yang hendak naik kereta menuju kampung halamannya. Ini pertama kali bagiku menginjakkan kaki di stasiun setelah lima tahun terakhir. Stasiun ini terlihat lebih bersih dan tempat parkirnya juga tertata rapi.

“Imron Prayogi. Suara anak muda yang kemudian hari saya mengenalnya. Namanya Wildan.

“Ya, saya Imron. Jawabku sambil mengangkat tangan.

“Ini tiket keretanya ya. Nanti ketika di loket pemeriksaan sekalian tunjukkan KTP asli.”

“Oke. Terimakasih Bang.

Saya berjalan menuju pintu loket pemeriksaan. Ku tunjukkan tiket dan KTP asli milikku. Dan dipersilahkan langsung menaiki kereta. Di tiket tertulis gerbong 5 kursi 17 D. Tidak lama saya menemukan gerbong tersebut kemudian langsung menaiki kereta dan duduk sesuai nomor kursi yang tertera di tiket. Nama kereta api ini Tawang Jaya tujuan stasiun Semarang Poncol.

IMG_20151012_223555

Perjalanan kali ini saya tidak sendiri. Saya bersama teman-teman dari Jakarta akan travelling bersama mendaki gunung Merbabu, Jawa Tengah. Jumlah kami dua puluh lima orang. Sebagian besar dari kami adalah mahasiswa. Ada yang dari Unindra, UIN Syarif Hidayatullah, Univ. Esa Unggul, Univ. Budi Luhur dan Uhamka. Saya dapat info mendaki gunung merbabu dari Safira, teman satu kelas di Pend. Ekonomi. Ini kali pertama saya mendaki gunung. Ada rasa khawatir awalnya. Apa fisikku kuat melakukan perjalanan panjang ini? apa nantinya diriku merepotkan yang lain? Dan yang paling penting apakah saya bisa memaknai arti perjalanan ini?

Priiiit. Bunyi pluit dari salah satu petugas stasiun menandakan kereta segera berangkat. Bismillahi tawakaltu ‘alallah, ucapku lirih. Selamat jalan Jakarta. Kereta yang kami naiki cukup ramai. Tetapi walaupun ramai tetap semuanya dapat kursi untuk duduk. Tidak ada penumpang yang berdiri. Semakin lama dingingnya AC semakin terasa. Saya mengenakan jaket. Malam semakin larut. Saya masih juga terjaga. Padahal tubuh ingin sekali tidur. Seharian kerja dan mempersiapkan perlengkapan untuk empat hari ke depan membuat energi terkuras. Yang tersisa hanya lelah. Mungkin tubuh saya merespon adanya perubahan dari posisi tidur saya dengan posisi duduk. Ditambah kereta yang sedang berjalan. Getarannya kian terasa dan suara mesinnya juga tidak bisa dibilang pelan. Ini yang menyebabkan saya sulit tertidur. Meski berulang kali saya memejamkan mata. Sesekali saya melihat ke pandangan di luar kereta. Yang terlihat hanya gelap dan kelap kelip lampu jalan raya di sekitaran pinggir rel.

Ada yang membuatku haru malam ini. saya menyaksikan satu keluarga dan anaknya di depan kursiku. Kursi mereka dengan kursi ku duduk berhadapan. Ibu tersebut tidur dengan memangku anaknya yang masih kecil. Dan si Bapak tidur dengan posisi duduk. Raut lelah di wajahnya bisa kulihat dengan jelas. keluarga yang kompak. Ketenangan itu sederhana sekali. disana ada bapak ibu yang melindungi anaknya. Meski tubuh mereka sendiri menjadi tumpuan, menjadi terbebani, tetapi terlihat sekali mereka tidak menganggapnya sebagai beban. Terlihat harmonis dan saling menghargai satu dengan yang lain. “ini bukan kebetulan kan Ron? Ini qadarallah. Allah menunjukkan bahwa dengan berkeluarga akan memberikan rasa ketenangan (sakinah). Niatkanlah menikah karena Allah. Rasa sepi dan sunyi di hatimu yang kian bertambah mestilah diramaikan dan diwarnai dengan kehidupan baru dengan berkeluarga.” Separuh hatiku membenarkan. Kini saatnya menanti dengan prasangka baik, berikhtiar yang maksimal, memperbaiki diri, dan berdoa agar dimudahkan.

Jakarta, 27 September 2015

 

 

 

Menyapa Diriku

Masa depan adalah mimpi, harapan, juga cita-cita. Setiap orang punya harapan yang ingin dicapainya. Menatap masa depan sedikit banyak mempengaruhi cara pandangku mengenai waktu dan kehidupan. Hidup akan terus berjalan dan akan terus berjalan. Tak peduli setiap orang menyikapinya. Waktu akan terus bergulir. Selangkah demi selangkah kebaikan yang kita tanam hari ini akan menuai hasilnya di kemudian hari. Keringat yang mengucur, rasa lelah yang membalut diri,  kaki yang terus melangkah menjadi saksi bahwa dalam meraih keberhasilan butuh banyak pengorbanan dan kelapangan jiwa.

Kadang rasa penat yang menggelayuti diri, saya merenungi banyak hal, dalam menapaki jenak-jenak kehidupan saya tidak bisa berjuang sendiri. Terlalu berat menanggungnya. Mungkin diri ini terlalu egois. Padahal ya Tuhan, Engkau telah memberikan karunia berupa ikatan ukhuwah, pertemanan yang dibingkai dengan rasa iman.  Saya butuh tempat bersandar, tempat bercerita  berbagi kisah dan pengalaman yang dirasa, saling memahami, dan saling memberi. “Tidak ada kata terlambat ron untuk berubah ke arah yang lebih baik”, salah satu sisi hatiku mencoba menenangkan. Belajarlah menerima pengalaman yang telah lalu sambil terus memupuk azzam ingin memperbaiki diri. Bersahabatlah dan ceritakanlah apa yang kamu rasa kepada sahabatmu yang kamu percaya bisa menjaga detail kisah hidupmu. Mulailah dengan niat ingin menghijrahkan diri dengan usaha yang dimampui.  “Tidak ada orang yang tega melihat sahabatnya menanggung masalah sendirian, berjuang sendirian. Tidak ada Ron,” hatiku kembali mengingatkan.

Tidak ada yang salah Ron ketika kamu membagi persoalan hidup yang sedang kamu hadapi, bercerita tentang kekurangan diri yang kamu miliki yang kian mengusik ketenangan hidupmu, selama kamu bermaksud memperoleh solusi dan dukungan dari sahabatmu. Berbagilah kisahmu, tidak ada manusia yang sempuna. Dengan kekurangan diri menyadarkan manusia untuk rendah hati dan tidak membanggakan diri dengan sesamanya. Alirkan energi positif dalam dirimu, dengan berbaik sangka bahwa persoalan hidup yang kini dihadapi merupakan kasih sayang Allah kepadamu. Bukankah ketika ujian menyapa, dirimu menjadi sering berdoa denga penuh rasa pengharapan? Bukankah tidak jarang setelah usaha-usaha yang kamu lakui, pada akhirnya kamu memasrahkan diri hasilnya kepada Allah?

Sahabat terbaikmu adalah sahabat yang selalu berkata benar kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkanmu. Dia adalah cermin dirimu yang selalu mengingatkanmu ketika ada ucapan dan sikapmu yang keliru. Dia selalu memberikanmu ruang untuk berbagi cerita. Dia adalah orang yang selalu mendoakan kebaikan untukmu tanpa sepengetahuan dirimu. Dia selalu mau menyemangatimu ketika semangat ibadahmu, semangat kerjamu, dan semangat belajarmu turun. Dia adalah orang yang selalu tersenyum tulus kepadamu begitupun dia ingin melihat wajahmu selalu tersenyum walaupun dirimu sedang sedih sekalipun. Dia adalah orang  yang berusaha menjaga ucapannya dari perkataan yang menyakiti hatimu ataupun orang lain. Dia adalah orang yang selalu menjaga silaturahmi denganmu dari waktu ke waktu tanpa peduli dengan jarak yang ada.

 

Jakarta, 9 Juli 2015

Merenungi Usia

“ Tak begitu peduli seberapa buruk masa lalu kita, yang terpenting bagi kita saat ini adalah seberapa tinggi impian kita di masa depan, dan seberapa serius upaya yang kita lakukan di hari ini. Masa lalu telah terjadi, ambil hikmah untuk perbaikan diri. Masa depan belum terjadi, maka citakan yang tinggi, lalu tuliskan agar teringat. Hari inilah hidup kita. Mari jalani sebaik mungkin. “ (Ahmad Rifa’i Rif’an, Penulis The Perfect Muslimah)

Bulan depan bertepatan dengan usiaku yang ke-23 tahun. Sudah hampir mendekati setengah abad usia hidupku. Banyak keinginan yang sudah tercapai dan tidak sedikit cita-cita yang belum saya capai. Yang sejak awal merencanakan A tapi karena satu dan lain hal mengganti menjadi rencana B. Banyak rasa menjejaki usia ini. Kadang sering diri ini membandingkan diri ini dengan diri orang lain yang lebih bahagia yang memiliki keluarga yang utuh satu dengan yang lainnya saling kompak saling mendukung. Ya Tuhan, maafkan hamba belum bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur. Tapi di sisi lain aku berusaha mensyukuri kehidupan yang telah diberikan ini. Aku masih bisa menjalani amanah kehidupan ini. Aku masih bisa bekerja. Mencari nafkah untuk hidupku. Masih bisa menyambung hidup. Di luar sana mungkin masih banyak orang yang mesti bermandi peluh di bawah terik matahari demi mencari uang untuk tetap bertahan hidup.  Aku masih diberi kesempatan kuliah di perguruan tinggi. Menuntut ilmu. Mencari wawasan yang luas. Sejak remaja aku sudah bermimpi untuk belajar di perguruan tinggi. Tuhan telah membukakan kesempatan itu untukku. Aku akan belajar sungguh-sungguh. Berusaha memanfaatkan waktu yang ada.

Untuk masa laluku. Aku ucapkan terimakasih telah menemaniku menapaki tiap-tiap jengkal kehidupan ini. Aku tidak mempersoalkan betapa dirimu kadang menyisakan perih yang sangat mendalam, sedih yang berlarut, sesak, dan akhirnya aku harus bersimpuh meminta kekuatan itu. Aku berusaha tidak menyesali seberapa kelam masa lalu itu dan seberapa berat masa lalu itu. Oh masa lalu, engkau mungkin selesai ketika sudah terlewati, tapi tidak dengan kenangan bersamamu. Kenangan itu tetap ada dan akan selalu ada. Yang kadang ketika saat ini engkau menghampiriku, aku tersenyum kecil mengikhlaskan itu semua telah terjadi. Tersenyum lega, di masa itu aku bisa mengisi waktu dalam dengan berbagai aktivitas. Mengingatmu membuatku rindu masa-masa itu. Masa dimana aku meraih prestasi demi prestasi yang membuatku tersenyum lega. Masa dimana aku pernah hidup dengan orang-orang yang mengasihiku sebegitu tulusnya. Meskipun mereka bukan orang tua kandungku. Ya Tuhan, terimakasih telah memberiku kehidupan sebegitu indahnya dan sebegitu menyenangkan. Berikan aku kekuatan dan kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat baik kepadaku.

Buku Fiksi Yang Menghibur

Buku adalah jendela informasi. Jendela yang ketika orang membaca akan bertambah wawasan. Wawasan apa saja. Bisa berupa pengetahuan, informasi, opini seseorang dalam menyikapi permasalahan, motivasi dan masih banyak yang lain. Saya sendiri sejak hobi membaca buku yang bergenre fiksi baik berupa novel maupun cerita pendek sejak duduk di bangku SMP. Di dalam cerita fiksi itu ada pesan – pesan moral yang disampaikan penulis kepada pembaca. Pesan – pesan moral itulah yang menjadi daya tarik saya hobi membaca cerita fiksi. Ketika membaca cerita fiksi terutama novel, saya seperti terhanyut ikut merasakan seperti apa yang dialami tokoh dalam novel itu. Bila tokoh sedang bahagia, seperti saya ikut merasa bahagia. Bila tokoh sedang sedih saya seperti ikut juga terbawa sedih. Bila membaca tentang deskripsi tempat yang menjadi setting cerita, seperti saya berada di tempat yang menjadi setting cerita. Benar apa yang tertulis dalam buku jurnalistik yang pernah saya baca ‘saya lupa judul dan pengarangnya’ isinya “Yang membedakan karya fiksi dan non fiksi adalah karya non fiksi hanya bersifat informatif.  Berbeda denga karya fiksi, karya fiksi memang cerita yang direkayasa oleh penulisnya. Karya fiksi seperti karya yang mempunyai ‘jiwa’ yang bisa mempengaruhi emosi pembaca.” Pembaca seakan-akan merasakan apa yang dirasakan oleh sang tokoh cerita tersebut. Di dalam karya fiksi ada tokohnya, setting tempatnya, sudut pandang (orang pertama atau orang kedua), dan yang menarik ada konflik dan problem solve dari konfik yang sedang dibangun. Emosi pembaca ikut terbawa dalam cerita.

Benarkah karya fiksi benar-benar hasil imajinasi dan rekaan semata tanpa adanya hubungan dengan kehidupan penulisnya? Menarik sekali pertanyaan ini untuk dijawab. Saya mengutip kalimat Mas Irwan Kelana dalam kata pengantar kumpulan cerpen karya beliau yang berjudul novelet Biarkan Cinta Menemukanmu, “Seorang penulis fiksi kerap ditanya orang, apakah puisi, cerpen, atau novel yang ditulisnya merupakan kisah nyata ataukah betul –betul rekaan? Sulit menjawab pertanyaan seperti itu. Karena pada dasarnya, hampir tidak ada cerita – entah itu puisi, cerpen, ataupun novel – yang betul-betul khayalan penulisnya. Bagaimanapun sebuah puisi, cerita pendek, maupun novel lahir dari pergulatan batin penulisnya maupun interaksinya dengan orang – orang di sekitarnya, orang – orang yang mempunyai keterkaitan dengannya maupun alam lingkungannya. Tapi sejauh mana kadar faktual dalam puisi, cerpen, atau novel itu, biarlah hanya penulisnya yang tahu. Mungkin ia hanya ingin menyimpannya sendiri di sudut hati.”

Buku adalah hasil karya penulis yang dalam pembuatannya melewati proses panjang. Tidak sedikit dari mereka yang rela meluangkan waktu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan demi menghasilkan karya tulisnya. Dengan membaca buku menambah semangat saya untuk semangat menulis. Menulis apa saja.  Dengan harapan tulisan yang ditulis ada sisipan pesan kebaikan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Teringat pesan Bang Tere Liye dalam akun FB nya yang tertulis, “Tidak ada tulisan yang buruk kecuali buruk isi tulisannya. Mengajak kepada perbuatan yang merusak. Dan tidak ada tulisan yang baik, kecuali isi tulisannya mengandung pesan-pesan kebaikan. Menghibur, menginspirasi untuk berbuat kebaikan.”

Membaca dapat melihat dan membayangkan tempat tertentu, walaupun belum pernah tempat itu secara langsung. Latar merupakan salah satu intrinsik dalam karya fiksi. Latar bisa berupa tempat, ruang, ataupun suasana yang sedang terjadi. Semakin detail penulis mendeskripsikan latar maka membuat pembaca memahami seolah-olah pembaca berada di tempat atau suasana di dalam cerita. Dan ini menjadi nilai plus sendiri dalam karya fiksi. Seperti kalimat dikutip dari novel Home karya Mbak Ifa Avianty halaman 7, “Pagi baru saja datang dan telah bergegas pergi lagi. Ia seperti biasa menyisakan kesibukan di jenak – jenak usia para penghuni bumi. Bergegas menuju kesibukan mengejar waktu dalam ruang, bagi yang masih aktif dan produktif. Sementara bagi kami yang telah berada di senja usia, pagi adalah ruang dan waktu di mana kami harus banyak mengucap syukur ketika Tuhan masih mengizinkan kami menatap dunia lagi. Saya juga demikian. Suami saya juga, meski ia melakukannya dari atas kursi rodanya. Pagi ini, Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk menyelesaikan lagi amanah-amanah yang masih ada ditangan kami. Saya tersenyum menyudahi kemesraan saya dengan sang pagi.” Latarnya pagi hari. Suasana yang dibangun adalah ungkapan rasa syukur seorang Ibu yang berusia lanjut atas nikmat diberikan usia yang panjang.

Bagi saya membaca buku adalah kegiatan yang banyak manfaatnya. Di sisa –sisa waktu luang ketika libur kerja, saya berusaha menyempatkan untuk membaca buku. Selain menambah wawasan, membaca buku juga dapat menambah kosa kata bahasa indonesia. Penggunaan kata-kata yang bervariasi banyak saya temukan. Membaca buku membuat seseorang mengetahui banyak hal tanpa dibatasi tempat. Dengan membaca saya bisa membayangkan suasana pagi hari di negeri kincir angin yang selalu ramai orang-orang bersepeda ke kantor atau ke kampus. Belanda negeri sejuta sepeda.  Bersepeda sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana. Dimana-mana akan terlihat parkir sepeda yang terlihat ramai.

Jakarta, 28 Maret 2015