Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

chisvvaugam94oi

Hari berganti hari. Setiap manusia memiliki modal yang sama dalam mengarungi kehidupan yaitu waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah swt. adalah amanah agar setiap kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dengan aktivitas kebaikan dan amal soleh. Waktu terus berjalan dan tak akan pernah terulang kembali. Begitulah sifat waktu. Bagi mereka yang mengisi waktu dengan kebaikan dan amal soleh, maka baginya adalah keberuntungan yang besar. Bagi mereka yang lalai, tak mau sadar diri, tak mau memahami makna dan tujuan dari kehidupan itu sendiri, maka kerugian kelak di dapatkannya.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan yang sama yaitu berawal dari seorang bayi lalu anak kecil, remaja, lalu dewasa hingga menjadi orang tua. Kita pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Kita membangun dan mengembangkan potensi diri dari dasar. Sama-sama merasakan ujian kehidupan terutama di saat kita beranjak remaja, dewasa, dan kelak menjadi orang tua. Karena hakikatnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya. Selama proses ujian kehidupan berlangsung ini, setiap orang memiliki pilihan hidup yang ditempuh olehnya. Ada yang tetap tegar dan cepat bangkit di saat cobaan hidup menerpanya. Baginya manusia yang baik adalah manusia yang mau bangkit dari segala macam keterpurukan yang menimpanya. Saat dia jatuh, di memilih untuk bangkit. Saat dia jatuh lagi, dia bangkit lagi. Begitu seterusnya. Ada juga yang memilih untuk pasrah, patah semangat, berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, putus harapan, dan memelihara rasa kecewa yang pada akhirnya dia akan merasakan dampak dari sikap yang telah ia pilih. Karena sejatinya, kebaikan atau keburukan yang kita tanam, hasilnya kelak diri kita sendiri yang merasakan.

Kesempatan untuk menjemput masa depan yang cerah akan terus terbuka selama diri kita mau berjuang membela dan memperjuangkan cita-cita. Kesempatan itu datang dengan satu paket yang di dalamnya terdapat tantangan, kompetisi, pengorbanan, kesungguhan tekad, dan kerja keras. Kadang kita merasa lelah, kadang kita bersemangat, kadang kala kita bosan, kadang kala kita jenuh. Namun begitulah roda kehidupan. Semua berputar dan kita akan merasakan pada titik tertentu sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan titik kejenuhan dan titik kelelahan. Pada saat kondisi seperti itulah, motivasi diri kita di uji. Seberapa tulus kita melewati tahapan proses untuk memperjuangkan cita-cita kita. Seberapa besar kesungguhan kita untuk terus bergerak dan berupaya mewujudkan impian yang menjadi harapan kita. Apakah kita memilih terbuai dalam titik kejenuhan dan titik kelelahan itu sehingga kita lalai, putus asa, dan melupakan tujuan dari akhir perjalanan yang kita pilih? Apakah kita memiliki cadangan kesabaran yang cukup untuk memilih berhenti sejenak beristirahat sambil mengumpulkan energi-energi baru yang ada di sekitar kita dan setelah di rasa cukup, kita melanjutkan perjalanan pelan-pelan namun konsisten untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal perjalanan kita?

Masalah kehidupan yang kita hadapi saat ini kadang kala merupakan bagian masalah yang pernah kita alami di masa lampau namun masalah itu belum tuntas  kita selesaikan. Atau bisa juga masalah yang datang itu merupakan masalah yang baru dan berbeda namun intinya (poin pembelajarannya) sama dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. Karenanya, bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang lebih tua usianya dan memiliki prinsip hidup yang terarah adalah sebuah keharusan. Masalah yang pernah kita hadapi saat ini di usia muda, mereka pun pernah menghadapi dan mereka berhasil melewatinya. Ungkapan, orang yang lebih tua dari kita sudah ‘memakan asam garam’ kehidupan. Artinya orang tua yang lebih tua usianya dari kita, ia lebih berpengalaman melewati getir, pahit, dan manis dari kehidupan. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dan mereka menjadi tempat yang tepat untuk kita bertanya, berdiskusi, dan meminta nasihat.

Kita bertanya untuk mendapatkan pilihan-piliihan jalan mana yang terbaik dari sekian banyak pilihan-pilihan yang ada. Kita bertanya untuk menemukan pencerahan dan menyalakan api optimis hidup dalam diri kita. Kita meminta nasihat untuk mendapat arahan yang jelas termasuk konsekuensi yang harus kita tempuh pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

Perjalanan hidup yang sudah kita lalui hingga hari ini menjadi proses pendewasaan dan mental diri kita. cara berfikir kita berkembang semakin luas wawasannya, emosi kita lebih mudah kita kendalikan, cara bertutur kata kita perhatikan agar tidak menyakiti orang lain, sikap toleransi kita tumbuh dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan dari kita, dan kita semakin menghormati dari kemajemukan yang ada.

Dari jejak-jejak yang sudah kita lalui, kita mulai merasakan bagaimana kesabaran kita ditempa, bagaimana mensiasati suatu keterpurukan, bagaimana melewati masa-masa sulit di tengah himpitan kehidupan dari berbagai arah, bagaimana kita mencari dan menemukan pelita hati untuk kembali bersemangat dari orang-orang yang tulus mencintai kita, bagaimana cinta orang-orang yang menyayangi dan peduli pada kita sehingga energi positif tersebar dalam diri kita. Semua pengalaman hidup itu menjadikan iman terus bertumbuh dan semakin menyala. Semua pengalaman hidup itu menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama kita akhirnya tahu sahabat dan orang yang mencintai kita dengan sangat tulus selalu mengingingkan kita berhasil, mengingingkan kita bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Persahabatan itu akan tetap ada dan akan terus terpelihara dalam balutan senyum yang mengembang, ungkapan sapa yang menghangatkan, dialog yang mengundang tawa, serta nama-nama yang terangkai dalam doa-doa yang panjang. Pada akhirnya, pengalaman hidup yang telah kita lalui menjadi cerita tersendiri yang tersimpan rapi dalam hati dan ingatan kita. Kelak kita bisa membagikan cerita-cerita itu kepada anak dan cucu kita sebagai motivasi dan inspirasi.

Pada saat-saat tertentu, kita perlu melakukan perjalanan melihat kekayaan alam dan melihat realitas sosial. Kita perlu mengajak hati kita rehat sambil memandangi pohon-pohon yang menghijau dan rimbun di sepanjang jalan raya, melihat anak-anak kecil bermain, berlari dan tertawa dengan riangnya,  menatap wajah para pekerja yang sudah terlihat lelah selepas pulang kerja, berlumuran keringat di kening dan tubuhnya namun matanya masih menyala dan menyimpan mutiara harapan-harapan, atau menyaksikan seorang anak yang masih belia sudah memiliki rasa peduli bagi sesamanya, karena ia sadar dari harta yang ia miliki, sebagiannya ada hak orang lain yang harus ia berikan. Atau menyaksikan anak-anak remaja bermain musik sambil bernyanyi di sore hari di dalam angkot (angkutan umum) menghibur para penumpang yang hendak pulang bertemu keluarga tercinta. Mereka bernyanyi dengan niat menyambung hidup dan untuk meringankan beban orang tuanya dalam membiayai ia bersekolah. Ia tidak peduli tatapan sinis beberapa penumpang angkot kepadanya, ia tak ambil pusing persepsi orang yang menilai mengamen adalah pekerjaan yang di pandang sebelah mata. Ia tahu betul dan sadar sekali, ini bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal dan cara ia survive agar ia tetap bersekolah. Melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang membuat kita memiliki pemahaman yang utuh dan benih-benih kepekaan sosial tumbuh. Faktanya ketimpangan dan kesenjangan sosial di kota-kota besar sangat tinggi. Melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita, rasa empati kita dengan sesama akan semakin terasah. Rasa kepekaan semakin bertumbuh dan melunturkan sikap ego. Akal pikiran kita mencari solusi. Hati mendorong diri untuk memberi. Pemberian yang tulus bagi kita menjadi sangat berarti bagi mereka.

Kita dapat berkontribusi dan melakukan perubahan. Karena itu perubahan harus di mulai dari diri sendiri, dari yang ringan yang kita bisai, dan dimulai dari saat ini juga.

 

Jakarta, 05 Maret 2017

Luka yang Membawa Harapan

Tulisan ini adalan rangkaian cerita dari Story Blog Tour Oneweekonepaper (OWOP). saya ada di urutan ke lima. cerita sebelumnya bisa dinikmati di sini.

 


dandelion2

Udin masih berdiri di tempat parkir motor. Matanya memandang ke arah mobil mewah Steven yang pelan-pelan menjauh dan menghilang di belokan perempatan jalan . Hatinya terasa perih melihat kekasih hatinya pergi dengan laki-laki lain. Ada kesedihan yang merayap dalam rongga hatinya. Setelah terdiam beberapa saat, ia melihat jam tangan. Matanya membulat dan ia tersadar Emaknya di rumah sudah menunggu terlalu lama. Ia kembali bergegas ke dalam pasar membelikan pesanan belanjaan Emak.

Setelah memastikan tidak ada yang terlupa akan barang yang di beli –beras, cabai, dan bawang, ia segera berjalan keluar dengan ayunan langkah kaki yang lebih cepat. Ia melangkah dengan tegap dan seolah-olah tidak ada bedanya saat sebelum dan sesudah dari Pasar. Semuanya baik-baik saja, ia menguatkan hatinya. Namun dalam kepalanya, bayangan Lela terus hadir dalam ingatan selama dalam perjalanan menuju rumah. Hatinya ingin menjerit namun ia tahan. Sesekali bayangan Lela hilang berganti bayangan wajah Emak yang sedang marah-marah akan terlalu lama ia berada di Pasar.

Udin tiba di halaman rumah saat matahari sudah mulai terik. Jarak antara rumah Udin dengan pasar ditempuh dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Pintu rumahnya sejak tadi sudah terbuka. Setelah memberi salam, dia masuk ke dalam rumah dan bertemu Emak yang sejak tadi gelisah menunggu kedatangannya.

“Udin, Elo kemana aja? Lama banget ke pasarnya. Elo mampir dulu ke rumah Lela?” suara Emak terdengar setengah berteriak.

“Dari pasar Emak. Ini belanjaan yang Emak pesan buktinya,” Udin menjawab datar tangannya memberikan belanjaan ke Emak.

Udin langsung meninggalkan Emak di ruang tengah dan beranjak ke kamarnya dengan langkah patah-patah dan dengan rona wajah yang ditekuk. Emak bingung melihat sikap anaknya. Ada rasa khawatir sekaligus heran melihat tidak ada rona keceriaan di wajah anaknya.

Emak melangkah ke dapur dan mulai memasak. Selama memasak, ia memikirkan Udin. Ada apa dengan si Udin? Ah, paling juga masalah cinta anak abege. Ia merencanakan akan menasihati Udin setelah masakan selesai. Yang terpenting bagi anaknya saat ini adalah memberi motivasi untuk tetap bersemangat mencari bekerja. tadi pagi sambil menunggu Udin kembali dari pasar, ia sudah membeli koran yang memuat informasi lowongan kerja dan ia sudah memberi tanda bagian mana yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Dalam hati ia berharap, semoga ikhtiar ini menjadi jalan terbukanya rezeki bagi anaknya kelak.

Di dalam kamar Udin di dekat jendela menatap rumah Lela. hatinya dipenuhi api cemburu. hatinya berkecamuk tak menentu. Ada rasa kesal, sedih, dan kecewa yang bercampur. Sesekali hatinya membatin, ‘Gue harus membuat perhitungan sama Steven. Berani-beraninya dia deketin kekasih hatinya’. Sisi hatinya yang lain bergumam dengan berfikir agak logis, ‘Buat apa membuat perhitungan dengan Steven. Lagi pula sepenuhnya bukan salah dia juga. Lela juga punya andil membuat hatinya terluka.’ Tatapan Udin berpindah-pindah tak menentu. Sesekali ia memandang langit dan terdiam cukup lama merenung. Ia mencoba mencari solusi untuk menenangkan dirinya. Tetapi yang terjadi sebaliknya, semakin lama berfikir dan merenung mengenai hubungannya dengan Lela yang ada hatinya semakin terluka. Hatinya menahan perih seorang diri. Hatinya semakin penuh sesak.

Kini separuhnya hatinya membenarkan ucapan Emak, Lela itu buka tipe cewek yang setia. Ada sedikit penyesalan mengapa ia tidak sepenuhnya setuju ucapan  Emak itu. setidaknya kalau saja dia mendengarkan nasihat Emak, mungkin saat ini hatinya lebih siap menerima kejadian yang tadi siang di pasar. Mungkin juga hatinya sudah bersiap dan pelan-pelan berhenti mencintai Lela. pelan-pelan menutup hatinya untuk Lela. Separuh hatinya membatin, ia bersyukur memilki Emak yang mencintai anaknya sepenuh hati. Emak ingin anaknya kelak bahagia dengan wanita yang baik. Emak selalu menasihati anaknya dengan penuh kasih sayang.

Ia kembali merenung dan kini wajahnya mulai agak cerah. Seketika terbersit ide, daripada mikirin Lela yang membuat diri tidak move on. Lebih baik memikirkan tentang bagaimana cara agar masa depan cerah. Ia sepakat dengan satu kata, b-e-k-e-r-j-a. Iya, ia mesti bekerja. tapi ia bingung. Ia mesti memulai darimana? Ia mesti bekerja dimana?

 

Cerita selanjutnya bersambung di Blog Rizka Agustina

Perjalanan Yang Mendewasakan Diri

Cerita mengenai perjalanan selalu menarik untuk dituliskan. Karena disana terdapat mata air jernih yang menambah wawasan dan kedewasaan diri. Perjalanan bukan sekedar mencari kesenangan saja. Bukan juga karena motif untuk mengabadikan berpuluh-puluh bahkan ratusan foto. Bukan juga sekedar menghabiskan waktu dan menghilangkan kebosanan dan kejenuhan.

Alasan-alasan tersebut sah-sah saja untuk menjadi motif seseorang melakukan perjalanan.  Namun bagi saya melakukan perjalanan adalah cara saya menikmati pemandangan alam yang baru dengan segenap hati yang menimbulkan getaran hati sebagai bentuk kekaguman atas kebesaran Allah. Melalui perjalanan saya membangun persepsi baru terhadap kehidupan, budaya, dan bahasa. Dari sana saya mendapat pengalaman yang dapat membuka wawasan dan memperhalus kebaikan budi pekerti serta untuk mendewasakan diri dalam menaruh sikap saling menghargai dalam menghadapi berbagai bentuk keragaman.

Agustus 2016,  saya melakukan perjalanan ke daerah yang baru di timur pulau Jawa tepatnya di Kediri untuk belajar bahasa Inggris. Dari Jakarta saya berangkat seorang diri dengan membawa perlengkapan secukupnya. Satu tekad saya saat itu, saya ingin menuntut ilmu di daerah yang menurut banyak orang sangat kondusif untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Saya menikmati perjalanan dengan menatap jendela pesawat. Dari jendela pesawat saya melihat awan-awan yang bergumpal berbaris dengan megah yang tersinari cahaya keemasan sang mentari. Gumpalan-gumpalan awan itu sekilas menyerupai kapas putih raksasa yang melayang di udara. Saya duduk di tepat di sebelah sayap kanan yang sesekali saya melihat sayap itu bergerak-gerak diterpa angin.

Saat itu hati saya tertegun, perjalanan ini terjadi atas takdir Allah. Saya berikhtiar semampu saya. Kasih sayang Allah begitu terasa saat saya tersadar bahwa manusia adalah salah satu makhluk dari milyaran makhluk ciptaan Allah yang lain. Kepunyaan Allah segala yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya. Pada akhirnya saat ajal sudah tiba, hanyalah iman dan amal sholeh yang menemani kita menuju alam selanjutnya. Jabatan yang kita banggakan, keluarga yang kita cintai, harta yang kita punyai, semua itu akan meninggalkan kita.

Rasulullah saw. bersabda : “Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak yang soleh yang mendoakan orang tuanya.”  (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i)

Hati yang baik melahirkan perilaku yang baik. Hati yang baik memancarkan perkataan yang baik. Hati yang baik menampakkan wajah yang sejuk dipandang. Maka milikilah hati yang baik itu. Selalu berusaha sekuat tenaga menjaga kebeningan hati dengan memperbanyak amal kebaikan. Kebaikan itu selalu menghadirkan ketenangan dan ketentraman hati. Mulailah dengan hal-hal kecil yang kita bisai. Berkata yang baik, menabar salam saat berjumpa, memberikan senyum kepada sesama, menyingkirkan duri di jalan,  menjadi orang yang pemaaf, rendah hati dan kebaikan-kebaikan lainnya. Niat yang baik, ikhtiar dengan cara yang baik, maka hasil yang baik akan kamu raih. Lakukan kebaikan dengan konsisten. Karena Allah mencintai amal kebaikan yang dikerjakan secara konsisten.

Sesungguhnya perjalanan hidup ini untuk mendewasakan iman, menstabilkan emosi, mematangkan pola pikir, dan mengembangkan budi pekerti.  Semakin bertambah usia manusia, semestinya semakin banyak pelajaran dan makna hidup yang mesti diserapnya. Melalui waktu manusia belajar mengolah waktu, menghadapi realita kehidupan, bersabar dengan sabar yang baik, dan menebar kebaikan serta meluaskan manfaat dengan sesamanya.

 

Jakarta, 03 Februari 2016

 

Jejak Kerinduan

rumah-gemilang-indonesia

08 Januari 2017

Hari itu, saya mengunjungi adik saya di Rumah Gemilang Indonesia (RGI) Depok. Adik saya diterima untuk belajar program Apikasi Perkantoran pada Angkatan 16 RGI. Selama mengikuti pendidikan (enam bulan) ia akan tinggal asrama. Tujuan saya datang untuk mengantarkan pakaian dan lauk kering untuk adik saya. Tiba di sana saat hari sudah sore. Hari itu cuaca cukup cerah dan sedikit berawan.

Ini kali pertama saya datang kembali ke RGI selama  tiga tahun terakhir. Saat menginjakkan kaki di tempat ini hati saya menghangat. Ingatan semasa saya tinggal dan belajar di tempat ini seketika memenuhi kepala saya. Saya menyadari saya pernah hidup dan menjadi bagian keluarga besar di rumah ini Angkatan 5 tahun 2011. Enam bulan tinggal di asrama ini membuat kenangan bersama teman-teman dan instruktur program begitu membekas di hati saya. Rumah ini bukan rumah biasa. Saya menempatkan rumah ini menjadi rumah saya sendiri. Rumah tempat saya merajut mimpi-mimpi masa depan, rumah tempat saya mendapat inspirasi untuk semangat dan tekun menulis, rumah tempat saya mengasah kreativitas, dan rumah untuk mengembangkan diri pada bidang komputer. Sesuai namanya Rumah Gemilang Indonesia, rumah ini menjadi pintu para murid-muridnya untuk menjemput masa depan yang gemilang.

Saat berkunjung kali ini saya bertemu dua teman satu angkatan dengan saya yang sudah bekerja menjadi asisten instruktur program dan salah satu tim Manajemen RGI. Ruslan dan Mas Uki.  Bersama mereka saya meluapkan kerinduan melalui cerita mengenang masa-masa saat kami belajar di sini. Kami saling bertanya mengenai aktivitas dan kesibukan saat ini, termasuk target dalam jangka pendek di tahun ini. Kami bercerita lepas sekali yang membuat kami tertawa dan tersenyum lebar.

Saya menyadari betapa pun lamanya saya pergi meninggalkan rumah ini, rumah ini selalu memiliki kenangan sendiri buat saya dan rumah ini  akan selalu menerima kehadiran para alumninya. Rumah ini mengajarkan saya untuk terus memelihara rasa ingin tahu yang lebih tinggi, untuk terus semangat mewujudkan mimpi, untuk terus berupaya dimana pun kamu berada pastikan kamu dapat memberikan kebaikan dengan lingkungan sekitar. “Kalian harus menjadi lilin yang cahaya selalu menyala menerangi orang-orang di sekitarmu,” pesan dari Bapak Sigit Iko Sugondo, Direktur Rumah Gemilang Indonesia. Kini, semangat itu masih terus menyala di hati saya.

“Mas Uki, saya sebenarnya kangen banget mau silaturahmi ke sini dari jauh-jauh hari. Tapi gimana ya saya aja yang belum menyempatkan datang ke sini.”

“Datang aja Mas Imron ke sini. Mas Imron nanti  bisa memberikan motivasi untuk adik-adik di sini. Biar saya yang atur forumnya. Saya akan bilang kepada mereka, ini lho ada kakak kelas kalian yang sudah bekerja dan kuliah dengan biaya sendiri yang akan berbagi cerita dan pengalamannya dari mulai dia belajar di RGI hingga bekerja. Sudah bekerja dan Kuliah dengan biaya sendiri kan suatu kebanggaan.”

Saya tersenyum mendengar tawaran itu dan saya menerima tawaran itu. Ada rasa bangga diberi tawaran ini. Mas Uki adalah teman satu angkatan dengan saya namun berbeda program dengan saya. Saya di program teknik komputer dan jaringan dan Mas Uki di program Fotografi dan Videografi. Saat ini dia menjadi asisten instruktur program fotografi dan videografi di RGI. RGI membuka program beasiswa untuk enam program yaitu teknik komputer dan jaringan,  aplikasi perkantoran, menjahit dan tata busana, design grafis, fotografi dan videografi, dan otomotif. Info selengkapnya bisa di lihat di rumahgemilang.com.

Setelah diskusi dengan Mas Uki, terngiang di telinga saya sebuah kalimat, sudah bekerja dan bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri itu adalah suatu kebanggaan. Saya mencoba memahami kalimat itu pelan-pelan hingga batin saya berkata , “Kamu perlu melihat orang-orang yang hidupnya lebih prihatin darimu, hingga kamu dapat lebih bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan untukmu.” Saya merasa bangga pernah menjadi bagian dari RGI ini. Karena dengan rasa bangga itu motivasi belajar saya selama menuntu ilmu di sini dapat stabil dari awal hingga saya mengikuti proses wisuda.

Selama kamu meninggalkan jejak dan kesan baik dimanapun kamu berada, kamu selalu bisa kembali menyapa tempat-tempat itu dengan hati yang dipenuhi rasa rindu. Satu jejak kebaikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain.

Masa depanmu bergantung apa yang kamu lakukan hari ini. Keberhasilan adalah milik orang-orang yang bersungguh-sunggguh.

Semakin bertambah usia seseorang, seharusnya membuat ia semakin banyak menyerap pelajaran dari kehidupan.

 

 

Jakarta, 18 Januari 2017

Segenggam Asa

new-year

Tahun 2016 sudah berlalu. Namun tahun itu memiliki kesan tersendiri di bagi saya. Terutama mengenai idealisme dan komitmen atas resolusi tahun tersebut. Pada akhirnya saya melihat daya dan kesungguhan saya yang belum optimal merealisasikan seluruh rencana yang sudah saya susun sejak awal tahun tersebut. Tapi saya bersyukur meskipun demikian ada poin-poin pembelajaran yang saya petik dari rangkaian waktu yang sudah berlalu itu. Alangkah bijaknya jika setiap pribadi tidak jatuh dalam lubang kesalahan dan kelalaian yang sama dengan di masa lampau. Menjadi pembelajar sejati dibutuhkan untuk mengasah diri menjadi pribadi lebih dewasa dan mampu berfikir lebih matang.

Komitmen apa yang ingin dicapai tahun ini? Atau resolusi apa yang ingin diraih tahun ini? Pertanyaan itu selalu muncul dan seringa ditanyakan oleh banyak orang terutama saat awal tahun baru. Ada yang beranggapan resolusi itu tidak perlu dibuat. Jalani saja hidup ini seperti air. Biarkan hidup mengalir kemana arus membawanya. Ada yang beranggapan hidup ini butuh resoluso agar apa yang diharapannya menjadi jelas. Dua anggapan diatas sah-sah aja. Setiap orang berhak memilih anggapan apa yang cocok bagi dirinya. Saya sendiri adalah orang yang cenderung menjadikan resolusi sebagai target pencapaian. Karena menurut saya, dengan resolusi yang dibuat saya akan tahu perkembangan apa yang ingin saya capai.  Lebih pentingnya lagi, resolusi ditulis sebagai dasar pijakan arah dimana saya harus melangkah dan strategi apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

Resolusi itu di susun untuk mengarahkan langkah kita kemana harus bergerak. Resolusi itu membuat seseorang lebih dinamis, kreatif, dan memiliki semangat yang tinggi dalam hidup. Resolusi di tulis sebagai bentuk komitmen diri untuk mengembangkan diri, mematangkan pemikiran, mendewasakan diri, dan menghargai waktu dalam kehidupan. Pada resolusi, komitmen seseorang diuji seberapa serius ia menapaki setiap tahapan proses untuk mendapakan goal. Pada resolusi, kesabaran dan keuletan seseorang di tantang apakah ia mempunyai motivasi yang stabil untuk menggerakkan jiwa dan fisik dalam mengejar target. Pada resolusi, rasa percaya diri seseorang di uji apakah ia yakin akan memperjuangkan resolusi itu meskipun hambatan (baik hambatan dari dalam maupun hambatan dari luar) datang menghadang.

Kita tidak pernah tahu impian kita yang mana yang akan menjadi pintu rezeki buat kita. Lima atau sepuluh tahun kemudian tidak menutup kemungkinan passion yang kita tekuni hari ini secara konsisten menjadi pembuka pintu rezeki untuk kita. Tugas kita adalah berusaha yang keras dan berdoa yang tulus. Yakini setiap langkah yang kita niatkan untuk memperbaiki diri, menjemput rezeki yang halal, mengembangkan potensi diri, dan meningkatkan kemampuan intelektual adalah cara kita mensyukuri kehidupan ini. Karena hakikat syukur adalah berterima kasih kepada Allah swt.  melalui cara memanfaatkan segala pemberian dari-Nya dengan aktivitas-aktivitas kebaikan.

Buat target-target kecil untuk mewujudkan target yang besar. Realisasinya bisa bermacam-macam salah satunya, melalui planning (rencana) harian. Buat planning harian yang mendukung target besarmu terwujud. Misalnya, menulis satu novel dalam satu tahun. Maka untuk mencapai itu, mesti di cicil melalui rencana harian (punya agenda harian yang sudah ditulis pada malam hari sebelumnya) besok menulis target berapa lembar dan riset pustaka, buku-buku apa yang di butuhkan. Dan itu dilakukan secara rutin dengan penuh rasa tanggung jawab.

Planning harian itu sangat penting bagi tiap individu. Dari planning harian, kita membiasakan diri untuk berfikir visioner. Dari planning harian juga, kita punya pijakan arah hidup yang jelas dan terperinci. Dan yang paling penting planning harian dibuat agar sifat egois dalam diri kita terkikis pelan-pelan. Kita bisa lebih menahan diri dari hal-hal yang sifatnya semu dan cenderung destructive. Kita tidak mudah ikut-ikutan (tanpa mau tahu esensi sebenarnya) karena alasan gengsi atau takut dianggap kurang pergaulan oleh lingkungan sekitar kita. Kita punya confidence atas keputusan yang kita ambil. Kita punya reason mengapa jalan ini yang kita tempuh. Percayalah, apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai.

Kita hidup hari ini. Kita bukan hidup untuk hari-hari yang sudah berlalu. Maka jalani hari ini dengan sepenuh hati dan setulus jiwa. Kita boleh melihat masa lalu namun hanya sekadarnya saja, secukupnya. Untuk masa lalu yang menitikkan luka di hati dan memberatkan langkahmu hari ini, segeralah berpaling dan fokuskan untuk hiudp hari ini sambil ber-azzam (bertekad) hari ini saya harus lebih baik dari hari yang kemarin. Izinkan hatimu membuka lembaran baru di hari yang baru. Biarkan jiwamu berkarya dengan semangat yang baru. Biarkann fisikmu bergerak dengan harapan yang baru. Berdoalah kepada Allah agar diberikan kemantapan jiwa dan keteguhan hati untuk menyongsong hari yang baru dengan harapan yang baru.

Jakarta, 08 Januari 2017

 

Untukmu Sahabatku

 

Rentetan waktu yang kita lalui

Membuat pelangi harapan membenak

Ukiran senyumanmu bertabur kasih

Menyentuh hati yang kian teduh

 

Pada bola matamu yang memancar asa

Pandang arah luas membentang

Langit-langit jiwa yang terekat oleh kebersamaan

Menyatukan simpul-simpul  langkah

 

Kita sama-sama bertahan, sama-sama berjuang

Sama-sama memeluk mimpi-mimpi kehidupan

Hingga merekah menjadi bunga kenyataan

 

Kita punya segenggam harap

Yang tidak pernah luntur oleh waktu

Kita sama-sama merindukan saat bersua

Dalam kehangatan dan keceriaan

 

 

Jakarta, 07 Januari 2016

Surat Cinta untuk Ibu

surat-cinta

Assalamua’alaikum Warahmatulallah Wabarakatuh.

Semoga ibu dalam keadaan sehat selalu. Melalui surat ini saya menitipkan rindu yang sangat pada ibu. Sudah hampir enam bulan saya berada di ibukota terpisah jarak dengan ibu. Hal itu membuat rasa rinduku semakin memuncak. Ibu adalah wanita pertama yang aku cintai. Wanita yang memiliki bola mata yang selalu meneduhkan hatiku.

Ibuku tercinta,

Kadang suatu waktu hatiku bertanya, mengapa ibu merelakan aku masuk pesantren sejak sekolah menengah atas? Lalu kini ibu memintaku untuk melanjutkan kuliah di ibukota. Apakah ibu tidak sedih melihat aku berada jauh? Apakah ibu tidak merasa kehilangan?

Namun pertanyaan itu sudah saya  temukan jawabannya sekarang. Ibu selalu menaruh rasa percaya pada anaknya. Itu adalah suatu kebanggaan bagiku. Saat aku berpamitan menuju ibukota untuk memuliai kuliah, ibu berpesan, Nak, kamu mesti belajar dengan penuh tanggun jawab. Kamu isi harimu dengan membaca buku-buku di perpustakaan. Kamu mesti menghormati dosen-dosenmu. Karena mereka telah menyalakan jiwamu dengan ilmu dan budi pekerti yang baik. Kamu juga harus menjaga hubungan baik kepada teman-temanmu. Teman-temanmu adalah penyemangat dirimu untuk berkompetisi. Kamu bisa berbagi cerita dan pengalaman dengan mereka. Hargai mereka, berbuat baiklah dengan mereka, dan bertutur yang baik kepada mereka. Bila kamu ingin menjadi pembicara yang baik, maka jadilah pendengar yang baik. Bila kamu ingin menjadi penulis, maka tiga kuncinya, menulis, menulis, dan menulis.

Aku menuruti seluruh pesan ibu itu.  Awalnya aku tidak mengerti apa-apa dari pesan ibu tersebut. Aku hanya menjadikan pesan ibu itu sebagai perintah yang mesti aku turuti. Belakangan aku mengerti, cara saya menghargai dosen-dosen, teman-teman dan berbuat baik dengan mereka membuat mereka mengakui keberadaan aku dan mereka membalasnya dengan berbuat baik kepadaku.  Ada atau tidaknya pangkat jabatan yang kamu miliki, orang-orang di sekitar kamu akan menaruh rasa hormat pada dirimu karena kebaikan hati yang telah kamu sebar itu menginspirasi mereka untuk ikut berbuat baik.  Apa yang kamu tanam itulah yang kamu petik. Ungkapan itu benar sekali adanya dan saya merasakannya sekarang.

Ibuku tercinta,

Aku tahu ibu sedih setiap melepas kepergianku untuk belajar di tempat yang jauh. Ibu selalu terlihat tegar di hadapanku. Ibu selalu mengatakan, ibu baik-baik saja. Tapi Bu, di balik ketegaran hatimu, membuat aku banyak belajar mengenai kehidupan ini. Membuatku mengerti akan rasa rindu terhadap orang-orang yang aku cintai dan juga mencintai aku. Membuat cintaku kepadamu selalu bertambah dari hari ke hari.  Membuatku lebih empati kepada mereka yang sama dalam posisiku, sama-sama hidup berjauhan dengan orang tua. Membuatku belajar hidup prihatin, hidup hemat dan terus bersyukur. Membuatku tidak perlu berlama-lama melihat orang yang memiliki kemegahan harta. Karena ku tahu hal itu akan membuat rasa syukurku semakin terkikis.

Aku selalu mempercayai apa yang ibu katakan. Aku yang selalu melaksanakan setiap amanah yang ibu berikan. Aku yang selalu mendengar nasihat ibu. Ibu,  setiap ibu menatap aku, aku selalu menemukan mata air cinta yang tidak ada habisnya. Tatapan mata ibu selalu memancarkan ketenangan dan harapan yang tulus kepadaku. Ibu adalah orang yang memiliki tutur kata yang lembut. Ibu, Aku belajar etika bertutur kata darimu. Ibu selalu memberi tanggapan saat aku telah selesai berbicara  bukan untuk merasa paling benar, tapi ibu ingin anaknya belajar menjadi pendengar yang baik dan menghargai orang yang sedang berbicara. Aku selalu menuruti nasihatmu karena aku percaya nasihat itu baik untuk hidupku saat ini dan untuk hidupku di masa yang akan datang.

Ibuku tercinta,

Setiap kali kiriman paket dari ibu tiba di kosanku berupa lauk kering seperti -kentang balado yang di iris kecil-kecil dan tempe orek– di atasnya ada satu lembar surat yang ibu tulis untukku, seketika mataku menghangat dan rindu ingin bertemu ibu semakin bertambah, tidak lama dari itu butiran bening dari mataku mengalir. Kalau sudah begini, aku jadi ingin segera pulang. Aku ingin berada di dekatnya meluapkan kerinduan melalui ruang pertemuan.  Aku biarkan diriku menangis, seperlunya. Selebihnya aku menjalani hari dengan lebih fokus dengan hati yang lapang.

Ibuku tercinta,

Suatu waktu aku merenung apa yang pernah ibu katakan, kadang pada saat tertentu kebahagian itu tidak terukur dari banyaknya harta dan tingginya jabatan. Karena ada yang lebih berharga dari itu yaitu cinta orang-orang yang mencintaimu. Cinta itu akan selalu menguatkanmu. Cinta itu akan membuat jiwamu kokoh. Cinta itu membuat hidupmu semakin utuh. Aku merasakannya sekarang. Semakin bertambahnya usia, maka semakin bertambah pelajaran hidup. Dan salah satu pelajaran itu adalah aku mengerti cinta ibu juga telah menyalakan cintaku kepadamu.

Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku sewaktu aku masih kecil.

 

Jakarta, 30 Desember 2016