Category Archives: My Story

Hikmah Perjalanan

Kadang kita sering kali tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Anggap saja adanya pertengkaran dengan teman. Entah terjadi pada posisi yang tersudutkan (pihak yang disalahkan) atau berada di posisi yang melukai perasaan teman. Saya pernah berada di posisi pertama yaitu pihak yang tersudutkan. Dalam hati saya sadar this is my mistake but etika menegur di depan umum adalah hal yang tidak saya suka. Itu yang menyebabkan saya sempat memendam rasa marah dan berujung pada jarak pertemanan semakin longgar. Akhirnya beberapa bertemu dengan teman tersebut, saya lebih cuek dan diem-dieman. Namun sikap itu tak berlangsung lama. Pada titik tertentu saya termenung dan menemukan pemahaman bahwa, kadang dalam hidup kita sering kali kita tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Hanya karena kesalahan kecil orang lain, kita mudah melupakan kebaikan yang sudah dilakukan orang tersebut kepada kita. Kita mudah mengabaikan tali pertemanan yang sekian lama terajut secara singkat karena masalah ringan. Kita cepat sekali memberi penilaian buruk terhadap orang lain yang sudah menjadi teman kita sendiri.

Dari sana, saya mulai memperbaiki hubungan pertemanan lagi dengan mengawali permintaan maaf kepada teman saya itu. Saya kirim pesan via whatsapp yang berisi permintaan maaf saya karena kesalahan saya, tim ini mendapat hasil yang kurang memuaskan. Saya menghindari alasan-alasan mengapa sempat ‘menjaga jarak’ karena pertimbangan waktu yang masih belum tepat. Masing-masing masih menyimpan emosi. Dan upaya saya adalah bagaimana emosi itu tidak memicu konflik yang semakin besar. Harus ada sikap yang berusaha meneduhkan suasana dari pihak yang sedang bersitegang.

Seiring berjalannya waktu, saya juga mendapatkan pemahaman baru yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang saya alami di tempat saya bekerja dan di kampus saya kuliah. Saya memahami bahwa manusia punya sisi kelebihan dan sisi kekurangan. Oleh karena itu memiliki kemauan untuk belajar memperbaiki diri dari hari ke hari semestinya menjadi planning harian yang mendesak untuk dibuat dan di realisasikan. Hal itu bukan untuk orang lain. Namun untuk diri kita sendiri. Tujuannya adalah idealisme hidup kita selalu terjaga. Apa yang menjadi harapan, apa yang ingin di capai, perubahan apa yang ingin diraih semua itu bisa di definisikan melalui ‘azzam (tekad yang teguh) yang terus di pupuk secara konsisten.

Agar five years from now kita tidak lagi menyesali diri sendiri, kok lima tahun ini hidup saya begini-begini aja. Kok cita-cita yang tertuang dalam planning hidup jangka menengah dan jangka panjang tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Lalu akhirnya dengan mudah karena alasan usia semakin bertambah, kesibukan yang semakin padat, dan tanggung jawab hidup semakin besar, kita dengan mudah menurunkan dan merubah planning hidup yang kita sudah tetapkan sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Belakangan ini, saya menjadi lebih respect saat ada orang yang lebih tua dari saya baik dari rekan kerja atau teman kuliah memberi nasihat dan saran kebaikan kepada saya. Saya mengerti, bagaimana pun mereka hidup di dunia ini sudah lebih lama dari saya.  merekal sudah memakan ‘asam garam kehidupan’ lebih banyak ketimbang saya. Lalu niat baik mereka juga bertujuan agar saya lebih baik lagi dari sisi sikap, ibadah, dan menjaga relasi dengan sesama. Terkadang hatinya menghangat saat mendengar nasihat dari orang-orang yang baru di kenal. Entah bertemu mereka di warung makan, bertemu di instansi untuk mengurus dokumen yang sama, atau pun bertemu di seminar-seminar yang pernah saya ikuti. Nasihat itu tidak selalu dengan kalimat verbal. Banyak juga akhlak yang terhias dalam perilaku mereka yang menjadi sumber inspirasi untuk saya belajar.

Kadang saya juga iri dengan orang-orang yang memiliki strata pendidikan tinggi (akademisi) namun dengan tawadhu’ (rendah hati) dan ketulusan jiwa memberikan ilmu baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Melalui akhlak dan etika bertutur kata mereka membuat saya bercermin pada diri saya sendiri yang selama ini masih sering mengeluh, masih sering kurang ikhlas untuk belajar, masih sering terselip akhlak yang kurang baik, dan masih sering lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tanggal 08 Oktober 2017 lalu, saya  menerima sertifikat kelulusan pendidikan dan pelatihan (diklat) Pajak Terpadu Brevet A dan B dalam acara wisuda peserta diklat gelombang 2  yang di selenggarakan oleh divisi diklat Univ. Indraprasta PGRI. Dalam acara tersebut terdapat serangkaian sambutan. Sambutan yang cukup berkesan buat saya adalah sambutan dari Sekretaris Prodi. Pendidikan Ekonomi Bapak Zaenal Abidin. Beliau menyampaikan, “Anak-anakku sekalian, setelah acara ini wisuda ini selesai, temuilah orang-orang yang dengan tulus mendukung kalian selama proses pelatihan ini berlangsung. Temuilah ayah ibu kalian dan temuilah orang-orang telah memberikan ilmu para kalian selama pelatihan ini, para instruktur dan para panitia penyelenggara. Lalu sampaikan kepada mereka ungkapan terima kasih dari hati yang tulus. Sampaikan ungkapan itu sebagai ungkapan apresiasi karena melalui kerja keras, keikhlasan, dan doa mereka, kalian dapat berhasil mencapai titik kelulusan pada hari ini.”

Mendengar bagian sambutan ini, mata saya menghangat. Ucapan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita sering kali terlupakan. Terlihat seperti hal sepele. Namun memiliki makna yang mendalam. Ungkapan terima kasih kepada siapa pun orang yang telah berbuat baik dan membantu kita adalah bukti kita menghargai sekaligus bentuk apresiasi kita yang layak kita berikan kepada mereka.

 

Jakarta, 21 Oktober 2017

Advertisements

Mengayunkan Langkah, Menyempurnakan Ikhtiar

Tujuh bulan terakhir ini (Maret – September 2017) menghantarkan saya pada pengalaman baru. Saya berhasil mengikuti dua program pendidikan dan latihan (diklat). Di sana saya memulai perjalanan untuk mengembangkan potensi diri. Terasa sekali saat-saat di mana semangat untuk belajar itu tumbuh kuat di awal namun seiring berjalannya waktu tubuh dan jiwaku seakan mengerti tentang kelelahan dan kejenuhan. Saya sadar dua hal ini adalah hambatan dalam belajar. Saya sempat bingung mencari solusi dari dua hambatan ini. Saya juga memahami ada saat-saat di mana pikiran dan hati perlu di refresh melalui aktivitas-aktivitas baru seperti melakukan perjalanan ke tempat yang baru yang menghadirkan suasana yang baru.

Motivasi belajar saya seiring berjalannya waktu sempat meredup apabila saya tidak membujuk hati saya agar lebih keras untuk bergerak mengayunkan langkah kaki menuju kampus untuk mengikuti pelatihan hingga tuntas. Satu motivasi yang hinggap di dalam diri saya kala itu adalah saya ingin berhasil maka dari itu saya harus melebihkan usaha di atas rata-rata usaha orang lain.

Apakah nyaman dengan pilihan itu? Apakah cukup sekedar keingian kuat? Jawabannya, tidak. There are no growth ini comfort zone and no comfort in growth zone. Saya setuju dengan ungkapan itu. Tidak ada perkembangan di lingkungan yang kamu anggap nyaman dan tidak ada kenyamanan di dalam zona di saat kamu sedang berkembang. Karena melalui itu saya melawan intuisi untuk merehatkan pikiran di akhir pekan. Karena akhir pekan adalah saat yang tepat untuk merehatkan jiwa dari kesibukan yang membuat penat. Bahwa akhir pekan adalah saat di mana orang-orang mengisinya dengan jalan-jalan, belanja ke Mall, nonton bioskop dengan orang-orang tercinta, dan aktivitas lainnya yang memiliki kesamaan tujuannya yaitu me-refresh diri menghilangkan kelelahan dan kepenatan selepas bekerja saat weekdays.

Memanggil kembali motivasi awal itu yang saya lakukan. Saya memilih jalan ini dan saya menerimanya dengan satu paket risiko di dalamnya. Risiko lelahnya berfikir, risiko uang tabungan yang berkurang, dan risiko ketemu dengan orang tua dan saudara yang berkurang Oleh karena itu dengan tingkat risiko yang harus saya pikul, maka saya berusaha mengikuti pelatihan dengan kesungguhan. Dengan kata lain, saya berani memulai memilih jalan ini, maka sudah menjadi kewajiban saya berupaya konsisten mengikuti pelatihan ini hingga selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh penyelenggara pelatihan.

Ada ungkapan juga, setiap individu adalah hasil dari pengaruh individu-individu yang ada di sekitarnya. Meski begitu, sejatinya dalam diri manusia memiliki filter untuk memilih jalan sesuai kehendak yang ada di hatinya. Ia berhak menolak dan menerima pengaruh dari orang lain. Karena ia sadar bahwa ia memiliki tujuan yang spesifik. Maka ia memutuskan untuk memulai langkah menuju tujuan itu. Tak mengapa, apa yang lakukan kebaikan masih terbilang  kecil namun konsisten. Karena dengan begitu ia sedang membangun ‘batu bata’ yang kelak akan menopang keberhasilan untuk dirinya.

Saya pun salah satu dari individu itu. Saya ingin mengembangkan potensi dan meningkatkan keterampilan dengan belajar sebagai medianya. Karena menurut saya, mengisi akhir pekan untuk aktivitas belajar pun adalah langkah nyata untuk menghargai waktu dan mendekatkan diri menuju cita-cita yang diharapkan. Saya percaya orang-orang yang tak pernah lelah untuk belajar, untuk berbuat kebaikan, Allah akan memberi jalan kemudahan kepadanya untuk menjalani prosesnya hingga tuntas.

2 Pendidikan dan Pelatihan (diklat) yang saya ikuti adalah yang pertama, Pajak Terpadu brevet A & B selama kurang lebih enam bulan (Maret – Agustus 2017) setiap hari Minggu pukul 08.00 – 12.00. Yang kedua, Public Speaking yang diadakan selama 4 kali pertemuan tiap hari Minggu (September 2017) pukul 08.30 – 15.00. Kedua diklat tersebut di selenggarakan oleh Divisi Pendidikan dan Pelatihan Universitas Indraprasta PGRI.

Ada nasihat lama, “ Nak, ketahuilah waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Saat kamu menanam pohon pada 20 tahun yang lalu. Maka hari ini kamu akan menikmati hasilnya. Pohon itu tumbuh besar. Daun-daunnya rimbun membuat teduh orang-orang yang berada dibawahnya. Ranting-ranting yang sudah cukup tua dengan alami berguguran menjadi kayu bakar yang bisa digunakan untuk memasak. Pada musim tertentu pohon itu menghasilkan buah-buah yang segar yang dapat di makan olehmu dan orang-orang disekitarmu.”

“Tetapi saya baru mendengar nasihat itu hari ini. Masih adakah waktu terbaik untuk menanam kebaikan itu?” “Jawabannya, waktu terbaik kedua adalah hari ini. Nak, ingatlah tanamlah kebaikan dan kebiasaan yang baik mulai hari ini. Kembangkan potensi yang ada dalam dirimu mulai hari ini. Lakukan aktivitas yang nyata untuk mewujudkan keberhasilanmu mulai hari ini. Karena kalau kamu lalai lagi, maka waktu akan melesat sangat cepat bagai panah yang melesat kencang dari busurnya.”

Begitulah perumpamaan menanam benih-benih keberhasilan. Di dalamnya terdapat kegigihan, semangat yang kokoh, kemauan yang kuat, disiplin, kesabaran, dan doa.

Rabbi zidnii ‘ilman war zuqnii fahman (Ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku pemahaman atas ilmu tersebut)

 

Jakarta, 25 September 2017

 

 

Hikmah Dibalik Kegagalan

Dalam hidup kita selalu menghadapi situasi dimana kita harus memilih. Banyak jalan yang terbentang luas dimana kita perlu memutuskan jalan mana yang akan dipilih. Lalu setiap pilihan hidup selalu beriringan dengan risiko. Terkadang kita perlu diingatkan kembali pada titik kita memilih sebuah jalan, sebuah keputusan, hasil yang kita dapatkan selalu berkaitan dua sisi, ada yang memuaskan dan ada yang mengecewakan. Sebagai sebuah fase yang harus dilalui, sering kali diri kita tidak siap atau lebih cenderung tidak mau mempersiapkan diri untuk menerima hasil yang membuat kita kecewa.

Dari sana kita belajar arti kebahagian.  Arti kesabaran. Kehidupan ini tidak selalu menjanjikan kesenangan. Karena kehidupan selalu menjanjikan ujian, cobaan, dan jalan yang terjal dan berliku yang harus dilalui. Melalui cobaan kehidupan itu respon dan sikap kita di uji. Apakah kita membiarkan dengan pasrah kesedihan dan kekecewaan sehingga keduanya membuat kita terlena dan merampas kebahagian kita? Ataukah kita berbuat sesuatu untuk bangkit dari keterpurukan itu untuk mengejar harapan-harapan baru?

Kita berupaya seberat apapun masalah yang ada di pundak kita, kita tetap bisa berbuat, kita bisa melanjutkan kehidupan, kita bisa meneruskan jalan ini meskipun dengan langkah tertatih-tatih namun pasti. Kita perlu mengelola emosi dengan pertimbangan akal sehat. Kita perlu berkaca pada diri sendiri apakah aktivitas yang kita kerjakan sudah terfokus denga apa yang kita rencanakan sejak awal. Kita perlu menyediakan ruang untuk meluapkan keluh dan kesah yang hinggap ke dalam diri kita. Bukan untuk sekedar mengisi waktu luang, namun untuk mencari makna atas setiap kejadian yang sudah terlewat.

Orang-orang yang mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kegagalan-kegagalan masa lalu adalah orang yang bijaksana. Ia berusaha memetik hikmah dari apa yang sudah terlewat. Ia berupaya untuk tidak jatuh pada jurang kesalahan yang sama dengan yang sebelumnya. Ia juga menyiapkan strategi untuk meminimalisir kegagalan. Ia tidak merumuskan itu sendiri. Di sisinya, ada orang-orang yang tulus mendampinginya, menguatkannya di saat ia jatuh, menasihatinya di saat mental semangat juangnya melemah. Ia tidak malu meminta nasihat dari orang-orang yang ia anggap amanah dan mampu memberi penerang di kala hatinya gundah dan diliputi kesedihan.

Dari sana ia memahami sepahit apapun pengalaman selalu menyimpan sisi kebaikan. Kebaikan itu tidak muncul dengan serta merta. Ia perlu membujuk dirinya untuk tetap tegar menjalani roda kehidupan ini. Ia butuh meluapkan emosi yang mengendap hingga menyesakkan hatinya melalui raut wajah yang sedih, melalui gerak tubuh yang menjelaskan kondisi hatinya ia sedang tidak stabil, melalui tangisan, melalu doa-doa panjang yang ia ungkapkan penuh kejujuran. Ada luka yang ia ingin sembuhkan dari sebuah pengalaman pahit itu. Ada harapan baru yang ia ingin rajut kembali. Ada perjalanan baru yang harus di tempuh hingga tuntas.

Kesuksesan itu bukan tentang siapa yang lebih dahulu memulai perjalanan. Namun kesuksesan itu adalah tentang siapa yang meniti langkah secara konsisten hingga ia tiba sampai tujuan. Ia menjadikan kegagalan di masa lampau menjadi ‘batu bata’ yang membuat jiwanya semakin kokoh. Ia merasa bahagia bahwa pada titik optimis terendah sekalipun, ia bisa bangkit dan melaluinya dengan hati yang lapang.

Meresapi setiap lekuk kehidupan sejatinya membuat jiwamu semakin kaya akan pengalaman. Dari pengalaman itu kamu memperoleh persepsi yang baru, wisdom, rasa sabar yang semakin mendewasa, dan rasa ikhlas yang semakin merekah. Kamu menjadi pribadi yang lebih aware dan mencintai dirimu sendiri, kamu menjadi pribadi yang memiliki empati kepada orang lain yang sedang memiliki masalah hidup yang sama pernah di alami, dan hubungan dengan orang-orang terdekat kamu juga semakin erat. Kamu juga semakin percaya bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus tidak menginginkan kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Mereka akan berusaha menemanimu melewati masa-masa itu, memberikan energi kepadamu agar kamu tidak terus-menerus dalam kondisi terpuruk, agar terukir kembali senyuman menghiasi bibirmu, agar kamu tidak merasa menanggung beban masalah itu sendirian.

 

Jakarta, 20 Juli 2017

Membangun Komitmen Diri

Dua bulan yang lalu usia saya beranjak dua puluh lima tahun. Saya tidak mengadakan perayaan akan hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang spesial. Hari itu saya hanya berdoa penuh syukur kepada Allah atas nikmat usia yang telah di amanahkan kepada saya. Saya masih diberi amanah untuk menapaki kehidupan yang berarti amanah itu harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Saya juga memohon doa kepada-Nya agar diberikan kekuatan dan keteguhan iman untuk meniti jalan yang di ridhoi-Nya.

Beberapa kawan saya memberi ucapan selamat ulang tahun dan mendoakan hal yang baik-baik kepada saya. Saya berterima kasih dan meng-aaminkan setiap doa yang disampaikan itu. Ada juga yang memberikan kado sebagai hadiah ulang tahun. Diantara mereka ada juga kawan saya yang mendoakan, semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang solehah. Mendengar kalimat itu, saya tersenyum penuh harapan. Setiap doa adalah kebaikan. Kebaikan kepada orang yang berdoa dan kebaikan kepada orang yang di doakan.

Saya merenung mengingat kembali rekaman perjalanan yang sudah saya lalui hingga beranjak di usia ini. Melihat sisi kedewasaan yang mulai tumbuh. Kedewasaan yang diraih melalui proses panjang hingga menyatu menjadi kepribadian. Hingga sampai pada titik saya bertanya ke dalam diri saya sendiri, apa yang membuat saya bahagia? Bagaimana saya memperjuangkan kebahagiaan itu? Sejauh mana saya berusaha mewujudkan kebahagiaan itu selama ini? Apakah waktu yang sekian lama dilalui membuat saya terlena dalam kebahagiaan dari sudut pandang materi kebendaan semata? Bukankah sifat dunia adalah kefanaan, kesemuan, dan kesementaraan?

25 Mei 2017, saya menghadiri seminar Tarhib Ramadhan di Aula Gema Insani Kalibata, Jakarta Selatan. Seminar ini di selenggarakan oleh Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations . Ada dua pembicara dalam seminar ini, yaitu Ust. Fahmi Salim, M.A. dan Ust. Dr. Syamsuddin Arif. Bebarapa isi materi saya rangkum menjadi catatan saya dan say tuliskan kembali dengan niat setiap nasihat kebaikan menjadi pendorong untuk giat meningkatkan amal soleh. Karena pada akhirnya yang akan dibawa oleh manusia setelah ia meninggal dunia adalah iman dan amal soleh.

Ust. Fahmi Salim M.A. menyampaikan, “Dalam tafsir Al-Manar karya Syeikh Rasyid Ridha dikutip dari gurunya, Syeikh Muhammad Abduh : “Di pilihnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan adalah sebagai bentuk syukur atas turunya Al-Qur’an. Hal ini adalah bagian dari intisari surat Al-Baqarah ayat 185. Penjelasan Syeikh Muhammad Abduh yang termuat dalam tafsir Al-Manar mengenai perintah berpuasa adalah bentuk rasa syukur atas turunnya Al-Qur’an sangat logis. Karena maqashid (tujuan) dari perintah berpuasa sangat erat dengan maqashid  (tujuan) diturunkannya Al-Qur’an yaitu pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Ketakwaan sebagai sebuah sistem hanya bisa dijelaskan  dalam  Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 2). Kedua, memperbaharui komitmen terhadap Al-Qur’an. Pancaran kesucian jiwa merupakan hasil dari  ibadah puasa dan komitmen diri terhadap  nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hanya orang-orang yang lahir dari proses penyucian diri dengan berpuasa akan menjadi pribadi yang berhasil, pribadi yang mampu mengemban risalah Al-Qur’an.”

“Kesimpulan dari bagian ini adalah puasa adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah dan Al-Qur’an adalah obat segala penyakit. Apa tanda jiwa yang sehat? Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bahagia. Puasa membahagiakan jiwa. Dengan berpuasa Allah menjadikan fisik kita lemah, syahwat kita di ikat, tenggorokan kita dibuat haus. Saat berpuasa, fisik kita  memang tidak diberi makan namun hakikatnya jiwa yang diberi makan. Semua proses itu dilalui dalam rangka membahagiakan jiwa dan membersihkan hati. Orang-orang yang berpuasa jiwanya akan sehat dari  penyakit-penyakit hati. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 82 : “Dan Kami turunkan Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ust. Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan materi mengenai kesolehan pribadi. Beliau menyampaikan, “Kesolehan pribadi adalah tanggung jawab setiap individu. Kamu sendiri yang harus melalui satu anak tangga ke anak tangga yang lainnya, dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Kamu sendiri yang harus bergerak mengusahakan, menyempurnakan satu level kebaikan menuju level selanjutnya dimana setiap level memiliki tantangan dan hambatan. Orang lain hanya bisa menasihati, menunjuki jalan yang benar, memberikan teladan yang baik, memotivasi untuk untuk meningkatkan amal soleh, namun kamu sendiri yang harus membujuk diri, menggerakkan diri penuh kesadaran,  keikhlasan, dan kesabaran untuk menyempurnakan setiap kebaikan.

“Sabar itu seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’kub ‘Alaihis salam dalam menanti perjumpaan dengan  anaknya , Nabi Yusuf ‘Alaihis salam setelah sekian tahun berpisah. Kita dengam mudah membacanya dalam Al-Qur’an surat Yusuf –dalam surat tersebut kisah Yusuf dikisahkan dengan sangat lengkap dari awal hingga akhir surat. Tapi kita tidak merasakan bagaimana perasaan Nabi Ya’kub melewati kesedihan di hari-hari yang dilaluinya karena kehilangan anak yang sangat dicintainya. ”

Untaian nasihat dari beliau membuat saya sadar bahwa saya yang bertanggung jawab pada diri sendiri. Saya sendiri yang harus berdisiplin dalam beragama. Karena agama adalah ranah keyakinan yang ada di dalam hati, bukan ranah pemikiran. Keyakinan yang terpatri kokoh dalam hati memancarkan ketenangan hati dan keteduhan akhlak. Tanpa adanya kesadaran yang ikhlas dari hati dan semangat memperbaiki diri, perubahan diri akan sulit terwujud. Karena kesolehan pribadi bersumber dari keyakinan yang mendasar pada nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang kemudian keyakinan itu terwujud melalui amal soleh dan akhlak yang baik sebagai tanggung jawab dan ketaatan sebagai seorang muslim.

Menghadiri majelis ilmu seperti ini membuat saya mempunyai persepsi yang baru mengenai kesolehan dan penyucian diri. Saya menjadikan majelis ilmu menjadi sarana untuk menambah ilmu dan pemahaman, menjadi bahan untuk mengevaluasi diri –melihat lebih jernih apa-apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, menjadi nutrisi yang menambah keimanan. karena sejatinya, tubuh manusia harus diberi asupan yang seimbang, yaitu asupan fisik dan asupan ruhani. Keduanya adalah kebutuhan setiap manusia yang harus dipenuhi agar hidupnya seimbang dan bermakna. Dan hikmah terpenting dari menghadiri majelis ilmu adalah memperbaharui semangat untuk menata diri lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 18 Juli 2017

 

Part of Life

“Hidup itu perlu direnungkan, tidak cukup hanya dilakoni.”

(Socrates)

 

Menjadi orang yang bahagia adalah idaman setiap insan. Bahagia adalah kata sifat yang ringan diucapkan namun dalam mewujudkannya butuh diperjuangkan. Setiap kita terlahir memiliki daya dan kemampuan untuk mengusahakan kebahagian itu. Kemampuan merasakan kasih sayang dari orang-orang yang kita cintai, kemampuan berempati dengan kehidupan orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kemampuan menentukan sikap dan memberi respon dari masalah yang sedang di hadapi oleh diri sendiri. Kemampuan itu bersifat dinamis, berkembang seiring dengan waktu yang terus bergerak sesuai pengalaman hidup yang sudah dilalui.

Hakikat kehidupan adalah persinggahan sementara untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sudah ditentukan untuk menuju negeri akhirat. Kehidupan selalu menjanjikan ujian. Karena ujian pasti di alami setiap manusia, namun kondisi mental kita terkadang tak stabil dan kondisi hati tak menentu. Oleh karena itu kita membutuhkan energi-energi positif dari orang-orang terdekat yang menyayangi kita. Mereka itu bisa jadi adalah orang tua kita, kakak atau adik kita, teman kita, rekan kerja kita, atau guru kita. Maka benar ungkapan, manusia menjadi utuh saat ia berinteraksi dengan sesamanya. Karena ada sisi ruang dalam diri manusia dimana ruang itu  tidak cukup  menyimpan semua perasaan, semua masalah, semua harapan itu dengan sendirian. Ia butuh menyediakan ruang lain untuk berbagi dengan sesamanya untuk sekedar berbagi cerita, berbagi keluh kesah, dan berbagi semangat sebagai sarana berekspresi. Dan berekspresi adalah bagian kebutuhan manusia.

Tak perlu malu menceritakan masalah yang kamu hadapi kepada orang yang kamu percaya dia bisa amanah menyimpan kisah kehidupanmu. Kecewa adalah proses, menangis adalah proses, bersedih adalah proses.  Rasa kecewa, sedih, menetaskan air mata karena luka yang begitu mendalam bukan sesuatu yang menunjukkan kelemahan dirimu.  Dengan bersedih, kecewa, menangis, berharap, kamu telah mengekspresikan segenap perasaan yang hinggap di hatimu dan sekaligus menunjukkan sisi-sisi manusiawi yang ada dalam dirimu. Dirimu lebih tahu apa yang ada di hatimu dan perasaan apa yang sedang menyentuh hatimu. Dengarkan suara hatimu, lalu ajak ia berdialog untuk menarik kesimpulan yang terbaik yang kelak akan kamu jadikan pijakan dalam menentukan langkah kamu selanjutnya.

Rasa kecewa dan sedih, sikapi sewajarnya. Tak perlu berlama-lama, apalagi membuat optimis hidup luntur. Keduanya jangan dijadikan alasan untuk segera bangkit dan berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Segera beranjak, menjemput harapan baru dengan hati yang baru. Biarkan waktu menjadi saksi atas setiap ikhtiar yang kamu kerjakan. Orang-orang yang menyayangimu dengan tulus menginginkan dirimu yang selalu optimis, selalu riang, selalu semangat, dan selalu menjadi dirimu sendiri.

Terkadang kamu perlu meluangkan waktumu untuk merenung dan berdiam diri. Berdiam diri dalam arti melihat seberapa jauh tapak langkahmu selama ini telah kamu tempuh, berapa banyak pencapaian dalam kehidupan yang sudah kamu raih dan berapa banyak rencana yang belum terealisasi, dan berapa banyak perbaikan yang akan kamu lakukan untuk menyempurnakan langkahmu sebelumnya. Bagaikan seorang musafir yang sedang duduk di bawah pohon rindang melepas lelah setelah melewati perjalanan yang panjang di bawah matahari yang terik. Ia menjadikan istirahat menjadi bagian dalam perjalannya. Istirahat itu ia jadikan untuk mengumpulkan energi-energi baru untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Pun demikian, manusia pun seharusnya menjadikan proses bermuhasabah (merenung sambil berintrospeksi diri) menjadi part of life (bagian dalam hidup) untuk mengukur sudah sesuaikah jalan yang di lalui menuju tujuan awal? Bekal apa yang butuh dipersiapkan untuk perjalanan selanjutnya? Apakah ia mampu memanfaatkan bekal yang dibawa secara efektif hingga mencukupi hingga akhir perjalanan? Dengan perjalanan sejauh ini, apakah rasa sabar dan syukur dalam dirimu semakin meredup ataukah semakin menyala?

Untuk meraih kebahagian, kamu yang harus berproses dari satu tahapan kehidupan ke tahapan selanjutnya. Orang lain di sekitarmu hanya mampu menasihatimu, mengingatimu agar kamu berjalan sesuai rambu-rambu yang berlaku, mengajakmu berlomba dalam kebaikan, dan memberitahumu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Namun kamu sendiri yang harus berproses melewati satu anak tangga ke tangga berikutnya, dari satu level ke level selanjutnya. Dari satu titik kedewasaaan menuju ke titik kedewasaan selanjutnya. Proses itu dijalani sepenuh hati diiringi dengan rasa sabar yang kokoh.

Jakarta, 27 Mei 2017

2 Ramadhan 1438 H

Menemukan Makna dari Rangkaian Waktu

Hampir tiga tahun saya belajar di kampus tercinta, Universitas Indraprasta PGRI. Artinya sudah separuh lebih perjalanan menuju gerbang akhir program sarjana. Dalam hati saya berharap satu tahun lagi program ini dapat di selesaikan. Perjalanan menuntut ilmu di kampus ini menjadi bagian dalam hidup saya yang tak terpisahkan. Saya tumbuh dan berkembang selama proses belajar di kampus ini. banyak sisi yang membuat diri saya berkembang. Tidak hanya dalam sisi akademik saja, namun juga dari sisi pengalaman mengenyam perkuliahan di kelas reguler sore yang menguras energi dan emosi. Karena saya kuliah selepas saya bekerja seharian dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Pengalaman tidak dapat di bayar oleh materi. Karena ia melibatkan diri untuk mengikuti proses tahap demi tahap, ia menangkap suasana demi suasana dan mental kita memberikan tanggapan. Pembelajaran penting buat saya adalah rasa lelah bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesibukan juga bukan alasan untuk berhenti belajar. Karena sebenarnya belajar itu adalah proses yang tidak mengenal usia. Setiap orang memiliki hak untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya tanpa dibatasi oleh usia. Ruang belajar selalu tersedia di manapun baik di lingkungan pendididikan formal dan non formal.

Berawal dari motivasi ingin meng-upgrade diri itu, saya memutuskan melanjutkan kuliah pada tahun 2014 di kampus ini. Tujuan utama saya adalah menuntut ilmu dan membangun jaringan dengan teman-teman kampus yang baru di kenal. Rasa bangga menjadi bagian dari kampus ini adalah salah satunya. rasa bangga mengemban status mahsiswa. Saya bangga menjadi bagian dalam kampus ini karena di sini saya dapat merasakan jenjang pendidikan formal di atas bangku SMA. Kebanggaan itu secara tidak langsung membangun konstruksi berfikir, saya harus berubah. Maksudnya, saya harus lebih baik dari sisi pola pikir dan perilaku dari anak-anak yang hanya menyelesaikan pendidikan formal sebatas SMA. Namun di sisi lain, saya juga memahami kuliah bukan sekedar soal status sosial melainkan lebih kepada komitmen diri dan tanggung jawab moral untuk menuntaskan kontrak belajar yang di emban sebagai mahasiswa yang pada akhirnya pendidikan yang sudah di dapatkan dapat mengubah perilaku dan pola pikir menjadi insan yang paripurna dan memiliki kepedulian bagi sesamanya.

Masih teringat hari-hari pertama kuliah, saya berusaha mengelola waktu saya dari kebiasaan yang sebelumnya pulang kerja langsung pulang ke rumah. Sekarang setelah mulai aktif kuliah, saya menyesuaikan dan membagi waktu saya untuk belajar di kampus. Minggu-minggu pertama perkuliahan menjadi pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Ternyata tidak mudah membangun kebiasaan baru. Betapa beratnya membangun kebiasaan baru yang menuntut usaha yang lebih banyak yang menuntu stamina tubuh yang fit. Terburu-buru datang ke kampus karena takut datang telah apalagi di hari pertama perkuliahan. Keringat yang mengalir deras karena kondisi ruang kelas yang kurang kipas angin. Perut yang memberi isyarat untuk segera di isi namun jadi tertunda. Belum lagi kondisi tubuh yang sudah sangat lelah di paksa untuk fokus dengan aktivitas pembelajaran di kelas. Gugup dan grogi berkenalan dengan teman-teman baru dalam satu kelas. deg-degan dan keringat dingin, suara terbata-bata dan kaki gemetar saat mendapat tugas presentasi di depan kelas. bahkan pernah di semester awal pada saat saya mendapat tugas presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada sesi tanya jawab, saya mendapat giliran menjawab. Nyatanya saya terdiam cukup lama, ada yang ingin saya kemukakan ide dalam pikiran saya, namun tak bisa saya ungkapkan dengan lisan. Ini mungkin pengaruh demam panggung alias nervous. Akhirnya saya dibantu teman satu kelompok untuk menjawab pertanyaan itu. itu menjadi pengalaman yang saat di ingat-ingat kembali saya jadi malu dan menertawakan diri sendiri. Tapi, sudahlah itu kan namanya proses.

Mengikuti kuliah sore selepas pulang kerja bukanlah hal yang ringan. Hambatan dan tantangan selalu ada. Meskipun dengan hambatan dan tantangan itu bukan berarti menjadi alasan saya untuk menyerah. betul, saya mengeluh lelah. secara alami kondisi tubuh saya mengekspresikan itu. Saya juga menganggap wajar mengeluh karena saya merasa ini adalah perjalanan awal dan secara fisik tubuh saya memberi respon itu untuk dalam proses menyesuaikan diri dengan aktivitas baru  yang rutin saya lakukan. Namun itu hanya kelelahan secara fisik. Yang terpenting buat saya saat itu adalah menjaga motivasi belajar agar terus stabil sampai empat tahun ke depan. Karena motivasi diri itu menurut saya sangat penting dan mendasar. Karena motivasi itu bisa diibaratkan bahan bakar yang akan membuat mesin mobil itu berjalan. Saya berusaha motivasi saya untuk menuntut ilmu agar tetap menyala dan tidak luntur oleh rasa lelah atau pun hambatan-hambatan lain. Motivasi diri itulah yang menggerakkan saya untuk terus berpacu, terus semangat, dan memberikan [emahaman baru bahwa untuk maju dan berkembang perlu pengorbanan, ada risiko dann konsekuensinya.

Perlahan saya menemukan makna keluarga di kampus ini. Saya ingat hari saya mendaftar di kampus ini dan hati saya berkata, saya ingin mengembangkan diri saya dan saya ingin merubah diri semakin lebih baik. faktanya, kampus ini memfasilitasi banyak hal dan saya merasa potensi dan pengetahuan, nilai-nilai kepribadian saya berkembang. Saya belajar bersama teman-teman di sini, saya berinteraksi dengan mereka, di beberapa kesempatan saya bertanya dengan dosen-dosennya, di sisi lain saya berinteraksi dengan pegawai perpustakaan di saat berkunjung ke perpustakaan, dan saya juga ikut pelatihan organisasi dan kepemimpinan yang diadakan oleh ormawa. Interaksi-interaksi yang rutin itu dengan secara otomatis menumbuhkan rasa akrab dan kedekatan. Kedekatan itulah yang membuat saya belajar menghargai orang lain, peduli dengan sesama, dan memiliki komitmen untuk menjalin hubungan pertemanan berasaskan prinsip tolong menolong dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Setiap kita tumbuh dan berkembang karena hasil pengaruh yang ada di sekitar kita. lingkungan memiliki pengaruh terhadap kepribadian tiap-tiap individu. Pun demikian, saya juga mengalami hal itu. Setiap aktivitas yang dilakukan bersama-sama memilki warna yang beragam dan ide-ide kreatif akan lebih berkembang di komunitas yang heterogen. Teman-teman satu kelas adalah komunitas belajar yang memiliki komitmen belajar yang sama. Kadang saya tiba pada titik jenuh, semangat belajar menurun, dan rasa malas menggeregoti motivasi belajar saya. Namun karena saya berada di dalam komunitas, hal seperti itu akan bias dengan sendirinya. Karena tadi,  komunitas itu dapat membangkitkan semangat belajar. Karena komunitas ruang gerak tiap anggotanya menjadi sama. semua anggota berusaha menyesuaikan langkah, menyesuaikan visi, menyesuaikan persepsi untuk bersama saling menyemangati untuk tujuan yang sama yaitu sukses studi.

Apalagi di saat saya dan teman-teman duduk bersamadalam satu forum entah itu forum yang bersifat formal di kelas maupun forum tidak formal di luar kampus. Saya mengamati, saya mendengarkan opini teman tentang perkuliahan dan respon mereka melawan rasa malas, rasa jenuh, lelah, dan semangat menurun. Sebagian mereka mengungkapkan opini dengan bercerita. Seringkali kami menghibur diri dengan berbagi pengalaman yang lucu atau mengarang cerita lucu yang membuat kami tertawa lepas. Momen seperti ini membuat hubungan pertemanan di antara kami semakin erat. Sebagian lagi dari mereka lebih memilih menjalani aktivitas kuliah dengan konsisten. Mereka memberikan teladan bahwa proses perkuliahan ini cukup di jalani dengan sungguh-sungguh. Ruang untuk mengeluh, mengaduh, dan letupan emosi negatif yang lain mereka simpan dalam sudut ruang yang disebut ruang privasi.

Saya belajar menarik kesimpulan dari proses perkuliahan yang sudah dan sedang saya jalani saat ini. Saya belajar menarik hikmah perjalanan yang sudah terlewat.  Pada titik tertentu, saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri, sebenarnya apa tujuan saya kuliah? Sudahkah tujuan itu sudah tercapai atau paling tidak sudah mendekati? Atau sebaliknya semakin jauh dari tujuan awal saya memutuskan untuk kuliah? lalu apakah sejauh ini saya sudah memberikan effort yang maksimal agar tujuan itu terwujud sesuai harapan? Apakah waktu saya di kampus ini sudah saya kompensasikan dengan menyerap informasi baru, pemahaman baru, pengetahuan baru? Apakah selama saya berada di kampus ini saya sudah kompensisasikan waktu saya untu berfikir (think) lebih banyak, membaca (read) buku lebih banyak, mempelajari  (learn) ilmu pengeahuan lebih banyak?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini datang sebagai refleksi diri mengukur dari perjalanan yang sudah di jalani sejauh ini benar-benar mencerminkan kondisi diri saat ini. pertanyaan mengenai sejauh mana saya menghargai waktu, memanfaatkan waktu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Karena waktu itu terbatas. Usia juga terbatas. Namun karena waktu terbatas bukan justru menjadi excuse cepat merasa puas dengan pencapaian yang sudah di raih saat ini lalu berhenti belajar dan berhenti meng-upgrade diri. Menuliskan cerita ini adalah bagian dari cara saya bercermin dan mengevaluasi diri. Karena sejatinya evaluasi adalah menjadi bagian dalam hidup yang tak terpisahkan selama kita ingin melangkah lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 20 Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Jejak Kerinduan

rumah-gemilang-indonesia

08 Januari 2017

Hari itu, saya mengunjungi adik saya di Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Depok. Adik saya diterima untuk belajar program Apikasi Perkantoran pada Angkatan 16 RGI. Selama mengikuti pendidikan (enam bulan) ia akan tinggal asrama. Tujuan saya datang untuk mengantarkan pakaian dan lauk kering untuk adik saya. Tiba di sana saat hari sudah sore. Hari itu cuaca cukup cerah dan sedikit berawan.

Ini kali pertama saya datang kembali ke RGI selama  tiga tahun terakhir. Saat menginjakkan kaki di tempat ini hati saya menghangat. Ingatan semasa saya tinggal dan belajar di tempat ini seketika memenuhi kepala saya. Saya menyadari saya pernah hidup dan menjadi bagian keluarga besar di rumah ini Angkatan 5 tahun 2011. Enam bulan tinggal di asrama ini membuat kenangan bersama teman-teman dan instruktur program begitu membekas di hati saya. Rumah ini bukan rumah biasa. Saya menempatkan rumah ini menjadi rumah saya sendiri. Rumah tempat saya merajut mimpi-mimpi masa depan, rumah tempat saya mendapat inspirasi untuk semangat dan tekun menulis, rumah tempat saya mengasah kreativitas, dan rumah untuk mengembangkan diri pada bidang komputer. Sesuai namanya Rumah Gemilang Indonesia, rumah ini menjadi pintu para murid-muridnya untuk menjemput masa depan yang gemilang.

Saat berkunjung kali ini saya bertemu dua teman satu angkatan dengan saya yang sudah bekerja menjadi asisten instruktur program dan salah satu tim Manajemen RGI. Ruslan dan Mas Uki.  Bersama mereka saya meluapkan kerinduan melalui cerita mengenang masa-masa saat kami belajar di sini. Kami saling bertanya mengenai aktivitas dan kesibukan saat ini, termasuk target dalam jangka pendek di tahun ini. Kami bercerita lepas sekali yang membuat kami tertawa dan tersenyum lebar.

Saya menyadari betapa pun lamanya saya pergi meninggalkan rumah ini, rumah ini selalu memiliki kenangan sendiri buat saya dan rumah ini  akan selalu menerima kehadiran para alumninya. Rumah ini mengajarkan saya untuk terus memelihara rasa ingin tahu yang lebih tinggi, untuk terus semangat mewujudkan mimpi, untuk terus berupaya dimana pun kamu berada pastikan kamu dapat memberikan kebaikan dengan lingkungan sekitar. “Kalian harus menjadi lilin yang cahaya selalu menyala menerangi orang-orang di sekitarmu,” pesan dari Bapak Sigit Iko Sugondo, Direktur Rumah Gemilang Indonesia. Kini, semangat itu masih terus menyala di hati saya.

“Mas Uki, saya sebenarnya kangen banget mau silaturahmi ke sini dari jauh-jauh hari. Tapi gimana ya saya aja yang belum menyempatkan datang ke sini.”

“Datang aja Mas Imron ke sini. Mas Imron nanti  bisa memberikan motivasi untuk adik-adik di sini. Biar saya yang atur forumnya. Saya akan bilang kepada mereka, ini lho ada kakak kelas kalian yang sudah bekerja dan kuliah dengan biaya sendiri yang akan berbagi cerita dan pengalamannya dari mulai dia belajar di RGI hingga bekerja. Sudah bekerja dan Kuliah dengan biaya sendiri kan suatu kebanggaan.”

Saya tersenyum mendengar tawaran itu dan saya menerima tawaran itu. Ada rasa bangga diberi tawaran ini. Mas Uki adalah teman satu angkatan dengan saya namun berbeda program dengan saya. Saya di program teknik komputer dan jaringan dan Mas Uki di program Fotografi dan Videografi. Saat ini dia menjadi asisten instruktur program fotografi dan videografi di RGI. RGI membuka program beasiswa untuk enam program yaitu teknik komputer dan jaringan,  aplikasi perkantoran, menjahit dan tata busana, design grafis, fotografi dan videografi, dan otomotif. Info selengkapnya bisa di lihat di rumahgemilang.com.

Setelah diskusi dengan Mas Uki, terngiang di telinga saya sebuah kalimat, sudah bekerja dan bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri itu adalah suatu kebanggaan. Saya mencoba memahami kalimat itu pelan-pelan hingga batin saya berkata , “Kamu perlu melihat orang-orang yang hidupnya lebih prihatin darimu, hingga kamu dapat lebih bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan untukmu.” Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari RGI ini. Karena dengan rasa bangga itu motivasi belajar saya selama menuntu ilmu di sini dapat stabil dari awal hingga saya mengikuti proses wisuda.

Selama kamu meninggalkan jejak dan kesan baik dimanapun kamu berada, kamu selalu bisa kembali menyapa tempat-tempat itu dengan hati yang dipenuhi rasa rindu. Satu jejak kebaikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain.

Masa depanmu bergantung apa yang kamu lakukan hari ini. Keberhasilan adalah milik orang-orang yang bersungguh-sunggguh.

Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya membuat ia semakin banyak menyerap pelajaran dari kehidupan.

 

 

Jakarta, 18 Januari 2017