Luka yang Membawa Harapan

Tulisan ini adalan rangkaian cerita dari Story Blog Tour Oneweekonepaper (OWOP). saya ada di urutan ke lima. cerita sebelumnya bisa dinikmati di sini.

 


dandelion2

Udin masih berdiri di tempat parkir motor. Matanya memandang ke arah mobil mewah Steven yang pelan-pelan menjauh dan menghilang di belokan perempatan jalan . Hatinya terasa perih melihat kekasih hatinya pergi dengan laki-laki lain. Ada kesedihan yang merayap dalam rongga hatinya. Setelah terdiam beberapa saat, ia melihat jam tangan. Matanya membulat dan ia tersadar Emaknya di rumah sudah menunggu terlalu lama. Ia kembali bergegas ke dalam pasar membelikan pesanan belanjaan Emak.

Setelah memastikan tidak ada yang terlupa akan barang yang di beli –beras, cabai, dan bawang, ia segera berjalan keluar dengan ayunan langkah kaki yang lebih cepat. Ia melangkah dengan tegap dan seolah-olah tidak ada bedanya saat sebelum dan sesudah dari Pasar. Semuanya baik-baik saja, ia menguatkan hatinya. Namun dalam kepalanya, bayangan Lela terus hadir dalam ingatan selama dalam perjalanan menuju rumah. Hatinya ingin menjerit namun ia tahan. Sesekali bayangan Lela hilang berganti bayangan wajah Emak yang sedang marah-marah akan terlalu lama ia berada di Pasar.

Udin tiba di halaman rumah saat matahari sudah mulai terik. Jarak antara rumah Udin dengan pasar ditempuh dengan berjalan kaki selama lima belas menit. Pintu rumahnya sejak tadi sudah terbuka. Setelah memberi salam, dia masuk ke dalam rumah dan bertemu Emak yang sejak tadi gelisah menunggu kedatangannya.

“Udin, Elo kemana aja? Lama banget ke pasarnya. Elo mampir dulu ke rumah Lela?” suara Emak terdengar setengah berteriak.

“Dari pasar Emak. Ini belanjaan yang Emak pesan buktinya,” Udin menjawab datar tangannya memberikan belanjaan ke Emak.

Udin langsung meninggalkan Emak di ruang tengah dan beranjak ke kamarnya dengan langkah patah-patah dan dengan rona wajah yang ditekuk. Emak bingung melihat sikap anaknya. Ada rasa khawatir sekaligus heran melihat tidak ada rona keceriaan di wajah anaknya.

Emak melangkah ke dapur dan mulai memasak. Selama memasak, ia memikirkan Udin. Ada apa dengan si Udin? Ah, paling juga masalah cinta anak abege. Ia merencanakan akan menasihati Udin setelah masakan selesai. Yang terpenting bagi anaknya saat ini adalah memberi motivasi untuk tetap bersemangat mencari bekerja. tadi pagi sambil menunggu Udin kembali dari pasar, ia sudah membeli koran yang memuat informasi lowongan kerja dan ia sudah memberi tanda bagian mana yang sesuai dengan kemampuan anaknya. Dalam hati ia berharap, semoga ikhtiar ini menjadi jalan terbukanya rezeki bagi anaknya kelak.

Di dalam kamar Udin di dekat jendela menatap rumah Lela. hatinya dipenuhi api cemburu. hatinya berkecamuk tak menentu. Ada rasa kesal, sedih, dan kecewa yang bercampur. Sesekali hatinya membatin, ‘Gue harus membuat perhitungan sama Steven. Berani-beraninya dia deketin kekasih hatinya’. Sisi hatinya yang lain bergumam dengan berfikir agak logis, ‘Buat apa membuat perhitungan dengan Steven. Lagi pula sepenuhnya bukan salah dia juga. Lela juga punya andil membuat hatinya terluka.’ Tatapan Udin berpindah-pindah tak menentu. Sesekali ia memandang langit dan terdiam cukup lama merenung. Ia mencoba mencari solusi untuk menenangkan dirinya. Tetapi yang terjadi sebaliknya, semakin lama berfikir dan merenung mengenai hubungannya dengan Lela yang ada hatinya semakin terluka. Hatinya menahan perih seorang diri. Hatinya semakin penuh sesak.

Kini separuhnya hatinya membenarkan ucapan Emak, Lela itu buka tipe cewek yang setia. Ada sedikit penyesalan mengapa ia tidak sepenuhnya setuju ucapan  Emak itu. setidaknya kalau saja dia mendengarkan nasihat Emak, mungkin saat ini hatinya lebih siap menerima kejadian yang tadi siang di pasar. Mungkin juga hatinya sudah bersiap dan pelan-pelan berhenti mencintai Lela. pelan-pelan menutup hatinya untuk Lela. Separuh hatinya membatin, ia bersyukur memilki Emak yang mencintai anaknya sepenuh hati. Emak ingin anaknya kelak bahagia dengan wanita yang baik. Emak selalu menasihati anaknya dengan penuh kasih sayang.

Ia kembali merenung dan kini wajahnya mulai agak cerah. Seketika terbersit ide, daripada mikirin Lela yang membuat diri tidak move on. Lebih baik memikirkan tentang bagaimana cara agar masa depan cerah. Ia sepakat dengan satu kata, b-e-k-e-r-j-a. Iya, ia mesti bekerja. tapi ia bingung. Ia mesti memulai darimana? Ia mesti bekerja dimana?

 

Cerita selanjutnya bersambung di Blog Rizka Agustina

Advertisements

One thought on “Luka yang Membawa Harapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: