Satu Hari di Kampung Baduy

Pemandangan rumah kampung Baduy

Pemandangan rumah kampung Baduy (dokumentasi : Imron)

Tulisan ini dibuat melanjuti dua cerita sebelumnya :

1.Dalam Perjalanan ke Baduy (Bagian 1)

2. Menyapa Bukit Gunung Baduy (Bagian 2)

Sampai di kampung Baduy dalam hari sudah siang. Kami disambut pemandangan warga penduduk baduy  dan rumah-rumah panggung yang berderet rapi sepanjang jalan.  Suara deras sungai juga mengiringi langkah kami memasuki kampung ini. Kami duduk di teras rumah penduduk sambil menyandar dan meluruskan kaki. Saya menghela nafas dalam. Lega sekali sudah sampai tempat yang menjadi tujuan kami. Mencoba menormalkan kembali helaan nafas. Siang itu diwarnai wajah-wajah lelah dari seluruh peserta.

Panitia segera membagi kelompok yang akan menempati rumah warga. Satu rumah diisi belasan peserta.  Disini kami akan bermalam. Ini kali pertama bagi saya memasuki rumah panggung dimana seluruh bahan bangunan ini terdiri dari bambu dan kayu. Di dalamnya tidak ada lampu listrik. di setiap ruangan ada botol-botol kaca yang berisi madu hutan. madu itu untuk dijual kepada pengunjung yang datang ke kampung ini. Hanya ada tumpukan kayu bakar dan sepasang batu berukuran setengah meter di atasnya ada panci untuk memasak. Pintu rumahnya berupa bambu-bambu yang saling berukiran. Disini kami berteduh dari panasnya matahari siang ini.

Sore hari datang.  Agenda sore ini adalah diskusi peserta dengan pimpinan suku Baduy. Diskusi ini dilaksanakan di sebuah lapangan. Semua peserta berdiri mendengarkan sambutan dari tokoh masyarakat suku Baduy. Beberapa tokoh masyarakat Baduy ini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar dan baik. Berbeda dengan sebagian besar masyarakat baduy yang kami temui masih belum bisa berkomunikasi dengan bahasa sunda. Mereka masih berkomunikasi dengan bahasa sunda. Ini yang menyebabkan komunikasi kami dengan mereka kurang lancar.

Setelah sambutan-sambutan dari tokoh masyarakat, dibuka forum tanya jawab. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan. Saat diskusi ini gerimis turun. Beberapa buku yang dibawa peserta untuk membuat catatan basah. Semakin lama gerimis berubah menjadi hujan ringan. Melihat kondisi seperti ini, Ibu Junita (dosen mata kuliah Antropologi) berinisiatif menutup forum diskusi ini setelah forum tanya jawab selesai tentunya. Walaupun bisa dibilang forum diskusi sore ini sangat singkat namun tetap kami mendapat informasi mengenai budaya masyarakat suku Baduy ini.

 

Sungai yang jernih mengelilingi kampung Baduy (dokumentasi : Imron)

Sungai yang jernih mengelilingi kampung Baduy (dokumentasi : Imron)

Pemandangan sore yang mengesankan. Gerimis yang membasuh kampung ini, udara sejuk yang sangat terasa, dan air hujan yang membentuk genangan disana sini membuat saya tertegun. Semua berjalan dengan penuh keseimbangan. Tidak ada suara bising kendaraan bermotor. Tidak ada suara musik. Matahari diatas sana sempurna tertutup awan kelabu. Kami tidak bisa menyaksikan matahari terbenam.

Hari sudah semakin sore. Saya berbincang-bincang dengan beberapa dosen mengenai perjalanan pagi hingga siang hari saat menuju tempat ini.

“Semestinya tadi pagi sebelum berangkat panitia mengadakan senam bersama dengan peserta sebagai proses pemanasan. Agar tubuh peserta tidak kaget merespon perjalanan sangat jauh ini. ini menjadi bahan masukan saat evaluasi panitia,” Ibu Deta memberikan ide.

Saya menggangguk. Menyetujui ide itu. senam pagi itu tetap dibutuhkan untuk memulai aktivitas yang berat yang menguras banyak energi.  Minimal setelah senam, otot kaki dan tangan lebih siap untuk menempuh jalan kaki sejauh kurang lebih 12 km seperti tadi pagi. Perjalanan yang tidak bisa dibilang ringan, mengingat trek/ jalan beragam. Sebagian besar trek yang kami lalui menanjak.

Sore itu saya dan sejumlah dosen duduk di depan teras rumah panggung ini. Kami menikmati sore ini dengan melihat gerimis yang membentuk titik-titik di atas tanah, kepulan asap dari rumah panggung tanda bahwa penghuni rumah tersebut sedang memasak, dan suara derap langkah pengunjung yang baru datang. Semakin sore pengunjung yang datang terus bertambah. Perbincangan sore ini membuat kami melupakan lelahnya perjanalan tadi pagi itu. Kami asyik mengobrol dengan berbagai topik (tentu topik-topik yang ringan), intermeso, dan mendengarkan cerita lucu yang membuat kami tersenyum dan tertawa. Yang menambah ramai sore ini adalah banyaknya pengunjung yang membeli makanan ringan di pedagang-pedangan dari  penduduk baduy yang berjualan di pinggir jalan.

“Coba deh lihat oleh kalian. Masyarakat disini benar-benar senang menyambut kedatangan kita. Buktinya mereka berjualan beraneka ragam makanan dan minuman juga menjual kerajinan tangan yang mereka buat. Menemani kehadiran kita disini,” Ibu Deta  (dosen kurikulum pendidikan) berseru dengan semangat.

Hari semakin gelap. Di luar sana masih gerimis. Membuat kami lebih berhati-hati dalam berjalan. Karena jalan hanya setapak dan berupa tanah bercampur batu-batuan. Beberapa diantara kami menyalakan senter dan headlamp sebagai penerang ruangan dan penerang bila ingin jalan ke luar rumah. Sejak awal kami sudah diberitahu panitia di masyarakat baduy dalam tidak tersedia listrik. Kehidupan disini benar-benar masih bergantung dengan alam.

Malam itu tidak banyak yang kami lakukan. Karena memang kondisi tubuh kami yang sudah mengeluarkan terlalu banyak energi dan juga suasana alam yang mendukung kami beristirahat untuk besok pagi bangun dengan keadaan yang lebih fit. Sehingga bisa meneruskan kembali perjalanan menuju pulang.

Bersiap kembali ke Jakarta (dokumentasi : Panitia Field Trip Universitas Indraprasta 2015)

Bersiap kembali ke Jakarta (dokumentasi : Panitia Field Trip Universitas Indraprasta 2015)

Hari ini saya melakukan sebuah perjalanan. Melihat alam dari dekat. Melihat masyarakat dan budaya mereka. Mencoba menghargai budaya dan adat mereka. Menambah teman dan jaringan sesama mahasiswa satu kampus. Menjalani satu hari bersama mereka menjadi pengalaman indah hari ini. Esok lusa perjalanan hari ini akan menjadi cerita buat saya, buat teman-teman saya, juga buat orang-orang di luar sana yang ingin berkunjung ke Indonesia, negeriku tercinta.

 

Selesai ditulis,

Di Jakarta, 28 Januari 2015

 

 

 

Advertisements

3 thoughts on “Satu Hari di Kampung Baduy

  1. restuahmadkafabih July 12, 2016 at 8:43 pm Reply

    mantap mron

    • imron prayogi July 30, 2016 at 8:21 am Reply

      Thanks Restu udah berkunjung ke blog. ditunggu komen selanjutnya hahah.

    • imron prayogi July 30, 2016 at 8:23 am Reply

      Thanks Restu sudah berkunjung ke blog saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: