Jangan Menyerah

Melihat lembaran masa lalu menguatkan langkahku dalam menapaki masa depan. Meskipun jalan ini semakin terjal dan penuh dengan rintangan, alasan untuk mengeluh sering kali menjadi suatu hal yang wajar. Dengan begitu aku tahu bahwa saat ini aku sedang berkembang. Karena rasa lelah, frustasi, kecewa, sedih, gelisah yang kerap hadir menjadi bagian kehidupan yang harus dijalani bukan untuk dihindari. Sering kali pilihan untuk menyerah terbuka lebar di depan mata.  Bahkan hati kecil ini beberapa kali berteriak, sudahi saja jalan ini. Buat apa di lanjutkan lagi, jika tubuhmu tak kuat lagi untuk mengikuti alur jalan ini.

Aku biarkan suara itu bergema di lubuk hatiku. Gema suaranya semakin hari semakin besar dan membuatku sempat berfikir ulang. Gema yang menyudutkan asa yang pernah hadir dalam diri ini. Gema suara itu sempat membuat kepalaku sakit dan sempat tubuhku ambruk terhempas lemas tak berdaya. Aku sadar bahwa titik jenuh kerap datang dan tak bisa dipungkiri. Saat titik itu datang, ia akan menyerap energi dan semangatmu untuk meneruskan jalan yang menjadi pilihanmu. Nyala apimu semakin redup dan semakin lama kamu biarkan rasa itu akan merasa betah dan nyaman di hatimu untuk hinggap sekian waktu yang panjang. Titik itu nyaris membuatmu menyerah. Sehingga optimismu semakin memudar dan kamu akhirnya kalah melawan gema suara itu.

Aku merasakan hal demikian. Di penghujung perjalanan kuliahku, rintangan dan hambatan itu semakin berat. Awalnya rasa jenuh itu adalah hal yang ku anggap wajar. Aku biarkan rasa jenuh itu, hingga aku lalai bahwa rasa itu tidak boleh di biarkan berlarut-larut. Idealisme yang dulu aku impikan seakan hanya tulisan di atas kertas yang tidak memiliki arti apa-apa untuk hidupku. Jika idealisme terikat oleh waktu, maka aku berada pada puncak kejenuhan yang aku sendiri bingung untuk bangkit dari bagian yang mana. Apakah aku sudah nyaman dengan rasa jenuh ini? Apakah aku berpasrah membiarkan rasa jenuh ini merampas mimpi yang pernah ada? Apakah aku berdiam diri membiarkan waktu melibas semua asa, semua harapan, semua cita-cita?

Tulisan ini membuatku bertanya lebih dalam tentang diriku. Aku yang harus berupaya memahami diriku sendiri. Aku sadar jika aku membiarkan diri ini berpasrah, menyerah, tak berusaha bangkit kembali maka kelak hatiku akan menanggung rasa sedih yang mendalam. Kesedihan itu akan mampu menguras energi positif lalu membuat optimis hidupku menipis. Karena aku menyerah sebelum berjuang. Kalau sudah begitu, perasaan bersalah yang datang berduyun-duyun akan menyelimuti hari-hariku berikutnya. Keberanianku untuk menatap masa depan dengan kaki yang berdiri tegap dan dengan wajah penuh  optimis akan surut seiring rasa gagal yang membuat mental diriku down. Di saat mental dalam diriku down maka diriku akan merasakan di mana hari-hari terasa gelap gulita tanpa harapan yang tersisa.

Aku benci kegagalan. Tapi aku sadar bahwa kegagalan dibutuhkan untuk mendewasakan jiwa ini. Untuk menghadirkan pemahaman bahwa kegagalan meskipun ia pahit tetapi bukan akhir dari segalanya. Bahwa meskipun sering kali kegagalan meninggalkan kesedihan, namun percaya bahwa time is healing, biarkan waktu menjadi obat adalah ungkapan yang tepat untuk sebuah penerimaan takdir kehidupan. Hidup ini selalu adil. Bagi mereka yang mau berusaha, memperjuangkan impiannya dengan tekad yang kuat, maka hasilnya akan ia dapat sesuai kadar usaha yang telah ia lakukan. Pun sebaliknya, mereka yang menyerah, mereka yang tidak menghargai dan mengisi waktu dengan aktivitas yang memiliki nilai, akan mendapat hasil sesuai apa yang ia usahakan.

Sejatinya makna kegagalan adalah cara ampuh untuk dirimu belajar untuk rendah hati menyikapi ujian kehidupan. Ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Karena ilmu yang kamu miliki bukan untuk di sombongkan dan merendahkan orang lain. Ilmu yang dimiliki seseorang menjadi pancaran yang menyinari dirinya dengan akhlak yang baik dan pemikiran yang terbuka. Semakin muda, seharusnya rasa haus akan ilmu pengetahuan seharusnya semakin bertambah besar. Membaca, menulis, mendengarkan, memahami ilmu bukanlah beban yang dijadikan tekanan. Karena aktivitas belajar sejatinya membujuk dirimu untuk menyerap ilmu  agar dirimu tersinari dan dibimbing oleh ilmu dalam meniti kehidupan ini.

 

Jakarta, 07 Nopember 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: