Membangun Komitmen Diri

Dua bulan yang lalu usia saya beranjak dua puluh lima tahun. Saya tidak mengadakan perayaan akan hari yang menurut sebagian orang adalah hari yang spesial. Hari itu saya hanya berdoa penuh syukur kepada Allah atas nikmat usia yang telah di amanahkan kepada saya. Saya masih diberi amanah untuk menapaki kehidupan yang berarti amanah itu harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab. Saya juga memohon doa kepada-Nya agar diberikan kekuatan dan keteguhan iman untuk meniti jalan yang di ridhoi-Nya.

Beberapa kawan saya memberi ucapan selamat ulang tahun dan mendoakan hal yang baik-baik kepada saya. Saya berterima kasih dan meng-aaminkan setiap doa yang disampaikan itu. Ada juga yang memberikan kado sebagai hadiah ulang tahun. Diantara mereka ada juga kawan saya yang mendoakan, semoga dipertemukan dengan pendamping hidup yang solehah. Mendengar kalimat itu, saya tersenyum penuh harapan. Setiap doa adalah kebaikan. Kebaikan kepada orang yang berdoa dan kebaikan kepada orang yang di doakan.

Saya merenung mengingat kembali rekaman perjalanan yang sudah saya lalui hingga beranjak di usia ini. Melihat sisi kedewasaan yang mulai tumbuh. Kedewasaan yang diraih melalui proses panjang hingga menyatu menjadi kepribadian. Hingga sampai pada titik saya bertanya ke dalam diri saya sendiri, apa yang membuat saya bahagia? Bagaimana saya memperjuangkan kebahagiaan itu? Sejauh mana saya berusaha mewujudkan kebahagiaan itu selama ini? Apakah waktu yang sekian lama dilalui membuat saya terlena dalam kebahagiaan dari sudut pandang materi kebendaan semata? Bukankah sifat dunia adalah kefanaan, kesemuan, dan kesementaraan?

25 Mei 2017, saya menghadiri seminar Tarhib Ramadhan di Aula Gema Insani Kalibata, Jakarta Selatan. Seminar ini di selenggarakan oleh Institute for The Study of Islamic Thought and Civilizations . Ada dua pembicara dalam seminar ini, yaitu Ust. Fahmi Salim, M.A. dan Ust. Dr. Syamsuddin Arif. Bebarapa isi materi saya rangkum menjadi catatan saya dan say tuliskan kembali dengan niat setiap nasihat kebaikan menjadi pendorong untuk giat meningkatkan amal soleh. Karena pada akhirnya yang akan dibawa oleh manusia setelah ia meninggal dunia adalah iman dan amal soleh.

Ust. Fahmi Salim M.A. menyampaikan, “Dalam tafsir Al-Manar karya Syeikh Rasyid Ridha dikutip dari gurunya, Syeikh Muhammad Abduh : “Di pilihnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan adalah sebagai bentuk syukur atas turunya Al-Qur’an. Hal ini adalah bagian dari intisari surat Al-Baqarah ayat 185. Penjelasan Syeikh Muhammad Abduh yang termuat dalam tafsir Al-Manar mengenai perintah berpuasa adalah bentuk rasa syukur atas turunnya Al-Qur’an sangat logis. Karena maqashid (tujuan) dari perintah berpuasa sangat erat dengan maqashid  (tujuan) diturunkannya Al-Qur’an yaitu pertama, meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Ketakwaan sebagai sebuah sistem hanya bisa dijelaskan  dalam  Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertakwa. “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 2). Kedua, memperbaharui komitmen terhadap Al-Qur’an. Pancaran kesucian jiwa merupakan hasil dari  ibadah puasa dan komitmen diri terhadap  nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Hanya orang-orang yang lahir dari proses penyucian diri dengan berpuasa akan menjadi pribadi yang berhasil, pribadi yang mampu mengemban risalah Al-Qur’an.”

“Kesimpulan dari bagian ini adalah puasa adalah sarana untuk meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah dan Al-Qur’an adalah obat segala penyakit. Apa tanda jiwa yang sehat? Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bahagia. Puasa membahagiakan jiwa. Dengan berpuasa Allah menjadikan fisik kita lemah, syahwat kita di ikat, tenggorokan kita dibuat haus. Saat berpuasa, fisik kita  memang tidak diberi makan namun hakikatnya jiwa yang diberi makan. Semua proses itu dilalui dalam rangka membahagiakan jiwa dan membersihkan hati. Orang-orang yang berpuasa jiwanya akan sehat dari  penyakit-penyakit hati. Allah berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 82 : “Dan Kami turunkan Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”

Ust. Dr. Syamsuddin Arif menyampaikan materi mengenai kesolehan pribadi. Beliau menyampaikan, “Kesolehan pribadi adalah tanggung jawab setiap individu. Kamu sendiri yang harus melalui satu anak tangga ke anak tangga yang lainnya, dari satu kebaikan menuju kebaikan lainnya. Kamu sendiri yang harus bergerak mengusahakan, menyempurnakan satu level kebaikan menuju level selanjutnya dimana setiap level memiliki tantangan dan hambatan. Orang lain hanya bisa menasihati, menunjuki jalan yang benar, memberikan teladan yang baik, memotivasi untuk untuk meningkatkan amal soleh, namun kamu sendiri yang harus membujuk diri, menggerakkan diri penuh kesadaran,  keikhlasan, dan kesabaran untuk menyempurnakan setiap kebaikan.

“Sabar itu seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Ya’kub ‘Alaihis salam dalam menanti perjumpaan dengan  anaknya , Nabi Yusuf ‘Alaihis salam setelah sekian tahun berpisah. Kita dengam mudah membacanya dalam Al-Qur’an surat Yusuf –dalam surat tersebut kisah Yusuf dikisahkan dengan sangat lengkap dari awal hingga akhir surat. Tapi kita tidak merasakan bagaimana perasaan Nabi Ya’kub melewati kesedihan di hari-hari yang dilaluinya karena kehilangan anak yang sangat dicintainya. ”

Untaian nasihat dari beliau membuat saya sadar bahwa saya yang bertanggung jawab pada diri sendiri. Saya sendiri yang harus berdisiplin dalam beragama. Karena agama adalah ranah keyakinan yang ada di dalam hati, bukan ranah pemikiran. Keyakinan yang terpatri kokoh dalam hati memancarkan ketenangan hati dan keteduhan akhlak. Tanpa adanya kesadaran yang ikhlas dari hati dan semangat memperbaiki diri, perubahan diri akan sulit terwujud. Karena kesolehan pribadi bersumber dari keyakinan yang mendasar pada nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang kemudian keyakinan itu terwujud melalui amal soleh dan akhlak yang baik sebagai tanggung jawab dan ketaatan sebagai seorang muslim.

Menghadiri majelis ilmu seperti ini membuat saya mempunyai persepsi yang baru mengenai kesolehan dan penyucian diri. Saya menjadikan majelis ilmu menjadi sarana untuk menambah ilmu dan pemahaman, menjadi bahan untuk mengevaluasi diri –melihat lebih jernih apa-apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, menjadi nutrisi yang menambah keimanan. karena sejatinya, tubuh manusia harus diberi asupan yang seimbang, yaitu asupan fisik dan asupan ruhani. Keduanya adalah kebutuhan setiap manusia yang harus dipenuhi agar hidupnya seimbang dan bermakna. Dan hikmah terpenting dari menghadiri majelis ilmu adalah memperbaharui semangat untuk menata diri lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 18 Juli 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: