Part of Life

“Hidup itu perlu direnungkan, tidak cukup hanya dilakoni.”

(Socrates)

 

Menjadi orang yang bahagia adalah idaman setiap insan. Bahagia adalah kata sifat yang ringan diucapkan namun dalam mewujudkannya butuh diperjuangkan. Setiap kita terlahir memiliki daya dan kemampuan untuk mengusahakan kebahagian itu. Kemampuan merasakan kasih sayang dari orang-orang yang kita cintai, kemampuan berempati dengan kehidupan orang lain yang sedang mengalami kesulitan, kemampuan menentukan sikap dan memberi respon dari masalah yang sedang di hadapi oleh diri sendiri. Kemampuan itu bersifat dinamis, berkembang seiring dengan waktu yang terus bergerak sesuai pengalaman hidup yang sudah dilalui.

Hakikat kehidupan adalah persinggahan sementara untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sudah ditentukan untuk menuju negeri akhirat. Kehidupan selalu menjanjikan ujian. Karena ujian pasti di alami setiap manusia, namun kondisi mental kita terkadang tak stabil dan kondisi hati tak menentu. Oleh karena itu kita membutuhkan energi-energi positif dari orang-orang terdekat yang menyayangi kita. Mereka itu bisa jadi adalah orang tua kita, kakak atau adik kita, teman kita, rekan kerja kita, atau guru kita. Maka benar ungkapan, manusia menjadi utuh saat ia berinteraksi dengan sesamanya. Karena ada sisi ruang dalam diri manusia dimana ruang itu  tidak cukup  menyimpan semua perasaan, semua masalah, semua harapan itu dengan sendirian. Ia butuh menyediakan ruang lain untuk berbagi dengan sesamanya untuk sekedar berbagi cerita, berbagi keluh kesah, dan berbagi semangat sebagai sarana berekspresi. Dan berekspresi adalah bagian kebutuhan manusia.

Tak perlu malu menceritakan masalah yang kamu hadapi kepada orang yang kamu percaya dia bisa amanah menyimpan kisah kehidupanmu. Kecewa adalah proses, menangis adalah proses, bersedih adalah proses.  Rasa kecewa, sedih, menetaskan air mata karena luka yang begitu mendalam bukan sesuatu yang menunjukkan kelemahan dirimu.  Dengan bersedih, kecewa, menangis, berharap, kamu telah mengekspresikan segenap perasaan yang hinggap di hatimu dan sekaligus menunjukkan sisi-sisi manusiawi yang ada dalam dirimu. Dirimu lebih tahu apa yang ada di hatimu dan perasaan apa yang sedang menyentuh hatimu. Dengarkan suara hatimu, lalu ajak ia berdialog untuk menarik kesimpulan yang terbaik yang kelak akan kamu jadikan pijakan dalam menentukan langkah kamu selanjutnya.

Rasa kecewa dan sedih, sikapi sewajarnya. Tak perlu berlama-lama, apalagi membuat optimis hidup luntur. Keduanya jangan dijadikan alasan untuk segera bangkit dan berbuat kebaikan lebih banyak lagi. Segera beranjak, menjemput harapan baru dengan hati yang baru. Biarkan waktu menjadi saksi atas setiap ikhtiar yang kamu kerjakan. Orang-orang yang menyayangimu dengan tulus menginginkan dirimu yang selalu optimis, selalu riang, selalu semangat, dan selalu menjadi dirimu sendiri.

Terkadang kamu perlu meluangkan waktumu untuk merenung dan berdiam diri. Berdiam diri dalam arti melihat seberapa jauh tapak langkahmu selama ini telah kamu tempuh, berapa banyak pencapaian dalam kehidupan yang sudah kamu raih dan berapa banyak rencana yang belum terealisasi, dan berapa banyak perbaikan yang akan kamu lakukan untuk menyempurnakan langkahmu sebelumnya. Bagaikan seorang musafir yang sedang duduk di bawah pohon rindang melepas lelah setelah melewati perjalanan yang panjang di bawah matahari yang terik. Ia menjadikan istirahat menjadi bagian dalam perjalannya. Istirahat itu ia jadikan untuk mengumpulkan energi-energi baru untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Pun demikian, manusia pun seharusnya menjadikan proses bermuhasabah (merenung sambil berintrospeksi diri) menjadi part of life (bagian dalam hidup) untuk mengukur sudah sesuaikah jalan yang di lalui menuju tujuan awal? Bekal apa yang butuh dipersiapkan untuk perjalanan selanjutnya? Apakah ia mampu memanfaatkan bekal yang dibawa secara efektif hingga mencukupi hingga akhir perjalanan? Dengan perjalanan sejauh ini, apakah rasa sabar dan syukur dalam dirimu semakin meredup ataukah semakin menyala?

Untuk meraih kebahagian, kamu yang harus berproses dari satu tahapan kehidupan ke tahapan selanjutnya. Orang lain di sekitarmu hanya mampu menasihatimu, mengingatimu agar kamu berjalan sesuai rambu-rambu yang berlaku, mengajakmu berlomba dalam kebaikan, dan memberitahumu mana jalan yang benar dan mana jalan yang salah. Namun kamu sendiri yang harus berproses melewati satu anak tangga ke tangga berikutnya, dari satu level ke level selanjutnya. Dari satu titik kedewasaaan menuju ke titik kedewasaan selanjutnya. Proses itu dijalani sepenuh hati diiringi dengan rasa sabar yang kokoh.

Jakarta, 27 Mei 2017

2 Ramadhan 1438 H

Advertisements

Menemukan Makna dari Rangkaian Waktu

Hampir tiga tahun saya belajar di kampus tercinta, Universitas Indraprasta PGRI. Artinya sudah separuh lebih perjalanan menuju gerbang akhir program sarjana. Dalam hati saya berharap satu tahun lagi program ini dapat di selesaikan. Perjalanan menuntut ilmu di kampus ini menjadi bagian dalam hidup saya yang tak terpisahkan. Saya tumbuh dan berkembang selama proses belajar di kampus ini. banyak sisi yang membuat diri saya berkembang. Tidak hanya dalam sisi akademik saja, namun juga dari sisi pengalaman mengenyam perkuliahan di kelas reguler sore yang menguras energi dan emosi. Karena saya kuliah selepas saya bekerja seharian dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Pengalaman tidak dapat di bayar oleh materi. Karena ia melibatkan diri untuk mengikuti proses tahap demi tahap, ia menangkap suasana demi suasana dan mental kita memberikan tanggapan. Pembelajaran penting buat saya adalah rasa lelah bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesibukan juga bukan alasan untuk berhenti belajar. Karena sebenarnya belajar itu adalah proses yang tidak mengenal usia. Setiap orang memiliki hak untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya tanpa dibatasi oleh usia. Ruang belajar selalu tersedia di manapun baik di lingkungan pendididikan formal dan non formal.

Berawal dari motivasi ingin meng-upgrade diri itu, saya memutuskan melanjutkan kuliah pada tahun 2014 di kampus ini. Tujuan utama saya adalah menuntut ilmu dan membangun jaringan dengan teman-teman kampus yang baru di kenal. Rasa bangga menjadi bagian dari kampus ini adalah salah satunya. rasa bangga mengemban status mahsiswa. Saya bangga menjadi bagian dalam kampus ini karena di sini saya dapat merasakan jenjang pendidikan formal di atas bangku SMA. Kebanggaan itu secara tidak langsung membangun konstruksi berfikir, saya harus berubah. Maksudnya, saya harus lebih baik dari sisi pola pikir dan perilaku dari anak-anak yang hanya menyelesaikan pendidikan formal sebatas SMA. Namun di sisi lain, saya juga memahami kuliah bukan sekedar soal status sosial melainkan lebih kepada komitmen diri dan tanggung jawab moral untuk menuntaskan kontrak belajar yang di emban sebagai mahasiswa yang pada akhirnya pendidikan yang sudah di dapatkan dapat mengubah perilaku dan pola pikir menjadi insan yang paripurna dan memiliki kepedulian bagi sesamanya.

Masih teringat hari-hari pertama kuliah, saya berusaha mengelola waktu saya dari kebiasaan yang sebelumnya pulang kerja langsung pulang ke rumah. Sekarang setelah mulai aktif kuliah, saya menyesuaikan dan membagi waktu saya untuk belajar di kampus. Minggu-minggu pertama perkuliahan menjadi pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Ternyata tidak mudah membangun kebiasaan baru. Betapa beratnya membangun kebiasaan baru yang menuntut usaha yang lebih banyak yang menuntu stamina tubuh yang fit. Terburu-buru datang ke kampus karena takut datang telah apalagi di hari pertama perkuliahan. Keringat yang mengalir deras karena kondisi ruang kelas yang kurang kipas angin. Perut yang memberi isyarat untuk segera di isi namun jadi tertunda. Belum lagi kondisi tubuh yang sudah sangat lelah di paksa untuk fokus dengan aktivitas pembelajaran di kelas. Gugup dan grogi berkenalan dengan teman-teman baru dalam satu kelas. deg-degan dan keringat dingin, suara terbata-bata dan kaki gemetar saat mendapat tugas presentasi di depan kelas. bahkan pernah di semester awal pada saat saya mendapat tugas presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada sesi tanya jawab, saya mendapat giliran menjawab. Nyatanya saya terdiam cukup lama, ada yang ingin saya kemukakan ide dalam pikiran saya, namun tak bisa saya ungkapkan dengan lisan. Ini mungkin pengaruh demam panggung alias nervous. Akhirnya saya dibantu teman satu kelompok untuk menjawab pertanyaan itu. itu menjadi pengalaman yang saat di ingat-ingat kembali saya jadi malu dan menertawakan diri sendiri. Tapi, sudahlah itu kan namanya proses.

Mengikuti kuliah sore selepas pulang kerja bukanlah hal yang ringan. Hambatan dan tantangan selalu ada. Meskipun dengan hambatan dan tantangan itu bukan berarti menjadi alasan saya untuk menyerah. betul, saya mengeluh lelah. secara alami kondisi tubuh saya mengekspresikan itu. Saya juga menganggap wajar mengeluh karena saya merasa ini adalah perjalanan awal dan secara fisik tubuh saya memberi respon itu untuk dalam proses menyesuaikan diri dengan aktivitas baru  yang rutin saya lakukan. Namun itu hanya kelelahan secara fisik. Yang terpenting buat saya saat itu adalah menjaga motivasi belajar agar terus stabil sampai empat tahun ke depan. Karena motivasi diri itu menurut saya sangat penting dan mendasar. Karena motivasi itu bisa diibaratkan bahan bakar yang akan membuat mesin mobil itu berjalan. Saya berusaha motivasi saya untuk menuntut ilmu agar tetap menyala dan tidak luntur oleh rasa lelah atau pun hambatan-hambatan lain. Motivasi diri itulah yang menggerakkan saya untuk terus berpacu, terus semangat, dan memberikan [emahaman baru bahwa untuk maju dan berkembang perlu pengorbanan, ada risiko dann konsekuensinya.

Perlahan saya menemukan makna keluarga di kampus ini. Saya ingat hari saya mendaftar di kampus ini dan hati saya berkata, saya ingin mengembangkan diri saya dan saya ingin merubah diri semakin lebih baik. faktanya, kampus ini memfasilitasi banyak hal dan saya merasa potensi dan pengetahuan, nilai-nilai kepribadian saya berkembang. Saya belajar bersama teman-teman di sini, saya berinteraksi dengan mereka, di beberapa kesempatan saya bertanya dengan dosen-dosennya, di sisi lain saya berinteraksi dengan pegawai perpustakaan di saat berkunjung ke perpustakaan, dan saya juga ikut pelatihan organisasi dan kepemimpinan yang diadakan oleh ormawa. Interaksi-interaksi yang rutin itu dengan secara otomatis menumbuhkan rasa akrab dan kedekatan. Kedekatan itulah yang membuat saya belajar menghargai orang lain, peduli dengan sesama, dan memiliki komitmen untuk menjalin hubungan pertemanan berasaskan prinsip tolong menolong dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Setiap kita tumbuh dan berkembang karena hasil pengaruh yang ada di sekitar kita. lingkungan memiliki pengaruh terhadap kepribadian tiap-tiap individu. Pun demikian, saya juga mengalami hal itu. Setiap aktivitas yang dilakukan bersama-sama memilki warna yang beragam dan ide-ide kreatif akan lebih berkembang di komunitas yang heterogen. Teman-teman satu kelas adalah komunitas belajar yang memiliki komitmen belajar yang sama. Kadang saya tiba pada titik jenuh, semangat belajar menurun, dan rasa malas menggeregoti motivasi belajar saya. Namun karena saya berada di dalam komunitas, hal seperti itu akan bias dengan sendirinya. Karena tadi,  komunitas itu dapat membangkitkan semangat belajar. Karena komunitas ruang gerak tiap anggotanya menjadi sama. semua anggota berusaha menyesuaikan langkah, menyesuaikan visi, menyesuaikan persepsi untuk bersama saling menyemangati untuk tujuan yang sama yaitu sukses studi.

Apalagi di saat saya dan teman-teman duduk bersamadalam satu forum entah itu forum yang bersifat formal di kelas maupun forum tidak formal di luar kampus. Saya mengamati, saya mendengarkan opini teman tentang perkuliahan dan respon mereka melawan rasa malas, rasa jenuh, lelah, dan semangat menurun. Sebagian mereka mengungkapkan opini dengan bercerita. Seringkali kami menghibur diri dengan berbagi pengalaman yang lucu atau mengarang cerita lucu yang membuat kami tertawa lepas. Momen seperti ini membuat hubungan pertemanan di antara kami semakin erat. Sebagian lagi dari mereka lebih memilih menjalani aktivitas kuliah dengan konsisten. Mereka memberikan teladan bahwa proses perkuliahan ini cukup di jalani dengan sungguh-sungguh. Ruang untuk mengeluh, mengaduh, dan letupan emosi negatif yang lain mereka simpan dalam sudut ruang yang disebut ruang privasi.

Saya belajar menarik kesimpulan dari proses perkuliahan yang sudah dan sedang saya jalani saat ini. Saya belajar menarik hikmah perjalanan yang sudah terlewat.  Pada titik tertentu, saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri, sebenarnya apa tujuan saya kuliah? Sudahkah tujuan itu sudah tercapai atau paling tidak sudah mendekati? Atau sebaliknya semakin jauh dari tujuan awal saya memutuskan untuk kuliah? lalu apakah sejauh ini saya sudah memberikan effort yang maksimal agar tujuan itu terwujud sesuai harapan? Apakah waktu saya di kampus ini sudah saya kompensasikan dengan menyerap informasi baru, pemahaman baru, pengetahuan baru? Apakah selama saya berada di kampus ini saya sudah kompensisasikan waktu saya untu berfikir (think) lebih banyak, membaca (read) buku lebih banyak, mempelajari  (learn) ilmu pengeahuan lebih banyak?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini datang sebagai refleksi diri mengukur dari perjalanan yang sudah di jalani sejauh ini benar-benar mencerminkan kondisi diri saat ini. pertanyaan mengenai sejauh mana saya menghargai waktu, memanfaatkan waktu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Karena waktu itu terbatas. Usia juga terbatas. Namun karena waktu terbatas bukan justru menjadi excuse cepat merasa puas dengan pencapaian yang sudah di raih saat ini lalu berhenti belajar dan berhenti meng-upgrade diri. Menuliskan cerita ini adalah bagian dari cara saya bercermin dan mengevaluasi diri. Karena sejatinya evaluasi adalah menjadi bagian dalam hidup yang tak terpisahkan selama kita ingin melangkah lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 20 Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Perjalanan, Jejak, dan Pengalaman

Pengalaman berharga dari sebuah perjalanan bernama proses kehidupan yang menyisakan jejak. Jejak itu bernama kedewasaan, mental yang penuh percaya diri, persepsi, dan pola pikir. Kehidupan yang terus berkembang menuntut setiap individu harus siap meresponnya. Respon itu terbentuk dari nilai-nilai yang ada dalam jiwa seseorang. Nilai-nilai itu menyatu dalam jiwa dan memancar dalam perilaku nyata. Keyakinan yang kokoh terhadap nilai-nilai yang sudah ditanam sejak dini dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama membentuk kepribadian seseorang saat ini.

Ekspektasi untuk memiliki pribadi yang dewasa menjadi impian setiap orang. Dewasa secara mental dan pola pikir tentunya. Bukan  sebatas dewasa secara usia. Orang-orang yang mau dewasa dalam sikap, perilaku, dan pola pikir adalah orang-orang yang mau mengikuti rangkaian proses kehidupan yang menuntut kesabaran, ketekunan, jiwa yang memiliki prinsip yang kuat, diri yang ingin selalu memelihara semangat belajar, memperbaiki diri dari apa yang sudah terlewati, memetik hikmah dari peristiwa yang sudah terjadi, berdialog pada diri melalui suara hati yang jernih, mengevaluasi diri dari rencana dan target yang ingin dicapai, kemauan mendengar lebih banyak dari orang-orang yang memberi nasihat, dan memberikan effort lebih untuk mewujudkan harapan. Dalam hal ini yang terpenting adalah menikmati proses kehidupan dengan visi dan rencana yang jelas. Tanpa visi kehidupan menjadi tak terarah. Tanpa rencana yang jelas, kehidupan menjadi perjalanan yang tak memiliki tujuan.

Kita akan menjadi pribadi yang egois jika kita tak mau mengevaluasi diri kita atas apa yang sudah kita kerjakan. Bertanya pada diri sendiri (introspeksi diri ) menjadi penting dalam meniti kehidupan. Agar kita menjadi tahu diri bahwa setiap penglihatan adalah amanah, setiap pendengaran adalah amanah, setiap nikmat kehidupan adalah amanah. Kita diberi hidup karena kita siap menerima paket kehidupan. Paket kehidupan itu beragam namun subtansi satu, kehidupan selalu menjanjikan ujian atau cobaan. Paket satunya lagi, setiap cobaan selalu memiliki solusi atau pemecahan masalah (problem solving). Masalah yang datang dan menghampiri silih berganti itu secara sadar atau tidak sadar melatih kita untuk bersikap dan menentukan tindakan apa yang tepat untuk merespon atas masalah itu.  Masalah itu hakikatnya adalah sarana mengasah budi pekerti kita untuk semakin baik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, peran pendidikan menjadi penting untuk mempersiapkan strategi merespon setiap ujian kehidupan.

Hakikat pendidikan adalah perubahan pola pikir dan perilaku. Pendidikan menuntun kita untuk memiliki sudut pandang yang jernih dalam menentukan sikap. Pendidikan yang berhasil sejatinya membentuk individu menjadi insan yang bertakwa kepada Allah swt. Karena dengan pemahaman ini dunia adalah sarana untuk mengumpulkan kebaikan untuk kembali ke negeri akhirat. Dunia adalah persinggahan sementara dan tujuan akhir adalah negeri akhirat. Ilmu yang di peroleh dari proses pendidikan membuat hati semakin lembut, diri yang semakin rendah hati, akhlak baik yang semakin terpancar, tutur kata yang semakin halus, dan wawasan yang semakin luas. Ia melihat dirinya sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi yang ia sadar bahwa potensi itu harus terus di asah dan dikembangkan. Ia juga melihat dirinya sebagai makhluk sosial yang ia memahami dengan berinteraksi dengan sesama membuat hidup ini semakin utuh. Keberadaannya di lingkungan sosial selalu memberikan pengaruh kebaikan dan ia berusaha memberi kontribusi yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Merugilah orang-orang yang tak bijak menggunakan dan mengelola waktu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Merugilah orang-orang yang menikmati hidup dengan menuruti ego dan mengikuti selera lalu melupakan waktu yang diberikan kepadanya memilki batas. Merugilah orang-orang yang tak peka mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi di masa lampau dan selalu terjerumus pada lubang kesalahan yang sama. Merugilah orang-orang yang hadir di suatu majelis ilmu namun kehadiran tak memberikan bekas dan makna sedikit pun pada dirinya, lantaran ia hadir namun tak memiliki niat untuk belajar memahami ilmu yang disampaikan. Merugilah orang-orang yang sibuk mengomentari dan menilai orang lain, tapi tak pernah menyempatkan diri menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri.

Selama kita mau membuka diri meminta nasihat dari orang tua kita, guru-guru kita, dan sahabat-sahabat kit, maka hal itu membuat diri kita telah membuka untuk menerima motivasi, informasi, dan edukasi. Suara hati untuk berbenah diri menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Kadang kita lebih suka menasihati orang lain, namun lalai menasihati diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk menilai urusan orang lain, namun abai menilai dan mengavaluasi urusan diri sendiri. Kita sering kali menuntut orang lain melakukan kebaikan, tapi kita tak kunjung memberikan teladan yang baik kepada mereka.

Tak ada kata terlambat untuk berubah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Jadikan hidup bertambah umur, bertambah kebaikan.  Tak akan terjadi perubahan diri tanpa diberangi kesungguhan tekad dan usaha yang konsisten. Segera tinggalkan kebiasaan buruk di masa lalu. Bergegas menjemput hari-hari dengan amal kebaikan. Perubahan diri akan hanya menjadi angan-angan tanpa adanya komitmen dan usaha untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, waktu membuktikan apakah perubahan yang kamu niatkan sejak awal menjadi kenyataan sesuai dengan harapan  atau keinginan berubah hanya sekedar wacana yang tak pernah usai.

Jakarta, 19 Mei 2017

Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

chisvvaugam94oi

Hari berganti hari. Setiap manusia memiliki modal yang sama dalam mengarungi kehidupan yaitu waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah swt. adalah amanah agar setiap kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dengan aktivitas kebaikan dan amal soleh. Waktu terus berjalan dan tak akan pernah terulang kembali. Begitulah sifat waktu. Bagi mereka yang mengisi waktu dengan kebaikan dan amal soleh, maka baginya adalah keberuntungan yang besar. Bagi mereka yang lalai, tak mau sadar diri, tak mau memahami makna dan tujuan dari kehidupan itu sendiri, maka kerugian kelak di dapatkannya.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan yang sama yaitu berawal dari seorang bayi lalu anak kecil, remaja, lalu dewasa hingga menjadi orang tua. Kita pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Kita membangun dan mengembangkan potensi diri dari dasar. Sama-sama merasakan ujian kehidupan terutama di saat kita beranjak remaja, dewasa, dan kelak menjadi orang tua. Karena hakikatnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya. Selama proses ujian kehidupan berlangsung ini, setiap orang memiliki pilihan hidup yang ditempuh olehnya. Ada yang tetap tegar dan cepat bangkit di saat cobaan hidup menerpanya. Baginya manusia yang baik adalah manusia yang mau bangkit dari segala macam keterpurukan yang menimpanya. Saat dia jatuh, di memilih untuk bangkit. Saat dia jatuh lagi, dia bangkit lagi. Begitu seterusnya. Ada juga yang memilih untuk pasrah, patah semangat, berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, putus harapan, dan memelihara rasa kecewa yang pada akhirnya dia akan merasakan dampak dari sikap yang telah ia pilih. Karena sejatinya, kebaikan atau keburukan yang kita tanam, hasilnya kelak diri kita sendiri yang merasakan.

Kesempatan untuk menjemput masa depan yang cerah akan terus terbuka selama diri kita mau berjuang membela dan memperjuangkan cita-cita. Kesempatan itu datang dengan satu paket yang di dalamnya terdapat tantangan, kompetisi, pengorbanan, kesungguhan tekad, dan kerja keras. Kadang kita merasa lelah, kadang kita bersemangat, kadang kala kita bosan, kadang kala kita jenuh. Namun begitulah roda kehidupan. Semua berputar dan kita akan merasakan pada titik tertentu sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan titik kejenuhan dan titik kelelahan. Pada saat kondisi seperti itulah, motivasi diri kita di uji. Seberapa tulus kita melewati tahapan proses untuk memperjuangkan cita-cita kita. Seberapa besar kesungguhan kita untuk terus bergerak dan berupaya mewujudkan impian yang menjadi harapan kita. Apakah kita memilih terbuai dalam titik kejenuhan dan titik kelelahan itu sehingga kita lalai, putus asa, dan melupakan tujuan dari akhir perjalanan yang kita pilih? Apakah kita memiliki cadangan kesabaran yang cukup untuk memilih berhenti sejenak beristirahat sambil mengumpulkan energi-energi baru yang ada di sekitar kita dan setelah di rasa cukup, kita melanjutkan perjalanan pelan-pelan namun konsisten untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal perjalanan kita?

Masalah kehidupan yang kita hadapi saat ini kadang kala merupakan bagian masalah yang pernah kita alami di masa lampau namun masalah itu belum tuntas  kita selesaikan. Atau bisa juga masalah yang datang itu merupakan masalah yang baru dan berbeda namun intinya (poin pembelajarannya) sama dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. Karenanya, bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang lebih tua usianya dan memiliki prinsip hidup yang terarah adalah sebuah keharusan. Masalah yang pernah kita hadapi saat ini di usia muda, mereka pun pernah menghadapi dan mereka berhasil melewatinya. Ungkapan, orang yang lebih tua dari kita sudah ‘memakan asam garam’ kehidupan. Artinya orang tua yang lebih tua usianya dari kita, ia lebih berpengalaman melewati getir, pahit, dan manis dari kehidupan. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dan mereka menjadi tempat yang tepat untuk kita bertanya, berdiskusi, dan meminta nasihat.

Kita bertanya untuk mendapatkan pilihan-piliihan jalan mana yang terbaik dari sekian banyak pilihan-pilihan yang ada. Kita bertanya untuk menemukan pencerahan dan menyalakan api optimis hidup dalam diri kita. Kita meminta nasihat untuk mendapat arahan yang jelas termasuk konsekuensi yang harus kita tempuh pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

Perjalanan hidup yang sudah kita lalui hingga hari ini menjadi proses pendewasaan dan mental diri kita. cara berfikir kita berkembang semakin luas wawasannya, emosi kita lebih mudah kita kendalikan, cara bertutur kata kita perhatikan agar tidak menyakiti orang lain, sikap toleransi kita tumbuh dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan dari kita, dan kita semakin menghormati dari kemajemukan yang ada.

Dari jejak-jejak yang sudah kita lalui, kita mulai merasakan bagaimana kesabaran kita ditempa, bagaimana mensiasati suatu keterpurukan, bagaimana melewati masa-masa sulit di tengah himpitan kehidupan dari berbagai arah, bagaimana kita mencari dan menemukan pelita hati untuk kembali bersemangat dari orang-orang yang tulus mencintai kita, bagaimana cinta orang-orang yang menyayangi dan peduli pada kita sehingga energi positif tersebar dalam diri kita. Semua pengalaman hidup itu menjadikan iman terus bertumbuh dan semakin menyala. Semua pengalaman hidup itu menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama kita akhirnya tahu sahabat dan orang yang mencintai kita dengan sangat tulus selalu mengingingkan kita berhasil, mengingingkan kita bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Persahabatan itu akan tetap ada dan akan terus terpelihara dalam balutan senyum yang mengembang, ungkapan sapa yang menghangatkan, dialog yang mengundang tawa, serta nama-nama yang terangkai dalam doa-doa yang panjang. Pada akhirnya, pengalaman hidup yang telah kita lalui menjadi cerita tersendiri yang tersimpan rapi dalam hati dan ingatan kita. Kelak kita bisa membagikan cerita-cerita itu kepada anak dan cucu kita sebagai motivasi dan inspirasi.

Pada saat-saat tertentu, kita perlu melakukan perjalanan melihat kekayaan alam dan melihat realitas sosial. Kita perlu mengajak hati kita rehat sambil memandangi pohon-pohon yang menghijau dan rimbun di sepanjang jalan raya, melihat anak-anak kecil bermain, berlari dan tertawa dengan riangnya,  menatap wajah para pekerja yang sudah terlihat lelah selepas pulang kerja, berlumuran keringat di kening dan tubuhnya namun matanya masih menyala dan menyimpan mutiara harapan-harapan, atau menyaksikan seorang anak yang masih belia sudah memiliki rasa peduli bagi sesamanya, karena ia sadar dari harta yang ia miliki, sebagiannya ada hak orang lain yang harus ia berikan. Atau menyaksikan anak-anak remaja bermain musik sambil bernyanyi di sore hari di dalam angkot (angkutan umum) menghibur para penumpang yang hendak pulang bertemu keluarga tercinta. Mereka bernyanyi dengan niat menyambung hidup dan untuk meringankan beban orang tuanya dalam membiayai ia bersekolah. Ia tidak peduli tatapan sinis beberapa penumpang angkot kepadanya, ia tak ambil pusing persepsi orang yang menilai mengamen adalah pekerjaan yang di pandang sebelah mata. Ia tahu betul dan sadar sekali, ini bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal dan cara ia survive agar ia tetap bersekolah. Melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang membuat kita memiliki pemahaman yang utuh dan benih-benih kepekaan sosial tumbuh. Faktanya ketimpangan dan kesenjangan sosial di kota-kota besar sangat tinggi. Melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita, rasa empati kita dengan sesama akan semakin terasah. Rasa kepekaan semakin bertumbuh dan melunturkan sikap ego. Akal pikiran kita mencari solusi. Hati mendorong diri untuk memberi. Pemberian yang tulus bagi kita menjadi sangat berarti bagi mereka.

Kita dapat berkontribusi dan melakukan perubahan. Karena itu perubahan harus di mulai dari diri sendiri, dari yang ringan yang kita bisai, dan dimulai dari saat ini juga.

 

Jakarta, 05 Maret 2017

Luka yang Membawa Harapan

Tulisan ini adalan rangkaian cerita dari Story Blog Tour Oneweekonepaper (OWOP). saya ada di urutan ke lima. cerita sebelumnya bisa dinikmati di sini.

 


dandelion2

Udin masih berdiri di tempat parkir motor. Matanya memandang ke arah mobil mewah Steven yang pelan-pelan menjauh dan menghilang di belokan perempatan jalan . Hatinya terasa perih melihat kekasih hatinya pergi dengan laki-laki lain. Ada kesedihan yang merayap dalam rongga hatinya. Setelah terdiam beberapa saat, ia melihat jam tangan. Matanya membulat dan ia tersadar Emaknya di rumah sudah menunggu terlalu lama. Ia kembali bergegas ke dalam pasar membelikan pesanan belanjaan Emak.

Setelah memastikan tidak ada yang terlupa akan barang yang di beli –beras, cabai, dan bawang, ia segera berjalan keluar dengan ayunan langkah kaki yang lebih cepat. Ia melangkah dengan tegap dan seolah-olah tidak ada bedanya saat sebelum dan sesudah dari Pasar. Semuanya baik-baik saja, ia menguatkan hatinya. Namun dalam kepalanya, bayangan Lela terus hadir dalam ingatan selama dalam perjalanan menuju rumah. Hatinya ingin menjerit namun ia tahan. Sesekali bayangan Lela hilang berganti bayangan wajah Emak yang sedang marah-marah akan terlalu lama ia berada di Pasar.

Udin tiba di halaman rumah saat matahari sudah mulai terik. Jarak antara rumah Udin dengan pasar ditempuh dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Pintu rumahnya sejak tadi sudah terbuka. Setelah memberi salam, dia masuk ke dalam rumah dan bertemu Emak yang sejak tadi gelisah menunggu kedatangannya.

“Udin, Elo kemana aja? Lama banget ke pasarnya. Elo mampir dulu ke rumah Lela?” suara Emak terdengar setengah berteriak.

“Dari pasar Emak. Ini belanjaan yang Emak pesan buktinya,” Udin menjawab datar tangannya memberikan belanjaan ke Emak.

Udin langsung meninggalkan Emak di ruang tengah dan beranjak ke kamarnya dengan langkah patah-patah dan dengan rona wajah yang ditekuk. Emak bingung melihat sikap anaknya. Ada rasa khawatir sekaligus heran melihat tidak ada rona keceriaan di wajah anaknya.

Emak melangkah ke dapur dan mulai memasak. Selama memasak, ia memikirkan Udin. Ada apa dengan si Udin? Ah, paling juga masalah cinta anak abege. Ia merencanakan akan menasihati Udin setelah masakan selesai. Yang terpenting bagi anaknya saat ini adalah memberi motivasi untuk tetap bersemangat mencari bekerja. tadi pagi sambil menunggu Udin kembali dari pasar, ia sudah membeli koran yang memuat informasi lowongan kerja dan ia sudah memberi tanda bagian mana yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Dalam hati ia berharap, semoga ikhtiar ini menjadi jalan terbukanya rezeki bagi anaknya kelak.

Di dalam kamar Udin di dekat jendela menatap rumah Lela. hatinya dipenuhi api cemburu. hatinya berkecamuk tak menentu. Ada rasa kesal, sedih, dan kecewa yang bercampur. Sesekali hatinya membatin, ‘Gue harus membuat perhitungan sama Steven. Berani-beraninya dia deketin kekasih hatinya’. Sisi hatinya yang lain bergumam dengan berfikir agak logis, ‘Buat apa membuat perhitungan dengan Steven. Lagi pula sepenuhnya bukan salah dia juga. Lela juga punya andil membuat hatinya terluka.’ Tatapan Udin berpindah-pindah tak menentu. Sesekali ia memandang langit dan terdiam cukup lama merenung. Ia mencoba mencari solusi untuk menenangkan dirinya. Tetapi yang terjadi sebaliknya, semakin lama berfikir dan merenung mengenai hubungannya dengan Lela yang ada hatinya semakin terluka. Hatinya menahan perih seorang diri. Hatinya semakin penuh sesak.

Kini separuhnya hatinya membenarkan ucapan Emak, Lela itu buka tipe cewek yang setia. Ada sedikit penyesalan mengapa ia tidak sepenuhnya setuju ucapan  Emak itu. setidaknya kalau saja dia mendengarkan nasihat Emak, mungkin saat ini hatinya lebih siap menerima kejadian yang tadi siang di pasar. Mungkin juga hatinya sudah bersiap dan pelan-pelan berhenti mencintai Lela. pelan-pelan menutup hatinya untuk Lela. Separuh hatinya membatin, ia bersyukur memilki Emak yang mencintai anaknya sepenuh hati. Emak ingin anaknya kelak bahagia dengan wanita yang baik. Emak selalu menasihati anaknya dengan penuh kasih sayang.

Ia kembali merenung dan kini wajahnya mulai agak cerah. Seketika terbersit ide, daripada mikirin Lela yang membuat diri tidak move on. Lebih baik memikirkan tentang bagaimana cara agar masa depan cerah. Ia sepakat dengan satu kata, b-e-k-e-r-j-a. Iya, ia mesti bekerja. tapi ia bingung. Ia mesti memulai darimana? Ia mesti bekerja dimana?

 

Cerita selanjutnya bersambung di Blog Rizka Agustina

Perjalanan Yang Mendewasakan Diri

Cerita mengenai perjalanan selalu menarik untuk dituliskan. Karena disana terdapat mata air jernih yang menambah wawasan dan kedewasaan diri. Perjalanan bukan sekedar mencari kesenangan saja. Bukan juga karena motif untuk mengabadikan berpuluh-puluh bahkan ratusan foto. Bukan juga sekedar menghabiskan waktu dan menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.

Alasan-alasan tersebut sah-sah saja untuk menjadi motif seseorang melakukan perjalanan.  Namun bagi saya melakukan perjalanan adalah cara saya menikmati pemandangan alam yang baru dengan segenap hati yang menimbulkan getaran hati sebagai bentuk kekaguman atas kebesaran Allah. Melalui perjalanan saya membangun persepsi baru terhadap kehidupan, budaya, dan bahasa. Dari sana saya mendapat pengalaman yang dapat membuka wawasan dan memperhalus kebaikan budi pekerti serta untuk mendewasakan diri dalam menaruh sikap saling menghargai dalam menghadapi berbagai bentuk keragaman.

Agustus 2016,  saya melakukan perjalanan ke daerah yang baru di timur pulau Jawa tepatnya di Kediri untuk belajar bahasa Inggris. Dari Jakarta saya berangkat seorang diri dengan membawa perlengkapan secukupnya. Satu tekad saya saat itu, saya ingin menuntut ilmu di daerah yang menurut banyak orang sangat kondusif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Saya menikmati perjalanan dengan menatap jendela pesawat. Dari jendela pesawat saya melihat awan-awan yang bergumpal berbaris dengan megah yang tersinari cahaya keemasan sang mentari. Gumpalan-gumpalan awan itu sekilas menyerupai kapas putih raksasa yang melayang di udara. Saya duduk di tepat di sebelah sayap kanan yang sesekali saya melihat sayap itu bergerak-gerak diterpa angin.

Saat itu hati saya tertegun, perjalanan ini terjadi atas takdir Allah. Saya berikhtiar semampu saya. Kasih sayang Allah begitu terasa saat saya tersadar bahwa manusia adalah salah satu makhluk dari milyaran makhluk ciptaan Allah yang lain. Kepunyaan Allah segala yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya. Pada akhirnya saat ajal sudah tiba, hanyalah iman dan amal sholeh yang menemani kita menuju alam selanjutnya. Jabatan yang kita banggakan, keluarga yang kita cintai, harta yang kita punyai, semua itu akan meninggalkan kita.

Rasulullah saw. bersabda : “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang soleh yang mendoakan orang tuanya.”  (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i)

Hati yang baik melahirkan perilaku yang baik. Hati yang baik memancarkan perkataan yang baik. Hati yang baik menampakkan wajah yang sejuk dipandang. Maka milikilah hati yang baik itu. Selalu berusaha sekuat tenaga menjaga kebeningan hati dengan memperbanyak amal kebaikan. Kebaikan itu selalu menghadirkan ketenangan dan ketentraman hati. Mulailah dengan hal-hal kecil yang kita bisai. Berkata yang baik, menabar salam saat berjumpa, memberikan senyum kepada sesama, menyingkirkan duri di jalan,  menjadi orang yang pemaaf, rendah hati dan kebaikan-kebaikan lainnya. Niat yang baik, ikhtiar dengan cara yang baik, maka hasil yang baik akan kamu raih. Lakukan kebaikan dengan konsisten. Karena Allah mencintai amal kebaikan yang dikerjakan secara konsisten.

Sesungguhnya perjalanan hidup ini untuk mendewasakan iman, menstabilkan emosi, mematangkan pola pikir, dan mengembangkan budi pekerti.  Semakin bertambah usia manusia, semestinya semakin banyak pelajaran dan makna hidup yang mesti diserapnya. Melalui waktu manusia belajar mengolah waktu, menghadapi realita kehidupan, bersabar dengan sabar yang baik, dan menebar kebaikan serta meluaskan manfaat dengan sesamanya.

 

Jakarta, 03 Februari 2016

 

Jejak Kerinduan

rumah-gemilang-indonesia

08 Januari 2017

Hari itu, saya mengunjungi adik saya di Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Depok. Adik saya diterima untuk belajar program Apikasi Perkantoran pada Angkatan 16 RGI. Selama mengikuti pendidikan (enam bulan) ia akan tinggal asrama. Tujuan saya datang untuk mengantarkan pakaian dan lauk kering untuk adik saya. Tiba di sana saat hari sudah sore. Hari itu cuaca cukup cerah dan sedikit berawan.

Ini kali pertama saya datang kembali ke RGI selama  tiga tahun terakhir. Saat menginjakkan kaki di tempat ini hati saya menghangat. Ingatan semasa saya tinggal dan belajar di tempat ini seketika memenuhi kepala saya. Saya menyadari saya pernah hidup dan menjadi bagian keluarga besar di rumah ini Angkatan 5 tahun 2011. Enam bulan tinggal di asrama ini membuat kenangan bersama teman-teman dan instruktur program begitu membekas di hati saya. Rumah ini bukan rumah biasa. Saya menempatkan rumah ini menjadi rumah saya sendiri. Rumah tempat saya merajut mimpi-mimpi masa depan, rumah tempat saya mendapat inspirasi untuk semangat dan tekun menulis, rumah tempat saya mengasah kreativitas, dan rumah untuk mengembangkan diri pada bidang komputer. Sesuai namanya Rumah Gemilang Indonesia, rumah ini menjadi pintu para murid-muridnya untuk menjemput masa depan yang gemilang.

Saat berkunjung kali ini saya bertemu dua teman satu angkatan dengan saya yang sudah bekerja menjadi asisten instruktur program dan salah satu tim Manajemen RGI. Ruslan dan Mas Uki.  Bersama mereka saya meluapkan kerinduan melalui cerita mengenang masa-masa saat kami belajar di sini. Kami saling bertanya mengenai aktivitas dan kesibukan saat ini, termasuk target dalam jangka pendek di tahun ini. Kami bercerita lepas sekali yang membuat kami tertawa dan tersenyum lebar.

Saya menyadari betapa pun lamanya saya pergi meninggalkan rumah ini, rumah ini selalu memiliki kenangan sendiri buat saya dan rumah ini  akan selalu menerima kehadiran para alumninya. Rumah ini mengajarkan saya untuk terus memelihara rasa ingin tahu yang lebih tinggi, untuk terus semangat mewujudkan mimpi, untuk terus berupaya dimana pun kamu berada pastikan kamu dapat memberikan kebaikan dengan lingkungan sekitar. “Kalian harus menjadi lilin yang cahaya selalu menyala menerangi orang-orang di sekitarmu,” pesan dari Bapak Sigit Iko Sugondo, Direktur Rumah Gemilang Indonesia. Kini, semangat itu masih terus menyala di hati saya.

“Mas Uki, saya sebenarnya kangen banget mau silaturahmi ke sini dari jauh-jauh hari. Tapi gimana ya saya aja yang belum menyempatkan datang ke sini.”

“Datang aja Mas Imron ke sini. Mas Imron nanti  bisa memberikan motivasi untuk adik-adik di sini. Biar saya yang atur forumnya. Saya akan bilang kepada mereka, ini lho ada kakak kelas kalian yang sudah bekerja dan kuliah dengan biaya sendiri yang akan berbagi cerita dan pengalamannya dari mulai dia belajar di RGI hingga bekerja. Sudah bekerja dan Kuliah dengan biaya sendiri kan suatu kebanggaan.”

Saya tersenyum mendengar tawaran itu dan saya menerima tawaran itu. Ada rasa bangga diberi tawaran ini. Mas Uki adalah teman satu angkatan dengan saya namun berbeda program dengan saya. Saya di program teknik komputer dan jaringan dan Mas Uki di program Fotografi dan Videografi. Saat ini dia menjadi asisten instruktur program fotografi dan videografi di RGI. RGI membuka program beasiswa untuk enam program yaitu teknik komputer dan jaringan,  aplikasi perkantoran, menjahit dan tata busana, design grafis, fotografi dan videografi, dan otomotif. Info selengkapnya bisa di lihat di rumahgemilang.com.

Setelah diskusi dengan Mas Uki, terngiang di telinga saya sebuah kalimat, sudah bekerja dan bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri itu adalah suatu kebanggaan. Saya mencoba memahami kalimat itu pelan-pelan hingga batin saya berkata , “Kamu perlu melihat orang-orang yang hidupnya lebih prihatin darimu, hingga kamu dapat lebih bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan untukmu.” Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari RGI ini. Karena dengan rasa bangga itu motivasi belajar saya selama menuntu ilmu di sini dapat stabil dari awal hingga saya mengikuti proses wisuda.

Selama kamu meninggalkan jejak dan kesan baik dimanapun kamu berada, kamu selalu bisa kembali menyapa tempat-tempat itu dengan hati yang dipenuhi rasa rindu. Satu jejak kebaikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain.

Masa depanmu bergantung apa yang kamu lakukan hari ini. Keberhasilan adalah milik orang-orang yang bersungguh-sunggguh.

Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya membuat ia semakin banyak menyerap pelajaran dari kehidupan.

 

 

Jakarta, 18 Januari 2017