Perjalanan, Jejak, dan Pengalaman

Pengalaman berharga dari sebuah perjalanan bernama proses kehidupan yang menyisakan jejak. Jejak itu bernama kedewasaan, mental yang penuh percaya diri, persepsi, dan pola pikir. Kehidupan yang terus berkembang menuntut setiap individu harus siap meresponnya. Respon itu terbentuk dari nilai-nilai yang ada dalam jiwa seseorang. Nilai-nilai itu menyatu dalam jiwa dan memancar dalam perilaku nyata. Keyakinan yang kokoh terhadap nilai-nilai yang sudah ditanam sejak dini dan berlangsung dalam kurun waktu yang lama membentuk kepribadian seseorang saat ini.

Ekspektasi untuk memiliki pribadi yang dewasa menjadi impian setiap orang. Dewasa secara mental dan pola pikir tentunya. Bukan  sebatas dewasa secara usia. Orang-orang yang mau dewasa dalam sikap, perilaku, dan pola pikir adalah orang-orang yang mau mengikuti rangkaian proses kehidupan yang menuntut kesabaran, ketekunan, jiwa yang memiliki prinsip yang kuat, diri yang ingin selalu memelihara semangat belajar, memperbaiki diri dari apa yang sudah terlewati, memetik hikmah dari peristiwa yang sudah terjadi, berdialog pada diri melalui suara hati yang jernih, mengevaluasi diri dari rencana dan target yang ingin dicapai, kemauan mendengar lebih banyak dari orang-orang yang memberi nasihat, dan memberikan effort lebih untuk mewujudkan harapan. Dalam hal ini yang terpenting adalah menikmati proses kehidupan dengan visi dan rencana yang jelas. Tanpa visi kehidupan menjadi tak terarah. Tanpa rencana yang jelas, kehidupan menjadi perjalanan yang tak memiliki tujuan.

Kita akan menjadi pribadi yang egois jika kita tak mau mengevaluasi diri kita atas apa yang sudah kita kerjakan. Bertanya pada diri sendiri (introspeksi diri ) menjadi penting dalam meniti kehidupan. Agar kita menjadi tahu diri bahwa setiap penglihatan adalah amanah, setiap pendengaran adalah amanah, setiap nikmat kehidupan adalah amanah. Kita diberi hidup karena kita siap menerima paket kehidupan. Paket kehidupan itu beragam namun subtansi satu, kehidupan selalu menjanjikan ujian atau cobaan. Paket satunya lagi, setiap cobaan selalu memiliki solusi atau pemecahan masalah (problem solving). Masalah yang datang dan menghampiri silih berganti itu secara sadar atau tidak sadar melatih kita untuk bersikap dan menentukan tindakan apa yang tepat untuk merespon atas masalah itu.  Masalah itu hakikatnya adalah sarana mengasah budi pekerti kita untuk semakin baik dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, peran pendidikan menjadi penting untuk mempersiapkan strategi merespon setiap ujian kehidupan.

Hakikat pendidikan adalah perubahan pola pikir dan perilaku. Pendidikan menuntun kita untuk memiliki sudut pandang yang jernih dalam menentukan sikap. Pendidikan yang berhasil sejatinya membentuk individu menjadi insan yang bertakwa kepada Allah swt. Karena dengan pemahaman ini dunia adalah sarana untuk mengumpulkan kebaikan untuk kembali ke negeri akhirat. Dunia adalah persinggahan sementara dan tujuan akhir adalah negeri akhirat. Ilmu yang di peroleh dari proses pendidikan membuat hati semakin lembut, diri yang semakin rendah hati, akhlak baik yang semakin terpancar, tutur kata yang semakin halus, dan wawasan yang semakin luas. Ia melihat dirinya sebagai makhluk Allah yang memiliki potensi yang ia sadar bahwa potensi itu harus terus di asah dan dikembangkan. Ia juga melihat dirinya sebagai makhluk sosial yang ia memahami dengan berinteraksi dengan sesama membuat hidup ini semakin utuh. Keberadaannya di lingkungan sosial selalu memberikan pengaruh kebaikan dan ia berusaha memberi kontribusi yang bermanfaat untuk sekitarnya.

Merugilah orang-orang yang tak bijak menggunakan dan mengelola waktu untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Merugilah orang-orang yang menikmati hidup dengan menuruti ego dan mengikuti selera lalu melupakan waktu yang diberikan kepadanya memilki batas. Merugilah orang-orang yang tak peka mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi di masa lampau dan selalu terjerumus pada lubang kesalahan yang sama. Merugilah orang-orang yang hadir di suatu majelis ilmu namun kehadiran tak memberikan bekas dan makna sedikit pun pada dirinya, lantaran ia hadir namun tak memiliki niat untuk belajar memahami ilmu yang disampaikan. Merugilah orang-orang yang sibuk mengomentari dan menilai orang lain, tapi tak pernah menyempatkan diri menilai dan mengevaluasi dirinya sendiri.

Selama kita mau membuka diri meminta nasihat dari orang tua kita, guru-guru kita, dan sahabat-sahabat kit, maka hal itu membuat diri kita telah membuka untuk menerima motivasi, informasi, dan edukasi. Suara hati untuk berbenah diri menjadi motivasi untuk memperbaiki diri. Kadang kita lebih suka menasihati orang lain, namun lalai menasihati diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk menilai urusan orang lain, namun abai menilai dan mengavaluasi urusan diri sendiri. Kita sering kali menuntut orang lain melakukan kebaikan, tapi kita tak kunjung memberikan teladan yang baik kepada mereka.

Tak ada kata terlambat untuk berubah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat baik. Jadikan hidup bertambah umur, bertambah kebaikan.  Tak akan terjadi perubahan diri tanpa diberangi kesungguhan tekad dan usaha yang konsisten. Segera tinggalkan kebiasaan buruk di masa lalu. Bergegas menjemput hari-hari dengan amal kebaikan. Perubahan diri akan hanya menjadi angan-angan tanpa adanya komitmen dan usaha untuk mewujudkannya. Pada akhirnya, waktu membuktikan apakah perubahan yang kamu niatkan sejak awal menjadi kenyataan sesuai dengan harapan  atau keinginan berubah hanya sekedar wacana yang tak pernah usai.

Jakarta, 19 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: