Pare, I’M Coming

plant

Memulai Langkah Pertama

24 Agustus 2016. Hari ini hari Rabu. Hari dimana saya memulai perjalanan ke kampung Inggris, Pare, Kediri Jawa Timur. Malam hari sebelum keberangkatan, saya memeriksa kembali perlengkapan berupa pakaian, buku dan alat tulis. Saya juga mencetak kuitansi biaya pendidikan di kampung Inggris, e-ticket pesawat yang saya pesan dari Traveloka.com, dan e-ticket pulang kereta api.  Semua perlengkapan itu saya masukkan ke dalam satu koper dan tas ransel ukuran sedang yang biasa saya pakai untuk kuliah. Pagi harinya, dengan memantapkan niat dalam hati saya pamit dengan ayah dan ibu saya di rumah. Rute perjalanan hari ini ke bandara Soekarno-Hatta menuju bandara Juanda Surabaya, kemudian menaiki mobil travel menuju Pare, Kediri.

Pukul 12.40. Tiba di bandara hari sudah sangat terik. Saya mempercepat langkah ke arah counter Citilink di terminal 1C untuk keperluan check-in. Saat itu antrian di counter Citilink tidak terlalu panjang. Antrian berkisar lima sampai enam orang dari sekian counter yang tersedia. Ketika tiba giliran saya proses check-in cukup cepat karena saya sudah check-in online via website. Saya diminta membayar biaya tambahan atas pilihan kursi dekat jendela sebesar Rp 30.000. Saya menitipkan koper ke bagaso dan tas ransel tetap saya bawa ke dalam pesawat. Setelah itu seorang staff counter memberikan kartu boarding pass dan mempersilahkan saya memasuki ruang tunggu (boarding lounge). Jadwal keberangkatan pukul 13.40.

Boarding lounge siang itu cukup ramai. Hal itu terlihat dari kursi tunggu yang hampir terisi penuh oleh penumpang. Di dalam ruangan itu terdapat dua orang staff pelayanan informasi berada tepat di depan pintu masuk ruangan. Setiap sudut sisi ruangan ini terdapat sound system yang berfungsi memberikan informasi pesawat yang akan berangkat menuju destinasi tertentu. Ruangan ini juga terbagi dua sisi, sisi kiri dan sisi kanan. Masing-masing sisi terdapat kursi tunggu yang berjajar memanjang ke belakang dan dilengkapi satu televisi. Ruangan ini juga ruangan bebas rokok. Penumpang yang ingin merokok mereka sudah sadar diri untuk  segera ke luar ruangan. Saya duduk dan meneguk air untuk ke sekian kalinya sambil sesekali melirik ke layar televisi. Saya juga melirih jam tangan berkali-kali dengan sedikit gelisah. Sound system kembali bergema. Kini giliran mengenai informasi bahwa penumpang tujuan Surabaya segera memasuki kabin pesawat. Kedatangan pesawat telat tiga puluh menit dari jadwal keberangkatan.

Berawal dari Kegelisahan

Rencana belajar ke kampung Inggris dimulai dari kegelisahan saya setelah mengikuti pameran pendidikan tinggi Uni-Eropa (Scholarship Info Day) dan LPDP beberapa bulan lalu di Jakarta (bisa dibaca : https://imron26.wordpress.com/2016/06/15/eu-indonesia-scholarship-info-day-2016/). Dimana saat itu para pembicara dari beberapa perwakilan negara Eropa menyampaikan presentasi  menggunakan bahasa Inggris. Saya hanya mendengar tanpa bisa memahami karena minim vocabulary. Sederhananya saya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh para pembicaraBisa dihitung jumlah kata yang mereka sampaikan yang bisa saya pahami. Itu pun masih menerka-nerka. Dari sana saya menarik kesimpulan bahwa kemampuan bahasa Inggris saya mesti dikembangkan lagi, dilatih lagi, dan belajar lagi. Ditambah setelah mengikuti pameran pendidikan itu tumbuh niat dalam benak saya untuk melanjutkan pasca sarjana di luar negeri. Di mana untuk bisa mencapai itu harus didukung dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai.

Lalu tepat di tanggal 13 Juni 2016 saya mendaftar secara online program bahasa Inggirs  2 minggu di Pare dari sebuah website yang bernama eurekatour.com, jasa tour spesialis kampung Inggris. Saya memilih gelombang tanggal 25 Agustus sampai dengan 5 September 2016. Pertimbangan memilih gelombang tersebut karena bertepatan dengan libur kuliah semester genap. Bagi saya ini menjadi liburan kuliah yang berkesan karena dapat menambah keterampilan berbahasa Inggris dan menambah teman (networking).

Mengapa memilih kampung Inggris di Pare? Karena saya mempunyai beberapa guru bahasa Inggris dan kakak kelasa di SMA yang pernah menempuh pendidikan di Pare. Dari mereka, saya dapat informasi bahwa di Pare itu lingkungan untuk belajar bahasa Inggris itu sangat kondusif dan biaya pendidikan dan biaya hidup di sana sangat terjangkau. Hanya dibutuhkan niat yang kuat, kemauan keras, dan semangat untuk belajar dan berproses selama menempuh pendidikan di sana.

quotes-dari-film-20

Saya berusaha merealisasikan suatu keinginan bila keinginan itu mengandung manfaat untuk pengembangkan diri. Tentu itu pun setelah berfikir secara realistis. Dua bulan sebelum ikut program ini di mulai saya sudah mempersiapkan kebutuhan finansial dengan cara menyisihkan sejumlah uang dari gaji bulanan dan menghemat pengeluaran. Saya memahami bahwa setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi. Begitu pun saat saya memantapkah hati untuk belajar di kampung Inggris Pare, konsekuensinya saya mesti menghemat pengeluaran, merelakan untuk tidak pergi traveling ke suatu destinasi wisata, menahan diri untuk tidak membeli elektronik, aksesoris gadget dan lain-lain (kecuali buku, karena untuk buku saya sudah punya pengeluaran rutin tiap bulannya), memikirkan permohonan cuti kerja yang saat itu saya masih sangat ragu apa mendapat ijin atau tidak mengajukan cuti selama dua pekan untuk keperluan belajar, termasuk reaksi apa yang timbul dari teman satu tim di kantor, saya mesti mencari lebih jeli tiket pulang pergi yang murah untuk menekan jumalah pengeluaran. Kekhawatiran itu tetap ada dan saya rasakan. kebimbangan itu ada dan nyata bergejolak dalam hati yang akhirnya menimbulkan bibit-bibit keraguan apakah saya mesti mundur atau maju meneruskan rencana ini.

Satu hal yang membuat saya yakin untuk maju mengikuti program pendidikan ini adalah belajar bahasa Inggris ini adalah kemauan yang bersumber dari dalam diri saya sendiri, untuk kepentingan pengembangan potensi diri saya, dan hal ini juga akan mendukung rencana studi saya untuk masa akan datang. Kalau bukan diri saya sendiri yang mengembangkan diri, siapa lagi? Orang lain hanya bisa mendukung, berbicara, berkomentar ini itu. Lalu berlalu begitu saja. Tetapi proses belajar, proses menempuh pendidikan di lingkungan yang baru dan  jauh dari rumah, proses beradaptasi dengan sesama pelajar dari daerah yang berbeda, semua  itu saya yang mesti jalani melalui bertahap. Saya mau bergerak dari titik satu ke titik yang lain. Dari satu pencapaian ke pencapaian selanjutnya.

Saat ini yang saya butuhkan adalah kemauan kuat untuk mencoba mewujudkan semua rencana itu dan hati yang selalu berdoa memohon semoga jalan yang saya pilih diberi kemudahan oleh Allah swt. Doa yang selalu terucap mengalir lembut membasuh dinding-dinding hati menjadi penyemangat diri untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh.

Allahumma inna nas’aluka rizqon thayyiban, wa ‘ilman nafi’an, wa ‘amalan mutaqobbalan.

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu rizki yang baik, ilmu bermanfaat, serta amal-amal soleh yang diterima.”  aamin.

Jakarta, 24 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: