Resensi: Satu Hari Bersamamu : Sebuah Perjalanan Yang Memberikan Kekuatan

Judul Terjemahan : Satu Hari Bersamamu

Judul     Asli              : For One More Day

Pengarang               : Mitch Albom

Alih bahasa              : Olivia Gerungan

Penerbit                   : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit           : 2007

Halaman                   : 248 halaman

Sinopsis :

For One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari bersama orang yang kau sayangi, yang telah tiada?

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi “anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya.” Maka dia memilih ayahnya, namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh.

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi dia gagal. Dia justru kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Dari sana ia menemukan alasan untuk tetap melanjutkan hidupnya dengan semangat dan harapan yang baru. Bertemu dengan siapa Charley di rumah lamanya? Sebesar apa pergulatan di dalam hati Charley hingga ia akhirnya memutuskan untuk tetap menjalani hidup?

Sumber : dokumentasi pribadi

Sumber : dokumentasi pribadi

Resensi :

Kelebihan novel ini :

Pertama, tema yang sangat menarik. Novel ini membawa tema yang sangat dekat dengan kehidupan setiap orang yaitu tema keluarga. Tema tersebut merupakan tema yang sangat akrab dan memiliki kedekatan emosional karena tema mengenai keluarga di rasakan dan di alami setiap manusia. For one more day (satu hari bersamamu) adalah pilihan judul yang  membuat penasaran bagi orang yang pertama kali mendengar judul novel ini. Saya sendiri tahu judul novel ini dari seorang teman di komunitas menulis. Dari situ saya cari resensi atau review mengenai novel ini dan hasilnya novel ini tertarik dengan cerita mengenai kisah kehidupan sebuah keluarga. Setelah membaca novel ini, saya akan membaca  novel-novel karya Mitch Albom yang lain. Salah satu novel karya Mitch yang belum lama saya beli adalah Selasa Bersama Morrie.

Kedua, tokoh-tokoh yang dinamis dan efektif. Tokoh di dalam novel ini tidak begitu banyak. Tokoh utama dalam novel ini adalah Charley Chick Benetto sering di sebut Chick. Ia dibesarkan oleh ayah yang keturunan Itali dan Ibu keturunan Prancis. Sebagian besar ceritanya ini mengenai tokoh Chick dan ibunya, Pauline Benetto. Semua tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam novel ini berhubungan mengikuti alur cerita. Kehadiran masing-masing tokoh memiliki korelasi dan dampak terhadap jalannya cerita.

Ketiga, konflik berlapis-lapis yang diramu dengan matang. Sejak lembaran awal pembaca sudah dihadirkan konflik tokoh utama yakni Chick yang ingin mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Semenjak istri dan anaknya meninggalkan dirinya, hidup Chick menjadi hilang arah dan perlahan-lahan semangat hidupnya terkikis oleh rasa bersalah dan penyesalan. Saat Chick mengalami kecelakaan dalam perjalanan untuk bunuh diri di jalan raya yang tidak jauh dari rumah orang tuanya, Chick memutuskan mengunjungi rumah orang tuanya itu. Lalu hal yang mengejutkan terjadi, ia bertemu dengan ibunya yang sudah meninggal delapan tahun silam. Selanjutnya secara narasi diceritakan ibunya memberikan penjelasan tentang pertanyaan alasan ayahnya yang pergi meninggalkan keluarga, lalu ibunya bekerja menjadi tulang punggung keluarga agar Chick dan adiknya yang Roberta tetap bisa melanjutkan sekolah dan mencapai cita-citanya kelak.  Pauline Benetto adalah sosok ibu yang ideal. Kasih sayang, kelembutan, paras yang cantik, dan tutur bahasa yang bijaksana- semuanya terpadu dalam pribadi Pauline.

Ternyata perceraian di masa itu bagi masyarakat di negara barat juga merupakan hal yang kurang baik. Perceraian itu secara tidak langsung berarti ada pihak salah dan harus dihakimi. Di sini Pauline menghadapi masa-masa sulit. Dia dijauhi dan ditinggalkan oleh tetangga-tetangga dekat rumahnya.

“Orang-orang tidak pernah sampai bercerai pada masa itu. Aku tidak kenal satu anak pun yang pernah mengalaminya. Perpisahan, setidaknya di lingkungan tempat kami tinggal, merupakan skandal, dan salah satu pihak akan dicap sebagai pihak yang bersalah. Cap ini diberikan pada ibuku, terutama karena dia masih tinggal di sana. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi antara Len (ayahnya Chick) dan Pauline, tapi Len pergi dan Pauline tertinggal untuk dihakimi.” (halaman 83)

Alur cerita ini menggunakan alur maju dan alur mundur. Diantara dua alur ini beberapa halaman  memuat dua bab yag berkisah tentang Saat-Saat ketika Ibu Membelaku dan Saat-Saat Ketika Aku Tidak Membela Ibu. Dua bab tersebut tidak diletakkan berurutan namun diletakkan secara acak sesuai konteks cerita. Dua bab ini adalah catatan harian (diary) yang ditulis oleh Chick semenjak masa kecilnya hingga kini.  Semenjak Chick bersekolah, ibunya sering memberikan surat kepada Chick dan kebiasaan itu berlanjut hingga masa dewasa Chick sebagai ungkapan sayang dan nasihat sang ibu. Surat yang ditulis dengan bahasa yang lembut oleh seorang ibu yang sangat mencintai anaknya. Pada bagian ini adalah bagian yang membuat saya hanyut terbawa keharuan dan tanpa terasa mata saya membasah karena perhatian dan kasih sayang sang ibu yang teramat besar pada anaknya.

“Aku tahu kau selalu menganggap catatan-catatan ini konyol. Selama bertahun-tahun aku melihat wajahmu cemberut setiap kali aku memberimu satu catatan. Tapi mengertilah bahwa terkadang aku ingin memberitahumu sesuatu dan aku ingin mengatakannya dengan benar. Menuangkannya diatas kertas amat membantuku. Aku berharap aku bisa menulis lebih baik lagi. Aku berharap aku pernah punya kesempatan kuliah. Kalau saja pernah, kurasa aku bisa belajar sastra dan kosakataku bisa lebih banyak dari sekarang… “(halaman 168 salah satu kutipan surat dari Ibu untuk Charley di hari pernikahan Charley)

Ketiga, amanat atau pesan moral dari novel ini benar-benar membuat pembaca bercermin sudahkah kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Melalui novel ini, Mitch Albom mencoba memberi gambaran satu hari yang teramat berharga yang kita bisa melewati waktu itu dengan ibu. Sebesar apapun pengorbanan dan pemberian sang anak tak akan pernah mampu membayar dan menandingi pengorbanan dan kasih sayang sang ibu. Hingga kapan pun.

Hitunglah jam-jam yang seharusnya bisa kau habiskan bersama ibumu. Rentangannya sepanjang masa hidup itu sendiri. (Halaman 184)

Kekurangan novel ini :

Keterangan waktu berupa tahun peristiwa tidak di sebutkan secara konsisten sehingga membuat pembaca mereka-reka tahun berapa Chick mulai sekolah dasar, sekolah lanjutan, kuliah, dan tahun pernikahan Chick.

Kesimpulan :

Novel ini sangat rekomendasi untuk kalangan remaja, dewasa, dan orang tua. Kisah ini ditulis dengan bahasa yang ringan sehingga siapa pun bisa memahami isi cerita. Selain itu yang paling penting adalah amanat dan pesan dari novel ini menyerukan untuk kebaikan yakni berbakti kepada orang tua dengan hati yang tulus.

Kutipan-kutipan favorit dalam novel ini :

  1. Membaca itu seperti berbicara, jadi bayangkan aku sedang bicara denganmu di situ. (Halaman 81)
  2. Sekarang kau tahu ada orang yang sangat menginginkanmu, Charley. Anak-anak terkadang melupakan itu. Mereka melihat diri sendiri sebagai beban dan bukan jawaban doa. (Halaman 92)
  3. “Anak-anak yang merasa malu karena ibunya,” katanya, “hanya anak yang belum terlalu lama menjalani hidup.” (Halaman 111)
  4. Kembali menjalani yang pernah kau tinggalkan itu lebih sulit dari yang kaukira. (Halaman 163)
  5. Menyia-nyiakan waktu itu sungguh memalukan. Kita selalu berpikir kita punya terlalu banyak waktu. (Halaman 186)
  6. Kau punya satu keluarga, Charley. Baik ataupun buruk keadaannya. Kau punya satu keluarga. Kau tidak boleh menukarnya. Tidak boleh mendustainya. Tetap tinggal bersama keluargamu adalah hal yang menjadikannya keluarga. (Halaman 229)
  7. Aku tak memiliki seorang pun yang bisa membujukku keluar dari keputusasaan, dan itu sebuah kesalahan. Kau perlu memiliki orang di dekatmu. Kau perlu memberi mereka jalan ke hatimu. (Halaman 240)
  8. Aku juga percaya bahwa orang tua, kalau mereka menyayangimu, akan menggendongmu supaya aman, jauh di atas arus permasalahan mereka, dan terkadang itu berarti kau takkan tahu apa yang mereka alami, dan kau bisa saja memperlakukan mereka dengan buruk, dengan cara-cara yang tak mungkin kaulakukan seandainya kau tahu. (Halaman 240)
  9. Tapi dibalik ceritamu selalu terdapat cerita ibumu, karena ceritanya adalah awal dimulainya ceritamu. (Halaman 241)

 

Jakarta, 02 Desember 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: