Seminar Teknologi : Cerdas dan Bijak Berteknologi

Minggu, 09 Oktober 2016.

“Salam Skema, salam Peneliti. Salam Skema, salam peneliti. Salam skema, salam peneliti.” Seluruh peserta kompak berteriak yel-yel Skema. Suara mereka memenuhi dan memantulkan semangat di setiap sisi ruangan ini.

Sejak pagi tadi auditorium Balai Latihan Kesenian Jakarta Selatan yang berada di Jl. Asem Baris Raya, Tebet, Jakarta Selatan sudah ramai dipenuhi mahasiswa Universitas Indraprasta PGRI. Saya dan para peserta lainnya datang dalam rangka mengikuti Diskusi Panel dengan tema “Dengan Teknologi Kita Mati Tanpa Teknologi Kita Hampa” yang di selenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Studi Kajian Riset Mahasiswa (SKEMA) Unindra. Semua peserta yang hadir disini dengan harapan yang sama yakni ingin menambah wawasan keilmuan mengenai teknologi dan menjalin silaturahmi antar teman baik dengan teman  sudah dikenal maupun teman baru yang sebelumnya belum kenal  dari fakultas dan jurusan yang sama ataupun berbeda. Sebuah usaha sadar dan kongkrit untuk menjemput ilmu meskipun di hari minggu, dimana sebagian besar warga ibukota dan sekitarnya menghabiskan waktu dengan aktivitas liburan ke tempat wisata, berkumpul bersama keluarga, silaturahmi dengan sanak saudara, berolahraga bersama teman, dan aktivitas lain yang tujuannya adalah melepas penat dan jenuh setelah lima hari larut dalam rutinitas harian yang sama.

Sejak pembawa acara berdiri di panggung utama, semua perhatian peserta tertuju kepada pembawa acara. Semua peserta sudah mulai fokus, menyiapkan alat tulis untuk mencatat, membaca selembaran power point yang semenjak di meja registrasi sudah di bagikan oleh panitia, dan menyesuaikan diri menyimak jalannya acara diskusi ini. Hampir dari seluruh kursi terisi oleh peserta yang hadir dalam acara ini. Terlihat sedikit sekali kursi yang masih kosong, terutama kursi-kursi bagian belakang. Dengan kata lain, peserta sangat antusias mengikuti acara ini.

Diskusi Panel ini  terdiri dari tiga orang pembicara, yakni Bapak Ir. Prakoso, M.M. (Peneliti Kementerian Riset dan Teknologi, Direktorat Pendidikan Tinggi) membawakan tema “Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa”, Ibu Dra. Ike Anggraika M.Si. (Psikolog) membawakan tema “Dampak Positif dan Negatif Teknologi,” dan Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd membawakan tema “Peran Teknologi Mensukseskan Pendidikan”.

img_20161009_111531

Para Panelis dalam sesi acara tanya jawab.

Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa

Indonesia adalah satu negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Program Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah mulai berjalan saat ini semestinya mendorong kita untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ditambah dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat yang menuntut kita mau tidak mau mesti terampil dan bijak dalam menggunakan teknologi.

Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) adalah salah satu program yang diinisiasi oleh Kementerian Riset dan Teknologi dan Direktorat Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) untuk memfasilitasi potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, dan menerapkan ilmu dan teknologi kepada masyarakat luas. Sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi yakni, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdia masyarakat.

Bapak Ir. Prakoso, M.M. menyampaikan, “Teknologi yang ada saat ini adalah hasil olah pikir manusia untuk menciptakan alat yang tujuannya agar mempermudah menyelesaikan keperluan manusia itu sendiri. Life time teknologi saat ini sangat pesat. Namun perkembangan teknologi juga memiliki dampak negatif salah satunya anti social behavior yang menyebabkan seseorang menjauhkan orang yang ada di dekatnya padahal keluarganya sendiri dan mendekatkan orang yang jauh padahal orang lain tersebut bukan keluarganya dan saudaranya.”

Bapak Ir. Prakoso, M.M. dari Kemristekdiki menyampaikan materi Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa.

Bapak Ir. Prakoso, M.M. dari Kemristekdiki menyampaikan materi Dengan Teknologi Kita Tingkatkan Daya Saing Bangsa.

Beliau melanjutkan, “Ada delapan bidang teknologi diantaranya teknologi energi, teknologi ketahanan pangan, teknologi alat kesehatan dan obat, teknologi transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi material maju (nano teknologi),  teknologi pertahanan, dan teknologi sosial humaniora. Peningkatan penerapan di Indonesia dipengaruhi tiga faktor yaitu : sumber daya manusia, ketersediaan alat dan mesin yang sudah terstandarisasi, dan anggaran. Teknologi adalah sekedar alat bukan tujuan. Namun tanpa teknologi kita akan tertinggal dari negara-negara lain. “

Dampak Negatif Teknologi : Internet Addiction Disorder (IAD)

Perkembangan teknologi informasi terutama gadget, komputer, dan internet harus disadari memiliki dampak negatif dan positif. Hal ini harus disepakati bersama. Banyak kasus yang terjadi di masyarakat disebabkan penyalahgunaan teknologi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan orang lain mendapatkan kerugian. Ditambah lagi komunikasi virtual melalui media sosial saat ini telah menjadi gaya hidup (life style) mulai dari anak-anak yang masih Sekolah Dasar,  remaja dan orang tua. Teknologi bagaikan sebuah pintu yang di dalamnya memuat informasi positif dan negatif. Kalau kita menggunakannya dengan niat mencari wawasan, menjalin komunikasi dengan orang lain, mencari informasi untuk keperluan riset dan aktivitas-aktivitas lainnya, maka kita akan mendapatkan manfaat teknologi. Begitu pun sebaliknya. Jadi, di sini lebih ditekankan adalah para pengguna (user), seberapa bijak dalam berteknologi.

Ibu Dra. Ike Anggraika, M.Si. menyampaikan, “Indonesia adalah negara dengan pengguna internet urutan terbesar nomor tiga dunia. Dimana pengguna terbanyak internet di Indonesia adalah  usia remaja dan dewasa muda (berusia 18 s.d 30 tahun). Kita menyadari kehadiran teknologi membawa dampak positif dan negatif. Dampak positif berupa komunikasi lebih mudah, memberi kesempatan bekerja di rumah (shopping online, kursus online), belajar aneka keterampilan (make-up, memasak, menulis), dan perpustakaan digital. Lalu teknologi juga memiliki dampak negatif seperti keterampilan sosial rendah (seseorang lebih asyik dan bahagia dengan komunikasi virtual namun gugup dan antipati untuk interaksi sosial), cyber crime, cyber bullying, perkelahian, tidak suka membaca buku terutama buku-buku sastra karena membaca karya sastra itu dapat mengasah keterampilan perasaan (emosional) dan empati seseorang, dan yang terbaru adalah gejala Internet Addiction Disorder (IAD) yakni penggunaan internet atau komputer yang berlebihan.”

Beliau melanjutkan, “ Jenis IAD ada empat yaitu gaming, online social networking, blogging, internet shopping online. Dampak IAD diantaranya, (1) stress karena hakikatnya penderita IAD mengalami kehampaan dan  kesepian dalam hidup. Dia menikmati dunia hanya lewat virtual padahal untuk mengasah perasaan, simpati, empati, dan rasa peduli kita butuh interaksi dengan orang lain secara nyata. (2) Euforia berlebihan di depan komputer atau gadget. Penderita IAD sangat ekspresif dan senang di depan layar komputer atau gadget. Dia sering senyum sendiri dan tertawa sendiri di depan layar komputer atau gadget. Bila bertemu secara fisik dengan orang lain dia terlihat gugup, kurang percaya diri, dan cenderung menghindar. (3) Konsumtif, karena penderita IAD mudah terpengaruh teman di media sosial. Teman belaja online produk A, dia ikut-ikutan belanja dengan produk yang sama. Maka belanja online (shopping online) yang konsumtif dan hedonistik tanpa mampu berfikir yang matang berakibat pada banyak hutang di sana – sini.

Beliau menambahkan, “Solusi menghindari IAD adalah self control yang baik dengan cara membuat skala prioritas, membatasi diri dari situs-situs berbahaya, aktif aktivitas kampus seperti berorganisasi, dan ikut kursus pengembangan diri seperti kursus bahasa asing, kursus menjahit, dan kursus-kursus lainnya.”

Materi kedua ini menurut saya adalah materi yang sangat dekat dan relevan dengan aktivitas kita sehari-hari. Dimana banyak diantara kita lalai membuat skala prioritas dalam menggunakan teknologi terutama gadget dan internet. Kelalaian itu menyebabkan manusia modern hari ini tanpa tersadar menghabiskan waktu empat sampai enam jam sehari bahkan lebih dari itu  di depan layar gadget untuk aktivitas yang kurang produktif. Tanpa terasa tugas utama mahasiswa adalah belajar di kelas telah terganggu oleh gadget, tugas-tugas kuliah tidak selesai tepat waktu, dan waktu untuk membaca buku sudah jarang sekali kita dilakukan. Maka langkah mendesak yang mesti kita dilakukan adalah segera buat jadwal harian dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi dengan mempertimbangkan skala prioritas dan tentukan durasi waktu dari masing-masing aktivitas, pilih dan lakukan mana aktivitas yang mesti di dahulukan dan mana aktivitas yang masih bisa diakhirkan. Hal ini mesti segera dilakukan agar diri kita perlahan tidak lagi dikendalikan teknologi dan lalai berkepanjangan oleh pesona teknologi.

Ditulis di Jakarta, 11 Oktober 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: