Jangan Menyerah

Melihat lembaran masa lalu menguatkan langkahku dalam menapaki masa depan. Meskipun jalan ini semakin terjal dan penuh dengan rintangan, alasan untuk mengeluh sering kali menjadi suatu hal yang wajar. Dengan begitu aku tahu bahwa saat ini aku sedang berkembang. Karena rasa lelah, frustasi, kecewa, sedih, gelisah yang kerap hadir menjadi bagian kehidupan yang harus dijalani bukan untuk dihindari. Sering kali pilihan untuk menyerah terbuka lebar di depan mata.  Bahkan hati kecil ini beberapa kali berteriak, sudahi saja jalan ini. Buat apa di lanjutkan lagi, jika tubuhmu tak kuat lagi untuk mengikuti alur jalan ini.

Aku biarkan suara itu bergema di lubuk hatiku. Gema suaranya semakin hari semakin besar dan membuatku sempat berfikir ulang. Gema yang menyudutkan asa yang pernah hadir dalam diri ini. Gema suara itu sempat membuat kepalaku sakit dan sempat tubuhku ambruk terhempas lemas tak berdaya. Aku sadar bahwa titik jenuh kerap datang dan tak bisa dipungkiri. Saat titik itu datang, ia akan menyerap energi dan semangatmu untuk meneruskan jalan yang menjadi pilihanmu. Nyala apimu semakin redup dan semakin lama kamu biarkan rasa itu akan merasa betah dan nyaman di hatimu untuk hinggap sekian waktu yang panjang. Titik itu nyaris membuatmu menyerah. Sehingga optimismu semakin memudar dan kamu akhirnya kalah melawan gema suara itu.

Aku merasakan hal demikian. Di penghujung perjalanan kuliahku, rintangan dan hambatan itu semakin berat. Awalnya rasa jenuh itu adalah hal yang ku anggap wajar. Aku biarkan rasa jenuh itu, hingga aku lalai bahwa rasa itu tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Idealisme yang dulu aku impikan seakan hanya tulisan di atas kertas yang tidak memiliki arti apa-apa untuk hidupku. Jika idealisme terikat oleh waktu, maka aku berada pada puncak kejenuhan yang aku sendiri bingung untuk bangkit dari bagian yang mana. Apakah aku sudah nyaman dengan rasa jenuh ini? Apakah aku berpasrah membiarkan rasa jenuh ini merampas mimpi yang pernah ada? Apakah aku berdiam diri membiarkan waktu melibas semua asa, semua harapan, semua cita-cita?

Tulisan ini membuatku bertanya lebih dalam tentang diriku. Aku yang harus berupaya memahami diriku sendiri. Aku sadar jika aku membiarkan diri ini berpasrah, menyerah, tak berusaha bangkit kembali maka kelak hatiku akan menanggung rasa sedih yang mendalam. Kesedihan itu akan mampu menguras energi positif lalu membuat optimis hidupku menipis. Karena aku menyerah sebelum berjuang. Kalau sudah begitu, perasaan bersalah yang datang berduyun-duyun akan menyelimuti hari-hariku berikutnya. Keberanianku untuk menatap masa depan dengan kaki yang berdiri tegap dan dengan wajah penuh  optimis akan surut seiring rasa gagal yang membuat mental diriku down. Di saat mental dalam diriku down maka diriku akan merasakan di mana hari-hari terasa gelap gulita tanpa harapan yang tersisa.

Aku benci kegagalan. Tapi aku sadar bahwa kegagalan dibutuhkan untuk mendewasakan jiwa ini. Untuk menghadirkan pemahaman bahwa kegagalan meskipun ia pahit tetapi bukan akhir dari segalanya. Bahwa meskipun sering kali kegagalan meninggalkan kesedihan, namun percaya bahwa time is healing, biarkan waktu menjadi obat adalah ungkapan yang tepat untuk sebuah penerimaan takdir kehidupan. Hidup ini selalu adil. Bagi mereka yang mau berusaha, memperjuangkan impiannya dengan tekad yang kuat, maka hasilnya akan ia dapat sesuai kadar usaha yang telah ia lakukan. Pun sebaliknya, mereka yang menyerah, mereka yang tidak menghargai dan mengisi waktu dengan aktivitas yang memiliki nilai, akan mendapat hasil sesuai apa yang ia usahakan.

Sejatinya makna kegagalan adalah cara ampuh untuk dirimu belajar untuk rendah hati menyikapi ujian kehidupan. Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Karena ilmu yang kamu miliki bukan untuk di sombongkan dan merendahkan orang lain. Ilmu yang dimiliki seseorang menjadi pancaran yang menyinari dirinya dengan akhlak yang baik dan pemikiran yang terbuka. Semakin muda, seharusnya rasa haus akan ilmu pengetahuan seharusnya semakin bertambah besar. Membaca, menulis, mendengarkan, memahami ilmu bukanlah beban yang dijadikan tekanan. Karena aktivitas belajar sejatinya membujuk dirimu untuk menyerap ilmu  agar dirimu tersinari dan dibimbing oleh ilmu dalam meniti kehidupan ini.

 

Jakarta, 07 Nopember 2017

 

Advertisements

Hikmah Perjalanan

Kadang kita sering kali tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Anggap saja adanya pertengkaran dengan teman. Entah terjadi pada posisi yang tersudutkan (pihak yang disalahkan) atau berada di posisi yang melukai perasaan teman. Saya pernah berada di posisi pertama yaitu pihak yang tersudutkan. Dalam hati saya sadar this is my mistake but etika menegur di depan umum adalah hal yang tidak saya suka. Itu yang menyebabkan saya sempat memendam rasa marah dan berujung pada jarak pertemanan semakin longgar. Akhirnya beberapa bertemu dengan teman tersebut, saya lebih cuek dan diem-dieman. Namun sikap itu tak berlangsung lama. Pada titik tertentu saya termenung dan menemukan pemahaman bahwa, kadang dalam hidup kita sering kali kita tak adil memberi penilaian terhadap suatu masalah. Hanya karena kesalahan kecil orang lain, kita mudah melupakan kebaikan yang sudah dilakukan orang tersebut kepada kita. Kita mudah mengabaikan tali pertemanan yang sekian lama terajut secara singkat karena masalah ringan. Kita cepat sekali memberi penilaian buruk terhadap orang lain yang sudah menjadi teman kita sendiri.

Dari sana, saya mulai memperbaiki hubungan pertemanan lagi dengan mengawali permintaan maaf kepada teman saya itu. Saya kirim pesan via whatsapp yang berisi permintaan maaf saya karena kesalahan saya, tim ini mendapat hasil yang kurang memuaskan. Saya menghindari alasan-alasan mengapa sempat ‘menjaga jarak’ karena pertimbangan waktu yang masih belum tepat. Masing-masing masih menyimpan emosi. Dan upaya saya adalah bagaimana emosi itu tidak memicu konflik yang semakin besar. Harus ada sikap yang berusaha meneduhkan suasana dari pihak yang sedang bersitegang.

Seiring berjalannya waktu, saya juga mendapatkan pemahaman baru yang berasal dari pengalaman-pengalaman yang saya alami di tempat saya bekerja dan di kampus saya kuliah. Saya memahami bahwa manusia punya sisi kelebihan dan sisi kekurangan. Oleh karena itu memiliki kemauan untuk belajar memperbaiki diri dari hari ke hari semestinya menjadi planning harian yang mendesak untuk dibuat dan di realisasikan. Hal itu bukan untuk orang lain. Namun untuk diri kita sendiri. Tujuannya adalah idealisme hidup kita selalu terjaga. Apa yang menjadi harapan, apa yang ingin di capai, perubahan apa yang ingin diraih semua itu bisa di definisikan melalui ‘azzam (tekad yang teguh) yang terus di pupuk secara konsisten.

Agar five years from now kita tidak lagi menyesali diri sendiri, kok lima tahun ini hidup saya begini-begini aja. Kok cita-cita yang tertuang dalam planning hidup jangka menengah dan jangka panjang tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Lalu akhirnya dengan mudah karena alasan usia semakin bertambah, kesibukan yang semakin padat, dan tanggung jawab hidup semakin besar, kita dengan mudah menurunkan dan merubah planning hidup yang kita sudah tetapkan sepuluh atau lima belas tahun yang lalu.

Belakangan ini, saya menjadi lebih respect saat ada orang yang lebih tua dari saya baik dari rekan kerja atau teman kuliah memberi nasihat dan saran kebaikan kepada saya. Saya mengerti, bagaimana pun mereka hidup di dunia ini sudah lebih lama dari saya.  merekal sudah memakan ‘asam garam kehidupan’ lebih banyak ketimbang saya. Lalu niat baik mereka juga bertujuan agar saya lebih baik lagi dari sisi sikap, ibadah, dan menjaga relasi dengan sesama. Terkadang hatinya menghangat saat mendengar nasihat dari orang-orang yang baru di kenal. Entah bertemu mereka di warung makan, bertemu di instansi untuk mengurus dokumen yang sama, atau pun bertemu di seminar-seminar yang pernah saya ikuti. Nasihat itu tidak selalu dengan kalimat verbal. Banyak juga akhlak yang terhias dalam perilaku mereka yang menjadi sumber inspirasi untuk saya belajar.

Kadang saya juga iri dengan orang-orang yang memiliki strata pendidikan tinggi (akademisi) namun dengan tawadhu’ (rendah hati) dan ketulusan jiwa memberikan ilmu baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Melalui akhlak dan etika bertutur kata mereka membuat saya bercermin pada diri saya sendiri yang selama ini masih sering mengeluh, masih sering kurang ikhlas untuk belajar, masih sering terselip akhlak yang kurang baik, dan masih sering lupa mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Tanggal 08 Oktober 2017 lalu, saya  menerima sertifikat kelulusan pendidikan dan pelatihan (diklat) Pajak Terpadu Brevet A dan B dalam acara wisuda peserta diklat gelombang 2  yang di selenggarakan oleh divisi diklat Univ. Indraprasta PGRI. Dalam acara tersebut terdapat serangkaian sambutan. Sambutan yang cukup berkesan buat saya adalah sambutan dari Sekretaris Prodi. Pendidikan Ekonomi Bapak Zaenal Abidin. Beliau menyampaikan, “Anak-anakku sekalian, setelah acara ini wisuda ini selesai, temuilah orang-orang yang dengan tulus mendukung kalian selama proses pelatihan ini berlangsung. Temuilah ayah ibu kalian dan temuilah orang-orang telah memberikan ilmu para kalian selama pelatihan ini, para instruktur dan para panitia penyelenggara. Lalu sampaikan kepada mereka ungkapan terima kasih dari hati yang tulus. Sampaikan ungkapan itu sebagai ungkapan apresiasi karena melalui kerja keras, keikhlasan, dan doa mereka, kalian dapat berhasil mencapai titik kelulusan pada hari ini.”

Mendengar bagian sambutan ini, mata saya menghangat. Ucapan terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita sering kali terlupakan. Terlihat seperti hal sepele. Namun memiliki makna yang mendalam. Ungkapan terima kasih kepada siapa pun orang yang telah berbuat baik dan membantu kita adalah bukti kita menghargai sekaligus bentuk apresiasi kita yang layak kita berikan kepada mereka.

 

Jakarta, 21 Oktober 2017

Mengayunkan Langkah, Menyempurnakan Ikhtiar

Tujuh bulan terakhir ini (Maret – September 2017) menghantarkan saya pada pengalaman baru. Saya berhasil mengikuti dua program pendidikan dan latihan (diklat). Di sana saya memulai perjalanan untuk mengembangkan potensi diri. Terasa sekali saat-saat di mana semangat untuk belajar itu tumbuh kuat di awal namun seiring berjalannya waktu tubuh dan jiwaku seakan mengerti tentang kelelahan dan kejenuhan. Saya sadar dua hal ini adalah hambatan dalam belajar. Saya sempat bingung mencari solusi dari dua hambatan ini. Saya juga memahami ada saat-saat di mana pikiran dan hati perlu di refresh melalui aktivitas-aktivitas baru seperti melakukan perjalanan ke tempat yang baru yang menghadirkan suasana yang baru.

Motivasi belajar saya seiring berjalannya waktu sempat meredup apabila saya tidak membujuk hati saya agar lebih keras untuk bergerak mengayunkan langkah kaki menuju kampus untuk mengikuti pelatihan hingga tuntas. Satu motivasi yang hinggap di dalam diri saya kala itu adalah saya ingin berhasil maka dari itu saya harus melebihkan usaha di atas rata-rata usaha orang lain.

Apakah nyaman dengan pilihan itu? Apakah cukup sekedar keingian kuat? Jawabannya, tidak. There are no growth ini comfort zone and no comfort in growth zone. Saya setuju dengan ungkapan itu. Tidak ada perkembangan di lingkungan yang kamu anggap nyaman dan tidak ada kenyamanan di dalam zona di saat kamu sedang berkembang. Karena melalui itu saya melawan intuisi untuk merehatkan pikiran di akhir pekan. Karena akhir pekan adalah saat yang tepat untuk merehatkan jiwa dari kesibukan yang membuat penat. Bahwa akhir pekan adalah saat di mana orang-orang mengisinya dengan jalan-jalan, belanja ke Mall, nonton bioskop dengan orang-orang tercinta, dan aktivitas lainnya yang memiliki kesamaan tujuannya yaitu me-refresh diri menghilangkan kelelahan dan kepenatan selepas bekerja saat weekdays.

Memanggil kembali motivasi awal itu yang saya lakukan. Saya memilih jalan ini dan saya menerimanya dengan satu paket risiko di dalamnya. Risiko lelahnya berfikir, risiko uang tabungan yang berkurang, dan risiko ketemu dengan orang tua dan saudara yang berkurang Oleh karena itu dengan tingkat risiko yang harus saya pikul, maka saya berusaha mengikuti pelatihan dengan kesungguhan. Dengan kata lain, saya berani memulai memilih jalan ini, maka sudah menjadi kewajiban saya berupaya konsisten mengikuti pelatihan ini hingga selesai sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh penyelenggara pelatihan.

Ada ungkapan juga, setiap individu adalah hasil dari pengaruh individu-individu yang ada di sekitarnya. Meski begitu, sejatinya dalam diri manusia memiliki filter untuk memilih jalan sesuai kehendak yang ada di hatinya. Ia berhak menolak dan menerima pengaruh dari orang lain. Karena ia sadar bahwa ia memiliki tujuan yang spesifik. Maka ia memutuskan untuk memulai langkah menuju tujuan itu. Tak mengapa, apa yang lakukan kebaikan masih terbilang  kecil namun konsisten. Karena dengan begitu ia sedang membangun ‘batu bata’ yang kelak akan menopang keberhasilan untuk dirinya.

Saya pun salah satu dari individu itu. Saya ingin mengembangkan potensi dan meningkatkan keterampilan dengan belajar sebagai medianya. Karena menurut saya, mengisi akhir pekan untuk aktivitas belajar pun adalah langkah nyata untuk menghargai waktu dan mendekatkan diri menuju cita-cita yang diharapkan. Saya percaya orang-orang yang tak pernah lelah untuk belajar, untuk berbuat kebaikan, Allah akan memberi jalan kemudahan kepadanya untuk menjalani prosesnya hingga tuntas.

2 Pendidikan dan Pelatihan (diklat) yang saya ikuti adalah yang pertama, Pajak Terpadu brevet A & B selama kurang lebih enam bulan (Maret – Agustus 2017) setiap hari Minggu pukul 08.00 – 12.00. Yang kedua, Public Speaking yang diadakan selama 4 kali pertemuan tiap hari Minggu (September 2017) pukul 08.30 – 15.00. Kedua diklat tersebut di selenggarakan oleh Divisi Pendidikan dan Pelatihan Universitas Indraprasta PGRI.

Ada nasihat lama, “ Nak, ketahuilah waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu. Saat kamu menanam pohon pada 20 tahun yang lalu. Maka hari ini kamu akan menikmati hasilnya. Pohon itu tumbuh besar. Daun-daunnya rimbun membuat teduh orang-orang yang berada dibawahnya. Ranting-ranting yang sudah cukup tua dengan alami berguguran menjadi kayu bakar yang bisa digunakan untuk memasak. Pada musim tertentu pohon itu menghasilkan buah-buah yang segar yang dapat di makan olehmu dan orang-orang disekitarmu.”

“Tetapi saya baru mendengar nasihat itu hari ini. Masih adakah waktu terbaik untuk menanam kebaikan itu?” “Jawabannya, waktu terbaik kedua adalah hari ini. Nak, ingatlah tanamlah kebaikan dan kebiasaan yang baik mulai hari ini. Kembangkan potensi yang ada dalam dirimu mulai hari ini. Lakukan aktivitas yang nyata untuk mewujudkan keberhasilanmu mulai hari ini. Karena kalau kamu lalai lagi, maka waktu akan melesat sangat cepat bagai panah yang melesat kencang dari busurnya.”

Begitulah perumpamaan menanam benih-benih keberhasilan. Di dalamnya terdapat kegigihan, semangat yang kokoh, kemauan yang kuat, disiplin, kesabaran, dan doa.

Rabbi zidnii ‘ilman war zuqnii fahman (Ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku dan berilah aku pemahaman atas ilmu tersebut)

 

Jakarta, 25 September 2017

 

 

Senyum yang Mengembang

Aku memulai tulisan ini dengan senyum mengembang…

Hari-hari melelahkan sudah selesai aku lalui. Satu dua dari hari-hari tersebut menyisakan kehangatan di hati. Kehangatan yang dibalut oleh kebersamaan yang penuh warna. Kebersamaan yang selalu dipenuhi keceriaan dan senyum yang mengembang. Semua prosesnya berjalan seadanya mengalir tulus membasuh relung hati ini. Mengeratkan hati yang satu dengan hati yang lain dalam bingkai pertemanan. Menumbuhkan harapan-harapan baru dan menyirami cita-cita yang sudah tersemai sejak lama.

Mereka hadir menemaniku belajar mengembangkan potensi diri. Mendampingiku melalui satu tahapan menuju tahapan berikutnya. Memberi arah agar langkah berikutnya lebih baik dari langkah sebelumnya. Menyisipkan dorongan yang tersirat bahwa semua proses harus dilalui dengan sebaik-baiknya. Membangunkan jiwa agar ia mau bergerak dan berlatih dengan penuh kesungguhan. Aku menemui wajah-wajah yang terpancar dari kebeningan hati. Pancaran wajah yang memberikan keteduhan dan ketenangan.
Saat asa dalam jiwaku bertumbuh, mereka mendampingiku dan mengulurkan tangan membantuku dengan di dasari bahwa bersinergi selalu lebih baik dari pada sendiri. Nyala api dalam jiwaku yang semula kecil kini menyala setidaknya lebih besar di bandingkan sebelumnya. Nyala api ini menerangi hidupku saat ini dan aku selalu berharap nyala api itu terjaga hingga akhir hayat. Nyala api itu menggemakan suara, tidak alasan untuk berhenti belajar dan tidak alasan pula untuk merasa lelah untuk belajar. Setiap kita adalah pembelajar yang memiliki tugas menuntaskan ujian kehidupan yang sudah merupakan sebuah keniscayaan.

Aku merasa perjalanan baru nan panjang sudah menanti di depan mata. Aku menata hati dan aku membuka pikiran untuk membuka gerbang baru di hari yang baru. Membujuk jiwa kembali mengayuh menelusuri perjalanan baru. Ruang untuk bertemu mereka seiring waktu akan berkurang intensitasnya. Namun ku yakin aku akan bertemu dengan teman-teman baru yang akan mengiringi perjalananku berikutnya.

Akan ada hari dimana hatiku dipenuhi oleh kerinduan kepada teman-teman yang pernah berjuang belajar bersama di ruang yang sama. Aku tak tahu cara untuk menangkal rindu yang kian memuncak itu. aku hanya bisa menyebut nama-nama mereka dengan suara yang lirih di suasana yang sunyi melalui doa-doa yang di selimuti kerinduan yang sangat untuk bersua. Hanya dengan itu hatiku bisa merasakan kembali kehangatan dan kebersamaan yang pernah ada dan hinggap di sudut hatiku. Dengan cara seperti itu aku bisa menyapa kembali mereka. Dengan cara seperti itu juga aku bisa melihat bayangan wajah-wajah temanku dengan ekpresi yang beragam dan aku bisa menjejaki setiap jengkal, setiap tapak-tapak yang membekas di waktu yang sudah terlewat. Setiap untaian doa yang terajut indah aku hadirkan untuk teman-temanku semoga pertemuan yang singkat ini menitipkan makna yang terangkum utuh dalam bingkai silaturahmi yang kokoh.

Aku percaya kisah ini akan kokoh dan akan tetap kokoh. Masa lalu bisa pergi meninggalkan kita, tetapi itu tidak berlaku pada kenangan. Kenangan akan selalu ada. Sampai kapan pun. Karena ia sudah menjadi bagian dari hidup yang di jalani seseorang. Pada masa lalu, kita berterima kasih untuk setiap perjumpaan, untuk setiap pertemuan, dan untuk setiap perpisahan. Hadiah dari itu semua adalah sikap yang semakin mendewasa dan kearifan menaruh persepsi mengenai hidup dan kehidupan dari berbagai sisi.

Kawan, perjalanan kita masih panjang. Masih banyak lembaran-lembaran baru yang harus kita isi dengan amal kebaikan, karya, dan prestasi. Maka tugas kita menyelesaikan lembaran-lembaran itu dengan sebaik-baiknya.

Jakarta, 24 September 2017

Pembelajar Sejati

Setiap kita adalah pembelajar. Ya, pembelajar dari pengalaman-pengalaman yang telah berlalu. Seiring berjalannya waktu,  kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pengalaman yang terlewat menjadi bagian dalam hidup di mana setiap kita mendambakan diri yang berkembang dan lebih bermakna. Oleh karena tidak cukup rasanya pengalaman hanya menyisakan jejak yang bernama kenangan. Ada poin-poin dimana hati nurani kita bersuara mengenai apa yang kita inginkan dan apa yang membuat kita bahagia. Suara hati itu hadir membuat kita berfikir dan mempengaruhi tindakan kita untuk bercermin mengevaluasi diri lebih jernih. Karena suara hati itu selalu mengungkapkan kejujuran yang murni lahir dari hati.

Jalani saja, lakukan saja, cobalah dulu, karena kedewasaan itu dibentuk dari proses pengalaman yang kadang rumit dan membuat kita ragu dan bimbang. Kedewasaan itu ditempa seiring banyaknya intisari dari pengalaman yang kita serap. Kita belajar untuk memilih, memutuskan, menerima risiko dari keputusan yang dipilih. Memilih adalah pilihan. Tidak memilih juga adalah pilihan. Masing-masing ada risikonya. Saat menjalani peran yang dipilih sejatinya kita sedang berlatih untuk lebih bertanggung jawab atas peran yang kita ambil.

Dalam berlatih terkadang kita mengalami kegagalan, kadang juga menuai pujian, bahkan ada yang memberi kritik atas hasil yang sudah kita kerjakan. Yang terpenting adalah selama apa yang kita lakukan adalah kebaikan dan tidak mengkhianati suara hati nurani, di situ kita telah menjadi diri kita sendiri. Orang lain mau berkomentar apa pun itu, memberi kritik pedas, itu hak mereka. Kita tidak punya kuasa mengendalikan fikiran dan ucapan mereka. Kita lakukan apa yang sudah menjadi bagian kita saja sambil diiringi dengan terus melakukan evaluasi sudah sejauh mana pencapaian yang sudah diraih.  Kesabaran menjadi pengendali jiwa untuk tidak meluapkan amarah, berkata yang kasar yang berujung pada rusaknya tali silaturahmi yang sudah dirajut rapi sekian lama. Kedewasaan itu akan bertumbuh seiring berjalannya waktu selama kita mau belajar dari kesalahan dan kekeliruan di masa lalu.

Dalam kisah tokoh penemu lampu di mana kita sudah sama-sama tahu bahwa Thomas Alfa Edison melakukan percobaan puluhan bahkan ratusan kali dalam menciptakan lampu. Namun satu metode percobaan dengan metode percobaan yang lain berbeda-beda. Ia pandai menganalisa dari satu metode percobaan yang sudah keliru tidak digunakan lagi metode percobaan yang sama pada metode percobaan yang lain. Di akhir keberhasilannya menciptakan lampu ia berkata, “aku tidak mengatakan proses percobaan pertama hingga terakhir adalah kegagalan. Tapi melalui percobaan sekian banyak jumlahnya itu aku belajar dari kekeliruan dan aku mencoba dengan metode-metode yang berbeda hingga akhirnya aku berhasil.”

Lesson learn dari kisah inspiratif tersebut adalah teruslah berusaha dan jangan menyerah sampai kita menemukan titik keberhasilan. Jangan pernah berharap mendapatkan sesuatu yang lebih baik selama kita tidak belajar dari kesalahan dan kekeliruan di masa lalu. Kalau mau berhasil, teruslah mencoba, teruslah berupaya. Saat mengalami kegagalan, maka bangkit lagi dan berupaya lagi dengan cara dan strategi yang berbeda. Dengan kata lain, jangan jatuh pada lubang kesalahan yang sama untuk kedua kali dengan cara yang sama.

Pembelajar sejati selalu melihat bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Ia yakin kesulitan-kesulitan yang dilaluinya dalam rangka mendekatkan diri dengan keberhasilan yang akan dipetik di hari esok. Keberhasilan yang akan membawanya pada kemudahan kehidupannya di masa mendatang. Ia yakin bahwa keberhasilan harus diperoleh dengan kerja keras, ketekunan, kesabaran, dan berdoa. Ia percaya apa yang tanam hari ini akan berbuah di masa depan. Maka ia hari ini ia ingin menanam benih-benih kebaikan sebanyak-banyaknya dan dengan benih-benih yang berkualitas, agar ia memperoleh hasil yang maksimal di hari esok. Oleh karena itu pancaran optimis itu akan terus menyala dalam jiwanya. Ia tak ragu mengambil langkah, memperjuangkan asa, menjemput mimpi dengan keyakinan yang terpatri dalam hati. Kesedihan dan kegagalan di alami adalah warna kehidupan yang harus dilalui dengan segara dan tidak perlu diratapi dalam waktu yang lama. Ia bersedih sewajarnya. Kemudian bergegas membuat strategi baru yang lebih matang untuk melanjutkan langkah berikutnya.

Masa muda ini hanya sekali dan begitu singkat. Maka gunakan untuk hal-hal yang bermakna. Maka isi waktu untuk menemukan pengalaman-pengalaman yang unik. Berkenalan dengan banyak teman untuk mengasah rasa empati dan simpati. Belajar berorganisasi dalam lingkungan komunitas yang sama untuk membangun jaringan dan menumbuhkan integritas. Meluangkan waktu untuk membaca buku, memahaminya, dan berdiskusi dengan guru atau teman sebaya tentang isi buku agar kita memiliki persepsi yang matang. Hal itu menambah wawasan pemikiran kita. Melakukan perjalanan ke suatu tempat-tempat yang baru, merasakan keramahan penduduknya, merasakan udara yang sejuk dengan pemandangan yang terhampar pohon-pohon yang berbaris, menyaksikan para wisatawan melepas penat dan meluapkan lelah dengan berlibur ke tempat-tempat yang sejuk dan tenang. Kita akan belajar tentang arti keberagaman manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Jalani dan nikmati hidup ini dengan aktivitas yang penuh warna dan penuh makna.

Teruslah memotivasi diri untuk terus berkembang dari sisi keilmuan, memperluas jaringan pertemanan (networking), dan  menghaluskan budi pekerti. Jangan cepat puas, sehingga timbul rasa tidak mau belajar lagi, tidak mau membaca lagi, dan merasa lelah untuk berbuat baik.

Banyak sekali ilmu kehidupan yang dapat kita pelajari dari kehidupan di sekeliling kita. Ilmu kehidupan tidak terbatas di dapat di bangku kuliah maupun sekolah formal. Selama kita mau belajar, kehidupan ini menyimpan hikmah-hikmah pembelajaran yang dapat dipetik sebagai bekal perjalanan kita dalam menempuh hidup ini. Ilmu kehidupan itu membentuk seseorang bersikap dan menilai sesuatu dengan sudut pandang yang utuh. Cara ia menjalin komunikasi dengan sesamanya, cara ia bersikap ramah dengan orang-orang sekelilingnya, cara ia berempati dengan lingkungan sosialnya yang berdampak pada reaksi dan tindakan nyata (social impact), menjadikan ia memiliki kepribadian yang berkarakter. Integritas dan tanggung jawab mereka tertanam dan bertumbuh seiring ia mau mengamati dan berpartisipasi pada lingkungan sosialnya.

Pada saat kita lahir ke dunia, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita bahagia dan tersenyum menyambut kehadiran kita ke alam dunia. Nanti pada saat kita meninggal dunia kita berharap, kita tersenyum dan orang-orang di sekitar kita menangis karena merasa kehilangan akan kebermanfaatan yang telah kita berikan untuk lingkungan.

Jakarta, 19 Agustus 2017

 

 

 

 

 

Membuka Jalan Keberhasilan

“Di jalan ini tidak ada jeda untuk berhenti. Mereka yang berjalan lamban akan tertinggal oleh mereka yang berjalan cepat. Mereka yang berjalan cepat juga akan berada di depan. Mereka yang berjalan dengan santai dan memilih diam akan tertinggal jauh di belakang.” (Ahmad A. Amri, Ph.D)

Roda kehidupan bergerak dengan pasti. Mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangan cita-cita akan tiba pada titik pencapaian. Orang yang sukses adalah orang memiliki drive motivation untuk maju dari hari ke hari. Maju dalam arti kualitas aktivitas hariannya meningkat. Karena kesuksesan itu dirintis melalui usaha kecil yang konsisten setiap hari. Tidak ada kesuksesan yang hadir secara instan tanpa dibarengi usaha yang nyata.

Pertama, menentukan tujuan. Menentukan tujuan menjadi awal untuk memulai setiap perjalanan. Ia menjadi lembaran baru memulai perjalanan. Sama seperti halnya kita ingin merencanakan travelling ke satu atau beberapa tempat wisata, kita perlu menentukan tujuan travelling kita kemana? Pun dalam hidup kita perlu membuat tujuan. Menentukan tujuan itu menjadi basic untuk kita bergerak dan berbuat. Tujuan yang kita sudah buat menjadi kompas kehidupan yang mengarahkan kita menuju tujuan itu. Mereka yang berhasil menentukan tujuan berada satu langkah lebih depan dibandingkan mereka yang tidak mampu menentukan tujuan.

Kedua, manajemen waktu. Tips jitu untuk bagian ini adalah dengan menulis agenda harian dan evaluasi berkala dari pencapaian agenda yang sudah terlaksana dan agenda yang tidak terlaksana. Kata menulis menjadi poin yang ditekankan di sini. Menuliskan rencana melalui agenda harian hari ini adalah bagian upaya menetukan target apa yang ingin dicapai hari esok. Kebiasaan menuliskan agenda harian melatih diri untuk menghargai waktu, mengisinya dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat. Evaluasi berkala dilakukan untuk menilai sejauh mana effort yang kita diberikan untuk merealisasikan rencana harian yang sudah dibuat sebelumnya.

Ketiga, kerja cepat (work fast) dan kerja efektif (work effective). Realisasiny adalah berfikir dahulu sebelum bekerja. Think-work. Satu waktu bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dalam hal ini perlu dibuat strategi yaitu menentukan pekerjaan sesuai skala prioritas.

Keempat, membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah pintu untuk membuka wawasan yang berkembang secara global. Membaca adalah simbol bagi para penuntutu ilmu yang tak pernah puas untuk terus belajar. Sekian banyak buku yang sudah ia baca, ia semakin merasa rendah hati karena ia sadar begitu luasnya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui.

Ibarat sebuah rumah yang besar, membaca adalah lampu yang menyalakan seisi rumah menjadi terang dan membuat penghuninya merasa betah dan nyaman berlama-lam di rumah. Semakin  banyak buku yang dibaca, maka semakin banyak lampu yang menyala. Artinya semakin banyak ruangan gelap yang berkurang. Tanpa lampu yang menyala, seisi rumah itu akan gelap gulita dan membuat penghuninya tidak betah berlama-lama berada di dalamnya.

Kelima, membangun jaringan (build networking). Ada pertanyaan apakah ada hubungan kesuksesan dengan kemampuan komunikasi yang baik? Saya menjawa tentu ada. Orang-orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik adalah orang-orang yang memiliki kemampuan beradaptasi. Ia  berusaha membangun deep relationship dengan orang-orang yang memiliki kesamaan ide, kesamaan sudut pandang, kesamaan passioan , dan kesaamaan minat. Dari sana akan lahir ide kreatif yang merupakan hasil kolaborasi dari berbagai ide yang sudah terkumpul. Ada istilah, siapa yang dapat beradaptasi, maka ia akan survive.

Persoalan di era digital ini sering kali membuat generasi muda lalai dan terbuai oleh hiruk pikuk komunikasi di media sosial yang tak terasa menghabiskan waktu dalam porsi yang besar. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah tanpa terasa tujuan dan rencana harian yang sudah dibuat hanya sekedar menjadi catatan belaka yang tidak membekas apa-apa. Waktu tanpa sadar terlewat dan terbuang. Usia muda adalah  usia di mana harus digunakan untuk menemukan jati diri, membangun networking, menumbuhkan idealisme dan mengembangkan intelektual,  secara perlahan terbias dan beralih oleh aktivitas berkomunikasi melalui media sosial yang digunakan secara tidak bijak.

Bukan tidak boleh menggunakan media sosial. Bahkan secara jujur diakui bahwa media sosial memudahkan untuk build networking dengan sesama dan berkenalan dengan orang-orang baru semakin efisien. Yang menjadi masalahnya adalah menggunakan media sosial hingga kita lupa bahwa kita hidup di dunia nyata -kita perlu berinteraksi melalu pertemuan secara fisik, kita butuh membangun interpersonal skills dengan orang-orang yang baru kita kenal, kita perlu berempati dengan saudara kita yang sedang ditimpa kesulitan, kita perlu memberi apresiasi kepada kenalan kita karena ia berhasil menyelasaikan pendidikan dan sebagainya.-

Sebagian kita merasa lebih asyik berkomunikasi dengan media sosial dengan merasa I have so many friends in social media dengan mengabaikan berkomunikasi dalam kehidupan nyata sehingga kamu merasa lebih mementingkan berkomunikasi dengan media sosial lalu tak peduli dengan orang-orang  yang berada di samping kanan dan kirimu, orang-orang yang berada dekat denganmu. Padahal bisa jadi orang-orang yang baru kita kenal they will be your future leader?  They will be somebody important in the future? Namun pertanyaannya, how many friends really do you have dalam kehidupan nyata? Apakah teman-teman di media sosial yang kamu maksud itu adalah orang-orang yang paling banyak dan paling sering like postingan di instagram dan di facebook atau like twit kamu?

Tapi bukan itu. Really your friends di sini bukan hanya teman yang asal sekedar kenal namun kamu sudah mengenal mereka hingga tahap deep relationship. Sehingga teman-teman kamu, menerima dirimu dengan apa adanya, dengan satu paket kelebihan dan kekurangan yang melekat dalam dirimu. Keberadaan dirimu melekat dalam ruang hati teman-temanmu. Di saat kamu memerlukan kehadiran sosok teman untuk bercerita, untuk meluapkan keluh kesah, mengungkapkan kegelisahan, ia selalu menyediakan ruang untuk menemanimu kapan pun itu.

Keenam, positif thinking (berbaik sangka). Berbaik sangka apapun hasil atas usaha yang kita sudah kerjakan. Make sure bahwa saat di mana kita jatuh, maka pastikan kita jatuh ke depan. Karena dengan begitu jatuhnya kita mendekatkan diri kita menuju tujuan yang sudah kita tentukan di awal. Saat kita gagal dalam berusaha, tidak apa-apa asalkan kita gagal sesudah melalui proses dalam effort. Justru apresiasi terbesar dari mencapai tujuan adalah keberhasilan kita melalui setiap tahap proses usaha yang kita lewati hingga akhirnya kita berada pada titik pencapaian yaitu tiba pada tujuan yang sudah kita kehendaki sejak memulai perjalanan.

Jakarta, 07 Agustus 2017

 

 

Hikmah Dibalik Kegagalan

Dalam hidup kita selalu menghadapi situasi dimana kita harus memilih. Banyak jalan yang terbentang luas dimana kita perlu memutuskan jalan mana yang akan dipilih. Lalu setiap pilihan hidup selalu beriringan dengan risiko. Terkadang kita perlu diingatkan kembali pada titik kita memilih sebuah jalan, sebuah keputusan, hasil yang kita dapatkan selalu berkaitan dua sisi, ada yang memuaskan dan ada yang mengecewakan. Sebagai sebuah fase yang harus dilalui, sering kali diri kita tidak siap atau lebih cenderung tidak mau mempersiapkan diri untuk menerima hasil yang membuat kita kecewa.

Dari sana kita belajar arti kebahagian.  Arti kesabaran. Kehidupan ini tidak selalu menjanjikan kesenangan. Karena kehidupan selalu menjanjikan ujian, cobaan, dan jalan yang terjal dan berliku yang harus dilalui. Melalui cobaan kehidupan itu respon dan sikap kita di uji. Apakah kita membiarkan dengan pasrah kesedihan dan kekecewaan sehingga keduanya membuat kita terlena dan merampas kebahagian kita? Ataukah kita berbuat sesuatu untuk bangkit dari keterpurukan itu untuk mengejar harapan-harapan baru?

Kita berupaya seberat apapun masalah yang ada di pundak kita, kita tetap bisa berbuat, kita bisa melanjutkan kehidupan, kita bisa meneruskan jalan ini meskipun dengan langkah tertatih-tatih namun pasti. Kita perlu mengelola emosi dengan pertimbangan akal sehat. Kita perlu berkaca pada diri sendiri apakah aktivitas yang kita kerjakan sudah terfokus denga apa yang kita rencanakan sejak awal. Kita perlu menyediakan ruang untuk meluapkan keluh dan kesah yang hinggap ke dalam diri kita. Bukan untuk sekedar mengisi waktu luang, namun untuk mencari makna atas setiap kejadian yang sudah terlewat.

Orang-orang yang mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kegagalan-kegagalan masa lalu adalah orang yang bijaksana. Ia berusaha memetik hikmah dari apa yang sudah terlewat. Ia berupaya untuk tidak jatuh pada jurang kesalahan yang sama dengan yang sebelumnya. Ia juga menyiapkan strategi untuk meminimalisir kegagalan. Ia tidak merumuskan itu sendiri. Di sisinya, ada orang-orang yang tulus mendampinginya, menguatkannya di saat ia jatuh, menasihatinya di saat mental semangat juangnya melemah. Ia tidak malu meminta nasihat dari orang-orang yang ia anggap amanah dan mampu memberi penerang di kala hatinya gundah dan diliputi kesedihan.

Dari sana ia memahami sepahit apapun pengalaman selalu menyimpan sisi kebaikan. Kebaikan itu tidak muncul dengan serta merta. Ia perlu membujuk dirinya untuk tetap tegar menjalani roda kehidupan ini. Ia butuh meluapkan emosi yang mengendap hingga menyesakkan hatinya melalui raut wajah yang sedih, melalui gerak tubuh yang menjelaskan kondisi hatinya ia sedang tidak stabil, melalui tangisan, melalu doa-doa panjang yang ia ungkapkan penuh kejujuran. Ada luka yang ia ingin sembuhkan dari sebuah pengalaman pahit itu. Ada harapan baru yang ia ingin rajut kembali. Ada perjalanan baru yang harus di tempuh hingga tuntas.

Kesuksesan itu bukan tentang siapa yang lebih dahulu memulai perjalanan. Namun kesuksesan itu adalah tentang siapa yang meniti langkah secara konsisten hingga ia tiba sampai tujuan. Ia menjadikan kegagalan di masa lampau menjadi ‘batu bata’ yang membuat jiwanya semakin kokoh. Ia merasa bahagia bahwa pada titik optimis terendah sekalipun, ia bisa bangkit dan melaluinya dengan hati yang lapang.

Meresapi setiap lekuk kehidupan sejatinya membuat jiwamu semakin kaya akan pengalaman. Dari pengalaman itu kamu memperoleh persepsi yang baru, wisdom, rasa sabar yang semakin mendewasa, dan rasa ikhlas yang semakin merekah. Kamu menjadi pribadi yang lebih aware dan mencintai dirimu sendiri, kamu menjadi pribadi yang memiliki empati kepada orang lain yang sedang memiliki masalah hidup yang sama pernah di alami, dan hubungan dengan orang-orang terdekat kamu juga semakin erat. Kamu juga semakin percaya bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus tidak menginginkan kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Mereka akan berusaha menemanimu melewati masa-masa itu, memberikan energi kepadamu agar kamu tidak terus-menerus dalam kondisi terpuruk, agar terukir kembali senyuman menghiasi bibirmu, agar kamu tidak merasa menanggung beban masalah itu sendirian.

 

Jakarta, 20 Juli 2017