Sudah Membuka Lembar ke Berapa?

Al-Quran Picture

Menumbuhkan Semangat Belajar

Sejak kelas 4 SD saya tinggal di asrama (lembaga pendidikan) dan saya tumbuh besar di sana. Kehidupan di sana mengharuskan seluruh santri belajar membaca Al-Qur’an. Masih teringat, saat saya membaca Iqro’ (metode membaca al-quran), saya membacanya dengan tertatih-tatih. Awalnya memang dipaksa, karena sistem asrama begitu adanya. Di tambah di sini kami tinggal bersama dalam waktu yang lama. Tinggal di asrama bagi saya sangat memacu semangat berkompetisi dalam kebaikan. Motivasi belajar saya semakin terpacu saat ada santri lain yang memiliki prestasi yang membanggakan.

Begitu pun dengan membaca Al-Qur’an. Kami belajar bersama dari awal. Dari benar-benar tidak tahu huruf hijaiyah sampai kami mengenal namanya dan mengetahui cara pengucapannya. Dari sejak kami membaca iqro’ hingga kakak pembimbing memberikan kelulusan diperbolehkannya kami membaca Al-Qur’an. Kami belajar dengan sistem tadarrus. Ada yang membaca dan ada yang menyimak mendengarkan bacaan dan membetulkan bacaan-bacaan yang kurang tepat. Waktu belajar membaca Al-Quran  tiap ba’da Maghrib sampai menjelang Isya setiap hari di Mushollah asrama. Di sana ada kakak-kakak pembimbing yang mengajari adik-adik yang masih belum lancar membaca Al-Qur’an. Mereka dengan senang hati mengajarkan dan berbagi ilmu yang mereka miliki.

Kembali tentang kehidupan di asrama yang penuh kompetitif. Saya juga tidak mau ketinggalan dengan santri yang lain. Saya berusaha membujuk hati untuk terus berlatih membaca Iqro lembar demi lembar. Saya terus berlatih hari demi hari. Saya mencoba untuk percaya diri membaca halaman demi halaman. Saya mencoba memahami saran atas bacaan saya yang kurang tepat, sambil saya mengulang kembali saat waktu saya agak luang. Motivasi saya waktu itu sederhana, saya harus bisa membaca Al-Qur’an seperti santri-santri lainnya. Guru Al-Qur’an saya pernah berkata, “Cara yang tepat untuk bisa membaca Al-Qur’an adalah perbanyak berlatih membacanya. Semakin sering kalian berlatih membacanya, maka semakin cepat kalian pandai membacanya.”

Saat saya duduk di bangku SMA, saya mulai belajar lebih serius mengenai bagaimana membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Kami di pertemukan dengan Ustadz Abdullah Hafidzi. Sebelum memulai belajar ilmu tajwid, beliau menjalankan tes bacaan Al-Qur’an tiap santri. Setelah tes itu, saya semakin sadar bahwa bacaan saya masih banyak yang perlu di benahi. Maka sejak saat itu saya semakin semangat belajar ilmu tersebut agar saya bisa lebih baik dari sebelumnya. Metode belajar yang diterapkan oleh beliau adalah menjelaskan kaidah-kaidah ilmu tajwid seperti hukum bacaan nun mati atau tanwin, mim mati, mad, bacaan ro’ tebal dan ro’ tipis dan seterusnya. Setelah itu, kami diminta membaca ayat al-quran bergiliran dan menyebutkan hukum bacaan dari ayat yang tadi dibaca.

Saya melihat metode pembelajaran beliau cukup efektif dalam memberi pemahaman dalam teori dan praktek. Learning by doing (belajar sambil mengamalkan). Secara kaidah ilmu tajwid, kami bisa tahu dengan detail hukum bacaan berikut dengan cara membacanya. Karena beliau memberi contoh cara membacanya. Metode belajar seperti ini disebut dengan sistem talaqqi’ yaitu belajar face to face (satu per satu) antara murid dan guru berhadapan langsung. Menurut saya sistem ini adalah metode yang efektif untuk belajar membaca Al-Qur’an. Kita bisa belajar teori dan praktek sesuai yang diajarkan oleh guru dan pada saat yang sama guru mendengarkan bacaan kita, saat ada bacaan yang kurang tepat, guru tersebut membenarkan bacaan kita saat itu juga.

Saat itu saya mengerti bahwa membaca Al-Qur’an bukan hanya sekedar bisa membaca saja. Tetapi membacanya adalah salah satu kebaikan yang memiliki banyak keutamaan. Membacanya adalah bukti komitmen seorang muslim untuk taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.Dengan belajar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, saya bisa berbagi dengan ilmu yang saya miliki dengan orang-orang di sekitar saya.

Nasihat Untuk Diri

Allah swt. berfirman : “Dan bacalah Al-Qur’an tartil.”l (surat Al-Muzammil ayat 4)

Rasulullah saw bersabda :

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar membaca Al-Qur’an dan  mengajarkannya.”

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya, Allah memberimu pahala apabila membacanya dengan sepuluh kebaikan atas setiap huruf yang dibaca. Aku tidak mengatakan kepadamu alif-lam-mim adalah satu huruf, tapi alif adalah satu huruf, lam adalah satu huruf, dan mim adalah satu huruf.” (h.r. al-Hakim)

Dalam buku Diriku, Bagaimana Kabarmu?, Penerbit Tarbawi Press,  karya Muhammad Lili Nur Aulia menyebutkan, “Faktor kebiasaan penting dalam membentuk pribadi seseorang. Seseorang yang terbiasa melakukan kebaikan, ia akan begitu mudah dan mungkin akan spontan melakukan kebaikan itu. Ia justru merasa tidak nyaman, bila kebaikan yang biasa dilakukannya, tidak dilakukan. Jiwa kita umumnya, tidak mudah melakukan ketaatan secara sukarela, melainkan setelah di tempa dengan pembinaan dan pelatihan, melalui pembiasaan. Sampai kita merasakan ketaatan itu menjadi satu sikap yang ringan dilakukan.“

Melakukan sesuatu yang jarang dilakukan memang tidak mudah. Tetapi itu bukan suatu kemustahilan. Tidak kenal kata terlambat untuk memulai kebaikan. Rasa cinta kita terhadap al-quran adalah faktor utama membangkitkan keinginan untuk membacanya. Membaca Al-Qur’an adalah salah satu cara mengingat Allah (dzikir) yang terbaik. Kita dapat ketenangan jiwa setelah membacanya dan hati kita akan bersih dari noda-noda yang melekatnya. Karena setiap kebaikan itu dapat menghapuskan dosa-dosa kita. Setelah membacanya, kita punya momen untuk berdoa dengan penuh rasa harap meluapkan isi hati kita. Setiap kebaikan yang kita kerjakan, kita selalu bisa berdoa mengharapkan yang ingin kita dapatkan.

Hari ini banyak orang lebih sibuk asyik main gadget,  menghabiskan waktu dengan status di sosial media, daripada mengejar kebaikan yang ringan dilakukan seperti membaca Al-Qur’an. Padahal dari sekian kesibukan itu ada agenda yang mesti kita prioritaskan. Mereka perlahan terlalaikan dengan kecanggihan teknologi.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kemarau yang melanda hati adalah kelalaian. Kelalaian itulah hakikat kekeringan dan kemarau yang menimpanya. Selama seorang hamba mengingat Allah dan mengabdikan diri kepada-Nya niscaya hujan rahmat akan turun kepadanya sebagaimana layaknya air hujan yang terus menerus turun. Namun apabila ia lalai maka ia akan mengalami masa kering yang berbanding lurus dengan sedikit banyaknya kelalaian yang terjadi padanya. Dan apabila ternyata kelalaian telah berhasil menjajah dan menguasai dirinya maka jadilah ‘buminya’ itu hancur dan binasa …

Mulai dari diri sendiri, saya mencoba membangun kembali kebiasaan membaca Al-Qur’an. Mempertebal tekad dan berusaha membacanya setiap hari. Sedikit tidak apa-apa dengan catatan membacanya dengan berkelanjutan. Karena saya percaya membaca Al-Qur’an itu mesti ditumbuhkan dari hati.

Bagi saudaraku yang ingin bisa membaca Al-Qur’an, segera temukan motivasi terbaik mengapa kita harus membaca Al-Qur’an. Dengan motivasi itu, kita akan selalu bisa menjaga komitmen untuk membacanya tiap hari.

 

 

Selesai ditulis,

Jakarta, 14 Maret 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: