Mutiara dalam Silaturahmi

Ketika hati ini merasa tertinggal di suatu tempat. Rasa haru memenuhi hati seketika itu juga. Semua rekaman memori ingatan datang tanpa diminta. Ini tentang sebuah pertemuan dengan orang yang spesial. Bertemu bukan sekedar menyapa. Bertemu bukan untuk sekedar bercerita dan berbagi canda tawa. Lebih dari itu, bertemu dengan mereka selalu menyisakan pesan tersendiri. Bertemu dengan mereka lebih untuk mendengarkan, menemani, dan menghadirkan hati.

Menatap wajah mereka membuat saya terenyuh dalam. Ada sebuah penyesalan mengapa saya terlalu sibuk selama ini dengan mencari kebahagiaan di luar sana? Padahal sungguh di rumah mereka perasaan bahagia selalu memenuhi hati. Padahal menyambung silaturahmi adalah kebaikan. Dan perintah kebaikan dalam agama adalah untuk di segerakan.

Saya melihat wajah mereka berbinar terang melihat saya datang. Dengan senyuman dan canda tawa semua larut dalam keakraban. Menghargai lebih dari sekedar hadir di sebuah ruangan tetapi menghargai adalah menghadirkan hati bersama orang-orang yang kita sayangi.

tfm

Waktu bersama yang dilalui membuat pembicaraan semakin erat. Seperti seorang ayah dan ibu yang sedang menasihati anaknya yang masih remaja. Semua obrolan mengalir begitu saja. Seperti halnya orang tua kandung, mereka pun memberi nasihat dengan bahasa yang lembut. Mereka ingin saya lebih baik dari yang sebelum. Lebih maksimal ibadahnya. Lebih semangat dalam belajarnya.

Ketika mereka menanyai kabar dengan tatapan mata yang penuh simpati. Sorot mata mereka seolah menyapa, “Nak, rumah ini adalah tempat tinggalmu dulu. Kamu pernah tinggal disini untuk waktu yang lama. Saat kamu memutuskan pergi  untuk mencapai impianmu yang luas, kami merelakan itu. Tetapi kami tidak berbohong, ada yang rasa kehilangan dari jiwa kami. Ada rasa khawatir melepas kamu di tempat yang jauh dengan kondisi lingkungan yang berbeda.”

Ketika berbagi menjadi prinsip hidup yang ditebarkan kepada orang-orang sekitar. Karena berbagi tidak pernah merugi. Karena dengan berbagi bukan soal ada atau tidak ada. Tetapi berbagi itu soal mau atau tidak mau.

Selalu ada kesan tersendiri bertemu dengan mereka. mulai dari cerita pengalaman mereka yang unik, berbagi networking, dan motivasi untuk terus mengembangkan diri dan tidak cepat puas dengan apa yang saat ini sudah dicapai.

Pada akhirnya …

Mereka hanya ingin ditemani dan didengarkan oleh anak-anaknya di saat mereka sedang ingin bercerita. Bukan sekedar bercerita, tetapi mereka rindu dengan kehadiran kita. rindu dengan senyum dan tawa kita. Rindu mendengarkan suara kita. Mereka hanya ingin menasihati kita supaya menjadi pribadi yang sholeh yang kelak akan mendoakan mereka hingga kapan pun. Mereka hanya ingin kita sukses dengan proses perjuangan yang hebat. Mereka hanya ingin kita menemui mereka tanpa diminta untuk berbagi kisah yang membuat hubungan semakin erat meskipun  jarak tempat yang kini sudah berjauhan.

Mereka hanya ingin menatap sang anak dengan tatapan yang tulus, lembut, dan penuh kasih sayang.  Mereka hanya ingin berpesan, “Nak, teruslah berlaku jujur dimana pun dan kapan pun, jadilah anak yang memiliki kepedulian sosial, tebarkan manfaat bagi sesama dengan cara temukan cara agar dirimu bisa bermanfaat kepada orang-orang sekelilingmu. Setiap orang memiliki cara tersendiri bagaimana dirinya bisa menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sekitarnya.”

Jakarta, 24 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: