Monthly Archives: March 2016

Sudah Membuka Lembar ke Berapa?

Al-Quran Picture

Menumbuhkan Semangat Belajar

Sejak kelas 4 SD saya tinggal di asrama (lembaga pendidikan) dan saya tumbuh besar di sana. Kehidupan di sana mengharuskan seluruh santri belajar membaca Al-Qur’an. Masih teringat, saat saya membaca Iqro’ (metode membaca al-quran), saya membacanya dengan tertatih-tatih. Awalnya memang dipaksa, karena sistem asrama begitu adanya. Di tambah di sini kami tinggal bersama dalam waktu yang lama. Tinggal di asrama bagi saya sangat memacu semangat berkompetisi dalam kebaikan. Motivasi belajar saya semakin terpacu saat ada santri lain yang memiliki prestasi yang membanggakan.

Begitu pun dengan membaca Al-Qur’an. Kami belajar bersama dari awal. Dari benar-benar tidak tahu huruf hijaiyah sampai kami mengenal namanya dan mengetahui cara pengucapannya. Dari sejak kami membaca iqro’ hingga kakak pembimbing memberikan kelulusan diperbolehkannya kami membaca Al-Qur’an. Kami belajar dengan sistem tadarrus. Ada yang membaca dan ada yang menyimak mendengarkan bacaan dan membetulkan bacaan-bacaan yang kurang tepat. Waktu belajar membaca Al-Quran  tiap ba’da Maghrib sampai menjelang Isya setiap hari di Mushollah asrama. Di sana ada kakak-kakak pembimbing yang mengajari adik-adik yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an. Mereka dengan senang hati mengajarkan dan berbagi ilmu yang mereka miliki.

Kembali tentang kehidupan di asrama yang penuh kompetitif. Saya juga tidak mau ketinggalan dengan santri yang lain. Saya berusaha membujuk hati untuk terus berlatih membaca Iqro lembar demi lembar. Saya terus berlatih hari demi hari. Saya mencoba untuk percaya diri membaca halaman demi halaman. Saya mencoba memahami saran atas bacaan saya yang kurang tepat, sambil saya mengulang kembali saat waktu saya agak luang. Motivasi saya waktu itu sederhana, saya harus bisa membaca Al-Qur’an seperti santri-santri lainnya. Guru Al-Qur’an saya pernah berkata, “Cara yang tepat untuk bisa membaca Al-Qur’an adalah perbanyak berlatih membacanya. Semakin sering kalian berlatih membacanya, maka semakin cepat kalian pandai membacanya.”

Saat saya duduk di bangku SMA, saya mulai belajar lebih serius mengenai bagaimana membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Kami di pertemukan dengan Ustadz Abdullah Hafidzi. Sebelum memulai belajar ilmu tajwid, beliau menjalankan tes bacaan Al-Qur’an tiap santri. Setelah tes itu, saya semakin sadar bahwa bacaan saya masih banyak yang perlu di benahi. Maka sejak saat itu saya semakin semangat belajar ilmu tersebut agar saya bisa lebih baik dari sebelumnya. Metode belajar yang diterapkan oleh beliau adalah menjelaskan kaidah-kaidah ilmu tajwid seperti hukum bacaan nun mati atau tanwin, mim mati, mad, bacaan ro’ tebal dan ro’ tipis dan seterusnya. Setelah itu, kami diminta membaca ayat al-quran bergiliran dan menyebutkan hukum bacaan dari ayat yang tadi dibaca.

Saya melihat metode pembelajaran beliau cukup efektif dalam memberi pemahaman dalam teori dan praktek. Learning by doing (belajar sambil mengamalkan). Secara kaidah ilmu tajwid, kami bisa tahu dengan detail hukum bacaan berikut dengan cara membacanya. Karena beliau memberi contoh cara membacanya. Metode belajar seperti ini disebut dengan sistem talaqqi’ yaitu belajar face to face (satu per satu) antara murid dan guru berhadapan langsung. Menurut saya sistem ini adalah metode yang efektif untuk belajar membaca Al-Qur’an. Kita bisa belajar teori dan praktek sesuai yang diajarkan oleh guru dan pada saat yang sama guru mendengarkan bacaan kita, saat ada bacaan yang kurang tepat, guru tersebut membenarkan bacaan kita saat itu juga.

Saat itu saya mengerti bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya sekedar bisa membaca saja. Tetapi membacanya adalah salah satu kebaikan yang memiliki banyak keutamaan. Membacanya adalah bukti komitmen seorang muslim untuk taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.Dengan belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, saya bisa berbagi dengan ilmu yang saya miliki dengan orang-orang di sekitar saya.

Nasihat Untuk Diri

Allah swt. berfirman : “Dan bacalah Al-Qur’an tartil.”l (surat Al-Muzammil ayat 4)

Rasulullah saw bersabda :

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar membaca Al-Qur’an dan  mengajarkannya.”

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya, Allah memberimu pahala apabila membacanya dengan sepuluh kebaikan atas setiap huruf yang dibaca. Aku tidak mengatakan kepadamu alif-lam-mim adalah satu huruf, tapi alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf, dan mim adalah satu huruf.” (h.r. al-Hakim)

Dalam buku Diriku, Bagaimana Kabarmu?, Penerbit Tarbawi Press,  karya Muhammad Lili Nur Aulia menyebutkan, “Faktor kebiasaan penting dalam membentuk pribadi seseorang. Seseorang yang terbiasa melakukan kebaikan, ia akan begitu mudah dan mungkin akan spontan melakukan kebaikan itu. Ia justru merasa tidak nyaman, bila kebaikan yang biasa dilakukannya, tidak dilakukan. Jiwa kita umumnya, tidak mudah melakukan ketaatan secara sukarela, melainkan setelah di tempa dengan pembinaan dan pelatihan, melalui pembiasaan. Sampai kita merasakan ketaatan itu menjadi satu sikap yang ringan dilakukan.“

Melakukan sesuatu yang jarang dilakukan memang tidak mudah. Tetapi itu bukan suatu kemustahilan. Tidak kenal kata terlambat untuk memulai kebaikan. Rasa cinta kita terhadap al-quran adalah faktor utama membangkitkan keinginan untuk membacanya. Membaca Al-Qur’an adalah salah satu cara mengingat Allah (dzikir) yang terbaik. Kita dapat ketenangan jiwa setelah membacanya dan hati kita akan bersih dari noda-noda yang melekatnya. Karena setiap kebaikan itu dapat menghapuskan dosa-dosa kita. Setelah membacanya, kita punya momen untuk berdoa dengan penuh rasa harap meluapkan isi hati kita. Setiap kebaikan yang kita kerjakan, kita selalu bisa berdoa mengharapkan yang ingin kita dapatkan.

Hari ini banyak orang lebih sibuk asyik main gadget,  menghabiskan waktu dengan status di sosial media, daripada mengejar kebaikan yang ringan dilakukan seperti membaca Al-Qur’an. Padahal dari sekian kesibukan itu ada agenda yang mesti kita prioritaskan. Mereka perlahan terlalaikan dengan kecanggihan teknologi.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kemarau yang melanda hati adalah kelalaian. Kelalaian itulah hakikat kekeringan dan kemarau yang menimpanya. Selama seorang hamba mengingat Allah dan mengabdikan diri kepada-Nya niscaya hujan rahmat akan turun kepadanya sebagaimana layaknya air hujan yang terus menerus turun. Namun apabila ia lalai maka ia akan mengalami masa kering yang berbanding lurus dengan sedikit banyaknya kelalaian yang terjadi padanya. Dan apabila ternyata kelalaian telah berhasil menjajah dan menguasai dirinya maka jadilah ‘buminya’ itu hancur dan binasa …

Mulai dari diri sendiri, saya mencoba membangun kembali kebiasaan membaca Al-Qur’an. Mempertebal tekad dan berusaha membacanya setiap hari. Sedikit tidak apa-apa dengan catatan membacanya dengan berkelanjutan. Karena saya percaya membaca Al-Qur’an itu mesti ditumbuhkan dari hati.

Bagi saudaraku yang ingin bisa membaca Al-Qur’an, segera temukan motivasi terbaik mengapa kita harus membaca Al-Qur’an. Dengan motivasi itu, kita akan selalu bisa menjaga komitmen untuk membacanya tiap hari.

 

 

Selesai ditulis,

Jakarta, 14 Maret 2016

 

Advertisements

Lisan adalah Cermin Hati

 

ummi

Dimanapun kita berada bila kita mampu menghargai orang lain, kita akan disegani oleh orang-orang di sekitar kita. Hidup itu sederhana. Yang sulit adalah saat diri kita tidak mau berbuat jujur mendengar suara hati kita.”

Dua nasihat itu saya dengar dari guru saya. Sekilas mungkin kita sering mendengarnya. Namun bila kita memahami lebih dalam, dua kalimat itu sungguh memberikan nasihat yang luas. Nasihat itu membuat kita sadar untuk mengambil langkah mulai dari diri sendiri, apakah selama ini kita telah menghargai orang lain melalui sikap dan perkataan kita? Apakah kita sudah membiasakan untuk berkata yang jujur? Atau justru kita lebih memilih gengsi mengabaikan hak-hak orang lain yang membuat hati orang lain terluka melalui ucapan kita tanpa kita sadari?

Bermula dari lisan ini orang bisa memberi nilai pada kepribadian kita. Dari lisan, kita bisa mengenal mana orang-orang yang mampu menjaga perasaan orang lain dan mana orang-orang yang berkata semaunya tanpa menghargai harga diri orang lain. Tentu kita akan memilih berteman dan bersahabat dengan orang yang mampu mengendalikan lisannya. Karena dengan begitu kita bisa nyaman bersamanya. Perasaan dan harga diri kita akan terjaga dari celaan dan kata-kata yang tidak layak kita dengar. Kita bisa lebih ekspresif menunjukkan rasa respek kita kepada mereka.

Kita bisa menyimpulkan dengan sendirinya, bahwa orang-orang yang terbiasa berkata kasar, berkata kotor, berkata merendahkan orang lain (menusuk orang lain melalui lisannya) merupakan cerminan hati mereka yang kotor yang terbelenggu dengan sifat-sifat negatif yang melekat pada hati (bukan penyakit fisik), seperti iri, dengki, dan seterusnya. Karena memang pada hakikatnya apa yang keluar dari lisan adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati seseorang. Bila hatinya bersih dan jernih, maka ucapan yang keluar dari lisannya secara otomatis akan baik. Bila hatinya kotor, terbelenggu dengan sifat-sifat negatif hati, maka kata-kata, ucapan yang kita dengar seringkali membuat telinga kita panas bahkan tidak jarang hati kita ikut terpancing emosi.  Orang lain bebas berucap, bebas berbicara semaunya, tapi kita selalu punya hak untuk mengambil sikap atas apa yang kita dengarkan dari ucapan orang itu. Kita punya harga diri yang harus kita jaga dan harus kita lindungi.

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian dari berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allag Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. “(Q.s Al-Hujurat : 12)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya hadits no. 10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma  bahwa Nabi Muhammad saw.  bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

menjaga lisan

Mulailah benahi hati kita. Menyadari bahwa setiap kita ingin dihargai dan dihormati, maka dari itu mulailah kita menghargai orang lain melalui bertutur kata yang baik, berkata yang jujur, dan berkata yang membuat orang senang mendengar ucapan kita. Mulai dari yang terkecil yang bisa kita lakukan seperti memberi salam antar sesama saat berjumpa di manapun itu, memilih kata-kata agar layak di dengar orang lain (berfikir sebelum berbicara), selektif memilih teman (karena teman punya faktor yang kuat yang bisa mempengaruhi perilaku kita), lebih baik diam dari pada berkata yang tidak baik.

Dengan begitu, dimanapun kita berada kita akan selalu dihargai kehadiran kita oleh sesama. Setiap orang bisa berubah. Kesiapan memulai lembaran baru dengan keyakinan dan optimis yang kuat akan membuat kita percaya diri bahwa kita bisa berubah menjadi lebih baik. Setiap kita punya masa lalu. Masa lalu ada yang baik dan ada masa lalu yang buruk. Mari kita tutup lembaran masa lalu yang buruk itu kemudian kita buka lembaran baru yang esok lusa semoga lembaran itu memberikan keberkahan dari usia kita selanjutnya.

Bila pernah kita berkata kasar atau perkataan kita pernah menyakiti perasaan orang tua, saudara kandung, teman di sekolah, segeralah meminta maaf kepada mereka. Temui mereka dengan rendah hati dan sampaikan niat baikmu itu. Tidak perlu malu apalagi gengsi. Percaya diri bahwa langkahmu untuk menemui saudaramu dalam rangka kebaikan. Meminta maaf adalah suatu kebaikan. Bukan kah kebaikan itu harus di segerakan?

 

Selesai di tulis di Jakarta, 8 Maret 2016

 

 

Teman Dalam Perjalanan

Hidup adalah perjalan panjang yang penuh dengan beragam peristiwa. Di awali dengan suara tangis, kita semua terlahir dari rahim seorang ibu. Dari mulai kita tidak bisa apa-apa, melewati sebuah proses kita tumbuh sebagai manusia seutuhnya. Kita bisa berbicara, kita bisa mendengar, kita bisa melihat, kita bisa melangkah, kita bisa mengungkapkan perasaan yang kita rasai. Semua itu bergantung pada kemauan kita. Tapi di satu sisi kita harus menyadari bahwa kita adalah seorang manusia yang membutuhkan bantuan manusia lainnya. Kita tidak bisa hidup sendirian. Ada sisi-sisi perbuatan kita yang tidak boleh mengganggu sesama, membuat kegaduhan di lingkungan, dan membuat suasana di sekitar kita menjadi kurang nyaman. Karena dengan adanya sesama, nurani dan nilai-nilai kemanusian kita tumbuh. Kita merasa diakui keberadaan kita sehingga kita dihormati oleh sesama. Kita mendapat apresiasi atas prestasi yang kita raih dari sesama kita. kita menjadi lebih peduli dan peka terhadap masalah sosial yang terjadi di sekitar kita. kita bisa bersosialisasi dan hidup berdampingan dengan sesama kita.

Di dalam perjalanan waktu, kita dipertemukan dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Ada yang memang dipertemukan hanya untuk kita mengenal sekilas lalu berlalu begitu saja tanpa ada pesan yang dipetik dari pertemuan itu. Ada juga yang saat-saat kita dipertemukan oleh orang-orang dimana hadirnya mereka memberi dampak pada perilaku dan karakter kita. Mereka tidak sekedar ada dalam kamus kehidupan kita, namun mereka memberi pesan yang tak berkata berupa teladan dalam bersikap dan bertutur kata. Dari mereka, kita bisa belajar berbenah diri, merubah orientasi hidup, merumuskan cita-cita juga harapan yang ingin kita raih dalam hidup ini.

Ada saat-saat kita bisa menikmati waktu bersama orang terdekat dengan kita. Bersama orang tua, bersama kakak dan adik kita,  bersama teman sepermainan di waktu kita masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bersama sahabat dalam komunitas yang sama, bersama guru-guru yang kita sayangi. Dari mereka, kita bisa tersenyum melihat dunia dari sisi yang berbeda. Dari mereka, wawasan kita berkembang dan kita bisa memahami pengetahuan secara utuh. Dari mereka, kita belajar arti kerja keras, tidak mudah menyerah dan tidak cepat puas dengan apa yang diraih. Dari mereka, kita belajar menghargai dan peduli. Dari mereka, kita belajar untuk tidak banyak berkeluh kesah.

Di sisi lain ada saat-saat kita berpisah sementara waktu meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu di daerah yang berbeda, meninggalkan orang-orang yang kita sayangi.  Di saat itulah kita akan merasa sangat rindu dengan mereka. Semakin lama, semakin besar rasa rindu itu. Melalui tulisan dan melalui doa-doa panjang di malam hari, kita bisa meluapkan rasa rindu itu kepada mereka. Doa adalah sarana terbaik kita untuk mengungkapkan seluruh perasaan, seluruh kerinduan, seluruh permasalahan. Karena di sana, kita merendah, bersimpuh, melepaskan semua kesombongan yang membelenggu,  kita memohon kepada Allah yang Maha Mengetahui dengan sepenuh harap dan kejujuran hati.

Tanpa kita sadari, orang tua, guru-guru di sekolah, di pesantren maupun di Taman Pendidikan Al-Qur’an, mereka adalah guru kehidupan bagi kita. Mereka berbagi dengan apa yang mereka miliki dengan rasa tulus tanpa mengharap apapun kecuali limpahan kasih sayang dari Allah Yang Maha Rahman. Mereka mendidik dengan penuh tanggung jawab dengan harapan anak muridnya suatu hari bisa menjadi pribadi yang bermanfaat di lingkungan sekitarnya. Mereka tidak pernah bangga dengan nilai akademis yang tinggi anak muridnya, namun pada saat yang sama perilaku dan ucapannya anak muridnya buruk. Mereka tidak bangga dengan prestasi lomba-lomba yang banyak yang diraih anak muridnya, namun di sisi lain anak muridnya semakin jauh dari Allah dan merasa angkuh. Mereka sangat sedih ketika anak didiknya melalaikan kewajiban yang Allah tetapkan sebagai seorang muslim. Mereka akan sangat bangga saat dimana anak muridnya menjadi pribadi muslim yang taat, memiliki tutur kata yang santun dan lembut, dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

Beberapa tahun berlalu. Saya mulai dengan aktivitas baru saya. Saya mulai bekerja. Di beberapa kesempatan saya tetap menjumpai mereka. Merajut silaturahmi yang telah terjalin sekian lama. Mereka masih tetap sama seperti dulu. Selalu tersenyum hangat dan selalu menitipkan pesan-pesan kebaikan dalam setiap perbincangan.  Bertemu dengan mereka membuat rindu saya terobati. bertemu dengan mereka membuat saya untuk semangat berlomba-lomba dalam kebaikan. Saya selalu ingat mereka selalu bertanya kepada saya, bagaiman perkembangan hafalan qur’anyang sudah kamu hafalkan? Bagaimana puasa senin-kamis yang dulu kamu giatkan? Bagaimana shalat lima waktumu? Pertanyaan itu membuat saya haru. Sekian lama berpisah, mereka masih merindui saya dan masih peduli dengan kondisi ibadah saya saat ini. Mereka ingin memastikan apakah muridnya masih istiqomah. Apakah yang mereka bisa berikan sebagai bekal hidup muridnya di luar sana. Lalu mereka memberi nasihat. Nasihat sederhana yang mencerahkan dan meneguhkan. Setiap kali bertemu dengan mereka, selalu ada pesan kebaikan yang saya dapat dari pertemuan itu.

 

Selesai ditulis di Jakarta, 1 Maret 2016