Monthly Archives: April 2015

Sepotong Kisah Belajar dan Mengajar

Tahun terakhir di bangku SMA. Kemampuan membaca Al-Qur’an saya cukup berkembang. Saat itu saya mendapat tawaran oleh Pak Muhtarom untuk belajar Al-Qur’an di rumahnya. Beliau adalah tetangga asrama. Belajarnya satu pekan sekali, tiap malam ahad, setelah shalat Maghrib. Pertemuan pertama saya diminta untuk membaca surat An-Naml ayat 1 sampai dengan ayat 10. Dengan rasa percaya diri saya membacanya. Selesai membaca. Menurut saya, saya sudah lumayan lancar membaca ayat tadi, tapi memang ada beberapa kata yang saya terbata-bata membacanya.

Setelah itu Pak Muhtarom bilang, “Imron, bacaanmu barusan sudah lancar, namun kamu belum benar cara membacanya sesuai kaidah ilmu tajwid. Tadi ada beberapa hukum bacaan yang kamu baca tidak pas. Ada bacaan yang perlu ditahan (ghunnah) dua sampai tiga harokat, tapi tadi kamu lewati.  Hari ini bapak mengetahui kemampuan caramu membaca Al-Qur’an. Sambil bapak memperbaiki bacaan kamu di setiap pertemuan, bapak ingin melihat kemajuan bacaan kamu di pertemuan-pertemuan mendatang.  Itulah menurut bapak kalau ingin bisa membaca Al-Qur’an mesti belajar seperti ini. Tadarus namanya. Ada juga yang menyebutnya talaqqi’. Yang satu membaca dan satunya lagi menyimak apabila ada pengucapan dan hukum bacaan yang salah, maka dibenarkan saat itu juga. Dan satu lagi, kalau ingin cepat bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, maka harus banyak berlatih dan berlatih. Punya komitmen dan target misalnya satu hari membaca tiga halaman. Itu sangat membantu. Kalau hanya mengandalkan membaca tiap pertemuan satu pekan sekali, perkembangan membacamu akan lambat.”

“Iya Pak saya akan mencoba untuk banyak berlatih lagi.” Jawabku datar. Hari itu saya dapat pengetahuan yang penting tentang membaca Al-Qur’an yang baik dan benar. Selama ini saya hanya membaca dan membaca tanpa mau tahu hukum bacaannya. Mungkin tahu tapi tidak dipraktekkan dalam membacanya. Hatiku bersyukur dipertemukan oleh Pak Muhtarom dan diberi kesempatan belajar langsung dengan beliau. Mengapa saya ingin belajar membaca Al-Qur’an dengan beliau? Pertama, saya suka cara dan metode mengajarnya. Tidak menuntut banyak teori ini itu. Tapi langsung di aplikasikan ketika membacanya. Kedua,  karena Pak Muhtarom pernah mendapat kesempatan belajar membaca Al-Qur’an dengan seorang guru dari Pakistan (saya lupa namanya) ketika beliau belajar di LIPIA Jakarta.

Sejak saat itu, saya semakin semangat membaca Al-Qur’an dengan motivasi ingin bisa membacanya dengan baik dan benar. Saya membuat target satu hari dua sampai empat lembar membacanya. Sambil membacanya, saya mempraktekkan ilmu tajwid dan cara membacanya yang Pak Muhtarom telah ajarkan. Alhamdulillah, dua sampai tiga bulan kemampuan membaca saya berkembang cukup pesat. Saya menjadi lebih percaya diri dari yang sebelumnya. Sudah tidak takut salah dan grogi kalau diminta untuk membaca Al-Qur’an oleh ustadz di asrama. Bukan hanya jadi semangat membacanya, tetapi saya
juga jadi semangat mengajarkannya kepada adik-adik asrama yang lain. Saya mencoba memahami hadits Nabi yang artinya, “khoirukum man ta’allamal qur’an wa ‘allamahu (sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Lulus SMA. Saya ikut program masa bakti di yayasan selama satu tahun. Saya diberi kepercayaan oleh yayasan Marhamah untuk mengajari ibu-ibu pengajian membaca Al-Qur’an tiap satu pekan sekali. Wah ada rasa bangga juga dalam hati saya menerima amanah itu. Metode mengajar saya sama dengan metode Pak Muhtarom terapkan. Lebih menekankan pada aplikasi daripada teori. Lebih memotivasi kalau ingin cepat bisa membaca dengan baik dan benar, mesti ada kemauan berlatih dan berlatih. Kemauan yang kuat itu yang akhirnya merubah jadi rasa semangat ingin bisa. Yang dirasakan ketika mengajar ibu-ibu adalah saya lebih berhati-hati dalam membetulkan bacaan, harus pelan-pelan dan sabar. Berucap juga dengan bahasa sehalus mungkin dan sesantun mungkin. Saya berusaha menghormati orang yang labih tua dari saya. Kadang ada rasa haru dan semangat mengajar saya tumbuh ketika melihat perjuangan ibu-ibu ingin bisa membaca Al-Qur’an, mereka datang jauh-jauh dengan berjalan kaki, belum lagi rasa lelah yang menyelimuti setelah seharian mereka beraktivitas mengurus rumah tangga, belum lagi ketika hujan datang. Belum lagi, ketika sudah selesai mengajar mengaji, mereka mengucapkan rasa terimakasih sambil mendoakan kebaikan untuk saya. Duh, mendengar doa-doa itu membuatku terharu sekali. Doa-doa itu membuat hatiku meng-aminkan dengan penuh rasa takzim. Membuat rasa lelah ini terobati seketika itu juga. Ya Allah, di tempat itu hamba telah menorehkan sedikit kebaikan, maka terimalah kebaikan kecil itu, amiin.

 

Advertisements

Merenungi Usia

“ Tak begitu peduli seberapa buruk masa lalu kita, yang terpenting bagi kita saat ini adalah seberapa tinggi impian kita di masa depan, dan seberapa serius upaya yang kita lakukan di hari ini. Masa lalu telah terjadi, ambil hikmah untuk perbaikan diri. Masa depan belum terjadi, maka citakan yang tinggi, lalu tuliskan agar teringat. Hari inilah hidup kita. Mari jalani sebaik mungkin. “ (Ahmad Rifa’i Rif’an, Penulis The Perfect Muslimah)

Bulan depan bertepatan dengan usiaku yang ke-23 tahun. Sudah hampir mendekati setengah abad usia hidupku. Banyak keinginan yang sudah tercapai dan tidak sedikit cita-cita yang belum saya capai. Yang sejak awal merencanakan A tapi karena satu dan lain hal mengganti menjadi rencana B. Banyak rasa menjejaki usia ini. Kadang sering diri ini membandingkan diri ini dengan diri orang lain yang lebih bahagia yang memiliki keluarga yang utuh satu dengan yang lainnya saling kompak saling mendukung. Ya Tuhan, maafkan hamba belum bisa menjadi hamba-Mu yang bersyukur. Tapi di sisi lain aku berusaha mensyukuri kehidupan yang telah diberikan ini. Aku masih bisa menjalani amanah kehidupan ini. Aku masih bisa bekerja. Mencari nafkah untuk hidupku. Masih bisa menyambung hidup. Di luar sana mungkin masih banyak orang yang mesti bermandi peluh di bawah terik matahari demi mencari uang untuk tetap bertahan hidup.  Aku masih diberi kesempatan kuliah di perguruan tinggi. Menuntut ilmu. Mencari wawasan yang luas. Sejak remaja aku sudah bermimpi untuk belajar di perguruan tinggi. Tuhan telah membukakan kesempatan itu untukku. Aku akan belajar sungguh-sungguh. Berusaha memanfaatkan waktu yang ada.

Untuk masa laluku. Aku ucapkan terimakasih telah menemaniku menapaki tiap-tiap jengkal kehidupan ini. Aku tidak mempersoalkan betapa dirimu kadang menyisakan perih yang sangat mendalam, sedih yang berlarut, sesak, dan akhirnya aku harus bersimpuh meminta kekuatan itu. Aku berusaha tidak menyesali seberapa kelam masa lalu itu dan seberapa berat masa lalu itu. Oh masa lalu, engkau mungkin selesai ketika sudah terlewati, tapi tidak dengan kenangan bersamamu. Kenangan itu tetap ada dan akan selalu ada. Yang kadang ketika saat ini engkau menghampiriku, aku tersenyum kecil mengikhlaskan itu semua telah terjadi. Tersenyum lega, di masa itu aku bisa mengisi waktu dalam dengan berbagai aktivitas. Mengingatmu membuatku rindu masa-masa itu. Masa dimana aku meraih prestasi demi prestasi yang membuatku tersenyum lega. Masa dimana aku pernah hidup dengan orang-orang yang mengasihiku sebegitu tulusnya. Meskipun mereka bukan orang tua kandungku. Ya Tuhan, terimakasih telah memberiku kehidupan sebegitu indahnya dan sebegitu menyenangkan. Berikan aku kekuatan dan kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka yang telah berbuat baik kepadaku.

Bila Cinta Datang Menyapa

Pernah jatuh cinta? Apa yang dirasakan ketika sedang jatuh cinta? Bagaimana menyikapi bila cinta datang menyapa?

Pertanyaan itu sekedar pertanyaan. Setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda-beda. Namun disini saya berusaha menulis tentang menyikapi cinta yang datang menyapa. Setiap orang yang terlahir ke dunia ini pernah merasakan cinta dan kasih sayang. Bermula dari dari lingkungan keluarga. Fitrah orang tua dimanapun selalu cinta, selalu menyayangi anaknya, ingin memberi rasa aman dan perlindungan pada anak. Cinta orang tua pada anaknya adalah cinta yang tulus. Cinta yang tidak bersyarat. Betapa pun rewelnya si anak, betapa pun menyebalkan si anak, bagi orang tua anak adalah anak. Setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya.

Cinta terhadap lawan jenis. Seiring bertambahnya usia, seorang anak akan tumbuh menjadi remaja. Masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju orang dewasa. Salah satu tanda pada masa ini ditandai dengan adanya rasa suka terhadap lawan jenis. Laki-laki suka dengan perempuan. Begitu pun sebaliknya. Bagi remaja masa ini adalah masa pencarian jati diri. Masa dimana ingin meniru tokoh yang dikagumi. Meniru gaya bicara dan bersikap orang yang disenangi. Siapa saja. Bisa seorang remaja mengagumi ayahnya karena menurutnya ayah adalah sosok orang yang bertanggung jawab dan memiliki etos kerja yang tinggi. Bisa juga seorang remaja mengagumi kakaknya karena menurutnya kakak adalah orang yang selalu menyayangi denga tulus dan selalu menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita dan mendengar curahan hati adikny. Kagum karena kakak adalah orang yang selalu menyemangati ayo belajar yang tekun, ayo banyak membaca, ayo traveling lagi.

Bila Cinta Datang Menyapa

Wahyu :

Aku tumbuh seperti remaja lainnya. Tubuh yang semakin tinggi.  Ada rasa ingin dikenal dan ingin diperhatikan. Aku sudah mulai memperhatikan penampilan diri. Saat itu dalam hatiku tumbuh rasa kagum dengan Rini, teman satu kelas denganku. Rini adalah orang yang selalu membuat  diriku tersenyum merekah. Tepatnya bukan sekedar kagum tetapi sudah menjadi rasa sayang. Tapi perasaan itu hanya dalam hati. Saat itu aku hanya bisa merasakan tanpa mampu mendefinisikan apa yang sedang  dirasakan. Awalnya aku mengaguminya karena dia adalah seorang perempuan yang memiliki prestasi belajar yang baik dan akhlak yang baik. Entahlah mungkin karena setiap hari bertemu dengannya membuat perasaan itu terus tumbuh. Semakin lama semakin subur. Semakin lama semakin ingin aku mengungkapkan perasaan ini. Apa aku harus mengatakan aku mencintainya?

Farhan :

Tiga malam terakhir, aku melihat Wahyu adikku banyak melamun. Wajahnya juga terlihat sedikit murung. Sepertinya dia sedang ada yang dipikirkan. Atau memang hobinya sudah berubah yang tadinya hobi membaca menjadi hobi melamun?

Jam sembilan malam. Aku mengetuk pintu kamar Wahyu.

“Assalamu’alaikum Wahyu.” Aku mengucap salam sambil mengetuk pintu kamarnya.

“Waalaikumsalam Mas Farhan. Masuk Mas.” Balas Wahyu.

Wahyu mempersilahkan aku duduk dekat meja belajarnya. Tanpa basa basi aku langsung menuju pokok permasalahan.

“Boleh Mas tanya, apa kamu baik-baik aja? Beberapa hari terakhir Mas melihat sikapmu berbeda dari biasanya. Kamu lebih banyak melamun. Wajahmu juga terlihat agak murung. Ada apa Wahyu?” tanyaku dengan bahasa sehalus mungkin.

“Gak ada apa-apa Mas. Benar. Saya baik-baik saja. Mungkin dua hari belakangan ini banyak kegiatan Rohis yang menyita waktu, sehingga aku kurang istirahat.” jawab Wahyu berusaha meyakinkan.

“Dik, Mas mu ini bukan orang lain. Mas sudah mengenalmu bertahun-tahun. Mas tahu sikapmu  saat kamu sedih dan saat kamu senang. Jadi bicaralah bila kamu sedang ada masalah.”

Adikku kini menunduk. Menarik nafas panjang. Dia adalah adik selalu menghargai orang yang sedang berbicara. Matanya sedikit berbinar. Sepertinya dia senang ada orang yang peduli memperhatikan dirinya sejauh ini.

“Mas benar. Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku sedang bingung dan galau. Aku menyukai salah seorang teman yang satu kelas denganku, Rini namanya. Semakin hari seakan hati ini terus mendesakku untuk mengungkapkan perasaan ini. Aku tidak bisa membohongi diri, aku mencintainya Mas. Tapi di sisi lain, aku bingung setelah mengungkapkan perasaan ini apa yang aku lakukan. Aku masih duduk di kelas dua SMA.”

Aku menelan ludah. Diam sejenak. Memikirkan kata yang akan aku ucapkan. Berusaha merangkai kata demi kata yang ada di dalam kepala. Aku berusaha duduk lebih dekat disampingnya.  “Dek, jujur Mas senang kamu sudah mau cerita. Setidaknya Mas tahu apa yang sedang adik Mas hadapi. Mas hanya ingin bilang, setiap orang yang terlahir di dunia ini pernah merasakan kagum, pernah merasakan rasa cinta. Sama seperti kamu saat ini sedang menyukai Rini dan Mas menganggap itu wajar-wajar saja. Tidak salah. Tapi dengarkan Mas, biarkan perasaan itu dihatimu saja untuk saat ini. Tidak perlu kamu ungkapkan sekarang. Berusahalah untuk bersikap yang wajar. Belajarlah untuk tidak menanggapi bisikan-bisikan di hatimu. Anggap Rini sekarang adalah temanmu. Fokus belajar yang tekun. Cari pengalaman berorganisasi sebanyak mungkin. Nanti di di saat kamu sudah siap baik dalam harta dan mental maka segera datang ke rumahnya untuk menikahinya.”

Wahyu :

Malam itu aku benar-benar senang. Lega sekali rasanya ketika selesai aku menceritakan masalahku kepada Mas Farhan. Perkataan Ibu benar, “Orang yang terbuka dan mau berbagi cerita biasanya memiliki mental yang kuat. Tidak bersedih yang berkepanjangan. Tidak merasa galau terus-menerus. Karena orang yang terbuka ketika berbagi cerita (curhat) terjadi interaksi timbal balik antara satu dengan yang lainnya. keduanya saling memahami dan berusaha untuk menyemangati.” Saat ini yang aku lakukan adalah berusahan bersikap sewajar mungkin dengan Rini. Menganggap Rini sebagai teman biasa. Berusaha untuk tidak menanggapi bisikan-bisikan di dalam hati. Dan menyibukkan diri untuk belajar,  berorganisasi, traveling dan aktivitas positif lainnya. Malam itu aku bilang ke Mas Farhan sambil tersenyum lega, “Terimakasih Mas Farhan sudah mau mendengar curhatan saya. Mengena sekali nasehatnya.”

 

 

 

Andai Aku Jadi Presiden

Andai aku jadi presiden. Aku akan memberi teladan mulai dari diriku. Teladan ketika berbicara. Berbicara yang baik-baik, dengan bahasa yang santun, tidak menyakiti siapapun. Teladan dalam bersikap. Selalu berada di baris terdepan dalam memulai kebaikan. Mengawali program dalam bentuk sederhana. Tidak banyak tidak apa-apa. Yang penting ada nilai manfaatnya.

Andai aku jadi presiden. Aku ingin mencintai dan dicintai oleh masyarakat. Didoakan selalu oleh mereka. Menyeru, mengajak mari bersama-sama memperbaiki negeri ini dari yang paling mudah. Di mulai dari lingkungan keluarga. Karena disanalah pintu pertama pendidikan bagi generasi yang akan datang. Generasi yang berakhlak dan berilmu pengetahuan. Generasi yang akan mengawal, menjaga, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Andai aku jadi presiden. Aku akan batasi anggaran untuk membangun gedung-gedung tinggi nan mewah. Buat apa? Bukankah kemajuan bangsa tidak dilihat dari banyaknya gedung-gedung yang kokoh dan tinggi? Karena menurutku tolak ukur bangsa yang maju adalah bangsa yang beradab dan bermoral.

 

Tulisan ini diikutkan dalam malam tantangan oneweekonepaper pada Selasa, 31 Maret 2015