Category Archives: My Story

Hikmah Dibalik Kegagalan

Dalam hidup kita selalu menghadapi situasi dimana kita harus memilih. Banyak jalan yang terbentang luas dimana kita perlu memutuskan jalan mana yang akan dipilih. Lalu setiap pilihan hidup selalu beriringan dengan risiko. Terkadang kita perlu diingatkan kembali pada titik kita memilih sebuah jalan, sebuah keputusan, hasil yang kita dapatkan selalu berkaitan dua sisi, ada yang memuaskan dan ada yang mengecewakan. Sebagai sebuah fase yang harus dilalui, sering kali diri kita tidak siap atau lebih cenderung tidak mau mempersiapkan diri untuk menerima hasil yang membuat kita kecewa.

Dari sana kita belajar arti kebahagian.  Arti kesabaran. Kehidupan ini tidak selalu menjanjikan kesenangan. Karena kehidupan selalu menjanjikan ujian, cobaan, dan jalan yang terjal dan berliku yang harus dilalui. Melalui cobaan kehidupan itu respon dan sikap kita di uji. Apakah kita membiarkan dengan pasrah kesedihan dan kekecewaan sehingga keduanya membuat kita terlena dan merampas kebahagian kita? Ataukah kita berbuat sesuatu untuk bangkit dari keterpurukan itu untuk mengejar harapan-harapan baru?

Kita berupaya seberat apapun masalah yang ada di pundak kita, kita tetap bisa berbuat, kita bisa melanjutkan kehidupan, kita bisa meneruskan jalan ini meskipun dengan langkah tertatih-tatih namun pasti. Kita perlu mengelola emosi dengan pertimbangan akal sehat. Kita perlu berkaca pada diri sendiri apakah aktivitas yang kita kerjakan sudah terfokus denga apa yang kita rencanakan sejak awal. Kita perlu menyediakan ruang untuk meluapkan keluh dan kesah yang hinggap ke dalam diri kita. Bukan untuk sekedar mengisi waktu luang, namun untuk mencari makna atas setiap kejadian yang sudah terlewat.

Orang-orang yang mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kegagalan-kegagalan masa lalu adalah orang yang bijaksana. Ia berusaha memetik hikmah dari apa yang sudah terlewat. Ia berupaya untuk tidak jatuh pada jurang kesalahan yang sama dengan yang sebelumnya. Ia juga menyiapkan strategi untuk meminimalisir kegagalan. Ia tidak merumuskan itu sendiri. Di sisinya, ada orang-orang yang tulus mendampinginya, menguatkannya di saat ia jatuh, menasihatinya di saat mental semangat juangnya melemah. Ia tidak malu meminta nasihat dari orang-orang yang ia anggap amanah dan mampu memberi penerang di kala hatinya gundah dan diliputi kesedihan.

Dari sana ia memahami sepahit apapun pengalaman selalu menyimpan sisi kebaikan. Kebaikan itu tidak muncul dengan serta merta. Ia perlu membujuk dirinya untuk tetap tegar menjalani roda kehidupan ini. Ia butuh meluapkan emosi yang mengendap hingga menyesakkan hatinya melalui raut wajah yang sedih, melalui gerak tubuh yang menjelaskan kondisi hatinya ia sedang tidak stabil, melalui tangisan, melalu doa-doa panjang yang ia ungkapkan penuh kejujuran. Ada luka yang ia ingin sembuhkan dari sebuah pengalaman pahit itu. Ada harapan baru yang ia ingin rajut kembali. Ada perjalanan baru yang harus di tempuh hingga tuntas.

Kesuksesan itu bukan tentang siapa yang lebih dahulu memulai perjalanan. Namun kesuksesan itu adalah tentang siapa yang meniti langkah secara konsisten hingga ia tiba sampai tujuan. Ia menjadikan kegagalan di masa lampau menjadi ‘batu bata’ yang membuat jiwanya semakin kokoh. Ia merasa bahagia bahwa pada titik optimis terendah sekalipun, ia bisa bangkit dan melaluinya dengan hati yang lapang.

Meresapi setiap lekuk kehidupan sejatinya membuat jiwamu semakin kaya akan pengalaman. Dari pengalaman itu kamu memperoleh persepsi yang baru, wisdom, rasa sabar yang semakin mendewasa, dan rasa ikhlas yang semakin merekah. Kamu menjadi pribadi yang lebih aware dan mencintai dirimu sendiri, kamu menjadi pribadi yang memiliki empati kepada orang lain yang sedang memiliki masalah hidup yang sama pernah di alami, dan hubungan dengan orang-orang terdekat kamu juga semakin erat. Kamu juga semakin percaya bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus tidak menginginkan kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Mereka akan berusaha menemanimu melewati masa-masa itu, memberikan energi kepadamu agar kamu tidak terus-menerus dalam kondisi terpuruk, agar terukir kembali senyuman menghiasi bibirmu, agar kamu tidak merasa menanggung beban masalah itu sendirian.

 

Jakarta, 20 Juli 2017

Membangun Komitmen Diri

Dua bulan yang lalu usia saya beranjak dua puluh lima tahun. Saya tidak mengadakan perayaan akan hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang spesial. Hari itu saya hanya berdoa penuh syukur kepada Allah atas nikmat usia yang telah di amanahkan kepada saya. Saya masih diberi amanah untuk menapaki kehidupan yang berarti amanah itu harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Saya juga memohon doa kepada-Nya agar diberikan kekuatan dan keteguhan iman untuk meniti jalan yang di ridhoi-Nya.

Beberapa kawan saya memberi ucapan selamat ulang tahun dan mendoakan hal yang baik-baik kepada saya. Saya berterima kasih dan meng-aaminkan setiap doa yang disampaikan itu. Ada juga yang memberikan kado sebagai hadiah ulang tahun. Diantara mereka ada juga kawan saya yang mendoakan, semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang solehah. Mendengar kalimat itu, saya tersenyum penuh harapan. Setiap doa adalah kebaikan. Kebaikan kepada orang yang berdoa dan kebaikan kepada orang yang di doakan.

Saya merenung mengingat kembali rekaman perjalanan yang sudah saya lalui hingga beranjak di usia ini. Melihat sisi kedewasaan yang mulai tumbuh. Kedewasaan yang diraih melalui proses panjang hingga menyatu menjadi kepribadian. Hingga sampai pada titik saya bertanya ke dalam diri saya sendiri, apa yang membuat saya bahagia? Bagaimana saya memperjuangkan kebahagiaan itu? Sejauh mana saya berusaha mewujudkan kebahagiaan itu selama ini? Apakah waktu yang sekian lama dilalui membuat saya terlena dalam kebahagiaan dari sudut pandang materi kebendaan semata? Bukankah sifat dunia adalah kefanaan, kesemuan, dan kesementaraan?

25 Mei 2017, saya menghadiri seminar Tarhib Ramadhan di Aula Gema Insani Kalibata, Jakarta Selatan. Seminar ini di selenggarakan oleh Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations . Ada dua pembicara dalam seminar ini, yaitu Ust. Fahmi Salim, M.A. dan Ust. Dr. Syamsuddin Arif. Bebarapa isi materi saya rangkum menjadi catatan saya dan say tuliskan kembali dengan niat setiap nasihat kebaikan menjadi pendorong untuk giat meningkatkan amal soleh. Karena pada akhirnya yang akan dibawa oleh manusia setelah ia meninggal dunia adalah iman dan amal soleh.

Ust. Fahmi Salim M.A. menyampaikan, “Dalam tafsir Al-Manar karya Syeikh Rasyid Ridha dikutip dari gurunya, Syeikh Muhammad Abduh : “Di pilihnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan adalah sebagai bentuk syukur atas turunya Al-Qur’an. Hal ini adalah bagian dari intisari surat Al-Baqarah ayat 185. Penjelasan Syeikh Muhammad Abduh yang termuat dalam tafsir Al-Manar mengenai perintah berpuasa adalah bentuk rasa syukur atas turunnya Al-Qur’an sangat logis. Karena maqashid (tujuan) dari perintah berpuasa sangat erat dengan maqashid  (tujuan) diturunkannya Al-Qur’an yaitu pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Ketakwaan sebagai sebuah sistem hanya bisa dijelaskan  dalam  Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 2). Kedua, memperbaharui komitmen terhadap Al-Qur’an. Pancaran kesucian jiwa merupakan hasil dari  ibadah puasa dan komitmen diri terhadap  nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hanya orang-orang yang lahir dari proses penyucian diri dengan berpuasa akan menjadi pribadi yang berhasil, pribadi yang mampu mengemban risalah Al-Qur’an.”

“Kesimpulan dari bagian ini adalah puasa adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah dan Al-Qur’an adalah obat segala penyakit. Apa tanda jiwa yang sehat? Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bahagia. Puasa membahagiakan jiwa. Dengan berpuasa Allah menjadikan fisik kita lemah, syahwat kita di ikat, tenggorokan kita dibuat haus. Saat berpuasa, fisik kita  memang tidak diberi makan namun hakikatnya jiwa yang diberi makan. Semua proses itu dilalui dalam rangka membahagiakan jiwa dan membersihkan hati. Orang-orang yang berpuasa jiwanya akan sehat dari  penyakit-penyakit hati. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 82 : “Dan Kami turunkan Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ust. Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan materi mengenai kesolehan pribadi. Beliau menyampaikan, “Kesolehan pribadi adalah tanggung jawab setiap individu. Kamu sendiri yang harus melalui satu anak tangga ke anak tangga yang lainnya, dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Kamu sendiri yang harus bergerak mengusahakan, menyempurnakan satu level kebaikan menuju level selanjutnya dimana setiap level memiliki tantangan dan hambatan. Orang lain hanya bisa menasihati, menunjuki jalan yang benar, memberikan teladan yang baik, memotivasi untuk untuk meningkatkan amal soleh, namun kamu sendiri yang harus membujuk diri, menggerakkan diri penuh kesadaran,  keikhlasan, dan kesabaran untuk menyempurnakan setiap kebaikan.

“Sabar itu seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’kub ‘Alaihis salam dalam menanti perjumpaan dengan  anaknya , Nabi Yusuf ‘Alaihis salam setelah sekian tahun berpisah. Kita dengam mudah membacanya dalam Al-Qur’an surat Yusuf –dalam surat tersebut kisah Yusuf dikisahkan dengan sangat lengkap dari awal hingga akhir surat. Tapi kita tidak merasakan bagaimana perasaan Nabi Ya’kub melewati kesedihan di hari-hari yang dilaluinya karena kehilangan anak yang sangat dicintainya. ”

Untaian nasihat dari beliau membuat saya sadar bahwa saya yang bertanggung jawab pada diri sendiri. Saya sendiri yang harus berdisiplin dalam beragama. Karena agama adalah ranah keyakinan yang ada di dalam hati, bukan ranah pemikiran. Keyakinan yang terpatri kokoh dalam hati memancarkan ketenangan hati dan keteduhan akhlak. Tanpa adanya kesadaran yang ikhlas dari hati dan semangat memperbaiki diri, perubahan diri akan sulit terwujud. Karena kesolehan pribadi bersumber dari keyakinan yang mendasar pada nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang kemudian keyakinan itu terwujud melalui amal soleh dan akhlak yang baik sebagai tanggung jawab dan ketaatan sebagai seorang muslim.

Menghadiri majelis ilmu seperti ini membuat saya mempunyai persepsi yang baru mengenai kesolehan dan penyucian diri. Saya menjadikan majelis ilmu menjadi sarana untuk menambah ilmu dan pemahaman, menjadi bahan untuk mengevaluasi diri –melihat lebih jernih apa-apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, menjadi nutrisi yang menambah keimanan. karena sejatinya, tubuh manusia harus diberi asupan yang seimbang, yaitu asupan fisik dan asupan ruhani. Keduanya adalah kebutuhan setiap manusia yang harus dipenuhi agar hidupnya seimbang dan bermakna. Dan hikmah terpenting dari menghadiri majelis ilmu adalah memperbaharui semangat untuk menata diri lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 18 Juli 2017

 

Part of Life

“Hidup itu perlu direnungkan, tidak cukup hanya dilakoni.”

(Socrates)

 

Menjadi orang yang bahagia adalah idaman setiap insan. Bahagia adalah kata sifat yang ringan diucapkan namun dalam mewujudkannya butuh diperjuangkan. Setiap kita terlahir memiliki daya dan kemampuan untuk mengusahakan kebahagian itu. Kemampuan merasakan kasih sayang dari orang-orang yang kita cintai, kemampuan berempati dengan kehidupan orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kemampuan menentukan sikap dan memberi respon dari masalah yang sedang di hadapi oleh diri sendiri. Kemampuan itu bersifat dinamis, berkembang seiring dengan waktu yang terus bergerak sesuai pengalaman hidup yang sudah dilalui.

Hakikat kehidupan adalah persinggahan sementara untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sudah ditentukan untuk menuju negeri akhirat. Kehidupan selalu menjanjikan ujian. Karena ujian pasti di alami setiap manusia, namun kondisi mental kita terkadang tak stabil dan kondisi hati tak menentu. Oleh karena itu kita membutuhkan energi-energi positif dari orang-orang terdekat yang menyayangi kita. Mereka itu bisa jadi adalah orang tua kita, kakak atau adik kita, teman kita, rekan kerja kita, atau guru kita. Maka benar ungkapan, manusia menjadi utuh saat ia berinteraksi dengan sesamanya. Karena ada sisi ruang dalam diri manusia dimana ruang itu  tidak cukup  menyimpan semua perasaan, semua masalah, semua harapan itu dengan sendirian. Ia butuh menyediakan ruang lain untuk berbagi dengan sesamanya untuk sekedar berbagi cerita, berbagi keluh kesah, dan berbagi semangat sebagai sarana berekspresi. Dan berekspresi adalah bagian kebutuhan manusia.

Tak perlu malu menceritakan masalah yang kamu hadapi kepada orang yang kamu percaya dia bisa amanah menyimpan kisah kehidupanmu. Kecewa adalah proses, menangis adalah proses, bersedih adalah proses.  Rasa kecewa, sedih, menetaskan air mata karena luka yang begitu mendalam bukan sesuatu yang menunjukkan kelemahan dirimu.  Dengan bersedih, kecewa, menangis, berharap, kamu telah mengekspresikan segenap perasaan yang hinggap di hatimu dan sekaligus menunjukkan sisi-sisi manusiawi yang ada dalam dirimu. Dirimu lebih tahu apa yang ada di hatimu dan perasaan apa yang sedang menyentuh hatimu. Dengarkan suara hatimu, lalu ajak ia berdialog untuk menarik kesimpulan yang terbaik yang kelak akan kamu jadikan pijakan dalam menentukan langkah kamu selanjutnya.

Rasa kecewa dan sedih, sikapi sewajarnya. Tak perlu berlama-lama, apalagi membuat optimis hidup luntur. Keduanya jangan dijadikan alasan untuk segera bangkit dan berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Segera beranjak, menjemput harapan baru dengan hati yang baru. Biarkan waktu menjadi saksi atas setiap ikhtiar yang kamu kerjakan. Orang-orang yang menyayangimu dengan tulus menginginkan dirimu yang selalu optimis, selalu riang, selalu semangat, dan selalu menjadi dirimu sendiri.

Terkadang kamu perlu meluangkan waktumu untuk merenung dan berdiam diri. Berdiam diri dalam arti melihat seberapa jauh tapak langkahmu selama ini telah kamu tempuh, berapa banyak pencapaian dalam kehidupan yang sudah kamu raih dan berapa banyak rencana yang belum terealisasi, dan berapa banyak perbaikan yang akan kamu lakukan untuk menyempurnakan langkahmu sebelumnya. Bagaikan seorang musafir yang sedang duduk di bawah pohon rindang melepas lelah setelah melewati perjalanan yang panjang di bawah matahari yang terik. Ia menjadikan istirahat menjadi bagian dalam perjalannya. Istirahat itu ia jadikan untuk mengumpulkan energi-energi baru untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Pun demikian, manusia pun seharusnya menjadikan proses bermuhasabah (merenung sambil berintrospeksi diri) menjadi part of life (bagian dalam hidup) untuk mengukur sudah sesuaikah jalan yang di lalui menuju tujuan awal? Bekal apa yang butuh dipersiapkan untuk perjalanan selanjutnya? Apakah ia mampu memanfaatkan bekal yang dibawa secara efektif hingga mencukupi hingga akhir perjalanan? Dengan perjalanan sejauh ini, apakah rasa sabar dan syukur dalam dirimu semakin meredup ataukah semakin menyala?

Untuk meraih kebahagian, kamu yang harus berproses dari satu tahapan kehidupan ke tahapan selanjutnya. Orang lain di sekitarmu hanya mampu menasihatimu, mengingatimu agar kamu berjalan sesuai rambu-rambu yang berlaku, mengajakmu berlomba dalam kebaikan, dan memberitahumu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Namun kamu sendiri yang harus berproses melewati satu anak tangga ke tangga berikutnya, dari satu level ke level selanjutnya. Dari satu titik kedewasaaan menuju ke titik kedewasaan selanjutnya. Proses itu dijalani sepenuh hati diiringi dengan rasa sabar yang kokoh.

Jakarta, 27 Mei 2017

2 Ramadhan 1438 H

Menemukan Makna dari Rangkaian Waktu

Hampir tiga tahun saya belajar di kampus tercinta, Universitas Indraprasta PGRI. Artinya sudah separuh lebih perjalanan menuju gerbang akhir program sarjana. Dalam hati saya berharap satu tahun lagi program ini dapat di selesaikan. Perjalanan menuntut ilmu di kampus ini menjadi bagian dalam hidup saya yang tak terpisahkan. Saya tumbuh dan berkembang selama proses belajar di kampus ini. banyak sisi yang membuat diri saya berkembang. Tidak hanya dalam sisi akademik saja, namun juga dari sisi pengalaman mengenyam perkuliahan di kelas reguler sore yang menguras energi dan emosi. Karena saya kuliah selepas saya bekerja seharian dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Pengalaman tidak dapat di bayar oleh materi. Karena ia melibatkan diri untuk mengikuti proses tahap demi tahap, ia menangkap suasana demi suasana dan mental kita memberikan tanggapan. Pembelajaran penting buat saya adalah rasa lelah bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesibukan juga bukan alasan untuk berhenti belajar. Karena sebenarnya belajar itu adalah proses yang tidak mengenal usia. Setiap orang memiliki hak untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya tanpa dibatasi oleh usia. Ruang belajar selalu tersedia di manapun baik di lingkungan pendididikan formal dan non formal.

Berawal dari motivasi ingin meng-upgrade diri itu, saya memutuskan melanjutkan kuliah pada tahun 2014 di kampus ini. Tujuan utama saya adalah menuntut ilmu dan membangun jaringan dengan teman-teman kampus yang baru di kenal. Rasa bangga menjadi bagian dari kampus ini adalah salah satunya. rasa bangga mengemban status mahsiswa. Saya bangga menjadi bagian dalam kampus ini karena di sini saya dapat merasakan jenjang pendidikan formal di atas bangku SMA. Kebanggaan itu secara tidak langsung membangun konstruksi berfikir, saya harus berubah. Maksudnya, saya harus lebih baik dari sisi pola pikir dan perilaku dari anak-anak yang hanya menyelesaikan pendidikan formal sebatas SMA. Namun di sisi lain, saya juga memahami kuliah bukan sekedar soal status sosial melainkan lebih kepada komitmen diri dan tanggung jawab moral untuk menuntaskan kontrak belajar yang di emban sebagai mahasiswa yang pada akhirnya pendidikan yang sudah di dapatkan dapat mengubah perilaku dan pola pikir menjadi insan yang paripurna dan memiliki kepedulian bagi sesamanya.

Masih teringat hari-hari pertama kuliah, saya berusaha mengelola waktu saya dari kebiasaan yang sebelumnya pulang kerja langsung pulang ke rumah. Sekarang setelah mulai aktif kuliah, saya menyesuaikan dan membagi waktu saya untuk belajar di kampus. Minggu-minggu pertama perkuliahan menjadi pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Ternyata tidak mudah membangun kebiasaan baru. Betapa beratnya membangun kebiasaan baru yang menuntut usaha yang lebih banyak yang menuntu stamina tubuh yang fit. Terburu-buru datang ke kampus karena takut datang telah apalagi di hari pertama perkuliahan. Keringat yang mengalir deras karena kondisi ruang kelas yang kurang kipas angin. Perut yang memberi isyarat untuk segera di isi namun jadi tertunda. Belum lagi kondisi tubuh yang sudah sangat lelah di paksa untuk fokus dengan aktivitas pembelajaran di kelas. Gugup dan grogi berkenalan dengan teman-teman baru dalam satu kelas. deg-degan dan keringat dingin, suara terbata-bata dan kaki gemetar saat mendapat tugas presentasi di depan kelas. bahkan pernah di semester awal pada saat saya mendapat tugas presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada sesi tanya jawab, saya mendapat giliran menjawab. Nyatanya saya terdiam cukup lama, ada yang ingin saya kemukakan ide dalam pikiran saya, namun tak bisa saya ungkapkan dengan lisan. Ini mungkin pengaruh demam panggung alias nervous. Akhirnya saya dibantu teman satu kelompok untuk menjawab pertanyaan itu. itu menjadi pengalaman yang saat di ingat-ingat kembali saya jadi malu dan menertawakan diri sendiri. Tapi, sudahlah itu kan namanya proses.

Mengikuti kuliah sore selepas pulang kerja bukanlah hal yang ringan. Hambatan dan tantangan selalu ada. Meskipun dengan hambatan dan tantangan itu bukan berarti menjadi alasan saya untuk menyerah. betul, saya mengeluh lelah. secara alami kondisi tubuh saya mengekspresikan itu. Saya juga menganggap wajar mengeluh karena saya merasa ini adalah perjalanan awal dan secara fisik tubuh saya memberi respon itu untuk dalam proses menyesuaikan diri dengan aktivitas baru  yang rutin saya lakukan. Namun itu hanya kelelahan secara fisik. Yang terpenting buat saya saat itu adalah menjaga motivasi belajar agar terus stabil sampai empat tahun ke depan. Karena motivasi diri itu menurut saya sangat penting dan mendasar. Karena motivasi itu bisa diibaratkan bahan bakar yang akan membuat mesin mobil itu berjalan. Saya berusaha motivasi saya untuk menuntut ilmu agar tetap menyala dan tidak luntur oleh rasa lelah atau pun hambatan-hambatan lain. Motivasi diri itulah yang menggerakkan saya untuk terus berpacu, terus semangat, dan memberikan [emahaman baru bahwa untuk maju dan berkembang perlu pengorbanan, ada risiko dann konsekuensinya.

Perlahan saya menemukan makna keluarga di kampus ini. Saya ingat hari saya mendaftar di kampus ini dan hati saya berkata, saya ingin mengembangkan diri saya dan saya ingin merubah diri semakin lebih baik. faktanya, kampus ini memfasilitasi banyak hal dan saya merasa potensi dan pengetahuan, nilai-nilai kepribadian saya berkembang. Saya belajar bersama teman-teman di sini, saya berinteraksi dengan mereka, di beberapa kesempatan saya bertanya dengan dosen-dosennya, di sisi lain saya berinteraksi dengan pegawai perpustakaan di saat berkunjung ke perpustakaan, dan saya juga ikut pelatihan organisasi dan kepemimpinan yang diadakan oleh ormawa. Interaksi-interaksi yang rutin itu dengan secara otomatis menumbuhkan rasa akrab dan kedekatan. Kedekatan itulah yang membuat saya belajar menghargai orang lain, peduli dengan sesama, dan memiliki komitmen untuk menjalin hubungan pertemanan berasaskan prinsip tolong menolong dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Setiap kita tumbuh dan berkembang karena hasil pengaruh yang ada di sekitar kita. lingkungan memiliki pengaruh terhadap kepribadian tiap-tiap individu. Pun demikian, saya juga mengalami hal itu. Setiap aktivitas yang dilakukan bersama-sama memilki warna yang beragam dan ide-ide kreatif akan lebih berkembang di komunitas yang heterogen. Teman-teman satu kelas adalah komunitas belajar yang memiliki komitmen belajar yang sama. Kadang saya tiba pada titik jenuh, semangat belajar menurun, dan rasa malas menggeregoti motivasi belajar saya. Namun karena saya berada di dalam komunitas, hal seperti itu akan bias dengan sendirinya. Karena tadi,  komunitas itu dapat membangkitkan semangat belajar. Karena komunitas ruang gerak tiap anggotanya menjadi sama. semua anggota berusaha menyesuaikan langkah, menyesuaikan visi, menyesuaikan persepsi untuk bersama saling menyemangati untuk tujuan yang sama yaitu sukses studi.

Apalagi di saat saya dan teman-teman duduk bersamadalam satu forum entah itu forum yang bersifat formal di kelas maupun forum tidak formal di luar kampus. Saya mengamati, saya mendengarkan opini teman tentang perkuliahan dan respon mereka melawan rasa malas, rasa jenuh, lelah, dan semangat menurun. Sebagian mereka mengungkapkan opini dengan bercerita. Seringkali kami menghibur diri dengan berbagi pengalaman yang lucu atau mengarang cerita lucu yang membuat kami tertawa lepas. Momen seperti ini membuat hubungan pertemanan di antara kami semakin erat. Sebagian lagi dari mereka lebih memilih menjalani aktivitas kuliah dengan konsisten. Mereka memberikan teladan bahwa proses perkuliahan ini cukup di jalani dengan sungguh-sungguh. Ruang untuk mengeluh, mengaduh, dan letupan emosi negatif yang lain mereka simpan dalam sudut ruang yang disebut ruang privasi.

Saya belajar menarik kesimpulan dari proses perkuliahan yang sudah dan sedang saya jalani saat ini. Saya belajar menarik hikmah perjalanan yang sudah terlewat.  Pada titik tertentu, saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri, sebenarnya apa tujuan saya kuliah? Sudahkah tujuan itu sudah tercapai atau paling tidak sudah mendekati? Atau sebaliknya semakin jauh dari tujuan awal saya memutuskan untuk kuliah? lalu apakah sejauh ini saya sudah memberikan effort yang maksimal agar tujuan itu terwujud sesuai harapan? Apakah waktu saya di kampus ini sudah saya kompensasikan dengan menyerap informasi baru, pemahaman baru, pengetahuan baru? Apakah selama saya berada di kampus ini saya sudah kompensisasikan waktu saya untu berfikir (think) lebih banyak, membaca (read) buku lebih banyak, mempelajari  (learn) ilmu pengeahuan lebih banyak?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini datang sebagai refleksi diri mengukur dari perjalanan yang sudah di jalani sejauh ini benar-benar mencerminkan kondisi diri saat ini. pertanyaan mengenai sejauh mana saya menghargai waktu, memanfaatkan waktu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Karena waktu itu terbatas. Usia juga terbatas. Namun karena waktu terbatas bukan justru menjadi excuse cepat merasa puas dengan pencapaian yang sudah di raih saat ini lalu berhenti belajar dan berhenti meng-upgrade diri. Menuliskan cerita ini adalah bagian dari cara saya bercermin dan mengevaluasi diri. Karena sejatinya evaluasi adalah menjadi bagian dalam hidup yang tak terpisahkan selama kita ingin melangkah lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 20 Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Jejak Kerinduan

rumah-gemilang-indonesia

08 Januari 2017

Hari itu, saya mengunjungi adik saya di Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Depok. Adik saya diterima untuk belajar program Apikasi Perkantoran pada Angkatan 16 RGI. Selama mengikuti pendidikan (enam bulan) ia akan tinggal asrama. Tujuan saya datang untuk mengantarkan pakaian dan lauk kering untuk adik saya. Tiba di sana saat hari sudah sore. Hari itu cuaca cukup cerah dan sedikit berawan.

Ini kali pertama saya datang kembali ke RGI selama  tiga tahun terakhir. Saat menginjakkan kaki di tempat ini hati saya menghangat. Ingatan semasa saya tinggal dan belajar di tempat ini seketika memenuhi kepala saya. Saya menyadari saya pernah hidup dan menjadi bagian keluarga besar di rumah ini Angkatan 5 tahun 2011. Enam bulan tinggal di asrama ini membuat kenangan bersama teman-teman dan instruktur program begitu membekas di hati saya. Rumah ini bukan rumah biasa. Saya menempatkan rumah ini menjadi rumah saya sendiri. Rumah tempat saya merajut mimpi-mimpi masa depan, rumah tempat saya mendapat inspirasi untuk semangat dan tekun menulis, rumah tempat saya mengasah kreativitas, dan rumah untuk mengembangkan diri pada bidang komputer. Sesuai namanya Rumah Gemilang Indonesia, rumah ini menjadi pintu para murid-muridnya untuk menjemput masa depan yang gemilang.

Saat berkunjung kali ini saya bertemu dua teman satu angkatan dengan saya yang sudah bekerja menjadi asisten instruktur program dan salah satu tim Manajemen RGI. Ruslan dan Mas Uki.  Bersama mereka saya meluapkan kerinduan melalui cerita mengenang masa-masa saat kami belajar di sini. Kami saling bertanya mengenai aktivitas dan kesibukan saat ini, termasuk target dalam jangka pendek di tahun ini. Kami bercerita lepas sekali yang membuat kami tertawa dan tersenyum lebar.

Saya menyadari betapa pun lamanya saya pergi meninggalkan rumah ini, rumah ini selalu memiliki kenangan sendiri buat saya dan rumah ini  akan selalu menerima kehadiran para alumninya. Rumah ini mengajarkan saya untuk terus memelihara rasa ingin tahu yang lebih tinggi, untuk terus semangat mewujudkan mimpi, untuk terus berupaya dimana pun kamu berada pastikan kamu dapat memberikan kebaikan dengan lingkungan sekitar. “Kalian harus menjadi lilin yang cahaya selalu menyala menerangi orang-orang di sekitarmu,” pesan dari Bapak Sigit Iko Sugondo, Direktur Rumah Gemilang Indonesia. Kini, semangat itu masih terus menyala di hati saya.

“Mas Uki, saya sebenarnya kangen banget mau silaturahmi ke sini dari jauh-jauh hari. Tapi gimana ya saya aja yang belum menyempatkan datang ke sini.”

“Datang aja Mas Imron ke sini. Mas Imron nanti  bisa memberikan motivasi untuk adik-adik di sini. Biar saya yang atur forumnya. Saya akan bilang kepada mereka, ini lho ada kakak kelas kalian yang sudah bekerja dan kuliah dengan biaya sendiri yang akan berbagi cerita dan pengalamannya dari mulai dia belajar di RGI hingga bekerja. Sudah bekerja dan Kuliah dengan biaya sendiri kan suatu kebanggaan.”

Saya tersenyum mendengar tawaran itu dan saya menerima tawaran itu. Ada rasa bangga diberi tawaran ini. Mas Uki adalah teman satu angkatan dengan saya namun berbeda program dengan saya. Saya di program teknik komputer dan jaringan dan Mas Uki di program Fotografi dan Videografi. Saat ini dia menjadi asisten instruktur program fotografi dan videografi di RGI. RGI membuka program beasiswa untuk enam program yaitu teknik komputer dan jaringan,  aplikasi perkantoran, menjahit dan tata busana, design grafis, fotografi dan videografi, dan otomotif. Info selengkapnya bisa di lihat di rumahgemilang.com.

Setelah diskusi dengan Mas Uki, terngiang di telinga saya sebuah kalimat, sudah bekerja dan bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri itu adalah suatu kebanggaan. Saya mencoba memahami kalimat itu pelan-pelan hingga batin saya berkata , “Kamu perlu melihat orang-orang yang hidupnya lebih prihatin darimu, hingga kamu dapat lebih bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan untukmu.” Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari RGI ini. Karena dengan rasa bangga itu motivasi belajar saya selama menuntu ilmu di sini dapat stabil dari awal hingga saya mengikuti proses wisuda.

Selama kamu meninggalkan jejak dan kesan baik dimanapun kamu berada, kamu selalu bisa kembali menyapa tempat-tempat itu dengan hati yang dipenuhi rasa rindu. Satu jejak kebaikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain.

Masa depanmu bergantung apa yang kamu lakukan hari ini. Keberhasilan adalah milik orang-orang yang bersungguh-sunggguh.

Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya membuat ia semakin banyak menyerap pelajaran dari kehidupan.

 

 

Jakarta, 18 Januari 2017

Pare, I’M Coming

plant

Memulai Langkah Pertama

24 Agustus 2016. Hari ini hari Rabu. Hari dimana saya memulai perjalanan ke kampung Inggris, Pare, Kediri Jawa Timur. Malam hari sebelum keberangkatan, saya memeriksa kembali perlengkapan berupa pakaian, buku dan alat tulis. Saya juga mencetak kuitansi biaya pendidikan di kampung Inggris, e-ticket pesawat yang saya pesan dari Traveloka.com, dan e-ticket pulang kereta api.  Semua perlengkapan itu saya masukkan ke dalam satu koper dan tas ransel ukuran sedang yang biasa saya pakai untuk kuliah. Pagi harinya, dengan memantapkan niat dalam hati saya pamit dengan ayah dan ibu saya di rumah. Rute perjalanan hari ini ke bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Juanda Surabaya, kemudian menaiki mobil travel menuju Pare, Kediri.

Pukul 12.40. Tiba di bandara hari sudah sangat terik. Saya mempercepat langkah ke arah counter Citilink di terminal 1C untuk keperluan check-in. Saat itu antrian di counter Citilink tidak terlalu panjang. Antrian berkisar lima sampai enam orang dari sekian counter yang tersedia. Ketika tiba giliran saya proses check-in cukup cepat karena saya sudah check-in online via website. Saya diminta membayar biaya tambahan atas pilihan kursi dekat jendela sebesar Rp 30.000. Saya menitipkan koper ke bagaso dan tas ransel tetap saya bawa ke dalam pesawat. Setelah itu seorang staff counter memberikan kartu boarding pass dan mempersilahkan saya memasuki ruang tunggu (boarding lounge). Jadwal keberangkatan pukul 13.40.

Boarding lounge siang itu cukup ramai. Hal itu terlihat dari kursi tunggu yang hampir terisi penuh oleh penumpang. Di dalam ruangan itu terdapat dua orang staff pelayanan informasi berada tepat di depan pintu masuk ruangan. Setiap sudut sisi ruangan ini terdapat sound system yang berfungsi memberikan informasi pesawat yang akan berangkat menuju destinasi tertentu. Ruangan ini juga terbagi dua sisi, sisi kiri dan sisi kanan. Masing-masing sisi terdapat kursi tunggu yang berjajar memanjang ke belakang dan dilengkapi satu televisi. Ruangan ini juga ruangan bebas rokok. Penumpang yang ingin merokok mereka sudah sadar diri untuk  segera ke luar ruangan. Saya duduk dan meneguk air untuk ke sekian kalinya sambil sesekali melirik ke layar televisi. Saya juga melirih jam tangan berkali-kali dengan sedikit gelisah. Sound system kembali bergema. Kini giliran mengenai informasi bahwa penumpang tujuan Surabaya segera memasuki kabin pesawat. Kedatangan pesawat telat tiga puluh menit dari jadwal keberangkatan.

Berawal dari Kegelisahan

Rencana belajar ke kampung Inggris dimulai dari kegelisahan saya setelah mengikuti pameran pendidikan tinggi Uni-Eropa (Scholarship Info Day) dan LPDP beberapa bulan lalu di Jakarta (bisa dibaca : https://imron26.wordpress.com/2016/06/15/eu-indonesia-scholarship-info-day-2016/). Dimana saat itu para pembicara dari beberapa perwakilan negara Eropa menyampaikan presentasi  menggunakan bahasa Inggris. Saya hanya mendengar tanpa bisa memahami karena minim vocabulary. Sederhananya saya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh para pembicaraBisa dihitung jumlah kata yang mereka sampaikan yang bisa saya pahami. Itu pun masih menerka-nerka. Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa kemampuan bahasa Inggris saya mesti dikembangkan lagi, dilatih lagi, dan belajar lagi. Ditambah setelah mengikuti pameran pendidikan itu tumbuh niat dalam benak saya untuk melanjutkan pasca sarjana di luar negeri. Di mana untuk bisa mencapai itu harus didukung dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai.

Lalu tepat di tanggal 13 Juni 2016 saya mendaftar secara online program bahasa Inggirs  2 minggu di Pare dari sebuah website yang bernama eurekatour.com, jasa tour spesialis kampung Inggris. Saya memilih gelombang tanggal 25 Agustus sampai dengan 5 September 2016. Pertimbangan memilih gelombang tersebut karena bertepatan dengan libur kuliah semester genap. Bagi saya ini menjadi liburan kuliah yang berkesan karena dapat menambah keterampilan berbahasa Inggris dan menambah teman (networking).

Mengapa memilih kampung Inggris di Pare? Karena saya mempunyai beberapa guru bahasa Inggris dan kakak kelasa di SMA yang pernah menempuh pendidikan di Pare. Dari mereka, saya dapat informasi bahwa di Pare itu lingkungan untuk belajar bahasa Inggris itu sangat kondusif dan biaya pendidikan dan biaya hidup di sana sangat terjangkau. Hanya dibutuhkan niat yang kuat, kemauan keras, dan semangat untuk belajar dan berproses selama menempuh pendidikan di sana.

quotes-dari-film-20

Saya berusaha merealisasikan suatu keinginan bila keinginan itu mengandung manfaat untuk pengembangkan diri. Tentu itu pun setelah berfikir secara realistis. Dua bulan sebelum ikut program ini di mulai saya sudah mempersiapkan kebutuhan finansial dengan cara menyisihkan sejumlah uang dari gaji bulanan dan menghemat pengeluaran. Saya memahami bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Begitu pun saat saya memantapkah hati untuk belajar di kampung Inggris Pare, konsekuensinya saya mesti menghemat pengeluaran, merelakan untuk tidak pergi traveling ke suatu destinasi wisata, menahan diri untuk tidak membeli elektronik, aksesoris gadget dan lain-lain (kecuali buku, karena untuk buku saya sudah punya pengeluaran rutin tiap bulannya), memikirkan permohonan cuti kerja yang saat itu saya masih sangat ragu apa mendapat ijin atau tidak mengajukan cuti selama dua pekan untuk keperluan belajar, termasuk reaksi apa yang timbul dari teman satu tim di kantor, saya mesti mencari lebih jeli tiket pulang pergi yang murah untuk menekan jumalah pengeluaran. Kekhawatiran itu tetap ada dan saya rasakan. kebimbangan itu ada dan nyata bergejolak dalam hati yang akhirnya menimbulkan bibit-bibit keraguan apakah saya mesti mundur atau maju meneruskan rencana ini.

Satu hal yang membuat saya yakin untuk maju mengikuti program pendidikan ini adalah belajar bahasa Inggris ini adalah kemauan yang bersumber dari dalam diri saya sendiri, untuk kepentingan pengembangan potensi diri saya, dan hal ini juga akan mendukung rencana studi saya untuk masa akan datang. Kalau bukan diri saya sendiri yang mengembangkan diri, siapa lagi? Orang lain hanya bisa mendukung, berbicara, berkomentar ini itu. Lalu berlalu begitu saja. Tetapi proses belajar, proses menempuh pendidikan di lingkungan yang baru dan  jauh dari rumah, proses beradaptasi dengan sesama pelajar dari daerah yang berbeda, semua  itu saya yang mesti jalani melalui bertahap. Saya mau bergerak dari titik satu ke titik yang lain. Dari satu pencapaian ke pencapaian selanjutnya.

Saat ini yang saya butuhkan adalah kemauan kuat untuk mencoba mewujudkan semua rencana itu dan hati yang selalu berdoa memohon semoga jalan yang saya pilih diberi kemudahan oleh Allah swt. Doa yang selalu terucap mengalir lembut membasuh dinding-dinding hati menjadi penyemangat diri untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Allahumma inna nas’aluka rizqon thayyiban, wa ‘ilman nafi’an, wa ‘amalan mutaqobbalan.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu rizki yang baik, ilmu bermanfaat, serta amal-amal soleh yang diterima.”  aamin.

Jakarta, 24 September 2016

Rumah Yang bernama Kasih Sayang

Sebuah tempat selalu punya cerita. Tahun 2001 saya datang dan menetap di sebuah rumah baru di Bekasi. Rumah tersebut menyimpan banyak mutiara kebaikan.

Rumah itu berdiri kokoh dengan tiga lantai. Masing-masing lantai mempunyai fungsi masing-masing. Warna hijau muda mendominasi warna bangunan itu. mulai dari dinding bangunan, pintu gerbang, lantai keramik, hingga atap genteng. Di atapnya bertuliskan sebuah kata Marhamah. Di depannya ada pohon nangka setinggi bangunan itu. DI samping pintu gerbang berdiri pohon jambu yang cukup lebat di dan di sekeliling pohon itu ada tumbuhan-tumbuhan kecil di dalam pot yang terawat rapi. Suara air kolam ikan di samping kiri gerbang rumah itu seolah menarik perhatian siapa pun tamu yang berkunjung ke sana.

Sejak pagi hari rumah itu diwarnai kesibukan anggota keluarga yang sedang piket berbenah membersihkan lingkungan rumah. Suara sapu lidi dan suara air yang dipancurkan dari selang untuk menyiram pepohanan berpadu dengan kicauan burung-burung membuat suasana pagi ini bergema dengan riangnya. Ada yang menyapu lantai, ada yang mengepel, ada yang membersihkan jendela, ada yang mencuci piring, dan sebagainy sesuai pembagian piket yang diberikan. Penampakan pagi yang selalu sama dari hari ke hari kecuali hari minggu dan hari libur nasional. Karena saat hari libur, waktu pagi diisi dengan olahraga bersama. Di atas sana matahari perlahan menunjukkan dirinya dengan cahayanya yang mulai merata menyapa bumi. Semakin siang suara bising kendaraan yang berlalu lalang semakin ramai.

Semua santri memulai hari dengan simpul wajah yang optimis. Hari ini menjadi bagian dari hari-hari yang akan datang. Karena itu, motivasi belajar mesti di pupuk setiap hari. Satu kebiasaan kami sebelum berangkat sekolah yaitu berbaris apel dan berdoa bersama. Saat apel kami memeriksa kerapian pakaian seragam dan penampilan kami.  Setelah itu kami mendengar evaluasi kebersihan rumah dari pembimbing  dan bersalaman dengannya.

Kebersamaan di rumah ini begitu erat  saya rasakan. Di sini saya selalu menemui ruang untuk berekspresi. Berekspresi lewat interaksi yang mewarnai setiap hari. Di sini   ada para pembimbing yang sudah kami anggap sebagai orang tua kami. Walaupun sebenarnya mereka tidak ada ikatan darah dengan kami, tetapi mereka memberikan kasih sayang yang tulus dengan sepenuh hati. Mereka menemani kami selama kami tumbuh dari masa kecil hingga kami beranjak di usia remaja. Kehadiran mereka adalah cahaya bagi hati dan mata kami. Karena mereka mengasuh, merawat, dan mendidik kami dalam kurun waktu yang panjang supaya kami menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas dalam intelektual, tetapi kami dituntut memiliki kelembutan akhlak.

Mereka  selalu memberi bimbingan agar kami berkembang dari hari ke hari. Dengan tutur kata yang lembut dan akhlak yang baik mereka memberi teladan kepada kami. Bertemu dengan mereka mengajarkan saya hidup harus terus bergerak melalui satu fase menuju fase selanjutnya. Apa pun yang terjadi kehidupan tetap mesti di lanjutkan. Biarkan waktu menjadi obat atas pengalaman yang di rasai. Semua orang mempunyai hak untuk meraih keberhasilan dalam hidupnya. Karena Keberhasilan adalah kombinasi dari energi usaha yang maksimal, hati yang membaja tidak mudah menyerah, dan doa-doa panjang yang lahir dari kejujuran hati.

Kehidupan selalu adil. Bagi orang-orang yang mau belajar dan semangat memperbaiki diri. maka baginya tercapai apa yang menjadi harapan hidupnya.  Begitu pun sebaliknya, orang-orang yang malas belajar, lebih suka menonton televisi dan bermain di warnet dibanding membaca buku, maka mereka akan menanggung resiko dari itu semuai.  Ada ungkapan, siapa yang menanam, maka dia yang memanen.

Titik Untuk Berubah

Seiring berjalannya waktu, ada titik untuk mengawali sebuah proses. Motivasi dalam diri itu yang menggerakkan seberapa besar upaya seseorang mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Seberapa kuatnya daya dorongan motivasi dari orang lain dan lingkungan sekitar (motivasi ekstrinsik), apabila motivasi dari luar diri itu tidak menyalakan motivasi yang bersumber dalam diri (motivasi intrinsik) seseorang, maka motivasi dari luar itu menjadi sia-sia.

Begitu pun yang saya alami di rumah itu. Ada saja orang-orang yang tidak kuat menjalani proses di rumah itu sehingga mereka memilih jalan lain seperti keluar dari rumah dan memilih hidup sesukanya di luar sana. Seleksi alam selalu berlaku. Orang-orang yang punya kesadaran tinggi bahwa untuk menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya menuntut kedisiplinan,  kesabaran, kejujuran, dan pantang menyerah.

Lingkungan di rumah itu berpengaruh besar dalam pembentukan karakter saya. Dari sana saya belajar bagaimana etika bertutur kata, etika berbicara dengan orang yang lebih tua usianya dari saya, tanggung jawab diri terhadap lingkungan, etika meminta tolong dan berterima kasih kepada orang yang telah berbuat baik. Di sini saya menemukan alasan mengapa saya memilih tetap berada di sini. Saya memilih jalan ini karena saya yakin di tempat ini saya akan menemukan apa yang ingin saya raih. Inilah sebuah rumah tempat hati berteduh. Sejauh-jauhnya kita pergi, kita akan selalu merinduinya. Karena hanya di rumah  kerinduan itu akan terobati.

Rumah itu yang tidak hanya sekedar bangunan fisik. Tetapi di sana adalah tempat kami menempa diri untuk menjadi pribadi  yang memiliki pemahaman yang baru dan pribadi yang memiliki kehalusan budi. Tempat dimana kami menemukan passion yang ada dalam diri kami. Tempa dimana cita-cita baru itu hadir menempati ruang di hati kami. Tempat dimana kami melepaskan rasa jenuh dan kebosanan dari rutinitas yang dijalani. Tempat dimana kami tampil apa adanya tanpa topeng keegoisan yang sering membelenggu. Tempat yang mengajarkan kami bahwa hidup harus dinamis.

 

 

Selesai ditulis di Jakarta, 13 Mei 2016