Resensi Rantau 1 Muara : Saat Cita-Cita Menjadi Nyata

img_20160925_201642

Data Buku

Judul Novel    : Rantau 1 Muara

Pengarang     : A. Fuadi

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2013

Tebal Buku    : 407 Halaman

Sinopsis :

Alif Fikri baru saja menyelesaikan program pertukaran pelajar (student exchange) di Kanada. Dia mulai aktif kembali dengan rutinitas perkuliahan di kota Bandung. Ketekunan menulis yang ditekuninya menghantarkan dirinya diterima menjadi wartawan di salah satu surat kabar terkemuka di Jakarta. Alif memulai aktivitas baru di lingkungan yang berbeda. Di kantor tempat dimana dia bekerja dia bertemu dengan Dinara teman satu profesi dengannya, seorang gadis Jakarta yang membuat hatinya berbunga-bunga lebih tepatnya jatuh hati. Akankah cinta bersemai indah menuju gerbang pernikahan?

Sebuah keberanian dalam mengambil keputusan akhirnya Alif meninggalkan pekerjaan (cuti tanpa tanggungan) memilih terbang ke Amerika Serikat untuk mendalami ilmu komunikasi dan media di salah satu universitas. Di sana dia beradaptasi menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya dan bertemu dengan Mas Garuda, teman baru dari Indonesia. Mas Garuda sudah menganggap Alif sebagai adiknya sendiri. Interaksi yang intensif itu membuat keduanya memiliki kedekatan emosional yang sangat besar. Hingga terjadi peristiwa 11 September 2001 di New York yang membuat jiwa Alif goyah hampir putus asa. Apa yang menimpa Alif dalam peristiwa 11 September 2001?

Washington D.C, tempat dimana Alif tinggal dan belajar selama dua tahun. Kota ini membawanya membangun rumah tangga dan kota ini pula muncul keyakinan pada suatu hari dia harus pulang. setelah sekian tahun tinggal di kota ini, pulang adalah kata yang membuatnya dilematis dan membuatnya termenung panjang. Dia sudah merasa nyaman (comfort zone) belajar dan bekerja di kota ini. Selepas lulus kuliah di George Washington University,  profesi wartawan di American Broadcasting Network (ABN) telah dimilikinya dengan gaji lebih dari cukup. Pikirannya berkecamuk dan mencoba realistis. Kalau dia kembali ke Indonesia, dia harus melamar kerja dan membangun karier dari awal lagi. Akankah Alif menemukan muara sesuai dengan isi hatinya?

**********

Novel ini menceritakan perjalanan Alif Fikri dalam menjemput impiannya. Dengan berpegang pada prinsip Man saara ala darbi washala (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai tujuan) akhirnya Alif berhasil menggapai cita-citanya.

Ada lima unsur instrinsik novel yang membuat novel novel ini :

Pertama, judul novel mewakili isi novel secara keseluruhan. Proses Alif mengambil keputusan merantau, memilih jalan hidup yang sesuai dengan isi hatinya hingga berujung pada muara yang diinginkan Alif.

kedua : setting atau latar cerita disebutkan secara eksplisit. Seperti kota Bandung, Jakarta, Bogor, Gedung Sate, Jalan Asia Afrika, dan Washington. Dengan hal ini membantu pembaca dalam memahami  alur cerita.

“Salah satu hiburan musim semi yang paling dinanti oleh Washingtonian – sebutan untuk warga DC – adalah National Cherry Blossom Festival. Puncak festival ini hanya bertahan beberapa hari saja ketika bunga cherry mekar semekar-mekarnya, setelah itu bunga ini akan gugur dan semua orang harus menunggu setahun lagi untuk menikmati pemandangan serupa. Karena itu, di sekolah, kantor, atau jalanan, warga memperbincangkan kapan hari puncak akan datang.” (halaman 302).

Ketiga, sarat dengan pesan moral, semangat berprestasi, dan perenungan yang mendalam tentang memaknai kehidupan. Pesan moral di beberapa bagian dijelaskan secara eksplisit (konkret) dalam cerita, seperti saat Alif merenung passion apa yang ditekuninya bertahun-tahun hingga ia menemukan jawabanya sendiri yakni menulis. di beberapa bagian pesan itu diceritakan secara narasi melalui karaktek Alif dalam menghadapi permasalahan yang menghadangnya,

“Di langit pagi, dia atas Samudra Atlantik,

Alhamdulillah, hari ini telah aku tunaikan teladan dan petuah para pengembara besar dunia seperti Imam Syafi’i, Ibnu Batutah, dan Marco Polo. Berpetualang sejauh mata memandang, mengayuh sejauh lautan terbentang, dan berguru sejauh alam terkembang. Aku ajarkan badanku untuk berani berjalan melintas daratan dan lautan, mencicipi rupa-rupa musim, mengenal ragam manusia. Aku bujuk jiwaku untuk tidak pernah kenyang berguru dan terus memahami tanda-tanda yang bertebaran di bawah tudung langit.”

Dari sekian kelebihan diatas novel ini juga menurut saya memiliki kekurangan diantaranya :

Pertama, ada bahasa minang yang tidak ada terjemahan dan itu membuat pembaca tidak memahami beberapa bagian dalam novel.

Kedua, minim keterangan waktu dalam hal ini penyebutan bulan dan tahun. Sehingga pembaca menerka-nerka waktu mengikuti alur cerita.

Kesimpulan :

Membaca novel ini mengajarkan saya akan memperjuangkan mimpi dengan segenap ikhtiar dan doa. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, itu pesan dalam novel ini. setiap usaha yang ditekuni dan dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka hasilnya kelak membanggakan. Man yazra yahsud (siapa yang menanam, dia aka menuai). Pesan moral dan dorongan berprestasi yang bertebaran membuat novel ini layak dibaca oleh para remaja, pemuda, dan orang tua.

Kutipan-Kutipan Favorit :

  • Betapa hebatnya sebuah tulisan. Kekal, melewati batas umur, zaman, bahkan geografis. Melalui tulisan dan huruflah manusia belajar dan menitipkan ilmu kepada manusia lain. (halaman 41)
  • Ke mana pun dan apa pun yang wa’ang lakukan, selalu perbarui niat, bahwa hidup singkat kita ini hanya karena Allah dan untuk membawa manfaat. Jangan berorientasi materi. Kalau memang sekolah jauh itu membawa manfaat dan wa’ang niatkan sebagai ibadah, pailah. Pergilah. (halaman 174)
  • Kematian itu ibarat pintu. Kelahiran itu juga layaknya sebuah pintu. Keduanya portal yang pasti dilalui semua anak manusia dalam perjalanan panjangnya di dunia ini. (halaman 358)
  • Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai tujuan. Bukan hanya tujuan kebahagiaan dan keberhasilan duni tapi tujuan hakiki. Ke tempat kita dulu berasal. Ke Sang Pencipta. (halaman 358)

 

Ditulis di Jakarta, 19 Oktober 2016

Advertisements

4 thoughts on “Resensi Rantau 1 Muara : Saat Cita-Cita Menjadi Nyata

  1. Bang Oji October 19, 2016 at 10:33 pm Reply

    wah bagus nih spertinya buku yang bernuansa sisi anak pendatang/rantau. mungkin buku ini bisa mengispirasi bagi pembaca tentunya. kapan2 kalo ada rizki mau tengok nih buku.

    • imron prayogi November 4, 2016 at 5:58 pm Reply

      Thanks ini sudah sempat mampir ke blog saya. Selamat membaca bukunya oji

  2. mulia November 4, 2016 at 8:27 am Reply

    Di jual berapa gan bukunya. saya tertarik dengan bukunya..

    • imron prayogi November 4, 2016 at 6:00 pm Reply

      Terima kasih mas mulia sudah berkunjung ke blog saya. Harga novel rantai 1 muara sekitar 60 ribuan di Gramedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: