Lisan adalah Cermin Hati

 

ummi

Dimanapun kita berada bila kita mampu menghargai orang lain, kita akan disegani oleh orang-orang di sekitar kita. Hidup itu sederhana. Yang sulit adalah saat diri kita tidak mau berbuat jujur mendengar suara hati kita.”

Dua nasihat itu saya dengar dari guru saya. Sekilas mungkin kita sering mendengarnya. Namun bila kita memahami lebih dalam, dua kalimat itu sungguh memberikan nasihat yang luas. Nasihat itu membuat kita sadar untuk mengambil langkah mulai dari diri sendiri, apakah selama ini kita telah menghargai orang lain melalui sikap dan perkataan kita? Apakah kita sudah membiasakan untuk berkata yang jujur? Atau justru kita lebih memilih gengsi mengabaikan hak-hak orang lain yang membuat hati orang lain terluka melalui ucapan kita tanpa kita sadari?

Bermula dari lisan ini orang bisa memberi nilai pada kepribadian kita. Dari lisan, kita bisa mengenal mana orang-orang yang mampu menjaga perasaan orang lain dan mana orang-orang yang berkata semaunya tanpa menghargai harga diri orang lain. Tentu kita akan memilih berteman dan bersahabat dengan orang yang mampu mengendalikan lisannya. Karena dengan begitu kita bisa nyaman bersamanya. Perasaan dan harga diri kita akan terjaga dari celaan dan kata-kata yang tidak layak kita dengar. Kita bisa lebih ekspresif menunjukkan rasa respek kita kepada mereka.

Kita bisa menyimpulkan dengan sendirinya, bahwa orang-orang yang terbiasa berkata kasar, berkata kotor, berkata merendahkan orang lain (menusuk orang lain melalui lisannya) merupakan cerminan hati mereka yang kotor yang terbelenggu dengan sifat-sifat negatif yang melekat pada hati (bukan penyakit fisik), seperti iri, dengki, dan seterusnya. Karena memang pada hakikatnya apa yang keluar dari lisan adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati seseorang. Bila hatinya bersih dan jernih, maka ucapan yang keluar dari lisannya secara otomatis akan baik. Bila hatinya kotor, terbelenggu dengan sifat-sifat negatif hati, maka kata-kata, ucapan yang kita dengar seringkali membuat telinga kita panas bahkan tidak jarang hati kita ikut terpancing emosi.  Orang lain bebas berucap, bebas berbicara semaunya, tapi kita selalu punya hak untuk mengambil sikap atas apa yang kita dengarkan dari ucapan orang itu. Kita punya harga diri yang harus kita jaga dan harus kita lindungi.

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian dari berprasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.  Sesungguhnya Allag Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. “(Q.s Al-Hujurat : 12)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya hadits no. 10 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma  bahwa Nabi Muhammad saw.  bersabda : “Seorang muslim adalah seseorang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

menjaga lisan

Mulailah benahi hati kita. Menyadari bahwa setiap kita ingin dihargai dan dihormati, maka dari itu mulailah kita menghargai orang lain melalui bertutur kata yang baik, berkata yang jujur, dan berkata yang membuat orang senang mendengar ucapan kita. Mulai dari yang terkecil yang bisa kita lakukan seperti memberi salam antar sesama saat berjumpa di manapun itu, memilih kata-kata agar layak di dengar orang lain (berfikir sebelum berbicara), selektif memilih teman (karena teman punya faktor yang kuat yang bisa mempengaruhi perilaku kita), lebih baik diam dari pada berkata yang tidak baik.

Dengan begitu, dimanapun kita berada kita akan selalu dihargai kehadiran kita oleh sesama. Setiap orang bisa berubah. Kesiapan memulai lembaran baru dengan keyakinan dan optimis yang kuat akan membuat kita percaya diri bahwa kita bisa berubah menjadi lebih baik. Setiap kita punya masa lalu. Masa lalu ada yang baik dan ada masa lalu yang buruk. Mari kita tutup lembaran masa lalu yang buruk itu kemudian kita buka lembaran baru yang esok lusa semoga lembaran itu memberikan keberkahan dari usia kita selanjutnya.

Bila pernah kita berkata kasar atau perkataan kita pernah menyakiti perasaan orang tua, saudara kandung, teman di sekolah, segeralah meminta maaf kepada mereka. Temui mereka dengan rendah hati dan sampaikan niat baikmu itu. Tidak perlu malu apalagi gengsi. Percaya diri bahwa langkahmu untuk menemui saudaramu dalam rangka kebaikan. Meminta maaf adalah suatu kebaikan. Bukan kah kebaikan itu harus di segerakan?

 

Selesai di tulis di Jakarta, 8 Maret 2016

 

 

Advertisements

One thought on “Lisan adalah Cermin Hati

  1. inda chakim March 9, 2016 at 4:47 pm Reply

    kadang suka gt sih, hhhh,
    btw makasih renungannya yak, harus segera berbenah hati mah saya kalau gt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: