Bahtera yang Kokoh

Welcome Desember..

Hari-hari berlalu menyimpan jejak rekaman perjalanan hidup. kedewasaan yang didambakan seakan menguap begitu saja. banyak excuse yang mendangkalkan semangat untuk memperbaiki diri. padahal kehidupan itu sendiri yang akan mendewasakan kita. waktu menjadi jembatan untuk berproses mengayuh harapan untuk menjadi kenyataan. Waktu juga yang akhirnya menjadi semua muara perasaan yang menerima hasil dari segenap ikhtiar.

Sejenak kita perlu bertanya menyelami diri sendiri sebenarnya goal of life yang dulu dibangun dengan idealisme. Realita lebih rumit dari apa yang dibayangkan. Idealisme yang ada akan mudah menyusut dan menguap menyisakan tulisan semata di buku harian atau dinding yang berada di atas meja belajar. Kita perlu memahami lebih jernih bahwa hidup ini bagaikan seorang yang sedang berlayar di lautan luas dengan gelombang yang tak menentu dan sulit di prediksi. Kadang gelombang laut itu datar dan kadang pula gelombang itu tinggi dan besar sehingga membuat bahtera itu merasakan guncangan hebat.

Butuh namanya bahtera yang kokoh dan kuat untuk berlayar di samudera yang luas. Butuh semangat yang membaja untuk tetap menjaga optimis melihat kehidupan dari berbagai sisi. butuh kawan-kawan yang siap berbagi energi, mengingatkan, menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran. Butuh hati yang lapang menerima perbedaan persepsi dari orang-orang yang sering kali mereka meminta kita memahami kita tetapi mereka lupa untuk memahami diri kita.

Jalan kehidupan ini begitu luas terbentang. Kita tidak tahu pada langkah kita terperosok terjatuh pada lubang yang samar dari penglihatan mata dan hati. Kita tidak tahu pada jejak kaki yang mana kita terkena ranjau yang sudah tertanam sehingga tubuh kita terhempas jauh dengan luka yang membasahi diri ini. Kita sulit sampai tujuan kalau sejak awal memulai perjalanan ini kita tidak memiliki tujuan. Banyak waktu terbuang tanpa terasa sehingga kita terlena bahwa kehidupan dunia ini sementara.

Semua itu menjadi pilihan dalam hidup. setiap pilihan memiliki risiko. Kita tidak pernah bisa berbohong pada hati nurani kita yang selalui merindui ketenangan jiwa. Suara hati selalu menghantarkan dorongan untuk berbuat baik. dorongan itu terkadang lemah dan terkadang kuat. kebaikan selalu membuat hati tenang. Perilaku buruk selalu membuat hati tidak tenang.

Kita tidak perlu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dari sisi materi dunia. karena cinta kepada dunia tidak akan pernah berujung. Semakin dikejar, semakin membuat kita selalu kurang. Begitu seterusnya. Kekayaan materi tidak menjamin membuat hati orang tenang dan bahagia. karena bahagia itu adalah milik semua orang yang mau berbuat baik dengan apa pun kebaikan yang ia mampu kerjakan.

Kesedihan, duka, cinta, bahagia, resah, gelisah. itu bagian dari warna kehidupan yang semua orang pasti merasai. Ada rasa yang sewajarnya di ekspresikan melalui gerak tubuh dan perilaku keseharian. Semua itu terlihat jelas dan orang lain juga bisa menilai akan perilaku kita. meskipun begitu biarlah demikian adanya. Ambil nasihat yang baik dari orang-orang yang peduli sama kita. lalu sampaikan ungkapan terima kasih kepada mereka dengan tulus. Abaikan judgment orang lain yang hanya membuat hati kita sempit dan melemahkan asa dalam jiwa kita. karena kita tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran orang lain.

Sekali lagi, rangkaian waktu yang berlalu menjadikan kita bijak mengolah asa dan mengolah rasa. Realita kehidupan yang menuntut kita berubah dengan cepat membuat kita mesti sigap untuk menyesuaikan diri, lalu kembali fokus pada tujuan hidup kita.

Nasihat kehidupan datang dari berbagai sumber. Bisa jadi diri kita sendiri yang memotivasi diri kita untuk semakin baik. bisa jadi melalui orang lain entah itu teman kita, orang tua kita, guru kita yang memberikan cahaya agar hati kita semakin terang dengan budi yang baik.

Menumbuhkan kebiasaan baru itu tidak pernah mudah. Karena ‘hantu-hantu’ masa lalu kita akan selalu hadir memberikan hambatan melalui cara apa pun dengan risiko yang sulit diperkirakan. Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menyerah untuk berbuat baik. tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menjadi orang yang apa adanya dan pasrah dengan keadaan kita saat ini.

Tidak ada kata telat untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat untuk kembali menata hati agar kembali melanjutkan kehidupan dengan jalan yang lurus. Jalan lurus itu tidak dibangun dari aspal yang tebal. Tidak juga dibangun dari beton yang berlapis-lapis. Jalan lurus itu dibangun dari ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Shalat menjadi refleksi diri atas perilaku yang sudah lakukan dalam waktu tertentu. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang itu akan membentuk karakter dalam diri seseorang.

 

 

Jakarta, 08 Desember 2017

Di tulis selepas pulang kuliah di malam selepas gerimis

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: