Category Archives: My Story

Catatan Akhir Pekan

Perpustakaan Kampus Unindra

Saat melihat buku-buku yang tertata rapi dalam rak-rak di perpustakaan kampus, pikiran saya melayang membayangkan si penulis buku-buku itu yang sedang menulis lembar demi lembar hingga jadilah sebuah buku. Mungkin diantara penulis itu sudah ada yang meninggal dunia. Tetapi karya mereka masih ada dan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. Buku-buku yang berjejer rapi itu seakan berkata, “Aku bisa menjadi seperti ini (sebuah buku yang utuh) karena sang penulis bekerja keras siang malam menghabiskan waktunya, berfikir keras untuk menyempurnakan karyanya hingga terbitlah aku.”

Pesannya adalah untuk menghasilkan karya butuh perjuangan dan kerja keras. Tak ada instan. Tak ada yang asal jadi seketika. Mereka yang menghargai proses terbiasa untuk melangkah secara bertahap namun penuh komitmen. Secara tidak langsung mereka dilatih untuk bersabar dan menikmati proses dari usahanya itu. Bersabar untuk tidak tergesa-gesa dalam mengeluarkan energi dalam dirinya demi terciptanya sebuah karya. Karena ikhtiar yang diiringi dengan ketenangan hati akan menghasilkan karya yang terbaik.

Tulisannya ini mencoba mewakili keadaan saya yang saat ini sedang menuliskan tugas akhir yaitu skripsi. Yang bisa di share dari bagian ini adalah tentang kemauan untuk belajar lebih giat. Belajar rendah hati saat menerima kritik dari dosen pembimbing. Belajar untuk menghargai penelitian-penelitian sebelumnya dengan topik penelitian sejenis. Belajar untuk menerima keadaan kadang saat mengerjakaannya tersisip hambatan. Belajar untuk menikmati proses duduk lama di perpustakaan, membaca bebrapa jurnal yang kadang jurnal itu ditulis dengan istilah-istilah ilmiah yang membuat kening ini berkerut dan kepala pusing.  Kadang di saat sedang asyik-asyiknya menulis, keluarlah pengumuman dari speaker yang disampaikan oleh petugas perpustakaan bahwa perpustakaan tutup pukul 20.00. Mau gak mau mesti bersiap untuk pulang yang artinya mesti menunda untuk menuliskan ide yang sudah ada.

Hal yang menyenangkan dari bagian ini adalah seringkali saya bertemu dengan teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi entah saat duduk di dalam perpustakaan atau berpapasan saat hendak pulang dari perpustakaan. Kebanyakan dari mereka saling menyemangati, “Semangat ya Mas. semoga lancar skripsinya,” Sapa mereka dengan senyum mengembang. Yang diberikan dukungan ikut mendoakan balik. Kenal atau tidak kenal nama mereka, saya bisa mengerti. Saat ini saya dan mereka sedang berjuang menuntaskan tugas akhir yang mau tidak mau harus diakui tugas ini memerlukan energi yang panjang dan kami sedang memasuki fase di mana kerumitan, kelelahan, kadang jenuh juga di rasakan. Sama-sama sedang mengukir prestasi terbaik yang kelak menjadi tanda bahwa perjalanan menyelesaikan program strata satu memperoleh hasil gemilang.

Di saat deadline penulisan tugas akhir yang semakin dekat (hanya tersisa kurang dari dua bulan), sedangkan arah pembahasan belum menemukan titik terang dan cenderung stagnan berjalan di tempat, di situ saya merasa perlu bercermin dan mengevaluasi diri. Apa yang kurang? Apa yang perlu di perbaiki? Penyesalan memang bukan solusi. Tapi ini cukup mewakili keresahan yang saya alami. Mungkin juga dialami oleh teman-teman mahasiswa semester akhir yang lain. Tak pernah terbayangkan akan menjadi serumit ini. Kadang pernah saya habiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk melanjutkan menuliskan tugas akhir ini, tetapi yang terjadi adalah saya duduk di depan laptop yang menyala  lalu terdiam dan bingung mau menuliskan apa. Ini realita yang bisa dibilang pahit. Karena waktu yang ada, tetapi tak bisa menorehkan kontribusi yang berarti pada penelitian ini.

Tak ada jalan lain kecuali menyelesaikan tugas ini pelan-pelan dan membujuk diri meluangkan waktu lebih banyak untuk menuntaskannya. Inilah proses yang saya mesti terima. Bukan untuk menambah penyesalan. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri.Tetapi sebagai nutrisi yang memompa motivasi untuk bergegas bangkit lebih cepat lagi. Beranjak untuk membaca jurnal-jurnal penelitian dan buku-buku referensi analisis laporan keuangan kemudian menarik kesimpulan.

Ini sekelumit kisah perjalanan. Mereka yang saat ini menjadi dosen-dosenmu pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Rasa lelah yang mendera karena tuntutan mesti berfikir keras, membaca bertumpuk-tumpuk buku untuk memperoleh ide dan gagasan kemudian menjahitnya dalam tugas akhir mereka. Mereka berusaha melawan rasa malas yang kerap kali hadir. Mereka memaksa diri untuk meluangkan waktu lebih banyak demi tugas itu selesai tepat pada waktunya. Mereka pun pernah dikritik, di ceramahi bahkan di tegur oleh dosen pembimbing mereka di saat tugas terlambat dikumpulkan atau telat datang saat ada jadwal bimbingan. Mereka lewati setiap proses dengan hati yang lapang dan penerimaan yang tulus.

Oleh karena itu, tetaplah berbaik sangka kepada dosen pembimbingmu. Mereka hanya sedang mengarahkanmu agar penelitian kamu memperoleh hasil maksimal. Mereka sedang mengajari tentang kesungguhan. Meskipun terkadang ucapan mereka membuatmu terhentak dan menyinggung perasaanmu. Tapi niat mereka  bukan untuk bermaksud menyakitimu. Mereka hanya ingin kamu mengeluarkan potensi terbaik dalam dirimu untuk menyempurnakan  tugas akhir yang kelak akan menjadi karyamu. Iya, karyamu.. Dengarkan dan perhatikan tiap tutur kata mereka. Hargai waktu mereka saat mereka meluangkan waktu di sela-sela kelelahan mereka selepas mereka mengajar hanya untuk memberikan bimbingan untukmu. Hanya satu yang mereka ingin yaitu kamu dapat lulus dengan prestasi yang membanggakan..

 

Jakarta, 28 April 2018

 

 

 

 

Advertisements

Perjalanan ke Dalam Diri

Perjalanan waktu ini membuat saya berfikir, merenung dan memahami banyak hal. Satu diantaranya,  kedewasaan. Usia memang tidak menjamin seseorang untuk dewasa dalam sikap dan perilaku. Kedewasaan itu terbentuk oleh proses waktu yang berjalan sekian lama. Di mana dari waktu yang berjalan itu ia terus menerus belajar. Ia menyerap berbagai pengalaman –apapun bentuk pengalaman itu- untuk akhirnya memetik intisari dari setiap kejadian. Ia mengambil hikmah untuk langkah yang lebih bermakna. Ia menerima semua pengalaman di masa lalu sebagai cambuk untuk memperbaiki diri di hari-hari berikutnya.

Bagian ini lebih mudah untuk ditulis daripada dilalui. Lebih mudah diceritakan daripada dilakukan. Tetapi itu adalah salah satu bentuk untuk mengevaluasi diri. Untuk mengingatkan diri akan tujuan hidup. Untuk menerima realita kehidupan yang tak selalu benderang. Terkadang ada kabut tebal yang menghambat jalan yang sedang kita tempuh. Terkadang ada kepahitan yang meresap ke dalam hati agar kita lebih menghargai kebersamaan dengan orang-orang yang kita sayangi. Terkadang kepiluan yang hadir agar ia membuat kita berfikir bahwa  diri ini butuh bantuan orang lain untuk meruntuhkan dinding-dinding keegoisan. Hidup tak selalu tentang menang. Kadang kekalahan menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan dalam hidup. Tetapi itu bukan akhir dari semuanya. Cerita dan kisah yang baru akan hadir saat kamu bangkit dari kegagalan. Di sanalah kesabaran ditempa. Di sana sikap rendah hati tumbuh.

Bukan untuk sok bijak. Bukan juga untuk sok idealisme. Tapi manusia diberikan akal dan hati oleh Allah swt. untuk berfikir lebih matang menyusun strategi untuk meraih keberhasilan dan kebaikan. Agar ia tidak terjatuh dalam jurang kesalahan sama untuk sekian kalinya. Manusia dengan segala kelebihan yang dimiliki sejatinya memiliki potensi dan kemampuan untuk berubah memperbaiki diri.  Tidak ada alasan pasrah menerima apa adanya. Tidak dibenarkan untuk menyerah pada  kondisi dan keadaan yang kian menghimpit dari setiap penjuru arah.  Agama memberi garis yang bernama tawakal itu hanya ada setelah ikhtiar digenapi. Tawakal tidak berarti menyerah. Tawakal sejatinya dimaknai sebagai bentuk keyakinan yang kokoh bahwa pertolongan Allah akan hadir pada orang-orang yang mau berusaha. Keyakinan ini tak pernah goyah sedikit pun. Karena iman dalam hatinya tertanam kuat. Hati kecil setiap insan ingin berbuat kebaikan lebih banyak dan mengurangi kekeliruan dan kesalahan diri agar hati ini tidak terkotori oleh noda-noda yang membuat Allah murka terhadap keburukan yang kita perbuat.

Seberapa waktu yang ada dimanfaatkan untuk menanam kebaikan?

Pada setiap diri yang memiliki potensi untuk berbuat kebaikan dan berbuat keburuakan. Pada setiap diri yang memiliki kesabaran dan rasa amarah. Pada setiap diri yang memiliki perasaan sedih dan kecewa. Pada setiap diri yang memiliki rindu dan cinta.

Seberapa pun jauh perjalanan  hidup yang kamu tempuh, jika perjalanan itu tak kunjung mampu membuatmu lebih dekat dengan Allah swt. Maka kamu mesti bertanya pada dirimu sendiri, apa tujuan hidup ini? lalu apa yang kamu persiapkan untuk menyambut kehidupan setelah kematian?

Seberapa pun usiamu yang kian bertambah, namun jika saja bertambahnya usia tak kunjung mampu membuatmu untuk lebih bersabar, lebih tegar, lebih menahan diri untuk mengeluh, lebih mampu menahan amarah. Maka kamu perlu bertanya pada iman dihatimu, benarkah iman dihatimu sudah menerangi dirimu, sikapmu dan lisanmu?

Seberapa hebat karirmu saat ini, namun jika itu hanya menambah keangkuhanmu, kesombonganmu, lebih menyimpan dendam daripada memaafkan saudaramu, maka perlu kamu bertanya pada iman dihatimu. Bukankah iman sejati itu menuntut kamu untuk berbuat baik pada saudaramu, berbuat baik pada tetanggamu , dan berkata dengan perkataan yang baik?

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir  hendaknya ia memuliakan tamunya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia  berkata yang baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah)

Wahai diri… tak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan. Tak ada kata menunda untuk segera beranjak memulai lembaran baru. Karena waktu melesat cepat dan tak akan pernah terulang. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun terus berjalan. Biarlah masa lalu itu tersimpan rapi dalam ingatanmu. Rengkuhlah ia dengan penerimaan yang tulus dan ikhlas karena itu bagian dari hidupmu. Jadikan ia untuk mendewasakan imanmu. Jadikan ia penguat jiwamu untuk mengarungi hidup hari ini dan hari-hari berikutnya. Belajarlah ikhlas menerima kejadian dan pengalaman yang sempat menoreskan luka. Tidak mudah itu, tapi kamu harus mencoba pelan-pelan. Agar hari-hari berikutnya ketenangan akan hangat mendekap jiwamu. Dengarkan suara hatimu..

 

Jakarta, 12 April 2018

 

 

New Story Pada Lembaran Baru

The new story akan hadir saat anda bangkit kembali dari keterpurukan.

Itu kutipan yang membuat saya tersadar semestinya hidup ini dijalani dengan semangat dan optimis. Hidup ini sangat singkat. Tetapi yang singkat itu jika tidak di-manage akan membuat hidup ini seperti berjalan di tempat. Tidak ada kemajuan sama sekali. Perlu target. Perlu tujuan. Karena itu membuat hidup ini memiliki harapan. Dan membuat hidup ini menjadi lebih bernilai dan bermakna.

Karena dengan memiliki goals dalam hidup akan membuat kita mengukur diri dari hari ke hari sejauh mana progres usaha yang kita sudah dan akan dilakukan. Seserius apa kita berbuat dan bertindak demi mendekatkan diri pada goals tersebut. Di situ kamu akan mengerti arti perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk memperbaharui niat yang baik. Membujuk diri untuk terbuka mendengar perspektif dari orang-orang sekitar dengan sudut pandang yang beragam. Menahan diri untuk tidak cepat menyerah dari sekian hambatan yang menerjang. Membuka diri menerima saran dan nasihat yang sayang dan peduli sama diri kita. Karena ada kalanya kita butuh nasihat dari orang lain untuk menguatkan kesabaran kita dalam menempuh kehidupan ini. Nasihat itu tidak selalu berupa kalimat verbal yang diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang nasihat itu bisa datang melalui akhlak yang baik dan tindakan nyata orang lain yang menginspirasi kita untuk mengikuti kebaikan yang sudah diperbuat oleh orang tersebut. Nasihat ini bisa jadi menjadi nasihat yang begitu membekas dan sulit untuk dilupakan dalam waktu yang lama.

Karena akhlak yang baik itu adalah cermin hati yang baik. Dan hati setiap orang mudah sekali tersentuh karena kebaikan yang di dasari pada hati yang tulus.

Belajar menerima diri apa adanya dan tak perlu membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Apalagi membandingkan dari sisi materi kebendaan. Hal itu akan mengikis rasa bersyukur dalam diri kita. kita berhak bahagia dan bahagia itu mesti diperjuangkan, diusahakan. Tidak serta merta ia hinggap dan datang begitu saja. ada yang namanya proses pencarian atas kebahagian itu sendiri. Kebahagian itu letaknya di hati. Dekat sekali. tak perlu memamerkan kebahagian kita kepada orang banyak. karena yang demikian akan memaksamu untuk berpura-pura bahagia. Biarlah dirimu sendiri yang tahu arti kebahagian dan kamu sendiri yang paling tahu atas usahamu menjemput kebahagian itu sendiri.

Aku percaya hidup itu sendiri yang akan membuat diri ini dewasa. Dengan segala kerumitannya, tetap saja hidup inilah yang menginspirasi kita untuk berkembang dari waktu ke waktu. Hidup inilah yang membuat kita bercermin lebih dalam. bercermin dalam pencarian jati diri memaknai peran dan tugas kita dalam hidup ini. setiap peran dan tugas yang dipikul itu akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. So, lebih berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata karena setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula. Dan keburukan akan dibalas dengan hal yang setimpal dengan itu.

Terutama menjaga hati. Sering kali rasa resah, sedih, dan mengeluh hadir dalam relung hati yang membuat rasa syukur dalam diri ini menipis. Padahal aku percaya, setiap kebaikan akan diberi ganjaran yang setimpal. Mungkin diri ini mulai silau dari materi kebendaan sehingga keyakinan tentang konsep rezeki tak kunjung menambah rasa bersyukur. mungkin diri ini terlalu lama menatap ke atas tentang kehidupan orang-orang yang lebih memiliki harta benda yang berlimpah sehingga membuat rasa bahagia itu lenyap dan berganti dengan kegelisahan yang berkepanjangan.

Cukup menjadi diri sendiri. Diri sendiri yang mau belajar dari kekeliruan diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri yang berfokus pada rencana untuk merealisasikan goals dalam hidup ini. diri sendiri yang optimis meneruskan kehidupan hingga menuju tujuan. Diri sendir yang disibukkan untuk memperbaiki diri sendiri dan tidak memberi kesempatan untuk kepada diri ini untuk menilai keburukan lain karena ia tahu bahwa dalam dirinya masih terlalu banyak yang perlu diperbaiki.

Setiap doa yang terucap semoga menjadi pendorong agar terkabulnya harapan. Setiap doa yang pernah hadir membenak dalam hati dan belum sempat terucapkan, semoga menjadi penguat diri ini dalam menempa perjalanan hidup yang panjang ini yang di dalamnya penuh ujian dan cobaan. Setiap doa yang diiringi tangan yang menengadah seraya memohon, semoga menjadi cermin diri ini untuk berbuat baik lebih banyak lagi dan memaknai keikhlasan sepenuh hati.

 

Jakarta, 11 Januari 2018

 

 

Bahtera yang Kokoh

Welcome Desember..

Hari-hari berlalu menyimpan jejak rekaman perjalanan hidup. kedewasaan yang didambakan seakan menguap begitu saja. banyak excuse yang mendangkalkan semangat untuk memperbaiki diri. padahal kehidupan itu sendiri yang akan mendewasakan kita. waktu menjadi jembatan untuk berproses mengayuh harapan untuk menjadi kenyataan. Waktu juga yang akhirnya menjadi semua muara perasaan yang menerima hasil dari segenap ikhtiar.

Sejenak kita perlu bertanya menyelami diri sendiri sebenarnya goal of life yang dulu dibangun dengan idealisme. Realita lebih rumit dari apa yang dibayangkan. Idealisme yang ada akan mudah menyusut dan menguap menyisakan tulisan semata di buku harian atau dinding yang berada di atas meja belajar. Kita perlu memahami lebih jernih bahwa hidup ini bagaikan seorang yang sedang berlayar di lautan luas dengan gelombang yang tak menentu dan sulit di prediksi. Kadang gelombang laut itu datar dan kadang pula gelombang itu tinggi dan besar sehingga membuat bahtera itu merasakan guncangan hebat.

Butuh namanya bahtera yang kokoh dan kuat untuk berlayar di samudera yang luas. Butuh semangat yang membaja untuk tetap menjaga optimis melihat kehidupan dari berbagai sisi. butuh kawan-kawan yang siap berbagi energi, mengingatkan, menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran. Butuh hati yang lapang menerima perbedaan persepsi dari orang-orang yang sering kali mereka meminta kita memahami kita tetapi mereka lupa untuk memahami diri kita.

Jalan kehidupan ini begitu luas terbentang. Kita tidak tahu pada langkah kita terperosok terjatuh pada lubang yang samar dari penglihatan mata dan hati. Kita tidak tahu pada jejak kaki yang mana kita terkena ranjau yang sudah tertanam sehingga tubuh kita terhempas jauh dengan luka yang membasahi diri ini. Kita sulit sampai tujuan kalau sejak awal memulai perjalanan ini kita tidak memiliki tujuan. Banyak waktu terbuang tanpa terasa sehingga kita terlena bahwa kehidupan dunia ini sementara.

Semua itu menjadi pilihan dalam hidup. setiap pilihan memiliki risiko. Kita tidak pernah bisa berbohong pada hati nurani kita yang selalui merindui ketenangan jiwa. Suara hati selalu menghantarkan dorongan untuk berbuat baik. dorongan itu terkadang lemah dan terkadang kuat. kebaikan selalu membuat hati tenang. Perilaku buruk selalu membuat hati tidak tenang.

Kita tidak perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dari sisi materi dunia. karena cinta kepada dunia tidak akan pernah berujung. Semakin dikejar, semakin membuat kita selalu kurang. Begitu seterusnya. Kekayaan materi tidak menjamin membuat hati orang tenang dan bahagia. karena bahagia itu adalah milik semua orang yang mau berbuat baik dengan apa pun kebaikan yang ia mampu kerjakan.

Kesedihan, duka, cinta, bahagia, resah, gelisah. itu bagian dari warna kehidupan yang semua orang pasti merasai. Ada rasa yang sewajarnya di ekspresikan melalui gerak tubuh dan perilaku keseharian. Semua itu terlihat jelas dan orang lain juga bisa menilai akan perilaku kita. meskipun begitu biarlah demikian adanya. Ambil nasihat yang baik dari orang-orang yang peduli sama kita. lalu sampaikan ungkapan terima kasih kepada mereka dengan tulus. Abaikan judgment orang lain yang hanya membuat hati kita sempit dan melemahkan asa dalam jiwa kita. karena kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang lain.

Sekali lagi, rangkaian waktu yang berlalu menjadikan kita bijak mengolah asa dan mengolah rasa. Realita kehidupan yang menuntut kita berubah dengan cepat membuat kita mesti sigap untuk menyesuaikan diri, lalu kembali fokus pada tujuan hidup kita.

Nasihat kehidupan datang dari berbagai sumber. Bisa jadi diri kita sendiri yang memotivasi diri kita untuk semakin baik. bisa jadi melalui orang lain entah itu teman kita, orang tua kita, guru kita yang memberikan cahaya agar hati kita semakin terang dengan budi yang baik.

Menumbuhkan kebiasaan baru itu tidak pernah mudah. Karena ‘hantu-hantu’ masa lalu kita akan selalu hadir memberikan hambatan melalui cara apa pun dengan risiko yang sulit diperkirakan. Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berbuat baik. tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menjadi orang yang apa adanya dan pasrah dengan keadaan kita saat ini.

Tidak ada kata telat untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk kembali menata hati agar kembali melanjutkan kehidupan dengan jalan yang lurus. Jalan lurus itu tidak dibangun dari aspal yang tebal. Tidak juga dibangun dari beton yang berlapis-lapis. Jalan lurus itu dibangun dari ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Shalat menjadi refleksi diri atas perilaku yang sudah lakukan dalam waktu tertentu. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang itu akan membentuk karakter dalam diri seseorang.

 

 

Jakarta, 08 Desember 2017

Di tulis selepas pulang kuliah di malam selepas gerimis

 

Jangan Menyerah

Melihat lembaran masa lalu menguatkan langkahku dalam menapaki masa depan. Meskipun jalan ini semakin terjal dan penuh dengan rintangan, alasan untuk mengeluh sering kali menjadi suatu hal yang wajar. Dengan begitu aku tahu bahwa saat ini aku sedang berkembang. Karena rasa lelah, frustasi, kecewa, sedih, gelisah yang kerap hadir menjadi bagian kehidupan yang harus dijalani bukan untuk dihindari. Sering kali pilihan untuk menyerah terbuka lebar di depan mata.  Bahkan hati kecil ini beberapa kali berteriak, sudahi saja jalan ini. Buat apa di lanjutkan lagi, jika tubuhmu tak kuat lagi untuk mengikuti alur jalan ini.

Aku biarkan suara itu bergema di lubuk hatiku. Gema suaranya semakin hari semakin besar dan membuatku sempat berfikir ulang. Gema yang menyudutkan asa yang pernah hadir dalam diri ini. Gema suara itu sempat membuat kepalaku sakit dan sempat tubuhku ambruk terhempas lemas tak berdaya. Aku sadar bahwa titik jenuh kerap datang dan tak bisa dipungkiri. Saat titik itu datang, ia akan menyerap energi dan semangatmu untuk meneruskan jalan yang menjadi pilihanmu. Nyala apimu semakin redup dan semakin lama kamu biarkan rasa itu akan merasa betah dan nyaman di hatimu untuk hinggap sekian waktu yang panjang. Titik itu nyaris membuatmu menyerah. Sehingga optimismu semakin memudar dan kamu akhirnya kalah melawan gema suara itu.

Aku merasakan hal demikian. Di penghujung perjalanan kuliahku, rintangan dan hambatan itu semakin berat. Awalnya rasa jenuh itu adalah hal yang ku anggap wajar. Aku biarkan rasa jenuh itu, hingga aku lalai bahwa rasa itu tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Idealisme yang dulu aku impikan seakan hanya tulisan di atas kertas yang tidak memiliki arti apa-apa untuk hidupku. Jika idealisme terikat oleh waktu, maka aku berada pada puncak kejenuhan yang aku sendiri bingung untuk bangkit dari bagian yang mana. Apakah aku sudah nyaman dengan rasa jenuh ini? Apakah aku berpasrah membiarkan rasa jenuh ini merampas mimpi yang pernah ada? Apakah aku berdiam diri membiarkan waktu melibas semua asa, semua harapan, semua cita-cita?

Tulisan ini membuatku bertanya lebih dalam tentang diriku. Aku yang harus berupaya memahami diriku sendiri. Aku sadar jika aku membiarkan diri ini berpasrah, menyerah, tak berusaha bangkit kembali maka kelak hatiku akan menanggung rasa sedih yang mendalam. Kesedihan itu akan mampu menguras energi positif lalu membuat optimis hidupku menipis. Karena aku menyerah sebelum berjuang. Kalau sudah begitu, perasaan bersalah yang datang berduyun-duyun akan menyelimuti hari-hariku berikutnya. Keberanianku untuk menatap masa depan dengan kaki yang berdiri tegap dan dengan wajah penuh  optimis akan surut seiring rasa gagal yang membuat mental diriku down. Di saat mental dalam diriku down maka diriku akan merasakan di mana hari-hari terasa gelap gulita tanpa harapan yang tersisa.

Aku benci kegagalan. Tapi aku sadar bahwa kegagalan dibutuhkan untuk mendewasakan jiwa ini. Untuk menghadirkan pemahaman bahwa kegagalan meskipun ia pahit tetapi bukan akhir dari segalanya. Bahwa meskipun sering kali kegagalan meninggalkan kesedihan, namun percaya bahwa time is healing, biarkan waktu menjadi obat adalah ungkapan yang tepat untuk sebuah penerimaan takdir kehidupan. Hidup ini selalu adil. Bagi mereka yang mau berusaha, memperjuangkan impiannya dengan tekad yang kuat, maka hasilnya akan ia dapat sesuai kadar usaha yang telah ia lakukan. Pun sebaliknya, mereka yang menyerah, mereka yang tidak menghargai dan mengisi waktu dengan aktivitas yang memiliki nilai, akan mendapat hasil sesuai apa yang ia usahakan.

Sejatinya makna kegagalan adalah cara ampuh untuk dirimu belajar untuk rendah hati menyikapi ujian kehidupan. Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Karena ilmu yang kamu miliki bukan untuk di sombongkan dan merendahkan orang lain. Ilmu yang dimiliki seseorang menjadi pancaran yang menyinari dirinya dengan akhlak yang baik dan pemikiran yang terbuka. Semakin muda, seharusnya rasa haus akan ilmu pengetahuan seharusnya semakin bertambah besar. Membaca, menulis, mendengarkan, memahami ilmu bukanlah beban yang dijadikan tekanan. Karena aktivitas belajar sejatinya membujuk dirimu untuk menyerap ilmu  agar dirimu tersinari dan dibimbing oleh ilmu dalam meniti kehidupan ini.

 

Jakarta, 07 Nopember 2017

 

Hikmah Perjalanan

Kadang kita sering kali tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Anggap saja adanya pertengkaran dengan teman. Entah terjadi pada posisi yang tersudutkan (pihak yang disalahkan) atau berada di posisi yang melukai perasaan teman. Saya pernah berada di posisi pertama yaitu pihak yang tersudutkan. Dalam hati saya sadar this is my mistake but etika menegur di depan umum adalah hal yang tidak saya suka. Itu yang menyebabkan saya sempat memendam rasa marah dan berujung pada jarak pertemanan semakin longgar. Akhirnya beberapa bertemu dengan teman tersebut, saya lebih cuek dan diem-dieman. Namun sikap itu tak berlangsung lama. Pada titik tertentu saya termenung dan menemukan pemahaman bahwa, kadang dalam hidup kita sering kali kita tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Hanya karena kesalahan kecil orang lain, kita mudah melupakan kebaikan yang sudah dilakukan orang tersebut kepada kita. Kita mudah mengabaikan tali pertemanan yang sekian lama terajut secara singkat karena masalah ringan. Kita cepat sekali memberi penilaian buruk terhadap orang lain yang sudah menjadi teman kita sendiri.

Dari sana, saya mulai memperbaiki hubungan pertemanan lagi dengan mengawali permintaan maaf kepada teman saya itu. Saya kirim pesan via whatsapp yang berisi permintaan maaf saya karena kesalahan saya, tim ini mendapat hasil yang kurang memuaskan. Saya menghindari alasan-alasan mengapa sempat ‘menjaga jarak’ karena pertimbangan waktu yang masih belum tepat. Masing-masing masih menyimpan emosi. Dan upaya saya adalah bagaimana emosi itu tidak memicu konflik yang semakin besar. Harus ada sikap yang berusaha meneduhkan suasana dari pihak yang sedang bersitegang.

Seiring berjalannya waktu, saya juga mendapatkan pemahaman baru yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang saya alami di tempat saya bekerja dan di kampus saya kuliah. Saya memahami bahwa manusia punya sisi kelebihan dan sisi kekurangan. Oleh karena itu memiliki kemauan untuk belajar memperbaiki diri dari hari ke hari semestinya menjadi planning harian yang mendesak untuk dibuat dan di realisasikan. Hal itu bukan untuk orang lain. Namun untuk diri kita sendiri. Tujuannya adalah idealisme hidup kita selalu terjaga. Apa yang menjadi harapan, apa yang ingin di capai, perubahan apa yang ingin diraih semua itu bisa di definisikan melalui ‘azzam (tekad yang teguh) yang terus di pupuk secara konsisten.

Agar five years from now kita tidak lagi menyesali diri sendiri, kok lima tahun ini hidup saya begini-begini aja. Kok cita-cita yang tertuang dalam planning hidup jangka menengah dan jangka panjang tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Lalu akhirnya dengan mudah karena alasan usia semakin bertambah, kesibukan yang semakin padat, dan tanggung jawab hidup semakin besar, kita dengan mudah menurunkan dan merubah planning hidup yang kita sudah tetapkan sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Belakangan ini, saya menjadi lebih respect saat ada orang yang lebih tua dari saya baik dari rekan kerja atau teman kuliah memberi nasihat dan saran kebaikan kepada saya. Saya mengerti, bagaimana pun mereka hidup di dunia ini sudah lebih lama dari saya.  merekal sudah memakan ‘asam garam kehidupan’ lebih banyak ketimbang saya. Lalu niat baik mereka juga bertujuan agar saya lebih baik lagi dari sisi sikap, ibadah, dan menjaga relasi dengan sesama. Terkadang hatinya menghangat saat mendengar nasihat dari orang-orang yang baru di kenal. Entah bertemu mereka di warung makan, bertemu di instansi untuk mengurus dokumen yang sama, atau pun bertemu di seminar-seminar yang pernah saya ikuti. Nasihat itu tidak selalu dengan kalimat verbal. Banyak juga akhlak yang terhias dalam perilaku mereka yang menjadi sumber inspirasi untuk saya belajar.

Kadang saya juga iri dengan orang-orang yang memiliki strata pendidikan tinggi (akademisi) namun dengan tawadhu’ (rendah hati) dan ketulusan jiwa memberikan ilmu baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Melalui akhlak dan etika bertutur kata mereka membuat saya bercermin pada diri saya sendiri yang selama ini masih sering mengeluh, masih sering kurang ikhlas untuk belajar, masih sering terselip akhlak yang kurang baik, dan masih sering lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tanggal 08 Oktober 2017 lalu, saya  menerima sertifikat kelulusan pendidikan dan pelatihan (diklat) Pajak Terpadu Brevet A dan B dalam acara wisuda peserta diklat gelombang 2  yang di selenggarakan oleh divisi diklat Univ. Indraprasta PGRI. Dalam acara tersebut terdapat serangkaian sambutan. Sambutan yang cukup berkesan buat saya adalah sambutan dari Sekretaris Prodi. Pendidikan Ekonomi Bapak Zaenal Abidin. Beliau menyampaikan, “Anak-anakku sekalian, setelah acara ini wisuda ini selesai, temuilah orang-orang yang dengan tulus mendukung kalian selama proses pelatihan ini berlangsung. Temuilah ayah ibu kalian dan temuilah orang-orang telah memberikan ilmu para kalian selama pelatihan ini, para instruktur dan para panitia penyelenggara. Lalu sampaikan kepada mereka ungkapan terima kasih dari hati yang tulus. Sampaikan ungkapan itu sebagai ungkapan apresiasi karena melalui kerja keras, keikhlasan, dan doa mereka, kalian dapat berhasil mencapai titik kelulusan pada hari ini.”

Mendengar bagian sambutan ini, mata saya menghangat. Ucapan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita sering kali terlupakan. Terlihat seperti hal sepele. Namun memiliki makna yang mendalam. Ungkapan terima kasih kepada siapa pun orang yang telah berbuat baik dan membantu kita adalah bukti kita menghargai sekaligus bentuk apresiasi kita yang layak kita berikan kepada mereka.

 

Jakarta, 21 Oktober 2017

Mengayunkan Langkah, Menyempurnakan Ikhtiar

Tujuh bulan terakhir ini (Maret – September 2017) menghantarkan saya pada pengalaman baru. Saya berhasil mengikuti dua program pendidikan dan latihan (diklat). Di sana saya memulai perjalanan untuk mengembangkan potensi diri. Terasa sekali saat-saat di mana semangat untuk belajar itu tumbuh kuat di awal namun seiring berjalannya waktu tubuh dan jiwaku seakan mengerti tentang kelelahan dan kejenuhan. Saya sadar dua hal ini adalah hambatan dalam belajar. Saya sempat bingung mencari solusi dari dua hambatan ini. Saya juga memahami ada saat-saat di mana pikiran dan hati perlu di refresh melalui aktivitas-aktivitas baru seperti melakukan perjalanan ke tempat yang baru yang menghadirkan suasana yang baru.

Motivasi belajar saya seiring berjalannya waktu sempat meredup apabila saya tidak membujuk hati saya agar lebih keras untuk bergerak mengayunkan langkah kaki menuju kampus untuk mengikuti pelatihan hingga tuntas. Satu motivasi yang hinggap di dalam diri saya kala itu adalah saya ingin berhasil maka dari itu saya harus melebihkan usaha di atas rata-rata usaha orang lain.

Apakah nyaman dengan pilihan itu? Apakah cukup sekedar keingian kuat? Jawabannya, tidak. There are no growth ini comfort zone and no comfort in growth zone. Saya setuju dengan ungkapan itu. Tidak ada perkembangan di lingkungan yang kamu anggap nyaman dan tidak ada kenyamanan di dalam zona di saat kamu sedang berkembang. Karena melalui itu saya melawan intuisi untuk merehatkan pikiran di akhir pekan. Karena akhir pekan adalah saat yang tepat untuk merehatkan jiwa dari kesibukan yang membuat penat. Bahwa akhir pekan adalah saat di mana orang-orang mengisinya dengan jalan-jalan, belanja ke Mall, nonton bioskop dengan orang-orang tercinta, dan aktivitas lainnya yang memiliki kesamaan tujuannya yaitu me-refresh diri menghilangkan kelelahan dan kepenatan selepas bekerja saat weekdays.

Memanggil kembali motivasi awal itu yang saya lakukan. Saya memilih jalan ini dan saya menerimanya dengan satu paket risiko di dalamnya. Risiko lelahnya berfikir, risiko uang tabungan yang berkurang, dan risiko ketemu dengan orang tua dan saudara yang berkurang Oleh karena itu dengan tingkat risiko yang harus saya pikul, maka saya berusaha mengikuti pelatihan dengan kesungguhan. Dengan kata lain, saya berani memulai memilih jalan ini, maka sudah menjadi kewajiban saya berupaya konsisten mengikuti pelatihan ini hingga selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh penyelenggara pelatihan.

Ada ungkapan juga, setiap individu adalah hasil dari pengaruh individu-individu yang ada di sekitarnya. Meski begitu, sejatinya dalam diri manusia memiliki filter untuk memilih jalan sesuai kehendak yang ada di hatinya. Ia berhak menolak dan menerima pengaruh dari orang lain. Karena ia sadar bahwa ia memiliki tujuan yang spesifik. Maka ia memutuskan untuk memulai langkah menuju tujuan itu. Tak mengapa, apa yang lakukan kebaikan masih terbilang  kecil namun konsisten. Karena dengan begitu ia sedang membangun ‘batu bata’ yang kelak akan menopang keberhasilan untuk dirinya.

Saya pun salah satu dari individu itu. Saya ingin mengembangkan potensi dan meningkatkan keterampilan dengan belajar sebagai medianya. Karena menurut saya, mengisi akhir pekan untuk aktivitas belajar pun adalah langkah nyata untuk menghargai waktu dan mendekatkan diri menuju cita-cita yang diharapkan. Saya percaya orang-orang yang tak pernah lelah untuk belajar, untuk berbuat kebaikan, Allah akan memberi jalan kemudahan kepadanya untuk menjalani prosesnya hingga tuntas.

2 Pendidikan dan Pelatihan (diklat) yang saya ikuti adalah yang pertama, Pajak Terpadu brevet A & B selama kurang lebih enam bulan (Maret – Agustus 2017) setiap hari Minggu pukul 08.00 – 12.00. Yang kedua, Public Speaking yang diadakan selama 4 kali pertemuan tiap hari Minggu (September 2017) pukul 08.30 – 15.00. Kedua diklat tersebut di selenggarakan oleh Divisi Pendidikan dan Pelatihan Universitas Indraprasta PGRI.

Ada nasihat lama, “ Nak, ketahuilah waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Saat kamu menanam pohon pada 20 tahun yang lalu. Maka hari ini kamu akan menikmati hasilnya. Pohon itu tumbuh besar. Daun-daunnya rimbun membuat teduh orang-orang yang berada dibawahnya. Ranting-ranting yang sudah cukup tua dengan alami berguguran menjadi kayu bakar yang bisa digunakan untuk memasak. Pada musim tertentu pohon itu menghasilkan buah-buah yang segar yang dapat di makan olehmu dan orang-orang disekitarmu.”

“Tetapi saya baru mendengar nasihat itu hari ini. Masih adakah waktu terbaik untuk menanam kebaikan itu?” “Jawabannya, waktu terbaik kedua adalah hari ini. Nak, ingatlah tanamlah kebaikan dan kebiasaan yang baik mulai hari ini. Kembangkan potensi yang ada dalam dirimu mulai hari ini. Lakukan aktivitas yang nyata untuk mewujudkan keberhasilanmu mulai hari ini. Karena kalau kamu lalai lagi, maka waktu akan melesat sangat cepat bagai panah yang melesat kencang dari busurnya.”

Begitulah perumpamaan menanam benih-benih keberhasilan. Di dalamnya terdapat kegigihan, semangat yang kokoh, kemauan yang kuat, disiplin, kesabaran, dan doa.

Rabbi zidnii ‘ilman war zuqnii fahman (Ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku pemahaman atas ilmu tersebut)

 

Jakarta, 25 September 2017