Category Archives: Uncategorized

Ruang Penantian

Setiap kita pernah merasakan proses penantian. Apapun jenis penantian itu namun tetap efek dari menanti itu menimbulkan harapan sekaligus kekhawatiran. Ada yang menanti pengumuman beasiswa setelah mengikuti berbagai jenis tes, ada yang menanti pengumumuan tes seleksi kerja, ada yang menanti nilai hasil ujian dalam bentuk kartu hasil studi (KHS) dan masih banyak lagi jenis penantian yang lain.

Tidak ada sisi negatif dari penantian itu sendiri selama kita mampu me-manage diri untuk akhirnya tahu sikap apa yang semestinya diambil. Karena waktu terus bergulir menuntut kita untuk terus bergerak dinamis. Bergerak maju ke depan menjemput pintu-pintu kebaikan. Karena waktu terus berjalan menuntut kita untuk tidak berdiam diri. Ada langkah nyata untuk mengisi penantian. Ada kerja keras untuk menunggu hasil yang dinanti selepas ikhtiar yang sudah digenapi.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah ayat 7, “Apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. Segera bergegas dan beranjak menyongsong harapan dengan cara dan ikhtiar yang baik. Perlu tekad dan kemauan yang keras untuk membujuk diri ini menyelami arti perjuangan dalam hidup. Menunjukkan bahwa jika sudah punya mimpi, maka harus diraih mimpi itu.

Mewujudkan mimpi tidak pernah mudah. Karena saat kita berjuang, kita akan merasakan proses yang panjang yang di dalamnya kelelahan, kejenuhan dan penderitaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berjuang. Tetapi tidak mengapa, karena di saat lelah dirasakan, saat bertemu dengan penderitaan, di saat itulah kamu sedang berjalan menapaki tangga keberhasilan. Berat. Berat sekali saat menanjak menuju puncak keberhasilan. Tetapi di situlah letak komitmen dalam dirimu untuk meraih keberhasilan.

Masa penantian akan memiliki makna selama kita mampu menyerap hikmah di dalamnya. Ada kebaikan-kebaikan yang sudah menanti untuk kita kerjakan. Ada kesabaran yang harus ditempa di setiap keadaan. Ada keikhlasan yang harus di dekapi. Ada harapan yang harus di jaga agar tetap kokoh.  Ada ikhtiar yang harus disempurnakan. Semua itu menuntut tindakan nyata dibarengi dengan ketulusan hati.

Merehatkan jiwa yang mulai kelelahan akibat rutinitas yang menyisakan kejenuhan dengan bertukar pikiran melalui diskusi dengan rekan kerja, perbincangan hangat dengan kawan lama, berbagi cerita dengan teman-teman, melakukan perjalanan melihat keindahan panorama alam- semua itu mampu merefresh diri dari kejenuhan panjang yang mendera. Semua itu mampu membuat kita mampu meresapi sudut-sudut jejak yang sudah kita goreskan dalam putaran waktu yang sudah terlewat. Membuat kita merenung dalam untuk akhirnya tahu sikap yang mana yang harus dibenahi dan kebaikan mana yang harus ditingkatkan lebih  baik lagi.

Pada setiap ukiran senyum yang kita bagi kepada orang lain terdapat kebaikan. Pada setiap langkah kaki untuk pergi mencari nafkah adalah kebaikan. Pada setiap keringat yang keluar untuk menuntut ilmu adalah kebaikan. Maka iringilah hidup ini dengan menebar kebaikan. Karena saat kita tutup usia di dunia ini, kita berharap kebaikan yang sedang kita lakukan akan mendampingi kita untuk perjalanan panjang selanjutnya.

 

 

Jakarta, 30 Januari 2017

Advertisements

Mutiara di dalam Nasihat

Hari Jumat kemarin 12/1, memiliki memori sendiri untuk saya. Yaitu materi khutbah Jumat di masjid komplek Depkes Pasar Minggu yang cukup berkesan.  Saya dari awal hingga akhir khutbah mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang di sampaikan Khotib.

Khotib mengawali materi khutbah dengan menyampaikan, “Hidup ini ibarat sebuah wadah yang di dalamnya berisi perjuangan. Perjuangan antara kebaikan melawan keburukan. Ketaatan melawan kemaksiatan. Nilai dari perjuangan itu terletak pada hasil menang atau kalah.”

Beliau melanjutnya, “Mungkin kita sudah mendirikan shalat lima waktu. Tetapi selama shalat tersebut dikerjakan, rasa khusyu’ tak kunjung mampu kita hadirkan dan kita tidak berusaha menghadirkan rasa khusyu’ itu. Mungkin selama ini sudah banyak sedekah yang kita berikan. Tetapi sedekah yang kita keluarkan tanpa rasa ikhlas sepenuhnya.”

Terus terang pada bagian ini begitu menyentuh hati saya, terutama pada bagian sedekah. Tak terasa satu butir bening mengalir jatuh dari mata membahasi pipi saya. Ada hentakan yang menggetarkan hati saya bercampur keharuan. Saya tidak tahu apa namanya. Tapi ini yang saya rasakan. Saya teringat diri saya yang kadang belum sepenuhnya ikhlas dalam berbagi. Meskipun disebutkan alasan untuk membenarkan apa yang saya lakukan, tetap saja saya berada dalam posisi yang tidak benar. Tidak pernah mudah berbuat kebaikan pada orang yang pernah menyakiti hati kita. Tetapi itu bukan juga menjadi alasan untuk memutus untuk tidak berbuat baik pada orang tersebut.  Itu hikmah yang saya dapat. Perlu waktu untuk memulihkan rasa sakit yang pernah tergores. Perlu belajar lagi memaknai kebaikan dan keikhlasan.

Beliau melanjutkan, “Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha yang artinya maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. (Q.S. Asy-Syams : 8). Kalau ketaatan dalam diri kita selalu menang melawan kemaksiatan, maka pertahankanlah. Dan kalau kemaksiatan lebih banyak menang melawan ketaatan dalam diri kita, maka segeralah kembali ke pada Allah. Sesungguhnya kematian orang yang di sekitar kita adalah nasihat. Nasihat bagi kita yang masih hidup. Kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un adalah nasihat untuk kita yang masih hidup untuk tetap istiqomah dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Karena waktu yang telah diberikan kepada kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawabnnya di hadapan Allah.”

Jika di ambil kesimpulannya, hidup ini adalah perjuangan yang berisi pertarungan antara kebaikan melawan keburukan, ketaatan melawan maksiat, ucapan yang baik melawan ucapan yang buruk, tauhid melawan kekufuran. Setiap muslim dihadapkan pada salah satu pilihan. Di mana setiap pilihan tersebut memiliki konsekuensi bagi pelakunya.

Menjadi penting dengan adanya penjelasan ini kita diingatkan bahwa dalam diri manusia ada dua potensi keburukan atau ketakwaan. Di mana pada saat keburukan mendominasi hati dan perbuatan maka ketaqwaan menurun. Pun sebaliknya, saat ketaqwaan meningkat dan mendominasi hati dan perbuatan maka kemaksiatan menurun dan berhasil diminimalisir. Tidak bisa keduanya berjalan pada posisi seimbang.

Materi khutbah ini menjadi ibroh (pelajaran) bagi saya untuk memaknai hidup lebih jernih. Untuk lebih menjaga diri dari hal yang sia-sia. Untuk memperbanyak amal sholeh dan menebar kebaikan sebanyak-banyaknya. Terutama untuk saya agar lebih mampu menata waktu untuk aktivitas yang bernilai dan tak terbuang sia-sia. Karena waktu adalah modal utama untuk memperbaiki diri, membenahi akhlak yang kurang baik, dan muhasabah dari satu waktu ke waktu yang lain.

 

Jakarta, 13 Januari 2018

Senyum yang Mengembang

Aku memulai tulisan ini dengan senyum mengembang…

Hari-hari melelahkan sudah selesai aku lalui. Satu dua dari hari-hari tersebut menyisakan kehangatan di hati. Kehangatan yang dibalut oleh kebersamaan yang penuh warna. Kebersamaan yang selalu dipenuhi keceriaan dan senyum yang mengembang. Semua prosesnya berjalan seadanya mengalir tulus membasuh relung hati ini. Mengeratkan hati yang satu dengan hati yang lain dalam bingkai pertemanan. Menumbuhkan harapan-harapan baru dan menyirami cita-cita yang sudah tersemai sejak lama.

Mereka hadir menemaniku belajar mengembangkan potensi diri. Mendampingiku melalui satu tahapan menuju tahapan berikutnya. Memberi arah agar langkah berikutnya lebih baik dari langkah sebelumnya. Menyisipkan dorongan yang tersirat bahwa semua proses harus dilalui dengan sebaik-baiknya. Membangunkan jiwa agar ia mau bergerak dan berlatih dengan penuh kesungguhan. Aku menemui wajah-wajah yang terpancar dari kebeningan hati. Pancaran wajah yang memberikan keteduhan dan ketenangan.
Saat asa dalam jiwaku bertumbuh, mereka mendampingiku dan mengulurkan tangan membantuku dengan di dasari bahwa bersinergi selalu lebih baik dari pada sendiri. Nyala api dalam jiwaku yang semula kecil kini menyala setidaknya lebih besar di bandingkan sebelumnya. Nyala api ini menerangi hidupku saat ini dan aku selalu berharap nyala api itu terjaga hingga akhir hayat. Nyala api itu menggemakan suara, tidak alasan untuk berhenti belajar dan tidak alasan pula untuk merasa lelah untuk belajar. Setiap kita adalah pembelajar yang memiliki tugas menuntaskan ujian kehidupan yang sudah merupakan sebuah keniscayaan.

Aku merasa perjalanan baru nan panjang sudah menanti di depan mata. Aku menata hati dan aku membuka pikiran untuk membuka gerbang baru di hari yang baru. Membujuk jiwa kembali mengayuh menelusuri perjalanan baru. Ruang untuk bertemu mereka seiring waktu akan berkurang intensitasnya. Namun ku yakin aku akan bertemu dengan teman-teman baru yang akan mengiringi perjalananku berikutnya.

Akan ada hari dimana hatiku dipenuhi oleh kerinduan kepada teman-teman yang pernah berjuang belajar bersama di ruang yang sama. Aku tak tahu cara untuk menangkal rindu yang kian memuncak itu. aku hanya bisa menyebut nama-nama mereka dengan suara yang lirih di suasana yang sunyi melalui doa-doa yang di selimuti kerinduan yang sangat untuk bersua. Hanya dengan itu hatiku bisa merasakan kembali kehangatan dan kebersamaan yang pernah ada dan hinggap di sudut hatiku. Dengan cara seperti itu aku bisa menyapa kembali mereka. Dengan cara seperti itu juga aku bisa melihat bayangan wajah-wajah temanku dengan ekpresi yang beragam dan aku bisa menjejaki setiap jengkal, setiap tapak-tapak yang membekas di waktu yang sudah terlewat. Setiap untaian doa yang terajut indah aku hadirkan untuk teman-temanku semoga pertemuan yang singkat ini menitipkan makna yang terangkum utuh dalam bingkai silaturahmi yang kokoh.

Aku percaya kisah ini akan kokoh dan akan tetap kokoh. Masa lalu bisa pergi meninggalkan kita, tetapi itu tidak berlaku pada kenangan. Kenangan akan selalu ada. Sampai kapan pun. Karena ia sudah menjadi bagian dari hidup yang di jalani seseorang. Pada masa lalu, kita berterima kasih untuk setiap perjumpaan, untuk setiap pertemuan, dan untuk setiap perpisahan. Hadiah dari itu semua adalah sikap yang semakin mendewasa dan kearifan menaruh persepsi mengenai hidup dan kehidupan dari berbagai sisi.

Kawan, perjalanan kita masih panjang. Masih banyak lembaran-lembaran baru yang harus kita isi dengan amal kebaikan, karya, dan prestasi. Maka tugas kita menyelesaikan lembaran-lembaran itu dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 24 September 2017

Kerinduan yang Memanggil

kerinduanku

Sebagai seorang yang pernah tinggal di Pondok, sering kali kerinduan akan suasana pondok itu memanggil dan datang dengan memenuhi memori ingatan. Bukan hal mudah bagi saya untuk memulai kehidupan baru selepas lulus dari Pondok. Bayangan kehidupan asrama dengan teman-teman, dengan para pengasuh, dengan para pembimbing, lekuk ruang kamar asrama berulang-ulang kali hinggap dalam ingatan dan menorehkan rasa kehilangan sekaligus kerinduan. Rasa itu mendorong saya ingin rasanya kembali ke pondok dan menjalani kehidupan seperti biasanya di lingkungan pondok bersama orang-orang yang sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri.

Bagian-bagian tertentu membuat saya merasa sedih bercampur haru. Apalagi tiga hari sampai satu minggu selepas meninggalkan pondok saya seperti merangkak pelan menjalani hari-hari baru dan hari-hari itu seolah-olah berjalan lambat. Saya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai latar belakang. Perlahan saya memahami hakikat kehidupan baru ini yang sedang saya tempuh ini penuh dengan tantangan dan butuh keberanian.

April 2011. Tahun dimana saat saya lulus dari pondok dan tersemat sebutan alumni.  Bapak pimpindan pondok mengantarkan saya dan dua teman saya (santri pondok satu angkatan) dengan mobil Toyota Kijang miliknya ke lembaga yang bernama Rumah Gemilang Indonesia (RGI) di kota Depok. Saat itu kami mendapat beasiswa pendidikan dan pelatihan dari lembaga tersebut. Selama perjalanan dari Bekasi hingga tiba Depok, kami lebih banyak diam. Kami asyik merangkum semua kenangan yang sudah sekian lama terajut rapi. walaupun sebenarnya masing-masing kami memiliki perasaan yang tidak enak dirasakan. Perpisahan…

Hari itu persis saat dimana beliau mengantarkan saya dengan mobil sedan berwarna hijau lumut di hari pertama saya tiba pondok asrama putra sepuluh tahun yang lalu. Saat mengingatnya ada rasa haru memenuhi ruang hati saya. Rasanya cepat sekali waktu terlewat. Saya sadar perjalanan hari ini tidak mudah. Dan tidak akan pernah mudah. Bisa dibayangkan sepuluh tahun saya diasuh oleh Bapak Pimpinan Pondok beserta para guru di sana, diberi pendidikan ilmu agama, di ajarkan membaca Al-Qur’an dengan ilmu tajwidnya, diberikan pelatihan kepemimpinan, dan ditanamkan akhlak dan etika semenjak saya masih duduk di kelas empat sekolah dasar hingga saya menyelesaikan sekolah menengah atas. Sejatinya setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan perpisahan selalu saja menyisakan perasaan akan  kehilangan.

Saya belajar banyak dari kehidupan di Pondok. Saya belajar menghargai orang lain, saya belajar menjadi pendengar yang baik di setiap kajian dan kuliah tujuh menit. Saya belajar bagaimana cara berkasih sayang, saling menguatkan satu dengan yang lainnya, saling merangkul bila salah satu ada yang jatuh dan perlu dikuatkan. Saya belajar banyak dari cara mereka yang mengajak kepada kebaikan dengan bahasa yang lembut penuh kesabaran. Cara mereka menatap, tersenyum, memberi nasihat, dan merangkul saya adalah bukti bahwa persaudaraan yang di dasari keimanan adalah ikatan yang sangat kokoh. Saya teringat sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda : “Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

Melewati hari bersama teman-teman di asrama semakin lama semakin menambah kedekatan emosional diantara kami. Susah dan senang kami lalui bersama. Hari demi hari dilalui dengan penuh warna dan menyebarkan energi positif. Layaknya sebuah satu keluarga, bila salah satu anggota keluarga memiliki semangat belajar yang tinggi, maka energi semangat belajar yang tinggi itu menyebar kepada anggota-anggota yang lainnya. Bila salah satu di antara kami mendapat prestasi berupa memenangkan sebuah lomba, membuat seluruh santri ikut merasa bahagia. Sebaliknya bila ada santri yang sedang sakit, kami ikut berempati terhadap apa yang sedang di deritanya. Pondok ini milik bersama dan semua santri terlibat menjaga dan merawatnya.

Saya juga belajar hidup dengan sederhana. Pakaian kami adalah pakaian yang sederhana, yang bisa dikatakan sopan dan menutupi aurat. Handphone adalah barang yang dilarang berada dalam kehidupan pondok. Kami selalu menggunakan wartel (warung telepon) untuk menghubungi orang tua kami di rumah. Pesan dari kebiasaan hidup pondok yang sederhana ini adalah jangan bermegah-megahan dalam dunia. hakikatnya sesuatu yang akan kita bawa untuk kehidupan setelah mati adalah amal soleh dan hati yang bersih.

Saat ini tepat lima tahun saya lulus dari Pondok. Kerinduan itu masih tetap terasa. Kerinduan itu mengajak saya melalui lamunan panjang untuk berkeliling ke setiap lekuk dinding-dinding ruangan asrama dulu. Menapaki kembali melalui memori jejak-jejak langkah yang pernah terekam oleh waktu. Mengingat kembali masa-masa saya tumbuh remaja dan mulai mengerti makna cinta. Memutar kembali dan merasai kembali kasih sayang yang tersebar melalui perjumpaan demi perjumpaan, melalui pertemuan demi pertemuan.

Kerinduan akan masa-masa bersama dengan para santri lainnya yang memiliki cita-cita dan mimpi besar, yang tidak pernah berkecil hati namun memiliki semangat untuk membangkitkan martabat diri dengan belajar yang tekun dan membiasakan diri dengan akhlak yang baik.

Kerinduan ini biarlah tetap berada dalam relung hati saya. Waktu terus berjalan dan kenangan tidak akan pernah hilang. Selamanya kenangan selalu ada dan melekat di dalam hati ini. Biarlah saya menitipkan kerinduan melalui tulisan pendek ini dan menitipkan doa-doa untuk sahabat-sahabatku dan adik-adikku yang sedang menuntut ilmu di Pondok. Saya berharap kerinduan ini semakin bersemai dan membuat kita bisa berkumpul kembali di suatu tempat yang sama-sama kita rindukan.

 

Jakarta, 22 Nopember 2016

 

 

 

 

 

 

Tangkai bunga mawar

Hari ini adalah hari Sabtu. Senja sudah beranjak menjadi malam saat dimana saya sedang makan nasi goreng di pinggir jalan raya Margonda, Depok. Saat itu jalan ini cukup macet di dominasi kendaraan roda empat. Hawa panas yang dihembuskan dari kendaraan-kendaraan itu menyebar hingga dirasakan oleh para para pejalan kaki di trotoar jalan dan pedagang kaki lima di tepi jalan. Suara klakson mobil dan motor silih berganti membuat suasana jalan raya semakin padat sekaligus menambah kebisingan malam ini. 

Selesai makan 

Story Blog Tour : Keributan di Malam Hari

“Ibu….” suara Ana tercekak.

“IBU JAHAT. MENGAPA IBU TEGA MELAKUKAN INI PADA AYAH?,” teriak Ana dengan wajah penuh kebencian.

“BERHENTI BICARA ANA. KURANG AJAR KAMU BERANI BICARA SEKERAS ITU,”? Ibu berteriak memerintah Ana dengan sorot mata yang tajam.

Dengan cahaya lampu yang sudah redup di ruangan itu Ana dan Ditya dapat melihat dengan jelas dua telapak tangan Ibunya berlumuran bercak darah.

Ana menangis makin terisak. Bentakan Ibunya  membuat dirinya tidak berani berkata lagi. Namun hatinya tidak bisa berbohong. Ia ingin mengeluarkan semua emosinya, semua kekecewaannya, semua kesedihan yang ada di hatinya.

Krieeet.

Terdengar suara pintu terbuka. Bayangan seseorang masuk terlihat jelas di dinding rumah tua itu. Ditya dan Ana sudah curiga sejak tadi. Saat dirinya mendengar seseorang telah keluar melalui pintu depan itu. Tetapi dugaan keduanya salah, Ibunya masih ada di dalam rumah. Lalu siapa yang tadi keluar?

Srek … srek… srek.

Seseorang dengan tubuh tegap dan tinggi mengenakan kaos hitam sudah berdiri di belakang ibunya. Pembunuh bayaran.

“Cepat bereskan anak muda itu dan tangkap Ana” perintah singkat Ibunya kepada pembunuh bayaran itu.

“Siap Nyonya.”

Ana tegang. Bingung. Sedih. Seakan masalah datang menimpanya secara bergelombang. Tidak menyisakan waktu sedikit pun baginya untuk bernafas lega.  Pikirannya tidak tenang. Dia sangat tidak siap dengan suasana seperti ini.

Ditya melangkah berdiri maju di depan Ana. Matanya semakin tajam. Kedua kakinya berubah membentuk kuda-kuda. Dia telah mengikuti Taekwondo semenjak SMP dan hingga saat ini di sekolahnya. Walaupun tubuhnya agak kurus. Tetapi kelincahannya dan keahlian bela diri yang dimilikinya diakui oleh teman-teman  di sekolahnya. Ditambah dengan prestasinya belum lama ini Ia meraih prestasi juara II lomba maraton lari jarak jauh tingkat provinsi.

Bagi orang-orang yang mendalami ilmu bela diri sudah sangat biasa menghadapi situasi yang mengancam seperti yang dirasakan Ditya sekarang. Hati mereka tidak gentar apalagi  takut. Mata, kedua tangan, dan kedua kaki sudah siap merespon setiap serangan kapan saja. Mereka terbiasa berlatih agar sigap kapan pun dan dimana pun. Mereka terbiasa berlatih hingga memiliki gerakan reflek yang cekatan dan sigap.

“Pergilah Ana dari rumah ini. Minta bantuan  tetangga yang paling depat dari rumahmu,”  Pinta Ditya tegas. belum pernah dia berkata setegas itu kepada Ana.

“Tapi kamu….. ?” jawab Ana khawatir.

“Jangan pedulikan aku. CEPAT PERGI,” Perintah Ditya dengan sorot mata yang tajam. Yang diperintah langsung berlari keluar melewati pintu belakang yang saat itu sudah terbuka.

********************

Ana berlari sekuat tenaganya menerobos kegelapan hutan. Sepanjang perjalanan air matanya mengalir semakin deras. Yang saat ini ada dalam pikirannya, bagaiman ia segera sampai ke rumah Pak RT kemudian minta bantuan kepada Pak RT dan beberapa warga untuk segera ke rumah Ana mendamaikan keributan yang terjadi. Berharap Ibunya dan Ditnya dalam kondisi baik-baik saja.

********************

Tap… tap… tap… tap. Pembunuh bayaran itu maju berlari mengejar Ana. Ditya menghalau. Berdiri tepat di depan  pembunuh bayaran itu dengan kedua tangan yang sudah terkepal dan bersiaga dari serangan apapun. Pembunuh bayaran itu melayangkan pukulan ke arah wajah Ditya.

DAAGH. Pukulan pembunuh bayaran itu berhasil ditahan oleh tangan Ditya.

Ditya melihat ada celah di bagian perut pembunuh bayaran  itu. Kaki kanannya dengan sangat cepat menendang perut pembunuh bayaran dua kali kena telak. Pembunuh bayaran itu terpental. Wajahnya menahan sakit. Tapi langsung berdiri waspada.

Pembunuh bayaran itu maju dengan berlari mengarahkan pukulan lebih keras dari sebelumnya ke arah wajah Ditya. Ditya berhasil menangkisnya dengan tangan kanannya. Tapi pembunuh bayaran terus memberi dorongan dan tekanan dari pukulan itu. Sehingga fokus mata Ditya teralih ke tangan kanannya yang sedang menahan pukulan keras pembunuh bayaran. Menahan sekuat tenaga biar tidak menerobos mengenai wajahnya. Saat menahan serangan itu kaki kirinya sampai mundur beberapa senti ke belakang. Power pukulan ini keras sekali.

Buuggh. Serangan tidak terduga pembunuh bayaran memukul dengan tangan kiri mengenai pipi sebelah kiri Ditya. Beruntung bisa ditahan dengan tangan kirinya meski sedikit. Serangan pukulan itu membuat pipinya lebam. Ditya mundur beberapa langkah. Posisi kakinya tidak berubah, masih tetap memasang kuda-kuda. Dia terus mengatur ritme nafasnya. Tanganya kembali mengepal di atas dada. Matanya membulat tajam.

Kini keduanya menyerang. Saling memukul, saling menghindar, saling mengintai celah-celah untuk melakukan serangan. Kelincahan dan kecepatan Ditya disini ditunjukkan. Berkali-kali pukulan dan tendangan keras pembunuh bayaran yang diarahkan kepadanya, berhasil dihindari dan ditangkisnya dengan sangat sempurna. Dia terus memancing  agar pembunuh bayaran terus memberikan serangan, agar energi pembunuh bayaran terkuras tanpa disadari.

Saat pembunuh bayaran fokus menyerang bagian wajah Ditya. Ditya menendang kaki kiri pembunuh bayaran. Tetapi sayang tendangan itu diketahui pembunuh bayaran. Kaki Ditya tertangkap oleh tangan kanan pembunuh bayaran itu. Bahaya. Tubuh Ditya menjadi tidak seimbang.  Ditya menarik nafas panjang, tangannya melayangkan pukulan ke arah wajah pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun menyadari mencoba menangkis dengan tangan kirinya. Bukan bagian itu. Pukulan keras Ditya mengenai  tepat  bagian dada sebelah kanan pembunuh bayaran itu. Serangan tipuan Ditya berhasil. Kakinya pun terlepas dari tangan pembunuh bayaran. Pembunuh bayaran pun terpental.

Hampir saja. Ditya terus mengatur ritme nafasnya. Keringat deras membanjiri wajah dan tubuhnya. Dia tidak bisa bohong staminanya sudah sangat berkurang. Ini harus cepat diakhiri.

Ssssst. Prak. Satu buah kaleng melayang sangat kencang dan ditangkis oleh telapak tangan Ditya. Telapak tangannya mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka kaleng itu setajam ini. Aku lupa masih ada musuh satu lagi.

“CEPAT KAU BERESKAN BOCAH ITU. AKU SUDAH MUAK DENGAN PERMAINAN INI.” Teriak sang Ibu dengan sorot mata mengancam. Tangannya memegang batu bata. Kali ini dia akan ikut bertarung ‘menghabisi ‘ Ditya.

Pembunuh bayaran pun bangkit berdiri mengeluarkan pisau belati.

******************

Ana tiba di rumah Pak RT 10 menit kemudian. Matanya masih merah. Dengan nafasnya yang kiang tersenggal-senggal, dia mengetuk rumah Pak RT.

Tok tok tok.

“Tolong buka pintunya pak RT.” Ana memanggil dengan suara agak keras.

Pak RT yang masih terjaga langsung membuka pintu.

“Ada apa Ana?”

“Pak tolong pak. Di rumah Ana terjadi keributan besar. Cepat Pak kita kesana Ana butuh bantuan Bapak.”  Ana memohon. Tangisnya kembali mengaliri wajahnya.  Waktunya sudah sempit sekali.

Pak RT seketika percaya ada keributan di rumah Ana.

Pak RT mengeluarakan ponsel, menelpon petugas hansip yang sedang berjaga. Belum sampai dua menit, petugas hansip sudah tiba di depan rumah Pak RT. Letak pos jaga dengan rumah Pak RT hanya berjarak 50 meter. Pak RT menceritakan singkat peristiwa yang terjadi di rumah Ana kepada dua orang petugas hansip.

“Ayo Ana kita ke rumahmu sekarang.” Ajak Pak RT

Ana memimpin jalan dengan langkah setengah berlari. Pak RT dan dua orang hansip mengikuti dengan langkah kaki yang terburu-buru juga.

Bersambung …………..

 

Cerita selanjutnya dalam blog Enie Handyas (www.eniehandyas.wordpress.com)

 

CATATAN:
Tulisan ini bagian dari Story Blog Tour 2016 yang diadakan Komunitas One Week One Paper (www.oneweekonepaper.com). Member OWOP yang sudah mendaftar, sesuai urutannya membuat story di blog pribadi masing-masing. Kemudian member berikutnya melanjutkan cerita di blog pribadinya juga. Nah, kali ini saya dapat giliran di episode 10.

Episode 1 :  Senandung Malam – Nadhira Arini
Episode 2 : Rumah tua – Rizka Zu Agustina 
Episode 3 : Misteri Sebuah Kunci dan Sesosok Bayangan – Cicilia Putri Ardila 
Episode 4 : Kunci yang Diputar Tengah Malam – Rizki Khotimah 
Episode 5 : Tamu Tak Diundang – Dini Riyani
Episode 6 : Pulang – Nurhikmah Taliasih
Episode 7 : Tamu Tak Diundang (Lagi) – Mister Izzy
Episode 8 : Jantung – Depi

Episode 9 : Orang yang Seharusnya Tiada – Nifa  

episode 10 : Keributan di Malam Hari – Imron Prayogi

Episode 11 : www.eniehandyas.wordpress.com (coming soon)

Trip To Merbabu 1

 

Jam menunjukkan pukul 23.00.  Tanda jadwal keberangkatan kereta api dari stasiun Senen. Dengan langkah setengah dipaksakan. Bukan dipaksakan melainkan tas Carrier yang ku bawa memang berat sekali. mungkin belum terbiasa.  jadinya langkah kakiku tidak leluasa seperti biasanya. Malam ini stasiun ini cukup ramai. Sebagiannya terlihat anak-anak muda ber tas besar di punggungnya, tas yang biasa dipakai untuk pendaki gunung. Sebagian lagi orang tua yang hendak naik kereta menuju kampung halamannya. Ini pertama kali bagiku menginjakkan kaki di stasiun setelah lima tahun terakhir. Stasiun ini terlihat lebih bersih dan tempat parkirnya juga tertata rapi.

“Imron Prayogi. Suara anak muda yang kemudian hari saya mengenalnya. Namanya Wildan.

“Ya, saya Imron. Jawabku sambil mengangkat tangan.

“Ini tiket keretanya ya. Nanti ketika di loket pemeriksaan sekalian tunjukkan KTP asli.”

“Oke. Terimakasih Bang.

Saya berjalan menuju pintu loket pemeriksaan. Ku tunjukkan tiket dan KTP asli milikku. Dan dipersilahkan langsung menaiki kereta. Di tiket tertulis gerbong 5 kursi 17 D. Tidak lama saya menemukan gerbong tersebut kemudian langsung menaiki kereta dan duduk sesuai nomor kursi yang tertera di tiket. Nama kereta api ini Tawang Jaya tujuan stasiun Semarang Poncol.

IMG_20151012_223555

Perjalanan kali ini saya tidak sendiri. Saya bersama teman-teman dari Jakarta akan travelling bersama mendaki gunung Merbabu, Jawa Tengah. Jumlah kami dua puluh lima orang. Sebagian besar dari kami adalah mahasiswa. Ada yang dari Unindra, UIN Syarif Hidayatullah, Univ. Esa Unggul, Univ. Budi Luhur dan Uhamka. Saya dapat info mendaki gunung merbabu dari Safira, teman satu kelas di Pend. Ekonomi. Ini kali pertama saya mendaki gunung. Ada rasa khawatir awalnya. Apa fisikku kuat melakukan perjalanan panjang ini? apa nantinya diriku merepotkan yang lain? Dan yang paling penting apakah saya bisa memaknai arti perjalanan ini?

Priiiit. Bunyi pluit dari salah satu petugas stasiun menandakan kereta segera berangkat. Bismillahi tawakaltu ‘alallah, ucapku lirih. Selamat jalan Jakarta. Kereta yang kami naiki cukup ramai. Tetapi walaupun ramai tetap semuanya dapat kursi untuk duduk. Tidak ada penumpang yang berdiri. Semakin lama dingingnya AC semakin terasa. Saya mengenakan jaket. Malam semakin larut. Saya masih juga terjaga. Padahal tubuh ingin sekali tidur. Seharian kerja dan mempersiapkan perlengkapan untuk empat hari ke depan membuat energi terkuras. Yang tersisa hanya lelah. Mungkin tubuh saya merespon adanya perubahan dari posisi tidur saya dengan posisi duduk. Ditambah kereta yang sedang berjalan. Getarannya kian terasa dan suara mesinnya juga tidak bisa dibilang pelan. Ini yang menyebabkan saya sulit tertidur. Meski berulang kali saya memejamkan mata. Sesekali saya melihat ke pandangan di luar kereta. Yang terlihat hanya gelap dan kelap kelip lampu jalan raya di sekitaran pinggir rel.

Ada yang membuatku haru malam ini. saya menyaksikan satu keluarga dan anaknya di depan kursiku. Kursi mereka dengan kursi ku duduk berhadapan. Ibu tersebut tidur dengan memangku anaknya yang masih kecil. Dan si Bapak tidur dengan posisi duduk. Raut lelah di wajahnya bisa kulihat dengan jelas. keluarga yang kompak. Ketenangan itu sederhana sekali. disana ada bapak ibu yang melindungi anaknya. Meski tubuh mereka sendiri menjadi tumpuan, menjadi terbebani, tetapi terlihat sekali mereka tidak menganggapnya sebagai beban. Terlihat harmonis dan saling menghargai satu dengan yang lain. “ini bukan kebetulan kan Ron? Ini qadarallah. Allah menunjukkan bahwa dengan berkeluarga akan memberikan rasa ketenangan (sakinah). Niatkanlah menikah karena Allah. Rasa sepi dan sunyi di hatimu yang kian bertambah mestilah diramaikan dan diwarnai dengan kehidupan baru dengan berkeluarga.” Separuh hatiku membenarkan. Kini saatnya menanti dengan prasangka baik, berikhtiar yang maksimal, memperbaiki diri, dan berdoa agar dimudahkan.

Jakarta, 27 September 2015