Catatan Akhir Pekan

Perpustakaan Kampus Unindra

Saat melihat buku-buku yang tertata rapi dalam rak-rak di perpustakaan kampus, pikiran saya melayang membayangkan si penulis buku-buku itu yang sedang menulis lembar demi lembar hingga jadilah sebuah buku. Mungkin diantara penulis itu sudah ada yang meninggal dunia. Tetapi karya mereka masih ada dan bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. Buku-buku yang berjejer rapi itu seakan berkata, “Aku bisa menjadi seperti ini (sebuah buku yang utuh) karena sang penulis bekerja keras siang malam menghabiskan waktunya, berfikir keras untuk menyempurnakan karyanya hingga terbitlah aku.”

Pesannya adalah untuk menghasilkan karya butuh perjuangan dan kerja keras. Tak ada instan. Tak ada yang asal jadi seketika. Mereka yang menghargai proses terbiasa untuk melangkah secara bertahap namun penuh komitmen. Secara tidak langsung mereka dilatih untuk bersabar dan menikmati proses dari usahanya itu. Bersabar untuk tidak tergesa-gesa dalam mengeluarkan energi dalam dirinya demi terciptanya sebuah karya. Karena ikhtiar yang diiringi dengan ketenangan hati akan menghasilkan karya yang terbaik.

Tulisannya ini mencoba mewakili keadaan saya yang saat ini sedang menuliskan tugas akhir yaitu skripsi. Yang bisa di share dari bagian ini adalah tentang kemauan untuk belajar lebih giat. Belajar rendah hati saat menerima kritik dari dosen pembimbing. Belajar untuk menghargai penelitian-penelitian sebelumnya dengan topik penelitian sejenis. Belajar untuk menerima keadaan kadang saat mengerjakaannya tersisip hambatan. Belajar untuk menikmati proses duduk lama di perpustakaan, membaca bebrapa jurnal yang kadang jurnal itu ditulis dengan istilah-istilah ilmiah yang membuat kening ini berkerut dan kepala pusing.  Kadang di saat sedang asyik-asyiknya menulis, keluarlah pengumuman dari speaker yang disampaikan oleh petugas perpustakaan bahwa perpustakaan tutup pukul 20.00. Mau gak mau mesti bersiap untuk pulang yang artinya mesti menunda untuk menuliskan ide yang sudah ada.

Hal yang menyenangkan dari bagian ini adalah seringkali saya bertemu dengan teman-teman yang sedang mengerjakan skripsi entah saat duduk di dalam perpustakaan atau berpapasan saat hendak pulang dari perpustakaan. Kebanyakan dari mereka saling menyemangati, “Semangat ya Mas. semoga lancar skripsinya,” Sapa mereka dengan senyum mengembang. Yang diberikan dukungan ikut mendoakan balik. Kenal atau tidak kenal nama mereka, saya bisa mengerti. Saat ini saya dan mereka sedang berjuang menuntaskan tugas akhir yang mau tidak mau harus diakui tugas ini memerlukan energi yang panjang dan kami sedang memasuki fase di mana kerumitan, kelelahan, kadang jenuh juga di rasakan. Sama-sama sedang mengukir prestasi terbaik yang kelak menjadi tanda bahwa perjalanan menyelesaikan program strata satu memperoleh hasil gemilang.

Di saat deadline penulisan tugas akhir yang semakin dekat (hanya tersisa kurang dari dua bulan), sedangkan arah pembahasan belum menemukan titik terang dan cenderung stagnan berjalan di tempat, di situ saya merasa perlu bercermin dan mengevaluasi diri. Apa yang kurang? Apa yang perlu di perbaiki? Penyesalan memang bukan solusi. Tapi ini cukup mewakili keresahan yang saya alami. Mungkin juga dialami oleh teman-teman mahasiswa semester akhir yang lain. Tak pernah terbayangkan akan menjadi serumit ini. Kadang pernah saya habiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk melanjutkan menuliskan tugas akhir ini, tetapi yang terjadi adalah saya duduk di depan laptop yang menyala  lalu terdiam dan bingung mau menuliskan apa. Ini realita yang bisa dibilang pahit. Karena waktu yang ada, tetapi tak bisa menorehkan kontribusi yang berarti pada penelitian ini.

Tak ada jalan lain kecuali menyelesaikan tugas ini pelan-pelan dan membujuk diri meluangkan waktu lebih banyak untuk menuntaskannya. Inilah proses yang saya mesti terima. Bukan untuk menambah penyesalan. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri.Tetapi sebagai nutrisi yang memompa motivasi untuk bergegas bangkit lebih cepat lagi. Beranjak untuk membaca jurnal-jurnal penelitian dan buku-buku referensi analisis laporan keuangan kemudian menarik kesimpulan.

Ini sekelumit kisah perjalanan. Mereka yang saat ini menjadi dosen-dosenmu pernah mengalami apa yang kamu alami saat ini. Rasa lelah yang mendera karena tuntutan mesti berfikir keras, membaca bertumpuk-tumpuk buku untuk memperoleh ide dan gagasan kemudian menjahitnya dalam tugas akhir mereka. Mereka berusaha melawan rasa malas yang kerap kali hadir. Mereka memaksa diri untuk meluangkan waktu lebih banyak demi tugas itu selesai tepat pada waktunya. Mereka pun pernah dikritik, di ceramahi bahkan di tegur oleh dosen pembimbing mereka di saat tugas terlambat dikumpulkan atau telat datang saat ada jadwal bimbingan. Mereka lewati setiap proses dengan hati yang lapang dan penerimaan yang tulus.

Oleh karena itu, tetaplah berbaik sangka kepada dosen pembimbingmu. Mereka hanya sedang mengarahkanmu agar penelitian kamu memperoleh hasil maksimal. Mereka sedang mengajari tentang kesungguhan. Meskipun terkadang ucapan mereka membuatmu terhentak dan menyinggung perasaanmu. Tapi niat mereka  bukan untuk bermaksud menyakitimu. Mereka hanya ingin kamu mengeluarkan potensi terbaik dalam dirimu untuk menyempurnakan  tugas akhir yang kelak akan menjadi karyamu. Iya, karyamu.. Dengarkan dan perhatikan tiap tutur kata mereka. Hargai waktu mereka saat mereka meluangkan waktu di sela-sela kelelahan mereka selepas mereka mengajar hanya untuk memberikan bimbingan untukmu. Hanya satu yang mereka ingin yaitu kamu dapat lulus dengan prestasi yang membanggakan..

 

Jakarta, 28 April 2018

 

 

 

 

Advertisements

Perjalanan ke Dalam Diri

Perjalanan waktu ini membuat saya berfikir, merenung dan memahami banyak hal. Satu diantaranya,  kedewasaan. Usia memang tidak menjamin seseorang untuk dewasa dalam sikap dan perilaku. Kedewasaan itu terbentuk oleh proses waktu yang berjalan sekian lama. Di mana dari waktu yang berjalan itu ia terus menerus belajar. Ia menyerap berbagai pengalaman –apapun bentuk pengalaman itu- untuk akhirnya memetik intisari dari setiap kejadian. Ia mengambil hikmah untuk langkah yang lebih bermakna. Ia menerima semua pengalaman di masa lalu sebagai cambuk untuk memperbaiki diri di hari-hari berikutnya.

Bagian ini lebih mudah untuk ditulis daripada dilalui. Lebih mudah diceritakan daripada dilakukan. Tetapi itu adalah salah satu bentuk untuk mengevaluasi diri. Untuk mengingatkan diri akan tujuan hidup. Untuk menerima realita kehidupan yang tak selalu benderang. Terkadang ada kabut tebal yang menghambat jalan yang sedang kita tempuh. Terkadang ada kepahitan yang meresap ke dalam hati agar kita lebih menghargai kebersamaan dengan orang-orang yang kita sayangi. Terkadang kepiluan yang hadir agar ia membuat kita berfikir bahwa  diri ini butuh bantuan orang lain untuk meruntuhkan dinding-dinding keegoisan. Hidup tak selalu tentang menang. Kadang kekalahan menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan dalam hidup. Tetapi itu bukan akhir dari semuanya. Cerita dan kisah yang baru akan hadir saat kamu bangkit dari kegagalan. Di sanalah kesabaran ditempa. Di sana sikap rendah hati tumbuh.

Bukan untuk sok bijak. Bukan juga untuk sok idealisme. Tapi manusia diberikan akal dan hati oleh Allah swt. untuk berfikir lebih matang menyusun strategi untuk meraih keberhasilan dan kebaikan. Agar ia tidak terjatuh dalam jurang kesalahan sama untuk sekian kalinya. Manusia dengan segala kelebihan yang dimiliki sejatinya memiliki potensi dan kemampuan untuk berubah memperbaiki diri.  Tidak ada alasan pasrah menerima apa adanya. Tidak dibenarkan untuk menyerah pada  kondisi dan keadaan yang kian menghimpit dari setiap penjuru arah.  Agama memberi garis yang bernama tawakal itu hanya ada setelah ikhtiar digenapi. Tawakal tidak berarti menyerah. Tawakal sejatinya dimaknai sebagai bentuk keyakinan yang kokoh bahwa pertolongan Allah akan hadir pada orang-orang yang mau berusaha. Keyakinan ini tak pernah goyah sedikit pun. Karena iman dalam hatinya tertanam kuat. Hati kecil setiap insan ingin berbuat kebaikan lebih banyak dan mengurangi kekeliruan dan kesalahan diri agar hati ini tidak terkotori oleh noda-noda yang membuat Allah murka terhadap keburukan yang kita perbuat.

Seberapa waktu yang ada dimanfaatkan untuk menanam kebaikan?

Pada setiap diri yang memiliki potensi untuk berbuat kebaikan dan berbuat keburuakan. Pada setiap diri yang memiliki kesabaran dan rasa amarah. Pada setiap diri yang memiliki perasaan sedih dan kecewa. Pada setiap diri yang memiliki rindu dan cinta.

Seberapa pun jauh perjalanan  hidup yang kamu tempuh, jika perjalanan itu tak kunjung mampu membuatmu lebih dekat dengan Allah swt. Maka kamu mesti bertanya pada dirimu sendiri, apa tujuan hidup ini? lalu apa yang kamu persiapkan untuk menyambut kehidupan setelah kematian?

Seberapa pun usiamu yang kian bertambah, namun jika saja bertambahnya usia tak kunjung mampu membuatmu untuk lebih bersabar, lebih tegar, lebih menahan diri untuk mengeluh, lebih mampu menahan amarah. Maka kamu perlu bertanya pada iman dihatimu, benarkah iman dihatimu sudah menerangi dirimu, sikapmu dan lisanmu?

Seberapa hebat karirmu saat ini, namun jika itu hanya menambah keangkuhanmu, kesombonganmu, lebih menyimpan dendam daripada memaafkan saudaramu, maka perlu kamu bertanya pada iman dihatimu. Bukankah iman sejati itu menuntut kamu untuk berbuat baik pada saudaramu, berbuat baik pada tetanggamu , dan berkata dengan perkataan yang baik?

Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berbuat baik terhadap tetangganya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir  hendaknya ia memuliakan tamunya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia  berkata yang baik atau diam.” (HR. Ibnu Majah)

Wahai diri… tak ada kata terlambat untuk memulai kebaikan. Tak ada kata menunda untuk segera beranjak memulai lembaran baru. Karena waktu melesat cepat dan tak akan pernah terulang. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun terus berjalan. Biarlah masa lalu itu tersimpan rapi dalam ingatanmu. Rengkuhlah ia dengan penerimaan yang tulus dan ikhlas karena itu bagian dari hidupmu. Jadikan ia untuk mendewasakan imanmu. Jadikan ia penguat jiwamu untuk mengarungi hidup hari ini dan hari-hari berikutnya. Belajarlah ikhlas menerima kejadian dan pengalaman yang sempat menoreskan luka. Tidak mudah itu, tapi kamu harus mencoba pelan-pelan. Agar hari-hari berikutnya ketenangan akan hangat mendekap jiwamu. Dengarkan suara hatimu..

 

Jakarta, 12 April 2018

 

 

Ruang Penantian

Setiap kita pernah merasakan proses penantian. Apapun jenis penantian itu namun tetap efek dari menanti itu menimbulkan harapan sekaligus kekhawatiran. Ada yang menanti pengumuman beasiswa setelah mengikuti berbagai jenis tes, ada yang menanti pengumumuan tes seleksi kerja, ada yang menanti nilai hasil ujian dalam bentuk kartu hasil studi (KHS) dan masih banyak lagi jenis penantian yang lain.

Tidak ada sisi negatif dari penantian itu sendiri selama kita mampu me-manage diri untuk akhirnya tahu sikap apa yang semestinya diambil. Karena waktu terus bergulir menuntut kita untuk terus bergerak dinamis. Bergerak maju ke depan menjemput pintu-pintu kebaikan. Karena waktu terus berjalan menuntut kita untuk tidak berdiam diri. Ada langkah nyata untuk mengisi penantian. Ada kerja keras untuk menunggu hasil yang dinanti selepas ikhtiar yang sudah digenapi.

Allah swt. berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Insyirah ayat 7, “Apabila kamu telah selesai (dari satu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”. Segera bergegas dan beranjak menyongsong harapan dengan cara dan ikhtiar yang baik. Perlu tekad dan kemauan yang keras untuk membujuk diri ini menyelami arti perjuangan dalam hidup. Menunjukkan bahwa jika sudah punya mimpi, maka harus diraih mimpi itu.

Mewujudkan mimpi tidak pernah mudah. Karena saat kita berjuang, kita akan merasakan proses yang panjang yang di dalamnya kelelahan, kejenuhan dan penderitaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam berjuang. Tetapi tidak mengapa, karena di saat lelah dirasakan, saat bertemu dengan penderitaan, di saat itulah kamu sedang berjalan menapaki tangga keberhasilan. Berat. Berat sekali saat menanjak menuju puncak keberhasilan. Tetapi di situlah letak komitmen dalam dirimu untuk meraih keberhasilan.

Masa penantian akan memiliki makna selama kita mampu menyerap hikmah di dalamnya. Ada kebaikan-kebaikan yang sudah menanti untuk kita kerjakan. Ada kesabaran yang harus ditempa di setiap keadaan. Ada keikhlasan yang harus di dekapi. Ada harapan yang harus di jaga agar tetap kokoh.  Ada ikhtiar yang harus disempurnakan. Semua itu menuntut tindakan nyata dibarengi dengan ketulusan hati.

Merehatkan jiwa yang mulai kelelahan akibat rutinitas yang menyisakan kejenuhan dengan bertukar pikiran melalui diskusi dengan rekan kerja, perbincangan hangat dengan kawan lama, berbagi cerita dengan teman-teman, melakukan perjalanan melihat keindahan panorama alam- semua itu mampu merefresh diri dari kejenuhan panjang yang mendera. Semua itu mampu membuat kita mampu meresapi sudut-sudut jejak yang sudah kita goreskan dalam putaran waktu yang sudah terlewat. Membuat kita merenung dalam untuk akhirnya tahu sikap yang mana yang harus dibenahi dan kebaikan mana yang harus ditingkatkan lebih  baik lagi.

Pada setiap ukiran senyum yang kita bagi kepada orang lain terdapat kebaikan. Pada setiap langkah kaki untuk pergi mencari nafkah adalah kebaikan. Pada setiap keringat yang keluar untuk menuntut ilmu adalah kebaikan. Maka iringilah hidup ini dengan menebar kebaikan. Karena saat kita tutup usia di dunia ini, kita berharap kebaikan yang sedang kita lakukan akan mendampingi kita untuk perjalanan panjang selanjutnya.

 

 

Jakarta, 30 Januari 2017

Mutiara di dalam Nasihat

Hari Jumat kemarin 12/1, memiliki memori sendiri untuk saya. Yaitu materi khutbah Jumat di masjid komplek Depkes Pasar Minggu yang cukup berkesan.  Saya dari awal hingga akhir khutbah mendengarkan dengan seksama kata demi kata yang di sampaikan Khotib.

Khotib mengawali materi khutbah dengan menyampaikan, “Hidup ini ibarat sebuah wadah yang di dalamnya berisi perjuangan. Perjuangan antara kebaikan melawan keburukan. Ketaatan melawan kemaksiatan. Nilai dari perjuangan itu terletak pada hasil menang atau kalah.”

Beliau melanjutnya, “Mungkin kita sudah mendirikan shalat lima waktu. Tetapi selama shalat tersebut dikerjakan, rasa khusyu’ tak kunjung mampu kita hadirkan dan kita tidak berusaha menghadirkan rasa khusyu’ itu. Mungkin selama ini sudah banyak sedekah yang kita berikan. Tetapi sedekah yang kita keluarkan tanpa rasa ikhlas sepenuhnya.”

Terus terang pada bagian ini begitu menyentuh hati saya, terutama pada bagian sedekah. Tak terasa satu butir bening mengalir jatuh dari mata membahasi pipi saya. Ada hentakan yang menggetarkan hati saya bercampur keharuan. Saya tidak tahu apa namanya. Tapi ini yang saya rasakan. Saya teringat diri saya yang kadang belum sepenuhnya ikhlas dalam berbagi. Meskipun disebutkan alasan untuk membenarkan apa yang saya lakukan, tetap saja saya berada dalam posisi yang tidak benar. Tidak pernah mudah berbuat kebaikan pada orang yang pernah menyakiti hati kita. Tetapi itu bukan juga menjadi alasan untuk memutus untuk tidak berbuat baik pada orang tersebut.  Itu hikmah yang saya dapat. Perlu waktu untuk memulihkan rasa sakit yang pernah tergores. Perlu belajar lagi memaknai kebaikan dan keikhlasan.

Beliau melanjutkan, “Fa alhamaha fujuroha wa taqwaha yang artinya maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketaqwaannya. (Q.S. Asy-Syams : 8). Kalau ketaatan dalam diri kita selalu menang melawan kemaksiatan, maka pertahankanlah. Dan kalau kemaksiatan lebih banyak menang melawan ketaatan dalam diri kita, maka segeralah kembali ke pada Allah. Sesungguhnya kematian orang yang di sekitar kita adalah nasihat. Nasihat bagi kita yang masih hidup. Kalimat inna lillahi wa inna ilaihi roji’un adalah nasihat untuk kita yang masih hidup untuk tetap istiqomah dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah. Karena waktu yang telah diberikan kepada kita di dunia ini kelak akan dimintai pertanggung jawabnnya di hadapan Allah.”

Jika di ambil kesimpulannya, hidup ini adalah perjuangan yang berisi pertarungan antara kebaikan melawan keburukan, ketaatan melawan maksiat, ucapan yang baik melawan ucapan yang buruk, tauhid melawan kekufuran. Setiap muslim dihadapkan pada salah satu pilihan. Di mana setiap pilihan tersebut memiliki konsekuensi bagi pelakunya.

Menjadi penting dengan adanya penjelasan ini kita diingatkan bahwa dalam diri manusia ada dua potensi keburukan atau ketakwaan. Di mana pada saat keburukan mendominasi hati dan perbuatan maka ketaqwaan menurun. Pun sebaliknya, saat ketaqwaan meningkat dan mendominasi hati dan perbuatan maka kemaksiatan menurun dan berhasil diminimalisir. Tidak bisa keduanya berjalan pada posisi seimbang.

Materi khutbah ini menjadi ibroh (pelajaran) bagi saya untuk memaknai hidup lebih jernih. Untuk lebih menjaga diri dari hal yang sia-sia. Untuk memperbanyak amal sholeh dan menebar kebaikan sebanyak-banyaknya. Terutama untuk saya agar lebih mampu menata waktu untuk aktivitas yang bernilai dan tak terbuang sia-sia. Karena waktu adalah modal utama untuk memperbaiki diri, membenahi akhlak yang kurang baik, dan muhasabah dari satu waktu ke waktu yang lain.

 

Jakarta, 13 Januari 2018

New Story Pada Lembaran Baru

The new story akan hadir saat anda bangkit kembali dari keterpurukan.

Itu kutipan yang membuat saya tersadar semestinya hidup ini dijalani dengan semangat dan optimis. Hidup ini sangat singkat. Tetapi yang singkat itu jika tidak di-manage akan membuat hidup ini seperti berjalan di tempat. Tidak ada kemajuan sama sekali. Perlu target. Perlu tujuan. Karena itu membuat hidup ini memiliki harapan. Dan membuat hidup ini menjadi lebih bernilai dan bermakna.

Karena dengan memiliki goals dalam hidup akan membuat kita mengukur diri dari hari ke hari sejauh mana progres usaha yang kita sudah dan akan dilakukan. Seserius apa kita berbuat dan bertindak demi mendekatkan diri pada goals tersebut. Di situ kamu akan mengerti arti perjuangan sesungguhnya. Perjuangan untuk memperbaharui niat yang baik. Membujuk diri untuk terbuka mendengar perspektif dari orang-orang sekitar dengan sudut pandang yang beragam. Menahan diri untuk tidak cepat menyerah dari sekian hambatan yang menerjang. Membuka diri menerima saran dan nasihat yang sayang dan peduli sama diri kita. Karena ada kalanya kita butuh nasihat dari orang lain untuk menguatkan kesabaran kita dalam menempuh kehidupan ini. Nasihat itu tidak selalu berupa kalimat verbal yang diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang nasihat itu bisa datang melalui akhlak yang baik dan tindakan nyata orang lain yang menginspirasi kita untuk mengikuti kebaikan yang sudah diperbuat oleh orang tersebut. Nasihat ini bisa jadi menjadi nasihat yang begitu membekas dan sulit untuk dilupakan dalam waktu yang lama.

Karena akhlak yang baik itu adalah cermin hati yang baik. Dan hati setiap orang mudah sekali tersentuh karena kebaikan yang di dasari pada hati yang tulus.

Belajar menerima diri apa adanya dan tak perlu membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Apalagi membandingkan dari sisi materi kebendaan. Hal itu akan mengikis rasa bersyukur dalam diri kita. kita berhak bahagia dan bahagia itu mesti diperjuangkan, diusahakan. Tidak serta merta ia hinggap dan datang begitu saja. ada yang namanya proses pencarian atas kebahagian itu sendiri. Kebahagian itu letaknya di hati. Dekat sekali. tak perlu memamerkan kebahagian kita kepada orang banyak. karena yang demikian akan memaksamu untuk berpura-pura bahagia. Biarlah dirimu sendiri yang tahu arti kebahagian dan kamu sendiri yang paling tahu atas usahamu menjemput kebahagian itu sendiri.

Aku percaya hidup itu sendiri yang akan membuat diri ini dewasa. Dengan segala kerumitannya, tetap saja hidup inilah yang menginspirasi kita untuk berkembang dari waktu ke waktu. Hidup inilah yang membuat kita bercermin lebih dalam. bercermin dalam pencarian jati diri memaknai peran dan tugas kita dalam hidup ini. setiap peran dan tugas yang dipikul itu akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti. So, lebih berhati-hati dalam berbuat dan bertutur kata karena setiap kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula. Dan keburukan akan dibalas dengan hal yang setimpal dengan itu.

Terutama menjaga hati. Sering kali rasa resah, sedih, dan mengeluh hadir dalam relung hati yang membuat rasa syukur dalam diri ini menipis. Padahal aku percaya, setiap kebaikan akan diberi ganjaran yang setimpal. Mungkin diri ini mulai silau dari materi kebendaan sehingga keyakinan tentang konsep rezeki tak kunjung menambah rasa bersyukur. mungkin diri ini terlalu lama menatap ke atas tentang kehidupan orang-orang yang lebih memiliki harta benda yang berlimpah sehingga membuat rasa bahagia itu lenyap dan berganti dengan kegelisahan yang berkepanjangan.

Cukup menjadi diri sendiri. Diri sendiri yang mau belajar dari kekeliruan diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri yang berfokus pada rencana untuk merealisasikan goals dalam hidup ini. diri sendiri yang optimis meneruskan kehidupan hingga menuju tujuan. Diri sendir yang disibukkan untuk memperbaiki diri sendiri dan tidak memberi kesempatan untuk kepada diri ini untuk menilai keburukan lain karena ia tahu bahwa dalam dirinya masih terlalu banyak yang perlu diperbaiki.

Setiap doa yang terucap semoga menjadi pendorong agar terkabulnya harapan. Setiap doa yang pernah hadir membenak dalam hati dan belum sempat terucapkan, semoga menjadi penguat diri ini dalam menempa perjalanan hidup yang panjang ini yang di dalamnya penuh ujian dan cobaan. Setiap doa yang diiringi tangan yang menengadah seraya memohon, semoga menjadi cermin diri ini untuk berbuat baik lebih banyak lagi dan memaknai keikhlasan sepenuh hati.

 

Jakarta, 11 Januari 2018

 

 

Bahtera yang Kokoh

Welcome Desember..

Hari-hari berlalu menyimpan jejak rekaman perjalanan hidup. kedewasaan yang didambakan seakan menguap begitu saja. banyak excuse yang mendangkalkan semangat untuk memperbaiki diri. padahal kehidupan itu sendiri yang akan mendewasakan kita. waktu menjadi jembatan untuk berproses mengayuh harapan untuk menjadi kenyataan. Waktu juga yang akhirnya menjadi semua muara perasaan yang menerima hasil dari segenap ikhtiar.

Sejenak kita perlu bertanya menyelami diri sendiri sebenarnya goal of life yang dulu dibangun dengan idealisme. Realita lebih rumit dari apa yang dibayangkan. Idealisme yang ada akan mudah menyusut dan menguap menyisakan tulisan semata di buku harian atau dinding yang berada di atas meja belajar. Kita perlu memahami lebih jernih bahwa hidup ini bagaikan seorang yang sedang berlayar di lautan luas dengan gelombang yang tak menentu dan sulit di prediksi. Kadang gelombang laut itu datar dan kadang pula gelombang itu tinggi dan besar sehingga membuat bahtera itu merasakan guncangan hebat.

Butuh namanya bahtera yang kokoh dan kuat untuk berlayar di samudera yang luas. Butuh semangat yang membaja untuk tetap menjaga optimis melihat kehidupan dari berbagai sisi. butuh kawan-kawan yang siap berbagi energi, mengingatkan, menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran. Butuh hati yang lapang menerima perbedaan persepsi dari orang-orang yang sering kali mereka meminta kita memahami kita tetapi mereka lupa untuk memahami diri kita.

Jalan kehidupan ini begitu luas terbentang. Kita tidak tahu pada langkah kita terperosok terjatuh pada lubang yang samar dari penglihatan mata dan hati. Kita tidak tahu pada jejak kaki yang mana kita terkena ranjau yang sudah tertanam sehingga tubuh kita terhempas jauh dengan luka yang membasahi diri ini. Kita sulit sampai tujuan kalau sejak awal memulai perjalanan ini kita tidak memiliki tujuan. Banyak waktu terbuang tanpa terasa sehingga kita terlena bahwa kehidupan dunia ini sementara.

Semua itu menjadi pilihan dalam hidup. setiap pilihan memiliki risiko. Kita tidak pernah bisa berbohong pada hati nurani kita yang selalui merindui ketenangan jiwa. Suara hati selalu menghantarkan dorongan untuk berbuat baik. dorongan itu terkadang lemah dan terkadang kuat. kebaikan selalu membuat hati tenang. Perilaku buruk selalu membuat hati tidak tenang.

Kita tidak perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dari sisi materi dunia. karena cinta kepada dunia tidak akan pernah berujung. Semakin dikejar, semakin membuat kita selalu kurang. Begitu seterusnya. Kekayaan materi tidak menjamin membuat hati orang tenang dan bahagia. karena bahagia itu adalah milik semua orang yang mau berbuat baik dengan apa pun kebaikan yang ia mampu kerjakan.

Kesedihan, duka, cinta, bahagia, resah, gelisah. itu bagian dari warna kehidupan yang semua orang pasti merasai. Ada rasa yang sewajarnya di ekspresikan melalui gerak tubuh dan perilaku keseharian. Semua itu terlihat jelas dan orang lain juga bisa menilai akan perilaku kita. meskipun begitu biarlah demikian adanya. Ambil nasihat yang baik dari orang-orang yang peduli sama kita. lalu sampaikan ungkapan terima kasih kepada mereka dengan tulus. Abaikan judgment orang lain yang hanya membuat hati kita sempit dan melemahkan asa dalam jiwa kita. karena kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang lain.

Sekali lagi, rangkaian waktu yang berlalu menjadikan kita bijak mengolah asa dan mengolah rasa. Realita kehidupan yang menuntut kita berubah dengan cepat membuat kita mesti sigap untuk menyesuaikan diri, lalu kembali fokus pada tujuan hidup kita.

Nasihat kehidupan datang dari berbagai sumber. Bisa jadi diri kita sendiri yang memotivasi diri kita untuk semakin baik. bisa jadi melalui orang lain entah itu teman kita, orang tua kita, guru kita yang memberikan cahaya agar hati kita semakin terang dengan budi yang baik.

Menumbuhkan kebiasaan baru itu tidak pernah mudah. Karena ‘hantu-hantu’ masa lalu kita akan selalu hadir memberikan hambatan melalui cara apa pun dengan risiko yang sulit diperkirakan. Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berbuat baik. tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menjadi orang yang apa adanya dan pasrah dengan keadaan kita saat ini.

Tidak ada kata telat untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk kembali menata hati agar kembali melanjutkan kehidupan dengan jalan yang lurus. Jalan lurus itu tidak dibangun dari aspal yang tebal. Tidak juga dibangun dari beton yang berlapis-lapis. Jalan lurus itu dibangun dari ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Shalat menjadi refleksi diri atas perilaku yang sudah lakukan dalam waktu tertentu. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang itu akan membentuk karakter dalam diri seseorang.

 

 

Jakarta, 08 Desember 2017

Di tulis selepas pulang kuliah di malam selepas gerimis

 

Jangan Menyerah

Melihat lembaran masa lalu menguatkan langkahku dalam menapaki masa depan. Meskipun jalan ini semakin terjal dan penuh dengan rintangan, alasan untuk mengeluh sering kali menjadi suatu hal yang wajar. Dengan begitu aku tahu bahwa saat ini aku sedang berkembang. Karena rasa lelah, frustasi, kecewa, sedih, gelisah yang kerap hadir menjadi bagian kehidupan yang harus dijalani bukan untuk dihindari. Sering kali pilihan untuk menyerah terbuka lebar di depan mata.  Bahkan hati kecil ini beberapa kali berteriak, sudahi saja jalan ini. Buat apa di lanjutkan lagi, jika tubuhmu tak kuat lagi untuk mengikuti alur jalan ini.

Aku biarkan suara itu bergema di lubuk hatiku. Gema suaranya semakin hari semakin besar dan membuatku sempat berfikir ulang. Gema yang menyudutkan asa yang pernah hadir dalam diri ini. Gema suara itu sempat membuat kepalaku sakit dan sempat tubuhku ambruk terhempas lemas tak berdaya. Aku sadar bahwa titik jenuh kerap datang dan tak bisa dipungkiri. Saat titik itu datang, ia akan menyerap energi dan semangatmu untuk meneruskan jalan yang menjadi pilihanmu. Nyala apimu semakin redup dan semakin lama kamu biarkan rasa itu akan merasa betah dan nyaman di hatimu untuk hinggap sekian waktu yang panjang. Titik itu nyaris membuatmu menyerah. Sehingga optimismu semakin memudar dan kamu akhirnya kalah melawan gema suara itu.

Aku merasakan hal demikian. Di penghujung perjalanan kuliahku, rintangan dan hambatan itu semakin berat. Awalnya rasa jenuh itu adalah hal yang ku anggap wajar. Aku biarkan rasa jenuh itu, hingga aku lalai bahwa rasa itu tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Idealisme yang dulu aku impikan seakan hanya tulisan di atas kertas yang tidak memiliki arti apa-apa untuk hidupku. Jika idealisme terikat oleh waktu, maka aku berada pada puncak kejenuhan yang aku sendiri bingung untuk bangkit dari bagian yang mana. Apakah aku sudah nyaman dengan rasa jenuh ini? Apakah aku berpasrah membiarkan rasa jenuh ini merampas mimpi yang pernah ada? Apakah aku berdiam diri membiarkan waktu melibas semua asa, semua harapan, semua cita-cita?

Tulisan ini membuatku bertanya lebih dalam tentang diriku. Aku yang harus berupaya memahami diriku sendiri. Aku sadar jika aku membiarkan diri ini berpasrah, menyerah, tak berusaha bangkit kembali maka kelak hatiku akan menanggung rasa sedih yang mendalam. Kesedihan itu akan mampu menguras energi positif lalu membuat optimis hidupku menipis. Karena aku menyerah sebelum berjuang. Kalau sudah begitu, perasaan bersalah yang datang berduyun-duyun akan menyelimuti hari-hariku berikutnya. Keberanianku untuk menatap masa depan dengan kaki yang berdiri tegap dan dengan wajah penuh  optimis akan surut seiring rasa gagal yang membuat mental diriku down. Di saat mental dalam diriku down maka diriku akan merasakan di mana hari-hari terasa gelap gulita tanpa harapan yang tersisa.

Aku benci kegagalan. Tapi aku sadar bahwa kegagalan dibutuhkan untuk mendewasakan jiwa ini. Untuk menghadirkan pemahaman bahwa kegagalan meskipun ia pahit tetapi bukan akhir dari segalanya. Bahwa meskipun sering kali kegagalan meninggalkan kesedihan, namun percaya bahwa time is healing, biarkan waktu menjadi obat adalah ungkapan yang tepat untuk sebuah penerimaan takdir kehidupan. Hidup ini selalu adil. Bagi mereka yang mau berusaha, memperjuangkan impiannya dengan tekad yang kuat, maka hasilnya akan ia dapat sesuai kadar usaha yang telah ia lakukan. Pun sebaliknya, mereka yang menyerah, mereka yang tidak menghargai dan mengisi waktu dengan aktivitas yang memiliki nilai, akan mendapat hasil sesuai apa yang ia usahakan.

Sejatinya makna kegagalan adalah cara ampuh untuk dirimu belajar untuk rendah hati menyikapi ujian kehidupan. Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Karena ilmu yang kamu miliki bukan untuk di sombongkan dan merendahkan orang lain. Ilmu yang dimiliki seseorang menjadi pancaran yang menyinari dirinya dengan akhlak yang baik dan pemikiran yang terbuka. Semakin muda, seharusnya rasa haus akan ilmu pengetahuan seharusnya semakin bertambah besar. Membaca, menulis, mendengarkan, memahami ilmu bukanlah beban yang dijadikan tekanan. Karena aktivitas belajar sejatinya membujuk dirimu untuk menyerap ilmu  agar dirimu tersinari dan dibimbing oleh ilmu dalam meniti kehidupan ini.

 

Jakarta, 07 Nopember 2017