Menjemput Mimpi

 

1000-miles

Sewaktu saya duduk di bangku SMA saya punya mimpi untuk melanjutkan kuliah di salah satu kampus di Jakarta. Saya sudah membayangkan suasana belajar di kampus, fokus hanya belajar dan belajar. Bisa mendapat prestasi akademik terbaik. Namun seiring berjalannya waktu, apa yang menjadi harapan belum tercapai sesuai waktu yang diingini. Bukan saya tidak berusaha mencapainya. Tetapi ada faktor yang lebih prioritas dari itu. Faktor itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai anggota di dalam keluarga. Saya sempat sedih dan iri melihat teman-teman SMA saya yang bisa kuliah di kampus favorit dan belajar dengan tenang tanpa memikirkan biaya kuliah karena orang tua mereka membiayai.

Saya sadar saya tidak harus bersedih melihat kenyataan itu. Sejak itu saya bertekad saya akan kuliah dengan biaya hasil saya kerja. Saya tidak mau meminta dan merepotkan orang tua saya. Selesai SMA, saya mendapat beasiswa pendidikan (semacam short course) program Teknik Komputer dan Jaringan di salah satu lembaga pendidikan di kota Depok selama enam bulan. Selesai mengikuti short course itu saya di terima bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Dari sini saya kembali menata diri untuk menjemput mimpi-mimpi yang ingin saya raih. Saya mulai merencakan untuk kuliah. Dari gaji per bulan yang saya terima, saya sisihkan untuk biaya kuliah. Saya mendaftar di universitas di Jakarta (tidak jauh dari tempat kerja saya) mengambil program kuliah sore.

Ada rasa senang bisa melanjutkan studi di perguruan tinggi dengan biaya sendiri. Dengan biaya sendiri itu saya menjadi lebih semangat untuk belajar. Awalnya saya mengira kerja sambil kuliah mudah.  Paling persiapan finansial dan waktu aja buat bisa kuliah. Itu saja. Tetapi tidak demikian. Jauh dari perkiraan saya sebelumnya. kuliah selepas pulang kerja itu butuh persiapan mental dan fisik. Memasuki dunia kampus kita harus siap berfikir, siap menerima ilmu, siap berinteraksi dengan dosen. Dan yang paling penting kita bisa menjadi pendengar yang baik yang mau menghargai orang yang sedang berbicara di depan kita.  Persiapan fisik disini dimaksudkan bagaimana saya mencoba mengatur waktu dan pola aktivitas agar tubuh bisa fit saat kerja dan kuliah. Pulang kuliah sudah malam. Saya harus pandai-pandai mensiasati aktivitas agar tidak membuat tubuh sakit karena overload aktivitas harian.

Bila di tanya ngapain sih kuliah? Kan udah kerja kantoran dengan gaji yangi mencukupi? Memang nggak capek yah kerja sambil kuliah? Saya mencintai ilmu pengetahuan dan saya ingin mengembangkan diri saya menjadi lebih baik. saya tidak ingin berpuas diri merasa cukup dengan apa yang saya capai saat ini. Saya ingin menjemput mimpi-mimpi yang saya rencanakan semenjak saya duduk di SMA. Saya selalu meyakini dan ber-husnuzhan Allah swt. Maha Melihat dan Maha Memberi Pertolongan bagi hamba-Nya yang meniti jalan kebaikan.

Capek pasti. Ribet tugas makalah ini itu. Pusing tentu. Tapi saya sadar inilah yang dinamai berproses, berproses dalam mengembangkan wawasan, berproses dalam menyikapi tugas yang banyak, berproses mengatur keuangan juga waktu belajar, berproses agar menjadi pribadi yang bijak dengan kedewasaan. Saya berusahan dan terus berusaha mencintai proses itu. Menikmati setiap jengkalnya supaya dengan mencintai proses itu terbangun energi positif dan mengurangi sikap berkeluh kesah.

teruslah-menuntut-ilmu

“Kalau kalian hadir kuliah hanya untuk mengisi waktu kosong kalian -daripada ngobrol, ngopi mending kuliah. Lebih baik kalian tidak usah kuliah. Kaliah hadir di ruangan ini tapi kalian acuh dan tidak peduli dengah kegiatan yang ada di kelas. Percuma kalian kuliah. Buang-buang waktu kalian. Lebih baik kalian istirahat di rumah, lebih enak, bisa santai dan bermanfaat besoknya kalian bisa bekerja kembali dengan tubuh yang fit.” suatu hari di semester satu, seorang dosen Sejarah Pemikiran Ekonomi memberi nasehat kepada kami di kelas.  Saya terenyuh mendengar nasehat itu. Hati saya membenarkan. Saya meluangkan waktu untuk kuliah selepas pulang kerja dan mengorbankan waktu yang semestinya saya bisa gunakan untuk beristirahat di rumah. Bila tidak mendapat ilmu apa-apa, kuliah menjadi suatu yang sia-sia.

Saat ini saya sudah tahun ke dua di kampus ini. kampus yang sudah saya anggap sebagai rumah bagi saya. Di sini kami belajar bersama dengan rentang waktu yang lama. Dari kebersamaan itulah bagian dari proses belajar. Saya belajar menghargai pendapat, saya belajar untuk bertutur kata yang sopan, saya belajar menerima karakter sesama, saya belajar bekerja sama dan tanggung jawab. Bersama mereka, saya merasa ditemani belajar,  kami  saling menghargai satu dengan yang lainnya. bersama mereka juga saya selalu menemui rasa kasih sayang dan kepedulian. Bersama mereka, selalu ada ruang bagi kami untuk berbagi cerita yang seru juga menghangatkan.

 

 

Selesai di tulis di Jakarta, 23 Februari 2016

Advertisements

2 thoughts on “Menjemput Mimpi

  1. Imam Abil Fida May 3, 2016 at 2:42 pm Reply

    Selalu tertarik dengan hal yang berbau mimpi.. Semangat.

    • imron prayogi May 3, 2016 at 10:00 pm Reply

      Salam kenal imam. Thanks sudah berkunjung ke blog sya.
      Benar imam, karena dengan mimpi itu membangkitkan semangat dan menguatkan motivasi meraih impian tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: