Monthly Archives: May 2015

Usia Baru, Semangat Baru

26 Mei 2015. Segala puji bagi Allah, saya memasuki usia ke-23. Di usia baru ini ada beberapa impian yang saya ingin capai. Membuat planning (rencana) yang hendak dicapai dengan sendirinya akan memotivasi dan menyemangati diri untuk berusaha meraihnya. Ini caraku untuk mensyukuri waktu yang ada. Langkah kecil ini yang kemudian hari menjadi pelecut semangatku apakah planning itu tercapai atau tidak. Ada istilah “kegagalan merencanakan sesuatu sama saja dengan merencakan kegagalan.” Benarkah? Kalau dipikir lebih dalam ada benarnya juga. Orang yang punya agenda harian biasanya lebih menghargai waktu dibanding dengan orang yang tidak memiliki agenda harian. Dia berusaha mengerjakan satu per satu agenda yang ditulisnya di malam sebelumnya. Selain menghargai waktu, orang yang punya agenda harian lebih terarah dan dinamis hidupnya. Dia sudah menjadwalkan jam sekian untuk apa, bertemu siapa, mengerjakan apa. Orang seperti inilah yang sedang berproses untuk mencapai keberhasilan. Karena baginya keberhasilan bukan hal yang mudah diraih, hal yang langsung jadi. Keberhasilan adalah buah jerih payah usahanya dari keberhasilan hari-hari sebelumnya yang dilalui (akumulasi dari keberhasilan di hari-hari yang lalu). Didalam prosesnya ada keringat, ada rasa melawan rasa jenuh yang sangat, ada mata yang kurang tidur, ada doa-doa yang panjang yang dimohonkan kepada Yang Maha Kuasa.

  1. Ingin Bisa Bahasa Inggris

Bahasa adalah keterampilan. Bukan bakat dan bisa dipelajari setiap orang. Saat ini saya sedang menabung untuk persiapan kursus dan mencari info pembukaan pendaftaran di beberapa lembaga kursus bahasa inggris. Dari sekian lembaga kursus bahasa inggris kecenderunganku memilih lembaga kursus LIA Pasar Minggu. Walau masih belum tahu seluk beluk LIA, tapi yang saya tahu dari seorang temen di CCE, Kak Bima, LIA itu biayanya terjangkau (mungkin sekarang sekitar Rp 800.000 /tingkatan) dan ada kelas karyawan (kelas malam sampai jam 21.00. Selain itu LIA Pasar Minggu letaknya dekat dengan rumah, tempat kerja dan kampus. Jadi nantinya akan menghemat waktu dan biaya transportasi. Yang saya pahami, lembaga kursus itu punya nilai lebih tersendiri dalam membuat motivasi belajar bahasa, karena pada setiap lembaga kursus itu seperti halnya lingkungan / komunitas yang didalamnya terdapat orang-orang yang memiliki keinginan yang sama yaitu sama-sama ingin bisa berbahasa inggris. Komunitas ini yang menjadi pelecut semangat belajar bahasa Inggris.

Menurut temen OWOP (komunitas menulis oneweekonepaper) Mbak Rima dan Mbak Nana bilang “Sebenarnya orang yang belajar bahasa asing ada dua tujuannya, yaitu ada yang lancar bicaranya dan ada yang mau benar-benar paham tata bahasanya. Nah dilihat dulu mau yang mana, jadi teknik belajarnya pun bisa diarahkan. Kalau untuk bisa berbicara (speaking), maka cara terbaiknya sering ngomong bahasa Inggris sama siapa aja. Perbanyak percakapan (conversation) dengang orang-orang yang dikenal. Kalau belajar bahasa untuk bisa mengerti grammar (tata bahasa) efektifnya ikut kursus bahasa. Selain dua hal itu, dalam belajar asing jangan pernah alergi dengan huruf-huruf aneh, pola kalimat yang beda-beda dan kata-kata yang aneh.”

  1. Ingin memperbanyak hafalan Qur’an

Ini inspirasi dari sahabatku yang sekarang sudah menjadi guru di Ma’had Baiturahman di Bandung. Mengapa? Pertama, komitmen seorang muslim untuk mau membaca, men-tadabburi dan menghafalkan Al-Qur’an. Diawali dengan semangat kebaikan yang sederhana berharap Allah memudahkan dan merahmati orang-orang yang membaca dan menjaga ayat-ayat –Nya. Kedua, dengan membaca dan menghafalkannya membuat diri semakin menghargai waktu. Mengurangi baca status bbm orang, main gadget yang terlalu sering dan memanfaatkan waktu senggang di kala libur kerja dan libur kuliah. Bagaimana kiat-kiatnya? (sudah saya tulis di tulisan sebelumnya yang berjudul bersama sahabat) so silahkan dibaca.

  1. Ingin menulis cerpen dan novel

Untuk target ini bisa dibilang agak berat bagi saya. Tapi gak apa-apa, kan hanya menulis cerpen atau novel, syukur-syukur ada penerbit mayor yang melirik karya saya nantinya. ini menjadi sarana saya untuk serius dalam menulis. Apalagi sudah hampir tiga bulan saya ikut komunitas Oneweekonepaper (OWOP). Bagi yang belum tahu OWOP silahkan kunjungi website www.oneweekonepaper.com. Bagi saya menulis itu menyusun kalimat demi kalimat yang didalamnya ada pesan kebaikan dan sebagai amal kebaikan yang akan ditinggalkan dalam kehidupan yang sementara.

Saya sangat berharap dan terus berharap bisa mewujudkan ketiga impian ini diusia ke dua puluh tiga ini. saat ini saya sedang belajar. Belajar menghargai waktu, mensyukuri hidup untuk aktivitas yang bermanfaat. Belajar tidak mengenal waktu. Belajar adalah proses perubahan mental. Belajar adalah proses pendewasaan diri. Kata Mas Ahmad Rifa’i Rif’an, “Bukan usia yang membuat kita makin dewasa. Yang membuat kita dewasa adalah pengalaman, hikmah, serta beragam persoalan yang kita hadapi dengan bijak.” Nanti disaat saya meninggalkan usia kedua puluh tiga ini dan beranjak ke usia selanjutnya ketika tiga impian itu tercapai tidak tahu perasaan apa yang muncul dihatiku. Mungkin saya akan bersujud syukur mengikhlaskan usia duapuluh tiga itu sambil tersenyum tulus. Bersimpuh menengadahkan tangan kepada Yang Maha Kuat, “Ya Robb, terimakasih untuk satu tahun yang Engkau berikan ini, hamba bisa mengenal-Mu lebih dekat, hamba bisa menerima segala ketentuan-Mu dan hamba bisa membanggakan orang-orang yang menyayangi hamba.”

 

 

Selamat  Hari Lahir

Nasyid : Saujana

 

Awan berarak ceria

Tiada titisan hujan

Pohon melambai

Tanda sokongan

 

Ku susuri perjalanan

Bertemankan senyuman

Di hari lahirmu sahabatku

 

Deadaunan berguguran

Membuktikan kedewasaan

Walau tanpa madah dan hadiah

Namun cukup bagiku

Sekadar ucapan

 

Selamat hari lahir

Iringan doaku hulur

Bersyukur kepada-Nya

Atas nikmat usia

 

Sahabatku

Usia yang Tuhan kurniakan ini

Di hiasilah ia dengan amalan yang murni

Semoga ia menjadi temanmu diakhirat nanti

Selamat hari lahir

 

Usiamu ibarat mutiara

Tiada berganti lagi

Hiaskan iman bersulam taqwa

Agar sempat mengucup

Haruman syurgawi

 

 

Bersama Sahabat

Sabtu, 16 Mei 2015

“Ron,” saya mendengar suara yang saya kenal. Ya betul di seberang jalan ada seseorang yang memanggil namaku. Saya tidak bisa menahan tersenyum. Ya Tuhan, terimakasih sudah mempertemukanku dengan sahabat baikku di kota ini. Siang itu Bandung cuacanya cukup cerah. Terasa sekali sejuk udara disini. Dan jalan raya nya tidak sepadat Jakarta. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam dari Jakarta, akhirnya saya tiba di Padalarang, Kab. Bandung Barat.

Walid Abdirrahman, itulah nama sahabatku. Ini pertemuanku yang pertama sejak lima tahun terakhir. Dia tersenyum lembut kepadaku. Berjabat tangan sambil menanyakan kabar saya sekarang. Lima tahun terakhir. Tidak disangka dengan takdir Allah kembali mempertemukan saya dengan sahabatku di tempat yang berbeda dan kondisi yang berbeda. Dia menurutku adalah sahabatku yang selalu menjadi partner dalam berkarya, berlomba dalam kebaikan selama di yayasan bekasi beberapa waktu yang lalu. Dengan dirinya saya menemukan teman yang memiliki kesamaan visi menjadi muslim yang taat. Teman yang tidak pernah mengenal lelah untuk menyemangati, untuk menemani, untuk mendorong meneguhkan lakukanlah bila itu kebaikan. Teman yang selalu peduli, ceritalah apa yang dirasakan, ada masalah apa? Apa yang bisa saya bantu? Teman yang enak diajak diskusi banyak hal. Diskusi tentang sebuah keinginan, tentang rencana beberapa tahun ke depan, tentang buku-buku yang pernah dibaca, tentang masa-masa di asrama dimana kami sama-sama menyimak hafalan Al-Qur’an (muroja’ah) secara bergantian. Semua itu masih terekam jelas dalam ingatanku. Bersamanya, saya merasa tidak perlu ragu melangkah, tidak perlu takut mencoba, tidak perlu memendam sendiri persoalan yang ada karena dia selalu mau mendukungku dan membantuku menggapai harapan-harapan yang ada waktu itu dan juga kini. Begitupun sebaliknya.

Kini, saat bertemu dengannya kembali saya merasa tertinggal jauh dalam hal mempelajari ilmu agama. Dirinya sekarang sudah menjadi pengajar di sebuah Ma’had Baiturrahman (Ma’had Tahfidzul Qur’an) di Bandung. Dia sudah menjadi barisan penjaga dan penghafal Qur’an. Sedangkan saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk dunia. “Tidak semua orang Islam itu dipilih untuk menjadi generasi yang tafaqquh fid diin ron, tetapi sebagian juga bisa berjuang demi Islam dengan harta dan jiwa ron. Coba kamu baca sejarah bukankah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Khalid bin Walid ra jumlahnya sedikit dibanding hadits yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik ra. Karena memang Khalid bin Walid lebih banyak berjuang dengan jiwanya untuk menegakkan Islam.“ Jawabnya ketika saya mengeluhkan saya lebih banyak mengejar dunia. Hatiku membenarkan. Saya menangkap pesan dari kalimat yang diucapkannya itu apapun profesi kita sekarang ini seorang muslim bisa berdakwah dan memperjuangkan Islam dengan cara yang dimampui.

“Ron, Sebenarnya mengahafal Al-Qur’an itu gak sulit bagi orang yang sibuk sekalipun. Ada dua caranya pertama, mesti fokus dalam arti komitmen sehari mau menghafal dan mau me-muroja’ah (mengulang hafalan). Dua-dua mesti bersamaan dilakukan. Misalnya, waktu fokus menghafal pagi hari sebelum berangkat kerja setengah jam atau lebih. Dan waktu muroja’ahnya malam sebelum tidur. Setiap orang punya waktu fokus yang berbeda. Kedua, jadikan setiap orang yang sudah bisa membaca Al-Qur’an, bisa orang tua, teman kerja, teman kuliah sebagai tempat (wadah) mendengarkan hafalan kita.” Pesan Walid untuk saya sore itu setelah mengajar tahsinul Qur’an anak-anak kecil berusia TK dan SD.

Sore itu saya berjalan-jalan di sekitar Ma’had. Melihat anak-anak yang belajar Al-Qur’an dengan semangatnya. Melihat rumah-rumah yang letaknya di bukit-bukit. Melihat kendaraan yang berlalu lintas. Menghirup dan merasakan udara daerah ini. Sungguh sejuk sekali udara di sini. Sesekali angin menerpa dan menyapa wajahku. Menyisakan kesan tersendiri akan kesejukannya. Melihat pemandangan langit  Bandung sebelum senja.

Malam itu saya berpamitan dengan Walid dan Pimpinan Ma’had, Ustadz Iwan. Ustadz Iwan sempat menawari saya menginap di Ma’had malam ini. Dengan bahasa halus saya menjawab saya mau pulang malam ini karena besok pagi ada jadwal kuliah.

 

 

 

 

Sepenggal Harapan Sederhana

 

Sudah memasuki bulan Mei. Bulan ini saya dilahirkan. Kalau ingat usia yang semakin menua, ingin rasanya mengejar kebaikan-kebaikan yang belum dilaksanakan. Rencana-rencana hidup yang  masih tertunda, ingin sekali mencapainya dengan segenap usaha yang dimampui diri. Diriku yang selama ini mencoba menjadi pribadi tangguh, tapi ternyata tidak setangguh yang kukira. Saya berusaha menutupi kerapuhan jiwa ini dengan selalu mengatakan kepada diri sendiri, saya baik-baik saja. Saya yang ingin bercerita banyak hal yang saya rasakan dari kehidupan ini, tetapi tak kunjung berani menceritakan itu. Tentang rasa jenuh, tentang rasa khawatir, tentang harapan-harapan diri yang kadang hadir tapi saya masih saja berdiam diri. Dalam banyak hal, saya memilih menyendiri. Lebih banyak curhat kepada Allah tentang segenap rasa yang saya rasakan. Setelah shalat, saya selalu berdoa agar dikuatkan diri, dikokohkan jiwa dalam menjalani hidup. Doa sumber kekuatan bagiku tersendiri. Ketika saya merasa saya tidak kuat menanggung semua beban kehidupan, ketika semua usaha sudah dicoba, saya menengadahkan tangan dengan kerendahan diri, “Ya Allah Yang Maha Kuat, bila langkah-langkah kaki saya menuju suatu tempat ke tempat lain, usaha demi usaha yang saya lakukan adalah bagian ikhtiarku untuk mengakhiri potongan masalah yang sedang saya hadapi, maka bantulah saya mendapatkan solusi dari persoalan hidup yang sedang saya hadapi.”

Saya tidak pernah tahu bagaimana perjalanan ini akan berakhir. Tapi saya percaya setiap jengkal usaha yang saya lalui demi memperbaiki diri, demi menjemput janji-janji masa depan tidak pernah menjadi suatu yang sia-sia. Tapi saya meyakini Allah selalu menyertai dan menolong orang-orang yang berbuat baik. Hatiku menguatkan, saya ikhlas menjalani hidup dengan kondisi ini jika memang ini jalan takdir Allah untukku. Saat mengucapkan kata ikhlas itu, saya tahu betapa dalam makna kata itu. Sungguh kata itu menggetarkan relung hatiku yang paling dalam. Kata itu mengajariku tentang arti penerimaan yang tulus tentang arti kehidupan.

 

 

Panggilan Hati

 

Kamis, 30 April 2015. Hari ini begitu mengesankan. Mengapa? Ya gak kenapa-napa juga. Penasaran? Baiklah, saya mulai bercerita.

Bermula dari dosen mata kuliah Manajemen Umum Bapak Syahidin yang menyampaikan materi tentang motivasi. Menurut beliau, “Motivasi adalah dorongan yang menggerakkan seseorang berubah ke arah yang lebih baik. Motivasi yang kuat selalu dilandasi adanya tujuan yang ingin dicapai. Sama seperti kalian malam ini hadir kuliah malam ini pasti punya tujuan yang hendak dicapai bukan?”

Di tengah perkuliahan Pak Syahidin bertanya ke beberapa mahasiswa dengan menunjuk langsung. Salah satunya saya.

“Apa motivasi kamu kuliah?,”  tanya beliau dengan suara yang terdengar agak tegas.

“Saya ingin menjadi seorang pendidik Pak.” Jawabku seketika itu juga. Ya memang jawaban itu yang ada dalam pikiranku. Aku ingin menjadi seorang pendidik.

Terlihat raut wajah pak syahidin kaget mendengar jawaban dari saya. Berhenti sejenak. Beliau berkata, “Menjadi guru itu adalah panggilan hati. Beda guru-guru zaman dulu dengan guru-guru saat ini adalah pada moralitasnya. Guru zaman dulu mendidik anak muridnya agar anak muridnya pandai. Agar anak muridnya memahami pelajaran yang disampaikan. Dengan sabar dan kasih sayang guru-guru zaman dulu berjuang dengan tulusnya mendidik denga hati. Tanpa memandang latar belakang muridnya. Dia menyadari bahwa mengajar dan mendidik dengan hati bagian dari tanggung jawab moral seorang guru. Dia hanya ingin anak muridnya berhasil dalam belajar. Berbeda sekali dengan guru zaman sekarang ini. Sebagaian dari mereka masih melihat latar belakang sosial muridnya. Yang cenderung berorientasi pada materialistis. Masih saja ada ucapan-ucapan guru yang membentak, berkata kasar kepada murid yang dari keluarga sederhana (keluarga menengah ke bawah) hanya karena murid tersebut belum mengerti soal matematika atau pelajaran lain.”

Sebagai mahasiswa pendidikan, saya terkejut mendengar penjelasan Pak Syahidin tentang mental sebagian guru-guru zaman ini. Dimana letak keteladanan seorang guru? Yang sudah tidak mau memotivasi dan menyemangati muridnya ayo belajar yang tekun, ayo banyak membaca buku, kurangi waktu bermain. Tapi malahan, menjelekkan murid di depan umum, membedakan-bedakan murid yang satu dengan murid yang lain dengan melihat latar belakang sosial muridnya. Perbuatan tidak mendidik itu menyakiti hati peserta didik, membuatnya minder, percaya dirinya menurun. Kalau saja saya mendengar langsung seorang guru yang membentak-bentak murid, berkata kasar yang menyakiti hati murid, ingin rasanya meluapkan marah saat itu juga. Ingin rasanya berkata pada guru tersebut, “Anak-anak muridmu tidak hanya menginginkan ilmu darimu, tetapi ia juga butuh keteladanmu dalam berucap dan bertingkah laku. Murid-muridmu saat ini akan menjadi penerus dan pewaris negeri ini. Jangan sebarkan mereka virus-virus negatif berupa tingkah dan ucapan burukmu.”

Aku sendiri pernah mendengar seorang pendidik yang ucapannya tidak enak didengar tanpa memperhatikan kondisi sosial murid-muridnya. Saat mendengar kata-kata itu ingin saya berteriak kepadanya, “Ini lembaga pendidikan formal. Buat apa menyinggung status sosial kami para murid yang saat ini sedang belajar. Toh pendidikan itu hak asasi setiap orang yang sudah dilindungi oleh undang-undang negeri ini tanpa memandang kondisi sosial ekonomi para peserta didik.” Jujur kesal sekali saya mendengar ucapan pendidik itu.  sejak itu, saya jadi mengerti bahwa sakit sekali perasaan seorang murid bila seorang pendidik tidak pandai menjaga ucapannya ketika mengajar. Bila tiba saatnya aku menjadi guru, aku akan berusaha menjaga perasaan murid-muridku. Menegur dan mengingatkan dengan bahasa sehalus mungkin. Memberikan teladan dengan cara bersikap dan bertutur kata yang sopan. Menegakkan prinsip-prinsip kejujuran dalam belajar. Karena beberapa tahun yang akan datang aku berharap murid-muridku kelak menjadi pribadi yang jujur dan mengawal tegaknya nilai-nilai kejujuran dimanapun mereka berada.

 

 

Ing Ngarsa Sung Tulada   (Di depan seorang guru menjadi panutan)

Ing madya mangun karso (Di tengah seorang guru menciptakan ide)

Tutwuri Handayani          (Di belakang seorang guru memberi dorongan dan arahan)