Membuka Jalan Keberhasilan

“Di jalan ini tidak ada jeda untuk berhenti. Mereka yang berjalan lamban akan tertinggal oleh mereka yang berjalan cepat. Mereka yang berjalan cepat juga akan berada di depan. Mereka yang berjalan dengan santai dan memilih diam akan tertinggal jauh di belakang.” (Ahmad A. Amri, Ph.D)

Roda kehidupan bergerak dengan pasti. Mereka yang bersungguh-sungguh memperjuangan cita-cita akan tiba pada titik pencapaian. Orang yang sukses adalah orang memiliki drive motivation untuk maju dari hari ke hari. Maju dalam arti kualitas aktivitas hariannya meningkat. Karena kesuksesan itu dirintis melalui usaha kecil yang konsisten setiap hari. Tidak ada kesuksesan yang hadir secara instan tanpa dibarengi usaha yang nyata.

Pertama, menentukan tujuan. Menentukan tujuan menjadi awal untuk memulai setiap perjalanan. Ia menjadi lembaran baru memulai perjalanan. Sama seperti halnya kita ingin merencanakan travelling ke satu atau beberapa tempat wisata, kita perlu menentukan tujuan travelling kita kemana? Pun dalam hidup kita perlu membuat tujuan. Menentukan tujuan itu menjadi basic untuk kita bergerak dan berbuat. Tujuan yang kita sudah buat menjadi kompas kehidupan yang mengarahkan kita menuju tujuan itu. Mereka yang berhasil menentukan tujuan berada satu langkah lebih depan dibandingkan mereka yang tidak mampu menentukan tujuan.

Kedua, manajemen waktu. Tips jitu untuk bagian ini adalah dengan menulis agenda harian dan evaluasi berkala dari pencapaian agenda yang sudah terlaksana dan agenda yang tidak terlaksana. Kata menulis menjadi poin yang ditekankan di sini. Menuliskan rencana melalui agenda harian hari ini adalah bagian upaya menetukan target apa yang ingin dicapai hari esok. Kebiasaan menuliskan agenda harian melatih diri untuk menghargai waktu, mengisinya dengan aktivitas yang bernilai dan bermanfaat. Evaluasi berkala dilakukan untuk menilai sejauh mana effort yang kita diberikan untuk merealisasikan rencana harian yang sudah dibuat sebelumnya.

Ketiga, kerja cepat (work fast) dan kerja efektif (work effective). Realisasiny adalah berfikir dahulu sebelum bekerja. Think-work. Satu waktu bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan. Dalam hal ini perlu dibuat strategi yaitu menentukan pekerjaan sesuai skala prioritas.

Keempat, membaca. Membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah pintu untuk membuka wawasan yang berkembang secara global. Membaca adalah simbol bagi para penuntutu ilmu yang tak pernah puas untuk terus belajar. Sekian banyak buku yang sudah ia baca, ia semakin merasa rendah hati karena ia sadar begitu luasnya ilmu pengetahuan yang belum ia ketahui.

Ibarat sebuah rumah yang besar, membaca adalah lampu yang menyalakan seisi rumah menjadi terang dan membuat penghuninya merasa betah dan nyaman berlama-lam di rumah. Semakin  banyak buku yang dibaca, maka semakin banyak lampu yang menyala. Artinya semakin banyak ruangan gelap yang berkurang. Tanpa lampu yang menyala, seisi rumah itu akan gelap gulita dan membuat penghuninya tidak betah berlama-lama berada di dalamnya.

Kelima, membangun jaringan (build networking). Ada pertanyaan apakah ada hubungan kesuksesan dengan kemampuan komunikasi yang baik? Saya menjawa tentu ada. Orang-orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik adalah orang-orang yang memiliki kemampuan beradaptasi. Ia  berusaha membangun deep relationship dengan orang-orang yang memiliki kesamaan ide, kesamaan sudut pandang, kesamaan passioan , dan kesaamaan minat. Dari sana akan lahir ide kreatif yang merupakan hasil kolaborasi dari berbagai ide yang sudah terkumpul. Ada istilah, siapa yang dapat beradaptasi, maka ia akan survive.

Persoalan di era digital ini sering kali membuat generasi muda lalai dan terbuai oleh hiruk pikuk komunikasi di media sosial yang tak terasa menghabiskan waktu dalam porsi yang besar. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah tanpa terasa tujuan dan rencana harian yang sudah dibuat hanya sekedar menjadi catatan belaka yang tidak membekas apa-apa. Waktu tanpa sadar terlewat dan terbuang. Usia muda adalah  usia di mana harus digunakan untuk menemukan jati diri, membangun networking, menumbuhkan idealisme dan mengembangkan intelektual,  secara perlahan terbias dan beralih oleh aktivitas berkomunikasi melalui media sosial yang digunakan secara tidak bijak.

Bukan tidak boleh menggunakan media sosial. Bahkan secara jujur diakui bahwa media sosial memudahkan untuk build networking dengan sesama dan berkenalan dengan orang-orang baru semakin efisien. Yang menjadi masalahnya adalah menggunakan media sosial hingga kita lupa bahwa kita hidup di dunia nyata -kita perlu berinteraksi melalu pertemuan secara fisik, kita butuh membangun interpersonal skills dengan orang-orang yang baru kita kenal, kita perlu berempati dengan saudara kita yang sedang ditimpa kesulitan, kita perlu memberi apresiasi kepada kenalan kita karena ia berhasil menyelasaikan pendidikan dan sebagainya.-

Sebagian kita merasa lebih asyik berkomunikasi dengan media sosial dengan merasa I have so many friends in social media dengan mengabaikan berkomunikasi dalam kehidupan nyata sehingga kamu merasa lebih mementingkan berkomunikasi dengan media sosial lalu tak peduli dengan orang-orang  yang berada di samping kanan dan kirimu, orang-orang yang berada dekat denganmu. Padahal bisa jadi orang-orang yang baru kita kenal they will be your future leader?  They will be somebody important in the future? Namun pertanyaannya, how many friends really do you have dalam kehidupan nyata? Apakah teman-teman di media sosial yang kamu maksud itu adalah orang-orang yang paling banyak dan paling sering like postingan di instagram dan di facebook atau like twit kamu?

Tapi bukan itu. Really your friends di sini bukan hanya teman yang asal sekedar kenal namun kamu sudah mengenal mereka hingga tahap deep relationship. Sehingga teman-teman kamu, menerima dirimu dengan apa adanya, dengan satu paket kelebihan dan kekurangan yang melekat dalam dirimu. Keberadaan dirimu melekat dalam ruang hati teman-temanmu. Di saat kamu memerlukan kehadiran sosok teman untuk bercerita, untuk meluapkan keluh kesah, mengungkapkan kegelisahan, ia selalu menyediakan ruang untuk menemanimu kapan pun itu.

Keenam, positif thinking (berbaik sangka). Berbaik sangka apapun hasil atas usaha yang kita sudah kerjakan. Make sure bahwa saat di mana kita jatuh, maka pastikan kita jatuh ke depan. Karena dengan begitu jatuhnya kita mendekatkan diri kita menuju tujuan yang sudah kita tentukan di awal. Saat kita gagal dalam berusaha, tidak apa-apa asalkan kita gagal sesudah melalui proses dalam effort. Justru apresiasi terbesar dari mencapai tujuan adalah keberhasilan kita melalui setiap tahap proses usaha yang kita lewati hingga akhirnya kita berada pada titik pencapaian yaitu tiba pada tujuan yang sudah kita kehendaki sejak memulai perjalanan.

Jakarta, 07 Agustus 2017

 

 

Hikmah Dibalik Kegagalan

Dalam hidup kita selalu menghadapi situasi dimana kita harus memilih. Banyak jalan yang terbentang luas dimana kita perlu memutuskan jalan mana yang akan dipilih. Lalu setiap pilihan hidup selalu beriringan dengan risiko. Terkadang kita perlu diingatkan kembali pada titik kita memilih sebuah jalan, sebuah keputusan, hasil yang kita dapatkan selalu berkaitan dua sisi, ada yang memuaskan dan ada yang mengecewakan. Sebagai sebuah fase yang harus dilalui, sering kali diri kita tidak siap atau lebih cenderung tidak mau mempersiapkan diri untuk menerima hasil yang membuat kita kecewa.

Dari sana kita belajar arti kebahagian.  Arti kesabaran. Kehidupan ini tidak selalu menjanjikan kesenangan. Karena kehidupan selalu menjanjikan ujian, cobaan, dan jalan yang terjal dan berliku yang harus dilalui. Melalui cobaan kehidupan itu respon dan sikap kita di uji. Apakah kita membiarkan dengan pasrah kesedihan dan kekecewaan sehingga keduanya membuat kita terlena dan merampas kebahagian kita? Ataukah kita berbuat sesuatu untuk bangkit dari keterpurukan itu untuk mengejar harapan-harapan baru?

Kita berupaya seberat apapun masalah yang ada di pundak kita, kita tetap bisa berbuat, kita bisa melanjutkan kehidupan, kita bisa meneruskan jalan ini meskipun dengan langkah tertatih-tatih namun pasti. Kita perlu mengelola emosi dengan pertimbangan akal sehat. Kita perlu berkaca pada diri sendiri apakah aktivitas yang kita kerjakan sudah terfokus denga apa yang kita rencanakan sejak awal. Kita perlu menyediakan ruang untuk meluapkan keluh dan kesah yang hinggap ke dalam diri kita. Bukan untuk sekedar mengisi waktu luang, namun untuk mencari makna atas setiap kejadian yang sudah terlewat.

Orang-orang yang mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu, kegagalan-kegagalan masa lalu adalah orang yang bijaksana. Ia berusaha memetik hikmah dari apa yang sudah terlewat. Ia berupaya untuk tidak jatuh pada jurang kesalahan yang sama dengan yang sebelumnya. Ia juga menyiapkan strategi untuk meminimalisir kegagalan. Ia tidak merumuskan itu sendiri. Di sisinya, ada orang-orang yang tulus mendampinginya, menguatkannya di saat ia jatuh, menasihatinya di saat mental semangat juangnya melemah. Ia tidak malu meminta nasihat dari orang-orang yang ia anggap amanah dan mampu memberi penerang di kala hatinya gundah dan diliputi kesedihan.

Dari sana ia memahami sepahit apapun pengalaman selalu menyimpan sisi kebaikan. Kebaikan itu tidak muncul dengan serta merta. Ia perlu membujuk dirinya untuk tetap tegar menjalani roda kehidupan ini. Ia butuh meluapkan emosi yang mengendap hingga menyesakkan hatinya melalui raut wajah yang sedih, melalui gerak tubuh yang menjelaskan kondisi hatinya ia sedang tidak stabil, melalui tangisan, melalu doa-doa panjang yang ia ungkapkan penuh kejujuran. Ada luka yang ia ingin sembuhkan dari sebuah pengalaman pahit itu. Ada harapan baru yang ia ingin rajut kembali. Ada perjalanan baru yang harus di tempuh hingga tuntas.

Kesuksesan itu bukan tentang siapa yang lebih dahulu memulai perjalanan. Namun kesuksesan itu adalah tentang siapa yang meniti langkah secara konsisten hingga ia tiba sampai tujuan. Ia menjadikan kegagalan di masa lampau menjadi ‘batu bata’ yang membuat jiwanya semakin kokoh. Ia merasa bahagia bahwa pada titik optimis terendah sekalipun, ia bisa bangkit dan melaluinya dengan hati yang lapang.

Meresapi setiap lekuk kehidupan sejatinya membuat jiwamu semakin kaya akan pengalaman. Dari pengalaman itu kamu memperoleh persepsi yang baru, wisdom, rasa sabar yang semakin mendewasa, dan rasa ikhlas yang semakin merekah. Kamu menjadi pribadi yang lebih aware dan mencintai dirimu sendiri, kamu menjadi pribadi yang memiliki empati kepada orang lain yang sedang memiliki masalah hidup yang sama pernah di alami, dan hubungan dengan orang-orang terdekat kamu juga semakin erat. Kamu juga semakin percaya bahwa orang-orang yang menyayangimu dengan tulus tidak menginginkan kamu berlarut-larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Mereka akan berusaha menemanimu melewati masa-masa itu, memberikan energi kepadamu agar kamu tidak terus-menerus dalam kondisi terpuruk, agar terukir kembali senyuman menghiasi bibirmu, agar kamu tidak merasa menanggung beban masalah itu sendirian.

 

Jakarta, 20 Juli 2017

Membangun Komitmen Diri

Dua bulan yang lalu usia saya beranjak dua puluh lima tahun. Saya tidak mengadakan perayaan akan hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang spesial. Hari itu saya hanya berdoa penuh syukur kepada Allah atas nikmat usia yang telah di amanahkan kepada saya. Saya masih diberi amanah untuk menapaki kehidupan yang berarti amanah itu harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Saya juga memohon doa kepada-Nya agar diberikan kekuatan dan keteguhan iman untuk meniti jalan yang di ridhoi-Nya.

Beberapa kawan saya memberi ucapan selamat ulang tahun dan mendoakan hal yang baik-baik kepada saya. Saya berterima kasih dan meng-aaminkan setiap doa yang disampaikan itu. Ada juga yang memberikan kado sebagai hadiah ulang tahun. Diantara mereka ada juga kawan saya yang mendoakan, semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang solehah. Mendengar kalimat itu, saya tersenyum penuh harapan. Setiap doa adalah kebaikan. Kebaikan kepada orang yang berdoa dan kebaikan kepada orang yang di doakan.

Saya merenung mengingat kembali rekaman perjalanan yang sudah saya lalui hingga beranjak di usia ini. Melihat sisi kedewasaan yang mulai tumbuh. Kedewasaan yang diraih melalui proses panjang hingga menyatu menjadi kepribadian. Hingga sampai pada titik saya bertanya ke dalam diri saya sendiri, apa yang membuat saya bahagia? Bagaimana saya memperjuangkan kebahagiaan itu? Sejauh mana saya berusaha mewujudkan kebahagiaan itu selama ini? Apakah waktu yang sekian lama dilalui membuat saya terlena dalam kebahagiaan dari sudut pandang materi kebendaan semata? Bukankah sifat dunia adalah kefanaan, kesemuan, dan kesementaraan?

25 Mei 2017, saya menghadiri seminar Tarhib Ramadhan di Aula Gema Insani Kalibata, Jakarta Selatan. Seminar ini di selenggarakan oleh Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations . Ada dua pembicara dalam seminar ini, yaitu Ust. Fahmi Salim, M.A. dan Ust. Dr. Syamsuddin Arif. Bebarapa isi materi saya rangkum menjadi catatan saya dan say tuliskan kembali dengan niat setiap nasihat kebaikan menjadi pendorong untuk giat meningkatkan amal soleh. Karena pada akhirnya yang akan dibawa oleh manusia setelah ia meninggal dunia adalah iman dan amal soleh.

Ust. Fahmi Salim M.A. menyampaikan, “Dalam tafsir Al-Manar karya Syeikh Rasyid Ridha dikutip dari gurunya, Syeikh Muhammad Abduh : “Di pilihnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan adalah sebagai bentuk syukur atas turunya Al-Qur’an. Hal ini adalah bagian dari intisari surat Al-Baqarah ayat 185. Penjelasan Syeikh Muhammad Abduh yang termuat dalam tafsir Al-Manar mengenai perintah berpuasa adalah bentuk rasa syukur atas turunnya Al-Qur’an sangat logis. Karena maqashid (tujuan) dari perintah berpuasa sangat erat dengan maqashid  (tujuan) diturunkannya Al-Qur’an yaitu pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Ketakwaan sebagai sebuah sistem hanya bisa dijelaskan  dalam  Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 2). Kedua, memperbaharui komitmen terhadap Al-Qur’an. Pancaran kesucian jiwa merupakan hasil dari  ibadah puasa dan komitmen diri terhadap  nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hanya orang-orang yang lahir dari proses penyucian diri dengan berpuasa akan menjadi pribadi yang berhasil, pribadi yang mampu mengemban risalah Al-Qur’an.”

“Kesimpulan dari bagian ini adalah puasa adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah dan Al-Qur’an adalah obat segala penyakit. Apa tanda jiwa yang sehat? Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bahagia. Puasa membahagiakan jiwa. Dengan berpuasa Allah menjadikan fisik kita lemah, syahwat kita di ikat, tenggorokan kita dibuat haus. Saat berpuasa, fisik kita  memang tidak diberi makan namun hakikatnya jiwa yang diberi makan. Semua proses itu dilalui dalam rangka membahagiakan jiwa dan membersihkan hati. Orang-orang yang berpuasa jiwanya akan sehat dari  penyakit-penyakit hati. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 82 : “Dan Kami turunkan Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ust. Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan materi mengenai kesolehan pribadi. Beliau menyampaikan, “Kesolehan pribadi adalah tanggung jawab setiap individu. Kamu sendiri yang harus melalui satu anak tangga ke anak tangga yang lainnya, dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Kamu sendiri yang harus bergerak mengusahakan, menyempurnakan satu level kebaikan menuju level selanjutnya dimana setiap level memiliki tantangan dan hambatan. Orang lain hanya bisa menasihati, menunjuki jalan yang benar, memberikan teladan yang baik, memotivasi untuk untuk meningkatkan amal soleh, namun kamu sendiri yang harus membujuk diri, menggerakkan diri penuh kesadaran,  keikhlasan, dan kesabaran untuk menyempurnakan setiap kebaikan.

“Sabar itu seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’kub ‘Alaihis salam dalam menanti perjumpaan dengan  anaknya , Nabi Yusuf ‘Alaihis salam setelah sekian tahun berpisah. Kita dengam mudah membacanya dalam Al-Qur’an surat Yusuf –dalam surat tersebut kisah Yusuf dikisahkan dengan sangat lengkap dari awal hingga akhir surat. Tapi kita tidak merasakan bagaimana perasaan Nabi Ya’kub melewati kesedihan di hari-hari yang dilaluinya karena kehilangan anak yang sangat dicintainya. ”

Untaian nasihat dari beliau membuat saya sadar bahwa saya yang bertanggung jawab pada diri sendiri. Saya sendiri yang harus berdisiplin dalam beragama. Karena agama adalah ranah keyakinan yang ada di dalam hati, bukan ranah pemikiran. Keyakinan yang terpatri kokoh dalam hati memancarkan ketenangan hati dan keteduhan akhlak. Tanpa adanya kesadaran yang ikhlas dari hati dan semangat memperbaiki diri, perubahan diri akan sulit terwujud. Karena kesolehan pribadi bersumber dari keyakinan yang mendasar pada nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang kemudian keyakinan itu terwujud melalui amal soleh dan akhlak yang baik sebagai tanggung jawab dan ketaatan sebagai seorang muslim.

Menghadiri majelis ilmu seperti ini membuat saya mempunyai persepsi yang baru mengenai kesolehan dan penyucian diri. Saya menjadikan majelis ilmu menjadi sarana untuk menambah ilmu dan pemahaman, menjadi bahan untuk mengevaluasi diri –melihat lebih jernih apa-apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, menjadi nutrisi yang menambah keimanan. karena sejatinya, tubuh manusia harus diberi asupan yang seimbang, yaitu asupan fisik dan asupan ruhani. Keduanya adalah kebutuhan setiap manusia yang harus dipenuhi agar hidupnya seimbang dan bermakna. Dan hikmah terpenting dari menghadiri majelis ilmu adalah memperbaharui semangat untuk menata diri lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 18 Juli 2017

 

Part of Life

“Hidup itu perlu direnungkan, tidak cukup hanya dilakoni.”

(Socrates)

 

Menjadi orang yang bahagia adalah idaman setiap insan. Bahagia adalah kata sifat yang ringan diucapkan namun dalam mewujudkannya butuh diperjuangkan. Setiap kita terlahir memiliki daya dan kemampuan untuk mengusahakan kebahagian itu. Kemampuan merasakan kasih sayang dari orang-orang yang kita cintai, kemampuan berempati dengan kehidupan orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kemampuan menentukan sikap dan memberi respon dari masalah yang sedang di hadapi oleh diri sendiri. Kemampuan itu bersifat dinamis, berkembang seiring dengan waktu yang terus bergerak sesuai pengalaman hidup yang sudah dilalui.

Hakikat kehidupan adalah persinggahan sementara untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sudah ditentukan untuk menuju negeri akhirat. Kehidupan selalu menjanjikan ujian. Karena ujian pasti di alami setiap manusia, namun kondisi mental kita terkadang tak stabil dan kondisi hati tak menentu. Oleh karena itu kita membutuhkan energi-energi positif dari orang-orang terdekat yang menyayangi kita. Mereka itu bisa jadi adalah orang tua kita, kakak atau adik kita, teman kita, rekan kerja kita, atau guru kita. Maka benar ungkapan, manusia menjadi utuh saat ia berinteraksi dengan sesamanya. Karena ada sisi ruang dalam diri manusia dimana ruang itu  tidak cukup  menyimpan semua perasaan, semua masalah, semua harapan itu dengan sendirian. Ia butuh menyediakan ruang lain untuk berbagi dengan sesamanya untuk sekedar berbagi cerita, berbagi keluh kesah, dan berbagi semangat sebagai sarana berekspresi. Dan berekspresi adalah bagian kebutuhan manusia.

Tak perlu malu menceritakan masalah yang kamu hadapi kepada orang yang kamu percaya dia bisa amanah menyimpan kisah kehidupanmu. Kecewa adalah proses, menangis adalah proses, bersedih adalah proses.  Rasa kecewa, sedih, menetaskan air mata karena luka yang begitu mendalam bukan sesuatu yang menunjukkan kelemahan dirimu.  Dengan bersedih, kecewa, menangis, berharap, kamu telah mengekspresikan segenap perasaan yang hinggap di hatimu dan sekaligus menunjukkan sisi-sisi manusiawi yang ada dalam dirimu. Dirimu lebih tahu apa yang ada di hatimu dan perasaan apa yang sedang menyentuh hatimu. Dengarkan suara hatimu, lalu ajak ia berdialog untuk menarik kesimpulan yang terbaik yang kelak akan kamu jadikan pijakan dalam menentukan langkah kamu selanjutnya.

Rasa kecewa dan sedih, sikapi sewajarnya. Tak perlu berlama-lama, apalagi membuat optimis hidup luntur. Keduanya jangan dijadikan alasan untuk segera bangkit dan berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Segera beranjak, menjemput harapan baru dengan hati yang baru. Biarkan waktu menjadi saksi atas setiap ikhtiar yang kamu kerjakan. Orang-orang yang menyayangimu dengan tulus menginginkan dirimu yang selalu optimis, selalu riang, selalu semangat, dan selalu menjadi dirimu sendiri.

Terkadang kamu perlu meluangkan waktumu untuk merenung dan berdiam diri. Berdiam diri dalam arti melihat seberapa jauh tapak langkahmu selama ini telah kamu tempuh, berapa banyak pencapaian dalam kehidupan yang sudah kamu raih dan berapa banyak rencana yang belum terealisasi, dan berapa banyak perbaikan yang akan kamu lakukan untuk menyempurnakan langkahmu sebelumnya. Bagaikan seorang musafir yang sedang duduk di bawah pohon rindang melepas lelah setelah melewati perjalanan yang panjang di bawah matahari yang terik. Ia menjadikan istirahat menjadi bagian dalam perjalannya. Istirahat itu ia jadikan untuk mengumpulkan energi-energi baru untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Pun demikian, manusia pun seharusnya menjadikan proses bermuhasabah (merenung sambil berintrospeksi diri) menjadi part of life (bagian dalam hidup) untuk mengukur sudah sesuaikah jalan yang di lalui menuju tujuan awal? Bekal apa yang butuh dipersiapkan untuk perjalanan selanjutnya? Apakah ia mampu memanfaatkan bekal yang dibawa secara efektif hingga mencukupi hingga akhir perjalanan? Dengan perjalanan sejauh ini, apakah rasa sabar dan syukur dalam dirimu semakin meredup ataukah semakin menyala?

Untuk meraih kebahagian, kamu yang harus berproses dari satu tahapan kehidupan ke tahapan selanjutnya. Orang lain di sekitarmu hanya mampu menasihatimu, mengingatimu agar kamu berjalan sesuai rambu-rambu yang berlaku, mengajakmu berlomba dalam kebaikan, dan memberitahumu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Namun kamu sendiri yang harus berproses melewati satu anak tangga ke tangga berikutnya, dari satu level ke level selanjutnya. Dari satu titik kedewasaaan menuju ke titik kedewasaan selanjutnya. Proses itu dijalani sepenuh hati diiringi dengan rasa sabar yang kokoh.

Jakarta, 27 Mei 2017

2 Ramadhan 1438 H

Menemukan Makna dari Rangkaian Waktu

Hampir tiga tahun saya belajar di kampus tercinta, Universitas Indraprasta PGRI. Artinya sudah separuh lebih perjalanan menuju gerbang akhir program sarjana. Dalam hati saya berharap satu tahun lagi program ini dapat di selesaikan. Perjalanan menuntut ilmu di kampus ini menjadi bagian dalam hidup saya yang tak terpisahkan. Saya tumbuh dan berkembang selama proses belajar di kampus ini. banyak sisi yang membuat diri saya berkembang. Tidak hanya dalam sisi akademik saja, namun juga dari sisi pengalaman mengenyam perkuliahan di kelas reguler sore yang menguras energi dan emosi. Karena saya kuliah selepas saya bekerja seharian dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Pengalaman tidak dapat di bayar oleh materi. Karena ia melibatkan diri untuk mengikuti proses tahap demi tahap, ia menangkap suasana demi suasana dan mental kita memberikan tanggapan. Pembelajaran penting buat saya adalah rasa lelah bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesibukan juga bukan alasan untuk berhenti belajar. Karena sebenarnya belajar itu adalah proses yang tidak mengenal usia. Setiap orang memiliki hak untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya tanpa dibatasi oleh usia. Ruang belajar selalu tersedia di manapun baik di lingkungan pendididikan formal dan non formal.

Berawal dari motivasi ingin meng-upgrade diri itu, saya memutuskan melanjutkan kuliah pada tahun 2014 di kampus ini. Tujuan utama saya adalah menuntut ilmu dan membangun jaringan dengan teman-teman kampus yang baru di kenal. Rasa bangga menjadi bagian dari kampus ini adalah salah satunya. rasa bangga mengemban status mahsiswa. Saya bangga menjadi bagian dalam kampus ini karena di sini saya dapat merasakan jenjang pendidikan formal di atas bangku SMA. Kebanggaan itu secara tidak langsung membangun konstruksi berfikir, saya harus berubah. Maksudnya, saya harus lebih baik dari sisi pola pikir dan perilaku dari anak-anak yang hanya menyelesaikan pendidikan formal sebatas SMA. Namun di sisi lain, saya juga memahami kuliah bukan sekedar soal status sosial melainkan lebih kepada komitmen diri dan tanggung jawab moral untuk menuntaskan kontrak belajar yang di emban sebagai mahasiswa yang pada akhirnya pendidikan yang sudah di dapatkan dapat mengubah perilaku dan pola pikir menjadi insan yang paripurna dan memiliki kepedulian bagi sesamanya.

Masih teringat hari-hari pertama kuliah, saya berusaha mengelola waktu saya dari kebiasaan yang sebelumnya pulang kerja langsung pulang ke rumah. Sekarang setelah mulai aktif kuliah, saya menyesuaikan dan membagi waktu saya untuk belajar di kampus. Minggu-minggu pertama perkuliahan menjadi pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Ternyata tidak mudah membangun kebiasaan baru. Betapa beratnya membangun kebiasaan baru yang menuntut usaha yang lebih banyak yang menuntu stamina tubuh yang fit. Terburu-buru datang ke kampus karena takut datang telah apalagi di hari pertama perkuliahan. Keringat yang mengalir deras karena kondisi ruang kelas yang kurang kipas angin. Perut yang memberi isyarat untuk segera di isi namun jadi tertunda. Belum lagi kondisi tubuh yang sudah sangat lelah di paksa untuk fokus dengan aktivitas pembelajaran di kelas. Gugup dan grogi berkenalan dengan teman-teman baru dalam satu kelas. deg-degan dan keringat dingin, suara terbata-bata dan kaki gemetar saat mendapat tugas presentasi di depan kelas. bahkan pernah di semester awal pada saat saya mendapat tugas presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada sesi tanya jawab, saya mendapat giliran menjawab. Nyatanya saya terdiam cukup lama, ada yang ingin saya kemukakan ide dalam pikiran saya, namun tak bisa saya ungkapkan dengan lisan. Ini mungkin pengaruh demam panggung alias nervous. Akhirnya saya dibantu teman satu kelompok untuk menjawab pertanyaan itu. itu menjadi pengalaman yang saat di ingat-ingat kembali saya jadi malu dan menertawakan diri sendiri. Tapi, sudahlah itu kan namanya proses.

Mengikuti kuliah sore selepas pulang kerja bukanlah hal yang ringan. Hambatan dan tantangan selalu ada. Meskipun dengan hambatan dan tantangan itu bukan berarti menjadi alasan saya untuk menyerah. betul, saya mengeluh lelah. secara alami kondisi tubuh saya mengekspresikan itu. Saya juga menganggap wajar mengeluh karena saya merasa ini adalah perjalanan awal dan secara fisik tubuh saya memberi respon itu untuk dalam proses menyesuaikan diri dengan aktivitas baru  yang rutin saya lakukan. Namun itu hanya kelelahan secara fisik. Yang terpenting buat saya saat itu adalah menjaga motivasi belajar agar terus stabil sampai empat tahun ke depan. Karena motivasi diri itu menurut saya sangat penting dan mendasar. Karena motivasi itu bisa diibaratkan bahan bakar yang akan membuat mesin mobil itu berjalan. Saya berusaha motivasi saya untuk menuntut ilmu agar tetap menyala dan tidak luntur oleh rasa lelah atau pun hambatan-hambatan lain. Motivasi diri itulah yang menggerakkan saya untuk terus berpacu, terus semangat, dan memberikan [emahaman baru bahwa untuk maju dan berkembang perlu pengorbanan, ada risiko dann konsekuensinya.

Perlahan saya menemukan makna keluarga di kampus ini. Saya ingat hari saya mendaftar di kampus ini dan hati saya berkata, saya ingin mengembangkan diri saya dan saya ingin merubah diri semakin lebih baik. faktanya, kampus ini memfasilitasi banyak hal dan saya merasa potensi dan pengetahuan, nilai-nilai kepribadian saya berkembang. Saya belajar bersama teman-teman di sini, saya berinteraksi dengan mereka, di beberapa kesempatan saya bertanya dengan dosen-dosennya, di sisi lain saya berinteraksi dengan pegawai perpustakaan di saat berkunjung ke perpustakaan, dan saya juga ikut pelatihan organisasi dan kepemimpinan yang diadakan oleh ormawa. Interaksi-interaksi yang rutin itu dengan secara otomatis menumbuhkan rasa akrab dan kedekatan. Kedekatan itulah yang membuat saya belajar menghargai orang lain, peduli dengan sesama, dan memiliki komitmen untuk menjalin hubungan pertemanan berasaskan prinsip tolong menolong dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Setiap kita tumbuh dan berkembang karena hasil pengaruh yang ada di sekitar kita. lingkungan memiliki pengaruh terhadap kepribadian tiap-tiap individu. Pun demikian, saya juga mengalami hal itu. Setiap aktivitas yang dilakukan bersama-sama memilki warna yang beragam dan ide-ide kreatif akan lebih berkembang di komunitas yang heterogen. Teman-teman satu kelas adalah komunitas belajar yang memiliki komitmen belajar yang sama. Kadang saya tiba pada titik jenuh, semangat belajar menurun, dan rasa malas menggeregoti motivasi belajar saya. Namun karena saya berada di dalam komunitas, hal seperti itu akan bias dengan sendirinya. Karena tadi,  komunitas itu dapat membangkitkan semangat belajar. Karena komunitas ruang gerak tiap anggotanya menjadi sama. semua anggota berusaha menyesuaikan langkah, menyesuaikan visi, menyesuaikan persepsi untuk bersama saling menyemangati untuk tujuan yang sama yaitu sukses studi.

Apalagi di saat saya dan teman-teman duduk bersamadalam satu forum entah itu forum yang bersifat formal di kelas maupun forum tidak formal di luar kampus. Saya mengamati, saya mendengarkan opini teman tentang perkuliahan dan respon mereka melawan rasa malas, rasa jenuh, lelah, dan semangat menurun. Sebagian mereka mengungkapkan opini dengan bercerita. Seringkali kami menghibur diri dengan berbagi pengalaman yang lucu atau mengarang cerita lucu yang membuat kami tertawa lepas. Momen seperti ini membuat hubungan pertemanan di antara kami semakin erat. Sebagian lagi dari mereka lebih memilih menjalani aktivitas kuliah dengan konsisten. Mereka memberikan teladan bahwa proses perkuliahan ini cukup di jalani dengan sungguh-sungguh. Ruang untuk mengeluh, mengaduh, dan letupan emosi negatif yang lain mereka simpan dalam sudut ruang yang disebut ruang privasi.

Saya belajar menarik kesimpulan dari proses perkuliahan yang sudah dan sedang saya jalani saat ini. Saya belajar menarik hikmah perjalanan yang sudah terlewat.  Pada titik tertentu, saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri, sebenarnya apa tujuan saya kuliah? Sudahkah tujuan itu sudah tercapai atau paling tidak sudah mendekati? Atau sebaliknya semakin jauh dari tujuan awal saya memutuskan untuk kuliah? lalu apakah sejauh ini saya sudah memberikan effort yang maksimal agar tujuan itu terwujud sesuai harapan? Apakah waktu saya di kampus ini sudah saya kompensasikan dengan menyerap informasi baru, pemahaman baru, pengetahuan baru? Apakah selama saya berada di kampus ini saya sudah kompensisasikan waktu saya untu berfikir (think) lebih banyak, membaca (read) buku lebih banyak, mempelajari  (learn) ilmu pengeahuan lebih banyak?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini datang sebagai refleksi diri mengukur dari perjalanan yang sudah di jalani sejauh ini benar-benar mencerminkan kondisi diri saat ini. pertanyaan mengenai sejauh mana saya menghargai waktu, memanfaatkan waktu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Karena waktu itu terbatas. Usia juga terbatas. Namun karena waktu terbatas bukan justru menjadi excuse cepat merasa puas dengan pencapaian yang sudah di raih saat ini lalu berhenti belajar dan berhenti meng-upgrade diri. Menuliskan cerita ini adalah bagian dari cara saya bercermin dan mengevaluasi diri. Karena sejatinya evaluasi adalah menjadi bagian dalam hidup yang tak terpisahkan selama kita ingin melangkah lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 20 Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan, Jejak, dan Pengalaman

Pengalaman berharga dari sebuah perjalanan bernama proses kehidupan yang menyisakan jejak. Jejak itu bernama kedewasaan, mental yang penuh percaya diri, persepsi, dan pola pikir. Kehidupan yang terus berkembang menuntut setiap individu harus siap meresponnya. Respon itu terbentuk dari nilai-nilai yang ada dalam jiwa seseorang. Nilai-nilai itu menyatu dalam jiwa dan memancar dalam perilaku nyata. Keyakinan yang kokoh terhadap nilai-nilai yang sudah ditanam sejak dini dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama membentuk kepribadian seseorang saat ini.

Ekspektasi untuk memiliki pribadi yang dewasa menjadi impian setiap orang. Dewasa secara mental dan pola pikir tentunya. Bukan  sebatas dewasa secara usia. Orang-orang yang mau dewasa dalam sikap, perilaku, dan pola pikir adalah orang-orang yang mau mengikuti rangkaian proses kehidupan yang menuntut kesabaran, ketekunan, jiwa yang memiliki prinsip yang kuat, diri yang ingin selalu memelihara semangat belajar, memperbaiki diri dari apa yang sudah terlewati, memetik hikmah dari peristiwa yang sudah terjadi, berdialog pada diri melalui suara hati yang jernih, mengevaluasi diri dari rencana dan target yang ingin dicapai, kemauan mendengar lebih banyak dari orang-orang yang memberi nasihat, dan memberikan effort lebih untuk mewujudkan harapan. Dalam hal ini yang terpenting adalah menikmati proses kehidupan dengan visi dan rencana yang jelas. Tanpa visi kehidupan menjadi tak terarah. Tanpa rencana yang jelas, kehidupan menjadi perjalanan yang tak memiliki tujuan.

Kita akan menjadi pribadi yang egois jika kita tak mau mengevaluasi diri kita atas apa yang sudah kita kerjakan. Bertanya pada diri sendiri (introspeksi diri ) menjadi penting dalam meniti kehidupan. Agar kita menjadi tahu diri bahwa setiap penglihatan adalah amanah, setiap pendengaran adalah amanah, setiap nikmat kehidupan adalah amanah. Kita diberi hidup karena kita siap menerima paket kehidupan. Paket kehidupan itu beragam namun subtansi satu, kehidupan selalu menjanjikan ujian atau cobaan. Paket satunya lagi, setiap cobaan selalu memiliki solusi atau pemecahan masalah (problem solving). Masalah yang datang dan menghampiri silih berganti itu secara sadar atau tidak sadar melatih kita untuk bersikap dan menentukan tindakan apa yang tepat untuk merespon atas masalah itu.  Masalah itu hakikatnya adalah sarana mengasah budi pekerti kita untuk semakin baik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, peran pendidikan menjadi penting untuk mempersiapkan strategi merespon setiap ujian kehidupan.

Hakikat pendidikan adalah perubahan pola pikir dan perilaku. Pendidikan menuntun kita untuk memiliki sudut pandang yang jernih dalam menentukan sikap. Pendidikan yang berhasil sejatinya membentuk individu menjadi insan yang bertakwa kepada Allah swt. Karena dengan pemahaman ini dunia adalah sarana untuk mengumpulkan kebaikan untuk kembali ke negeri akhirat. Dunia adalah persinggahan sementara dan tujuan akhir adalah negeri akhirat. Ilmu yang di peroleh dari proses pendidikan membuat hati semakin lembut, diri yang semakin rendah hati, akhlak baik yang semakin terpancar, tutur kata yang semakin halus, dan wawasan yang semakin luas. Ia melihat dirinya sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi yang ia sadar bahwa potensi itu harus terus di asah dan dikembangkan. Ia juga melihat dirinya sebagai makhluk sosial yang ia memahami dengan berinteraksi dengan sesama membuat hidup ini semakin utuh. Keberadaannya di lingkungan sosial selalu memberikan pengaruh kebaikan dan ia berusaha memberi kontribusi yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Merugilah orang-orang yang tak bijak menggunakan dan mengelola waktu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Merugilah orang-orang yang menikmati hidup dengan menuruti ego dan mengikuti selera lalu melupakan waktu yang diberikan kepadanya memilki batas. Merugilah orang-orang yang tak peka mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi di masa lampau dan selalu terjerumus pada lubang kesalahan yang sama. Merugilah orang-orang yang hadir di suatu majelis ilmu namun kehadiran tak memberikan bekas dan makna sedikit pun pada dirinya, lantaran ia hadir namun tak memiliki niat untuk belajar memahami ilmu yang disampaikan. Merugilah orang-orang yang sibuk mengomentari dan menilai orang lain, tapi tak pernah menyempatkan diri menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri.

Selama kita mau membuka diri meminta nasihat dari orang tua kita, guru-guru kita, dan sahabat-sahabat kit, maka hal itu membuat diri kita telah membuka untuk menerima motivasi, informasi, dan edukasi. Suara hati untuk berbenah diri menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Kadang kita lebih suka menasihati orang lain, namun lalai menasihati diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk menilai urusan orang lain, namun abai menilai dan mengavaluasi urusan diri sendiri. Kita sering kali menuntut orang lain melakukan kebaikan, tapi kita tak kunjung memberikan teladan yang baik kepada mereka.

Tak ada kata terlambat untuk berubah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Jadikan hidup bertambah umur, bertambah kebaikan.  Tak akan terjadi perubahan diri tanpa diberangi kesungguhan tekad dan usaha yang konsisten. Segera tinggalkan kebiasaan buruk di masa lalu. Bergegas menjemput hari-hari dengan amal kebaikan. Perubahan diri akan hanya menjadi angan-angan tanpa adanya komitmen dan usaha untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, waktu membuktikan apakah perubahan yang kamu niatkan sejak awal menjadi kenyataan sesuai dengan harapan  atau keinginan berubah hanya sekedar wacana yang tak pernah usai.

Jakarta, 19 Mei 2017

Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

chisvvaugam94oi

Hari berganti hari. Setiap manusia memiliki modal yang sama dalam mengarungi kehidupan yaitu waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah swt. adalah amanah agar setiap kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dengan aktivitas kebaikan dan amal soleh. Waktu terus berjalan dan tak akan pernah terulang kembali. Begitulah sifat waktu. Bagi mereka yang mengisi waktu dengan kebaikan dan amal soleh, maka baginya adalah keberuntungan yang besar. Bagi mereka yang lalai, tak mau sadar diri, tak mau memahami makna dan tujuan dari kehidupan itu sendiri, maka kerugian kelak di dapatkannya.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan yang sama yaitu berawal dari seorang bayi lalu anak kecil, remaja, lalu dewasa hingga menjadi orang tua. Kita pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Kita membangun dan mengembangkan potensi diri dari dasar. Sama-sama merasakan ujian kehidupan terutama di saat kita beranjak remaja, dewasa, dan kelak menjadi orang tua. Karena hakikatnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya. Selama proses ujian kehidupan berlangsung ini, setiap orang memiliki pilihan hidup yang ditempuh olehnya. Ada yang tetap tegar dan cepat bangkit di saat cobaan hidup menerpanya. Baginya manusia yang baik adalah manusia yang mau bangkit dari segala macam keterpurukan yang menimpanya. Saat dia jatuh, di memilih untuk bangkit. Saat dia jatuh lagi, dia bangkit lagi. Begitu seterusnya. Ada juga yang memilih untuk pasrah, patah semangat, berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, putus harapan, dan memelihara rasa kecewa yang pada akhirnya dia akan merasakan dampak dari sikap yang telah ia pilih. Karena sejatinya, kebaikan atau keburukan yang kita tanam, hasilnya kelak diri kita sendiri yang merasakan.

Kesempatan untuk menjemput masa depan yang cerah akan terus terbuka selama diri kita mau berjuang membela dan memperjuangkan cita-cita. Kesempatan itu datang dengan satu paket yang di dalamnya terdapat tantangan, kompetisi, pengorbanan, kesungguhan tekad, dan kerja keras. Kadang kita merasa lelah, kadang kita bersemangat, kadang kala kita bosan, kadang kala kita jenuh. Namun begitulah roda kehidupan. Semua berputar dan kita akan merasakan pada titik tertentu sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan titik kejenuhan dan titik kelelahan. Pada saat kondisi seperti itulah, motivasi diri kita di uji. Seberapa tulus kita melewati tahapan proses untuk memperjuangkan cita-cita kita. Seberapa besar kesungguhan kita untuk terus bergerak dan berupaya mewujudkan impian yang menjadi harapan kita. Apakah kita memilih terbuai dalam titik kejenuhan dan titik kelelahan itu sehingga kita lalai, putus asa, dan melupakan tujuan dari akhir perjalanan yang kita pilih? Apakah kita memiliki cadangan kesabaran yang cukup untuk memilih berhenti sejenak beristirahat sambil mengumpulkan energi-energi baru yang ada di sekitar kita dan setelah di rasa cukup, kita melanjutkan perjalanan pelan-pelan namun konsisten untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal perjalanan kita?

Masalah kehidupan yang kita hadapi saat ini kadang kala merupakan bagian masalah yang pernah kita alami di masa lampau namun masalah itu belum tuntas  kita selesaikan. Atau bisa juga masalah yang datang itu merupakan masalah yang baru dan berbeda namun intinya (poin pembelajarannya) sama dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. Karenanya, bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang lebih tua usianya dan memiliki prinsip hidup yang terarah adalah sebuah keharusan. Masalah yang pernah kita hadapi saat ini di usia muda, mereka pun pernah menghadapi dan mereka berhasil melewatinya. Ungkapan, orang yang lebih tua dari kita sudah ‘memakan asam garam’ kehidupan. Artinya orang tua yang lebih tua usianya dari kita, ia lebih berpengalaman melewati getir, pahit, dan manis dari kehidupan. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dan mereka menjadi tempat yang tepat untuk kita bertanya, berdiskusi, dan meminta nasihat.

Kita bertanya untuk mendapatkan pilihan-piliihan jalan mana yang terbaik dari sekian banyak pilihan-pilihan yang ada. Kita bertanya untuk menemukan pencerahan dan menyalakan api optimis hidup dalam diri kita. Kita meminta nasihat untuk mendapat arahan yang jelas termasuk konsekuensi yang harus kita tempuh pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

Perjalanan hidup yang sudah kita lalui hingga hari ini menjadi proses pendewasaan dan mental diri kita. cara berfikir kita berkembang semakin luas wawasannya, emosi kita lebih mudah kita kendalikan, cara bertutur kata kita perhatikan agar tidak menyakiti orang lain, sikap toleransi kita tumbuh dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan dari kita, dan kita semakin menghormati dari kemajemukan yang ada.

Dari jejak-jejak yang sudah kita lalui, kita mulai merasakan bagaimana kesabaran kita ditempa, bagaimana mensiasati suatu keterpurukan, bagaimana melewati masa-masa sulit di tengah himpitan kehidupan dari berbagai arah, bagaimana kita mencari dan menemukan pelita hati untuk kembali bersemangat dari orang-orang yang tulus mencintai kita, bagaimana cinta orang-orang yang menyayangi dan peduli pada kita sehingga energi positif tersebar dalam diri kita. Semua pengalaman hidup itu menjadikan iman terus bertumbuh dan semakin menyala. Semua pengalaman hidup itu menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama kita akhirnya tahu sahabat dan orang yang mencintai kita dengan sangat tulus selalu mengingingkan kita berhasil, mengingingkan kita bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Persahabatan itu akan tetap ada dan akan terus terpelihara dalam balutan senyum yang mengembang, ungkapan sapa yang menghangatkan, dialog yang mengundang tawa, serta nama-nama yang terangkai dalam doa-doa yang panjang. Pada akhirnya, pengalaman hidup yang telah kita lalui menjadi cerita tersendiri yang tersimpan rapi dalam hati dan ingatan kita. Kelak kita bisa membagikan cerita-cerita itu kepada anak dan cucu kita sebagai motivasi dan inspirasi.

Pada saat-saat tertentu, kita perlu melakukan perjalanan melihat kekayaan alam dan melihat realitas sosial. Kita perlu mengajak hati kita rehat sambil memandangi pohon-pohon yang menghijau dan rimbun di sepanjang jalan raya, melihat anak-anak kecil bermain, berlari dan tertawa dengan riangnya,  menatap wajah para pekerja yang sudah terlihat lelah selepas pulang kerja, berlumuran keringat di kening dan tubuhnya namun matanya masih menyala dan menyimpan mutiara harapan-harapan, atau menyaksikan seorang anak yang masih belia sudah memiliki rasa peduli bagi sesamanya, karena ia sadar dari harta yang ia miliki, sebagiannya ada hak orang lain yang harus ia berikan. Atau menyaksikan anak-anak remaja bermain musik sambil bernyanyi di sore hari di dalam angkot (angkutan umum) menghibur para penumpang yang hendak pulang bertemu keluarga tercinta. Mereka bernyanyi dengan niat menyambung hidup dan untuk meringankan beban orang tuanya dalam membiayai ia bersekolah. Ia tidak peduli tatapan sinis beberapa penumpang angkot kepadanya, ia tak ambil pusing persepsi orang yang menilai mengamen adalah pekerjaan yang di pandang sebelah mata. Ia tahu betul dan sadar sekali, ini bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal dan cara ia survive agar ia tetap bersekolah. Melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang membuat kita memiliki pemahaman yang utuh dan benih-benih kepekaan sosial tumbuh. Faktanya ketimpangan dan kesenjangan sosial di kota-kota besar sangat tinggi. Melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita, rasa empati kita dengan sesama akan semakin terasah. Rasa kepekaan semakin bertumbuh dan melunturkan sikap ego. Akal pikiran kita mencari solusi. Hati mendorong diri untuk memberi. Pemberian yang tulus bagi kita menjadi sangat berarti bagi mereka.

Kita dapat berkontribusi dan melakukan perubahan. Karena itu perubahan harus di mulai dari diri sendiri, dari yang ringan yang kita bisai, dan dimulai dari saat ini juga.

 

Jakarta, 05 Maret 2017