Monthly Archives: October 2016

Aku Mencintaimu Ibu


Cerpen : Aku Mencintaimu Ibu

Karya : Imron Prayogi

 

Sejak kamu terlahir, senyuman dan raut wajah Ibu kamu begitu bersinar saking senang akan buah hatinya yang terlahir. Tangan halus Ibu membelai wajah kamu yang masih mungil, polos, menggemaskan. Menatapmu dengan hangat penuh kelembutan. Ada rasa syukur yang membuncah memenuhi hatinya. Hatinya saat itu penuh dengan lantunan doa, semoga anak ini kelak menjadi anak yang sholeh dan tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Saat Ibumu berjalan sambil menggendongmu selagi kamu masih bayi sekedar membeli sayur-mayur atau sekedar jalan-jalan sore, dia berjalan dengan penuh rasa bangga, ini adalah anakku – karena ada dirimu yang sedang digendong olehnya. Semua usaha dan pengorbanan yang Ibu berikan tak pernah jadi soal, selama kebutuhan kamu tercukupi dan kamu bertumbuh sehat seperi anak-anak seusia kamu yang lain. Bagi Ibu, kamu tumbuh menjadi anak yang sehat , bersekolah dengan rajin, bermain dengan riang, dan selalu mudah untuk dimintai bantuan oleh Ibu, itu semua sudah membuat Ibu senang.

Jalinan kasih sayang yang sudah terbina sekian lama membuat hati Ibu dan kamu terhubung erat dan sangat dekat. Selamanya Ibu berharap bisa berada disisimu, mendampingimu di masa remajamu, menemanimu di masa kamu sedang mengalami kesulitan, mendekapmu di kala kamu sedang sedih. Namun manusia hanya bisa berharap, Tuhan yang Maha Menentukan. Ketika ekonomi keluarga sedang turun dan dari waktu ke waktu bertambah sulit, Ibu hanya memikirkan cara bagaimana kamu bisa melanjutkan sekolah. Bagaimana cara agar kamu bisa menjemput janji-janji kehidupan yang baik. Hari-hari yang berat Ibu rasakan saat itu. Malam-malam panjang, doa lirih Ibumu teruntai dalam sujud panjang berharap menemukan jalan keluar dari masalah kesulitan ekonomi yang dihadapi Ibu. Doa yang dimana bila saja kamu mendengarkannya dan memahaminya kala itu, hatimu akan penuh rasa haru bercampur sesak. Karena doa yang Ibumu panjatkan berasal dari hati yang tulus dan penuh pengharapan. Karena Ibumu selalu mengirimimu doa yang amat sangat spesial untukmu… untukmu. Dan kamu percaya? Doa itu masih terus berlanjut hingga saat ini dan masa-masa yang akan datang. Ibumu selalu memiliki waktu untuk itu. Selalu.

Kabar baik itu datang dari Kakak sulung Ibu memberi informasi mengenai panti asuhan dengan beasiswa penuh di daerah Bekasi. Di saat itu mesti memilih. Bagi Ibu itu merupakan pilihan yang berat. Sangat berat. Tidak pernah terpikir bagi seorang Ibu untuk menitipkan anaknya ke tempat yang jauh dari jangkauannya. Tidak pernah hati Ibu terbersit untuk hidup tanpa anaknya berada disisinya. Sungguh, ini pilihan yang sangat sulit bagi Ibu. Setelah beberapa hari mempertimbangkan ide itu dan mencoba berfikir realistis, akhirnya Ibu mengambil keputusan, kamu harus melanjutkan sekolah di panti asuhan tersebut. Malam harinya Ibu merapikan dan mengemasi beberapa setel pakaian ke dalam tas punggung untuk bekal kehidupan di lingkungan barumu esok hari lalu memanggilmu dengan raut wajah gembira Ibu berkata, “Fahmi, kamu dengarkan nasihat Ibu. Besok kamu akan kembali sekolah tapi tidak di sini. Kamu akan kembali bersekolah di Bekasi dan kamu akan tinggal di Panti Asuhan.” Kamu yang saat itu masih anak yang berusia belum genap sembilan tahun dengan polosnya menyetujui pesan Ibu. Kamu tersenyum lebar mendengar kabar Ibu. Yang terpikir olehmu adalah akhirnya kamu bisa melanjutkan sekolah kembali setelah sekian minggu terhenti karena faktor ketidaksanggupan membayar biaya sekolah.

Hari yang dinanti tiba. Sebelum berangkat ke panti asuhan, kamu berpamitan dengan teman-teman dan beberapa tetangga di sebelah rumah. Beberapa teman akrab yang sudah cukup lama mengenalmu ikut menemanimu hingga jalan rata untuk menaiki mobil angkot. Kamu berjalan dengan tegap tanpa rasa khawatir akan perpisahan sudah menanti di depan mata. Tiba di pinggir jalan raya, kamu berjabat tangan dan melambaikan tangan ke arah teman-temanmu sambil berkata, “Aku akan cepat kembali lagi kesini. Ke rumah ini.” Kamu yang waktu itu masih belum mengerti akan kata cepat kembali sudah memiliki harapan untuk segera kembali ke rumah ini.

Sepanjang perjalanan dalam mobil angkot, separuhnya kamu lewati dengan duduk tertidur di samping Ibumu. Kamu tahu? Selama perjalanan Ibu menatap wajahmu yang putih dengan lekat sekali, tatapan yang begitu lembut, tatapannya seperti ingin menolak perjalanan ini namun apa daya ini pilihan terbaik untuk masa depanmu. Mengusap dan membelai rambut dan keningmu penuh kasih sayang, layaknya seorang Ibu yang ingin selalu dekat dengan anaknya. Sesekali dia tersenyum kecil menghibur dirinya, perpisahan ini hanya sebentar. Lalu membisikkan kata di telingamu dengan suara lirih agak tertahan, “Ibu mencintaimu Fahmi dan selalu akan mencintaimu.”

Tiba di sebuah perempatan terakhir, Ibu dan kamu turun dari angkot. Untuk sampai ke panti asuhan kamu mesti berjalan kaki seratus meter. Kamu turun dengan wajah bingung, ada pertannyaan di bola matamu Bu, kita dimana?. Ibu memahami tatapanmu lalu berkata “Fahmi, panti asuhan sudah dekat. Kita butuh berjalan kaki sekitar lima menit dari sini.” Sebelum berjalan, Ibu memintamu untuk duduk sejenak di trotoar pinggir jalan dan memberimu minum dalam botol yang sudah diisi air dari rumah. Lalu Ibu terdiam. Kamu tahu apa yang Ibu rasakan saat itu? Kamu tahu hati Ibu yang saat itu berkecamuk hebat. Ada keraguan yang besar saat Ibu ingin melangkahkan kaki ke panti asuhan yang sudah sangat dekat itu. Kamu tahu, tidak ada seorang Ibu yang tega menitipkan anaknya yang masih usia sembilan tahun ke tempat lain, entah itu panti asuhan, rumah saudaranya, atau tempat-tempat lainnya. Setiap Ibu selalu ingin anaknya tumbuh besar dan hidup berdampingan dengan anaknya. Ibu ingin kamu selalu berada di sisinya. Menemanimu meniti hari-hari panjang yang akan membuatmu tumbuh dewasa, mengajarimu untuk bertutur kata yang sopan dan berperilaku yang baik,  mendampingimu saat-saat dirimu mulai remaja dalam menemukan jati diri, berbagi cerita melepaskan penat pikiran dan diskusi hangat di meja makan yang sering kali mengundang tawa dan senyummu.

Sekilas kamu melihat wajah Ibumu. Lalu tangan kananmu menyentuh tangan Ibu dengan polos kamu bertanya, “Ibu kenapa terdiam?” Kamu menarik tangan Ibu, “Ibu, ayuk kita lanjutkan perjalanan sudah sebentar lagi kan kita akan sampai, iya kan Bu?” Ibumu menangkap sinyal dari sinar matamu, aku ingin segera bersekolah. Dari pertanyaanmu dan sorot matamu itu membuat Ibu berani melanjutkan langkah kaki hingga tiba di panti asuhan dan bertemu Ibu pengasuh. Lalu Ibu mengawali pembicaran dengan Bunda –santri-santri panti asuhan memanggil Ibu pengasuh dengan nama Bunda- dengan memberikan penjelasan tentang dirimu, tentang karakter dirimu, tentang hobimu, dan tentang kondisi ekonomi keluarga. Setelah itu Bunda memberikan kamu kertas  diatasnya bertuliskan tata tertib. Bunda berkata, “Fahmi, silahkan tata tertib itu dibaca dengan cermat,  pahami setiap poin-poinnya, lalu kamu katakan kepada Bunda apakah kamu bersedia mematuhi tata tertib itu selama kamu tinggal di panti asuhan ini?” Kamu membacanya setiap detail kata demi kata, poin demi poin, sambil kamu pahami, setelah itu kamu merasa yakin, lalu kamu berkata lembut, “Aku bersedia dan aku akan berusaha menyanggupi untuk mematuhi seluruh tata tertib di panti asuhan ini,” ucapku dengan memberi penguatan pada kata bersedia dan menyanggupi.

Ini adalah menit-menit yang sangat berat bagi Ibu. Ada rasa sedih dan haru yang menyelinap di ruang hatinya. Dimana inilah saatnya melepasmu di tengah orang yang baru dikenalnya. Berpisah dengamu yang berarti menjauh dari anak yang sangat dicintai sepenuh hati dan jiwanya. Semua rekaman masa lalu seketika itu hadir bertubi-tubi memenuhi benak dan pikiran Ibu. Masa-masa dimana kamu menangis saat masih bayi, lalu Ibumu mendekatimu, memelukmu, dan memberimu apa yang kamu butuhkan kala itu lalu kamu berhenti menangis, masa-masa dimana kamu masih belajar merangkak- Ibumu dengan sabar melatihmu perlahan sambil menyemangatimu dengan senyum hangatnya-, hingga kamu bisa berjalan seperti saat ini. Masa dimana bibirmu mengeja dengan terbata-bata memanggil nama I..bu, Ib..bu, Ibu.

Sebelum pamit dengan Bunda, Ibu setengah merunduk menghadapmu lalu kedua tangannya menyentuh pundakmu, menatapmu dengan sorot mata cerah seolah-olah kuat, lalu berkata, “Fahmi, Ibu mesti pamit dari sini. Kamu yang betah ya disini. Walau Ibu tidak ada didekatmu, tapi disini ada Bunda yang akan menjagamu. Kamu anak yang hebat Fahmi. Ibu  bangga memiliki anak sepertimu. Kamu selalu membuat Ibu senang, membuat Ibu tersenyum, membuat Ibu bangga atas prestasi belajarmu, dan sampai hari ini belum sekalipun kamu membuat Ibu kecewa. Sekarang…. kamu mesti membuat Bunda senang dan kamu jangan buat Bunda kecewa ya. Ibu yakin kamu….. kamu bisa menjalani hari-hari selanjutnya… seperti hari-hari biasanya.” Perlahan air mata Ibumu telah menetes di pipinya. Bening sekali. Kemudian terisak dalam tangisnya. Ibumu terdiam menarik nafas dalam. Wajah Ibumu menunduk. Mengumpulkan tenaga untuk mengucapkan kata selanjutnya. Kamu yang belum mengerti arti perpisahan saat itu ikut terharu. Matamu memanas, ada gumpalan bening yang hendak jatuh namun kamu masih bisa menahannya.

Setelah perpisahan ini mungkin kamu akan mengerti betapa beratnya Ibu melepasmu dan berpisah denganmu. Bunda yang berdiri disamping Ibu ikut terhanyut dalam suasana mengharukan ini. Dia juga berkali-kali menyeka air matanya dengan tisu di tangannya. Sesekali tangan Bunda menyentuh pundak Ibumu, matanya menatap mata Ibu seolah tersirat pesan, jangan bersedih Bu, aku berjanji akan menjaga anakmu.

Ibu kembali mendongakkan wajah dan menatapmu dengan nafas sedikit lega lalu berkata dengan suara tertahan, “Jaga dirimu baik-baik disini ya. Ibu mencintaimu Fahmi…sangat-sangat mencintaimu..” Ibu menghambur memelukmu erat sekali.  Rasa sedih yang Ibu rasakan membuatmu mengerti betapa sedih jiwa Ibu melepasmu dalam menjalani perjalanan panjang ini tanpa Ibu di sampingmu. Kamu terdiam dalam pelukan Ibumu. Seketika itu kamu merasakan apa yang Ibumu rasakan. Wajahmu menunduk dalam. Rasa sesak memenuhi hatimu. Air matamu menderas. Kamu menangis sesenggukan. Lalu kamu mencoba mengangkat wajahmu dan menatap hangat Ibumu lalu dengan suara lirih kamu berkata, “Aku…Aku…Aku juga mencintai Ibu karena Allah.” Tangismu semakin keras. Ibu kembali memelukmu.

Dengan nafas yang sudah agak teratur kamu kembali berkata,  “Perpisahan ini hanya sementara iya’ kan Bu? Terima kasih sudah menjadi Ibu yang teramat istimewa bagiku. Aku akan selalu merinduimu Ibu. Aku berjanji aku akan segera kembali pada Ibu.”

“Iya Fahmi, perpisahan ini hanya sementara Fahmi. Ibu akan selalu menantimu kembali pada Ibu. Selalu.” Ucap Ibu sambil mengecup keningmu.

Ibu pamit pada Bunda. Lalu dia berjalan ke arah jalan raya kemudian menaiki mobil angkot menuju rumah. Hari telah senja. Sebagian awan hitam membuat langit gelap. Mendung. Sore ini Aku berdoa penuh penghayatan dan pengharapan.

“Ya Allah, rahmatilah kebaikan Ibuku. Berikan ia kelapangan hati dan jiwa yang kuat dalam perpisahan sementara ini. Ya Allah, aku memohon hidayah-Mu agar aku menjadi anak yang soleh. Karena dengan kesalehan itu Engkau akan selalu mendengar doaku untuk Ibu.”

 

Jakarta, 29 Oktober 2016

 

 

 

Resensi Rantau 1 Muara : Saat Cita-Cita Menjadi Nyata

img_20160925_201642

Data Buku

Judul Novel    : Rantau 1 Muara

Pengarang     : A. Fuadi

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2013

Tebal Buku    : 407 Halaman

Sinopsis :

Alif Fikri baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajar (student exchange) di Kanada. Dia mulai aktif kembali dengan rutinitas perkuliahan di kota Bandung. Ketekunan menulis yang ditekuninya menghantarkan dirinya diterima menjadi wartawan di salah satu surat kabar terkemuka di Jakarta. Alif memulai aktivitas baru di lingkungan yang berbeda. Di kantor tempat dimana dia bekerja dia bertemu dengan Dinara teman satu profesi dengannya, seorang gadis Jakarta yang membuat hatinya berbunga-bunga lebih tepatnya jatuh hati. Akankah cinta bersemai indah menuju gerbang pernikahan?

Sebuah keberanian dalam mengambil keputusan akhirnya Alif meninggalkan pekerjaan (cuti tanpa tanggungan) memilih terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami ilmu komunikasi dan media di salah satu universitas. Di sana dia beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dan bertemu dengan Mas Garuda, teman baru dari Indonesia. Mas Garuda sudah menganggap Alif sebagai adiknya sendiri. Interaksi yang intensif itu membuat keduanya memiliki kedekatan emosional yang sangat besar. Hingga terjadi peristiwa 11 September 2001 di New York yang membuat jiwa Alif goyah hampir putus asa. Apa yang menimpa Alif dalam peristiwa 11 September 2001?

Washington D.C, tempat dimana Alif tinggal dan belajar selama dua tahun. Kota ini membawanya membangun rumah tangga dan kota ini pula muncul keyakinan pada suatu hari dia harus pulang. setelah sekian tahun tinggal di kota ini, pulang adalah kata yang membuatnya dilematis dan membuatnya termenung panjang. Dia sudah merasa nyaman (comfort zone) belajar dan bekerja di kota ini. Selepas lulus kuliah di George Washington University,  profesi wartawan di American Broadcasting Network (ABN) telah dimilikinya dengan gaji lebih dari cukup. Pikirannya berkecamuk dan mencoba realistis. Kalau dia kembali ke Indonesia, dia harus melamar kerja dan membangun karier dari awal lagi. Akankah Alif menemukan muara sesuai dengan isi hatinya?

**********

Novel ini menceritakan perjalanan Alif Fikri dalam menjemput impiannya. Dengan berpegang pada prinsip Man saara ala darbi washala (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai tujuan) akhirnya Alif berhasil menggapai cita-citanya.

Ada lima unsur instrinsik novel yang membuat novel novel ini :

Pertama, judul novel mewakili isi novel secara keseluruhan. Proses Alif mengambil keputusan merantau, memilih jalan hidup yang sesuai dengan isi hatinya hingga berujung pada muara yang diinginkan Alif.

kedua : setting atau latar cerita disebutkan secara eksplisit. Seperti kota Bandung, Jakarta, Bogor, Gedung Sate, Jalan Asia Afrika, dan Washington. Dengan hal ini membantu pembaca dalam memahami  alur cerita.

“Salah satu hiburan musim semi yang paling dinanti oleh Washingtonian – sebutan untuk warga DC – adalah National Cherry Blossom Festival. Puncak festival ini hanya bertahan beberapa hari saja ketika bunga cherry mekar semekar-mekarnya, setelah itu bunga ini akan gugur dan semua orang harus menunggu setahun lagi untuk menikmati pemandangan serupa. Karena itu, di sekolah, kantor, atau jalanan, warga memperbincangkan kapan hari puncak akan datang.” (halaman 302).

Ketiga, sarat dengan pesan moral, semangat berprestasi, dan perenungan yang mendalam tentang memaknai kehidupan. Pesan moral di beberapa bagian dijelaskan secara eksplisit (konkret) dalam cerita, seperti saat Alif merenung passion apa yang ditekuninya bertahun-tahun hingga ia menemukan jawabanya sendiri yakni menulis. di beberapa bagian pesan itu diceritakan secara narasi melalui karaktek Alif dalam menghadapi permasalahan yang menghadangnya,

“Di langit pagi, dia atas Samudra Atlantik,

Alhamdulillah, hari ini telah aku tunaikan teladan dan petuah para pengembara besar dunia seperti Imam Syafi’i, Ibnu Batutah, dan Marco Polo. Berpetualang sejauh mata memandang, mengayuh sejauh lautan terbentang, dan berguru sejauh alam terkembang. Aku ajarkan badanku untuk berani berjalan melintas daratan dan lautan, mencicipi rupa-rupa musim, mengenal ragam manusia. Aku bujuk jiwaku untuk tidak pernah kenyang berguru dan terus memahami tanda-tanda yang bertebaran di bawah tudung langit.”

Dari sekian kelebihan diatas novel ini juga menurut saya memiliki kekurangan diantaranya :

Pertama, ada bahasa minang yang tidak ada terjemahan dan itu membuat pembaca tidak memahami beberapa bagian dalam novel.

Kedua, minim keterangan waktu dalam hal ini penyebutan bulan dan tahun. Sehingga pembaca menerka-nerka waktu mengikuti alur cerita.

Kesimpulan :

Membaca novel ini mengajarkan saya akan memperjuangkan mimpi dengan segenap ikhtiar dan doa. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, itu pesan dalam novel ini. setiap usaha yang ditekuni dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka hasilnya kelak membanggakan. Man yazra yahsud (siapa yang menanam, dia aka menuai). Pesan moral dan dorongan berprestasi yang bertebaran membuat novel ini layak dibaca oleh para remaja, pemuda, dan orang tua.

Kutipan-Kutipan Favorit :

  • Betapa hebatnya sebuah tulisan. Kekal, melewati batas umur, zaman, bahkan geografis. Melalui tulisan dan huruflah manusia belajar dan menitipkan ilmu kepada manusia lain. (halaman 41)
  • Ke mana pun dan apa pun yang wa’ang lakukan, selalu perbarui niat, bahwa hidup singkat kita ini hanya karena Allah dan untuk membawa manfaat. Jangan berorientasi materi. Kalau memang sekolah jauh itu membawa manfaat dan wa’ang niatkan sebagai ibadah, pailah. Pergilah. (halaman 174)
  • Kematian itu ibarat pintu. Kelahiran itu juga layaknya sebuah pintu. Keduanya portal yang pasti dilalui semua anak manusia dalam perjalanan panjangnya di dunia ini. (halaman 358)
  • Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai tujuan. Bukan hanya tujuan kebahagiaan dan keberhasilan duni tapi tujuan hakiki. Ke tempat kita dulu berasal. Ke Sang Pencipta. (halaman 358)

 

Ditulis di Jakarta, 19 Oktober 2016

Seminar Teknologi : Bijak dan Cerdas Berteknologi (Bagian Kedua)

Raut wajahnya sudah terlihat tua. Sorot matanya begitu cerah. Setelan kemeja batik yang dipakainya dan langkah kaki tegapnya penuh percaya diri membuat sosoknya memilki kharisma. Dibalik penampilan yang sederhana, beliau menyimpan mutiara keilmuan yang matang  dalam bidang ilmu pendidikan namun wajahnya yang selalu ceria dan bersahaja membuat orang di sekitarnya menaruh rasa hormat kepadanya. Intonasi suara yang cukup lantang dipadukan dengan mimik wajahnya yang sangat meyakinkan menarik simpati seluruh peserta seminar untuk memperhatikan dan mendengarkan materi apa yang beliau sampaikan.  Beliau adalah Prof.  Dr. H. Arief Rachman, M.Pd (Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO).

Hari ini saya kali pertama bertemu dengan beliau terkesan dengan cara beliau menyampaikan pengajaran. Beliau memiliki karakter guru yang ideal. Mulai dari intonasi suara yang terkontrol, setiap diksi kata yang diucapkan sangat terstruktur sesuai dengan pokok materi yang sedang dikaji, dan responsif melihat suasana ruangan untuk mengembalikan fokus peserta  – dimana terdapat beberapa peserta seminar yang duduk di kursi agak belakang dan terhalang oleh tiang pondasi, beliau dengan rendah hati mengangkat dan memindahkan kursi sendiri dari bagian tengah panggung ke sudut sebelah kanan panggung dekat dengan layar infocus agar terlihat oleh seluruh peserta dan meminta beberapa peserta yang terhalang tiang pondasi gedung tadi berpindah mencari kursi yang memberikan ruang untuk melihat panggung utama-. Pada kesempatan seminar ini beliau menyampaikan materi dengan tema “Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan”.

Setiap beliau menyampaikan materi, ruangan seketika hening. Semua peserta larut mendengarkan setiap untaian kata yang beliau ucapkan. Seluruh perhatian tertuju pada beliau. Dengan bahasa yang ringan, materi yang disampaikan mudah kami pahami. Pada bagian tertentu, saya terenyuh dengan pengalaman beliau yang diceritakan kepada kami tentang keberanian beliau dalam membela dan memperjuangkan kebenaran. Beliau menyampaikan, “Kalian para peneliti muda harus berani menegakkan kebenaran. Siapa lagi yang mau peduli pada krisis keteladanan yang terjadi saat ini, kalau kalian calon pendidik tidak tergerak memperbaikinya.” Hati saya membenak, pada kesempatan seminar hari ini beliau mengajarkan kami akan keteladanan guru yang memiliki keberanian dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah merubah pola tingkah laku dan mengembangkan wawasan pemikiran peserta didik. Penanaman nilai-nilai kebaikan sejak usia dini merupakan langkah tepat untuk membentuk insan yang memiliki akhlak mulia. Nilai-nilai yang sudah ditanamkan itu kemudian akan ter-internalisasi dalam diri dan terpancar dengan sendirinya melalui perilaku kesehariannya. Dalam pendidikan dikenal ada tiga kecerdasan yakni, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual.

Prof. Dr. H. Arief Rachman M.Pd. sedang menyampaikan materi mengenai Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan. (sumber : dokumentasi pribadi)

Prof. Dr. H. Arief Rachman M.Pd. sedang menyampaikan materi mengenai Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan.
(sumber : dokumentasi pribadi)

Prof. Dr. Arief Rachman menyampaikan, “Kecerdasan yang mesti diajarkan dan dimiliki oleh setiap orang pertama kali sejak usia dini adalah kecerdasan spiritual. Karena kecerdasan tersebut menjadi landasan dan acuan seseorang memahami mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah, mana perbuatan yang halal dan mana perbuatan yang haram. Kecerdasan yang harus dimiliki selanjutnya adalah kecerdasan perasaan (emosional). Dari kecerdasan ini, seseorang belajar bagaimana cara bersosialisasi dan empati dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan yang terakhir adalah kecerdasan intelektual (intelegensi). Kecerdasan ini diletakkan diakhir agar seseorang memahami dengan baik dan mencapai dua kecerdasan sebelumnya dengan harapan memiliki pondasi yang kuat terhadap agama dan memiliki empati dengan sesamanya. Karena sejatinya yang dimaksud sukses pendidikan adalah pendidikan yang menghasilkan insan yang bertaqwa, memiliki kepribadian yang matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, memiliki rasa kebangsaan, dan berwawasan global.”

Teknologi yang berkembang saat ini sebaiknya tidak dijadikan hambatan untuk meraih cita-cita kita. Teknologi juga tidak boleh dihindari karena kalau dihindari maka kita akan tertinggal oleh teknologi. Justru sebaliknya teknologi mesti dijadikan tantangan (challenge) supaya kita lebih bijak dan cerdas dalam berteknologi. Bijak dalam berteknologi itu penting agar waktu yang kita miliki tidak terbuang sia-sia. Teknologi tidak boleh melunturkan sikap positif yang telah kita tanamkan dalam diri kita. Perilaku jujur, disiplin, sopan santun, empati yang sudah melekat dalam diri kita diharapkan tidak semakin memudar dengan adanya teknologi. Justru sebaliknya, sikap positif yang sudah menjadi karakter kita mesti kita pertahankan, terus diasah, dan dikembangkan.

Prof. Dr. H. Arief Rachman Hakim menambahkan, “Kalau teknologi membuat anda  murung, menjadi pemarah, tidak bersemangat, penuh perhitungan, dingin, dan pasif, berarti anda tidak berhasil. Seharusnya dengan teknologi kecenderungan sikap kita stabil. Kita bisa melatih sikap kreativitas, inovatif, kritis, mampu menganalisa dan membuat jawaban sementara (hipotesa), mampu menggabungkan hipotesa, mampu memprediksi, dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.”

Beliau melanjutkan, “Ada delapan kebajikan intelektual dimana jika anda memiliki delapan karakter ini maka secanggih apapun teknologi tidak akan mampu melunturkan karakter dan sikap anda. Delapan kebajikan tersebut adalah (1) integritas, (2) percaya pada nalar, (3) empati, (4) kemerdekaan/kemandirian, (5) keberanian, (6) rendah hati, (7) rasa keadilan , dan (8) tahan deraan. Dia memiliki integritas, dia percaya pada nalarnya, dia empati pada sesamanya, dia memiliki kemandirian, dan dia berani membela kebenaran  tetapi dia tidak sombong, dia bersikap adil dan tahan deraan.”

Beliau menyampaikan, “Technology has zero value. The people make change for negative value or positive value. Teknologi memiliki nilai moral yang jumlahnya nol. Manusia yang menentukan mau mengikuti pengaruh positif dari teknologi atau mengambil pengaruh negatif dari teknologi.”

Foto Bersama Para Panelis, Moderator, dan Panitia Skema. (Sumber : dokumentasi pribadi)

Foto Bersama Para Panelis, Moderator, dan Panitia Skema.
(Sumber : dokumentasi pribadi)

 

Jakarta, 14 Oktober 2016

 

Seminar Teknologi : Cerdas dan Bijak Berteknologi

Minggu, 09 Oktober 2016.

“Salam Skema, salam Peneliti. Salam Skema, salam peneliti. Salam skema, salam peneliti.” Seluruh peserta kompak berteriak yel-yel Skema. Suara mereka memenuhi dan memantulkan semangat di setiap sisi ruangan ini.

Sejak pagi tadi auditorium Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan yang berada di Jl. Asem Baris Raya, Tebet, Jakarta Selatan sudah ramai dipenuhi mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI. Saya dan para peserta lainnya datang dalam rangka mengikuti Diskusi Panel dengan tema “Dengan Teknologi Kita Mati Tanpa Teknologi Kita Hampa” yang di selenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Studi Kajian Riset Mahasiswa (SKEMA) Unindra. Semua peserta yang hadir disini dengan harapan yang sama yakni ingin menambah wawasan keilmuan mengenai teknologi dan menjalin silaturahmi antar teman baik dengan teman  sudah dikenal maupun teman baru yang sebelumnya belum kenal  dari fakultas dan jurusan yang sama ataupun berbeda. Sebuah usaha sadar dan kongkrit untuk menjemput ilmu meskipun di hari minggu, dimana sebagian besar warga ibukota dan sekitarnya menghabiskan waktu dengan aktivitas liburan ke tempat wisata, berkumpul bersama keluarga, silaturahmi dengan sanak saudara, berolahraga bersama teman, dan aktivitas lain yang tujuannya adalah melepas penat dan jenuh setelah lima hari larut dalam rutinitas harian yang sama.

Sejak pembawa acara berdiri di panggung utama, semua perhatian peserta tertuju kepada pembawa acara. Semua peserta sudah mulai fokus, menyiapkan alat tulis untuk mencatat, membaca selembaran power point yang semenjak di meja registrasi sudah di bagikan oleh panitia, dan menyesuaikan diri menyimak jalannya acara diskusi ini. Hampir dari seluruh kursi terisi oleh peserta yang hadir dalam acara ini. Terlihat sedikit sekali kursi yang masih kosong, terutama kursi-kursi bagian belakang. Dengan kata lain, peserta sangat antusias mengikuti acara ini.

Diskusi Panel ini  terdiri dari tiga orang pembicara, yakni Bapak Ir. Prakoso, M.M. (Peneliti Kementerian Riset dan Teknologi, Direktorat Pendidikan Tinggi) membawakan tema “Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa”, Ibu Dra. Ike Anggraika M.Si. (Psikolog) membawakan tema “Dampak Positif dan Negatif Teknologi,” dan Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd membawakan tema “Peran Teknologi Mensukseskan Pendidikan”.

img_20161009_111531

Para Panelis dalam sesi acara tanya jawab.

Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa

Indonesia adalah satu negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah mulai berjalan saat ini semestinya mendorong kita untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ditambah dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat yang menuntut kita mau tidak mau mesti terampil dan bijak dalam menggunakan teknologi.

Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) adalah salah satu program yang diinisiasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi dan Direktorat Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) untuk memfasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi kepada masyarakat luas. Sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi yakni, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdia masyarakat.

Bapak Ir. Prakoso, M.M. menyampaikan, “Teknologi yang ada saat ini adalah hasil olah pikir manusia untuk menciptakan alat yang tujuannya agar mempermudah menyelesaikan keperluan manusia itu sendiri. Life time teknologi saat ini sangat pesat. Namun perkembangan teknologi juga memiliki dampak negatif salah satunya anti social behavior yang menyebabkan seseorang menjauhkan orang yang ada di dekatnya padahal keluarganya sendiri dan mendekatkan orang yang jauh padahal orang lain tersebut bukan keluarganya dan saudaranya.”

Bapak Ir. Prakoso, M.M. dari Kemristekdiki menyampaikan materi Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa.

Bapak Ir. Prakoso, M.M. dari Kemristekdiki menyampaikan materi Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa.

Beliau melanjutkan, “Ada delapan bidang teknologi diantaranya teknologi energi, teknologi ketahanan pangan, teknologi alat kesehatan dan obat, teknologi transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi material maju (nano teknologi),  teknologi pertahanan, dan teknologi sosial humaniora. Peningkatan penerapan di Indonesia dipengaruhi tiga faktor yaitu : sumber daya manusia, ketersediaan alat dan mesin yang sudah terstandarisasi, dan anggaran. Teknologi adalah sekedar alat bukan tujuan. Namun tanpa teknologi kita akan tertinggal dari negara-negara lain. “

Dampak Negatif Teknologi : Internet Addiction Disorder (IAD)

Perkembangan teknologi informasi terutama gadget, komputer, dan internet harus disadari memiliki dampak negatif dan positif. Hal ini harus disepakati bersama. Banyak kasus yang terjadi di masyarakat disebabkan penyalahgunaan teknologi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan orang lain mendapatkan kerugian. Ditambah lagi komunikasi virtual melalui media sosial saat ini telah menjadi gaya hidup (life style) mulai dari anak-anak yang masih Sekolah Dasar,  remaja dan orang tua. Teknologi bagaikan sebuah pintu yang di dalamnya memuat informasi positif dan negatif. Kalau kita menggunakannya dengan niat mencari wawasan, menjalin komunikasi dengan orang lain, mencari informasi untuk keperluan riset dan aktivitas-aktivitas lainnya, maka kita akan mendapatkan manfaat teknologi. Begitu pun sebaliknya. Jadi, di sini lebih ditekankan adalah para pengguna (user), seberapa bijak dalam berteknologi.

Ibu Dra. Ike Anggraika, M.Si. menyampaikan, “Indonesia adalah negara dengan pengguna internet urutan terbesar nomor tiga dunia. Dimana pengguna terbanyak internet di Indonesia adalah  usia remaja dan dewasa muda (berusia 18 s.d 30 tahun). Kita menyadari kehadiran teknologi membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif berupa komunikasi lebih mudah, memberi kesempatan bekerja di rumah (shopping online, kursus online), belajar aneka keterampilan (make-up, memasak, menulis), dan perpustakaan digital. Lalu teknologi juga memiliki dampak negatif seperti keterampilan sosial rendah (seseorang lebih asyik dan bahagia dengan komunikasi virtual namun gugup dan antipati untuk interaksi sosial), cyber crime, cyber bullying, perkelahian, tidak suka membaca buku terutama buku-buku sastra karena membaca karya sastra itu dapat mengasah keterampilan perasaan (emosional) dan empati seseorang, dan yang terbaru adalah gejala Internet Addiction Disorder (IAD) yakni penggunaan internet atau komputer yang berlebihan.”

Beliau melanjutkan, “ Jenis IAD ada empat yaitu gaming, online social networking, blogging, internet shopping online. Dampak IAD diantaranya, (1) stress karena hakikatnya penderita IAD mengalami kehampaan dan  kesepian dalam hidup. Dia menikmati dunia hanya lewat virtual padahal untuk mengasah perasaan, simpati, empati, dan rasa peduli kita butuh interaksi dengan orang lain secara nyata. (2) Euforia berlebihan di depan komputer atau gadget. Penderita IAD sangat ekspresif dan senang di depan layar komputer atau gadget. Dia sering senyum sendiri dan tertawa sendiri di depan layar komputer atau gadget. Bila bertemu secara fisik dengan orang lain dia terlihat gugup, kurang percaya diri, dan cenderung menghindar. (3) Konsumtif, karena penderita IAD mudah terpengaruh teman di media sosial. Teman belaja online produk A, dia ikut-ikutan belanja dengan produk yang sama. Maka belanja online (shopping online) yang konsumtif dan hedonistik tanpa mampu berfikir yang matang berakibat pada banyak hutang di sana – sini.

Beliau menambahkan, “Solusi menghindari IAD adalah self control yang baik dengan cara membuat skala prioritas, membatasi diri dari situs-situs berbahaya, aktif aktivitas kampus seperti berorganisasi, dan ikut kursus pengembangan diri seperti kursus bahasa asing, kursus menjahit, dan kursus-kursus lainnya.”

Materi kedua ini menurut saya adalah materi yang sangat dekat dan relevan dengan aktivitas kita sehari-hari. Dimana banyak diantara kita lalai membuat skala prioritas dalam menggunakan teknologi terutama gadget dan internet. Kelalaian itu menyebabkan manusia modern hari ini tanpa tersadar menghabiskan waktu empat sampai enam jam sehari bahkan lebih dari itu  di depan layar gadget untuk aktivitas yang kurang produktif. Tanpa terasa tugas utama mahasiswa adalah belajar di kelas telah terganggu oleh gadget, tugas-tugas kuliah tidak selesai tepat waktu, dan waktu untuk membaca buku sudah jarang sekali kita dilakukan. Maka langkah mendesak yang mesti kita dilakukan adalah segera buat jadwal harian dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi dengan mempertimbangkan skala prioritas dan tentukan durasi waktu dari masing-masing aktivitas, pilih dan lakukan mana aktivitas yang mesti di dahulukan dan mana aktivitas yang masih bisa diakhirkan. Hal ini mesti segera dilakukan agar diri kita perlahan tidak lagi dikendalikan teknologi dan lalai berkepanjangan oleh pesona teknologi.

Ditulis di Jakarta, 11 Oktober 2016