Waktu dan Harapan

Dua istilah ini saling berkaitan. Waktu sebagai modal yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap manusia untuk mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Harapan menjadi penyemangat jiwa untuk bergerak dan melangkah meraihnya. Ada ungkapan, keberhasilan pada diri seseorang yang diraihnya hari ini adalah hasil dari kumpulan kerja keras, ketekunan, kesabaran, doa seseorang di masa lalu. As you sow, so shall you reap. Apa yang kamu tanam, itulah yang kamu petik.

50583-Francis-Bacon-Quote-Knowledge-is-power

Bermula dari sebuah beasiswa yang ditawarkan kepada saya saat  baru lulus SMP dari sebuah lembaga pendidikan. Beasiswa itu berupa pendidikan bahasa Inggris di BEC Kediri Jawa Timur. Beasiswa itu akan diberikan dengan dua syarat. Pertama, memiliki kemauan belajar dengan serius dengan catatan  menunda sekolah formal satu tahun (karena waktu belajar selama sembilan bulan). Kedua, dapat ijin dari orang tua. Untuk syarat pertama saya sudah bertekad untuk menerima beasiswa itu. Untuk syarat kedua, orang tua saya tidak memberi ijin karena pertimbangan tempat yang jauh dan usia saya yang saat itu masih lima belas tahun. saya yang masih polos menelpon ibu saya di Jakarta mengenai tawaran beasiswa ini.  Tetapi saya tidak berhasil meyakini beliau bahwa saya punya keinginan kuat belajar di BEC. Hasilnya saya tidak berhasil menerima beasiswa itu.

Saat itu semacam ada penyesalan dan kecewa dalam hati saya. Perlahan-lahan saya menerima kenyataan itu. Kemudian saya melanjutkan ke jenjang pendidikan  SMA. Dari sana saya belajar bahwa untuk kegiatan yang positif itu mesti di perjuangkan. Peluang beasiswa yang datang sekali untuk waktu tertentu. Saya memahami bahwa pendidikan akan mendatangkan banyak pilihan dan kesempatan yang lebih luas. Teringat pesan kakek saya, education is power. Pendidikan adalah kekuatan.

Tanggal 1 Juli 2016 ujian akhir semester (UAS) semester empat selesai menyisakan harapan akan nilai ujian yang memuaskan. Menjelang uas kali ini saya merasakan energi semangat belajar saya menurun. Saya seperti kehilangan motivasi dari dalam diri saya. Dimana motivasi dan semangat yang menyala-nyala itu saat saya mendaftar kuliah di universitas? Mengapa saya harus kuliah? Apa tujuan saya kuliah? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala saya persis menjelang uas tiba.  Semangat belajar saya turun. Saya merasa hampir di satu semester ini saya kurang memanfaatkan waktu. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar gadget di banding membaca buku, berangkat kuliah sekedar rutinitas tanpa ada efek belajar mandiri di rumah –membaca dan memahami kembali di rumah-, ke toko buku hanya untuk membeli buku tanpa di barengi untuk membaca dan memahami isi buku tersebut. Label mahasiswa yang melekat dalam diri saya itu seperti nama tanpa makna. Benar ungkapan, penyesalan itu datangnya di akhir.

Uas semester empat sudah usai. Kembali teringat salah satu pernyataan seorang dosen pemasaran 2. Beliau mengawali perkuliahan pada pertemuan pertama dengan nasehat  sederhana, “Apakah arti kehidupan bagi kalian hanya sekedar untuk survive (bertahan)? Kalian kerja kemudian mendapat gaji kemudian gaji itu hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan kalian, sekedar survive membayar cicilan motor, kemudian membayar SPP kuliah, membeli gadget, membeli pulsa lalu habis begitu saja? Bulan selanjutnya begitu juga. Berulang kembali. Seakan hidup ini hanya sekedar rutinitas tanpa makna yang membekas? Tanpa ada perubahan sikap dari hari-hari yang terlewat? Tanpa ada wawasan yang baru terserap?

“Kalau memang benar demikian, maka pola berfikir kalian tidak berkembang. Begitu-begitu saja. Kalian tidak pernah mau memberi lebih menjemput makna belajar yang sesungguhnya. Memberi ruang untuk mengubah konstruksi berfikir bahwa memaknai hidup adalah dengan memberikan upaya yang terbaik dengan segenap energi yang di miliki untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Salah satu jalan untuk menjadi  manusia yang bermanfaat bagi orang lain adalah melalui belajar yang sungguh-sungguh. Dan salah satu pintu belajar adalah dengan memperbanyak membaca.”

Saya terenyuh mendengar nasehat beliau. Saya berkesimpulan salah satu cara untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain adalah dengan belajar dengan sungguh-sungguh. Dengan begitu kita bisa berkarya melalui tulisan, melalui profesi yang berkompeten di bidangnya, dan melalui ide atau gagasan yang mencerahkan.

 

“Selalu mencari pengetahuan dan hanya setia pada kebenaran.”

Jakarta, 03 Juli 2016

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: