Menemukan Makna dari Rangkaian Waktu

Hampir tiga tahun saya belajar di kampus tercinta, Universitas Indraprasta PGRI. Artinya sudah separuh lebih perjalanan menuju gerbang akhir program sarjana. Dalam hati saya berharap satu tahun lagi program ini dapat di selesaikan. Perjalanan menuntut ilmu di kampus ini menjadi bagian dalam hidup saya yang tak terpisahkan. Saya tumbuh dan berkembang selama proses belajar di kampus ini. banyak sisi yang membuat diri saya berkembang. Tidak hanya dalam sisi akademik saja, namun juga dari sisi pengalaman mengenyam perkuliahan di kelas reguler sore yang menguras energi dan emosi. Karena saya kuliah selepas saya bekerja seharian dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Pengalaman tidak dapat di bayar oleh materi. Karena ia melibatkan diri untuk mengikuti proses tahap demi tahap, ia menangkap suasana demi suasana dan mental kita memberikan tanggapan. Pembelajaran penting buat saya adalah rasa lelah bukan alasan untuk berhenti belajar. Kesibukan juga bukan alasan untuk berhenti belajar. Karena sebenarnya belajar itu adalah proses yang tidak mengenal usia. Setiap orang memiliki hak untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya tanpa dibatasi oleh usia. Ruang belajar selalu tersedia di manapun baik di lingkungan pendididikan formal dan non formal.

Berawal dari motivasi ingin meng-upgrade diri itu, saya memutuskan melanjutkan kuliah pada tahun 2014 di kampus ini. Tujuan utama saya adalah menuntut ilmu dan membangun jaringan dengan teman-teman kampus yang baru di kenal. Rasa bangga menjadi bagian dari kampus ini adalah salah satunya. rasa bangga mengemban status mahsiswa. Saya bangga menjadi bagian dalam kampus ini karena di sini saya dapat merasakan jenjang pendidikan formal di atas bangku SMA. Kebanggaan itu secara tidak langsung membangun konstruksi berfikir, saya harus berubah. Maksudnya, saya harus lebih baik dari sisi pola pikir dan perilaku dari anak-anak yang hanya menyelesaikan pendidikan formal sebatas SMA. Namun di sisi lain, saya juga memahami kuliah bukan sekedar soal status sosial melainkan lebih kepada komitmen diri dan tanggung jawab moral untuk menuntaskan kontrak belajar yang di emban sebagai mahasiswa yang pada akhirnya pendidikan yang sudah di dapatkan dapat mengubah perilaku dan pola pikir menjadi insan yang paripurna dan memiliki kepedulian bagi sesamanya.

Masih teringat hari-hari pertama kuliah, saya berusaha mengelola waktu saya dari kebiasaan yang sebelumnya pulang kerja langsung pulang ke rumah. Sekarang setelah mulai aktif kuliah, saya menyesuaikan dan membagi waktu saya untuk belajar di kampus. Minggu-minggu pertama perkuliahan menjadi pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Ternyata tidak mudah membangun kebiasaan baru. Betapa beratnya membangun kebiasaan baru yang menuntut usaha yang lebih banyak yang menuntu stamina tubuh yang fit. Terburu-buru datang ke kampus karena takut datang telah apalagi di hari pertama perkuliahan. Keringat yang mengalir deras karena kondisi ruang kelas yang kurang kipas angin. Perut yang memberi isyarat untuk segera di isi namun jadi tertunda. Belum lagi kondisi tubuh yang sudah sangat lelah di paksa untuk fokus dengan aktivitas pembelajaran di kelas. Gugup dan grogi berkenalan dengan teman-teman baru dalam satu kelas. deg-degan dan keringat dingin, suara terbata-bata dan kaki gemetar saat mendapat tugas presentasi di depan kelas. bahkan pernah di semester awal pada saat saya mendapat tugas presentasi mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan pada sesi tanya jawab, saya mendapat giliran menjawab. Nyatanya saya terdiam cukup lama, ada yang ingin saya kemukakan ide dalam pikiran saya, namun tak bisa saya ungkapkan dengan lisan. Ini mungkin pengaruh demam panggung alias nervous. Akhirnya saya dibantu teman satu kelompok untuk menjawab pertanyaan itu. itu menjadi pengalaman yang saat di ingat-ingat kembali saya jadi malu dan menertawakan diri sendiri. Tapi, sudahlah itu kan namanya proses.

Mengikuti kuliah sore selepas pulang kerja bukanlah hal yang ringan. Hambatan dan tantangan selalu ada. Meskipun dengan hambatan dan tantangan itu bukan berarti menjadi alasan saya untuk menyerah. betul, saya mengeluh lelah. secara alami kondisi tubuh saya mengekspresikan itu. Saya juga menganggap wajar mengeluh karena saya merasa ini adalah perjalanan awal dan secara fisik tubuh saya memberi respon itu untuk dalam proses menyesuaikan diri dengan aktivitas baru  yang rutin saya lakukan. Namun itu hanya kelelahan secara fisik. Yang terpenting buat saya saat itu adalah menjaga motivasi belajar agar terus stabil sampai empat tahun ke depan. Karena motivasi diri itu menurut saya sangat penting dan mendasar. Karena motivasi itu bisa diibaratkan bahan bakar yang akan membuat mesin mobil itu berjalan. Saya berusaha motivasi saya untuk menuntut ilmu agar tetap menyala dan tidak luntur oleh rasa lelah atau pun hambatan-hambatan lain. Motivasi diri itulah yang menggerakkan saya untuk terus berpacu, terus semangat, dan memberikan [emahaman baru bahwa untuk maju dan berkembang perlu pengorbanan, ada risiko dann konsekuensinya.

Perlahan saya menemukan makna keluarga di kampus ini. Saya ingat hari saya mendaftar di kampus ini dan hati saya berkata, saya ingin mengembangkan diri saya dan saya ingin merubah diri semakin lebih baik. faktanya, kampus ini memfasilitasi banyak hal dan saya merasa potensi dan pengetahuan, nilai-nilai kepribadian saya berkembang. Saya belajar bersama teman-teman di sini, saya berinteraksi dengan mereka, di beberapa kesempatan saya bertanya dengan dosen-dosennya, di sisi lain saya berinteraksi dengan pegawai perpustakaan di saat berkunjung ke perpustakaan, dan saya juga ikut pelatihan organisasi dan kepemimpinan yang diadakan oleh ormawa. Interaksi-interaksi yang rutin itu dengan secara otomatis menumbuhkan rasa akrab dan kedekatan. Kedekatan itulah yang membuat saya belajar menghargai orang lain, peduli dengan sesama, dan memiliki komitmen untuk menjalin hubungan pertemanan berasaskan prinsip tolong menolong dalam kebaikan dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Setiap kita tumbuh dan berkembang karena hasil pengaruh yang ada di sekitar kita. lingkungan memiliki pengaruh terhadap kepribadian tiap-tiap individu. Pun demikian, saya juga mengalami hal itu. Setiap aktivitas yang dilakukan bersama-sama memilki warna yang beragam dan ide-ide kreatif akan lebih berkembang di komunitas yang heterogen. Teman-teman satu kelas adalah komunitas belajar yang memiliki komitmen belajar yang sama. Kadang saya tiba pada titik jenuh, semangat belajar menurun, dan rasa malas menggeregoti motivasi belajar saya. Namun karena saya berada di dalam komunitas, hal seperti itu akan bias dengan sendirinya. Karena tadi,  komunitas itu dapat membangkitkan semangat belajar. Karena komunitas ruang gerak tiap anggotanya menjadi sama. semua anggota berusaha menyesuaikan langkah, menyesuaikan visi, menyesuaikan persepsi untuk bersama saling menyemangati untuk tujuan yang sama yaitu sukses studi.

Apalagi di saat saya dan teman-teman duduk bersamadalam satu forum entah itu forum yang bersifat formal di kelas maupun forum tidak formal di luar kampus. Saya mengamati, saya mendengarkan opini teman tentang perkuliahan dan respon mereka melawan rasa malas, rasa jenuh, lelah, dan semangat menurun. Sebagian mereka mengungkapkan opini dengan bercerita. Seringkali kami menghibur diri dengan berbagi pengalaman yang lucu atau mengarang cerita lucu yang membuat kami tertawa lepas. Momen seperti ini membuat hubungan pertemanan di antara kami semakin erat. Sebagian lagi dari mereka lebih memilih menjalani aktivitas kuliah dengan konsisten. Mereka memberikan teladan bahwa proses perkuliahan ini cukup di jalani dengan sungguh-sungguh. Ruang untuk mengeluh, mengaduh, dan letupan emosi negatif yang lain mereka simpan dalam sudut ruang yang disebut ruang privasi.

Saya belajar menarik kesimpulan dari proses perkuliahan yang sudah dan sedang saya jalani saat ini. Saya belajar menarik hikmah perjalanan yang sudah terlewat.  Pada titik tertentu, saya mengajukan pertanyaan kepada diri saya sendiri, sebenarnya apa tujuan saya kuliah? Sudahkah tujuan itu sudah tercapai atau paling tidak sudah mendekati? Atau sebaliknya semakin jauh dari tujuan awal saya memutuskan untuk kuliah? lalu apakah sejauh ini saya sudah memberikan effort yang maksimal agar tujuan itu terwujud sesuai harapan? Apakah waktu saya di kampus ini sudah saya kompensasikan dengan menyerap informasi baru, pemahaman baru, pengetahuan baru? Apakah selama saya berada di kampus ini saya sudah kompensisasikan waktu saya untu berfikir (think) lebih banyak, membaca (read) buku lebih banyak, mempelajari  (learn) ilmu pengeahuan lebih banyak?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar ini datang sebagai refleksi diri mengukur dari perjalanan yang sudah di jalani sejauh ini benar-benar mencerminkan kondisi diri saat ini. pertanyaan mengenai sejauh mana saya menghargai waktu, memanfaatkan waktu untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Karena waktu itu terbatas. Usia juga terbatas. Namun karena waktu terbatas bukan justru menjadi excuse cepat merasa puas dengan pencapaian yang sudah di raih saat ini lalu berhenti belajar dan berhenti meng-upgrade diri. Menuliskan cerita ini adalah bagian dari cara saya bercermin dan mengevaluasi diri. Karena sejatinya evaluasi adalah menjadi bagian dalam hidup yang tak terpisahkan selama kita ingin melangkah lebih baik lagi, lagi, dan lagi.

 

Jakarta, 20 Mei 2017

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: