Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

chisvvaugam94oi

Hari berganti hari. Setiap manusia memiliki modal yang sama dalam mengarungi kehidupan yaitu waktu. Waktu yang diberikan oleh Allah swt. adalah amanah agar setiap kita mampu menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya dengan aktivitas kebaikan dan amal soleh. Waktu terus berjalan dan tak akan pernah terulang kembali. Begitulah sifat waktu. Bagi mereka yang mengisi waktu dengan kebaikan dan amal soleh, maka baginya adalah keberuntungan yang besar. Bagi mereka yang lalai, tak mau sadar diri, tak mau memahami makna dan tujuan dari kehidupan itu sendiri, maka kerugian kelak di dapatkannya.

Setiap manusia terlahir dalam keadaan yang sama yaitu berawal dari seorang bayi lalu anak kecil, remaja, lalu dewasa hingga menjadi orang tua. Kita pada awalnya tidak mengerti apa-apa. Kita membangun dan mengembangkan potensi diri dari dasar. Sama-sama merasakan ujian kehidupan terutama di saat kita beranjak remaja, dewasa, dan kelak menjadi orang tua. Karena hakikatnya semakin bertambah usia seseorang, maka semakin besar tanggung jawab yang ada di pundaknya. Selama proses ujian kehidupan berlangsung ini, setiap orang memiliki pilihan hidup yang ditempuh olehnya. Ada yang tetap tegar dan cepat bangkit di saat cobaan hidup menerpanya. Baginya manusia yang baik adalah manusia yang mau bangkit dari segala macam keterpurukan yang menimpanya. Saat dia jatuh, di memilih untuk bangkit. Saat dia jatuh lagi, dia bangkit lagi. Begitu seterusnya. Ada juga yang memilih untuk pasrah, patah semangat, berlarut-larut dalam kesedihan yang tak berkesudahan, putus harapan, dan memelihara rasa kecewa yang pada akhirnya dia akan merasakan dampak dari sikap yang telah ia pilih. Karena sejatinya, kebaikan atau keburukan yang kita tanam, hasilnya kelak diri kita sendiri yang merasakan.

Kesempatan untuk menjemput masa depan yang cerah akan terus terbuka selama diri kita mau berjuang membela dan memperjuangkan cita-cita. Kesempatan itu datang dengan satu paket yang di dalamnya terdapat tantangan, kompetisi, pengorbanan, kesungguhan tekad, dan kerja keras. Kadang kita merasa lelah, kadang kita bersemangat, kadang kala kita bosan, kadang kala kita jenuh. Namun begitulah roda kehidupan. Semua berputar dan kita akan merasakan pada titik tertentu sebagai manusia, kita akan berhadapan dengan titik kejenuhan dan titik kelelahan. Pada saat kondisi seperti itulah, motivasi diri kita di uji. Seberapa tulus kita melewati tahapan proses untuk memperjuangkan cita-cita kita. Seberapa besar kesungguhan kita untuk terus bergerak dan berupaya mewujudkan impian yang menjadi harapan kita. Apakah kita memilih terbuai dalam titik kejenuhan dan titik kelelahan itu sehingga kita lalai, putus asa, dan melupakan tujuan dari akhir perjalanan yang kita pilih? Apakah kita memiliki cadangan kesabaran yang cukup untuk memilih berhenti sejenak beristirahat sambil mengumpulkan energi-energi baru yang ada di sekitar kita dan setelah di rasa cukup, kita melanjutkan perjalanan pelan-pelan namun konsisten untuk mencapai tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal perjalanan kita?

Masalah kehidupan yang kita hadapi saat ini kadang kala merupakan bagian masalah yang pernah kita alami di masa lampau namun masalah itu belum tuntas  kita selesaikan. Atau bisa juga masalah yang datang itu merupakan masalah yang baru dan berbeda namun intinya (poin pembelajarannya) sama dengan apa yang pernah kita alami di masa lalu. Karenanya, bertanya dan meminta nasihat dari orang-orang yang lebih tua usianya dan memiliki prinsip hidup yang terarah adalah sebuah keharusan. Masalah yang pernah kita hadapi saat ini di usia muda, mereka pun pernah menghadapi dan mereka berhasil melewatinya. Ungkapan, orang yang lebih tua dari kita sudah ‘memakan asam garam’ kehidupan. Artinya orang tua yang lebih tua usianya dari kita, ia lebih berpengalaman melewati getir, pahit, dan manis dari kehidupan. Maka dari itu, kita harus menghormati mereka dan mereka menjadi tempat yang tepat untuk kita bertanya, berdiskusi, dan meminta nasihat.

Kita bertanya untuk mendapatkan pilihan-piliihan jalan mana yang terbaik dari sekian banyak pilihan-pilihan yang ada. Kita bertanya untuk menemukan pencerahan dan menyalakan api optimis hidup dalam diri kita. Kita meminta nasihat untuk mendapat arahan yang jelas termasuk konsekuensi yang harus kita tempuh pada saat kita memutuskan untuk memilih jalan yang akan kita tempuh.

Perjalanan hidup yang sudah kita lalui hingga hari ini menjadi proses pendewasaan dan mental diri kita. cara berfikir kita berkembang semakin luas wawasannya, emosi kita lebih mudah kita kendalikan, cara bertutur kata kita perhatikan agar tidak menyakiti orang lain, sikap toleransi kita tumbuh dalam menghadapi orang-orang yang berbeda pandangan dari kita, dan kita semakin menghormati dari kemajemukan yang ada.

Dari jejak-jejak yang sudah kita lalui, kita mulai merasakan bagaimana kesabaran kita ditempa, bagaimana mensiasati suatu keterpurukan, bagaimana melewati masa-masa sulit di tengah himpitan kehidupan dari berbagai arah, bagaimana kita mencari dan menemukan pelita hati untuk kembali bersemangat dari orang-orang yang tulus mencintai kita, bagaimana cinta orang-orang yang menyayangi dan peduli pada kita sehingga energi positif tersebar dalam diri kita. Semua pengalaman hidup itu menjadikan iman terus bertumbuh dan semakin menyala. Semua pengalaman hidup itu menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama kita akhirnya tahu sahabat dan orang yang mencintai kita dengan sangat tulus selalu mengingingkan kita berhasil, mengingingkan kita bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Persahabatan itu akan tetap ada dan akan terus terpelihara dalam balutan senyum yang mengembang, ungkapan sapa yang menghangatkan, dialog yang mengundang tawa, serta nama-nama yang terangkai dalam doa-doa yang panjang. Pada akhirnya, pengalaman hidup yang telah kita lalui menjadi cerita tersendiri yang tersimpan rapi dalam hati dan ingatan kita. Kelak kita bisa membagikan cerita-cerita itu kepada anak dan cucu kita sebagai motivasi dan inspirasi.

Pada saat-saat tertentu, kita perlu melakukan perjalanan melihat kekayaan alam dan melihat realitas sosial. Kita perlu mengajak hati kita rehat sambil memandangi pohon-pohon yang menghijau dan rimbun di sepanjang jalan raya, melihat anak-anak kecil bermain, berlari dan tertawa dengan riangnya,  menatap wajah para pekerja yang sudah terlihat lelah selepas pulang kerja, berlumuran keringat di kening dan tubuhnya namun matanya masih menyala dan menyimpan mutiara harapan-harapan, atau menyaksikan seorang anak yang masih belia sudah memiliki rasa peduli bagi sesamanya, karena ia sadar dari harta yang ia miliki, sebagiannya ada hak orang lain yang harus ia berikan. Atau menyaksikan anak-anak remaja bermain musik sambil bernyanyi di sore hari di dalam angkot (angkutan umum) menghibur para penumpang yang hendak pulang bertemu keluarga tercinta. Mereka bernyanyi dengan niat menyambung hidup dan untuk meringankan beban orang tuanya dalam membiayai ia bersekolah. Ia tidak peduli tatapan sinis beberapa penumpang angkot kepadanya, ia tak ambil pusing persepsi orang yang menilai mengamen adalah pekerjaan yang di pandang sebelah mata. Ia tahu betul dan sadar sekali, ini bagian dari ikhtiar menjemput rezeki yang halal dan cara ia survive agar ia tetap bersekolah. Melihat kehidupan dari berbagai sudut pandang membuat kita memiliki pemahaman yang utuh dan benih-benih kepekaan sosial tumbuh. Faktanya ketimpangan dan kesenjangan sosial di kota-kota besar sangat tinggi. Melihat fenomena sosial yang ada di sekitar kita, rasa empati kita dengan sesama akan semakin terasah. Rasa kepekaan semakin bertumbuh dan melunturkan sikap ego. Akal pikiran kita mencari solusi. Hati mendorong diri untuk memberi. Pemberian yang tulus bagi kita menjadi sangat berarti bagi mereka.

Kita dapat berkontribusi dan melakukan perubahan. Karena itu perubahan harus di mulai dari diri sendiri, dari yang ringan yang kita bisai, dan dimulai dari saat ini juga.

 

Jakarta, 05 Maret 2017

Advertisements

25 thoughts on “Memahami Waktu, Memaknai Kehidupan

  1. unggulcenter March 7, 2017 at 1:42 pm Reply

    renungan pribadi ya mas.. smoga menjadi terapi utk terus lebih baik..

  2. Nurri March 7, 2017 at 1:49 pm Reply

    Sebuah pencerahan yang ngena sekali, Mas :3
    Jadi ingin merenungi diri ini :3

  3. dianravi82 March 7, 2017 at 2:35 pm Reply

    Terima kasih sudah mengingatkan aku untuk selalu menghargai waktu, Mas. Untuk selalu berusaha menjadi manusia yang baik. 🙂

  4. Ocha Rhoshandha (kak Roos) March 7, 2017 at 6:13 pm Reply

    wuaaah, tulisannya mendalam banget kak
    membuat saya termenung, bahwa kita harus segera bergerak untuk mengambil langkah selanjutnya

  5. Dikki Cantona Putra March 7, 2017 at 8:55 pm Reply

    bener banget tuh menanyakan sebuah nasehat kepada orang yang lebih tua dan banyak pengalamannya itu perlu banget karena, mereka yang tau segalanya dan dapat membimbing kita ke arah yang lebih baik

  6. Atanasia Rian March 7, 2017 at 9:50 pm Reply

    menurutku lakukan yang terbaik untuk siapapun dan hargai tiap detik dalam hidup

  7. Rinrin Rinjaniah March 7, 2017 at 11:52 pm Reply

    Semakin bertumbuh maka kita akansemakin dewasa, mudah-mudahan seperti itu karena terkadang suka muncul sifat kekanak-kanakanku.
    Palinh susah berubah, kalau nggakada dorongan dari kita s3ndiri, keluarga dan orang -orang tersayang.

  8. lendyagasshi March 8, 2017 at 6:17 am Reply

    Waktu.
    Tiap hari kalau kita tidak memaknai nya, maka akan terlewat begitu saja.

    Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang “lebih baik dari hari kemarin dan esok lebih baik lagi dari hari ini.”

    Itulah ciri-ciri orang yang beruntung.

  9. pertiwiyuliana March 8, 2017 at 8:19 am Reply

    Super sekali Mas Imron. Aku seringkali merenung perihal waktu yang sudah kulewati. Mengevaluasi diri perihal kesalahan yang pernah aku lakukan. Kemudian, aku berusaha bagaimana baiknya untuk memperbaiki apa yang sudah lewat. Pun dengan hal yang baik. Supaya lebih berkembang di depan. Belajar menjadi lebih baik tidak akan pernah ada batas waktunya kan. 🙂

  10. Tukang Jalan Jajan March 8, 2017 at 9:00 am Reply

    Hidup itu masalah waktu dan setiap orang berproses dan semuanya berubah darintahap satu ke tahap lainnya. Semuanya berpenagruh menjadi satu kesatuan. Btw setuju bangay bahwa empati dan simpati disekitar kita sudah berkurang. Yang banyak egoisme.

  11. Cindra Prasasti March 8, 2017 at 2:35 pm Reply

    Very meaningfull, kak.
    Kita memang perlu saling mengingatkan tentang apa yang sudah kita lakukan. Waktu yang sudah kita lewati kita habiskan untuk apa? Bekal apa yang akan kita bawa kelak. Sebwrapa besar kita perduli dengan sesama.
    Thanks for sharing

    • imron prayogi March 18, 2017 at 1:11 pm Reply

      Sama-sama Mbak Cindera.
      Saling mengingatkan tentang makna waktu

  12. April Hamsa March 8, 2017 at 3:22 pm Reply

    Suka banget tulisannya mas. Ngingetin aku supaya lbh menghargi waktu dan jg memberi tahu kalau sebenarnya gak ada kata telat merajut masa depan yg lbh baik, asal mau usaha TFS

    • imron prayogi March 18, 2017 at 1:10 pm Reply

      Sama-sama Mbak. Tulisan ini menjadi pengingat diri sendiri. Bahwa waktu adalah modal untuk terus berbuat baik dan terus memperbaiki diri.

  13. klikomith March 8, 2017 at 6:40 pm Reply

    gw bacanya merinding mas huhu

    merasa sih, iya …
    thanks ya udah ngingetin
    kehidupan patut diperjuangkan, jd jangan menyerahhh 🙏🏻

  14. Pu March 8, 2017 at 9:32 pm Reply

    Apa yg terjadi dg kita menjadikan diri lbh kuat. Asal bs mengambil hikmahnya

  15. jiah al jafara March 8, 2017 at 9:35 pm Reply

    Masalah skrg adalah masalah lampau yg blm tuntas. Mgkn memang begitu krn kdg kita lari dr masalah. Perbaiki diri dan tetap berusaha jd yg lbh baik

  16. erinajulia March 8, 2017 at 11:26 pm Reply

    Kalau ayahku suka bilang,

    Apa yang kamu lakukan, waktu tidak akan pernah menunggumu, dia akan terus berjalan, makanya gunakanlah hidupmu sebaik mungkin.

    Dan, aku sangat terimakasih, telah diingatkan kembali 🙂

    • imron prayogi March 18, 2017 at 1:07 pm Reply

      Sama-sama Mbak Erina.
      Kadang dalam hidup, kita perlu mendengar kan nasihat. Dan nasihat itu bisa saja datang dari keluarga.

  17. Widi Utami March 9, 2017 at 12:28 am Reply

    Aku paling lemah di pengelolaan waktu. Baca ini jadi merasa dzolim sama diri sendiri krn menyiakan waktu. Sedih 😥

    • imron prayogi March 18, 2017 at 1:03 pm Reply

      Saling mengingatkan Mbak Wid. Saya jg terus berproses menghargai waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: