Creative Writing for Young (Bagian 2)

feature-writing

Tulisan ini merupakan lanjutan dari Creative Writing for Young (Bagian Satu).

Materi II : Menulis Feature

Ruangan mulai terasa dingin. Saya meneguk air putih yang ada di depan saya. Kemudian saya mengenakan sweeter berwarna merah marun. Lumayan agar dingin yang di hembuskan AC terhalang dengan pakaian ini. Suara sejumlah peserta yang saling bercengkerama berpadu silih berganti. Tanda bahwa ada jeda beberapa menit sebelum pergantian materi. Cahaya lampu proyektor masih tetap menyala memantulkan seberkas cahaya di mata orang yang memandangnya.

Sekilas ruangan ini seperti ruang pertemuan atau rapat pada umumnya. Ruangannya cukup luas dan di lengkapi dengan meja rapat berbentuk persegi panjang. Di tiap sisi meja bisa di isi dengan kursi-kursi yang mengitari setiap sudut meja. Lampu-lampu ruangan yang berjejer dengan cahaya putihnya membuat orang betah berlama-lama berada di dalamnya. Tapi ruangan ini terasa kurang sempurna, karena di sini saya tidak melihat jam dinding. Dari dalam sini cahaya matahari nyaris tidak terlihat karena mungkin gedung ini terhalangi dengan gedung di sekitanya yang lebih tinggi.

Ucapan salam dari Pak Arif Firmansyah (jurnalis senior dan founder gregetan.com) menjadi tanda bahwa materi menulis feature dimulai. Kami kembali fokus memperhatikan dan mendengarkan penjelasan yang beliau sampaikan. Materi ini diawali dengan definisi singkat feature adalah tulisan opini seseorang terhadap fakta yang terjadi dan di dalamnya mengandung unsur human interest. Tulisan feature menggunakan gaya bahasa seperti halnya tulisan cerpen (fiksi). Bedanya kisah yang dituliskan adalah fakta (non fiksi). Feature termasuk salah satu tulisan berita (soft news) karena di dalamnya terkandung unsur-unsur jurnalistik yaitu 5 W 1H.

Setelah mendengar mengenai pengertian menulis feature, saya baru mengerti bahwa tulisan-tulisan yang saya buat mengenai catatan perjalanan (traveling) ke suatu tempat mendekati jenis tulisan feature – lebih tepatnya tulisan saya buat condong ke arah tulisan catatan harian-. Karena tulisan yang saya itu berkaitan dengan opini saya mengenai perjalanan yang saya lakukan. Hanya saja saya kurang mengeksplorasi dari sisi 5W 1H dan topik yang saya pilih masih umum belum terfokus menjelaskan topik apa yang ingin ditulis lebih detail.

Padahal menurut Pak Arif, “Banyak tulisan feature mengenai traveling yang masih kurang tepat. Karena banyak diantara mereka masih menuliskan topik yang umum yang sebenarnya seperti jadwal perjalanan yang mereka lakukan. Seharusnya dari tulisan traveling itu memuat satu topik besar yang ingin ceritakan secara rinci. Misalnya dari aspek budaya masyarakatnya, wisata kulinernya, keunikan yang dimiliki oleh destinasi wisata yang menarik orang-orang untuk berkunjung dan masih banyak yang lain.”

Dari pemaparan beliau, minimal ada tiga cara merumuskan tulisan feature :

Pertama, tentukan topik. Tujuannya agar tulisan menjadi terfokus. Topik yang baik adalah topik yang mewakili isi tulisan.

Kedua, tentukan lead (kata pembuka). Lead harus menarik. Lead ibarat pembuka jalan. Lead ini sangat berpengaruh karena dari bagian lead ini pembaca akan memutuskan apakah pembaca akan membaca bagian pembuka saja atau pembaca akan membaca tulisan hingga akhir. Sederhananya, lead merupaka gerbang awal yang dilihat oleh pembaca. Lead yang baik adalah lead yang berhasil membangkitkan rasa ingin tahu dan penasaran pembaca karena dengan itu pembaca sejak bagian awal sudah terikat membacanya hingga akhir. Lead terdiri bermacam-macam diantaranya, lead ringkasan, lead deskriptif, lead narasi, dan lainnya.

Ketiga, riset. Karena yang menjadi tulisan adalah fakta, maka riset sangat dibutuhkan. Hal itu diperlukan untuk memperkuat argumentasi tulisan kita terhadap opini yang kita sampaikan. Riset bisa diperoleh melalui wawancara, interaksi sosial dengan lingkungan yang menjadi topik tulisan, melalui buku-buku yang memuat informasi yang berkaitan. Dalam riset ini seorang penulis dilatih rasa kepekaannya melihat lingkungan dan fenomena yang terjadi. Hal-hal detail yang ditemukan dalam riset itu membuat tulisan semakin informatif.

Keempat, hindari pengulangan kata. Usahakan cari padanan kata yang sama di saat kita ingin menuliskan maksud yang sama dengan kata sebelumnya. Perbanyak buka kamus besar bahasa Indonesia atau membaca buku untuk memperkaya kosa kata.

Setelah materi selesai, kami diberi tugas individu menulis feature dalam waktu yang sudah ditentukan. Pak Arif memilih tiga tulisan (karena waktu terbatas) yang akan dibahas bersama-sama. Tulisan saya termasuk tulisan yang pertama di bedah.  Saya menulis mengenai pengalaman saya saat observasi budaya suku Baduy di provinsi Banten bulan Desember 2015. Tulisan yang di bedah ditampilkan di layar proyektor dan dapat di baca seluruh peserta. Saat tulisan saya ditampilkan ada rasa cemas dan kurang percaya diri, karena tulisan saya masih sangat sederhana dan belum tuntas sampai akhir.

Hal menarik dari bedah tulisan ini adalah secara demokratis Pak Arif memberi kesempatan kepada semua peserta untuk menyampaikan ide bagian kata mana yang harus diganti dan bagian mana yang perlu di tambahi pada tulisan yang sedang di bedah. Pada bagian ini kami berfikir bersama dan berani memberikan ide agar menjadi tulisan feature yang menarik. Semua dibahas per kata, per kalimat dan per paragraf. Dari bedah tulisan ini saya sangat merasa kosakata yang saya miliki masih sangat sedikit. terbukti saat menyebutkan padanan kata yang sejenis untuk melengkapi kalimat, saya lebih banyak diam karena benar-benar tidak tahu.

Selesai bedah tulisan, kami membaca tulisan kembali dan kami sepakat sebenarnya tidak ada yang berubah dari makna paragraf setelah bedah tulisan, hanya perbaikan kata per kata menjadi padat. Kata demi kata yang tidak berhubungan dengan tulisan di pangkas. Dan pengulangan kata sangat dihindari. Sebaik mungkin mencari padanan kata yang sejenis untuk menceritakan objek yang sama.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 07 Mei 2016

Advertisements

4 thoughts on “Creative Writing for Young (Bagian 2)

  1. Levina Mandalagiri May 7, 2016 at 5:00 pm Reply

    Tulisan yang menarik. Saya juga masih belajar bagaimana menulis feature tentang kisah perjalanan. Saya merasa masih banyak kekurangan. Terima kasih sharingnya.
    Salam kenal.

    • imron prayogi May 7, 2016 at 7:00 pm Reply

      Salam kenal Levina.
      Thanks ya sudah berkunjung di blog sya.
      Iya nih sya jg masih menulis feature yg baik.

  2. Menulis Feature | Ridha HHusna's June 14, 2016 at 9:05 pm Reply

    […] sumber: https://imron26.wordpress.com/2016/05/07/creative-writing-for-young-bagian-2/  […]

    • imron prayogi June 15, 2016 at 8:47 am Reply

      Terima kasih Husna sudah re-writing tulisan saya. tulisannya jadi lebih padat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: