Category Archives: My Story

Bahtera yang Kokoh

Welcome Desember..

Hari-hari berlalu menyimpan jejak rekaman perjalanan hidup. kedewasaan yang didambakan seakan menguap begitu saja. banyak excuse yang mendangkalkan semangat untuk memperbaiki diri. padahal kehidupan itu sendiri yang akan mendewasakan kita. waktu menjadi jembatan untuk berproses mengayuh harapan untuk menjadi kenyataan. Waktu juga yang akhirnya menjadi semua muara perasaan yang menerima hasil dari segenap ikhtiar.

Sejenak kita perlu bertanya menyelami diri sendiri sebenarnya goal of life yang dulu dibangun dengan idealisme. Realita lebih rumit dari apa yang dibayangkan. Idealisme yang ada akan mudah menyusut dan menguap menyisakan tulisan semata di buku harian atau dinding yang berada di atas meja belajar. Kita perlu memahami lebih jernih bahwa hidup ini bagaikan seorang yang sedang berlayar di lautan luas dengan gelombang yang tak menentu dan sulit di prediksi. Kadang gelombang laut itu datar dan kadang pula gelombang itu tinggi dan besar sehingga membuat bahtera itu merasakan guncangan hebat.

Butuh namanya bahtera yang kokoh dan kuat untuk berlayar di samudera yang luas. Butuh semangat yang membaja untuk tetap menjaga optimis melihat kehidupan dari berbagai sisi. butuh kawan-kawan yang siap berbagi energi, mengingatkan, menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran. Butuh hati yang lapang menerima perbedaan persepsi dari orang-orang yang sering kali mereka meminta kita memahami kita tetapi mereka lupa untuk memahami diri kita.

Jalan kehidupan ini begitu luas terbentang. Kita tidak tahu pada langkah kita terperosok terjatuh pada lubang yang samar dari penglihatan mata dan hati. Kita tidak tahu pada jejak kaki yang mana kita terkena ranjau yang sudah tertanam sehingga tubuh kita terhempas jauh dengan luka yang membasahi diri ini. Kita sulit sampai tujuan kalau sejak awal memulai perjalanan ini kita tidak memiliki tujuan. Banyak waktu terbuang tanpa terasa sehingga kita terlena bahwa kehidupan dunia ini sementara.

Semua itu menjadi pilihan dalam hidup. setiap pilihan memiliki risiko. Kita tidak pernah bisa berbohong pada hati nurani kita yang selalui merindui ketenangan jiwa. Suara hati selalu menghantarkan dorongan untuk berbuat baik. dorongan itu terkadang lemah dan terkadang kuat. kebaikan selalu membuat hati tenang. Perilaku buruk selalu membuat hati tidak tenang.

Kita tidak perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dari sisi materi dunia. karena cinta kepada dunia tidak akan pernah berujung. Semakin dikejar, semakin membuat kita selalu kurang. Begitu seterusnya. Kekayaan materi tidak menjamin membuat hati orang tenang dan bahagia. karena bahagia itu adalah milik semua orang yang mau berbuat baik dengan apa pun kebaikan yang ia mampu kerjakan.

Kesedihan, duka, cinta, bahagia, resah, gelisah. itu bagian dari warna kehidupan yang semua orang pasti merasai. Ada rasa yang sewajarnya di ekspresikan melalui gerak tubuh dan perilaku keseharian. Semua itu terlihat jelas dan orang lain juga bisa menilai akan perilaku kita. meskipun begitu biarlah demikian adanya. Ambil nasihat yang baik dari orang-orang yang peduli sama kita. lalu sampaikan ungkapan terima kasih kepada mereka dengan tulus. Abaikan judgment orang lain yang hanya membuat hati kita sempit dan melemahkan asa dalam jiwa kita. karena kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang lain.

Sekali lagi, rangkaian waktu yang berlalu menjadikan kita bijak mengolah asa dan mengolah rasa. Realita kehidupan yang menuntut kita berubah dengan cepat membuat kita mesti sigap untuk menyesuaikan diri, lalu kembali fokus pada tujuan hidup kita.

Nasihat kehidupan datang dari berbagai sumber. Bisa jadi diri kita sendiri yang memotivasi diri kita untuk semakin baik. bisa jadi melalui orang lain entah itu teman kita, orang tua kita, guru kita yang memberikan cahaya agar hati kita semakin terang dengan budi yang baik.

Menumbuhkan kebiasaan baru itu tidak pernah mudah. Karena ‘hantu-hantu’ masa lalu kita akan selalu hadir memberikan hambatan melalui cara apa pun dengan risiko yang sulit diperkirakan. Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berbuat baik. tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menjadi orang yang apa adanya dan pasrah dengan keadaan kita saat ini.

Tidak ada kata telat untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk kembali menata hati agar kembali melanjutkan kehidupan dengan jalan yang lurus. Jalan lurus itu tidak dibangun dari aspal yang tebal. Tidak juga dibangun dari beton yang berlapis-lapis. Jalan lurus itu dibangun dari ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Shalat menjadi refleksi diri atas perilaku yang sudah lakukan dalam waktu tertentu. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang itu akan membentuk karakter dalam diri seseorang.

 

 

Jakarta, 08 Desember 2017

Di tulis selepas pulang kuliah di malam selepas gerimis

 

Advertisements

Jangan Menyerah

Melihat lembaran masa lalu menguatkan langkahku dalam menapaki masa depan. Meskipun jalan ini semakin terjal dan penuh dengan rintangan, alasan untuk mengeluh sering kali menjadi suatu hal yang wajar. Dengan begitu aku tahu bahwa saat ini aku sedang berkembang. Karena rasa lelah, frustasi, kecewa, sedih, gelisah yang kerap hadir menjadi bagian kehidupan yang harus dijalani bukan untuk dihindari. Sering kali pilihan untuk menyerah terbuka lebar di depan mata.  Bahkan hati kecil ini beberapa kali berteriak, sudahi saja jalan ini. Buat apa di lanjutkan lagi, jika tubuhmu tak kuat lagi untuk mengikuti alur jalan ini.

Aku biarkan suara itu bergema di lubuk hatiku. Gema suaranya semakin hari semakin besar dan membuatku sempat berfikir ulang. Gema yang menyudutkan asa yang pernah hadir dalam diri ini. Gema suara itu sempat membuat kepalaku sakit dan sempat tubuhku ambruk terhempas lemas tak berdaya. Aku sadar bahwa titik jenuh kerap datang dan tak bisa dipungkiri. Saat titik itu datang, ia akan menyerap energi dan semangatmu untuk meneruskan jalan yang menjadi pilihanmu. Nyala apimu semakin redup dan semakin lama kamu biarkan rasa itu akan merasa betah dan nyaman di hatimu untuk hinggap sekian waktu yang panjang. Titik itu nyaris membuatmu menyerah. Sehingga optimismu semakin memudar dan kamu akhirnya kalah melawan gema suara itu.

Aku merasakan hal demikian. Di penghujung perjalanan kuliahku, rintangan dan hambatan itu semakin berat. Awalnya rasa jenuh itu adalah hal yang ku anggap wajar. Aku biarkan rasa jenuh itu, hingga aku lalai bahwa rasa itu tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Idealisme yang dulu aku impikan seakan hanya tulisan di atas kertas yang tidak memiliki arti apa-apa untuk hidupku. Jika idealisme terikat oleh waktu, maka aku berada pada puncak kejenuhan yang aku sendiri bingung untuk bangkit dari bagian yang mana. Apakah aku sudah nyaman dengan rasa jenuh ini? Apakah aku berpasrah membiarkan rasa jenuh ini merampas mimpi yang pernah ada? Apakah aku berdiam diri membiarkan waktu melibas semua asa, semua harapan, semua cita-cita?

Tulisan ini membuatku bertanya lebih dalam tentang diriku. Aku yang harus berupaya memahami diriku sendiri. Aku sadar jika aku membiarkan diri ini berpasrah, menyerah, tak berusaha bangkit kembali maka kelak hatiku akan menanggung rasa sedih yang mendalam. Kesedihan itu akan mampu menguras energi positif lalu membuat optimis hidupku menipis. Karena aku menyerah sebelum berjuang. Kalau sudah begitu, perasaan bersalah yang datang berduyun-duyun akan menyelimuti hari-hariku berikutnya. Keberanianku untuk menatap masa depan dengan kaki yang berdiri tegap dan dengan wajah penuh  optimis akan surut seiring rasa gagal yang membuat mental diriku down. Di saat mental dalam diriku down maka diriku akan merasakan di mana hari-hari terasa gelap gulita tanpa harapan yang tersisa.

Aku benci kegagalan. Tapi aku sadar bahwa kegagalan dibutuhkan untuk mendewasakan jiwa ini. Untuk menghadirkan pemahaman bahwa kegagalan meskipun ia pahit tetapi bukan akhir dari segalanya. Bahwa meskipun sering kali kegagalan meninggalkan kesedihan, namun percaya bahwa time is healing, biarkan waktu menjadi obat adalah ungkapan yang tepat untuk sebuah penerimaan takdir kehidupan. Hidup ini selalu adil. Bagi mereka yang mau berusaha, memperjuangkan impiannya dengan tekad yang kuat, maka hasilnya akan ia dapat sesuai kadar usaha yang telah ia lakukan. Pun sebaliknya, mereka yang menyerah, mereka yang tidak menghargai dan mengisi waktu dengan aktivitas yang memiliki nilai, akan mendapat hasil sesuai apa yang ia usahakan.

Sejatinya makna kegagalan adalah cara ampuh untuk dirimu belajar untuk rendah hati menyikapi ujian kehidupan. Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Karena ilmu yang kamu miliki bukan untuk di sombongkan dan merendahkan orang lain. Ilmu yang dimiliki seseorang menjadi pancaran yang menyinari dirinya dengan akhlak yang baik dan pemikiran yang terbuka. Semakin muda, seharusnya rasa haus akan ilmu pengetahuan seharusnya semakin bertambah besar. Membaca, menulis, mendengarkan, memahami ilmu bukanlah beban yang dijadikan tekanan. Karena aktivitas belajar sejatinya membujuk dirimu untuk menyerap ilmu  agar dirimu tersinari dan dibimbing oleh ilmu dalam meniti kehidupan ini.

 

Jakarta, 07 Nopember 2017

 

Hikmah Perjalanan

Kadang kita sering kali tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Anggap saja adanya pertengkaran dengan teman. Entah terjadi pada posisi yang tersudutkan (pihak yang disalahkan) atau berada di posisi yang melukai perasaan teman. Saya pernah berada di posisi pertama yaitu pihak yang tersudutkan. Dalam hati saya sadar this is my mistake but etika menegur di depan umum adalah hal yang tidak saya suka. Itu yang menyebabkan saya sempat memendam rasa marah dan berujung pada jarak pertemanan semakin longgar. Akhirnya beberapa bertemu dengan teman tersebut, saya lebih cuek dan diem-dieman. Namun sikap itu tak berlangsung lama. Pada titik tertentu saya termenung dan menemukan pemahaman bahwa, kadang dalam hidup kita sering kali kita tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Hanya karena kesalahan kecil orang lain, kita mudah melupakan kebaikan yang sudah dilakukan orang tersebut kepada kita. Kita mudah mengabaikan tali pertemanan yang sekian lama terajut secara singkat karena masalah ringan. Kita cepat sekali memberi penilaian buruk terhadap orang lain yang sudah menjadi teman kita sendiri.

Dari sana, saya mulai memperbaiki hubungan pertemanan lagi dengan mengawali permintaan maaf kepada teman saya itu. Saya kirim pesan via whatsapp yang berisi permintaan maaf saya karena kesalahan saya, tim ini mendapat hasil yang kurang memuaskan. Saya menghindari alasan-alasan mengapa sempat ‘menjaga jarak’ karena pertimbangan waktu yang masih belum tepat. Masing-masing masih menyimpan emosi. Dan upaya saya adalah bagaimana emosi itu tidak memicu konflik yang semakin besar. Harus ada sikap yang berusaha meneduhkan suasana dari pihak yang sedang bersitegang.

Seiring berjalannya waktu, saya juga mendapatkan pemahaman baru yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang saya alami di tempat saya bekerja dan di kampus saya kuliah. Saya memahami bahwa manusia punya sisi kelebihan dan sisi kekurangan. Oleh karena itu memiliki kemauan untuk belajar memperbaiki diri dari hari ke hari semestinya menjadi planning harian yang mendesak untuk dibuat dan di realisasikan. Hal itu bukan untuk orang lain. Namun untuk diri kita sendiri. Tujuannya adalah idealisme hidup kita selalu terjaga. Apa yang menjadi harapan, apa yang ingin di capai, perubahan apa yang ingin diraih semua itu bisa di definisikan melalui ‘azzam (tekad yang teguh) yang terus di pupuk secara konsisten.

Agar five years from now kita tidak lagi menyesali diri sendiri, kok lima tahun ini hidup saya begini-begini aja. Kok cita-cita yang tertuang dalam planning hidup jangka menengah dan jangka panjang tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Lalu akhirnya dengan mudah karena alasan usia semakin bertambah, kesibukan yang semakin padat, dan tanggung jawab hidup semakin besar, kita dengan mudah menurunkan dan merubah planning hidup yang kita sudah tetapkan sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Belakangan ini, saya menjadi lebih respect saat ada orang yang lebih tua dari saya baik dari rekan kerja atau teman kuliah memberi nasihat dan saran kebaikan kepada saya. Saya mengerti, bagaimana pun mereka hidup di dunia ini sudah lebih lama dari saya.  merekal sudah memakan ‘asam garam kehidupan’ lebih banyak ketimbang saya. Lalu niat baik mereka juga bertujuan agar saya lebih baik lagi dari sisi sikap, ibadah, dan menjaga relasi dengan sesama. Terkadang hatinya menghangat saat mendengar nasihat dari orang-orang yang baru di kenal. Entah bertemu mereka di warung makan, bertemu di instansi untuk mengurus dokumen yang sama, atau pun bertemu di seminar-seminar yang pernah saya ikuti. Nasihat itu tidak selalu dengan kalimat verbal. Banyak juga akhlak yang terhias dalam perilaku mereka yang menjadi sumber inspirasi untuk saya belajar.

Kadang saya juga iri dengan orang-orang yang memiliki strata pendidikan tinggi (akademisi) namun dengan tawadhu’ (rendah hati) dan ketulusan jiwa memberikan ilmu baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Melalui akhlak dan etika bertutur kata mereka membuat saya bercermin pada diri saya sendiri yang selama ini masih sering mengeluh, masih sering kurang ikhlas untuk belajar, masih sering terselip akhlak yang kurang baik, dan masih sering lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tanggal 08 Oktober 2017 lalu, saya  menerima sertifikat kelulusan pendidikan dan pelatihan (diklat) Pajak Terpadu Brevet A dan B dalam acara wisuda peserta diklat gelombang 2  yang di selenggarakan oleh divisi diklat Univ. Indraprasta PGRI. Dalam acara tersebut terdapat serangkaian sambutan. Sambutan yang cukup berkesan buat saya adalah sambutan dari Sekretaris Prodi. Pendidikan Ekonomi Bapak Zaenal Abidin. Beliau menyampaikan, “Anak-anakku sekalian, setelah acara ini wisuda ini selesai, temuilah orang-orang yang dengan tulus mendukung kalian selama proses pelatihan ini berlangsung. Temuilah ayah ibu kalian dan temuilah orang-orang telah memberikan ilmu para kalian selama pelatihan ini, para instruktur dan para panitia penyelenggara. Lalu sampaikan kepada mereka ungkapan terima kasih dari hati yang tulus. Sampaikan ungkapan itu sebagai ungkapan apresiasi karena melalui kerja keras, keikhlasan, dan doa mereka, kalian dapat berhasil mencapai titik kelulusan pada hari ini.”

Mendengar bagian sambutan ini, mata saya menghangat. Ucapan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita sering kali terlupakan. Terlihat seperti hal sepele. Namun memiliki makna yang mendalam. Ungkapan terima kasih kepada siapa pun orang yang telah berbuat baik dan membantu kita adalah bukti kita menghargai sekaligus bentuk apresiasi kita yang layak kita berikan kepada mereka.

 

Jakarta, 21 Oktober 2017

Mengayunkan Langkah, Menyempurnakan Ikhtiar

Tujuh bulan terakhir ini (Maret – September 2017) menghantarkan saya pada pengalaman baru. Saya berhasil mengikuti dua program pendidikan dan latihan (diklat). Di sana saya memulai perjalanan untuk mengembangkan potensi diri. Terasa sekali saat-saat di mana semangat untuk belajar itu tumbuh kuat di awal namun seiring berjalannya waktu tubuh dan jiwaku seakan mengerti tentang kelelahan dan kejenuhan. Saya sadar dua hal ini adalah hambatan dalam belajar. Saya sempat bingung mencari solusi dari dua hambatan ini. Saya juga memahami ada saat-saat di mana pikiran dan hati perlu di refresh melalui aktivitas-aktivitas baru seperti melakukan perjalanan ke tempat yang baru yang menghadirkan suasana yang baru.

Motivasi belajar saya seiring berjalannya waktu sempat meredup apabila saya tidak membujuk hati saya agar lebih keras untuk bergerak mengayunkan langkah kaki menuju kampus untuk mengikuti pelatihan hingga tuntas. Satu motivasi yang hinggap di dalam diri saya kala itu adalah saya ingin berhasil maka dari itu saya harus melebihkan usaha di atas rata-rata usaha orang lain.

Apakah nyaman dengan pilihan itu? Apakah cukup sekedar keingian kuat? Jawabannya, tidak. There are no growth ini comfort zone and no comfort in growth zone. Saya setuju dengan ungkapan itu. Tidak ada perkembangan di lingkungan yang kamu anggap nyaman dan tidak ada kenyamanan di dalam zona di saat kamu sedang berkembang. Karena melalui itu saya melawan intuisi untuk merehatkan pikiran di akhir pekan. Karena akhir pekan adalah saat yang tepat untuk merehatkan jiwa dari kesibukan yang membuat penat. Bahwa akhir pekan adalah saat di mana orang-orang mengisinya dengan jalan-jalan, belanja ke Mall, nonton bioskop dengan orang-orang tercinta, dan aktivitas lainnya yang memiliki kesamaan tujuannya yaitu me-refresh diri menghilangkan kelelahan dan kepenatan selepas bekerja saat weekdays.

Memanggil kembali motivasi awal itu yang saya lakukan. Saya memilih jalan ini dan saya menerimanya dengan satu paket risiko di dalamnya. Risiko lelahnya berfikir, risiko uang tabungan yang berkurang, dan risiko ketemu dengan orang tua dan saudara yang berkurang Oleh karena itu dengan tingkat risiko yang harus saya pikul, maka saya berusaha mengikuti pelatihan dengan kesungguhan. Dengan kata lain, saya berani memulai memilih jalan ini, maka sudah menjadi kewajiban saya berupaya konsisten mengikuti pelatihan ini hingga selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh penyelenggara pelatihan.

Ada ungkapan juga, setiap individu adalah hasil dari pengaruh individu-individu yang ada di sekitarnya. Meski begitu, sejatinya dalam diri manusia memiliki filter untuk memilih jalan sesuai kehendak yang ada di hatinya. Ia berhak menolak dan menerima pengaruh dari orang lain. Karena ia sadar bahwa ia memiliki tujuan yang spesifik. Maka ia memutuskan untuk memulai langkah menuju tujuan itu. Tak mengapa, apa yang lakukan kebaikan masih terbilang  kecil namun konsisten. Karena dengan begitu ia sedang membangun ‘batu bata’ yang kelak akan menopang keberhasilan untuk dirinya.

Saya pun salah satu dari individu itu. Saya ingin mengembangkan potensi dan meningkatkan keterampilan dengan belajar sebagai medianya. Karena menurut saya, mengisi akhir pekan untuk aktivitas belajar pun adalah langkah nyata untuk menghargai waktu dan mendekatkan diri menuju cita-cita yang diharapkan. Saya percaya orang-orang yang tak pernah lelah untuk belajar, untuk berbuat kebaikan, Allah akan memberi jalan kemudahan kepadanya untuk menjalani prosesnya hingga tuntas.

2 Pendidikan dan Pelatihan (diklat) yang saya ikuti adalah yang pertama, Pajak Terpadu brevet A & B selama kurang lebih enam bulan (Maret – Agustus 2017) setiap hari Minggu pukul 08.00 – 12.00. Yang kedua, Public Speaking yang diadakan selama 4 kali pertemuan tiap hari Minggu (September 2017) pukul 08.30 – 15.00. Kedua diklat tersebut di selenggarakan oleh Divisi Pendidikan dan Pelatihan Universitas Indraprasta PGRI.

Ada nasihat lama, “ Nak, ketahuilah waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Saat kamu menanam pohon pada 20 tahun yang lalu. Maka hari ini kamu akan menikmati hasilnya. Pohon itu tumbuh besar. Daun-daunnya rimbun membuat teduh orang-orang yang berada dibawahnya. Ranting-ranting yang sudah cukup tua dengan alami berguguran menjadi kayu bakar yang bisa digunakan untuk memasak. Pada musim tertentu pohon itu menghasilkan buah-buah yang segar yang dapat di makan olehmu dan orang-orang disekitarmu.”

“Tetapi saya baru mendengar nasihat itu hari ini. Masih adakah waktu terbaik untuk menanam kebaikan itu?” “Jawabannya, waktu terbaik kedua adalah hari ini. Nak, ingatlah tanamlah kebaikan dan kebiasaan yang baik mulai hari ini. Kembangkan potensi yang ada dalam dirimu mulai hari ini. Lakukan aktivitas yang nyata untuk mewujudkan keberhasilanmu mulai hari ini. Karena kalau kamu lalai lagi, maka waktu akan melesat sangat cepat bagai panah yang melesat kencang dari busurnya.”

Begitulah perumpamaan menanam benih-benih keberhasilan. Di dalamnya terdapat kegigihan, semangat yang kokoh, kemauan yang kuat, disiplin, kesabaran, dan doa.

Rabbi zidnii ‘ilman war zuqnii fahman (Ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku pemahaman atas ilmu tersebut)

 

Jakarta, 25 September 2017

 

 

Hikmah Dibalik Kegagalan

Dalam hidup kita selalu menghadapi situasi dimana kita harus memilih. Banyak jalan yang terbentang luas dimana kita perlu memutuskan jalan mana yang akan dipilih. Lalu setiap pilihan hidup selalu beriringan dengan risiko. Terkadang kita perlu diingatkan kembali pada titik kita memilih sebuah jalan, sebuah keputusan, hasil yang kita dapatkan selalu berkaitan dua sisi, ada yang memuaskan dan ada yang mengecewakan. Sebagai sebuah fase yang harus dilalui, sering kali diri kita tidak siap atau lebih cenderung tidak mau mempersiapkan diri untuk menerima hasil yang membuat kita kecewa.

Dari sana kita belajar arti kebahagian.  Arti kesabaran. Kehidupan ini tidak selalu menjanjikan kesenangan. Karena kehidupan selalu menjanjikan ujian, cobaan, dan jalan yang terjal dan berliku yang harus dilalui. Melalui cobaan kehidupan itu respon dan sikap kita di uji. Apakah kita membiarkan dengan pasrah kesedihan dan kekecewaan sehingga keduanya membuat kita terlena dan merampas kebahagian kita? Ataukah kita berbuat sesuatu untuk bangkit dari keterpurukan itu untuk mengejar harapan-harapan baru?

Kita berupaya seberat apapun masalah yang ada di pundak kita, kita tetap bisa berbuat, kita bisa melanjutkan kehidupan, kita bisa meneruskan jalan ini meskipun dengan langkah tertatih-tatih namun pasti. Kita perlu mengelola emosi dengan pertimbangan akal sehat. Kita perlu berkaca pada diri sendiri apakah aktivitas yang kita kerjakan sudah terfokus denga apa yang kita rencanakan sejak awal. Kita perlu menyediakan ruang untuk meluapkan keluh dan kesah yang hinggap ke dalam diri kita. Bukan untuk sekedar mengisi waktu luang, namun untuk mencari makna atas setiap kejadian yang sudah terlewat.

Orang-orang yang mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kegagalan-kegagalan masa lalu adalah orang yang bijaksana. Ia berusaha memetik hikmah dari apa yang sudah terlewat. Ia berupaya untuk tidak jatuh pada jurang kesalahan yang sama dengan yang sebelumnya. Ia juga menyiapkan strategi untuk meminimalisir kegagalan. Ia tidak merumuskan itu sendiri. Di sisinya, ada orang-orang yang tulus mendampinginya, menguatkannya di saat ia jatuh, menasihatinya di saat mental semangat juangnya melemah. Ia tidak malu meminta nasihat dari orang-orang yang ia anggap amanah dan mampu memberi penerang di kala hatinya gundah dan diliputi kesedihan.

Dari sana ia memahami sepahit apapun pengalaman selalu menyimpan sisi kebaikan. Kebaikan itu tidak muncul dengan serta merta. Ia perlu membujuk dirinya untuk tetap tegar menjalani roda kehidupan ini. Ia butuh meluapkan emosi yang mengendap hingga menyesakkan hatinya melalui raut wajah yang sedih, melalui gerak tubuh yang menjelaskan kondisi hatinya ia sedang tidak stabil, melalui tangisan, melalu doa-doa panjang yang ia ungkapkan penuh kejujuran. Ada luka yang ia ingin sembuhkan dari sebuah pengalaman pahit itu. Ada harapan baru yang ia ingin rajut kembali. Ada perjalanan baru yang harus di tempuh hingga tuntas.

Kesuksesan itu bukan tentang siapa yang lebih dahulu memulai perjalanan. Namun kesuksesan itu adalah tentang siapa yang meniti langkah secara konsisten hingga ia tiba sampai tujuan. Ia menjadikan kegagalan di masa lampau menjadi ‘batu bata’ yang membuat jiwanya semakin kokoh. Ia merasa bahagia bahwa pada titik optimis terendah sekalipun, ia bisa bangkit dan melaluinya dengan hati yang lapang.

Meresapi setiap lekuk kehidupan sejatinya membuat jiwamu semakin kaya akan pengalaman. Dari pengalaman itu kamu memperoleh persepsi yang baru, wisdom, rasa sabar yang semakin mendewasa, dan rasa ikhlas yang semakin merekah. Kamu menjadi pribadi yang lebih aware dan mencintai dirimu sendiri, kamu menjadi pribadi yang memiliki empati kepada orang lain yang sedang memiliki masalah hidup yang sama pernah di alami, dan hubungan dengan orang-orang terdekat kamu juga semakin erat. Kamu juga semakin percaya bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus tidak menginginkan kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Mereka akan berusaha menemanimu melewati masa-masa itu, memberikan energi kepadamu agar kamu tidak terus-menerus dalam kondisi terpuruk, agar terukir kembali senyuman menghiasi bibirmu, agar kamu tidak merasa menanggung beban masalah itu sendirian.

 

Jakarta, 20 Juli 2017

Membangun Komitmen Diri

Dua bulan yang lalu usia saya beranjak dua puluh lima tahun. Saya tidak mengadakan perayaan akan hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang spesial. Hari itu saya hanya berdoa penuh syukur kepada Allah atas nikmat usia yang telah di amanahkan kepada saya. Saya masih diberi amanah untuk menapaki kehidupan yang berarti amanah itu harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Saya juga memohon doa kepada-Nya agar diberikan kekuatan dan keteguhan iman untuk meniti jalan yang di ridhoi-Nya.

Beberapa kawan saya memberi ucapan selamat ulang tahun dan mendoakan hal yang baik-baik kepada saya. Saya berterima kasih dan meng-aaminkan setiap doa yang disampaikan itu. Ada juga yang memberikan kado sebagai hadiah ulang tahun. Diantara mereka ada juga kawan saya yang mendoakan, semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang solehah. Mendengar kalimat itu, saya tersenyum penuh harapan. Setiap doa adalah kebaikan. Kebaikan kepada orang yang berdoa dan kebaikan kepada orang yang di doakan.

Saya merenung mengingat kembali rekaman perjalanan yang sudah saya lalui hingga beranjak di usia ini. Melihat sisi kedewasaan yang mulai tumbuh. Kedewasaan yang diraih melalui proses panjang hingga menyatu menjadi kepribadian. Hingga sampai pada titik saya bertanya ke dalam diri saya sendiri, apa yang membuat saya bahagia? Bagaimana saya memperjuangkan kebahagiaan itu? Sejauh mana saya berusaha mewujudkan kebahagiaan itu selama ini? Apakah waktu yang sekian lama dilalui membuat saya terlena dalam kebahagiaan dari sudut pandang materi kebendaan semata? Bukankah sifat dunia adalah kefanaan, kesemuan, dan kesementaraan?

25 Mei 2017, saya menghadiri seminar Tarhib Ramadhan di Aula Gema Insani Kalibata, Jakarta Selatan. Seminar ini di selenggarakan oleh Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations . Ada dua pembicara dalam seminar ini, yaitu Ust. Fahmi Salim, M.A. dan Ust. Dr. Syamsuddin Arif. Bebarapa isi materi saya rangkum menjadi catatan saya dan say tuliskan kembali dengan niat setiap nasihat kebaikan menjadi pendorong untuk giat meningkatkan amal soleh. Karena pada akhirnya yang akan dibawa oleh manusia setelah ia meninggal dunia adalah iman dan amal soleh.

Ust. Fahmi Salim M.A. menyampaikan, “Dalam tafsir Al-Manar karya Syeikh Rasyid Ridha dikutip dari gurunya, Syeikh Muhammad Abduh : “Di pilihnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan adalah sebagai bentuk syukur atas turunya Al-Qur’an. Hal ini adalah bagian dari intisari surat Al-Baqarah ayat 185. Penjelasan Syeikh Muhammad Abduh yang termuat dalam tafsir Al-Manar mengenai perintah berpuasa adalah bentuk rasa syukur atas turunnya Al-Qur’an sangat logis. Karena maqashid (tujuan) dari perintah berpuasa sangat erat dengan maqashid  (tujuan) diturunkannya Al-Qur’an yaitu pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Ketakwaan sebagai sebuah sistem hanya bisa dijelaskan  dalam  Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 2). Kedua, memperbaharui komitmen terhadap Al-Qur’an. Pancaran kesucian jiwa merupakan hasil dari  ibadah puasa dan komitmen diri terhadap  nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hanya orang-orang yang lahir dari proses penyucian diri dengan berpuasa akan menjadi pribadi yang berhasil, pribadi yang mampu mengemban risalah Al-Qur’an.”

“Kesimpulan dari bagian ini adalah puasa adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah dan Al-Qur’an adalah obat segala penyakit. Apa tanda jiwa yang sehat? Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bahagia. Puasa membahagiakan jiwa. Dengan berpuasa Allah menjadikan fisik kita lemah, syahwat kita di ikat, tenggorokan kita dibuat haus. Saat berpuasa, fisik kita  memang tidak diberi makan namun hakikatnya jiwa yang diberi makan. Semua proses itu dilalui dalam rangka membahagiakan jiwa dan membersihkan hati. Orang-orang yang berpuasa jiwanya akan sehat dari  penyakit-penyakit hati. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 82 : “Dan Kami turunkan Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ust. Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan materi mengenai kesolehan pribadi. Beliau menyampaikan, “Kesolehan pribadi adalah tanggung jawab setiap individu. Kamu sendiri yang harus melalui satu anak tangga ke anak tangga yang lainnya, dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Kamu sendiri yang harus bergerak mengusahakan, menyempurnakan satu level kebaikan menuju level selanjutnya dimana setiap level memiliki tantangan dan hambatan. Orang lain hanya bisa menasihati, menunjuki jalan yang benar, memberikan teladan yang baik, memotivasi untuk untuk meningkatkan amal soleh, namun kamu sendiri yang harus membujuk diri, menggerakkan diri penuh kesadaran,  keikhlasan, dan kesabaran untuk menyempurnakan setiap kebaikan.

“Sabar itu seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’kub ‘Alaihis salam dalam menanti perjumpaan dengan  anaknya , Nabi Yusuf ‘Alaihis salam setelah sekian tahun berpisah. Kita dengam mudah membacanya dalam Al-Qur’an surat Yusuf –dalam surat tersebut kisah Yusuf dikisahkan dengan sangat lengkap dari awal hingga akhir surat. Tapi kita tidak merasakan bagaimana perasaan Nabi Ya’kub melewati kesedihan di hari-hari yang dilaluinya karena kehilangan anak yang sangat dicintainya. ”

Untaian nasihat dari beliau membuat saya sadar bahwa saya yang bertanggung jawab pada diri sendiri. Saya sendiri yang harus berdisiplin dalam beragama. Karena agama adalah ranah keyakinan yang ada di dalam hati, bukan ranah pemikiran. Keyakinan yang terpatri kokoh dalam hati memancarkan ketenangan hati dan keteduhan akhlak. Tanpa adanya kesadaran yang ikhlas dari hati dan semangat memperbaiki diri, perubahan diri akan sulit terwujud. Karena kesolehan pribadi bersumber dari keyakinan yang mendasar pada nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang kemudian keyakinan itu terwujud melalui amal soleh dan akhlak yang baik sebagai tanggung jawab dan ketaatan sebagai seorang muslim.

Menghadiri majelis ilmu seperti ini membuat saya mempunyai persepsi yang baru mengenai kesolehan dan penyucian diri. Saya menjadikan majelis ilmu menjadi sarana untuk menambah ilmu dan pemahaman, menjadi bahan untuk mengevaluasi diri –melihat lebih jernih apa-apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, menjadi nutrisi yang menambah keimanan. karena sejatinya, tubuh manusia harus diberi asupan yang seimbang, yaitu asupan fisik dan asupan ruhani. Keduanya adalah kebutuhan setiap manusia yang harus dipenuhi agar hidupnya seimbang dan bermakna. Dan hikmah terpenting dari menghadiri majelis ilmu adalah memperbaharui semangat untuk menata diri lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 18 Juli 2017

 

Part of Life

“Hidup itu perlu direnungkan, tidak cukup hanya dilakoni.”

(Socrates)

 

Menjadi orang yang bahagia adalah idaman setiap insan. Bahagia adalah kata sifat yang ringan diucapkan namun dalam mewujudkannya butuh diperjuangkan. Setiap kita terlahir memiliki daya dan kemampuan untuk mengusahakan kebahagian itu. Kemampuan merasakan kasih sayang dari orang-orang yang kita cintai, kemampuan berempati dengan kehidupan orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kemampuan menentukan sikap dan memberi respon dari masalah yang sedang di hadapi oleh diri sendiri. Kemampuan itu bersifat dinamis, berkembang seiring dengan waktu yang terus bergerak sesuai pengalaman hidup yang sudah dilalui.

Hakikat kehidupan adalah persinggahan sementara untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sudah ditentukan untuk menuju negeri akhirat. Kehidupan selalu menjanjikan ujian. Karena ujian pasti di alami setiap manusia, namun kondisi mental kita terkadang tak stabil dan kondisi hati tak menentu. Oleh karena itu kita membutuhkan energi-energi positif dari orang-orang terdekat yang menyayangi kita. Mereka itu bisa jadi adalah orang tua kita, kakak atau adik kita, teman kita, rekan kerja kita, atau guru kita. Maka benar ungkapan, manusia menjadi utuh saat ia berinteraksi dengan sesamanya. Karena ada sisi ruang dalam diri manusia dimana ruang itu  tidak cukup  menyimpan semua perasaan, semua masalah, semua harapan itu dengan sendirian. Ia butuh menyediakan ruang lain untuk berbagi dengan sesamanya untuk sekedar berbagi cerita, berbagi keluh kesah, dan berbagi semangat sebagai sarana berekspresi. Dan berekspresi adalah bagian kebutuhan manusia.

Tak perlu malu menceritakan masalah yang kamu hadapi kepada orang yang kamu percaya dia bisa amanah menyimpan kisah kehidupanmu. Kecewa adalah proses, menangis adalah proses, bersedih adalah proses.  Rasa kecewa, sedih, menetaskan air mata karena luka yang begitu mendalam bukan sesuatu yang menunjukkan kelemahan dirimu.  Dengan bersedih, kecewa, menangis, berharap, kamu telah mengekspresikan segenap perasaan yang hinggap di hatimu dan sekaligus menunjukkan sisi-sisi manusiawi yang ada dalam dirimu. Dirimu lebih tahu apa yang ada di hatimu dan perasaan apa yang sedang menyentuh hatimu. Dengarkan suara hatimu, lalu ajak ia berdialog untuk menarik kesimpulan yang terbaik yang kelak akan kamu jadikan pijakan dalam menentukan langkah kamu selanjutnya.

Rasa kecewa dan sedih, sikapi sewajarnya. Tak perlu berlama-lama, apalagi membuat optimis hidup luntur. Keduanya jangan dijadikan alasan untuk segera bangkit dan berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Segera beranjak, menjemput harapan baru dengan hati yang baru. Biarkan waktu menjadi saksi atas setiap ikhtiar yang kamu kerjakan. Orang-orang yang menyayangimu dengan tulus menginginkan dirimu yang selalu optimis, selalu riang, selalu semangat, dan selalu menjadi dirimu sendiri.

Terkadang kamu perlu meluangkan waktumu untuk merenung dan berdiam diri. Berdiam diri dalam arti melihat seberapa jauh tapak langkahmu selama ini telah kamu tempuh, berapa banyak pencapaian dalam kehidupan yang sudah kamu raih dan berapa banyak rencana yang belum terealisasi, dan berapa banyak perbaikan yang akan kamu lakukan untuk menyempurnakan langkahmu sebelumnya. Bagaikan seorang musafir yang sedang duduk di bawah pohon rindang melepas lelah setelah melewati perjalanan yang panjang di bawah matahari yang terik. Ia menjadikan istirahat menjadi bagian dalam perjalannya. Istirahat itu ia jadikan untuk mengumpulkan energi-energi baru untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Pun demikian, manusia pun seharusnya menjadikan proses bermuhasabah (merenung sambil berintrospeksi diri) menjadi part of life (bagian dalam hidup) untuk mengukur sudah sesuaikah jalan yang di lalui menuju tujuan awal? Bekal apa yang butuh dipersiapkan untuk perjalanan selanjutnya? Apakah ia mampu memanfaatkan bekal yang dibawa secara efektif hingga mencukupi hingga akhir perjalanan? Dengan perjalanan sejauh ini, apakah rasa sabar dan syukur dalam dirimu semakin meredup ataukah semakin menyala?

Untuk meraih kebahagian, kamu yang harus berproses dari satu tahapan kehidupan ke tahapan selanjutnya. Orang lain di sekitarmu hanya mampu menasihatimu, mengingatimu agar kamu berjalan sesuai rambu-rambu yang berlaku, mengajakmu berlomba dalam kebaikan, dan memberitahumu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Namun kamu sendiri yang harus berproses melewati satu anak tangga ke tangga berikutnya, dari satu level ke level selanjutnya. Dari satu titik kedewasaaan menuju ke titik kedewasaan selanjutnya. Proses itu dijalani sepenuh hati diiringi dengan rasa sabar yang kokoh.

Jakarta, 27 Mei 2017

2 Ramadhan 1438 H