Merawat Cinta

ig tausyiahku

Menjaga lisan adalah salah satu dari akhlak dalam Islam. Karena lisan ada representasi dari hati yang bisa berdampak kebaikan dan bisa berdampak keburukan. Menjaga lisan memang sering kita dengar namun dalam praktik keseharian masih banyak orang yang hanya mendengar kata menjaga lisan tanpa memahami secara utuh bagaimana menjaga lisan yang sebenarnya. Dalam saat-saat tertentu boleh jadi hawa nafsu menguasai diri kita sehingga marah kian memuncak bahkan hingga akhirnya terucap dari lisan kita kata-kata yang kasar hingga membuat hati orang lain terlukai.

Melukai hati orang lain adalah salah satu bentuk kezaliman yang membuat hubungan antar sesama menjadi tidak harmonis. Karena di sana ada pihak yang merasa terlukai perasaannya apalagi ucapan yang keluar dari lisan orang yang sedang marah itu menyangkut masalah hak asasi atau kehormatan diri seseorang. Boleh jadi pelaku orang yang tidak bisa menjaga lisan adalah atasan kita, senior-senior kita di kampus, kakak kita sendiri bahkan teman kita sendiri. Perkataan buruk  yang mereka ucapkan keluar begitu saja merampas rasa nyaman orang-orang yang ada di sekitar kita.

Pada dasarnya setiap orang tidak suka dizalimi baik melalui lisan apalagi tangan. Karena itu setiap orang akan berusaha menghindar dari setiap bentuk kezaliman. Namun ada saat memang kezaliman itu sangat sulit dihindari yang pada akhirnya hanya rintihan doa yang tersisa. Doa orang yang terzalimi tidak akan ditolak oleh Allah.

Rasulullah saw bersabda: “tiga orang yang tidak akan ditolak doanya: orang puasa sampai ia berbuka, imam yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (H.r. At-Tirmidzi)

Dalam keseharian, setiap orang akan lebih nyaman berteman dengan orang-orang yang mampu mengendalikan lisan. Karena dengan begitu rasa tenang akan selalu hadir bersama mereka. Tidak ada rasa kekhawatiran akan ucapan-ucapan yang buruk yang tidak kita sukai. Karena dengan begitu kita bisa meluapkan setiap curahan hati dan bercerita tanpa takut akan dibocorkan atau disebarluakan ke orang lain. Karena yang ingin kita bicarakan adalah kehidupan tentang diri sendiri bukan kehidupan orang lain.

Yang paling utama dalam membangun hubungan antar sesama adalah rasa nyaman dan rasa percaya, entah itu hubungan antara adik dengan kakak, teman dengan teman, dan atasan dengan bawahan. Saat semua pihak dengan orang yang dekat dengan kita mampu menjaga lisan dan menjaga perasaan orang lain, makan hubungan itu akan semakin harmonis. Karena dari sana kita dipertemukan dengan orang-orang yang satu prinsip bahwa, kita sama-sama berkomitmen menjaga lisan dari perkataan-perkataan yang buruk dan saling menghargai setiap perbedaan. Selama kita mampu menjaga prinsip itu tanpa ada pihak yang mencederai prinsip itu, maka selama itu hubungan sosial bertahan lama dan semakin erat.

Rapuh atau tidaknya sebuah hubungan antar sesama bisa dilihat dari kejujuran setiap orang dalam membangun kebersamaan. Di saat memang kejujuran itu memancar dari rangkaian percakapan, rentetan peristiwa hingga menyentuh dinding kepedulian dan simpati yang berawal dari hati maka di saat itu maka hubungan sangat layak dipertahankan. Dengan kejujuran itu ego dengan sendirinya akan mencair berganti dengan perasaan sama-sama saling menghargai dan saling mendukung kepada kebaikan.

Memang ada masa dimana perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai menjadi pilihan akhir karena adanya tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab membela cita-cita dan idealisme hidup seperti, belajar di daerah yang sangat jauh atau ditempatkan dinas bekerja di suatu daerah di provinsi yang berbeda. Namun percayalah, kita bisa merawat hubungan dengan orang-orang yang kita cintai melalui doa-doa panjang dengan penuh rasa harap. Kita bisa menitipkan rindu melalui tulisan-tulisan diary dan melalui lembaran surat yang berisi ungkapan rindu dan pengalaman hidup di tempat yang baru, lalu surat itu  dikirim melalui jasa pengiriman surat. Percayalah, pada akhirnya rindu kepada orang yang kita cintai menjadi penyemangat untuk menyelesaikan pendidikan atau pekerjaan sesegera mungkin dan secepat mungkin hingga pada akhirnya kita dapat pulang bertemu dengan orang-orang yang juga menanti dan merindui kehadiran kita.

Jakarta, 06 Agustus 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: