Seminar Teknologi : Bijak dan Cerdas Berteknologi (Bagian Kedua)

Raut wajahnya sudah terlihat tua. Sorot matanya begitu cerah. Setelan kemeja batik yang dipakainya dan langkah kaki tegapnya penuh percaya diri membuat sosoknya memilki kharisma. Dibalik penampilan yang sederhana, beliau menyimpan mutiara keilmuan yang matang  dalam bidang ilmu pendidikan namun wajahnya yang selalu ceria dan bersahaja membuat orang di sekitarnya menaruh rasa hormat kepadanya. Intonasi suara yang cukup lantang dipadukan dengan mimik wajahnya yang sangat meyakinkan menarik simpati seluruh peserta seminar untuk memperhatikan dan mendengarkan materi apa yang beliau sampaikan.  Beliau adalah Prof.  Dr. H. Arief Rachman, M.Pd (Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO).

Hari ini saya kali pertama bertemu dengan beliau terkesan dengan cara beliau menyampaikan pengajaran. Beliau memiliki karakter guru yang ideal. Mulai dari intonasi suara yang terkontrol, setiap diksi kata yang diucapkan sangat terstruktur sesuai dengan pokok materi yang sedang dikaji, dan responsif melihat suasana ruangan untuk mengembalikan fokus peserta  – dimana terdapat beberapa peserta seminar yang duduk di kursi agak belakang dan terhalang oleh tiang pondasi, beliau dengan rendah hati mengangkat dan memindahkan kursi sendiri dari bagian tengah panggung ke sudut sebelah kanan panggung dekat dengan layar infocus agar terlihat oleh seluruh peserta dan meminta beberapa peserta yang terhalang tiang pondasi gedung tadi berpindah mencari kursi yang memberikan ruang untuk melihat panggung utama-. Pada kesempatan seminar ini beliau menyampaikan materi dengan tema “Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan”.

Setiap beliau menyampaikan materi, ruangan seketika hening. Semua peserta larut mendengarkan setiap untaian kata yang beliau ucapkan. Seluruh perhatian tertuju pada beliau. Dengan bahasa yang ringan, materi yang disampaikan mudah kami pahami. Pada bagian tertentu, saya terenyuh dengan pengalaman beliau yang diceritakan kepada kami tentang keberanian beliau dalam membela dan memperjuangkan kebenaran. Beliau menyampaikan, “Kalian para peneliti muda harus berani menegakkan kebenaran. Siapa lagi yang mau peduli pada krisis keteladanan yang terjadi saat ini, kalau kalian calon pendidik tidak tergerak memperbaikinya.” Hati saya membenak, pada kesempatan seminar hari ini beliau mengajarkan kami akan keteladanan guru yang memiliki keberanian dan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.

Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah merubah pola tingkah laku dan mengembangkan wawasan pemikiran peserta didik. Penanaman nilai-nilai kebaikan sejak usia dini merupakan langkah tepat untuk membentuk insan yang memiliki akhlak mulia. Nilai-nilai yang sudah ditanamkan itu kemudian akan ter-internalisasi dalam diri dan terpancar dengan sendirinya melalui perilaku kesehariannya. Dalam pendidikan dikenal ada tiga kecerdasan yakni, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan intelektual.

Prof. Dr. H. Arief Rachman M.Pd. sedang menyampaikan materi mengenai Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan. (sumber : dokumentasi pribadi)

Prof. Dr. H. Arief Rachman M.Pd. sedang menyampaikan materi mengenai Peran Teknologi dalam Mensukseskan Pendidikan.
(sumber : dokumentasi pribadi)

Prof. Dr. Arief Rachman menyampaikan, “Kecerdasan yang mesti diajarkan dan dimiliki oleh setiap orang pertama kali sejak usia dini adalah kecerdasan spiritual. Karena kecerdasan tersebut menjadi landasan dan acuan seseorang memahami mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah, mana perbuatan yang halal dan mana perbuatan yang haram. Kecerdasan yang harus dimiliki selanjutnya adalah kecerdasan perasaan (emosional). Dari kecerdasan ini, seseorang belajar bagaimana cara bersosialisasi dan empati dengan orang-orang yang berada di sekitarnya. Dan yang terakhir adalah kecerdasan intelektual (intelegensi). Kecerdasan ini diletakkan diakhir agar seseorang memahami dengan baik dan mencapai dua kecerdasan sebelumnya dengan harapan memiliki pondasi yang kuat terhadap agama dan memiliki empati dengan sesamanya. Karena sejatinya yang dimaksud sukses pendidikan adalah pendidikan yang menghasilkan insan yang bertaqwa, memiliki kepribadian yang matang, berilmu mutakhir dan berprestasi, memiliki rasa kebangsaan, dan berwawasan global.”

Teknologi yang berkembang saat ini sebaiknya tidak dijadikan hambatan untuk meraih cita-cita kita. Teknologi juga tidak boleh dihindari karena kalau dihindari maka kita akan tertinggal oleh teknologi. Justru sebaliknya teknologi mesti dijadikan tantangan (challenge) supaya kita lebih bijak dan cerdas dalam berteknologi. Bijak dalam berteknologi itu penting agar waktu yang kita miliki tidak terbuang sia-sia. Teknologi tidak boleh melunturkan sikap positif yang telah kita tanamkan dalam diri kita. Perilaku jujur, disiplin, sopan santun, empati yang sudah melekat dalam diri kita diharapkan tidak semakin memudar dengan adanya teknologi. Justru sebaliknya, sikap positif yang sudah menjadi karakter kita mesti kita pertahankan, terus diasah, dan dikembangkan.

Prof. Dr. H. Arief Rachman Hakim menambahkan, “Kalau teknologi membuat anda  murung, menjadi pemarah, tidak bersemangat, penuh perhitungan, dingin, dan pasif, berarti anda tidak berhasil. Seharusnya dengan teknologi kecenderungan sikap kita stabil. Kita bisa melatih sikap kreativitas, inovatif, kritis, mampu menganalisa dan membuat jawaban sementara (hipotesa), mampu menggabungkan hipotesa, mampu memprediksi, dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.”

Beliau melanjutkan, “Ada delapan kebajikan intelektual dimana jika anda memiliki delapan karakter ini maka secanggih apapun teknologi tidak akan mampu melunturkan karakter dan sikap anda. Delapan kebajikan tersebut adalah (1) integritas, (2) percaya pada nalar, (3) empati, (4) kemerdekaan/kemandirian, (5) keberanian, (6) rendah hati, (7) rasa keadilan , dan (8) tahan deraan. Dia memiliki integritas, dia percaya pada nalarnya, dia empati pada sesamanya, dia memiliki kemandirian, dan dia berani membela kebenaran  tetapi dia tidak sombong, dia bersikap adil dan tahan deraan.”

Beliau menyampaikan, “Technology has zero value. The people make change for negative value or positive value. Teknologi memiliki nilai moral yang jumlahnya nol. Manusia yang menentukan mau mengikuti pengaruh positif dari teknologi atau mengambil pengaruh negatif dari teknologi.”

Foto Bersama Para Panelis, Moderator, dan Panitia Skema. (Sumber : dokumentasi pribadi)

Foto Bersama Para Panelis, Moderator, dan Panitia Skema.
(Sumber : dokumentasi pribadi)

 

Jakarta, 14 Oktober 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: