Rindu di Penghujung Senja

Ini adalah Challenge menulis OWOP (One Week One Paper). Temanya STORY BLOG TOUR PART 2.
Setiap  member yang sudah diberi urutan menulis melanjutkan cerita sebelumnya .
Saya Imron Prayogi mendapatkan giliran untuk membuat episode tujuh dalam serial STORY BLOG TOUR PART 2 ini.

 

 

Hari semakin sore. Terik matahari perlahan menghilang. Berganti cahaya kemerahan-merahan berpadu warna emas langit sore ini. Gumpalan awan sudah tidak nampak lagi. Angin sore itu menerpa dua orang yang sedang duduk di depan teras surau itu.

“Ini Pak, foto ibu saya Pak. Sebelum Ibu saya wafat, beliau berpesan,  “Pergilah ke dusun ini dan temuilah orang yang selama ini kamu cari. Orang itu adalah ayahmu. Sampaikan permintaan maaf dari Ibu kepada Bapakmu selama ini ibu belum bisa berbakti kepada suaminya.”

“Aku ingin menemui orang itu sebagai bukti baktiku kepada ibuku. Pesan itu menjadi wasia bagi saya. Bahwa wasiat itu adalah amanah bagi saya yang mesti saya tunaikan. Aku sangat merindui ayah. Sejak dulu, saat saya masa kanak-kanak, saat saya tumbuh remaja… rasa rindu itu masih tetap sama. Tidak pernah berkurang sedikitpun. Bantu aku Pak, mencari dan menemui orang itu. aku mohon…” ucap Karman dengan wajah penuh harap.

Kardi menerima foto dari anak muda tersebut dengan tangan bergetar. Itu adalah foto pernikahan dirinya dengan Marni. Matanya menghangat.

Marni… ucapnya lirih.

Sempurna sudah rasa rindu dan sedih menyatu dalam diri Kardi. Luka lama yang sudah dibalutnya dengan rapi sekarang menyeruak berubah menjadi rindu yang sangat mendalam. Cepat sekali. Orang yang selama ini dicintainya telah berpulang untuk selama-lamanya.

“Marni…. ibumu…. “ suara Kardi tertahan. Nafasnya menjadi tidak beraturan.

“Dia adalah ….. istriku. Foto yang kamu tunjukkan ini adalah foto pernikahan bapak dengan ibumu.” Tubuhnya langsung memeluk anak muda yang ada dihadapannya berucap lirih,

“Nak, akulah orang yang selama ini kamu cari. Akulah ayahmu. Maafkan ayah selama ini membiarkan kamu dan ibumu menderita. Maafkan aku tidak mendampingimu dan mendidikmu sejak kamu masih kecil.”

Karman pun memeluk erat tubuh orang tua yang baru ia tahu bahwa orang tua itu adalah ayahnya. Air mata Karman kian menderas. Ada rasa bahagia dan haru yang kini hadir di hatinya. Rindu bertemu ayahnya sore itu menjadi kenyataan.  Rasa lelah yang menderanya membuahkan hasil sesuai dengan harapannya.

***************

Dua puluh tahun yang lalu.

Kejadian ini bermula dari kecelakaan yang menimpanya saat ia sedang mengendarai mobil. Kecelakaan yang membuatnya harus dirawat berbulan-bulan bahkan hampir genap satu tahun. Saat itu hari-harinya dilalui dengan resah. Bukan hal mudah menerima kenyataan pahit seperti itu. Ia yang sebelumnya bisa beraktivitas dengan penuh enerjik dan cekatan berubah menjadi seseorang yang terbaring lemah dengan luka-luka di rumah sakit dengan waktu yang lama.

Pada bulan kesebelas, Kardi diperbolehkan rawat jalan. Ia sudah diberikan izin untuk pulang oleh dokter. Hatinya berbunga-bunga mendengar kabar baik itu. bibirnya seketika tersenyum lebar. Begitu pun dengan Marni. Marni jadi lebih semangat merawat Kardi di rumah. Kardi dan Marni saling menatap dan tersenyum lebar.

Tiba di rumah. Kardi mengingat seseorang yang telah banyak membantunya saat dirinya dirawat di rumah sakit. Pak Ilham namanya. Segera dirinya mengetik dan mengirim sms kepada Pak Ilham memberi kabar ia saat ini sudah memberi diberi izin oleh dokter untuk rawat jalan. Ia sudah kembali ke rumah.

Pak Ilham adalah orang yang pertama menolong dan membawa dirinya ke rumah sakit saat kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Dari Pak Ilham dia mendapat nasehat untuk terus sabar, untuk terus optimis, untuk terus berdoa. Usia pak Ilham empat puluh lima tahun. Dia adalah seorang guru agama Islam di Madrasah Aliyah Negeri. Dia yang mengajari tata cara shalat dalam kondisi sakit. Sesekali dia dan istrinya menjenguk Kardi sekaligus membawakan buku-buku Islami seperti Qishatul Anbiya (Kisah Para Nabi) Karya Imam Ibnu Katsir dan  Laa Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni.

“Pak Kardi, sirami jiwamu dengam memprioritaskan perintah Allah kapan pun dan dimana pun. Dengan begitu Allah akan menjaga dan merahmatimu. Diriwiyatkan Imam Tirmidzi  dan Imam Ahmad dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah sawa bersabda : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu.”   Dengan begitu Allah akan membimbingmu menuju jalan-jalan kebaikan, serta mencegahmu dari segala keburukan.” Pesan Pak Ilham saat menjenguk Kardi di rumah sakit.

Pagi hari Kardi bangun dengan wajah semangat. Ia merasa lebih baik setelah rawat jalan ini. Emosinya juga lebih stabil. Energi positif hadir di rumahnya dan membuat ia juga lebih optimis. Mentalnya untuk sembuh kian menguat. Kaki dan tangannya sudah bisa digerakkan walaupun masih sangat kaku.

Ternyata bahagia yang dirasakan Kardi hanya sebentar. Pagi itu strinya meninggalkannya sendirian. Ia sekuat tenaga menahan Marni agar tidak pergi. Tetapi semua itu percuma. Marni tetap bertekad pergi entah kemana .Tanpa memberi kabar mau kemana dan kapan akan kembali. Hatinya tidak kuat menerima kenyatan ini. dan dia merasa tidak akan pernah kuat ditinggalkan istrinya yang sangat dicintainya. Mentalnya menjadi lemah dan jatuh.

Pagi itu sinar matahari menerpa wajah Kardi yang sendu. Raut sedih di wajahnya mengisyaratkan betapa dalam luka yang menggores hatinya. Saat itu juga jatuh terduduk untuk ke sekian kali. Semangat hidupnya hancur luluh lantak menerima kenyataan pahit. Berkali-kali mengusap wajah dengan kedua tanganya dengan isak tangis yang kian sesak. Goresan lukanya menyisakan murung dan tak ada gairah semangat hidup lagi di wajah Kardi.

Sore hari saat Kardi  duduk di sofa ruang tengah terdengar seseorang mengetuk pintu. Apakah itu kau Marni?

Bukan. Tamu itu bukan Marni. Tamu itu adalah Pak Ilham. Pak Ilham sendiri datang mengunjungi Kardi. Kardi mempersilahkan Pak Ilham masuk ke rumahnya. Kardi berusaha tersenyum dan menyembunyikan wajahnya yang sedih seolah-olah semua baik-baik saja. keduanya saling berbincang-bincang membahas kesehatan Pak Kardi.

“Bila Pak Kardi butuh biaya untuk biaya chek up berkala dan obat-obatan, Bapak bisa hubungi saya. Pak Kardi tidak perlu sungkan. Pak Karman tidak pernah saya anggap orang lain dalam kehidupan saya. Pak Kardi sudah saya anggap sebagai saudara saya sendiri. Bila Pak Karman butuh cerita, maka ceritalah, saya siap mendengarkan semuanya.”

Hati Kardi terenyuh mendengar kalimat itu. Ia tahu Pak Ilham adalah orang yang membuatnya mengenal Allah lebih dekat. Dia adalah orang yang saleh dan tulus membantu siapa pun. Maka dengan suara bergetar,  Kardi menceritakan kesedihan yang melandanya pagi tadi. Satu-dua dia terdiam cukup lama saat menceritakan itu. Pak Ilham mendekat duduk disamping Pak Kardi mencoba menenangkan. Membiarkan Kardi meluapkan semua yang dirasakannya.

“Pak Kardi, bersabarlah dan jangan pernah berputus asa. Jadikan kesedihan hari ini menjadi cermin yang menasihati langkah. Hidup itu seperti kapal yang mengarungi di lautan. Kita tidak pernah tahu, kapan dan dimana gelombang laut itu membanting kita, membanting seluruh kehidupan kita. Membuat kita lumpuh akan mimpi-mimpi kita dan melenyapkan semangat hidup kita. Membuat kita jatuh terduduk.” Ucap Pak Ilham dengan wajah prihatin.

“Jadikan kesedihan, duka, luka hari ini sebagai modal untuk menjadi pribadi yang kuat di masa mendatang. Jadikan hal itu agar Pak Kardi kembali taat, tidak lemah sedikit pun. Tidak memilih jalan yang lain. Apa gunanya sedih dan luka tapi tidak membuat kita lebih tunduk kepada Allah Yang Maha Menghendaki. Tidak membuat kita kuat mengatasi rongrongan hawa nafsu. Tidak memmbuat kita tangguh dalam menghadapi lingkungan yang mendesak kita kepada jurang dosa. Yuk, mari sikapi masalah hari ini bersama-sama. Pak Kardi harus tetap semangat, harus tetap optimis, harus tetap ceria, dan harus melanjuti kehidupan ini dengan gagah.”  Pak Ilham dengan mencoba menenangkan.

Sejak hari itu Kardi pindah di sebuah rumah yang berdekatan dengan rumah Pak Ilham. Kardi menjual rumah lamanya. Uang dari hasil menjual rumah lama miliknya itu dipergunakan untuk membeli rumah yang sekarang di tempatinya. Dia tidak sampai hati melanjuti hidup di rumah lamanya. Karena di rumah lamanya itu seperti bayangan Marni selalu menghampirinya. Setiap sisi rumahnya membuatnya teringat dengan Marni. Membuatnya tidak bisa move on dari kesedihan dan luka lamanya. Dia bekerja di rumah Pak Ilham sebagai tukang rawat kebun. Malamnya dia belajar membaca Al-Qur’an dari Pak Ilham.

3 tahun kemudian. Pak Ilham dan keluarga pindah ke pulau seberang. Dia ditugaskan oleh Kementerian Pendidikan untuk mengajar disana. Sebelum berangkat Pak Ilham berpesan kepada Kardi.

“Ini saya menintipkan uang untuk membangun surau. Tanah lapang yang ada di depan rumah saya adalah tanah milik saya. Saya minta tolong Pak Kardi yang saya tunjuk sebagai ketua panitia pembangunan Surau tersebut. Dan ini saya berikan surat perijinan dari Pak RW dan Pak Kepala Desa. Mereka sudah memberikan izin untuk pembangunan Surau.” Pak Ilham memberikan uang  senilai seratus juta rupiah dan berkas perizinan pembangunan Surau.

Baik Pak Ilham. Saya akan menjalankan amanah pekerjaan ini.” Kardi menerima uang tersebut. Wajahnya agak terkejut tapi dia berusaha bersikap tenang.

Enam bulan selesai pembangunan Surau itu. Kardi berusaha melaksanakan amanah dari Pak Ilham dengan penuh tanggung jawab.

***************

Dua orang di teras Surau itu memiliki perasaan yang sama. keduanya sedang berbahagia. Keduanya sudah menemukan orang yang dicintai sekaligus dirindui selama ini. Waktu yang menjawab doa dua orang itu menjadi kenyataan.

“Anakkku, maukah kau tinggal bersamaku. Menemani di sisa-sisa hari yang ku miliki. Mendampingi orang tua sepertiku ini?”

Dengan senang hati a…yahku. Ayah, hari ini aku pulang ke rumah ini, ke hati ayah.” ucap Karman sediki bergetar.

Keduanya kembali tersenyum. Benar sekali, sejauh-jauh diri kita pergi. Tetap kita rindu akan pulang. karena di sana letih terobati. Karena di sana tempat kita berteduh dari segala kepenatan dunia. karena di sana ada orang tua yang selalu memberikan rasa nyaman dan kita merasa terlindungi oleh mereka.

Selesai.

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 31 Januari 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: