Renungan di Penghujung Tahun

Waktu berputar dengan pasti. Kini sudah di penghujung tahun 2016. Tahun 2017 sudah di depan mata. Sebuah ide mengenai evaluasi pencapaian tahun ini hadir di kepala saya. Tidak bijak rasanya bila tahun ini di akhiri tanpa mengevaluasi diri dari apa yang sudah di lalui. Hal ini penting agar diri kita tahu seberapa besar perkembangan yang ada dalam diri kita selama dua belas bulan yang akan sebentar lagi berlalu. Karena sejatinya waktu bergerak dengan pasti, maka sebagai manusia yang di beri pemikiran oleh Allah swt. semestinya bisa memanfaatkan kesempatan hidup untuk menjalani hidup dengan maksimal dan menanam benih-benih kebaikan dan menebar kebaikan tersebut. Semakin banyak kebaikan yang kita sebarkan maka semakin besar adanya kebermanfaatan diri kita untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Rasulullah saw. bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani)

Untuk target-target hidup yang telah saya capai, maka saya tersenyum lembut membiarkan rasa syukur hinggap di dinding hati saya. Membuat rasa syukur saya bertambah. Dengan rahmat-Mu, saya masih berdiri kokoh hingga hari ini dan saya masih dapat memenuhi amanah kehidupan ini. Satu hari yang sangat berharga dimana saya bisa mengucap syukur sepenuh hati karena diberi kesempatan hidup untuk memaknai kehidupan ini dengan melakukan kebaikan demi kebaikan.  Satu langkah menuju langkah selanjutnya  selalu terajut doa agar langkah yang sedang saya tapaki menjadi penghubung akan kebaikan di masa depan saya.

Untuk target-target yang belum tercapai, maka saya jadikan sebagai bahan evaluasi diri agar esok hari saya lebih pandai mengatur waktu dan melebihkan usaha. Rasa sedih dan sesal karena kelalaian saya di hari-hari yang sudah terlewat biarlah ada di dalam jiwa cukup sekadar ada dan tidak untuk di ratapi. Karena rasa itu manusiawi wajar adanya. Menjadi tidak wajar jika kita terus berlarut-larut dalam kubangan rasa sedih yang tidak berkesudahan. Siapa pun orang yang gagal meraih keinginan yang menjadi harapan, tentu merasakan kesedihan dan penyesalan. Namun bukan sikap yang baik bila dua perasaan itu membuat mental diri menurun, semangat dalam diri semakin meredup, dan  tenggelam dalam arus keterpurukan. Biarkan dua rasa itu meresap ke dalam rongga jiwa dan menyentuh ruang hati hingga akhirnya rasa pahit dari sebuah penyesalan itu menjadi penyubur semangat dan memupuk optimis dalam diri kita untuk menjemput target-target selanjutnya.

chisvvaugam94oi

Dalam hidup kita ingin menjadi orang yang baik. Pada saatnya kita akan meninggal dan kita berharap nama yang kita tinggalkan juga nama yang baik. Untuk meraih itu, kita butuh menanamnya sejak kita hidup sekarang ini. Kebaikan pada diri kita terpancar melalui perilaku dan tutur kata kita. Cara kita bersikap dan berbicara itu cermin siapa diri kita sesungguhnya. -Cara kita menghayati kehidupan, cara kita menunaikan hak-hak orang lain, cara kita menjaga hati orang lain dari ucapan lisan yang menyakiti, cara kita menahan diri dari amarah, cara kita amanah dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan, dan sebagainya- hal itu terlihat dari sikap yang kita pilih dan sikap yang kita ambil.

Beberapa hari yang lalu, saya sedang dalam perjalanan menuju kampus dengan menaiki mobil angkot, lalu seorang pengamen menghibur penumpang dengan menyanyikan lagu diiringi petikan gitar. Pada saat lagu selesai dinyanyikan, saya melihat seorang anak perempuan yang duduk di samping ibunya yang sedang menggendong bayi mengeluarkan uang dan memberikan uang tersebut kepada si pengamen tadi. Sang ibu menatap wajah anaknya sambil tersenyum, bangga. Sang anak pun tersenyum hangat menatap ibunya.

Di hari yang sama, saat saya pulang sekolah, saya bertemu dengan seorang anak laki-laki -dari postur tubuhnya saya mengira ia berusia delapan atau sembilan tahun,- sedang berjualan snack ringan di gang kecil menuju pintu keluar masuk kampus. Ia duduk tanpa alas. Di hadapannya terdapat satu kardus yang berisi makanan snack. Kepada setiap mahasiswa  yang lewat di depannya, ia menawari snack itu. Ada yang membeli dan ada yan lewat saja. Saya melihat dia melayani pembelinya dengan kepolosan seorang anak. Saat ada pembeli, wajahnya terlihat senang. Dan kata terima kasih kepada setiap pembelinya selalu terucap dari lisannya.

Satu pelajaran dari dua kisah tersebut adalah menanam kebaikan itu mesti berproses sedikit demi sedikit. Dan mereka melakukan kebaikan itu memiliki motivasi dan reason (alasan) yang kuat. Kisah pertama, anak kecil perempuan memberi uang kepada si pengamen dengan niat membantu. Kisah kedua, anak laki-laki berjualan snack dengan niat untuk menambah uang untuk biaya sekolah yang demikian itu meringankan beban orang tuanya. Dua perilaku itu termasuk bagian kebaikan.

Mereka berdua membuktikan untuk melakukan kebaikan butuh pengorbanan. Nilai-nilai dari menolong orang lain, kerja keras, sungguh-sungguh, tidak meminta-minta menjadikan mereka selalu di hargai oleh orang-orang sekelilingnya. Mereka memposisikan hidup untuk memberi bukan menerima dan meminta-minta.

Dapatkan motivasi untuk melakukan kebaikan dan menebar kebaikan. Karena hanya dengan itu, diri kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Semakin kokoh motivasi dalam diri kita untuk berbuat kebaikan, maka semakin kuat jiwa kita untuk melakukan kebaikan.

Bahkan melalui tulisan kita bisa menebar kebaikan. Melalui update status Facebook, BBM, Twitter, kita bisa menebar kebaikan. Maka yakinkan apa yang kita tulis, tulislah yang bermanfaat.  Di tambah lagi saat ini adalah zaman yang serba digital. Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara, berkata : “Menulis membuat usiamu awet muda. Pada saat ajalmu telah sampai, yang meninggal hanya jasadmu. Tulisan-tulisanmu akan selalu ada dan akan terus di baca. Maka pastikan apa yang kamu tulis, tulislah yang bermanfaat. Karena tulisan-tulisanmu yang bermanfaat akan terus memberikan kamu kebaikan sampai jauh, jauh kemudian hari. ”

 

Jakara, 27 Desember 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: